Cerita Dari Theresia

Sebenarnya dalam periode perjalanan #KelilingKAJ, Gereja ini termasuk sering saya datangi. Cuma karena dekat dengan bakal kesini-sini lagi juga, kok mulai malas menuliskan, bahkan mengambil foto juga malas. Ini juga kalau Keuskupan Agung Jakarta kagak mendung pekat, saya juga nggak buka laptop dan menulis tentang #KelilingKAJ ke Gereja Theresia ini.

Yes, Gereja di bawah lindungan Santa Theresia ini merupakan salah satu generasi Gereja Katolik pertama di Jakarta. Terletak tidak jauh dari jalan protokol, Thamrin, dan bisa dijangkau dengan TransJakarta, cukup turun di Halte Sarinah lantas berjalan melalui Sarinah ke belakang. Gereja ini ditemukan di sebelah kanan. Kalau lagi jam misa, lebih gampang lagi. Cari saja yang parkiran mobilnya mewah-mewah dua lapis. Ehehe.

Selengkapnya!

Advertisements

[Seri Audit Intern] Pengertian Risiko

Percayalah, di dunia birokrasi nan heroik itu, masih banyak orang yang nggak ngerti arti risiko. Lebih parah lagi ketika ada auditor intern yang tiada mengerti makna risiko. Ini paling gaswat, segaswat kedatangan mantan pada nikahan. Kenapa? Ya, bagaimana mungkin mau memberi saran perbaikan maupun saran pengendalian kalau perihal yang dikendalikan saja tiada paham?

Woke, lanjut materi. Sejatinya banyak definisi para ahli mengenai risiko, semua tergantung disiplin keilmuan dan lingkup keahlian. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 bilang bahwa risiko adalah suatu kejadian yang mungkin terjadi dan apabila terjadi akan memberikan dampak negatif pada pencapaian tujuan instansi pemerintah. Jadi kalau buat jawab pilihan ganda gampang sekali, begitu tidak ada kata-kata instansi pemerintah berarti salah. Ini tips jujur, ya, bukan kayak ada gitu instansi anu yang pas mau ujian auditor ngebooking seluruh bangku di belakang dan bisik-bisik sepanjang ujian. Auditor kok nyontek, gimana kita mau percaya sama hasil auditnya? HUAHAHAHAHAHA.

Selengkapnya!

Feel Neo di Hotel Neo Malioboro

Jogja yang katanya berhati mantan itu memang sedang dibanjiri oleh hotel-hotel aneka rupa. Sebagian hotel tampak mahal, sebagian murah, sebagian berada di tempat yang beneran pas untuk hotel, sebagian lagi bahkan memakai trotoar sebagai bagian dari hotel. Nah, ketika saya berada di Jogja, keputusan untuk menginap kemudian jatuh di Hotel Neo Malioboro.

11352018_917160671637347_924970697_nAlasan pertama, hotelnya baru. Kedua, kiri-kanan hotel juga, jadi setidaknya ini memang daerah wisata. Ketiga, letaknya otomatis di tengah kota. Yah, walaupun judulnya Neo Malioboro tapi sebenarnya berada di Jalan Pasar Kembang, sih. Keempat, dekat dengan Malioboro. Kelima, dekat dengan tempat dinas. Dan yang bikin menarik sebenarnya adalah warna hitamnya.

Dinas ke Jogja mungkin sepanjang karier cuma sekali ini, maka saya tiba di Jogja pagi-pagi, first flight dari Jakarta. Sesampainya di hotel tentu saja belum jam check in, namun untungnya kebijakan di Hotel Neo ini baik sehingga saya bisa menitipkan gembolan sebesar kenangan tanpa khawatir kehilangan. Sebagai gambaran, saya menitipkan laptop segala. Jadi keamanannya bolehlah. Oh, ada yang unik begitu pertama kali menjejak Hotel Neo. Resepsionisnya! Yang Mbak-Mbak memakai wig putih, yang Mas-Mas memakai topi-saya-bundar-bundar-topi-saya. Lumayan kerenlah.

Selengkapnya!

6 Alasan Anak Paduan Suara Mahasiswa Adalah Jodoh Yang Tepat

Ealah. Hari gini kok ya masih ngomongin jodoh? Seumur saya sudah waktunya ngomong pelunasan apartemen, padahal. Ya mau bagaimana lagi, posting paling top dan selalu trending di blog ini ya tanda-tanda jodoh. Hal itu membuat saya yakin bahwa sampai saat ini banyak yang mencari jodoh via Google. Nah, berhubung salah satu posting yang juga viral dari blog ini adalah tentang paduan suara mahasiswa, kenapa tidak menggabungkan keduanya? Jodoh yang adalah anak paduan suara mahasiswa. Keren, kan? Makanya, simak nih alasan-alasan penting bahwa anak paduan suara mahasiswa itu memang adalah jodoh yang tepat. Sambil menyimak, boleh loh mengunduh buku saya yang judulnya OOM ALFA di Playstore. Heuheuheu.

