7 Fakta Tentang Jakarta Aquarium, Nomor 6 Bikin Kayang!

 

7 Fakta Tentang Jakarta Aquarium, Nomor 6 Bikin Kayang!.jpg

Jadi ceritanya, sepulang dari dinas di Surabaya, mamanya Isto mengajak main. Mainnya lengkap sama Eyang-eyangnya Isto plus Om-nya juga. Supaya ngehits, kami main ke Jakarta Aquarium. Alasannya, tentu saja ingin mengedukasi bayi yang (kala itu) belum setahun terhadap laut. Siapa tahu jadi lebih mencintai laut. Mengingat laut adalah bagian dari tanah air. Tsah.

Nah, sudah cukup banyak review tentang Jakarta Aquarium, baik di blog maupun di Instagram. Untuk itu, saya nggak mau ngereview yang biasa saja. Jadi, saya mau menyimpulkan kunjungan ke Jakarta Aquarium tersebut dalam TUJUH FAKTA MENGEJUTKAN DAN MENCENGANGKAN TENTANG JAKARTA AQUARIUM. Jangan lupa, NOMOR ENAM BIKIN MELONGO!1!11!

1. Memindahkan Laut ke Mal

Pertama-tama, Jakarta Aquarium ini bukan tipu-tipu. Benar-benar berupa akuarium dan benar-benar letaknya di tengah kota Jakarta, tepatnya di Mal Neo Soho dengan akses masuk di Lower Ground. Artinya, itu ikan-ikan hidup di dalam mal. Sepanjang waktu! Ikan-ikan (dan hewan-hewan lainnya) sungguh lebih milenial daripada para milenial yang nge-mall.

Jadi kalau lagi pertemuan piranha, maka piranha dari Jakarta Aquarium bisa sombong sama piranha dari Sungai Amazon. “Gue sih tinggalnya di mal. Kawasan premium. Emang situ, tinggal di hutan?”

Yiha!

JA7

Suasana laut, termasuk juga penataan cahayanya sangat dipikirkan. Jadi, kira-kira ya serupa dengan di bawah laut. Makanya Jakarta Aquarium ini bukan berupa ruangan terang benderang belaka, tapi remang-remang sebagaimana di bawah laut situ. Sudah jelas juga suhunya diatur sedemikian rupa. AC-nya juga. Dan dengan demikian, seluruh kegiatan itu menyebabkan fakta kedua! Continue reading

Advertisements

Ketika Rakyat Jelata Naik Kereta Api Kelas Priority

KETIKA RAKYAT JELATA NAIK

Menjelang arus mudik dimulai, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) meluncurkan sebuah gerbong mewah yang dikenal dengan kereta sleeper. Banyak rakyat jelata yang sekadar kagum pada liputan televisi maupun media mainstream, soalnya harganya memang tinggi, sebagaimana biaya hidup keluarga kalau anak di daycare.

Sebelumnya, sejak Maret 2018, PT. KAI telah menelurkan varian baru dalam layanannya. Sebuah gerbong dengan kapasitas hanya 30 orang, seat yang lega—tidak seperti hati oposisi yang kalahan, hiburan yang, enggg, yang penting ada hiburan. Seluruh layanan itu berada di kelas Priority, dengan harga dua kali lipat kelas eksekutif.

Sebagai rakyat jelata yang mendapat Tunjangan Hari Raya (THR), sudah tentu saya ingin mengembalikan uang yang saya terima untuk memperkuat negara. Salah satu bentuk kontribusi yang bisa saya lakukan adalah dengan menggunakan produk BUMN. Supaya fix masuk ke negara, maka saya gunakan layanan satu-satunya BUMN yang memonopoli jalur rel di Indonesia, PT. KAI. Supaya sumbangannya banyak, ya saya pilih harga yang paling mahal dong. Nah, karena kereta sleeper yang hits itu belum tersedia untuk rute mudik ke rumah Eyangnya Isto, jadi saya ambil kelas Priority.

