Seminggu yang Lalu

Baiklah. Saya gagal move on dari semua ini. Bahkan lebih gagal move on daripada Melody of Memory, yang mana kurang dari 10 jam sesudah turun panggung saya harus presentasi Kimia Medisinal tentang Furosemide. Juga lebih gagal move on daripada Konser Pamit KPS IV Unpar yang euforianya harus bertabrakan dengan Titrasi 2007 (colek Uut ^_^).

Gagal move on ini disponsori oleh kemajuan teknologi sih.

Iya. Seminggu semenjak turun dari panggung di TBY itu, media sosial buatan Mas Zuckerberg menjadi sarana foto-foto berseliweran. Belum lagi video yang beredar di Youtube, plus beberapa kicauan di burung biru. Belum lagi kalau baca blognya Mbak Linda dan blognya Bona. Apalagi ditunjang oleh pekan yang “mulus” dimana akhir bulan ini diwarnai oleh transaksi yang sudah pada kelar dan minim masalah. Jadilah, pikiran ini nggak bisa lepas dari Poelang Kampoeng.

Bentuk gagal move on yang paling jelas adalah ketika di kantor, sambil memandangi kotak dan angka itu, salah satu lubang telinga saya akan terhubung dengan speaker yang kontennya membunyikan lagu Hallelujah hasil unduhan dari Youtube 🙂 Gimana nggak mulyo itu seminggu full yang didengar cuma Hallelujah doang?

Saya hanya membayangkan, kalau tulisan di bawah ini nggak nongol di FB pada 13 Agustus 2012, apakah seminggu yang lalu itu akan terwujud?

:)

Tentu salut untuk ide dasarnya dari Mas-Mbak yang sudah nge-PSM di saat saya masih belum ngeh bunyiin Do itu gimana (sampai sekarang juga sih..). Karena tulisan inilah yang kemudian bergulir panjang, termasuk dengan sensus penduduk PSM CF yang membuat saya terkaget-kaget waktu mengkompilasinya. Keluarga ini adalah keluarga yang besar sekali.

Sebenarnya pengen banget ngabsen siapa aja sih yang ada di panggung dengan balutan ungu kemarin itu. Pengen banget semua detail dari sejarah ini terdokumentasi. Hmmm… Ini kepengenan karena gagal move on sepertinya.

Ya sudah. Mari kita melanjutkan hidup! 😀

Advertisements

Feel Their Happiness

Baru sadar, sudah lebih dari 6 bulan nggak mengupdate cerita soal Dolanz-Dolanz. Uhuk. Rencana saya sih, tulisan ini akan jadi kompilasi yang menarik jika sebelumnya saya sudah jadi penulis yang terkenal. Dan pada akhirnya teman-teman saya yang gokil-gokil itu akan jadi terkenal juga. Sayangnya, sampai hari ini pageview saya ya masuk 100-an aja per hari.

Kapan terkenalnya?

Ya sudah. Populer tentu saja bukan tujuan. Tapi berkarya adalah keharusan. Bukan begitu?

Jadi, mari kita teruskan.

* * *

Hidup itu kadang runyam ya. Makin runyam lagi urusan perlelakian di sesama dolaners. Selain Bona yang terus bertahan menerjang badai lautan bersama kekasihnya sejak SMA, dolaners lelaki yang lain adalah peserta penggalauan massal yang digelar secara rutin oleh yang lainnya.

Dan tentu saja termasuk aku.

Tapi penggalauan itu bisa jadi nggak runyam, ketika satu persatu kabar gembira muncul. Yah, kabar gembira buat anak kuliahan selain jam kosong adalah…

teman punya pacar.

Ketika akhirnya teman sepergalauan itu punya pacar, rasanya sudah ikut senang. Walaupun aku masih juga tidak punya pacar. Walaupun itu berarti aku akan kehilangan teman menggalau ria sambil nonton bokep yang di-fast forward. Nah, berikut beberapa kisahnya, dan mohon maaf kalau akan terlalu banyak melibatkan Chiko. Iya, dia yang paling playboy soalnya.

Playboy kok galauan?

Chiko – Eka

Ini berita yang sifatnya syahdan. Apalagi Eka itu kakak kelas, dan aku sudah mengenalnya sejak aku masih SMA. Kabar kabur sudah muncul sesudah perhelatan Pharmacy Performance yang merupakan embrio terbentuknya UKF Dolanz-Dolanz.

Dan sebagai anak yang masih polos, aku tidak terlalu paham bahwa Chiko dan orang yang aku panggil Mbak Eka itu sudah dekat. Lah manggil Mbak soalnya kakak kelas. Iya to?

Begitu mendengar kabar kalau Chiko jadian sama Eka, perasaannya sih, “ohhh…”

Dan berhubung UKF Dolanz-Dolanz belum terbentuk, perasaan ikut bahagianya masih sedikit. Belum kelihatan, kayak mukaku.

Chiko (lagi) – Tina

Baiklah, untuk sebuah sebab musabab yang akupun tidak mengerti apa, Chiko putus sama Eka. Dan seiring dengan rencana perhelatan besar dolaners, maka tertiup kabar yang oye, Chiko sepertinya sedang dekat sama Tina.

Perhelatan besar ini adalah silaturahmi ke Pantai Ngobaran, season 2. Setelah season 1 yang agak kurang sukses, namun kemudian sukses menjadi momen berdirinya UKF Dolanz-Dolanz. Disebut besar karena direncanakan dengan lebih matang, dan dengan peserta yang jauh lebih banyak. Dua kali lipat rasanya.

“Kowe karo sopo, Ko?”

Pertanyaan mendasar ini, karena di petualangan sebelumnya Chiko memboncengkan Mami Aya, sekaligus sebagai korlap, koordinator ngelap. Perlu ditanyakan karena Tina juga termasuk angkatan kita, jadi siapa tahu hendak turut.

“Bonceng Tina, lah.”

“Lah uwis jadian po?”

Dan playboy itu diam seribu bahasa. Oke, baiklah. Nanti juga ketahuan.

