Konsep Beda Belanja Online via Shopious

Sejujurnya, saya mengenal belanja online itu sudah lama, setidaknya waktu itu masih periode pacar kedua–sekarang tentu saja sudah jadi mantan. Nah, sejak saat itu, yang namanya belanja online sudah menjadi kegiatan kekinian yang harus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi. Beberapa benda yang pernah saya beli adalah DVD game, mouse, sampai backpack andalan yang sudah dibawa ke Kendari, Manado, sampai Kupang dan kemungkinan menyusul kota-kota lainnya. Yah, walaupun memang baru belakangan saya bertualang ke ITC Cempaka Mas dan menemukan banyak vendor online shop disana, tapi saya mah orangnya gitu, malas repot. Ke depan ya bakalan ngonline lagi.

shopious.com

NAH! Salah satu jenis belanja kekinian yang digandrungi oleh teman-teman kantor yang rerata adalah mahmud alias mamah-mamah muda adalah belanja via Instagram. Konsepnya sih di Instagram ada lapak, ada kontak WhatsApp atau BBM, berkomunikasi kemudian transaksi. Agak beda dengan pelapak besar yang sering saya sambangi di internet. Beberapa toko bahkan sempat nongol di reply-an Instagram saya karena perkara hashtag yang kebetulan sejalan dengan dagangan.

Eh, ternyata hidup itu selalu berkembang seiring dengan banyaknya manusia yang berkembang biak. Salah satu perkembangan itu tampak dari perbedaan. Dan salah satu yang berbeda itu bernama Shopious, yang punya tagline ‘Media Iklan Toko Online’.

Bedanya dimana?

Shopious, sesuai taglinenya adalah media iklan, bukan toko. Jadi Shopious melakukan seleksi ketat terhadap toko-toko yang masuk ke mereka. Nggak asal toko juga bisa masuk karena harus mendaftar, membayar membership, plus Shopious juga melakukan review dan mengajak bicara (…terus ditembak, cieee…) para pemilik toko untuk mengetahui apakah online shop itu terpercaya atau tidak.

Di Shopious kita akan melakukan klik pada foto barang atau nama toko untuk membuka halaman barang atau toko, dan kemudian nanti ada kontaknya. Disitulah kita bisa menghubungi langsung. So, intinya Shopious cuma mengiklankan.

Loh? Terus apa untungnya?

Dengan skema ala Shopious ini tentu kita nggak usah berlelah-lelah cek aneka IG. Selama ini kalau di IG kan carinya via username atau hashtag tertentu. Iya, kalau ketemu. Kalau nggak? Galau sambil garuk-garuk aspal, gitu? Dengan skema seperti ini, maka tersedia barang yang banyak, bervariasi, dan tentu saja berkualitas tinggi. Soal selera juga diperhatikan karena barang banyak dan pengunjung juga banyak. Shopious mengembangkan software atau program yang bikin mereka mampu memahami selera beradasarkan barang yang di-vote up atau down. Dengan demikian, bisa lebih banyak pilihan yang kekinian untuk dipilih kemudian di-BBM untuk membelinya.

Itulah sebabnya saya menyebut bahwa belanja online via Shopious ini adalah konsep yang berbeda, karena memang bukan dia yang jual, lebih kepada etalase. So, model begini juga boleh jadi cara dan motivasi para pemilik online shop untuk tumbuh dan berkembang dalam usahanya meningkatkan jumlah wirausahawan-wirausahawati di Indonesia. Begitu? Begitu!

Advertisements

Orang yang Lebih Bersyukur

Pernah punya mimpi? Saya yakin sih pernah, setidaknya yang cowok pasti pernah mimpi basah. Maksudnya, mimpi kehujanan.

Pernah merasakan sebuah mimpi menjadi kenyataan? Dalam hal kecil, pasti pernah. Misalnya mimpi ingin makan cimol, tahu-tahu di depan rumah ada tukang cimol lewat, dan kita beli. Atau hal level alay tapi krusial untuk seorang fans, seperti waktu saya berhasil nonton Inter Milan langsung di depan mata. Atau sampai hal besar kayak saya dulu bermimpi untuk bisa menulis di surat kabar, dan akhirnya terwujud juga pada 6 Januari 2006. Selengkapnya baca di buku saya yang judulnya Oom Alfa. *tetep promosi*

Selanjutnya

Peta ASEAN

Topik #10daysforASEAN yang mengambil topik Singapura ini sungguh sensitif. Bukan karena topiknya lagi PMS lho ya, kalau itu mah wanita. Sensitif soalnya membahas tentang batas-batas kedaulatan yang terejewantahkan via tanah dan air yang diakui di suatu negara.

