PNS Kuliah Lagi Dengan LPDP: Kelindan Tiga Urusan

Sebagaimana saya tulis sebelumnya bahwa saya memang tengah kuliah lagi. Sudah jalan 1 semester dan sedihnya IP-nya biasa-biasa saja. Meskipun saya kuliah per September 2019, tapi sesungguhnya ketika saya akhirnya masuk kuliah itu adalah akumulasi dari urusan yang sudah dimulai sejak awal 2018! Nah, melalui postingan ini saya hendak berkisah tentang keribetan yang dihadapi dalam 1,5 tahun tersebut, dan memang hanya dihadapi oleh PNS yang ingin kuliah lagi dengan LPDP seperti saya.

Judul tulisan ini adalah kelindan tiga urusan, karena memang ketika saya hendak kuliah lagi maka ada 3 faktor yang harus beres yaitu urusan dengan kantor, urusan dengan LPDP, serta urusan dengan kampus.

Seperti diketahui bahwa untuk PNS yang kuliah itu ada status Tugas Belajar. Dalam posisi sebagaimana saya alami sekarang, PNS itu ya tetap PNS, tetap dapat gaji meski tidak sebesar kalau aktif kerja, karena dia memang penugasannya adalah belajar. Nah, untuk mengurus Tugas Belajar itu beda-beda tiap instansi.

Kalau urusan dengan LPDP tentu saja soal proses seleksi yang sudah banyak dibahas. Sedangkan urusan dengan kampus tentu saja tes masuk. Segala keribetan mengurus Tubel dan LPDP akan nihil kalau kagak lolos seleksi masuk kampusnya. Heuheu. Nah, pertanyaan mendasarnya adalah mana yang sebaiknya diurus duluan?

Akan ada banyak pertimbangan, sebenarnya. Cara saya mungkin tidak akan sesuai dengan kondisi instansi atau kantor lain, tapi mungkin bisa dijadikan landasan berpikir. Urutan yang saya pilih adalah seleksi LPDP dulu, kemudian mengurus Tugas Belajar paralel proses seleksi maksuk kampus.

Kok Nggak Tugas Belajar Duluan?

Di kantor saya, demi menjaga ekosistem kepegawaian ada skema kesepakatan sekian persen pegawai yang boleh Tubel. Kebetulan sih di tempat saya memang lagi kosong antreannya, jadi secara prinsip ya tidak masalah. Akan tetapi, saya hanya berpikir jika saya sudah mengajukan Tubel duluan terus kemudian saya nggak lolos LPDP-nya, berarti nama saya sudah ada di dalam perhitungan persentase itu dan berarti juga menghambat kalau ada orang lain yang ingin kuliah.

Sederhananya, zalim. Saya biasa dizalimi, jadi enggan zalim. Heuheu.

santai gif

Walhasil, sebagaimana dipersyaratkan, karena kala itu saya masuk LPDP-nya jalur reguler dan bukan jalur PNS, maka saya menggunakan surat pernyataan dari atasan dan kebetulan atasannya juga mendukung dan sampai saya akhirnya masuk, atasannya nggak ganti. Ini faktor yang juga akan berbeda dengan teman-teman pada kasus lain.

Singkat kisah, saya diterima LPDP pada tahun 2018 untuk kemudian ikut Persiapan Keberangkatan (PK) pada tahun yang sama. Jadi ya cuma PK saja, daftar kampus belum, apalagi minta Tubel. Jadi, ketika sesudah PK, saya masih selow dulu sembari menggarap dokumen-dokumen untuk pengajuan Tubel.

Kebetulan sekali tenggat pengajuan Tubel di kantor itu sejalan dengan waktunya ujian masuk kampus. Jadi, saya tidak bisa tes di kampus dulu dan menggunakan hasilnya untuk pengajuan Tubel. Prosesnya terpaksa paralel.

Nah, untuk kepentingan pengajuan Tubel, saya lantas menggunakan fakta bahwa saya telah diterima LPDP. Secara umum hal ini akan cenderung mempermudah kelolosan proses persetujuan Tubel, karena setidak-tidaknya beban anggarannya tidak di kantor. Anggaran yang ada bisa dikasih ke pengaju lain.