Chiko pada akhirnya membawa Tina di perjalanan 70 kilometer ke selatan, yang bukan dilakukan untuk mencari kitab suci. Di perjalanan menggunakan sepeda motor yang kalau nggak salah namanya Gita itu, dolaners silih berganti menguntit kebersamaan dua sejoli itu.

“Eh, lah uwis jadian po?”

Bisik-bisik terjadi di pasukan sepeda motor di belakang Chiko-Tina.

“Lha mboh.”

“Nek uwis, kok ora dipeluk?”

Kala itu harga bensin masih di bawah 4.500, jadi wajar kalau anak mudanya beda kayak sekarang. Sekarang mah pacar juga bukan, tetap aja main peluk-pelukan.

“Ngko wae takon.”

Informasi sudah jadian itu ternyata dimiliki beberapa orang di dalam rombongan, namun memang belum tersebar luas. Dan pemandangan 70 kilometer pp tadi, plus adegan di pantai akhirnya membongkar fakta tersebut.

Cihuy, turut bergembira. Bahkan turut nggarapi di pantai. Fotonya? Ada. :p

Bayu – Putri

Sejujurnya hubungan Bayu dan Putri ini termasuk absurd tingkat kotamadya. Bayu temanku SMA, Putri temanku waktu ospek fakultas. Dan sebagai rangkaian dari proyek gagalku mencari pacar yang adalah temannya Putri, maka ditemukan efek samping yang lebih poten. Putri ternyata suka sama Bayu.

Ini juga cihuy. Proyek yang menarik. Apalagi melihat bahwa Bayu ini tampaknya belum suka wanita. Waduh. Padahal, kurang apa dia? Tampang lumayan, nyaingi si Chiko deh. Otak? Jelas ada. Saking adanya, Bayu bisa tidur sepanjang kuliah namun kemudian ketika bangun bisa melontarkan pertanyaan yang relevan dengan kuliah yang disampaikan sepanjang dia tidur tadi. Bahkan beberapa kali pertanyannya dapat pujian dari dosen.

Entah bagaimana ihwalnya, sampai kemudian Bayu yang nggak suka sama Putri, terus kemudian bisa dekat, teruusss, teruuuusss, dan teruussss sampai terdengar kabar bahwa mereka sudah jadian.

Sebagai salah satu pelopor-ingat, dia efek samping proyekku yang gagal-tentu saja aku ikut senang!

Roman – Adel

Nah ini, termasuk yang menjadi catatan turut senang milikku. Adel adalah korban yang berhasil aku gaet untuk kuliah di Farmasi. Dia teman agak lama, ketemunya waktu sama-sama ikut sanggar menulis yang sukses untuk gagal menelurkan buku. Ealah.

Roman sendiri adalah salah satu tempat peraduan untuk berteduh, selain kosannya Toni. Kebetulan nih, Adel sering SMS-an sama aku dan sebenarnya bilang kalau dia nge-fans sama Toni dengan rambut gondrongnya yang penuh dilema.

Tapi mungkin peletnya Roman lebih kuat, mereka kemudian bisa janjian. Sebuah janjian yang monumental, di tempat gorengan. Sepuluh meter dari kamar Roman.

Aku dan Bayu sempat membuka-buka HP Roman sesudah itu, maklum jaman itu belum ada smartphone, jadi semuanya phone masih bisa dibodohi, termasuk untuk dibuka-buka SMS-nya. Jadi deh kami tahu bahwa Roman dan Adel janjian di gorengan.

Dan persis ketika Dolaners plus-plus melakukan perjalanan ke Sri Ningsih, Roman dan Adel ikutan berangkat. Tanpa perlu disimpulkan, itu namanya sudah jadian.

Lah, kok bisa-bisanya Adel pindah kiblat dari Toni ke Roman? Mboh. Sebagai teman main dan teman lama, ikut senang juga pastinya.

Riono alias Richard – Riana

Sesungguhnya ya, kata orang Jerman, witing tresno jalaran soko kulino dan sesekali dapat diterjemahkan menjadi witing tresno jalaran soko ora ono sik lio, dan sekali-kali juga dapat menjadi witing tresno jalaran soko telo (emang e getuk?). Dan pepatah warga Jerman tadi dipakai banget oleh Richard untuk mendapatkan Riana.

Pendekatannya sih sudah dari awal. Ibarat kata sudah ditakdirkan oleh yang berkuasa di Biro Akademik. Riana punya nomor mahasiswa 87 dan Richard 88. Namanya juga mahasiswa, jadilah mereka selalu bersama, dalam suka dan duka, dalam kelompok apapun yang dibagi berdasarkan nomor absen. Hore!

Tapi momen mereka jadian sedikit lenyap karena Dolaners sibuk bekerja di berbagai tempat karena gempa. Aku di Bethesda, lanjut ke JRS. Roman dan Adel banyak di Bantul, demikian juga Bayu plus Putri. Oya, pada periode ini Bayu dan Putri sudah menjadi mantan kekasih, dengan realita yang miris. Kalau dulu Putri ngebet sama Bayu sekarang kebalikannya. Seandainya mereka saling ngebet pada saat yang sama.

Kabar kabur mulai terasa sesudah masuk lagi demi menyelesaikan ujian. Dan memang Riono dan Riana sudah menjadi sejoli pada periode menjadi relawan gempa.

Somebody said, “berkah gempa.”

Meski aku kurang setuju dengan istilah itu, ya sudahlah. Ikut senang! Senang melulu, aku kok nggak jadian-jadian ya?

Nasib.

Toni – Tini

Aku dan Toni kebetulan sekelas, dan di kelas anak Klinis, lelaki adalah manusia yang sama langkanya dengan Panda di dunia. Plus, entah darimana pula ada ide terkutuk untuk lomba Pom-Pom Boys se-farmasi. Huaaaa…

Mau nggak mau, aku, Toni, dan beberapa lelaki yang ada terpaksa terjun payung, termasuk menerjunkan tingkat kemaluan ke level terbawah untuk mewakili kelas Klinis ini.

