Lost in Bangka (9): Kelenteng Dewi Laut

Pulau Bangka memang dikenal denngan kecantikan pantainya, demikian pula Pulau Belitung di sebelah. Selain itu, Pulau Bangka begitu identik dengan kepercayaan yang dipercaya berasal dari daratan Tiongkok sana seperti Budha dan Kong Hu Cu. Maka jangan heran kalau pagoda-pagoda dan semodelnya adalah jamak di sekitar Pangkal Pinang, sebagaimana mudah melihat Gereja di Kota Manado atau Jayapura.

Nah, selepas dari Pantai Pasir Padi, kami bergegas menuju destinasi tambahan ala bapak guide. Rencananya, bapak guide hendak menggunakan jalur alternatif yang nyatanya memang dekat sekali dengan Pantai Pasir Padi dan melewati calon lokasi yang katanya mau ada waterboom dan lain-lainnya itu. Namun, hujan hari kemarin–yang bikin perjalanan ke Tanjung Pesona terganggu dan bikin nyelup di Parai Tenggiri jadi gloomy–menyebabkan jalan tanjakan yang ada jadi hancur.

Walhasil, mobil kemudian diputar balik sebagaimana CPNS ketemu eselon 1. Balik kanan tanpa tedeng aling-aling. Seluruh isi mobil mempertimbangkan bahwa dalam mobil itu ada Kristofer yang kala itu ukurannya bahkan belum 1 sentimeter. Yah, kalau teman-teman pembaca baru baca serial Lost in Bangka ini sekarang, perlu diketahui bahwa perjalanan dilakukan pada bulan Oktober 2016 dalam keadaan istri saya hamil muda banget, kurang lebih 6 minggu. Sementara saat kisah nomor 9 ini ditulis, si bocah yang saat itu dibawa masih berada dalam bentuk serupa tanda koma sudah mau berusia 2 bulan.

PEMALAZ!

Baiklah, mari kita lanjutkan. Maka, guide Tintus mengambil jalur memutar, kalau tidak salah memang jalurnya menuju pantai lain di sebelah Pasir Padi, yakni Tanjung Bunga. Lokasi Kelenteng Dewi Laut sendiri kurang lebihnya sebagaimana tampak di peta:

Begitu mobil berhenti di bawah pohon, kami jalan kaki sembari buang snack di tempat sampah yang untunglah ada di sekitar situ. Kelenteng lumayan sedang ramai. Kelenteng ini terbilang baru, karena menurut berita-berita yang saya baca, berdirinya baru tahun 2011. Berada satu kompleks dengan Pura Penataran Agung dan Vihara Dharma Satya Buddhis Center, yang kebetulan juga tampak sambil lewat. Continue reading

Advertisements

Lost in Bangka (8): Pantai Pasir Padi

Perjalanan panjang di Lost in Bangka hari Minggu bikin kami–ehm, tepatnya saya–terlelap dan kemudian menyebabkan saya harus jalan keliling pasar dekat Hotel Menumbing pada pukul 12 malam. Maklum, istri lagi hamil. Kalau nggak diturutin, nanti anaknya mirip saya. Lha.

Nah, pagi hari Senin adalah hari kepulangan. Namun kepulangan tentu harus diawali dengan yang seru-seru. Daftar perjalanan kami masih panjang karena hari terakhir ini direncanakan jalan-jalan ke dua destinasi utama, yakni Pantai Pasir Padi dan Danau Kaolin. Wow!

Kami sarapan dengan bahagia di pinggir kolam hotel dengan sebelumnya telah bersiap-siap untuk check out. Lantas, menggunakan mobil sewaan, kami bergegas ke rumah Tintus untuk menjemput sang driver sekaligus penyandang dana yang ogah disauri sekaligus juga guide lokal–walaupun dia aslinya Lampung.

Selfie dahulu, kak.

