5 Tips Sukses Naik Pesawat Bersama Bayi

5 Tips Sukses Naik Pesawat Bersama Bayi

Ada banyak hal yang tidak mudah di dunia ini. Melupakan cinta pertama mungkin salah satunya. Salah lainnya adalah topik tulisan ini: membawa bayi naik pesawat. Walau tidak mudah, jika menggunakan pendekatan yang tepat, keberhasilan akan kita raih kok, wahai bapak-ibu millennial.

Seperti saya kisahkan dalam detail eek-nya Isto di ketinggian 34 ribu kaki di atas permukaan laut, bahwa si bayi itu dalam usianya yang baru 9 bulan sudah 4 kali naik pesawat. Bandingkan dengan Emaknya yang baru naik pesawat pada usia 20 tahun–tapi langsung ke Eropa. Bandingkan pula dengan bapaknya yang baru naik pesawat pada usia 2 tahun lebih. Bayi millenial mah gitu.

Dalam 4 trip itu, syukurlah belum ada masalah berarti. Itu pula sebabnya saya berani bikin tulisan ini, sekadar untuk mengisi blog dan menambah pencitraan sebagai bapak jarang pulang yang sayang anak. Heu. Yok, kita simak 5 tipsnya!

1. Beda Banget Dengan Perjalanan Dinas

Pertama-tama, saya tekankan bahwa bepergian bersama bayi sangat berbeda dengan pergi bersama pejabat Eselon I sekalipun. Kalau sama pejabat Eselon II atau III paling mentok kan membawakan tas. Bayi? Tas, minum, sekaligus badan bayi juga kita bawa. Maka, jangan samakan perjalanan bersama bayi dengan perjalanan dinas. Dijamin beda.
Beda yang pertama adalah JANGAN DATANG MEPET! Isto sudah 3 kali naik Garuda dan kok ya bayi tidak bisa web check in, sehingga kita harus datang lebih awal agar bisa check in. Sesuatu yang nyaris tidak mungkin terjadi jika melakukan perjalanan dinas. Pasti mepet, kan sok sibuk.

Pejabat

Beda yang kedua adalah soal kursi. Kalau sebagai remah-remah roti diinjak sepatu biasanya para pelaku perjalanan dinas memilih duduk di aisle, maka dalam hal membawa bayi sebaiknya duduk di tengah, dengan bayi plus emaknya duduk di sisi jendela. Ingat, pejabat yang kita bawa bahkan belum punya seat. Wong masih bayi. Continue reading

Advertisements

Danau Linow, Tempat Nongkrong Zaman Now

Danau LinowTempatNongkrongZaman Now

Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada posisi tidak bisa menolak, juga pada posisi tiba-tiba bersua tempat-tempat baru. Ya begitulah kisah saya bisa nyasar sampai Danau Linow ini.

Perjalanan ke Danau Linow sebenarnya beberapa jam lebih awal daripada kisah Tunan. Hanya karena Tunan terlalu sayang untuk ditunda kisah dan keindahannya, makanya Linow harus rela ditaruh agak ke belakang.

Danau Linow terletak di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Tomohon diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Lokon dan Gunung Mahawu. Jelas, seperti Bukittinggi, namanya diapit gunung pasti ujungnya adalah sejuk. Kesejukannya begitu terasa karena jendela mobil dibuka, mengingat jalanannya yang naik turun bak hubungan Dilan dan Milea. Sesekali, sebelum tiba di Kota Tomohon dari Manado, kita akan melihat kebun bunga. Wajar, Tomohon punya julukan Kota Seribu Bunga.

Jarak Danau Linow dari Kota Manado kurang lebih 30 km atau sekitar 1 jam perjalanan versi teori. Di Manado yang macetnya lumayan, bisa menjelma jadi 1,5 jam. Danau Linow sendiri berada 3 km arah barat dari Kota Tomohon.