Persiapan.. Persiapan.. Akuakuakuakua.. Mijonmijonmijon..

“Aku isin cah.”

“Aku yo iyo.”

“Lha aku ora po?”

Begitulah. Lelaki pun bisa malu, apalagi disuruh Pom-Pom Boys.

“Nek aku jomblo selamanya, kowe-kowe kudu tanggung jawab,” ujar Toni.

“Matamu,” timpal yang lain.

Pergelaran itu akhirnya berlalu juga, tentunya dengan sedikit meninggalkan kemaluan yang tersisa. Ya sudahlah, semoga adek-adek yang saya asisteni tidak melihat aib yang terjadi tersebut. Maluk euy.

Itu hari Kamis.

Seninnya, aku datang ke kosnya Toni. Dan karena sudah menganggap kos Toni adalah milik sendiri–sama halnya dengan Dolaners yang lain–maka aku langsung melihat di depan pintu yang terbuka itu ada…

sandal wanita.

Tercekatlah aku di depan pintu, begitu melihat Tini ada disana lagi ngobrol sam Toni. Sambil mengeluarkan flashdisk, aku melangkah mundur, lalu pura-pura menyapa Bambang di kamar sebelah.

Yah, teman yang nomor mahasiswanya denganku ibarat Riono-Riana itu sudah punya pacar juga. Ikut senang. Hore. Hore.

*menangis pilu dalam hati*

Bayu – Putri (season 2)

Hari terakhir ngampus. Akhirnya! Dan keesokan harinya aku hendak pulang kampung ke kampung yang sudah tidak pernah aku injak sejak aku jadi mahasiswa. Gile ya, toyib sekali aku ini.

Di hari terakhir ini, aku masih bertemu Chica dan Bayu di kampus. Maka ngobrollah kami di tangga depan hall kampus.

Dan si Chica yang polos habis, dan cenderung oon, tapi kalau kuliah pinter ini tanpa tedeng aling-aling bertanya ke Bayu, “Wis jadian urung karo Putri?”

Memang, beberapa pekan belakangan, mereka tampak akrab kembali. Sebuah petualangan 1 tahun yang keren sekali. Ya meskipun aku sudah menangkap perubahan pesat dalam diri Putri, yang kemudian sedikit menjauhkanku darinya. Selain tentunya karena nggak ada proyekan lagi gitu.

“Uwis,” jawab Bayu sambil cengegesan.

Haiyah! Ada pula pacaran season 2 selang setahun? Cinta memang gila, segila cinta fitri yang berseason-season itu. Meski sudah nggak setuju. Turut senang deh.

Yama – Lia

Boleh baca kisah Dolaners yang lain untuk tahu seberapa strategis posisi Yama di UKF Dolanz-Dolanz. Dan ketika dia kemudian termasuk jomblo, maka itu juga jadi isu. Apalagi umurnya waktu itu sudah mau 22 tahun.

Tapi ya, walaupun tampangnya begitu, yang ngefans yang tetap saja ada. Heran saya. Pesonanya sungguh luar biasa.

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian Chiko memberi kabar padaku di akhir bulan Januari itu, bahwa Yama sudah jadian sama Lia! Oya, Lia ini teman satu kosnya Adel.

Weitz!

“Percoyo ora kowe?” tanya Chiko

“Sakjane ora sih.”

“Aku yo ora. Tapi kuwi tenan.”

Dan bagian terbaik dari semua itu adalah ketika Chiko mendeskripsikan semua detail penembakan yang kemudian membawa kita sampai pada kesimpulan:

ORA YAMA BANGET! TAPI KUWI TENAN!

Well, muka dan keseharian tidak mencerminkan keromantisan rupanya.

Dan beberapa hari kemudian, Chiko datang ke kosan Roman, melingkari sebuah tanggal di kalender, dan bilang:

“Aku wis nembak. Tapi njawab e tak kon sebulan meneh. Ben mikir.”

Chiko (lagi-lagi dia) – Irin

Bahwa kisah pahit ternyata tidak mengendurkan apapun, kalau sudah cinta. Mau tahu pahitnya semacam apa? Klik aja disini.

Ya, dengan kepahitan yang macam itu, Chiko kemudian tetap dekat-mendekat-lebih dekat, dan akhirnya menembak (dor!) Irin. Waktu ditembak ini, si Irin sudah jomblo sih, jadi ya wajar saja.

Fiuh.

Mau jadi apa kowe, Ko?

Ya gitu deh, kalau sudah sama-sama dewasa. Your own risk. 🙂

Dan persis 1 bulan sesudah Yama dan Lia diproklamirkan, due date yang dipasang Chiko tadi terlewati. Jawaban diterima, dan mereka jadian.

Ikut senang! Ikut senang! Meski dalam hati tetap bertanya-tanya. Kok ya bisa sih?

*catatan: di sela-sela Yama – Lia dan Chiko – Irin, aku jadian, sebentar sih.. tapi lumayan sempat nyari kado bareng Yama di Mirota Kampus plus ketahuan Roman-Adel di perempatan Concat*

Chiko (masih ini anak! edan!) – Cintia

Nyatanya Chiko juga nggak awer sama si Irin. Maka kembalilah dia menjadi petualang cinta. Dan edannya, sesudah dia putus di Lotek, langsung pamer ke aku sekaligus meminta nomor HP target selanjutnya.

Dasar lelaki! Untuk aku tidak suka lelaki!

Aku memberikan 2 nomor kala itu. Cintia dan Marin. Yang Marin tidak direkomendasikan karena toh dia pacarnya temanku. Gile ape?

Dan melalui proses silent operations tahu-tahu 1 September alias hanya beberapa bulan sesudah permintaan nomor HP itu, Chiko sudah jadian sama Cintia.

Sumpah, dalam hal mencari pacar, makhluk ini memang perlu disembah, terus dibanting. Begitu.

