Belajar Cinta Dari Ade Irma Suryani

Screenshot_1804

Dimuat di Mojok, tanggal 13 Juli 2016, sebelum Mojok shutdown dan kemudian malah jadi tambah besar.

Perkara belajar cinta itu kiranya sungguh perkara abadi, bahkan jauh lebih abadi daripada usia para penyebar hoax jika dijumlahkan sekalipun. Di Indonesia, kita mengenal band bernama Armada sebagai penegas bahwa cinta itu buta.

Biarlah orang berkata apa
Manusia tiada yang sempurna
Ku terima kau apa adanya
Yang penting aku bahagia

Bahkan, Sang Raja Partai Idaman Dangdut juga melantunkan cinta buta dengan merdunya. “Bila sudah jatuh cinta, semuanya jadi indah,” begitu katanya dalam lagu Cinta Buta, “memang cinta itu buta”.

Bahwa sekarang kita menemukan banyak sekali fakta uang akan sangat mempengaruhi cinta, tapi itu tidak menghapus fakta lain betapa cinta kadang-kadang bisa membuat orang berpikir anti mainstream. Dulu kita tahu pernah terdapat seorang pria. Ia adalah seorang suami dari artis wanita yang kariernya sedang menjulang di dunia infotainment.

Suatu ketika, video hubungan seks antara sang artis wanita dengan seorang vokalis band terkenal beredar luas. Indonesia terguncang. Hal tersebut bahkan sempat menjadi isu nasional selama berbulan-bulan. Luar biasanya, sang suami tidak serta merta meninggalkan istrinya itu. Logika umum, sudah jelas-jelas selingkuh, sudah terang benderang melakukan perkenthuan dengan orang lain di luar koridor pernikahan, mestinya tinggalkan saja!

Nyatanya? Tidak. Sampai beberapa waktu kemudian mereka masih bersama.

Kisah-kisah semacam itu, menurut saya, lebih memperlihatkan cinta sebagai bentuk utuhnya ketimbang cerita menawan semacam di novel. Bahkan untuk menulis novel dengan kisah suami setia–meski istrinya kedapatan terlibat dalam diskusi ‘mau keluar di mana’ dengan lelaki lain di mana semuanya terekam video–perlu keberanian tersendiri. Keberanian yang mungkin hanya mampu dikalahkan oleh nyali Kak Jonru yang konsisten dalam mem-posting hal-hal tentang Presiden tanpa takut dicokok aparat.

Beberapa hari belakangan ini, kisah belajar cinta yang istimewa seperti itu rupanya masih ada, bahkan jauh lebih dramatis: Seorang ibu muda bernama Ade Irma Suryani membawakan sehelai gamis untuk dipakai suami melarikan diri dari penjara. Lokasi tepatnya: Dari Rumah Tahanan (Rutan) Salemba. Tak jauh dari kantor PKI yang tempo hari dikoar-koarkan Kivlan Zein.

Seorang istri membantu suami kabur dari penjara? Tampak biasa. Sama biasanya dengan Inter Milan atau Manchester United saat terdampar di luar zona Champions. Biasa banget. Yang membuat cerita tersebut menjadi kisah cinta yang begitu heroik adalah: Sang suami tersandung kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap gadis di bawah umur. Lebih dahsyat lagi: gadis di bawah umur tersebut adalah keponakan sang istri.

Jika kita bandingkan, kisah selingkuh artis tadi seperti sampah daur ulang.

Bayangkan, sang suami kedapatan memperkosa gadis lain saja sudah menjadi poin yang tepat untuk menganggapnya bajingan dan kemudian melepasnya dari kelanjutan hidup. Kian berat dan menjijikkan ketika gadis yang diperkosa si suami bejat tadi adalah keponakan sang istri sendiri. Bahkan jika tak menyeretkan unsur pemerkosaan, membunuh seorang keponakan semestinya sudah menjadi bukti jelas bahwa sang suami tiada layak dicintai.

belajar-cinta

Photo by Josh Willink on Pexels.com

Namun, Ade Irma Suryani tampaknya begitu mencintai suaminya hingga dia menihilkan fakta bahwa (1) suaminya telah membunuh orang, (2) yang adalah keponakannya sendiri, (3) setelah sebelumnya memperkosa gadis di bawah umur itu.