1025828_10201405936087281_936451288_o

1. Suaranya (Pada Umumnya) Bagus

Oke, saya mungkin bisa dikecualikan. Suara saya nggak bagus, suara saya bas, nggak pakai ‘gu’. Ya, tahulah bahwa punya pasangan bersuara bagus itu punya nilai positif untuk kebahagiaan. Untuk jangka panjang, bisa diharapkan menurunkan gen anak yang bisa menyanyi, sehingga nanti kalau lomba di sekolah nggak malu-maluin. Dalam jangka pendek, kalau cewek punya cowok anak paduan suara, bisa minta dinyanyikan lagu romantis. Ehm, yang begini agak susah, sih. Namanya juga paduan suara mahasiswa, biasa nyanyi bareng-bareng, kalau nyanyi sendiri hampa. Oke, ini ngeles. Suara yang bagus itu pula yang dapat menjadi kebanggaan kita kalau-kalau nanti si pacar atau suami atau istri didaulat menyanyikan lagu Dewa di kawinan, “Ingin kubunuh pacarmuuu….”

Selengkapnya, klik disini!

[Seri Audit Intern] Manfaat Komunikasi Dalam Audit Intern

Halo kawan-kawan pembaca setia ariesadhar.com yang hobinya galau. Melalui posting ini, pertama-tama saya mohon maaf dan numpang lewat bahwa kemungkinan beberapa posting ke depan akan ada judul khusus [Seri Audit Intern]. Jadi kalau sementara cari-cari tentang keliling Keuskupan Agung Jakarta, tentang LDR, dan tentang jodoh bisa tengok-tengok sedikit di posting lawas. Ehehehe. Kenapa seri ini muncul, sebenarnya semata-mata karena ada sedikit kepentingan dan mempercepat hafalan. Heuheuheu.

Bicara audit, di blog ini sudah ada beberapa jenis tulisan tentang audit. Mulai dari yang tentang audit beneran, sampai kajian audit terhadap pasangan yang diduga selingkuh. Jadi sebenarnya nggak asing-asing benar, kok. So, mari kita mulai saja. Selak malam minggu.

InternalAudit

Komunikasi dimaknai sebagai pengiriman dan penerimaan berita antara dua orang, atau lebih, dengan cara yang tepat sehingga sesuatu yang dimaksudkan berhasil dipahami. Tidak hanya kepada kekasih maupun mantan terindah, komunikasi juga merupakan bagian integral dari sesuatu yang kita kenal sebagai audit intern. Entah itu perencanaan, pasti hasil komunikasi. Pelaksaan tentu juga iya. Menurut ngana, kalau auditor ujug-ujug nongol di ruang meeting terus kemudian minta mengaudit, terus bisa, gitu? Bisa, sih. Bisa gila. Jadi, dengan adanya komunikasi yang baik, nantinya akan diperoleh bukti audit yang cukup dan valid dan pada akhirnya bermuara pada simpulan audit yang menawan.

Nah, menurut buki sakti berwarna kuning dari BPKP, sekurang-kurangnya ada empat manfaat komunikasi dalam audit intern, yaitu:

Memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam pengujian audit

Yang namanya audit itu dipandang sebagai proses pengumpulan dan pengujian informasi untuk menghasilkan simpulan dan rekomendasi. Seperti dijelaskan dalam pembahasan perihal kajian audit terhadap pasangan yang diduga selingkuh, rekomendasi itu bisa putus atau lanjut dengan sakit hati. Nah, dalam proses audit yang beneran, pemilik data dan informasi adalah auditan. Kalau data yang diperoleh tidak memadai, tentu saja audit tidak akan mencapai hal yang memuaskan. Mungkin malah memuakkan.

Selengkapnya!

Segi Lima di Tebet

Bulan baru dan status baru, serta tentu saja tagihan baru blog ini. Heu. Maka, ada baiknya jika saya mulai melunasi hutang untuk misi yang ternyata tidak mudah bernama #KelilingKAJ. Sesudah menggunakan si BG untuk #KelilingKAJ ke Paskalis, Danau Sunter, dan Pejompongan, maka saya menggunakan teknologi baru untuk berkeliling. Teknologi bernama Go-Jek. Heuheu. Target #KelilingKAJ kali ini adalah salah satu Dekenat Selatan yakni Paroki Fransiskus Asisi Tebet.

Untuk menuju Gereja Katolik di kawasan Tebet ini, patokan paling mudah adalah Hotel Pop! Tebet. Berhubung satu kompleks dengan sekolah Asisi, Gerejanya tidak di pinggir jalan besar, melainkan di jalan kecil perumahan. Saya masuk melalui seberang Hotel Pop!, menyusuri jalan sesuai penunjuk arah panah ke sekolah. Masuk ke dalam kompleks sekolah Asisi kemudian melintas sekolah Asisi hingga ke ujung untuk kemudian menemukan sebuah bangunan yang tidak besar. Itulah Gereja Fransiskus Asisi Tebet.