KETIKA RAKYAT JELATA NAIK (1)

Soal kelas-kelas di kancah perkeretaapian itu sebenarnya nisbi belaka kok. Nyatanya, untuk KA Argo Parahyangan, rangkaian ekonomi, eksekutif, hingga Priority jadi satu rangkaian. Semuanya berangkat pada waktu yang sama dan sampai pada waktu yang sama. Pemandangan ciamik sepanjang Cimahi-Purwakarta dan sebaliknya juga sama. Hanya pegal kaki yang berbeda. Jadi ini bukan soal waktu yang diutamakan, tetapi pelayanan.

Gerbong Priority ini hanya ada 1 dalam rangkaian KA Argo Parahyangan. Letaknya di ujung pula. Secara prinsip benar, sih, bahwa gerbong Priority ini privat. Nggak boleh ada orang lewat kecuali penumpang yang punya tiket. Hanya saja, menjadi masalah ketika naiknya dari Stasiun Cimahi karena peron beratapnya tidak panjang. Masak sudah beli tiket mahal-mahal harus kepanasan di peron? Saya, misalnya, naik dari tengah rangkaian, tepatnya gerbong ekonomi terakhir, melewati restorasi, lanjut lewat 4 gerbong eksekutif, barulah sampai ke Priority. Dalam penghayatan, ini ibarat kehidupan: bersusah-susah dahulu, Priority kemudian.

woman wearing maroon velvet plunge neck long sleeved dress while carrying several paper bags photography

Photo by bruce mars on Pexels.com

Suasana luks di gerbong Priority sudah tampak dari bordes. Sudah berkarpet dan dindingnya penuh ornamen kayu. Mungkin karpetnya juga berperedam sehingga kebisingan khas bordes juga kurang. Makanya, kalau ada yang berisik-berisik—baik cangkem maupun tweetnya—Itu mbok ya diberi peredam biar tenang.

Begitu masuk, saya langsung merasakan tatapan heran dan takjub penumpang lain. Mungkin merasa kagum ada orang bermuka susah, pakai kaos ‘I Hate Mojok’, bisa beli tiket kelas Priority. Beuh, mereka mana tahu kalau tiket itu saya cicil melalui skema 0% selama 12 bulan melalui Tokopedia. Artinya, saya bayar 600 ribu, cicil 50 ribu sebulan, itu juga sudah dapat cashback 60 ribu yang sudah dipakai untuk membeli popok. Terima kasih, promo!

Bangku di kelas ini sungguh lapang, jelas berbeda dengan kelas ekonomi yang terbilang sempit seperti himpitan ekonomi. Bangku itu juga ditunjang dengan on-board entertainment berupa layar monitor di masing-masing seat. Hiburannya memang baru sekadar film dan audio. Ada Wi-Fi, tapi begitu dicoba kurang memuaskan juga.

KETIKA RAKYAT JELATA NAIK (2)Pada bagian belakang gerbong—kalau dari Bandung—ada minibar yang menyediakan free kopi, teh, dan makanan ringan. Free? Wong mbayar dua kali lipat kok free. Minibar ini sekaligus bisa menjadi tempat PDKT, lobi politik, hingga pembahasan makar kalau memang bernyali. Minibar ini juga menjadi penanda penumpang memang rakyat yang kaya atau sok kaya. Yang sok kaya, melihat kopi dan gula sachet bertebaran bisa dipastikan akan ngembat beberapa buah untuk bekal di rumah nanti. Yang kaya beneran, bahkan ke minibar saja tidak. Yang jelata kayak saya, cukup minum 3 gelas kopi selama 3 jam perjalanan. Lumayan, gratis dan tetap jujur.

Penumpang juga berhak atas sekotak makanan ringan yang terdiri dari roti basah dan sebotol air mineral. Rotinya juga nggak sembarangan: merk terkemuka, bukan pendukung penista agama, dan jumlahnya tiga biji pula. Rakyat jelata pasti senang mendapatkan jatah seperti ini.

KETIKA RAKYAT JELATA NAIK (3)Untuk barang, bisa ditaruh di bagasi atas, sebagaimana naik kereta api pada umumnya, hanya saja desainnya pakai pintu sehingga cenderung lebih aman, tapi lebih sempit. Akan sulit untuk membawa benda-benda seperti kulkas, ayam jago, brankas, hingga tanah lima karung jika menggunakan layanan di Priority.