Bagi Ade, semua fakta itu nisbi belaka. Dia tetap mengunjungi suaminya itu saat lebaran, persis ketika daerah Percetakan Negara tempat Rutan Salemba berada sedang sepi-sepinya. Lebih lanjut lagi, dia membantu pelarian suaminya, bahkan meninggalkan KTP-nya di pos jaga Rutan Salemba.

Kalau Anda baca di berbagai media, pasangan absurd tersebut naik bajaj sampai Tanah Abang dan kemudian berpisah begitu saja. Jakarta jelas sedang tidak macet hari itu dan sangat mudah bagi sang istri untuk kembali mengambil kembali KTP-nya jika ia mau. Tetapi cinta mengaburkan itu semua.

Ngomong-ngomong, bagi yang sering makan siang di sekitar Rutan Salemba, atau sering naik angkot 35 seperti saya, pasti (pernah) tahu perihal ketatnya penjara satu ini dari obrolan ibu-ibu yang sehabis datang mengunjungi anak atau suaminya di dalam situ. Secara luar biasa, Ade Irma Suryani melewati itu semua.

Banyak jomblo naas di muka bumi ini kehilangan cinta karena egosime pasangannya masing-masing. Hanya karena tidak dijemput, lantas minta putus. Begitu diiyakan, nangis-nangis setengah mati pengen balikan. Hanya karena ditinggal main Pokemon Go sebentar buat nyari telur 10 kilometer dari rumah, lantas minta bubaran. Aktivitas-aktivitas remeh itu berhasil membuat sebuah komitmen melemah dan bubar begitu saja.

Saya pernah diputuskan hanya karena menyuruh dan mengantar (mantan) pacar yang lagi sesak napas untuk pulang saja–karena malam begitu dingin–dan lupa tidak membelikannya makan malam.

Logika ilmiah saya sebagai calon apoteker ketika itu adalah dinginnya udara malam dapat memicu bronkokonstriksi. Maka bukankah lebih baik jika dia pulang dan mendekam di balik kehangatan selimut daripada lantas sesak napas nggak karuan? Bagi saya, sikap saya tersebut merupakan logika perlindungan.

Jika kesalahan saya hendak diperbandingkan dengan yang lain, tentunya jelas bahwa ‘tidak membelikan makan malam’ itu jauh lebih baik daripada ‘membunuh dan memperkosa keponakan’. Nyatanya saya diputuskan, dan si Anwar, si bangsat tukang pemerkosa dan pembunuh itu, justru dibantu kabur dari penjara, OLEH ISTRINYA!

Hidup memang sering terasa tidak adil. Ada orang yang setiap hari diisi dengan menghina Presiden tapi tidak ditangkap, sementara di sisi lain hanya mengirimkan SMS ke kepala daerah lantas tiba-tiba dicokok. Ada orang yang setiap kali menyebar hoax ditanggapi dengan bahagia dan share ribuan kali. Sementara saya yang setengah mati membuat tulisan klarifikasi beras palsu dengan data yang sangat lengkap malah tidak ada yang membagikan.

Hidup kadang pedih, cinta kadang buta, apalagi belajar cinta.

Maka, kawan-kawan jomblo se-Indonesia Raya, bawalah kisah Ade Irma Suryani ke dalam pencarian kalian akan jodoh masing-masing. Nggak peduli situ cowok apa cewek, tapi belajar memaafkan dan menihilkan kesalahan pasangan seperti yang dilakukan oleh Ade Irma Suryani adalah sikap yang sudah sangat langka di era di mana berbagi kabar hoax lebih membahagiakan daripada membincang fakta ilmiah.