Begitu pengajuan Tubel saya lakukan, saya kemudian belajar untuk ujian masuk se-edan-edannya. Lha, gimana, yang mau bayarin kuliah sudah ada, Tubel sedang diajukan, kalau kemudian kuliahnya nggak keterima ya bubar usaha yang dibangun setahun itu.

Sesudah lulus ujian masuk

Untunglah kemudian saya diterima di kampus yang sesuai dengan pengajuan awal saya di LPDP. Kalau tidak, tentu saja harus mengurus hal lain, pindah kampus, misalnya. Dan itu tentu saja saya kurang yakin punya cukup energi untuk urusan tersebut, termasuk juga mengubah lagi pengajuan Tubel yang sudah dibuat.

Sesudah diterima, maka saya bisa menyerahkan ke pengelola SDM di kantor sebagai pendukung bahwa saya minta Tubel itu posisinya sudah diterima kok. Letter of Acceptance (LoA) dari kampus juga saya bawa ke LPDP. Tapi…

…belum bisa minta duit.

Lho? Kok?

Untuk bisa dapat pendanaan LPDP, sebelum kuliah dimulai harus dipastikan bahwa yang sedang bekerja harus off. Yang swasta ya resign, yang PNS ya harus ada SK Tubel. Jadi, saya kudu submit SK Tubel ke LPDP kalau ingin dapat pencairan dan bisa kuliah.

Tapi…

Untuk bisa dapat SK Tubel itu, kantor saya juga butuh bukti bahwa LPDP tidak sekadar menerima saya tapi bersedia mendanai saya. Bagi yang pernah seleksi LPDP tentu tahu bahwa bukti lulus itu ya di website, bukan berupa piagam. Untuk keperluan urus-urus ini perlu ada yang namanya Letter of Guarantee (LoG) yang pada waktu tersebut juga harus saya kasih ke kampus sebagai jaminan pembiayaan dalam proses daftar ulang.

Ribet? Ya, lumayan.

Sederhananya adalah kampus butuh LoG. Saya belum bisa minta LoG ke LPDP karena belum ada SK Tubel. SK Tubel saya nggak bisa keluar karena harus ada LoG. Haiyaaaaaa….

pusing gif

Pada akhirnya, saya memakai mekanisme lawas, Letter of Sponsorship (LoS), untuk ke kantor. Sedangkan untuk ke kampusnya menggunakan pendaftaran kolektif yang dikoordinir teman satu PK yang sekarang jadi Lurah di kampus saya. Ibarat kata, ngasih tahu ke kampus bahwa nama-nama dalam lampiran ini sudah pasti dibayarin LPDP, kok, jadi nggak usah khawatir. Makanya kemudian saya bisa dapat Kartu Mahasiswa ketika proses registrasi ulang.

Kemudian perihal LoG dan SK Tubel bagaimana?

Itu tadi, ke kantor saya pakai LoS dan sembari menunggu SK yang pastinya lama karena yang tanda tangan adalah Eselon I, maka saya menggunakan pengumuman penerimaan Tubel yang merupakan hasil rapat dan ditandatangani Eselon I, sebelum kemudian SK Tubel-nya saya susulkan ke LPDP demi tertib administrasi.

Ngomong-ngomong, sebenarnya ada 1 keribetan lagi tapi tidak perlu saya uraikan. Hal itu adalah karena saya mengambil jurusan yang hanya ada kelas Khusus, sementara kebijakan umum LPDP tidak memperkenankan pembiayaan untuk kelas Khusus ini. Tapi ya karena memang dari awal jurusan itu ada di list dan kelas yang dibuka hanya Khusus, jadinya bisa dibiayai. Meski memang harus ada yang diurus. Bukan perkara umum, jadi tidak usah dijelaskan, yha.

Percayalah bahwa selain butuh kesabaran, butuh pula energi, dan butuh mindset yang baik dalam menghadapi kelindan urusan yang sebenarnya nggak jelas mana yang duluan dan mana yang belakangan ini. Syukurlah, pada akhirnya September kemarin saya akhirnya beneran bisa kuliah. Dan mohon doanya supaya saya bisa lulus tepat waktu karena kalau nggak tepat maka uang saya nggak cukup untuk bayar sendiri. Heuheu.

berdoa gif

Sekian pembahasannya, yha. Baca lebih lanjut tentang dokumen-dokumen LPDP di sini, termasuk tentang tips agar diterima LPDP di sini juga. Kamsia!

