Tentang Si BG

Beberapa abad waktu yang lalu, Fial–Pemred Bukune, yang sayangnya tidak dipilih Pak Jokowi jadi Menpora, padahal dia berkumis–mention ke saya. Intinya, dia menyuruh saya jadi orang yang agak normal sedikit, jangan ngobrol sama benda mati melulu. Yah, di novel saya OOM ALFA, saya memang bercerita tentang persahabatan dengan benda mati. Nyatanya, bukan sekali itu saya bikin rancangan naskah dengan tokoh yang ngobrol dengan benda mati. Ada dua, satu sudah kelar dan sudah bisa dilihat di Portofolio nasibnya. Satunya lagi? Mboh ki, kalah pamor sama benda bernama Laporan Aktualisasi.

Memangnya, secinta itukah saya dengan benda mati? Tidak juga, sih. Saya hanya punya sisi sentimentil yang berlebih. Kalau mau tahu, bahkan bintang-bintang mini yang dibikin bareng pacar pertama (sudah jadi mantan, tentu saja) masih saya simpan, meski itu kayaknya di kolong tempat tidur. Kayaknya, sih, nanti saya cari deh kalau kamar saya sudah rapi. Nah, menurut terawangan, kamar saya rapi itu hanya ketika Ahok jadi Sekjen PBB.

Well, soal benda mati, tetiba saya ingat bahwa seminggu ini hidup saya kembali normal. Jadi kisahnya, sebulan silam dalam perjalanan menuju Matraman dengan sepeda motor, saya sudah merasa kaki kiri saya itu dingin. Namun saya tetap melaju dengan anggapan, “mungkin saya lelah”, karena memang baru sampai dari Bogor itu jam 9 malam. Saya terus melaju sampai kemudian saya ngeh bahwa kaki saya dingin karena ketetesan Shell V-Power dari tanki sepeda motor saya. Pasalnya sepele, selang dari tanki tidak terikat ke karburator, jadi dia lepas dan Shell V-Power mengalir lepas bak jomlo menahun yang kehilangan arah serta orientasi. Saya berhasil kembali ke kos-kosan dengan bantuan PMOPJ alias Persatuan Mamang Ojek Pondok Jati yang entah bagaimana bisa menemukan cable ties untuk mengganjal selang yang tampaknya dipotong orang selama saya tinggal pergi itu.

Sesudah itu, sepeda motor itu hening 2 minggu karena saya lanjut diklat. Apa daya, dua pekan berikutnya, selalu saja ada kesibukan yang bikin saya gagal mengalokasikan akhir pekan untuk mengembalikan sepeda motor itu menjadi normal kembali. Maka, persis sebulan dia hiatus, saya akhirnya dapat waktu untuk mendorongnya sampai bengkel terdekat–yang amat sangat tidak dekat–hingga kemudian selangnya ganti baru dan dia menyala kembali.

BG

Ya, dia adalah si BG.

Alfa adalah sepeda motor pertama saya, diberi tambahan OOM sehingga jadi OOM ALFA karena pertimbangan komersial. Motor berikutnya yang boleh dibilang minim dilema karena dibeli dalam kondisi benar-benar baru adalah Bang Revo. Bang Revo saya alihkan ke Cici ketika saya pindah ke Palembang, dan sekarang dia di bawah kekuasaan adek saya yang bungsu–dan jomlo. Satu tahun lamanya saya mengandalkan kaki dan angkot Lemabang serta kebaikan hati kawan-kawan untuk menebengkan dan meminjamkan sepeda motor sebelum kemudian seorang kakak kelas dan senior di kantor bernama Eddy resign. Berbekal hutang ke CU, atas nama orangtua, saya kemudian memutuskan untuk membeli sepeda motor milik Eddy dengan serah terima kunci dilakukan di KFC Hotel Royal Asia Palembang, suatu hari di bulan April 2010.

Pada awalnya saya tidak hendak menamainya apapun, semata-mata karena saya bingung. Mau menamakan pakai merk, eh namanya nggak keren untuk jadi panggilan. Alfa dan Revo itu keren, tapi Karisma? Saya harus panggil Karis atau Risma, atau malah Tukirin? Tanpa nama itu berlangsung selama 1 tahun hingga kemudian saya pindah ke Cikarang.