Continue reading

Berburu Kuliner Padang di Tanah Minang

Selain identik dengan budaya Minang, sebagian orang yang mendengar kata Padang juga otomatis akan teringat dengan… rumah makan. Terutama bagi penduduk di Pulau Jawa, nama ibu kota Sumatra Barat itu sangat ikonik dengan kulinernya. Bumbu yang khas dan tajam membuat lidah yang mencicipi senantiasa ketagihan.

via: bhellabhello.wordpress.com

Akan tetapi, jika Anda datang langsung ke Padang, ada banyak makanan khas lainnya yang tidak Anda jumpai di rumah makan padang biasanya. Soal kelezatan, tidak perlu dipertanyakan lagi. Dijamin, kenikmatannya akan terbayang-bayang dan membuat Anda ingin segera kembali ke kota ini.

1. Nasi Kapau

Sekilas, nasi kapau memang tidak berbeda dengan nasi padang. Namun rupanya selain peletakan menu di atas meja yang lebih rendah dari penjual—jika nasi padang, menu disajikan di etalase yang lebih tinggi dari penjual—bahan dasarnya pun berbeda. Nasi kapau yang autentik menggunakan bahan dasar kol, nangka, dan kacang panjang serta kuah gulai berwarna kuning dengan rasa sedikit asam.

Selagi di tanah Minang, sempatkan mencicipi nasi kapau asli terlezat. Mulai wisatawan dari kalangan rakyat hingga pejabat, Nasi Kapau Uni Cah menjadi tujuan kuliner yang digemari. Lokasi rumah makan ini berada di Jalan Padang Luar Km 4, Bukittinggi. Mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB, rumah makan ini siap melayani pembeli.

2. Sate Itjap

Bila sedang ingin menikmati sate, sebaiknya Anda datang ke Sate Itjap yang beralamat di Jalan Rasuna Said. Anda tidak akan susah menemukan tempat kuliner ini. Selain kemahsyurannya yang dikenal masyarakat luas, lokasinya juga berada di ruas jalan utama.

Mulai pukul 16.00 hingga malam, warung sate ini diberondong oleh pembeli. Selain harga tiap porsinya yang relatif murah, cita rasanya juga sangat khas. Sate tanpa gajih ini memiliki memiliki daging bakaran yang terasa agak manis. Selain itu, tusukan daging ini disiram kuah yang asin dan gurih sehingga menghasilkan kombinasi rasa yang sangat lezat. Satu porsinya juga sudah lengkap disajikan dengan potongan kupat.

3. Soto Rajawali

Untuk mengawali hari, Anda bisa sarapan di Soto Rajawali. Soto padang ini menyajikan daging sapi goreng yang dipotong kecil-kecil dengan siraman kuah bening yang lezat dan gurih. Nasinya disediakan di piring terpisah dengan taburan kerupuk merah. Jika ingin semakin menggugah selera, tambahkan paru yang digoreng renyah.

Bofet Rajawali berada di Jalan Juanda. Tempat ini sebenarnya merupakan cabang, tetapi lokasinya lebih strategis dan besar. Tak hanya wisatawan biasa, bahkan hingga tamu kenegaraan hingga anggota Kerajaan Brunei pun pernah singgah di sini. Terbayang kan, bagaimana lezatnya Soto Rajawali hingga seterkenal ini?

4. Martabak Malabar Arham

Malam yang dingin memang paling tepat dinikmati bersama kudapan hangat. Setelah menghabiskan sepanjang hari beraktivitas, Anda dapat bersantai di hotel dengan seporsi martabak Malabar yang gurih.

Di Padang, Anda dapat menemukan Martabak Malabar Arham yang terkenal dan banyak diburu orang. Lokasinya berada di Jalan Moh. Husni Thamrin No. 1 dan baru buka mulai pukul 17.00. Jika ingin makanan yang lebih berat, Anda bisa memilih nasi goreng kambing, sup buntut, dan lain-lain.

Selain empat kuliner di atas, ada pula nasi goreng patai, sate danguang-danguang, itiak lado hijau, es durian, dan masih banyak lainnya. Tentu saja, sajian ini tidak akan Anda dapatkan di rumah makan padang.

Karena itu, sempatkanlah mencicipi kayanya kuliner Minang selagi di Padang. Soal akomodasi menginap, serahkan pada Airy Rooms. Beragam pilihan hotel murah di Padang tersedia sesuai dengan kelas dan bujet yang Anda inginkan.