*Catatan: sebulan sesudah Chiko jadian, lewat proses yang juga silent operations, aku bisa jadian juga. Fiuh.*

Bayu – Clara

Beberapa bulan sebelum aku lulus dan Dolaners menjadi semakin seret untuk ketemu, Bayu mulai menebar tanya soal seorang wanita. Nggak jauh-jauh sih. Adek kelas, yang sengit-nya minta ampun sama dia. Terbukti waktu jadi panitia, dan tahu sendiri pemikirannya Bayu itu antah berantah, banyak dilawan oleh adek kelas, termasuk Clara.

Sambil sesekali rapat SC, Bayu bilang kalau Clara itu lumayan.

Ehm.

Padahalnya di SC itu juga ada Dita yang sohibnya Clara banget. Kok ya nggak bilang sama Dita aja? Malah sama aku? Nanti kan repot. *apa coba?*

Iseng deh, waktu ketemu Clara, aku menitipkan salam. Dan tentu saja responnya sengit. Iya, mereka sempat debat terbuka waktu rapat panitia yang mana Bayu SC-nya dan Clara salah satu OC.

Tapi siapa sangka?

Sengit itu lama-lama juga bisa nyerempet jadi cinta loh.

Isu beredar ketika salah seorang OC, adek kelas, laporan mendapati Bayu dan Clara pergi berdua di suatu hari Minggu dalam rangka bertemu Tuhan. Kedok religi adalah mekanisme paling mendasar dalam PDKT terhadap wanita, khususnya anak Dolaners. Percayalah!

Isu itu berkembang seminggu lamanya sampai kemudian aku dan pacar pergi bertemu Tuhan dan tidak sengaja melihat sebuah objek menarik hanya 4 meter di depan kami. Iyah, Bayu dan Clara duduk berduaan, sebelahan.

Nah.. Nah.. Nah..

Aku yang sudah resmi tentu nggak masalah dengan itu, nah mereka? Pasti ini ada apa-apanya.

Keesokan harinya terkuaklah fakta itu. Bayu akhirnya jadian sama Clara, persis sesudah momen aku nge-gap mereka. Dan ironisnya, bahkan jadian saja pakai bawa-bawa namaku. Kira-kira begini:

“Eh, kata si Goz kita digosipin loh.”

“Iya ya?”

“Iya. Lha gimana?”

“Gimana apanya?”

“Apa dijadiin beneran aja, biar nggak jadi gosip?”

PLAKKKK!!!!

Lu kate gue bigos?

Ah, ya sudahlah, turut bangga saja namaku dibawa dalam proses penembakan.

* * *

Begitulah beberapa kisah mendapati teman jadian. Sejatinya, aku merindukan saat-saat itu. Tapi sekarang adanya mereka sudah pada nikah. Jadi nggak mungkin kan ada kabar macam itu lagi? Yang ada kabar bahwa Clara melahirkan, lah itu baru masuk akal. Hehehehehehehe….

Ada Yang Tertinggal di Jogja

Tadi pagi bangun jam setengah 6, seperti biasa. Tapi agak aneh juga, ketika saya mencoba tidur lagi adanya malah gagal. Aneh karena seharusnya waktu tidur saya akan menjadi sangat panjang mengingat hari-hari yang baru saja saya lalui.

Ini dia hari-hari itu.

Kamis, 20 Juni

Seperti biasa, ya kerja. Pagi-pagi ada receiving cacing, lanjut siang sampai sore beres-beres WO untuk produksi minggu depan, harus kelar hari itu karena besoknya saya mau cuti. Dan nyaris tenggo, saya pulang lalu packing dengan tas baru (hehehehehe…).

Makan mie sebentar, ehm agak lama sih gara-gara yang bikin mie yang punya warung–eksmud bank yang umurnya 26 dan buka warung (tertampar…plakkk..). Lalu jam 7 cabut ke penitipan motor Bang Iwan.

Semuanya masih tampak baik-baik saja hingga di pool bis Lorena, jadwalnya jam 8 dan biasanya nih dari dua pengalaman sebelumnya, bis ini cukup ontime. Nyatanya? Jam 9 mau setengah 10 baru nongol.

Bis berjalan, dan disinilah saya akan menjalani petualangan unik 18 jam 🙂

Jumat, 21 Juni

Dimulai dari rumah makan di Pamanukan, persis pada saat pergantian hari. Mulai dari si Andreas bule Austria yang entah kenapa kok naik bis, yang komplain soal AC, saya malah jadi banyak ngobrol sama dia. Soal si Andreas ini saya akan kisahkan dalam posting terpisah deh.

Sekeluarnya dari restoran, eh sudah macet aja. Si pak supir langsung putar arah dan kemudian melewati Subang dan seterusnya sampai kemudian saya bangun sekitar jam 5. Termasur rekor bahwa saya bisa tidur di bis untuk durasi hampir 4 jam tanpa terbangun.

Dan saya baru ngeh, kalau di matahari terbit gini masih lewat Brebes, sampai Jogja-nya KAPAN???

Dan jadilah. Dari estimasi saya sampai Jogja jam 9, atau mentok-mentoknya 12, saya sampai Terminal Giwangan jam 3 sore. Langsung ngojek ke Taman Budaya dengan 20.000 rupiah. Berhubung di Cikarang 20.000 itu cuma dapat Jababeka-CTC, jadi ya saya ambil saja deal itu.

Sekitar setengah 4 saya akhirnya bergabung dengan penyanyi lain di Panggung Poelang Kampoeng yang lagi GR. Dan GR terus berlangsung sampai pukul setengah 11 (kira-kira). Dan bekal saya hanya gorengan di Brebes seharga 5000 rupiah sebelum akhirnya makan jam 8-an malam.

Dan saya kuat lho saudara-saudara. Hehehe.

Pulang jam 11-an, saya balikin si Cici dulu ke Paingan lalu rencananya mau ke kos si Dani. Eh, malah disuruh cari hotel sama curut yang satu itu. Ya sudah, akhirnya ambil hotel deh di dekat-dekat situ, untungnya masih dapat. Sambil setting-setting OFM dll, saya baru tidur jam 2 di hari Sabtu. Total waktu tidur saya di hari itu, ya hanya 4 jam. Mungkin tambah sisa-sisa di perjalanan ke Jogja, ya bisa 5 jam deh.