Selamat Jalan, Paktuo!

Halo Paktuo, bagaimana perjalanan menuju surga? Lancar, kan? Pastinya lancar, dong. Semua orang yang kenal Paktuo pasti meyakini itu. Saya sedang antre BPJS di PGI Cikini kala Cici memberi kabar bahwa Paktuo sudah nggak ada. Sumpah, ingin menangis di tempat rasanya. Kita baru ketemu tanggal 11 Juli yang lalu, lho. Kita juga saling berkata, “Nanti kan ketemu lagi…”

Tapi kok jadinya begini, Paktuo?

Ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang Paktuo, sebagaimana abang-abang, kakak, dan terutama Petra mengetahuinya. Ya bagaimana, kita ketemu tidak cukup intensif dalam durasi yang begitu lama, tapi perjalanan waktu membawa kita kepada diskusi-diskusi hangat. Ah, paling senang saya melayani diskusi dengan seorang old man yang penuh ide-ide perubahan. Setidak-tidaknya bisa jadi bahan untuk nakal dalam tulisan.

Sebelum semuanya seperti sekarang ini, Paktuo ada kala saya kecil. Yha, dari 1987 sampai 1993, jelas sekali memori itu dalam kepala saya. Paktuo adalah wali baptis saya. Tentu memilih wali baptis tidaklah sembarangan. Sebagaimana saya memilih Paklek Beny sebagai wali baptis Kristofer juga sangat dipertimbangkan. Sebagai sosok kakak yang tersedia di Bukittinggi kala itu, maka pilihannya ya pasti Paktuo.

Continue reading

Lost in Bangka (6): Pantai Tanjung Pesona

Ya nasib, ya nasib. Liburan hore kiranya terancam karena sepulang dari Katedral mendung tampak menggantung manja tinggal tunggu tumpah. Ibarat gadis yang sudah merengut sak-kerut-kerut-e dan kamu bilang dia gendut. Pyar. Akan tetapi, rencana harus direalisasikan. Ini prinsip PNS, bagaimanapun agar anggaran terserap, notulen belakangan. Heu. Saya dan Chocho berserta istri masing-masing bergegas menuju rumah mertua Tintus untuk menjemput Tintus. Ya, tentu saja, masak saya ke rumah Tintus untuk menjemput Robert?

Sesudah mampir sejenak di rumah Monic, keponakannya istri Tintus, yang berarti juga sepupu Verena, dan otomatis simbah mereka sama, lekaslah kami berangkat. Peraduan telah ditentukan dengan abstrak. Satu hal yang pasti adalah ke Sungailiat, sama persis dengan tujuan sebelumnya, Pagoda di atas bukit itu, tapi ini bawahnya sedikit.

Benar saja, mendung tadi pyar beneran di perjalanan. Hujannya lumayan dan tetap lumayan hingga rombongan kami mendekati Sungailiat. Mobil Tintus mengarah ke sebuah pantai yang bernama Tanjung Pesona. Dalam guyuran hujan nan deras bak tangisan playboy KW, kami berhenti dan gamang. Turun, nggak, turun, nggak, turun, nggak. Begitu terus sampai perpres penggajian PNS disahkan.

Turun pertama sudah barang tentu adalah bundo hamidun muda di dalam mobil. Bundo beser, kak, jadi kudu pipis demi kedamaian dunia. Walhasil, turun menjadi opsi. Berpayung manja kepada pasangan masing-masing untuk kemudian berteduh di salah satu gazebo yang tersedia.

Pasangan Rian Chocho Chiko dan Marin Josi (ini penulis Syarat Jatuh Cinta, sebuah buku yang pernah terbit di GagasMedia) langsung bablas ke pinggir laut meski kondisinya sangat tidak benar. Angin kencang, ombak tinggi, mereka bawa payung pula. Tapi biarkan, sak bahagiamulah. Sementara saya dan Tintus hanya mlipir belaka dekat batu.

Pantai Tanjung Pesona ini terletak di Desa Rambak, Kecamatan Sungailiat, tepatnya 9 kilometer dari kota. Kurang lebih terletak antara Pantai Teluk Uber dan Pantai Tikus. Di kompleks pantai ini sendiri telah ada fasilitas wisata dengan kelas tidak main-main, bintang 4. Eh, ada yang bilang 3. Embuh mana yang benar?