Perihal batas-batas wilayah sebenarnya merupakan hal yang harus benar-benar diselesaikan sebelum Komunitas ASEAN 2015 dijalankan. Yah, kita harus belajar dari pengalaman rebutan Sipadan-Ligitan yang dimenangkan oleh Malaysia. Tensi antar kedua negara memanas. Bayangkan saja kalau ngakunya sudah Komunitas ASEAN, tapi masuk ribut memasang kapal perang di pulau-pulau sengketa.

Kayak anak kecil ajah.

Nggak apa-apa, yang penting nggak kayak anak galau.

Sejatinya keputusan Mahkamah Internasional soal batas-batas dan klaim wilayah adalah suatu keputusan yang dianggap tetap. Pertama, tentu saja karena proses peninjauannya sudah di tingkat internasional. Kedua, Mahkamah ini adalah pihak ketiga yang semestinya bebas nilai sehingga bisa lebih tepat dalam memutuskan klaim mana yang benar dari pihak-pihak yang bersengketa. Ya, orang ketiga nggak selalu mengganggu layaknya orang pacaran kok. Tenang saja.

Saya jadi kepikiran saja, kalau di zaman sesudah merdeka dahulu, Indonesia melakoni aneka perjanjian, mulai dari Linggarjati, Roem-Royen, Renville, hingga ujungnya Konferensi Meja Bundar. Itu posisinya satu penjajah, satu yang dijajah, tapi bisa kok melakukan perjanjian.

Atau nggak usah jauh-jauh, persoalan Aceh akhirnya bisa diselesaikan dengan perjanjian yang dilakukan di Helsinki. Meski harus jauh-jauh ngadem ke Finlandia, tapi masalah jadi selesai, dan sekarang eks orang GAM sudah dua periode memimpin Aceh.

Nah, kenapa di era modern masa kini yang handphone sudah bisa nge-path, ng-instagram, dan nge-tweet, masak sih perjanjian semacam itu tidak bisa diselenggarakan? Kalau di zaman dahulu perlu Kapal Renville jauh-jauh datang untuk jadi lokasi perjanjian, ada banyak negara ASEAN yang sudah punya kapal yang bagus-bagus. Atau kalau dulu di Linggarjati, sekarang Nusa Dua malah sudah ada tol tengah laut-nya. Bisa kok dipakai sebagai tempat perjanjian.

Banyak orang bilang jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalau dulunya orang bisa melakukan perjanjian batas-batas wilayah, sekarang mestinya lebih bisa kan. Keluaran dari perjanjian yang mungkin namanya Vientiene Agreement atau Singapore Agreement atau Aek Latong Agreement itu nantikan akan menelurkan sebuah PETA ASEAN yang diterima oleh seluruh negara di ASEAN. Kalau konteksnya perjanjian kan sebenarnya enak karena ada banyak pihak ketiga. Jadi nggak perlu kawatir berantem sampai jambak-jambakan.

Eh, ini level petinggi ding, bukan level anak alay.

Peta ASEAN adalah sebuah bekal bagus dalam menjalani Komunitas ASEAN 2015 yang tentunya akan menghilangkan batas-batas dalam konteks masif. Dan siapa tahu peta ASEAN dapat digunakan oleh Dora sambil bilang, “aku peta… aku peta…”

Salam Dora!

Merekomendasikan tintusfar.wordpress.com

Semalam, sebuah whatsapp masuk ke My Y, minta saran saja sih, untuk menulis artikel bab orang muda dan wirausaha.

Maka, otak saya melayang ke dua blog. Yang satu punya Merry Riana, satunya lagi punya Tintus.

Kalau Merry Riana ini semacam perspektif finansial. Idenya bagus, hanya kurang dekat. Yah, Merry lulusan NTU, memang sempat tertatih, tapi dia menjalani hidup dengan baik di Singapura. Oke sih, inspiratif, tapi mungkin saya butuh contoh yang jauh lebih dekat.

Maka saya lantas merekomendasikan blognya Tintus. Toh, Tintus juga terinspirasi dari Merry Riana. Merekomendasikan blog yang ini malah bermakna dapat dua-duanya. Bukan begitu?

Ini blog sebenarnya isinya simpel. Betul-betul tentang sehari-hari. Beda dengan blog ini yang separuh berat dan separuh lagi galau. *astaga*

Tintus berkisah dengan mengalir, habis bangun, mencuci, habis itu mandi, dan seterusnya sampai tidur. Betul-betul sederhana. Mengalahkan nama blog saya yang sebuah perspektif sederhana tapi banyak biasnya.