Cukup dengan koneksi internet, Anda dapat memilih hotel murah di Padang melalui situs web dan aplikasi Airy Rooms pada ponsel. Untuk pembayaran, Anda dapat melakukannya via kartu kredit, bank transfer, atau di gerai Indomaret. Praktis, bukan?

Liburan Penuh Kejutan di Anyer

Sebagai negeri yang begitu memuja garis pantai–meski sebagian kecil diantaranya lantas ditimbun reklamasi–maka sudah layak dan sepantasnya kita keluyuran ke pantai-pantai ciamik di Indonesia. Salah satu tempat yang menyediakan kecantikan pantai tiada lain adalah Anyer. Selain lokasinya yang tidak jauh-jauh benar dari Jakarta, Anyer juga memiliki value kawasan wisata nan berbeda pasca Oddie Agam melalui Sheila Madjid memperkenalkan Anyer via lagu kondangan dan karaokean sepanjang zaman “Antara Anyer dan Jakarta”. Sebuah lagu yang sebenarnya bisa dijawab dengan Cilegon, Serang, Tangerang, dan Tangerang Selatan. Atau juga dapat dijawab dengan Tol Merak.

Bicara Anyer tentu juga tidak boleh lepas dari sosok kesohor, Herman Willem Daendels. Sosok yang menurut buku Ragam Pusaka Budaya Banten karangan Drs. H. Tri Hatmaji mendarat di Anyer pada tanggal 1 Januari 1808. Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1808 hingga 1811 tersebut berhasil menciptakan karya monumental dan selalu dikenal dalam rupa Jalan Anyer-Panarukan alias Jalan Raya Pos. Jalan yang satu ini terbilang bergelimang rekor. Mulai dari durasi pembangunannya yang hanya (!) setahun hingga jaraknya yang setara Amsterdam ke Paris, seribu kilometer.

Daendels tiba pertama kali di Anyer seperti Calon PNS baru masuk: tampak cupu. Berangkat diam-diam sejak Maret 1807, via Paris, lantas ke Lisbon, kemudian ke Pulau Canary dan selanjutnya Pulau Jawa. Ya, di Anyer itu tadi. Cupunya adalah karena Om Londo Galak ini tiba di Anyer nyaris tanpa pengawalan. Dia sampai di Anyer sesudah kabur kiri-kanan. Perjalanan dari Belanda sampai Anyer itu dilakoni dalam durasi kurang lebih 10 bulan. Pada tahun 2017, 10 bulan itu adalah antrean gedung untuk resepsi. Durasi yang menyebabkan banyak pasangan keburu putus sebelum resepsi.

Anyer menawarkan tipe pantai yang berbeda, sebab posisinya ada di sisi barat pulau paling dominan se-Indonesia Raya, Jawa. Sensasi Anyer sebagai pantai jelas beda dengan Ancol yang pantai utara. Juga lain dengan Parangtritis yang pantai selatan.

Pesona Anyer sebagai tempat wisata sejak dahulu kala begitu mudah ditangkap dengan melihat hotel-hotel yang berdiri di sepanjang Anyer. Hampir semua grup hotel tenar Jakarta punya cabang di Anyer. Mulai dari Jayakarta sampai Marbella, Dari Acacia sampai Aston. Anyer juga menawarkan lokasi yang tidak jauh-jauh benar dari Jakarta. Masih bisa dicapai dengan 3-4 jam, jarak yang sepantaran dengan Bandung, dengan tawaran tipe wisata yang berbeda. Belum lagi jika kita menyebut Tanjung Lesung sebagai salah satu destinasi Bali baru Pak Presiden. Menuju Tanjung Lesung ya lewat Anyer. Mampir adalah kunci.

Walau begitu, sekadar liburan di pantai adalah basi. Apa sih bedanya main ombak di Ancol, Kuta, Miami, sama di Anyer? Sama-sama asin ini. Untuk itulah Anyer secara gilang gemilang menyediakan elemen paling kunci yang sangat dibutuhkan dalam berwisata: kejutan. Percayalah, liburan di Anyer akan penuh dengan kejutan.