Satu hal yang pasti, dengan adanya gerbong Priority ini, PT. KAI sukses mengambil ceruk lain penumpang. Salah satunya adalah penumpang kepepet. Dulu, saya pernah harus ke Jogja secara dadakan. Tiket pesawat sudah habis semua, kecuali kelas bisnis. Karena memang kudu ke Jogja, terpaksa tiket yang harganya sekali gaji itu saya ambil. Ceruk rakyat kepepet semacam ini pasti selalu ada, selain ceruk rakyat yang kebetulan tajir dan selalu suka kemevvahan.

Untuk hal ini, PT. KAI telah sukses menjadi perusahaan yang cerdas dalam memberikan faedah untuk rakyat dan negeri. Jelas lebih berfaedah daripada orang-orang yang dibayar pakai uang negara tapi kerjanya nyinyir belaka.

5 Tips Sukses Naik Pesawat Bersama Bayi

5 Tips Sukses Naik Pesawat Bersama Bayi

Ada banyak hal yang tidak mudah di dunia ini. Melupakan cinta pertama mungkin salah satunya. Salah lainnya adalah topik tulisan ini: membawa bayi naik pesawat. Walau tidak mudah, jika menggunakan pendekatan yang tepat, keberhasilan akan kita raih kok, wahai bapak-ibu millennial.

Seperti saya kisahkan dalam detail eek-nya Isto di ketinggian 34 ribu kaki di atas permukaan laut, bahwa si bayi itu dalam usianya yang baru 9 bulan sudah 4 kali naik pesawat. Bandingkan dengan Emaknya yang baru naik pesawat pada usia 20 tahun–tapi langsung ke Eropa. Bandingkan pula dengan bapaknya yang baru naik pesawat pada usia 2 tahun lebih. Bayi millenial mah gitu.

Dalam 4 trip itu, syukurlah belum ada masalah berarti. Itu pula sebabnya saya berani bikin tulisan ini, sekadar untuk mengisi blog dan menambah pencitraan sebagai bapak jarang pulang yang sayang anak. Heu. Yok, kita simak 5 tipsnya!

1. Beda Banget Dengan Perjalanan Dinas

Pertama-tama, saya tekankan bahwa bepergian bersama bayi sangat berbeda dengan pergi bersama pejabat Eselon I sekalipun. Kalau sama pejabat Eselon II atau III paling mentok kan membawakan tas. Bayi? Tas, minum, sekaligus badan bayi juga kita bawa. Maka, jangan samakan perjalanan bersama bayi dengan perjalanan dinas. Dijamin beda.
Beda yang pertama adalah JANGAN DATANG MEPET! Isto sudah 3 kali naik Garuda dan kok ya bayi tidak bisa web check in, sehingga kita harus datang lebih awal agar bisa check in. Sesuatu yang nyaris tidak mungkin terjadi jika melakukan perjalanan dinas. Pasti mepet, kan sok sibuk.

Pejabat

Beda yang kedua adalah soal kursi. Kalau sebagai remah-remah roti diinjak sepatu biasanya para pelaku perjalanan dinas memilih duduk di aisle, maka dalam hal membawa bayi sebaiknya duduk di tengah, dengan bayi plus emaknya duduk di sisi jendela. Ingat, pejabat yang kita bawa bahkan belum punya seat. Wong masih bayi. Continue reading

Danau Linow, Tempat Nongkrong Zaman Now

Danau LinowTempatNongkrongZaman Now

Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada posisi tidak bisa menolak, juga pada posisi tiba-tiba bersua tempat-tempat baru. Ya begitulah kisah saya bisa nyasar sampai Danau Linow ini.

Perjalanan ke Danau Linow sebenarnya beberapa jam lebih awal daripada kisah Tunan. Hanya karena Tunan terlalu sayang untuk ditunda kisah dan keindahannya, makanya Linow harus rela ditaruh agak ke belakang.