Sabtu, 22 Juni

THE DAY! YEAH! Dan saya belum hafal lagunya! Yeah lagi!

Saya bangun jam 6. Jadi ya tidurnya 4 jam kira-kira. Sarapan dulu, terus mandi-mandi tanpa kembang, lalu cabut dari hotel jam setengah 9 ke Stasiun Tugu buat nukerin tiket. Jam setengah 10-nya saya ke kos si Dani bareng-bareng mau terima raport.

Jadi wali murid lagi euy. Hahaha. Sesudah dulu saya jadi wali murid unyu di usia 18 tahun. Delapan tahun kemudian, ya saya ikut rapotan lagi. Dan seperti biasa, banyak hal-hal yang disampaikan dan sebenarnya malas untuk saya dengarkan. Saya lebih fokus menghafal Cantate Domino -____-;

Rapotan berlangsung sampai kira-kira jam 1. Dan si Dani minta makan pulak. Ampun dah! Ya ladeni dulu. Akhirnya saya sampai di TBY jam 2 kurang dan lantas make up sesudah sedikit mengeringkan keringat yang bercucuran. Cur…cur..cur..

Make up-cek panggung-ganti baju-pemanasan-lalu show. Hebring dah. Walau memang ini tidak penuh seperti konser CF yang lainnya, tapi tetap saja bikin hepi.

Sesudah bla-bla-bla, saya minggat jam setengah 1. Ke kosnya Dani lagi, lalu mengikuti kehendaknya untuk makan McD. Kasihan, orang susah, ya dibeliin dah. Balik lagi jam 2, persis ketika kick off Italia-Brazil.

Saya kemudian tidur, dan bangun lagi pas evaluasi pertandingan, kira-kira jam 4. Jadi saya tidur selama 2 jam. Hore!

Minggu, 23 Juni

Pagi jam 6 sudah cabut ke Paingan, jemput Cici dengan muka kantuknya. Lalu ke Tugu untuk kembali ke ibu tiri. Ibukota kan Jakarta, lah Cikarang anggap saja Ibu Tiri.

Persis 7.15, kereta Fajar Utama meluncur ke barat. Dan dengan niat kukuh saya pengen tidur. Tapi nyatanya, ya nggak tidur-tidur juga. Hamparan sawah hijau bikin nggak bisa tidur karena isinya mirip lagu Nusantara. Hahahahaha.

Mungkin saya hanya tidur 1 jam sepanjang jalan itu. Dan tentunya nggak bisa tidur juga dengan taksi dan bis Jababeka yang membawa saya beneran kembali ke Cikarang.

Begitu sampai, pengen tidur, ya nggak bisa juga. Akhirnya malah makan di Saung Air. Kelar jam 9, baru deh saya pulang dan tidur.

Fiuh. Dari Kamis malam ke hari ini yang mana seharusnya waktu tidur normal adalah 32 jam, saya hanya tidur 5  tambah 4 tambah 2 tambah 8 alias 19 jam. Artinya masih ngutang setengah hari. Entahlah, mungkin panggung terlalu mengeuforia sampai kemudian untuk tidur saja saya lupa. Hehehe..

Sungguh, itulah yang tertinggal di Jogja 🙂

Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata

9 Oktober 2010, nyaris tiga tahun yang lalu, saya menghadiri konser pamit rombongan PSM Cantus Firmus yang hendak berangkat ke Palangkaraya. Waktu itu saya sudah bekerja di Palembang, dan rada dipaksa oleh adek saya untuk nonton. Satu pertanyaan muncul di benak saya ketika itu: kapan saya akan ada lagi di panggung itu?

Dua tahun sebelumnya, akhir November 2008, saya baru pulang PKL dari ibukota ketika lantas menjadi tukang parkir untuk konser Reoeni Senandoeng Waktoe di Taman Budaya. Sedikit iri hati–tentu saja–karena saya ‘hanya’ sempat ikut konser dua kali, dan keduanya di lingkungan USD: Melody of Memory di Hall Lt. 4 Paingan dan Konser Pamit KPS Unpar IV di Kapel Mrican. Saya nggak pernah tampil di pentas sekaliber Taman Budaya Yogyakarta. Dan sembari menyalami para penyanyi, terselip pula tanya di benak saya: kapan saya akan ada di panggung itu?

Kedua tanya itu hampir menjelma menjadi tambahan daftar harapan hidup yang akan terus menjadi harapan, sampai kemudian hampir 1 tahun silam muncul sebuah posting di grup PSM CF. Posting yang tidak biasa karena ditulis oleh Mas Mbong dan berupa ide gila yang sungguh-sungguh menantang. Ya, jelas saja demikian karena isinya semacam menantang seluruh alumni PSM CF yang sudah berada di belahan bumi manapun untuk berkumpul dan konser bersama.

Tantangan semacam itu, rupanya semacam pengusik rindu yang sedang terlelap di sudut hati yang tersembunyi. Posting tantangan itu lantas dihiasi oleh berbagai tanggapan yang mayoritas bilang “berani!”, “setuju!”, sampai “hajar!”

Semuanya lantas bergulir bagaikan bola salju yang menggelinding ke bawah. Sebuah tantangan yang tadinya kecil itu menggelinding mengumpulkan sisa-sisa mimpi para alumni Cantus Firmus di seluruh belahan bumi hingga kemudian lewat proses yang sangat panjang dan berliku, tadi malam saya bisa berdiri di panggung Taman Budaya Yogyakarta, bisa bernyanyi lagi di panggung, dan akhirnya bisa konser dengan dirigen Mas Mbong sendiri.

Bahkan saya sendiri nyaris tidak percaya bahwa pertanyaan berbasis iri hati saya bertahun-tahun silam, akhirnya bisa terjawab tadi malam.