 

“Itu gunung apa, Pak? tanya kami kepada Pak Martin yang bawa mobil.
” Gunung Lokon.”
“Aktif?”
“Aktif.” Continue reading

Mengenang Mantan di Pantai Oetune

pantai_oetune_6

“Pokoknya, apik, Mas. Nggak rugi.”

Demikian salah satu rayuan gombal yang saya terima dalam kaitannya dengan pantai-pantai di sisi selatan Pulau Timor. Pria-pria zaman now memang suka terjebak urusan menggombali dan digombali. Akan tetapi, saya tentu tidak meragukannya, karena Indonesia adalah surganya pantai. Terlebih ini laut selatan, yang memang dikenal ganas. Ganas indahnya tapi juga ganas ombaknya.

Apalagi, pembangunan di NTT sudah cukup lumayan. Bahkan jika dibandingkan dengan kali pertama saya menginjakkan kaki ke NTT, tepatnya di Kota Kupang. Maka, ketika ada kesempatan untuk melihat pantai di selatan Pulau Timor, tentu saya tidak akan mengabaikannya.

Ada beberapa pantai cakep di selatan Pulau Timor. Akan tetapi, saya hanya sempat menginjakkan kaki di dua pantai saja. Dua pantai yang karakteristiknya benar-benar berbeda: Oetune dan Kolbano.

Pantai pertama yang saya kunjungi adalah Pantai Ouetune. Pantai ini terletak di Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Pantai Oetune menawarkan kombinasi hamparan pasir putih yang lembut, gelombang ombak yang pecahnya agak berbeda–mungkin karena pantai selatan–, Pohon Lontar yang berdiri dalam rentang 6 hingga 8 meter, plus padang pasir yang cukup luas untuk sekadar ambil foto Instagram. Dalam sudut pandang foto tertentu, apalagi kalau bisa menghadirkan unta kita sudah bisa berpose seolah berada di Timur Tengah. Semuanya dilindungi oleh langit yang birunya menenangkan.

pantai_oetune_2

Tidak perlu khawatir akan hujan karena NTT sendiri adalah provinsi dengan curah hujan yang rendah. Tapi khawatirlah bisa pipis dengan higienis atau tidak di pantai ini. Ah, nanti di bawah saya kisahkan. Continue reading

Menikmati Benang Setokel dan Benang Kelambu di Geopark Rinjani

Menyebut Rinjani adalah membincang kemewahan, sebuah profil gunung yang bisa mempengaruhi apapun. Belum lekang dari ingatan tentang abu vulkanik Rinjani yang sampai bikin jalur penerbangan ditutup. Rinjani yang seolah paku yang memantek Pulau Lombok agar tidak kemana-mana itu memang punya pesona yang tiada tandingnya.

Maka, pada suatu siang, saya melangkahkan kaki ke kaki Rinjani. Cukup kakinya dulu, Rinjaninya yang benar mungkin nanti saja. Kurang lebih 1 jam perjalanana dari Senggigi, saya dan teman-teman tiba di GeoPark Rinjani.

Mau apa di kaki Rinjani? Ah, percayalah sobat, bahwa kakinya saja sudah luar biasa. Satu set perjalanan singkat telah diatur agar kami bisa merasakan hawa segar kaki Rinjani plus rasa segar air yang mengalir di sekitar Rinjani.

Dari pintu masuk GeoPark Rinjani, kami diarahkan ke sebuah rumah. Rupanya ara harga yang harus dibayar untuk menikmati kesegaran mewah Rinjani. Kurang lebih 10 ribu per orang, pastinya saya lupa. Selepas kena todong tarif mengejutkan di Anyer pekan sebelumnya, angka-angka di tempat wisata lain sungguh menjelma jadi receh belaka.

Di tempat itu pula kami diberi informasi bahwa ada beberapa air terjun yang bisa dikunjungi di GeoPark ini. Dua yang utama adalah Air Terjun Benang Setokel dan Air Terjun Benang Kelambu. Continue reading

Bersua Air Terjun Tunan Karena Penundaan Penerbangan

Apa yang paling bikin bete dalam urusan penerbangan? Pertama-tama adalah ketika sudah ada di lobi hotel, driver sudah tiba, eh dapat SMS kalau penerbangan GA607 dari Manado ke Jakarta ditunda. Kedua, ketika kejadian nomor 1 terjadi pada tanggal merah alias hari libur. Wong penerbangan pagi itu dipilih supaya bisa menghabiskan waktu bersama Istoyama, je. Ini malah habis di jalan.