Danau Linow terletak di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Tomohon diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Lokon dan Gunung Mahawu. Jelas, seperti Bukittinggi, namanya diapit gunung pasti ujungnya adalah sejuk. Kesejukannya begitu terasa karena jendela mobil dibuka, mengingat jalanannya yang naik turun bak hubungan Dilan dan Milea. Sesekali, sebelum tiba di Kota Tomohon dari Manado, kita akan melihat kebun bunga. Wajar, Tomohon punya julukan Kota Seribu Bunga.

Jarak Danau Linow dari Kota Manado kurang lebih 30 km atau sekitar 1 jam perjalanan versi teori. Di Manado yang macetnya lumayan, bisa menjelma jadi 1,5 jam. Danau Linow sendiri berada 3 km arah barat dari Kota Tomohon.

 

“Itu gunung apa, Pak? tanya kami kepada Pak Martin yang bawa mobil.
” Gunung Lokon.”
“Aktif?”
“Aktif.” Continue reading

Mengenang Mantan di Pantai Oetune

pantai_oetune_6

“Pokoknya, apik, Mas. Nggak rugi.”

Demikian salah satu rayuan gombal yang saya terima dalam kaitannya dengan pantai-pantai di sisi selatan Pulau Timor. Pria-pria zaman now memang suka terjebak urusan menggombali dan digombali. Akan tetapi, saya tentu tidak meragukannya, karena Indonesia adalah surganya pantai. Terlebih ini laut selatan, yang memang dikenal ganas. Ganas indahnya tapi juga ganas ombaknya.

Apalagi, pembangunan di NTT sudah cukup lumayan. Bahkan jika dibandingkan dengan kali pertama saya menginjakkan kaki ke NTT, tepatnya di Kota Kupang. Maka, ketika ada kesempatan untuk melihat pantai di selatan Pulau Timor, tentu saya tidak akan mengabaikannya.

Ada beberapa pantai cakep di selatan Pulau Timor. Akan tetapi, saya hanya sempat menginjakkan kaki di dua pantai saja. Dua pantai yang karakteristiknya benar-benar berbeda: Oetune dan Kolbano.

Pantai pertama yang saya kunjungi adalah Pantai Ouetune. Pantai ini terletak di Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Pantai Oetune menawarkan kombinasi hamparan pasir putih yang lembut, gelombang ombak yang pecahnya agak berbeda–mungkin karena pantai selatan–, Pohon Lontar yang berdiri dalam rentang 6 hingga 8 meter, plus padang pasir yang cukup luas untuk sekadar ambil foto Instagram. Dalam sudut pandang foto tertentu, apalagi kalau bisa menghadirkan unta kita sudah bisa berpose seolah berada di Timur Tengah. Semuanya dilindungi oleh langit yang birunya menenangkan.

pantai_oetune_2

Tidak perlu khawatir akan hujan karena NTT sendiri adalah provinsi dengan curah hujan yang rendah. Tapi khawatirlah bisa pipis dengan higienis atau tidak di pantai ini. Ah, nanti di bawah saya kisahkan. Continue reading

Menikmati Benang Setokel dan Benang Kelambu di Geopark Rinjani

Menyebut Rinjani adalah membincang kemewahan, sebuah profil gunung yang bisa mempengaruhi apapun. Belum lekang dari ingatan tentang abu vulkanik Rinjani yang sampai bikin jalur penerbangan ditutup. Rinjani yang seolah paku yang memantek Pulau Lombok agar tidak kemana-mana itu memang punya pesona yang tiada tandingnya.

Maka, pada suatu siang, saya melangkahkan kaki ke kaki Rinjani. Cukup kakinya dulu, Rinjaninya yang benar mungkin nanti saja. Kurang lebih 1 jam perjalanana dari Senggigi, saya dan teman-teman tiba di GeoPark Rinjani.

Mau apa di kaki Rinjani? Ah, percayalah sobat, bahwa kakinya saja sudah luar biasa. Satu set perjalanan singkat telah diatur agar kami bisa merasakan hawa segar kaki Rinjani plus rasa segar air yang mengalir di sekitar Rinjani.