Kalau lagi aman damai dan tentram, sebenarnya kita bisa melakoni olahraga air semacam banana boat atau jetski. Tapi hanya orang gila yang main banana boat dalam kondisi ombak saat kami kesana.

Kalau mau iseng mengamati sebenarnya Pantai Tanjung Pesona ini terbagi 2 bagian level ombak. Bagian kanan dari gazebo-gazebo adalah level ekstrim. Sementara bagian kiri adalah level baik-baik saja. Maka saat hujan begitu, di bagian kiri masih ada yang mainan air, sementara di kanan hening kayak kamu habis diputusin.

Pemisahnya adalah batu besar, lebar, dan miring yang menjadi tempat saya dan Tintus stop sambil berpayung. Ah, seandainya tidak hujan, sudah pasti saya main-main ke laut sana. Bagaimanapun, ini liburan, bukan bunuh diri, jadi sebaiknya berdiam saja memantau keadaan meski dampaknya adalah jadi tiada bisa bercerita banyak tentang keindahan Pantai Tanjung Pesona ini.

Lapar melanda perut masing-masing, apalagi ada dedek Monica dan Verena dalam perjalanan kami, serta tidak bisa main apa-apa akhirnya membawa kami cabut dari Pantai Tanjung Pesona yang sebenarnya mempesona itu. Tenang saja, bagian paling gagal dari liburan ini ya Tanjung Pesona tok. Sesudah ini, awan yang sudah bersahabat akan membawa kami ke tujuan berikutnya.

Kemana, hayo?

Tetap stay tune di serial Lost in Bangka di ariesadhar.com, yha!

Lebih Jelas Melihat Uang Makan PNS

Jadi begini, tiba-tiba hari ini saya membaca berita dengan judul nan bombastis “Uang Makan PNS dan TNI/Polri Diusulkan Naik Jadi Rp45.000 per Hari”.

screenshot_61

Terima kasih kepada Bapak Wartawan yang telah begitu cerdas menulis judul semacam ini, sehingga menelurkan komentar yang juga kece seperti ini:

screenshot_64

Bahkan sampai bawa-bawa tax amnesty, sungguh keren!

screenshot_65

Melalui postingan ini, perkenan saya menulis sesuatu untuk sedikit lebih memperjelas dan mengurangi dosa orang-orang yang komentar duluan tapi nggak tahu konteksnya dengan tepat. Kasian, kak, hidup sudah berat, dosa kok nambah.

Continue reading

Mencari Solusi di HAI DJPBN

DJPBN

Di negara yang pintar memutarbalikkan fakta ini, sedang ramai isu rasionalisasi PNS yang berkembang bias dan kagak dikendalikan dengan baik. Begitu beredar di grup WhatsApp, ada yang deg-degan, ada yang bersyukur, ada yang malah berharap PNS-PNS yang pernah menyusahkan mereka untuk menjadi korban rasionalisasi. Ngomong-ngomong, yang berharap itu PNS juga, sih. Rata-rata adalah PNS yang baru menikah dan dipersulit sama Catatan Sipil. Heuheu.

Oke, lepas dulu dari urusan rasionalisasi dan beranjak ke urusan ke-PNS-an. Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari, secara tiba-tiba makhluk antah berantah bernama auditor yang akan melakukan aksi osak-asik pawuhan. Orang lagi asyik-asyik main voli kerja, eh, ada auditor datang minta data. Sungguh mengganggu, bukan?

Well, menjadi auditor itu pada dasarnya memiliki kesusahannya sendiri. Salah satu yang sering dikeluhkan adalah betapa peraturan di Indonesia ini sedemikian banyak dan sedemikian beragam pula sumbernya. Lebih penting lagi, perubahan paradigma kekinian dari auditor yang bukan lagi underdog watchdog menimbulkan perkara tersendiri. Salah satunya adalah memberi solusi. Sama halnya dengan konsultan cinta, kala menemukan masalah harus jelas rekomendasinya putus, gantung, selingkuh, atau kawin lari. Sekarang adalah nggak mutu ketika auditor hanya bilang ini atau itu salah, tapi nggak jelas pengatasannya gimana.

Selengkapnya!