Continue reading

Berlibur ke Kuala Lumpur, Kunjungi Tempat-Tempat Hits Ini

via: kuala-lumpur.ws

Ingin berlibur ke tempat-tempat yang menarik tanpa harus menghabiskan waktu panjang dalam perjalanan? Kuala Lumpur adalah pilihan yang tepat. Yup, Kuala Lumpur merupakan satu kota dengan banyak tempat wisata menarik. Biaya murah, pemandangan indah, barang-barang bagus, dan sejuta pengalaman seru bakal kamu dapatkan hanya dengan mengelilingi satu kota.

Ibu Kota Malaysia ini tidak hanya terkenal akan kebersihannya, tempat-tempat wisata di Kuala Lumpur juga banyak dikenal oleh wisatawan dari luar Malaysia. Seperti Menara Kembar Petronas yang juga merupakan bangunan terkenal di dunia. Saat kalian mengujungi menara ini, kalian akan melihat keindahan kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Untuk merasakan pengalaman tersebut, kalian cukup membayar tiket masuk seharga RM 80.00 yang akan mengantarkan kalian menuju ke jembatan penghubung yang berada di lantai 41 dan 42 gedung.

Tempat wisata di Kuala Lumpur lainnya yakni Menara Kuala Lumpur. Seperti halnya Menara Kembar Petronas, Menara Kuala Lumpur juga menawarkan pemandangan dari ketinggian. Namun tidak hanya itu yang bisa didapatkan di KL tower ini. Ada sebuah ruangan bernama Sky Box yang menguji nyali pengunjung. Sky Box adalah sebuah ruangan yang terbuat dari kaca tebal transparan, menjorok ke bagian luar gedung. Dari sana, kalian bisa melihat pemandangan di sekeliling termasuk di bawah.

via: asia361.com

Cukup dengan ketinggian, mari kita menuju ke tempat wisata di Kuala Lumpur dengan suasana yang asri kehijauan. Tempat wisata tersebut ialah Lake Garden. Lake garden merupakan tempat wisata di Kuala Lumpur yang berdiri di tanah seluas 91 hektar, sehingga jika berkunjung ke tempat ini kalian bisa menemukan beberapa tempat wisata menarik sekaligus, seperti taman bunga sepatu, taman rusa, monumen nasional, taman anggrek dan masih banyak yang lainnya. Untuk berkeliling ke semua tempat wisata di Lake Garden, kalian bisa menyewa sepeda sekitar 3 ringgit selama 30 menit.

Tempat wisata di Kuala Lumpur kali ini cocok untuk kalian yang hobi berbelanja, Bukit Bintang namanya. Wilayah Bukit Bintang dipadati oleh pusat perbelanjaan, cafe, bar, pasar malam, dan juga restoran. Yang menarik dari pusat perbelanjaan Bukit Bintang yakni semua barang yang dijual asli tidak ada yang KW. Sangat cocok buat kalian yang suka belanja dengan kualitas barang yang terjamin. Kalau di Indonesia, bukit yang harus kamu kunjungi itu, ya Bukittinggi.

via: wonderfulmalaysia.com

Setelah lelah berbelanja, pas rasanya jika menuju ke Jalan Alor untuk memuaskan hasrat lidah. Di Jalan Alor ini kalian bisa menemukan banyak restoran dengan aneka hidangan istimewa. Surga makanan yang satu ini sangat ramai saat malam hari, jadi jangan kaget jika kalian ke Jalan Alor menemukan meja dan kursi restoran hingga menutupi jalan. Oh iya, untuk kalian yang tidak makan babi, harus berhati-hati, karena sebagian dari restoran di Jalan Alor menyajikan hidangan yang mengandung babi.

Yang satu ini merupakan tempat wisata di Kuala Lumpur dengan suasana religi yakni National Mosque. Masjid yang mampu menampung 15 ribu orang ini memiliki interior yang indah. Bagi kalian yang bukan orang muslim, tak perlu kuatir, karena pihak masjid memperbolehkan kalian untuk berkeliling di kawasan masjid. Dengan pengecualian pakaian harus sopan dan diluar jam beribadah.

via: travelingthruhistory.com

Daftar tempat wisata di Kuala Lumpur yang terakhir adalah Aquaria KLCC. Di tempat wisata yang satu ini, kalian bisa menikmati pemandangan bawah laut tanpa harus berbasah-basahan. Banyak dari wisatawan yang datang ke tempat ini membawa serta anak-anaknya, karena tidak hanya indah namun juga cocok untuk edukasi anak-anak.