Dari pintu masuk GeoPark Rinjani, kami diarahkan ke sebuah rumah. Rupanya ara harga yang harus dibayar untuk menikmati kesegaran mewah Rinjani. Kurang lebih 10 ribu per orang, pastinya saya lupa. Selepas kena todong tarif mengejutkan di Anyer pekan sebelumnya, angka-angka di tempat wisata lain sungguh menjelma jadi receh belaka.

Di tempat itu pula kami diberi informasi bahwa ada beberapa air terjun yang bisa dikunjungi di GeoPark ini. Dua yang utama adalah Air Terjun Benang Setokel dan Air Terjun Benang Kelambu. Continue reading

Bersua Air Terjun Tunan Karena Penundaan Penerbangan

Apa yang paling bikin bete dalam urusan penerbangan? Pertama-tama adalah ketika sudah ada di lobi hotel, driver sudah tiba, eh dapat SMS kalau penerbangan GA607 dari Manado ke Jakarta ditunda. Kedua, ketika kejadian nomor 1 terjadi pada tanggal merah alias hari libur. Wong penerbangan pagi itu dipilih supaya bisa menghabiskan waktu bersama Istoyama, je. Ini malah habis di jalan.

Akan tetapi, masalah sebaiknya jangan dikutuk, nanti jadi tambah masalah. Alih-alih kembali tidur dengan galau, saya kemudian memilih untuk bergerak. Kebetulan di Kota Manado ada Gereja Katedral dan ada juga ojek online. Maka, sembari googling keliru, saya memilih untuk order Gojek menuju Katedral dengan tarif hanya 6000 rupiah saja.

Saya kemudian tiba di Katedral Manado pada pukul 5.50 dan sudah bacaan pertama. Ini yang saya sebut googling keliru karena ternyata misa dimulai pada 5.40 alih-alih 6.00 sesuai hasil pencarian. Lumayan, kerja kayak gini telah bikin saya dapat merasakan misa di beberapa Katedral di Indonesia, mulai dari Surabaya, Banjarmasin, hingga Atambua. Soal Atambua ini kapan-kapan saya ceritakan.

Nah, kadung sudah di Manado, ada baiknya kita mencari-cari sesuatu yang ada di alam, tapi nggak jauh-jauh dari bandara agar tidak terburu-buru nantinya pada saat jam penerbangan. Tadinya hasil pencarian menyebut Air Terjun Kima Atas. Akan tetapi, Pak Martin, driver kami, justru mengarahkan ke tempat lain sembari bilang, “Kayaknya di dekat sini ada….” Continue reading

Lost in Bangka (10): Danau Kaolin

LOSTINBANGKA_DANAUKAOLIN

Pasca mengunjungi Pantai Pasir Padi dan Kelenteng Dewi Laut, akhirnya rombongan pengelana tiada tara beranjak ke selatan. Bagian ini penting karena dari kemarin-kemarin kami main ke utara tepatnya ke Sungai Liat. Satu-satunya perjalanan ke selatan ini adalah destinasi pamungkas yang juga merupakan salah satu alasan perjalanan ke Bangka ini digagas.

Danau Kaolin saat kami berkunjung, baru terkenal kurang lebih setahun. Kalau sekarang, berarti sudah 2 tahun. Kalau tahun depan, tiga tahun. Gitu. Angkat nama di akhir 2015, grup FPL Ngalor Ngidul kemudian ramai kala Tintus dalam perjalannya nganvas ke Koba, memposting foto di lokasi yang katanya mirip dengan danau di Islandia. Dengan air nan biru jernih serta hijau jernih begitu, memang menjadi hal paling beda dan jelas menarik siapapun untuk berkunjung. Sejak saat itu, kunjungan ke Bangka yang wajib menyertakan Danau Kaolin sebagai destinasi mulai digagas hingga pada akhirnya terpenuhi pada Oktober 2016 itu.

IMG-20161024-WA0019

Rian Chocho Chiko dan istri

Hey? Oktober 2016? Sekarang November 2017? Ini nulis apa merenung, kok lama bener?

BERISIK! Namanya pegawengeri itu sibuk, kak.