Sebuah Godaan Untuk Menjadi Orang Baik

Orang Baik

Pembaca ariesadhar.com pasti mahfum benar bahwa saya nggak pernah menulis tentang pekerjaan saya dengan frontal. Bahkan nama perusahaan tempat saya bekerja dulu, cuma tertulis 1 kali saja dari sekian ratus posting yang menghuni blog berumur nyaris 8 tahun ini.

Kalaupun saya menulis tentang pekerjaan, itu adalah ilmu tentang pekerjaan yang saya lakoni, semisal salah satu posting terlaris di ariesadhar.com ini, atau tentang audit-auditan yang jumlahnya lumayan banyak. Kalaulah ada yang curhat, biasanya saya samarkan dengan cerita pendek. Bahkan saya sendiri baru mengaku ke dunia maya mengenai pekerjaan saya sekarang, baru ketika diwawancara sama bidhuan.com. Nggak percaya? Cek saja profil Facebook maupun LinkedIn saya. Disitu hanya tertulis bahwa saya adalah blogger di ariesadhar.com. Itu saja.

Maka, posting ini mungkin adalah salah satu jenis tabu di ariesadhar.com, tapi nggak apa-apa, demi menyemarakkan agenda Mengarang Indah milik De Britto Blogger Club alias DBBC yang dikoordinir dari Jalan Bantul Kilometer 5075. Spesial!

Jadi, sesudah nyaris satu periode SBY-Boediono berkutat dengan Supply Chain baik di pabrik obat maupun pabrik ekstrak bahan alam, saya akhirnya mendapati sebuah turning point. Titik ketika kehidupan saya berubah begitu drastis. Dari gaji X menjadi sepertiga X, dari hidup mengurusi Capital Expenditure (CAPEX) dan Operating Expense (OPEX) hingga penyusunan bujet yang bunyinya miliaran menjadi pengantar surat, dari orang yang disapa ‘Pak’ oleh sebagian besar operator, menjadi manusia yang harus mengganti galon dengan bahagia. Ehm, kalau urusan membenahi kertas yang nge-jam, sih, tidak berubah. Sama saja, di pabrik iya, di kerjaan sekarang juga iya.

Selengkapnya!

Beberapa Hal Yang Harus Diketahui Tentang Prajabatan Pola Baru

Absurdisme birokrasi Indonesia memang sudah sangat kronis dan mendarah daging. Memang, sih, pelan-pelan sudah mulai membaik dengan aneka perubahan berkepala e alias apa-apa dielektronisasi dan dionlinekan, tapi perbaikan itu kalah jauh dibandingkan peningkatan jumlah maling yang semakin berkompeten. Mungkin maling-maling berdasi ini pada masa remajanya nggak kesampaian jadi begal.

Nah, mungkin itu memutus bertumbuhnya kampret-kampret birokrasi, Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang bertanggungjawab pada urusan perdiklatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia ini mencoba melakukan terobosan. Salah satu terobosan yang kemudian mencoba mendobrak kemapanan adalah pada diklat prajabatan. Diklat ini cukup krusial, karena bisa jadi akan menjadi satu-satunya diklat yang dilakoni oleh seorang PNS seumur hidupnya. Atau salah dua, satunya lagi diklat Masa Persiapan Pensiun. Nasib PNS kan siapa tahu?

10322-2014-10-27-16-17

Kalau kita nge-search tentang prajabatan yang akrab disapa prajab ini di Google, belum banyak yang menuliskan tentang pola baru. Ya maklum, polanya memang benar-benar baru karena Peraturan Kepala LAN-nya juga belum setahun nongol. Ditunjang dengan fakta bahwa hidup di birokrasi itu harus bisa mengurus dan memperjuangkan diri sendiri, maka akhirnya banyak CPNS yang akan prajabatan yang kemudian kecele. Nah, berikut ini ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para CPNS yang akan melakoni prajab dengan pola baru, agar tidak keblasuk nasib seperti senior-seniornya.

Lanjut, Gan!