Melihat isi panggung tadi malam, saya bisa bilang butuh lebih dari sekadar mimpi dan tantangan untuk bisa mewujudnyatakan komposisi yang ada itu. Sekarang bagaimana kisahnya, saya bisa satu panggung dengan Mas dan Mbak dari generasi 90-an? Bagaimana pula saya bisa bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah tidak saya temui bertahun-tahun lamanya? Bagaimana ceritanya sampai orang-orang yang sudah bekerja di berbagai kota di Indonesia itu bisa memberikan tanggal 22 Juni untuk bisa bertemu bersama?

Tapi nyatanya ya bisa!

Gila! Edan! Luar Biasa!

Melalui posting ini, saya ingin memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua orang bercap CF di hati dan otaknya, yang telah memberikan dirinya sepenuhnya untuk mewujudkan mimpi ini. Seperti yang Mas Mbong bilang tadi malam, konser ini mempersatukan banyak orang-orang yang keras, dan nyatanya yang keras-keras itu bisa lumer juga. Hehehehe. Terima kasih banyak ya teman-teman 🙂

Setahu saya, belum ada konser semacam ini. Belum pernah saya lihat ada konser paduan suara yang penyanyinya baru datang dan berkumpul bersama ya di H-1 dan hari H, karena memang semua berasal dari berbagai kota. Perkara ini, saya sendiri punya cerita unik bersama CFX (Cantus Firmus Extraordinary)–perkumpulan manusia CF di belantara Jabodetabek, yang entah bagaimana ceritanya bisa meraih juara 1 Mix Choir Competition dalam pembukaan sebuah Mall. Saya menyebutnya perpaduan kualitas dan kehendak Tuhan, karena bisa jadi juara 1 dengan anggota paduan suara yang selama latihannya nggak pernah lengkap dan baru tampil komplet pertama kali ya di panggung pas lomba, dan menang.

Dalam pikiran saya yang egois, saya mungkin akan selalu bilang, “hanya CF yang bisa begini.”

Begitulah. Terlepas dari perjalanan Cikarang-Jogja yang 18 jam, saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang luar biasa ini. Sebuah pelajaran besar, bahwa mimpi yang besarpun pada akhirnya kalau diperjuangkan, pasti akan bisa jadi nyata.

Beberapa jam yang lalu saya ada di atas panggung dan beberapa jam lagi saya akan berada di atas gerbong kereta yang akan mengembalikan saya ke realita–ketemu lagi sama cacing dan kayu manis -_____-“. Yah, apapun, sebuah kehormatan besar bisa menjalani ini semua.

Terima kasih teman-teman! Kita semua memang makhluk biasa, tapi dengan mimpi dan karya yang luar biasa!

CF

*tidak banyak tulisan yang ditulis dengan mata berkaca-kaca, dan posting ini salah satunya*

🙂

Etika Mengirim Email (Lagi)

Kenapa judulnya pakai ‘(lagi)’? Soalnya dulu udah saya tulis disini dan disini juga.

Kenapa saya tulis lagi, soalnya barusan dapat inspirasi tambahan *halah*.

Jadi saya dapat email, isinya sih CV. Seperti biasa, buat tak teruskan ke orang HR.

UntitledJadi emailnya ya begitu doang. Gampangannya konten doang. Tentu posting ini bukan bermaksud bilang yang ngirim beginian salah, soalnya kadang, saya juga email macam itu kok. Dan untuk perkara CV begini, maksudnya dikirim konten doang, juga sudah sering saya alami. Dulu bahkan pernah lihat isi emailnya mantan karena disuruh ngecek, eh dia ngirim email ke HRD sebuah perusahaan dengan cara konten doang gitu.

*tepok jidat*

Ya gini deh, mendapat email konten doang, apalagi dari orang nggak dikenal itu rada runyam. Jangan2 ini SPAM. Ya to?

Nah, SPAM saja kalau ngirim sesuatu kan pakai kata pengantar bla..bla..bla.. Masak kita ngirim surat beneran, lantas kosongan gitu.

Apa sih susahnya nulis:

Dear blablabla,

Terlampir blablabla.

Terima kasih

Best Regards,
Ablublublu

Yah begitulah, saya juga lupa dulu gimana kalau ngirim email. Tapi sehubungan dengan pengalaman yang terus bertambah, perlahan ya akhirnya tahu juga hal-hal etis soal per-email-an. Jadi, sebisa mungkin jangan berikan email kosong, alias konten (attach) doang.

Begitu ya. 🙂

Poelang Kampoeng

Ada suatu masa yang telah berlalu, yang kemudian memberi warna, makna, dan rasa pada kehidupan kita. Itu sudah pasti. Dan pernahkah kita merindukan masa-masa itu?

Saya yakin, pernah.

Dan mungkinkah kita kembali ke masa itu?

Tentu kita nggak akan menjadi muda kembali. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa sejenak pulang dan merasakan kembali masa yang telah berlalu itu.

Yup. Sejenak pulang. Sebuah terminologi yang kurang lebih bermakna ‘kembali’. Sebuah diksi yang sejatinya tidak akan bermakna lebih tanpa kehadiran manusia di dalamnya.

Ya anggaplah dulu kita pernah tinggal di suatu tempat, lalu bertahun-tahun kemudian kita kembali ke tempat itu, tapi kita tidak menemukan orang-orang yang dulu ada di tempat itu bersama kita. Makna pulang jadi kurang terasa.

Maka, apa jadinya ketika orang-orang dengan kerinduan yang sama, memutuskan untuk pulang dalam satu waktu yang sama?

Pastinya sangat monumental.

Dan disinilah itu akan terjadi.

poelang kampoeng

Bermula dari sebuah tantangan sang pelatih yang langsung disambut antusias, maka terjadilah event ini:

Konser Reuni Alumni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Namanya juga konser reuni, maka yang akan ada di panggung adalah orang-orang yang dulu pernah berjuang bersama di PSM Cantus Firmus, dan kini sudah tersebar di berbagai tempat, yang khusus pulang untuk konser ini.

Mereka datang dari tempat-tempat yang berjauhan, dari barat Indonesia, juga dari timur Indonesia, pun dari sekitar ibukota, hingga dari belahan dunia yang berbeda.

Mereka datang, untuk pulang.