Sungguh, kita–dan saya yakin Ade Irma Suryani–sama-sama memahami bahwa membantu seseorang keluar dari penjara itu adalah sikap yang jelas-jelas salah. Namun, siapa yang sudi untuk mengerti bahwa yang dilakukan Ade adalah sesuatu yang disebut cinta seutuhnya?

Lihatlah wajah Anwar di segala media mainstream dan bandingkan dengan wajahmu. Cakep mana? Cakep kamu, kan? Tetapi Anwar keparat itu punya orang yang mencintainya hingga penuh seluruh, lha kamu? Sukurin.

Tentu kesalahan Ade Irma Suryani bukan untuk kita tiru, tapi mari belajar tentang cinta darinya. Komentar-komentar di media mainstream begitu menyalahkan dan menggoblok-goblokkan dia yang tidak meninggalkan suami bejatnya itu, tetapi malah membantu suaminya kabur, plus menceburkan dirinya sendiri dalam masalah.

Dari perspektif cinta, Ade Irma Suryani tidak salah. Dia membela cintanya tanpa syarat, sekalipun ribuan argumen moral dan hukum tetap akan mendakwanya salah. Dalam perspektif saya yang belum kawin ini, segala yang dilakukan oleh Ade Irma Suryani hanya mungkin bisa ditafsirkan dalam naungan cinta. Persis seperti kata Auliq Ice.

“Love is not blind but it leads to blindness”

Advertisements

Percaya Telur Palsu Sama Saja Tidak Percaya Tuhan

Screenshot_1802

Tulisan saya di Mojok (18 Maret 2018) – Hobi kok sama hoax. Hoax jadul lagi. Ini bukan ngomongin G 30 S, ini merujuk pada hoax telur palsu.

Sebagai bapak muda, seharusnya saya memiliki optimisme pada negeri ini. Mau tak mau harus kudu demikian. Agar setidaknya saya bisa membayangkan, kelak ketika saya sudah menjadi lansia yang antre obat hipertensi dengan fasilitas BPJS Kesehatan, anak saya akan menemukan Indonesia yang jaya, gemah ripah loh jinawi, dan sifat-sifat baik lainnya.

Namun, begitu melihat isi Facebook dan menemukan ratusan ribu orang menaruh komentar “#2” dalam pesan “ketik #2, maka air akan surut” pada gambar mbak-mbak sedang berendam, pesimisme pada bangsa ini mekar kembali.

Selain urusan otak ngeres, salah satu alasan untuk pesimistis adalah begitu banyaknya orang yang menjadi penghobi hoax. Hoax politik mungkin lama-lama terasa biasa, tetapi yang bikin linu, banyak orang percaya pada hoax soal makanan.

Yang terbaru, tentu saja, hoax tentang telur palsu.

Hoax telur palsu ini sejatinya telah muncul beberapa tahun silam. Kala itu beredar broadcast message soal telur palsu yang dijual separuh harga di dalam KRL Jabodetabek—waktu itu masih berstatus kereta ekonomi.

Oke, mari kita bayangkan. Ketika hoax itu muncul, berjualan di dalam KRL Jabodetabek masih diperbolehkan. Pada era Ignasius Jonan, KRL Jabodetabek direvitalisasi sehingga jangankan jualan, mau berdiri dengan baik dan benar saja susah banget. Pak Jonan sudah beralih dari sekadar bos PT Kereta Api Indonesia menjadi Menteri Perhubungan, sudah dicopot lantas dilantik lagi jadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, eh hoax lawas soal telur palsu muncul lagi.

Hobi bener ya mengulang-ulang hoax.

Sepuluh tahun silam juga sempat ramai soal telur palsu yang katanya ditandai dengan adanya garis hitam serta bagian kuning yang tampak tidak bulat sesudah direbus. Nyatanya, kemudian diketahui bahwa itu telur afkir alias telur tidak layak tetas, yang kemudian digembar-gemborkan sebagai telur palsu.