Pilihan Menjadi PNS dan Pengorbanannya

Seperti bisa dilihat di portofolio saya, salah satu prestasi yang dimiliki oleh Ariesadhar adalah sukses menjadi CADANGAN nomor 1 pada penerimaan CPNS di sebuah instansi pemerintah. Iye, cadangan nomor 1 alias kalau bahasa kerennya adalah juara harapan (a.k.a berharap juara alias berharap keterima). Maka dari itu, saya selalu prihatin bagi orang-orang yang mempergalaukan moratorium CPNS 5 tahun sebagai ketakutan nggak bisa jadi PNS, saya juga prihatin sama orang-orang yang sudah keterima CPNS tapi nggak jelas. Padahal–juga bisa dicek di portofolio–saya sudah menulis di Hipwee bahwa menjadi bagian dari birokrasi negeri ini sama artinya dengan siap berhadapan dengan keadaan semacam lagi LDR dengan pacar yang sekota dengan mantan terindahnya.

download

Barusan saya membaca sebuah blog dari seorang PNS di BPKP. Dampak dari mendaftar CPNS dan kemudian diterima plus lantas menandatangani pernyataan bersedia ditempatkan dimana saja adalah suami kerja di Jakarta, anak di Depok sama orangtua, dia di Padang. Yah, namanya kegalauan jelas terbaca dari posting-postingannya. Bayangkan, anak masih kecil harus dihadapkan pada kondisi orangtua LDR. LDR pacaran saja terhitung merana–saya paham karena sudah 3 kali melakukannya dari stok 3 mantan dan 1 pacar yang ada–apalagi LDR menikah?

Lanjut!

65 Tips Lulus Tes CPNS

Berita besar hari-hari ini adalah pembukaan lowongan CPNS. Gawean besar setahun sekali yang melibatkan puluhan ribu warga negara Indonesia yang akan mengisi ribuan formasi Pegawai Negeri Sipil di berbagai tingkatan baik itu Kementerian, Lembaga, hingga Pemerintah Daerah. Menjadi isu ketika Pak Jokowi mau menetapkan efisiensi, sehingga boleh jadi bukaan massal ya tahun ini. Kita nggak tahu ke depannya bagaimana, kan? Cuma memang, dari sisi jumlah orang yang pensiun juga banyak. Setidaknya akan tetap ada bukaan CPNS dalam rangka menutup formasi yang pensiun itu. Hmmm.

CPNS2

Nah, dalam rangka membantu teman-teman sekalian yang pengen banget jadi abdi negara, maka berikut saya rangkum beberapa tips yang sudah terbukti dan sudah teruji oleh teman-teman saya sehingga mereka bisa lolos jadi Pegawai Negeri Sipil. Apa saja? Ini dia!

1. Pada saat pendaftaran, gunakan foto terbaru, bukan foto bayi, apalagi foto mantan

2. Oh, apalagi pakai foto pacarnya mantan yang lebih cakep dari kamu. It’s a big NO!

3. Selalu update pada informasi yang ada di situs resmi institusi yang diminati karena informasi sangat dinamis

4. Kalau diminta daftar online, daftarlah secara online, jangan datang ke institusi sambil bilang, “dulu Kakek Buyut saya dirjen disini”

5. Atau datang sambil bawa Om-Om pengangguran botak berkumis yang ngaku kenal sama Kepala Dinas. Basi, cuy!

Mbohae!

5 Tanda Ketika Cinta Diam-Diam Ketahuan

CintaDiamDiam

Ah! Salam galau dulu buat para pelaku cinta diam-diam, sebuah tataran mencintai yang paling indah, sekaligus paling pekok. Bentuk mencintai yang paling tulus, sekaligus paling absurd kayak OOM ALFA. Tahapan berharap yang paling sempurna, sekaligus paling pahit. Semacam membeli reksadana cuma untuk ketenangan hati, dan nggak mengharap return. Salam galau saya bukan saja buat pelaku cinta diam-diam yang masih jomblo loh ya. Juga termasuk kepada pelaku cinta diam-diam yang hatinya bukan pada pasangannya. Selamat menikmati!

Nah, soal cinta diam-diam ini memang bagian khas dari riak-riak dunia. Jatuh cinta itu adalah suatu kewajaran bagi anak manusia, bahkan bagi yang sudah punya pacar, sudah menikah, sudah beranak dua, sudah beristri tiga, hingga sudah bercucu empat belas. Masalahnya, kewajaran itu belum tentu ditindaklanjuti. Sebagian dari perasaan cinta itu tidak akan menjelma menjadi apapun. Perasaan cinta itu hanya akan terpendam saja, tidak kemana-mana. Perasaan cinta itu hanya menjadi kabar gembira bagi diri sendiri, berbeda dengan kulit manggis yang kini sudah ada ekstraknya.

Mbohae!