Danau Kaolin ini dikenal sebagai Camoi Aek Biru dan berada di Desa Air Bara, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Pangkal Pinang. Menggunakan mobil dan driver lokal yang terkenal sejak kuliah suka lupa jalan, pada akhirnya kami hanya butuh 1 jam lebih sedikit untuk tiba di lokasi. Dari Pangkal Pinang hingga menuju tikungan terakhir ke lokasi sih mulus-lus-lus.

Continue reading

Liburan ke Osaka? Jangan Lupa Ke Lokasi Menarik Berikut Ini!

Banyak diantara kita yang tidak mampu berencana berlibur ke Jepang. Katanya, jumlah para wisatawan Indonesia Ke Jepang belakangan ini meningkat seiring dengan banyaknya promo harga pesawat paling murah untuk berlibur ke sana.

Berbicara tentang tempat wisata yang ada, Osaka ternyata juga tidak kalah menarik dan unik dengan kota-kota lainnya di Jepang. Osaka merupakan sebuah kota di wilayah Kansai, Jepang dan merupakan kota dengan jumlah penduduk terbanyak nomor tiga di Jepang setelah Tokyo dan Yokohama. selain itu Osaka juga merupakan kota metropolitan kedua setelah Tokyo.

Klean penasaran dengan tempat-tempat wisata seru di sana? Berikut beberapa tempat wisata seru untuk liburan anda di Osaka, Jepang.

Akuarium Osaka Kaiyukan

kaiyukan.com

Akuarium yang termasuk salah satu dari antara beberapa akuaruim besar di Jepang ini punya koleksi 620 spesies laut yang berasal dari habitat laut Samudra Pasifik. Banyak sekali bukan? Yha, bilang saja banyak.

Akuarium Osaka Kaiyukan ini terletak di desa pelabuhan Tempozan di daerah Teluk Osaka. Akuarium sebesar ini tentu memiliki tampilan yang tiada main-main. Kehidupan bawah laut ditampilkan di dalam 15 tangki akuarium berukuran besar. Masing-masing tangki mempresentasikan bagian-bagian dari Samudra Pasifik. Tangki terbesar yang dimiliki ialah tangki untuk area Pacific Ocean, di mana menampung 5.400 ton air. Tangki ini digunakan untuk menampung habitat ikan paus yang dikenal dengan ukurannya yang luar biasa besar.

Amerikamura

happyjappy.com

Osaka dijuluki sebagai salah satu prefektur di Jepang yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan adalah karena adanya Amerikamura. Tempat wisata yang satu ini hampir menyerupai Chinatown, tetapi bedanya area ini merupakan pusat kebudayaan Amerika yang ada di Osaka.

Di sepanjang jalan, outlet yang nampak mencolok ialah outlet fashion ala Amerika, Fashion barat yang terkenal sederhana dan elegan seakan membuat mata Anda tersihir untuk bisa memasuki setiap outlet yang dilewati.

Di lokasi ini kamu dengan mudah menemukan bar dan klub malam, terdapatnya bar dan klub malam tersebut juga menjadi alasan mengapa Amerikamura disebut sebagai symbol kebebasan ala dunia barat.

Shinsekai

Ingin menikmati suasana pasar di Jepang? Shinsekai bisa jadi pilihan untuk anda. Shinsekai merupakan tempat yang mirip seperti pasar yang berada di kawasan Tsutentaku Tower (Menara Tsuten). Shinsekai ini dibagi menjadi dua wilayah, yaitu utara dan selatan.

japan-guide.com

Bila kamu menyusuri bagian utara Shinsekai kamu kana menjumpai pemandangan bangunan yang mirip dengan Role Model yang ada di Paris.Untuk bagian selatannya, kamu akan disuguhkan pemandangan bak Pulau Coney di New York.

Selain itu, Shinsekai juga merupakan pusat spa, jadi buat kamu yang ingin memanjakan diri dengan spa saat berlibur ke Jepang, bisa mengunjungi lokasi wisata yang satu ini.

Wah, sangat menarik bukan? Ingin segera berlibur kemari? Segera  cek Tiket Lion Air di Reservasi.com, dan dapatkan harga pesawat paling murah untuk penerbangan ke tempat liburan unik di Osaka, Jepang ini.