Akan tetapi, masalah sebaiknya jangan dikutuk, nanti jadi tambah masalah. Alih-alih kembali tidur dengan galau, saya kemudian memilih untuk bergerak. Kebetulan di Kota Manado ada Gereja Katedral dan ada juga ojek online. Maka, sembari googling keliru, saya memilih untuk order Gojek menuju Katedral dengan tarif hanya 6000 rupiah saja.

Saya kemudian tiba di Katedral Manado pada pukul 5.50 dan sudah bacaan pertama. Ini yang saya sebut googling keliru karena ternyata misa dimulai pada 5.40 alih-alih 6.00 sesuai hasil pencarian. Lumayan, kerja kayak gini telah bikin saya dapat merasakan misa di beberapa Katedral di Indonesia, mulai dari Surabaya, Banjarmasin, hingga Atambua. Soal Atambua ini kapan-kapan saya ceritakan.

Nah, kadung sudah di Manado, ada baiknya kita mencari-cari sesuatu yang ada di alam, tapi nggak jauh-jauh dari bandara agar tidak terburu-buru nantinya pada saat jam penerbangan. Tadinya hasil pencarian menyebut Air Terjun Kima Atas. Akan tetapi, Pak Martin, driver kami, justru mengarahkan ke tempat lain sembari bilang, “Kayaknya di dekat sini ada….” Continue reading

Lost in Bangka (10): Danau Kaolin

LOSTINBANGKA_DANAUKAOLIN

Pasca mengunjungi Pantai Pasir Padi dan Kelenteng Dewi Laut, akhirnya rombongan pengelana tiada tara beranjak ke selatan. Bagian ini penting karena dari kemarin-kemarin kami main ke utara tepatnya ke Sungai Liat. Satu-satunya perjalanan ke selatan ini adalah destinasi pamungkas yang juga merupakan salah satu alasan perjalanan ke Bangka ini digagas.

Danau Kaolin saat kami berkunjung, baru terkenal kurang lebih setahun. Kalau sekarang, berarti sudah 2 tahun. Kalau tahun depan, tiga tahun. Gitu. Angkat nama di akhir 2015, grup FPL Ngalor Ngidul kemudian ramai kala Tintus dalam perjalannya nganvas ke Koba, memposting foto di lokasi yang katanya mirip dengan danau di Islandia. Dengan air nan biru jernih serta hijau jernih begitu, memang menjadi hal paling beda dan jelas menarik siapapun untuk berkunjung. Sejak saat itu, kunjungan ke Bangka yang wajib menyertakan Danau Kaolin sebagai destinasi mulai digagas hingga pada akhirnya terpenuhi pada Oktober 2016 itu.

IMG-20161024-WA0019

Rian Chocho Chiko dan istri

Hey? Oktober 2016? Sekarang November 2017? Ini nulis apa merenung, kok lama bener?

BERISIK! Namanya pegawengeri itu sibuk, kak.

Danau Kaolin ini dikenal sebagai Camoi Aek Biru dan berada di Desa Air Bara, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Pangkal Pinang. Menggunakan mobil dan driver lokal yang terkenal sejak kuliah suka lupa jalan, pada akhirnya kami hanya butuh 1 jam lebih sedikit untuk tiba di lokasi. Dari Pangkal Pinang hingga menuju tikungan terakhir ke lokasi sih mulus-lus-lus.

Continue reading

Liburan ke Osaka? Jangan Lupa Ke Lokasi Menarik Berikut Ini!

Banyak diantara kita yang tidak mampu berencana berlibur ke Jepang. Katanya, jumlah para wisatawan Indonesia Ke Jepang belakangan ini meningkat seiring dengan banyaknya promo harga pesawat paling murah untuk berlibur ke sana.