Tahun 2018, isu telur palsu mengemuka kembali setelah viral video tangan seorang ibu yang memecahkan telur, lantas memegang bagian kuning telur dan bagian itu tidak mudah pecah. Serta, katanya lagi, di bagian kulit ada lapisan mirip kertas.

Model hoax bikin video dengan penjelasan bak pakar macam ini memang kerap terjadi. Sebelumnya, ajang berbagi kebodohan ditandai dengan munculnya video biskuit tipis dan gorengan yang menyala kala dibakar. Yha, gundulmu juga juga bakal menyala kalau dibakar. Apa berarti otakmu terbuat dari plastik?

Bicara yang palsu-palsu boleh-boleh saja. Masih ada pekerjaan rumah tentang obat palsu, lukisan palsu, hingga nabi palsu. Kalau ada obat palsu, wajar dipermasalahkan. Obat kan buatan manusia, jadi memang dimungkinkan kalau ada manusia yang membuat edisi palsunya. Motifnya untuk mencari profit, jelas. Ada selisih biaya dan kualitas yang bisa dimainkan sebagai cara memperoleh keuntungan dengan tidak wajar. Untuk itulah pemalsu obat ini harus ditangkap-tangkapi.

Lha, sekarang kita berbicara telur palsu dan begitu banyak yang percaya. Termasuk embel-embel konspirasi asing untuk menghabisi penduduk Indonesia. Menyimak dunia maya bergolak soal telur palsu, saya sungguh izin mengelus dada tetangga.

Telur oleh berbagai jurnal disebut sebagai sebuah paket unik yang didesain sebagai bagian tidak terpisahkan dari sistem reproduksi. Ingat, ada kehidupan di dalam sebuah telur.

Lebih spesifik lagi, mari membincang kulit telur. Si kulit telur ini memiliki fungsi melindungi embrio dari gangguan yang sifatnya mekanis maupun dari bakteri atau virus. Penelitian soal kulit telur ini sudah dilakukan sejak tahun 1881-1882. Pada saat itu, di nusantara lagi ramai Perang Aceh.

Menurut Burley dan Vadehra dalam bukunya The Avian Egg: Chemistry and Biology, analisis kimia menunjukkan bahwa kulit telur tersusun dari 97% kalsium karbonat. Proporsi jumlah kalsium pada kulit telur ini juga menjadi keajaiban tersendiri karena menurut perhitungan matematis, jumlah kalsium dalam tubuh induk unggas tidak akan sebanding untuk menjelma jadi sekian banyak kulit telur.

Gambarannya, volume darah untuk unggas berbobot 1,5 kilogram adalah 75 mililiter. Konsentrasi alias kandungan maksimal kalsium dalam darah adalah 30 miligram per 100 mililiter sehingga kandungan kalsium dalam tubuh unggas petelur hanyalah 25 miligram. Padahal, dalam kulit dari telur yang bobotnya 60 gram, terkandung sekitar 2,3 gram kalsium. Bingung toh? Sudah sana cari jurnalnya di Google Scholar. Ada, kok. Jangan baca hoax melulu di Google.

Pembentukan kulit sendiri merupakan proses paling panjang dalam terbentuknya suatu telur, sekaligus bukti keterlibatan Tuhan yang luar biasa. Makanya kulit telur selalu mulus tanpa bekas las. Nggak pernah kan lihat ada telur yang kulitnya seperti bungkus Kinder Joy?

Pada intinya, kompleksitas kulit telur saja sudah menggambarkan betapa sangat membingungkannya struktur sebuah telur. Maka jangan heran kalau urusan telur ini sebenarnya adalah wujud nyata campur tangan Tuhan dalam kehidupan di dunia.

Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana mungkin membuat sesuatu yang palsu di balik kulit telur yang notabene merupakan mahakarya Yang Maka Kuasa itu? Concern-nya sama persis dengan pernyataan beberapa ahli yang beredar belakangan, “Sampai detik ini belum ada teknologi manusia yang dapat membuat kulit telur ayam dan isinya.”