Kastil Osaka

Kastil Osaka merupakan kastil yang menjadi symbol kejayaan pada era pemerintahan Toyotomi Hideyoshi. Toyotomi Hideyoshi salah seorang sosok penegak sejarah bangsa Jepang yang memilki ketertarikan tinggi terhadap logam emas, terlihat dari sekali alat perang, bangunan, dan furniture yang dibangun dari emas pada masa pemerintahannya.

osaka-info.jp

Hingga akhirnya dia memberi perintah untuk membalut bagian luar kastil Osaka ini dengan emas.

Dotonbori

Ke Osaka rasanya tak lengkap jika belum ke Dotonbori. Area ikonik yang tak pernah sepi pengunjung ini menyajikan pemandangan pertokoan dengan berbagai jenis souvenir, aksesoris, dan pernak-pernik dan juga berbaur dengan restoran yang banyak menjual makanan khas Osaka, seperti takoyaki, okonomiyaki, dan ramen. Adapun Keindahan sungai Dotonbori-Gawa terlihat dengan jelas dari lokasi ini.

osakastation.com

Selain itu, tempat wisata yang satu ini juga dikenal dengan adanya symbol Glico Running Man dan kepiting Kani Doraku. Penduduk Dontobori berhasil memadukan kehidupan sehari-hari mereka tanpa mengurangi nilai pariwisata dari lokasi ini.

Namba Park

Namba merupakan kawasan yang terletak di stasiun Namba, selatan kota Osaka. Lokasi ini cukup terkenal seantero Osaka. Namba memiliki berbagai macam tempat hiburan dan tempat perbelanjaan yang sangat lengkap. Sehingga tak heran jika banyak yang berkunjung ke namba ini untuk menikmati segala fasilitas dan melakukan melakukan banyak hal seperti berbelanja, berlibur, wisata kuliner.

inhabitat.com

Demikian penjelasan tentang berbagai tempat wisata di Osaka Jepang. Tertarik untuk melihat langsung sekaligus merasakan pengalaman liburan seru disini? Segera  cek harga pesawat paling murah. Salah satu yang bisa jadi pilihan anda adalah Tiket Lion Air di Reservasi.com dan dapatkan tiketnya untuk berkunjung ke tempat-tempat liburan unik di Osaka, Jepang ini.

Lontang Lantung di Pasar Terapung Lok Baintan

Saya tidak bisa berenang. Itu fakta yang bahkan saya sampaikan dengan polos di tengah danau mini Mekarsari kala kaki saya tidak bisa menapak apapun saat banana boat yang saya tumpangi dibalik. Gembel bener itu si operator, padahal di awal perjanjiannya tidak dibalik. Maka, jangan heran bahwa saya suka jauh-jauh dari air. Termasuk air mandi sehari-hari.

Akan tetapi, ketika ada kesempatan ke Kalimantan, tepatnya ke Banjarmasin, rasanya kok rugi kalau jauh-jauh dari sungai. Terlebih saya menginap di Swiss-Belhotel Borneo yang lokasinya persis di pinggir Sungai Martapura dan–yang paling penting–menyediakan akses gratis naik perahu klotok guna menuju salah satu spot khas Kalimantan Selatan, Pasar Terapung.

Sempat was-was bin deg-degan. Naik kapal Putri Kembang Dadar di Palembang saja saya ngelu, apalagi naik perahu klotok? Untungnya saya sekelebat melihat pelampung warna oranye. Yha, amit-amit kenapa-kenapa, saya bisa lari ambil pelampung dan melakukan hal yang sama dengan kejadian di Mekarsari.

Apabila hendak naik perahu klotok fasilitas dari hotel ini, sebaiknya memang pukul 5.15 sudah siap di lobi untuk berangkat pukul 5.30. Dan untuk itu pula, hotel menyediakan morning call pukul 4.30. Bye-bye turu penak pokoknya. Dalam skala normal, perjalanan dalam 1 perahu bisa diikuti oleh belasan orang. Kalau lagi sepi, ada juga klotok yang isinya cuma 3. Pas yang saya naiki, kebetulan lagi ada PNS-PNS dari Pasaman Barat yang ikut pertemuan nasional. Jadi agak banyakan.

Continue reading