Berbicara tentang tempat wisata yang ada, Osaka ternyata juga tidak kalah menarik dan unik dengan kota-kota lainnya di Jepang. Osaka merupakan sebuah kota di wilayah Kansai, Jepang dan merupakan kota dengan jumlah penduduk terbanyak nomor tiga di Jepang setelah Tokyo dan Yokohama. selain itu Osaka juga merupakan kota metropolitan kedua setelah Tokyo.

Klean penasaran dengan tempat-tempat wisata seru di sana? Berikut beberapa tempat wisata seru untuk liburan anda di Osaka, Jepang.

Akuarium Osaka Kaiyukan

kaiyukan.com

Akuarium yang termasuk salah satu dari antara beberapa akuaruim besar di Jepang ini punya koleksi 620 spesies laut yang berasal dari habitat laut Samudra Pasifik. Banyak sekali bukan? Yha, bilang saja banyak.

Akuarium Osaka Kaiyukan ini terletak di desa pelabuhan Tempozan di daerah Teluk Osaka. Akuarium sebesar ini tentu memiliki tampilan yang tiada main-main. Kehidupan bawah laut ditampilkan di dalam 15 tangki akuarium berukuran besar. Masing-masing tangki mempresentasikan bagian-bagian dari Samudra Pasifik. Tangki terbesar yang dimiliki ialah tangki untuk area Pacific Ocean, di mana menampung 5.400 ton air. Tangki ini digunakan untuk menampung habitat ikan paus yang dikenal dengan ukurannya yang luar biasa besar.

Amerikamura

happyjappy.com

Osaka dijuluki sebagai salah satu prefektur di Jepang yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan adalah karena adanya Amerikamura. Tempat wisata yang satu ini hampir menyerupai Chinatown, tetapi bedanya area ini merupakan pusat kebudayaan Amerika yang ada di Osaka.

Di sepanjang jalan, outlet yang nampak mencolok ialah outlet fashion ala Amerika, Fashion barat yang terkenal sederhana dan elegan seakan membuat mata Anda tersihir untuk bisa memasuki setiap outlet yang dilewati.

Di lokasi ini kamu dengan mudah menemukan bar dan klub malam, terdapatnya bar dan klub malam tersebut juga menjadi alasan mengapa Amerikamura disebut sebagai symbol kebebasan ala dunia barat.

Shinsekai

Ingin menikmati suasana pasar di Jepang? Shinsekai bisa jadi pilihan untuk anda. Shinsekai merupakan tempat yang mirip seperti pasar yang berada di kawasan Tsutentaku Tower (Menara Tsuten). Shinsekai ini dibagi menjadi dua wilayah, yaitu utara dan selatan.

japan-guide.com

Bila kamu menyusuri bagian utara Shinsekai kamu kana menjumpai pemandangan bangunan yang mirip dengan Role Model yang ada di Paris.Untuk bagian selatannya, kamu akan disuguhkan pemandangan bak Pulau Coney di New York.

Selain itu, Shinsekai juga merupakan pusat spa, jadi buat kamu yang ingin memanjakan diri dengan spa saat berlibur ke Jepang, bisa mengunjungi lokasi wisata yang satu ini.

Wah, sangat menarik bukan? Ingin segera berlibur kemari? Segera  cek Tiket Lion Air di Reservasi.com, dan dapatkan harga pesawat paling murah untuk penerbangan ke tempat liburan unik di Osaka, Jepang ini.

Kastil Osaka

Kastil Osaka merupakan kastil yang menjadi symbol kejayaan pada era pemerintahan Toyotomi Hideyoshi. Toyotomi Hideyoshi salah seorang sosok penegak sejarah bangsa Jepang yang memilki ketertarikan tinggi terhadap logam emas, terlihat dari sekali alat perang, bangunan, dan furniture yang dibangun dari emas pada masa pemerintahannya.

osaka-info.jp

Hingga akhirnya dia memberi perintah untuk membalut bagian luar kastil Osaka ini dengan emas.