Pernah melihat yang seperti ini sebelumnya?

Untuk itu, jangan lewatkan Konser Reuni Alumni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. Digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 22 Juni 2013.

Untuk reservasi tiket bisa melalui Mbak Niken (08985554109). Sistem pemesanannya juga sudah canggih, jadi bisa memilih bangku yang hendak direservasi hanya dengan klik disini 🙂

Tunggu apalagi? Masih hendak melewatkan peristiwa istimewa ini?

🙂

Yang Terlihat Tak Seperti Yang Dikira

Bahwa pepatah lawas, jangan menilai buku dari sampulnya, itu masih sangat relevan di masa kini. Itu poin dari judul saya.

Kalau nggak salah saya pernah cerita bahwa ada seorang tetangga yang terhitung baru meninggal setelah bergulat dengan gagal ginjal selama beberapa tahun. Sesudah sang bapak berpulang, saya memang belum berkunjung, semata karena yang saya lihat dari luar, keluarga itu sudah tampak baik-baik saja.

Saya lupa bahwa ada 3 anak perempuan disana..

dan mereka merindukan bapaknya.

Alkisah beberapa hari yang lalu, malam-malam, terdengar tangisan dari luar, si anak kedua. Ternyata, si anak bungsu sedang luka berdarah-darah di dalam sana gegara habis jatuh bersama si anak sulung.

Okelah, perkara jatuh dan berdarah-darah, mari kita skip saja. Toh malam harinya si anak bungsu sudah bisa pulang kok, habis ditangani di rumah sakit.

Poin saya justru ada dua.

Ketika bercerita kronologisnya, sambil menangis, si sulung bilang begini:

“Kan aku lihat ada mobil kayak mobil aku, langsung aku kebayang kalo bapak masih hidup, bisa kita naik mobil lagi. Tau-tau ada lubang di depan..”

Dan ketika di rumah sakit, si anak kedua menangis sambil bilang begini:

“Bapak, pulang pak. Jangan disana aja. Kesini bantuin adek.”

Opo ora trenyuh aku kuwi?

They miss their father. Very much.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik soal ini. Banyak sekali.

5 Hal yang Bikin Nggak Jadi Resign

“Kalau gini terus, lama-lama gue resign juga nih!”

Siapapun yang pernah kerja di perusahaan pasti pernah mendengar kalimat macam ini. Saking seringnya didengar, soalnya ternyata yang mengucapkan kalimat adalah orang yang sama, selama 35 tahun, dan sebenarnya ya dia nggak resign-resign. Memang pada umumnya orang yang kebanyakan berkoar inilah yang nggak resign-resign nantinya.

images (8)

Begitulah kelakuan karyawan. Sudah susah-susah apply, kemudian ujungnya resign juga.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Ber-apply-apply dahulu
Lalu resign kemudian

Eh tapi resign ya nggak semudah itu juga. Kayak saya ini, walaupun disenggol sama beberapa PMA, tapi ya masih teguh kukuh berlapis baja untuk bertahan pada panji-panji yang sama (waktu itu). Ada banyak pemikiran yang kemudian menyebabkan munculnya pernyataan di awal tulisan ini. Berikut lima diantaranya.

1. Nggak Dapat Company yang Cocok Tempatnya

Kayak saya nih, waktu di Palembang, pabrik yang bergerak di bidang itu ya cuma satu itu. Kalau udah kebetulan menetap disana, sudah KPR rumah, sudah ini dan itu, mau pindah kemana lagi dong? Namanya pekerjaan dengan ilmu spesifik apalagi. Jadilah kadang ada orang sarjananya Apoteker, kerjanya di Bank. Sarjananya Enjinir, kerjanya di Bank. Kalaupun jadi pindah, ya harus mempertimbangkan aneka faktor termasuk KPR rumah lagi, cari rumah lagi, hingga cari istri lagi.

images (9)

Dan ada teman juga yang sudah nyariiiiisss banget pindah, dan baru ngeh kalau kantor pusatnya ada di tengah kota Jakarta. Mengingat macet sudah begitu menggila, maka yang nyaris tadi berubah menjadi nggak jadi. Pada dasarnya tempat memang sangat krusial.

2. Merasa Akan Sama Saja di Company Berikutnya

Kadang sudah interview, sudah ditanya-tanya, sudah akan oke. Tapi kok perasaan bilang lain ya. Ini yang disebut intuisi. Ada nih teman sudah interview dan pengen pindah karena di tempat lama isinya lembur melulu. Begitu interview, ketahuan kalau bakalan lembur juga.

Jadi ya sudah. Nggak resign deh. Tetap saja lembur di tempat yang lama dengan segala kepastian indahnya jadi karyawan tetap.

3. Apply-an Nggak Ada yang Tembus

Ini nasib. Sudah berencana pengen resign, lalu masukin apply-an kemana-mana, dan pada akhirnya.. nggak ada yang manggil.

images (10)

Daripada jadi pengangguran, ya sudah deh, resign-nya kapan-kapan aja.

4. Dapat Pacar di Company Sekarang

Satu hal yang bisa mempertahankan keadaan adalah ketika tiba-tiba dapat pacar di lokasi yang nggak enak sekarang. Bermula dari pengen resign, akhirnya lupa kalau pernah pengen resign. Ya kurang enak apa kalau sekantor sama pacar? Bisa berkasih-kasihan dengan indah dibawah naungan owner. Misalnya, memadu kasih bisa dilakukan di dalam gudang, di atas pallet pada level ke-7.

images (11)

Resign-nya ntar aja kalau salah satu diantaranya nikah. Atau kalau memang tidak ada peraturan company yang melarang nikah sesama, ya terusin aja. Kapan lagi bisa sekantor sama laki atau bini, sementara jutaan orang lain LDR?

5. Sukses Dirayu Petinggi

“Kamu yakin? Saya bisa naikkan gaji kamu loh.”