Selengkapnya!

God, What Do You Want Me To Do?

“So he (Saul), trembling and astonished, said, ‘Lord, what do You want me to do?” (Kisah Para Rasul 9:6).

Setengah mati saya mencari padanan kalimat Saulus di atas dalam Bahasa Indonesia, tapi zonk. Alkitab versi Indonesia tidak memuat percakapan itu. Jadi ceritanya, dalam perjalanan ke Damsyik, Saulus tetiba melihat cahaya memancar dari langit dan mengelilingi dia (ayat 3). Saulus lalu jatuh dan kemudian terdengar suara, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”, itu di ayat 4. Pada ayat 5, Saulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?”, yang kemudian dijawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu”. Menarik bahwa di ayat 6, versi Inggris menulis kalimat yang membuka tulisan ini dilanjutkan dengan arahan kepada Saulus untuk bangun dan pergi ke kota, namun versi Indonesia menghabisi kalimat penting dari Saulus itu tadi. Yeah! Kalau diperdebatkan bisa berabe. Jadi baiklah kita kembali ke topik karena fokusnya bukan itu.

12196103_10207567568804248_151758893460368410_n

Fokus saya adalah kalimat Saulus tadi, yang kalau diterjemahkan bebas, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki untuk aku lakukan?”. Atau kalau kalau terlalu bebas bisa dipertanyakan sebagai, “Sakjane aku ki dikon ngopo, Gusti?

Yeah!

4 Alasan Liverpudlian Adalah Pasangan yang Baik

Hidup di era kekinian itu kadang ribet. Dulu kala nggak ada agama, nggak ada partai, nggak ada klub sepakbola. Nah, kadang ada hal-hal yang semacam itu, yang kemudian memberikan batas-batas jika hendak berhubungan dengan lawan jenis, atau sesama juga boleh asal paham konsekuensinya di negeri ini. Tahu sendiri, dulu karena problematika Prabowo dan Jokowi, ada saja pasangan berkasih-kasihan yang putus. Pekok. Wong, Pak Bowo dan Pak Joko malah habis itu salam-salaman dan cipika-cipiki.

article-1363104-00AD5454000004B0-697_634x415

Sejenis dengan kiblat politik, kiblat klub sepakbola juga cukup mendasar. Ada teman saya, emak-emak Milanisti yang menikah dengan Interisti habis. Sprei anaknya Inter, tapi nama anaknya Nesta. Menurut pertanyaan saya kepada yang bersangkutan, ternyata itu sudah pembagian. Sampai sedemikian dampak kiblat klub sepakbola ini. Dan salah satu yang lumayan mentereng di dunia adalah Liverpool. Maka jangan heran, kalau kamu jomlo, bersiaplah pada keadaan bahwa banyak fans Liverpool alias Liverpudlian yang beredar di luar sana dan siap menjadi pasangan.

Tapi ternyata, ya, para Liverpudlian itu punya beberapa keunggulan yang menjadi mereka adalah pasangan yang baik. Mau tahu? Ini dia.

Liverpudlian Adalah Orang yang Menghargai Sejarah

Berbicaralah dengan Liverpudlian, niscaya mereka akan sangat paham sejarah, terutama pada bagian fakta bahwa Liverpool memiliki belasan gelar juara Liga Inggris. Coba sekalian tanyakan juga tahunnya, mereka akan dengan bangga pula bahwa terakhir kali Liverpool juara Liga Inggris adalah tahun 1990. Ya, kira-kira sudah lima belas tahun berlalu. Kalau waktu itu ada yang beranak, sekarang anaknya sudah bisa menulis mentions ke @jokowi sambil mencak-mencak.

Selengkapnyah!

Oase Sunyi di Pejompongan

Di balik gedung-gedung tinggi yang bisa disaksikan dari Tol Dalam Kota maupun Jalan Sudirman, rupanya tersimpan juga tempat dengan suasana sepi dan cukup mendukung untuk beribadah. Maka, #KelilingKAJ kali ini mencoba merambah tempat tersebut. Dapat diakses dari Jalan Bendungan Hilir, namun lebih gampang diakses dan memang masih merupakan daerah Pejompongan, dengan menunggang si BG saya akhirnya sampai ke Gereja Kristus Raja Pejompongan. Saya jadi ingat beberapa tahun silam di Paroki Ibu Teresa Cikarang, ada penggalangan dana dari umat dan Pastor paroki ini, ternyata hasilnya oke juga. Sebuah Gereja yang disebut sebagai Gereja Daun.

Untuk dapat mencapai Gereja ini, jalur termudah adalah lewat Pejompongan. Ketika ada perempatan, yang ke kanan ke LAN, belok kiri, kemudian ada perempatan belok kanan, lantas belok kiri lagi, kita akan ketemu bangunan bernuansa hijau yang persis berada di depan kantornya seorang politisi. Disitulah Gereja Daun berada.

Selengkapnya!