Dotonbori

Ke Osaka rasanya tak lengkap jika belum ke Dotonbori. Area ikonik yang tak pernah sepi pengunjung ini menyajikan pemandangan pertokoan dengan berbagai jenis souvenir, aksesoris, dan pernak-pernik dan juga berbaur dengan restoran yang banyak menjual makanan khas Osaka, seperti takoyaki, okonomiyaki, dan ramen. Adapun Keindahan sungai Dotonbori-Gawa terlihat dengan jelas dari lokasi ini.

osakastation.com

Selain itu, tempat wisata yang satu ini juga dikenal dengan adanya symbol Glico Running Man dan kepiting Kani Doraku. Penduduk Dontobori berhasil memadukan kehidupan sehari-hari mereka tanpa mengurangi nilai pariwisata dari lokasi ini.

Namba Park

Namba merupakan kawasan yang terletak di stasiun Namba, selatan kota Osaka. Lokasi ini cukup terkenal seantero Osaka. Namba memiliki berbagai macam tempat hiburan dan tempat perbelanjaan yang sangat lengkap. Sehingga tak heran jika banyak yang berkunjung ke namba ini untuk menikmati segala fasilitas dan melakukan melakukan banyak hal seperti berbelanja, berlibur, wisata kuliner.

inhabitat.com

Demikian penjelasan tentang berbagai tempat wisata di Osaka Jepang. Tertarik untuk melihat langsung sekaligus merasakan pengalaman liburan seru disini? Segera  cek harga pesawat paling murah. Salah satu yang bisa jadi pilihan anda adalah Tiket Lion Air di Reservasi.com dan dapatkan tiketnya untuk berkunjung ke tempat-tempat liburan unik di Osaka, Jepang ini.

Lontang Lantung di Pasar Terapung Lok Baintan

Saya tidak bisa berenang. Itu fakta yang bahkan saya sampaikan dengan polos di tengah danau mini Mekarsari kala kaki saya tidak bisa menapak apapun saat banana boat yang saya tumpangi dibalik. Gembel bener itu si operator, padahal di awal perjanjiannya tidak dibalik. Maka, jangan heran bahwa saya suka jauh-jauh dari air. Termasuk air mandi sehari-hari.

Akan tetapi, ketika ada kesempatan ke Kalimantan, tepatnya ke Banjarmasin, rasanya kok rugi kalau jauh-jauh dari sungai. Terlebih saya menginap di Swiss-Belhotel Borneo yang lokasinya persis di pinggir Sungai Martapura dan–yang paling penting–menyediakan akses gratis naik perahu klotok guna menuju salah satu spot khas Kalimantan Selatan, Pasar Terapung.

Sempat was-was bin deg-degan. Naik kapal Putri Kembang Dadar di Palembang saja saya ngelu, apalagi naik perahu klotok? Untungnya saya sekelebat melihat pelampung warna oranye. Yha, amit-amit kenapa-kenapa, saya bisa lari ambil pelampung dan melakukan hal yang sama dengan kejadian di Mekarsari.

Apabila hendak naik perahu klotok fasilitas dari hotel ini, sebaiknya memang pukul 5.15 sudah siap di lobi untuk berangkat pukul 5.30. Dan untuk itu pula, hotel menyediakan morning call pukul 4.30. Bye-bye turu penak pokoknya. Dalam skala normal, perjalanan dalam 1 perahu bisa diikuti oleh belasan orang. Kalau lagi sepi, ada juga klotok yang isinya cuma 3. Pas yang saya naiki, kebetulan lagi ada PNS-PNS dari Pasaman Barat yang ikut pertemuan nasional. Jadi agak banyakan.

Continue reading

Anti Banjir dan Ramah Difabel di Harapan Indah

Sekian tahun cahaya tidak ada postingan #KelilingKAJ selain selintas tentang Gereja Santo Matius Penginjil Bintaro. Nah, ini mumpung saya dapat dinas di Kota Harapan Indah, Bekasi, yang kebetulan juga lokasi hotelnya dekat dengan Gereja, pada akhirnya saya berkesempatan mampir di paroki termuda kedua di KAJ. Termuda kedua digusur oleh Santo Ambrosius di Melati Mas.