Kolom about-nya juga simpel: Hanya seorang laki-laki kecil. Bercita-cita memiliki kebebasan dalam segala hal.

That’s the point!

Tintus betul-betul membuat blognya simpel, bahkan tanpa mengganti judul blognya. Itu masih asli pemberian wordpress. Hehehehe. Tapi blog berdesain bagus ya nggak bermakna kalau tidak berisi. Pastinya demikian.

Satu hal yang penting adalah ketika seseorang mampu memutuskan pilihannya, dan lantas menjalaninya. Itu bagus. Poin itu yang saya harap bisa ditangkap oleh pengirim whatsapp, ketika saya merekomendasikannya membuka tintusfar.wordpress.com

Sekadar review, sila cek di daftar blog teman di sebelah kiri blog ini, kalau memang berminat 🙂

 

My Officemate

Well, senangnya ganti kartu modem. Setidaknya saya nggak harus terlalu emosi setiap malam ketika menyalakan modem. Pakai kartu yang ini bahkan nggak pernah dapat GPRS, at least WCDMA dan banyakan HSDPA. Wew.. Terdengar nikmat.. haha..

Tapi konsekuensinya jelas, kartu yang ini memang mahal. Untuk perdana kemarin, 75rb, saya dapat kuota 307 MB per bulan. Kalau pakai kelakuan saya dengan modem yang pertama kali saya punya, segitu more than enough. Juga dengan yang barusan suka bikin emosi ini. Bahkan dari 500 MB, saya cuma habiskan 220 MB saking emosinya. Sedangkan yang ini, baru 6 hari sudah habis 180 MB. Siap-siap budget tambahan. Kapan cashflow saya kembali kalau begini? T_T

Betewe, hasil penelusuran saya di dunia maya dengan modem yang joss gandos tadi, ternyata banyak teman di kantor baru ini yang eksis di blog. Hmmm.. Baru tau.. Tak pikir cuma 1-2 doang, ternyata ya lumayan banyak.. Jangan-jangan mereka juga baca blog ini.. Hahaha.. Untunglah pengalaman telah memberitahu saya untuk tidak menulis banyak-banyak soal kerjaan kantor di dunia maya.. Lagian buat apa? No added value juga. Lihat kan isi blog ini? Malah ada Shaun The Sheep segala. Hahahaha..

Oke, boleh dicek link berikut, satu persatu, semoga nggak ada yang ketinggalan:

Nova, neo-butterfly, ..just wanna fly like a butterfly..
Oliv, D.I.A.M.O.N.D
Dwi, S U N S H I N E, Shine and brighter world’s days, also need time to hide ^.^
Fani, fanzbul
Agung Heru, Kin_Aruno’s Weblog, Just wanna write
Mel-Rina-sama 1 lagi.. hehe.., 3cantiquez’s Poenya Ceritaz, Food, love, beauty, work, fun, shopping…everything bout our gorgeous life
Flo, My World, …All about Kem-phlo…
Irfan, earfun”.s Blog, belajar, berkarya, beramal, bermanfaat…
Agung Pras, Lorentz-blog

Mari Semangat!!!!!

My Stats

Kecenderungan saya dari kecil adalah menyukai tulis menulis dan analisa data. Bahkan dulu nilai pemain di tabloid BOLA saja bisa saya analisis macam-macam. Pernah pula saking ngebetnya, menghitung statistik pertandingan sepakbola, berapa kali corner, berapa kali lemparan ke dalam, berapa kali offside, dll. Memang saya orang aneh. Hahaha..

Well, termasuk melihat statistik blog ini.

Seperti saya sudah cerita di posting pertama reborn blog ini, semata-mata karena saya menemukan blog friendster via google, dan kemudian ingat kalau blog ini ada, maka terjadilah. Makanya statistiknya aneh, ada 2 view di 2008. Lalu hilang 2 tahun, nongol lagi di 2011. Dan statistiknya semakin lumayan. Sekali lagi, karena targetnya memang bukan mencari orang yang mau lihat blog saya, jadi angka itu sebenarnya hanyalah sekadar angka.

Berbagi pendapat, berbagi cerita, dan belakangan berbagi ilmu, itu yang lebih penting. Berbagi pendapat dan cerita, serta sedikit ilmu disini. Kalau berbagi ilmu beneran, ada di apoteker123.wordpress.com.

Udah, cuma mau nulis itu doang kok. Hehehe..

Semangat!!!