Lho, tapi berita-berita di website dan video-video di YouTube jelas-jelas memperlihatkan pembuatan telur palsu!

Menyoal itu, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian Syamsul Maarif di media menyebut bahwa “Secara akal sehat, telur palsu akan jauh lebih mahal dari aslinya”.

Hitung-hitungan bodoh dengan memakai data bahwa dalam 1 telur terkandung 2,3 gram kalsium, maka 1 kilogram kalsium karbonat hanya akan menghasilkan 434 telur saja. Ambil patokan harga 1 kilogram kalsium karbonat adalah 13 dolar AS alias sekitar 180 ribu, maka biaya kalsium karbonat saja per telur adalah 410 rupiah.

Itu baru kulitnya doang, padahal kulit hanya menyumbang 4 persen bobot telur. Belum menghitung biaya untuk membuat isinya—yang 96% lagi, apalagi menghitung biaya impor dari luar negeri sebagaimana prasangka buruk para netizen nan selalu benar yang beredar selama ini.

Memangnya semua biaya itu cocok dengan harga telur yang jika sebijinya sampai-1.500-rupiah-sudah-dibilang-mahal-itu? Secara akal sehat, masih lebih baik memaksa ayam-ayam petelur se-Indonesia untuk menetaskan telur alih-alih nyari yang palsu, apalagi nyari ke asing-aseng.

Maka ada lagi netizen bersabda: ini bukan soal untung rugi! Ini soal bagaimana asing-aseng merusak bangsa Indonesia!

Ah, Kepala Satgas Pangan Irjen Pol. Setyo Wasisto menyebut bahwa konsumsi telur per orang di Indonesia hanya 10,44 kilogram per tahun. Dengan asumsi 1 kilogram berisi 16 butir, kira-kira itu setara dengan 13 butir per bulan. Dari 90 kali kesempatan makan dalam sebulan, anggaplah 13 butir itu dimakan dalam 13 kali kesempatan makan, maka proporsinya hanya 14%. Entahlah, bagaimana konsumsi telur sejarang itu bisa dianggap merusak bangsa.

Bahwa ada telur palsu dalam kapasitas sebagai produk untuk display di restoran dan keperluan promosi lainnya, itu jelas ada. Wong untuk mainan anak-anak juga ada. Namun, kalau telur palsu yang ditujukan untuk membunuhi penduduk Indonesia? Duh, Dek, katanya beragama, tapi kok masih meragukan keajaiban Tuhan dalam wujud telur, sih?

Salah satu situs web di dunia yang dipercaya sebagai tempat mencari tahu kebenaran atas hoax yang beredar adalah Hoax Slayer. Soal telur palsu ini, Hoax Slayer memiliki hipotesis bahwa rumor soal telur palsu kemungkinan bermula dari berita yang dipublikasikan di Xinhua pada 28 Desember 2004.

Berita itulah yang memuat soal bahan-bahan berupa kalsium karbonat, starch, resin, gelatin, dll., dan tambah mengemuka sejak dimuat di consumerist.com pada bulan Mei 2007 dengan menyebut acuan Internet Journal of Toxicology. Publikasi ini sepintas tampak ilmiah, meski judulnya lantas bikin dahi berkerut karena nggak jurnal-banget: “Faked Eggs: The World’s Most Unbelieveable Invention”. Belakangan diketahui bahwa jurnal itu sebenarnya telah diakui sebagai kesalahan publikasi dan telah diturunkan, meski dengan pengaturan tertentu kita masih bisa googling demi membaca publikasi yang bikin dahi berkerut karena tidak ilmiah sama sekali itu.

Yeah, di luar negeri hoax ini sudah ada tahun 2007, di negeri kita juga sempat mengemuka tahun 2008, tapi tahun 2018 kita menghebohkan lagi hal yang telah dihebohkan belasan tahun lalu. Pantaslah jika kita sering ketinggalan gerbong dari negara lain. Jangankah soal update teknologi, soal hoax saja kita masih memakai hoax 11 tahun yang lalu, lho!