Untuk sampai di Gereja Katolik Santo Albertus Agung Harapan Indah ini begitu mudah. Dari akses masuk Harapan Indah tinggal ke kiri, begitu lihat Giant, lurusin lagi, nanti sesudah Gramedia, kita akan mendapati bangunan dengan identitas segitiga. Nah, itu dia Gerejanya.

Pada mulanya adalah tahun 1990-an, ketika Jakarta mulai penuh dan pembangunan semakin ke pinggir hingga muncul Harapan Indah. Pelayanan iman mulai dilakukan, tapi di ruko. Dari ruko kecil sampai ruko yang lebih luas. Seperti ditulis di santoalbertus.org pada bulan Desember 2012 pada tahun 2006, jumlah warga telah mencapai 4.686 jiwa dengan lima wilayah.

Misa di kompleks Harapan Indah dihelat pertama kali pada April 1996. Atas anjuran dosen Universitas Katolik Atmajaya, Pastor Damianus Weru, SVD, area ini lantas dijadikan stasi Harapan Indah dan resmi pada tanggal 23 Juni 1996.

Pastor Damianus juga yang memberi usul penggunaan nama Santo Albertus, berdasar pada semangatnya. Beberapa fasilitas di Gereja ini pernah dibakar pada tahun 2009, sebagaimana pernah ditulis oleh tempo.co yang katanya adalah karena kesenjangan sosial.

Sepekan kemudian, misa kembali diadakan di tempat yang dibakar ini Adalah Laksamana Pertama Christina Maria Rantetana yang merintis jalan untuk mengatasi masalah klasik keagamaan di Indonesia dengan aneka rupa cara.

Nama Ibu Christina ini sangat luar biasa. Wanita yang telah meninggal dunia pada 1 Agustus 2016 ini adalah wanita pertama yang memiliki pangkat Laksamana Muda dari Asia. Beliau juga wanita pertama yang mengikuti Sekolah Staf dan Komando (SESKO) di Royal Australian Naval Staf Course di Sydney. Beliau juga anggota Kowal perdana yang pernah menjabat anggota DPR RI untuk periode 1997-1999 dan 1999-2004. Termasuk juga wanita pertama yang jadi Direktur Sekolah Kesehatan Angkutan Laut dan juga anggota Kowal pertama yang jadi staf ahli Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada bidang Ideologi dan Konstitusi.

Paroki Santo Albertus Agung Harapan Indah sendiri diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo pada hari Kamis, 14 Mei 2015 bertepatan dengan Pesta Kenaikan Tuhan. Bahkan #KelilingKAJ sudah duluan dimulai alih-alih paroki ini diresmikan. Gitu.

Pada saat peresmian, hadir 42 pastor baik dari Paroki Kranji, dari pastor-pastor SVD yang pernah berkarya di Harapan Indah, pastor-pastor Dekenat Bekasi, dan lain-lainnya lagi. Diresmikannya paroki yang satu ini memang terhitung pelepas dahaga karena sebelumnya sudah cukup lama tidak ada Gereja Katolik yang diresmikan.

Walau terhitung baru, Gereja Santo Albertus ini masih menganut konsep lawas, tanpa AC. Entah ada atau tidak, tapi dalam kehadiran saya pada misa harian, saya lihat benar keringat yang menetes di wajah Romo plus deru kipas yang tiada henti serta pintu-pintu yang terbuka. Gerejanya sendiri cukup luas, mungkin kurang lebih mirip dengan Paroki Duren Sawit. Bahkan kalau urusan luas juga bisa saya bandingkan dengan Gereja Katolik di Kuta.