Masih belum puas dengan tempat wisata di atas? Cek dulu tempat hits wisata Kuala Lumpur 2017 yang lain, dan pastikan kamu menghabiskan liburan selanjutnya di tempat ini.

Mencari Xaverian di Jakarta

Saya besar di Bukittinggi, dan otomatis dibaptis ehm, agama itu warisan oleh pastor dari ordo Xaverian alias SX, sederhananya Serikat Xaverian walaupun kepanjangannya sih bukan itu. Serikat yang satu ini memang hanya beredar di Keuskupan Padang (Padang Baru, Bukittinggi, Payakumbuh, Mentawai, dan Labuh Baru), Keuskupan Agung Medan (Aek Nabara), dan Jakarta. Yes, selain skolastikat-nya di dekat kantor saya–Cempaka Putih–maka satu-satunya paroki yang dipimpin oleh SX di Jakarta adalah Paroki Santo Matius Penginjil, Bintaro.

Sesuai namanya, gereja ini terletak di Bintaro dan merupakan gereja perdana yang berdiri di sekitar Bintaro, sebelum kemudian muncul Gereja Santa Maria Regina yang terletak di Bintaro Jaya, dekat Bank Permata. Gereja Santo Matius Penginjil ini juga begitu identik dengan salah satu rumah retret Wisma Canossa. Sepuluh tahun silam, saya sudah menjamah Wisma Canossa ketika sepuluh tahun silam mengikuti Golden Voice Christmas Choir Competition di Kemayoran. Dan itu sebenarnya pertama kali saya sudah misa di Gereja Santo Matius Bintaro ini.

Untuk mencapai Gereja ini cukup mudah dengan menggunakan ojek online. YAIYALAH. Patokannya adalah Jalan Ceger Raya. Jadi kalau dari KRL Commuter Line enaknya turun di Pondok Ranji untuk kemudian dapat disambung ojek. Ada angkot, sih, tapi saya tidak mendalaminya.

Dari website resmi Paroki Santo Matius Penginjil, diketahui bahwa sejarah paroki ini bermula dari beberapa keluarga Katolik yang pindah rumah ke sekitar kompleks Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Kodam V Jaya sekitar tahun 1972. Keluarga-keluarga itu tadinya belum mengenal, namun mulai saling tahu dan lantas ngobrol sesudah setiap hari Minggu melihat ada keluarga yang membawa buku Madah Bakti.

Continue reading

Liburan Singkat di Tengah Jakarta

Heh? Apa? Liburan di Jakarta? Lho, se-Indonesia ngomongin Pilkada DKI Jakarta, kenapa kita nggak boleh berlibur di Jakarta? Kadangkala, Jakarta dapat menjadi tempat bagus untuk minggat sesaat, bahkan bisa minggat dalam ketenangan.

Pesona Jakarta tentu begitu besar hingga banyak orang tiba ke Jakarta tanpa modal untuk bekerja dan menempati celah-celah kosong yang bisa ditinggali. Di satu sisi tampak begitu bronx, namun di sisi lain kadang seru juga melewati gang-gang di tengah kota Jakarta. Jalan Sudirman misalnya, tampak megah dengan gedung-gedung tinggi. Demikian pula Jalan Rasuna Said. Namun di balik gedung-gedung tinggi itu yang bisa kita temukan adalah begitu banyak jalan kecil hingga gang yang bisa kita sebut sebagai gang senggol.

Lantas apa saja yang bisa kita lakukan dalam berlibur singkat di tengah Jakarta? Berikut beberapa diantaranya.