7 Post Instagram dari 7 Media Paling Kece Pasca Debat Pilpres 2019 Kedua

debat-pilpres-2019

Saya agak trenyuh melihat capaian WordAds bulan lalu. Separo dari bulan-bulan sebelumnya yang sudah sedikit itu. Kemungkinan ya karena saya jarang posting. Maklum, sok sibuk. Ah, jadi mulai sekarang tulisan-tulisan maupun ide-ide yang batal, mau saya masukkan kesini saja ya. Minimal biar ada isinya. Heuheu. Khusus post ini, saya hanya hendak merepost 7 postingan di Instagram dari 7 media yang dikenal kadang-kadang kampret dan kadang-kadang cebong tapi seringnya netral, pasca debat Pilpres 2019 kemarin.

Kuy~

Mojok

debat-pilpres-mojok

Republika

debat-pilpres-republika

Liputan 6 Menyajikan Debat Pilpres 2019

debat-pilpres-liputan-6

Tirto

debat-pilpres-tirto

Detik

debat-pilpres-detik

Kompas Menyajikan Statement Prabowo pada Debat Pilpres 2019 Kedua

Screenshot_1782

Kumparan Menyajikan Infografis Paling Meaningful dari Debat Pilpres 2019

Screenshot_1781

Nanti yang Debat Pilpres versi Cawapres pasti bakal seru, yha~

8 Kiat Sukses Lolos Seleksi Substansi LGD LPDP

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja!

Sesudah lolos seleksi administrasi dan seleksi berbasis komputer maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah seleksi substansi. Dalam seleksi substansi itu sebenarnya ada 3 bagian besar. Akan tetapi, biar postingnya jadi banyak, ya saya pisahkan begini aja. Harap maklum, otak sudah susah dipakai mikir~

Tiga bagian besar yang saya maksud adalah verifikasi berkas, Leaderless Group Discussion (LGD), dan wawancara. Postingan ini khusus membahas LGD. Soalnya, bagian ini yang termasuk paling banyak dicari di Google. Entah kalau di Geevv.

1. Pahami LGD LPDP

Bagian pertama, kita kudu pahami teknis LGD LPDP ini. Dalam seleksi ini, kita akan ditempatkan sekitar 10 orang (plus minus) dalam 1 kelompok diskusi. Topik hanya diberikan sesaat sesudah masuk ruangan, dan boleh baca 5 menit.

Image result for 5 minutes gif

Oya, bonus kertas corat-coret juga, deh. Biasanya, pada soal, diberikan juga peran-peran yang dibutuhkan. Jadi, dalam LGD, kita akan berperan jadi seseorang/sesuatu, misal perwakilan pemerintah, perwakilan pelaku usaha, dll.

Nah, selanjutnya dalam 30 menit diskusi akan berjalan tanpa dibuka oleh 2 panitia merangkap penilai di dalam ruangan. Tinggal kreasi peserta dalam 30 menit yang menjadi koentji~

2. Pahami Konsep Dasar Tes LGD Yang Baik

Saya sudah menghitung bahwa dalam 30 menit itu, waktu ideal untuk ngomong adalah 1,5 menit (saja!). Dengan durasi ini, setiap orang bisa mengutarakan pendapatnya 2 kali dalam 1 sesi LGD. Kalau sudah melenceng, pastilah ada yang dirugikan. Itu pasti.

Kemudian, pastikan peran-peran yang ada di soal itu dibagi rata. Inilah seninya, gimana membagi rata peran itu dengan baik sedangkan kenalan saja belum. Heuheu~

Screenshot_1775

Kemudian, pastikan bahwa jawaban kita tidak menggantung tanpa kesimpulan karena itu akan mempersulit peran lain yang mau nyamber sesudah kita. Jangan juga bikin pendapat yang nyeleneh sehingga common sense orang lain terganggu. Ingat, disini kita bukan debat atas nama cebong kampret, kita hanya ingin lolos beasiswa. Continue reading