Gereja Santo Albertus memiliki desain yang seperti Gereja pada umumnya yakni tinggi, menjulang, serta lancip, plus pilar-pilar kokoh. Konsep kemah menjadi kunci, sehingga kalau dilihat dari jauh ada kemiripan dengan Gereja Pulomas, misalnya. Semacam mirip-mirip yang ketimuran.

Satu hal yang paling menarik dari Gereja ini adalah sangat ramah difabel dan boleh dibilang salah satu Gereja terbaik di KAJ untuk soal difabel. Dengan koor di sisi kanan altar, maka sisi satunya lagi ada tempat khusus difabel dan lansia. Jalur untuk kursi roda juga sudah disiapkan. Plus, dengan kondisi yang diapit dua saluran air–meski ada di dalam kawasan elite–rupanya Gereja ini juga dipersiapkan untuk anti banjir. Untuk itulah bangunannya telah ditinggikan. Tidak setinggi Pademangan yang jadinya di lantai 2–dan juga ramah difabel–tapi cukup tinggi untuk jika amit-amit digenangi.

Adapun Gua Maria terletak di belakang altar dengan konsep segitiga yang sama dengan bangunan Gereja. Sedangkan misa mingguan dipersembahkan pada Sabtu pukul 17.30, Minggu pukul 06.00, 08.30, dan 17.30.

Semoga ada kesempatan untuk menambah koleksi cerita tentang Gereja-Gereja lain di KAJ, yha.

Lost in Bangka (9): Kelenteng Dewi Laut

Pulau Bangka memang dikenal denngan kecantikan pantainya, demikian pula Pulau Belitung di sebelah. Selain itu, Pulau Bangka begitu identik dengan kepercayaan yang dipercaya berasal dari daratan Tiongkok sana seperti Budha dan Kong Hu Cu. Maka jangan heran kalau pagoda-pagoda dan semodelnya adalah jamak di sekitar Pangkal Pinang, sebagaimana mudah melihat Gereja di Kota Manado atau Jayapura.

Nah, selepas dari Pantai Pasir Padi, kami bergegas menuju destinasi tambahan ala bapak guide. Rencananya, bapak guide hendak menggunakan jalur alternatif yang nyatanya memang dekat sekali dengan Pantai Pasir Padi dan melewati calon lokasi yang katanya mau ada waterboom dan lain-lainnya itu. Namun, hujan hari kemarin–yang bikin perjalanan ke Tanjung Pesona terganggu dan bikin nyelup di Parai Tenggiri jadi gloomy–menyebabkan jalan tanjakan yang ada jadi hancur.

Walhasil, mobil kemudian diputar balik sebagaimana CPNS ketemu eselon 1. Balik kanan tanpa tedeng aling-aling. Seluruh isi mobil mempertimbangkan bahwa dalam mobil itu ada Kristofer yang kala itu ukurannya bahkan belum 1 sentimeter. Yah, kalau teman-teman pembaca baru baca serial Lost in Bangka ini sekarang, perlu diketahui bahwa perjalanan dilakukan pada bulan Oktober 2016 dalam keadaan istri saya hamil muda banget, kurang lebih 6 minggu. Sementara saat kisah nomor 9 ini ditulis, si bocah yang saat itu dibawa masih berada dalam bentuk serupa tanda koma sudah mau berusia 2 bulan.

PEMALAZ!

Baiklah, mari kita lanjutkan. Maka, guide Tintus mengambil jalur memutar, kalau tidak salah memang jalurnya menuju pantai lain di sebelah Pasir Padi, yakni Tanjung Bunga. Lokasi Kelenteng Dewi Laut sendiri kurang lebihnya sebagaimana tampak di peta:

Begitu mobil berhenti di bawah pohon, kami jalan kaki sembari buang snack di tempat sampah yang untunglah ada di sekitar situ. Kelenteng lumayan sedang ramai. Kelenteng ini terbilang baru, karena menurut berita-berita yang saya baca, berdirinya baru tahun 2011. Berada satu kompleks dengan Pura Penataran Agung dan Vihara Dharma Satya Buddhis Center, yang kebetulan juga tampak sambil lewat. Continue reading