Tanah Abang

sumber: tempo.co

Ini adalah pasar paling legendaris di Jakarta. Tidak hanya menyebut tentang fenomena Haji Lulung yang begitu terkemuka sebagai produk Tanah Abang. Pasar ini juga dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil paling besar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara. Lucunya, Tanah Abang yang dahulu adalah tempat dagang kambing. Disebut dulu ya karena memang usia Tanah Abang itu memang tua benar. Sampai ratusan tahun. Salah satu versi sejarah mencatat bahwa sampai akhir abad ke-19, Tanah Abang aslinya bernama Nabang yang berasal dari jenis pohon yang tumbuh di daerah tersebut. Nah, karena berada dalam zaman Hindia Belanda, maka gaya londo terpakai. Salah satunya adalah dengan penambahan partikel ‘De’. Maka, Nabang menjadi De Nabang, dan lama-lama menjadi Tenabang. Versi kisah yang dimuat dalah buku ‘212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe’ karya Zaenuddin HM kemudian melanjutkan bahwa perusahaan jawatan kereta api bermaksud memperjelas si ‘Tenabang’ itu dan kemudian muncul nama ‘Tanah Abang’.

Continue reading

Lost in Bangka (7): Pantai Parai Tenggiri

Separuh gagal menikmati pantai Tanjung Pesona–ceritanya bisa disimak di edisi 6 serial Lost in Bangka–kami memutuskan untuk makan dahulu. Tempat makan yang dengan mudah memberi nama salt fish fried rice untuk sebuah makanan yang sebenarnya adalah sego goreng iwak asin. Mbel. Walau begitu, mungkin dampak hari Minggu, tempat makan yang saya lupa namanya itu ramai sekali. Cukup lama kami menunggu, setidaknya sampai hujan reda.

Continue reading

Catatan Sepekan Jadwal Baru KRL Commuter Line

Sudah tiga bulan saya menjelma. Tadinya pemotor yang saban pagi menembus jalan Gatot Subroto, Saharjo, hingga perempatan Matraman, plus baliknya meresapi setiap jengkal Jalan Sudirman hingga gang-gang selebar motor di belakangnya. Kini saya adalah commuter sejati, yang bangun pukul 4 lewat dan pastinya belum ketemu matahari. Pulangnya? Sama juga, nggak ketemu matahari. Saya jadi penasaran bagaimanakah wujud matahari di Tangerang Selatan?

Awalnya, saya berangkat dari rumah pukul 5 pagi. Sumpeh, pagi bener. Yang dikejar adalah Trans Bintaro untuk istri saya. Lama-lama, lelah juga, coy. Mulai berangkat 5 lewat 10, lewat 20.

Nah, di hari Senin, dengan jadwal perdana, 3 April 2017–yang merupakan ulang tahun mantan–saya kebetulan harus menangani atap rumah yang bocor terlebih dahulu. Jadilah saya berangkat dari rumah pukul 6. Baru kali itu saya berangkat dalam naungan sinar mentari meski masih lamat-lamat sekali. Karena sudah ngeh akan terlambat, maka saya memutuskan turun di Palmerah untuk kemudian menyambung perjalanan dengan ojek online.

Saat sedang menanti ojek online, tetiba Dhila, teman kantor satu rute, bilang di grup bahwa dirinya belum terangkut oleh KRL dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Kramat. Ujung-ujungnya, saya tiba terlebih dahulu dibandingkan dia. Padahal, saya berangkat dari rumah lebih belakangan.

Begitulah, sebagai commuter, sayalah yang harus menyesuaikan perjalanan. Untuk itu, akhirnya saya membuat resume dampak perubahan dan pengatasannya. Ya, siapa tahu berfaedah bagi sesama commuter. Kalaupun tidak berfaedah, lumayan buat tambah-tambah postingan.

1. Lebih Banyak Kereta, Karena Ada Kereta Rangkasbitung
Dari Jurangmangu, boleh dibilang tidak ada masalah berarti. Malahan, ada tambahan perjalanan. Ya, rute yang dulu adalah Kereta Ekonomi Rangkasbitung kini lenyap dan digantikan KRL Commuter Line juga. Jadi, kini di Rawabuntu, Sudimara, dan sepanjang relnya ada kereta per 10 menit dengan sumber keberangkatan yang berbeda-beda. Ya, kini yang isinya maksimal itu tidak lagi dari Maja, tetapi dari Rangkas.