Kalau di Palembang, sepeda motor berplat BG itu lazim kan ya? YA IYALAH! Nah, begitu di Cikarang, sepeda motor berplat BG itu semacam mencari gadis usia 25 tahun yang belum pernah ciuman seumur hidupnya, susah pisan. Maka, ketika di parkiran, mencarinya jadi lebih mudah. Pokoknya BG. Dan, voila, sejak itulah saya menamainya BG. Semata-mata karena platnya saja, sih.

Sebuah periode yang sangat panjang, lima tahun bersama saya, itu adalah periode terpanjang saya memiliki sepeda motor. Alfa itu 2004-2007, Revo 2007-2009, dan BG sudah lima tahun, and counting. Untungnya dia tidak segundah Alfa karena nyaris tidak pernah bermasalah. Alfa itu 3 tahun saja, biaya servisnya mungkin sudah bisa beli 2 Alfa lagi. BG? Damai, Bung! Mungkin karena dia sudah minum RON92 dan RON95 sejak lama.

Lima tahun bersama, boleh dibilang banyak peristiwa yang saya alami bersama BG. Dia adalah sepeda motor yang telah melibas banjir di 3 kota, tanpa mati atau keplepek sedikitpun. Di Palembang pernah kejadian, kalau nggak salah di Pakjo, atau apalah itu yang di dekat pasar ada turunan dan tanjakan, terus kalau dilurusin bakal sampai ke Warung Steak dekat PTC. Di Cikarang, dia bahkan kebanjiran selama separuh dari 13 kilometer yang saya rekam dalam posting Heavy 13. Di Jakarta? Sudah juga, di sekitar Salemba Raya. Keren kan?
BG juga sudah pernah dua kali ke tepi laut. Pertama waktu mengantar PakBos ke Boom Baru. Kedua, waktu dia main sampai ke pantai apalah itu namanya di Karawang. Itu, lho, yang pasirnya hitam. Dia juga pernah dibawa sampai ke Bogor dengan kondisi kampas rem dan ban habis.

Dan yang paling keren kalau diingat-ingat–dan bikin saya nggak habis pikir–ternyata BG adalah sepeda motor yang pernah diduduki oleh 4 orang dengan note khusus, tentu dalam waktu yang berbeda. Note khusus itu karena bersama BG saya pernah memboncengkan 3 mbak mantan, pun juga pernah membawa pacar saya. Alfa hanya pernah memboncengkan mbak mantan #1, Revo mbak mantan #2 dan #3, BG komplit. Mbak mantan #1 menaiki BG dalam posisi sudah mantan, Mbak mantan #2 dalam posisi masih pacar maupun sudah mantan, dan #3 dalam posisi belum pacar (heuheu…). Catatan ini tetiba masuk ke kepala ketika saya sedang mengamati si BG diservis, jadi ya bukan maksud saya untuk sentimentil, sih. #apeu

Sekarang, karena memang jarak kos ke kantor tidak sejauh di Cikarang namun tidak sedekat di Palembang, maka BG nggak terlalu sering dipakai jarak jauh. Lagipula untuk jarak jauh, saya lebih memilih pakai kendaraan umum. Lelah saya dengan jalanan nan fana di Jakarta Raya ini. Tapi 2 pekan tidak menunggangi si BG, kerasa juga bahwa ternyata saya butuh dia.

*kecup BG*
*lanjut garap laporan aktualisasi*

Advertisements

7 thoughts on “Tentang Si BG

  1. Pingback: Menemukan Santo Bonaventura di Labirin Pulomas | ariesadhar.com

  2. Pingback: Segi Lima di Tebet | ariesadhar.com

  3. Pingback: Jangan Makan Martabak Anaknya Jokowi! | ariesadhar.com

  4. Pingback: Menikmati Martabak 65A Nan Legendaris | ariesadhar.com

  5. Pingback: 11 Hal Yang Dapat Dilakukan Saat Menjemput Pasangan Yang Belum Kelar Urusannya | ariesadhar.com

  6. Pingback: MARKOBAR | Jangan Makan Martabak Anaknya Jokowi!

  7. Pingback: Mencoba Berdamai Dengan Jakarta | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s