Awalnya begitu. Maka kemudian keyakinan tinggi berlapis emas ketika maju ke bos bilang resign, kandas seketika. Apalagi kalau kemudian gajinya sebelas dua belas juga. Yah akhirnya bilang ke calon Company baru. Nggak jadi ya. Huiks. Tapi kalau yang begini nggak akan berlaku buat yang resign jadi PNS. Company juga bingung mau nawarin apa. Nggak akan tega juga nawarin gaji 1,7 juta, dari aslinya 8 juta. Simpel to?

Jrenggggggg…. poin-poin untuk resign itu tergantung kekerasan hati yang mau resign. Kalau memang sudah mentok, ya sudahlah. Apalagi kalau sudah disingkirkan sama teman selevel. Memberi ruang karier pada orang lain itu kadang-kadang tergolong berbuat baik kok.

Semangat!

5 Hal yang Disia-siakan Karena Terlalu Memilih

pablo

Alhamdulilah yah. Seburuk-buruknya tampang saya ini, kok ya masih saja ada yang ngefans. Cihui. Mungkin orang-(orang) yang nge-fans itu sedang terbutakan mata hatinya oleh cinta. Tsahhh. Bukan sotoy lho ini, tapi mendapat input dari orang-orang yang bisa dipercaya. Saya pas dikasih tahu juga kaget. Kok bisa-bisanya?

Tapi menjadi masalah buat saya ketika kemudian perfeksionisnya Capricorn Melankolis nongol. Mintanya yang sempurna. Padahal muka sendiri sudah jelas jauh dari standar, apalagi sempurna, gimana cara mau minta yang sempurna. *lempar kaca*

Ketika menggalau berjomblo ria, sudah nyaris setahun ini, hal yang kemudian jadi soal adalah: apakah saya terlalu memilih? Dipadukan dengan berbagai pengalaman orang lain, berikut lima hal yang disia-siakan oleh manusia akibat terlalu memilih pasangan.

1. Status Aman

Orang-orang yang terlalu memilih itu ya bakalan jadi jomblo. Mereka lupa bahwa jomblo itu adalah status yang tidak aman. Iya dong. Jomblo adalah status yang mempermudah orang untuk menjodoh-jodohkan. Which is, saya amat sangat tidak suka dijodoh-jodohkan. Jomblo juga bisa dengan mudah menjadi bahan cerita orang, bahkan ketika hanya sekadar pergi makan berdua dengan lawan jenis. Para jomblo–apalagi kantoran–juga cenderung akan jadi korban rayuan dan pendekatan dari orang-orang lain yang mengetahui bahwa mereka jomblo. Status taken sejatinya adalah perisai (emangnya kapten Amerika?) untuk pendekatan tahap awal dari orang-orang nakal. Hiyuh.

2. Kesempatan Belajar

Orang terlalu memilih karena ada yang tidak sesuai. Kalau saya misalnya, punya 2 patokan utama. Usia dan Agama. Itu nggak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebab saya pernah jadi bajingan yang melewatkan seorang gadis hanya karena ternyata dia beda agama sama saya. -___-“

Atau juga karena ketidaksesuaian sikap. Ada kan cewek nggak suka kalau cowoknya terlalu polos. Ada cowok nggak suka kalau ceweknya terlalu mudah dekat lelaki.

Padahal kalau mau ditelaah nih, bukankah itu kesempatan belajar yang besar? Seorang posesif begitu bertemu seorang yang berpikiran bebas, akan ada pembelajaran yang besar disana. Sama halnya dengan seorang yang tepat waktu, ketemu yang suka moloran. Saya belajar banget dari ketidaksesuaian karakter kedua orang tua saya. Satu Jawa, satu Batak. How come? Tapi nyatanya, perbedaan itu bisa menjadi kesempatan belajar yang baik untuk membentuk rumah tangga yang sa-ma-ra.

3. Kemungkinan Belaian

Jomblo-jomblo itu kalau di FB apa Twitter aja nggaya ngeluh kesepian. Giliran ada yang deketin, eh dicuekin. Giliran ada yang nyuekin, eh digalauin. Susah jadi jomblo yah.

Kalau tidak terlalu memilih, maka jomblo-jomblo itu tidak akan kekurangan belaian. Yah minimal belaian si Brown LINE (ala LDR).

4. Jodoh yang Dilewatkan

Ada kalanya orang terlalu memilih, saking kelewatnya, ternyata itu jodoh yang dilewatkan. Biasanya ini karena faktor prinsip. Misal suku dan agama. Dalam menjaring kandidat jodoh penghapus jomblo, apalagi usia 25 ke atas, maka suku dan agama menjadi faktor yang sangat penting. Soalnya, pikirannya udah ke kapan kawin, gimana bisa kawin, dll. Nggak ada tuh, “mari kita jalani dulu.”

Nah, begitu ketemu, beda suku misalnya. Langsung dilewatkan. Padahal, bisa jadi dialah sebenarnya jodoh kita. Emak saya dulu, juga dapat resistensi ketika menikah dengan orang Jawa. Kalau mau langsung memilih saklek kriteria, ya nggak jadi sama Bapak saya dong. Padahal nyatanya jadi.

Hayo, siapa yang sudah merasa melewatkan jodohnya cuma gara-gara suku dan agama? Hehehehe.

5. Kesempatan Bahagia Lebih Muda

Ada yang bilang, ketika sudah berdua, dan kemudian memutuskan untuk saling menerima, maka itu adalah jalan bahagia. Ada juga yang bilang ketika sudah berdua(an), dan kemudian memutuskan untuk saling berpelukan, maka disitu ada kemungkinan kejadian yang berlanjut pada organogenesis *halah*

Tapi ya gitu, apakah yakin kalau kita menunggu, akan dapat yang lebih baik? Atau malah akan dapat yang seadanya? Apakah yakin bahwa yang kita lewatkan sekarang itu tidak baik? Padahal, kalau dipilih sekarang, siapa tahu kesempatan bahagia lebih muda itu bisa diperoleh. Nggak urus lagi menggalau di FB dan Twitter kan?

Fiuh. Ini nggak lucu. Masuk kategorinya supaya sama dengan yang lain saja. Semoga jadi refleksi bersama. Amin.

😀 😀