Continue reading

Lost in Bangka (6): Pantai Tanjung Pesona

Ya nasib, ya nasib. Liburan hore kiranya terancam karena sepulang dari Katedral mendung tampak menggantung manja tinggal tunggu tumpah. Ibarat gadis yang sudah merengut sak-kerut-kerut-e dan kamu bilang dia gendut. Pyar. Akan tetapi, rencana harus direalisasikan. Ini prinsip PNS, bagaimanapun agar anggaran terserap, notulen belakangan. Heu. Saya dan Chocho berserta istri masing-masing bergegas menuju rumah mertua Tintus untuk menjemput Tintus. Ya, tentu saja, masak saya ke rumah Tintus untuk menjemput Robert?

Sesudah mampir sejenak di rumah Monic, keponakannya istri Tintus, yang berarti juga sepupu Verena, dan otomatis simbah mereka sama, lekaslah kami berangkat. Peraduan telah ditentukan dengan abstrak. Satu hal yang pasti adalah ke Sungailiat, sama persis dengan tujuan sebelumnya, Pagoda di atas bukit itu, tapi ini bawahnya sedikit.

Benar saja, mendung tadi pyar beneran di perjalanan. Hujannya lumayan dan tetap lumayan hingga rombongan kami mendekati Sungailiat. Mobil Tintus mengarah ke sebuah pantai yang bernama Tanjung Pesona. Dalam guyuran hujan nan deras bak tangisan playboy KW, kami berhenti dan gamang. Turun, nggak, turun, nggak, turun, nggak. Begitu terus sampai perpres penggajian PNS disahkan.

Turun pertama sudah barang tentu adalah bundo hamidun muda di dalam mobil. Bundo beser, kak, jadi kudu pipis demi kedamaian dunia. Walhasil, turun menjadi opsi. Berpayung manja kepada pasangan masing-masing untuk kemudian berteduh di salah satu gazebo yang tersedia.

Pasangan Rian Chocho Chiko dan Marin Josi (ini penulis Syarat Jatuh Cinta, sebuah buku yang pernah terbit di GagasMedia) langsung bablas ke pinggir laut meski kondisinya sangat tidak benar. Angin kencang, ombak tinggi, mereka bawa payung pula. Tapi biarkan, sak bahagiamulah. Sementara saya dan Tintus hanya mlipir belaka dekat batu.

Pantai Tanjung Pesona ini terletak di Desa Rambak, Kecamatan Sungailiat, tepatnya 9 kilometer dari kota. Kurang lebih terletak antara Pantai Teluk Uber dan Pantai Tikus. Di kompleks pantai ini sendiri telah ada fasilitas wisata dengan kelas tidak main-main, bintang 4. Eh, ada yang bilang 3. Embuh mana yang benar?

Kalau lagi aman damai dan tentram, sebenarnya kita bisa melakoni olahraga air semacam banana boat atau jetski. Tapi hanya orang gila yang main banana boat dalam kondisi ombak saat kami kesana.

Kalau mau iseng mengamati sebenarnya Pantai Tanjung Pesona ini terbagi 2 bagian level ombak. Bagian kanan dari gazebo-gazebo adalah level ekstrim. Sementara bagian kiri adalah level baik-baik saja. Maka saat hujan begitu, di bagian kiri masih ada yang mainan air, sementara di kanan hening kayak kamu habis diputusin.

Pemisahnya adalah batu besar, lebar, dan miring yang menjadi tempat saya dan Tintus stop sambil berpayung. Ah, seandainya tidak hujan, sudah pasti saya main-main ke laut sana. Bagaimanapun, ini liburan, bukan bunuh diri, jadi sebaiknya berdiam saja memantau keadaan meski dampaknya adalah jadi tiada bisa bercerita banyak tentang keindahan Pantai Tanjung Pesona ini.

Lapar melanda perut masing-masing, apalagi ada dedek Monica dan Verena dalam perjalanan kami, serta tidak bisa main apa-apa akhirnya membawa kami cabut dari Pantai Tanjung Pesona yang sebenarnya mempesona itu. Tenang saja, bagian paling gagal dari liburan ini ya Tanjung Pesona tok. Sesudah ini, awan yang sudah bersahabat akan membawa kami ke tujuan berikutnya.

Kemana, hayo?

Tetap stay tune di serial Lost in Bangka di ariesadhar.com, yha!