Farewell Letter Samuel Eto’o

Agak terharu membaca surat perpisahan ini. Samuel Eto’o, salah satu dari beberapa persona kunci pembuat perubahan di Inter sudah pergi ke Anzhi, sebuah tim di Rusia yang datang ke home-nya 2 minggu sekali.

Secara bisnis ini adalah keuntungan yang sangat besar bagi Inter. Bayangkan, Eto’o bisa dikatakan diperoleh dengan gratis. Ia adalah paket pembelian Zlatan Ibrahimovic oleh Barcelona. Sudah dapat uang, dapat Eto’o pula.

Dan apa yang terjadi? Treble Winner. Eto’o menjadi bagian dari perubahan signifikan bersama Wesley Sneijder dan Diego Milito. Mereka bertiga membungkam seorang bertato, berhidung panjang, dan merupakan brondong dengan sangat sukses.

Bagian yang terpenting adalah Eto’o pergi dengan perpisahan yang baik.

“I think it is right and fair to thank the people who have given me so much in these two fantastic years that I’ve spent at Inter. First of all, I would like to extend my heartfelt thanks and most cordial greetings to the president, Mr Massimo Moratti, and to his family for everything they have done and for the way they have helped me and those dearest to me. I will always feel a special bond with Mr Moratti for the respect and the affection that he has shown me in these marvellous years.

Then there are all my team-mates: I’m aware that without their encouragement and help on the pitch Inter wouldn’t have achieved so many important victories on a national and international level. A very special thank you, also, to all the Italian and foreign footballers who have enabled me to become a better player game after game.

A sincere thank you to the coaches who have been at Inter in these years and especially to Mr José Mourinho, who was so determined to have me at this club, for the opportunity he gave me by bringing me to Milan.

A fond farewell also to technical director Marco Branca, sporting director Piero Ausilio, team manager Andrea Butti and all the staff at F.C. Internazionale and at the Centro Sportivo Angelo Moratti in Appiano Gentile: doctors and physios, helpers, chefs and waiters, kit men and gardeners, and everyone who works at Inter Channel.

I will never forget the affection of the Inter fans (Mauro is the greatest of them all) who made me feel  like one of them and who always supported and helped me. Nor will I forget all the journalists I’ve had the pleasure of meeting.

I also feel I should thank my Italian ‘mamma’, Ciacia Guzzetti, for her help and my fantastic manager, Claudio Vigorelli, for his commitment and professionalism.

Thanks to a man who is an Interista through and through, Marco Materazzi, for making me feel ‘Italian’. Thanks big bro.

In the hope that I haven’t forgotten anyone, thanks again to every one of you!”

Samuel Eto’o

dikutip dari sini

Semoga sokses ya Eto’o!

Advertisements

Keengganan Meninggalkan Jogja: Sebuah Perspektif Sederhana

Beberapa hari belakangan, saya berkomunikasi dengan seorang teman tentang topik ini. Sebenarnya sih sudah dari beberapa pekan silam, waktu saya sedang di Semanggi malam-malam deg-degan menanti bus ke Cikarang. Yah, ini soal siklus hidup. Siklus itu bercerita tentang kita: lahir tidak bisa apa-apa, sekolah mulai mengerti apa-apa, sekolah lanjutan sampai mengerti riak-riak dunia, bekerja sampai muak dan muntah, sampai akhirnya mati dan masuk surga (amin…)

“Ini soal betapa hidup cepat berlalu dan perpisahan adalah 1 siklus yang harus dilalui dan perasaan kehilangan adalah hal lain yang tidak bisa dihindari”

Buat saya, quote di atas sangat menarik.

dibuat oleh Lorentius Agung Prasetya

Saya bercerita dalam perspektif saya sebagai orang yang 7 tahun sekian bulan hidup di Jogja. Mungkin yang lain bisa menerjemahkannya di tempat-tempat lain yang memberi banyak makna dalam hidup masing-masing. Karena kalau buat saya, Jogja-lah yang memberi banyak influence pada saya.

Dalam teori saya, kita mendapat banyak hal-hal prinsip di waktu kecil dari orang tua dan pergaulan. Tapi kita mendapatkan sebuah perspektif, pola berpikir, dan sejenisnya, itu adalah di bangku sekolah menengah dan kuliah, atau seusia itu. Itulah mengapa Jogja memberi influence besar, pada saya. Saya sangat yakin ini terjadi juga pada kita semua. Sebuah tempat yang memberi nilai pada kehidupan kita, sebuah tempat yang memperkenalkan kita pada realita. Kalau saya, Jogja sungguh memperkenalkan saya pada kehidupan. Bahwa hidup itu keras, bahwa setiap kata itu bermakna, bahwa setiap tindakan itu berpengaruh, bahwa pencapaian elok itu tidak selalu tampak baik bagi orang lain, bahwa persaudaraanpun tidak sepenuhnya abadi, bahwa menjatuhkan dan menginjak-injak itu ternyata bisa membangkitkan, bahwa cengkrama dalam suasana yang pas itu bernilai tinggi, bahwa hidup itu harus dinikmati, dan bahwa-bahwa yang lain, banyak yang saya pelajari di Jogja sana. Saya hakulyakin, dalam perspektif yang paralel, terjadi pada yang lain.

Dan ketika tiba saatnya, siklus hidup memisahkan kita dengan tempat itu, memisahkan kita dengan seluruh kenangan dan pembelajaran yang melekat padanya? Bagi saya itu beratnya minta ampun. Sekadar melepas kertas jadwal kuliah dari styrofoam yang menempel di dinding. Sekadar melepas poster kiper-kiper di dinding kamar. Sekadar mengambil vandel dari tempatnya terpajang. Bahkan sekadar memandangi kertas-kertas hasil ujian. Selalu ada cerita dalam setiap upaya mengemasi masa kini. Setiap hal yang kita kemasi masa kini, ada masa lalunya. Tapi kata seorang teman, masa lalu itu tidak untuk dikonsumsi, hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Misalkan sebuah gelas dengan kriya bintang-bintang di kamar saya dulu. Itu ada latar belakangnya, itu ada sejarahnya, dan itu bernilai. Nilai itulah yang sedikit banyak memberi pengaruh pada tatanan besar perspektif hidup saya. Dan saya juga yakin, kita semua mengalami hal yang sama. Dan dalam kasus Jogja sebagai sebuah tempat, ia menjadi wahana seluruh peristiwa penuh nilai itu terjadi. Itulah yang membuat berat.

Well, ini bukan karena saya melankolis. Tapi sekadar merefleksikan saja mengenai beratnya meninggalkan sesuatu yang nyata-nyata memberi banyak nilai pada kita. Sejatinya nggak melulu Jogja, ketika saya memutuskan memulai sesuatu yang baru disini, saya juga berat meninggalkan yang lama. Kenapa? Karena disana saya punya banyak nilai sebagai input. Saya dulu bukan apa-apa, sekarang ada nilainya. Itulah, niscaya di setiap tempat kita akan demikian.

Nah, perpisahan itu terjadi, semata karena adanya keputusan. Ketika lulus, dan enggan meninggalkan Jogja, mudah saja, cari saja kerja di Jogja, beres. Tapi selalu ada keputusan, entah itu mencoba sesuatu di luar sana atau sejenisnya. Keputusan itulah yang menyebabkan perpisahan itu ada.

Keengganan meninggalkan sesuatu hanya ada saat perpisahan, tidak akan terulang lagi. Jadi, ketika ada perasaan itu, nikmati saja. Hanya itu cara melawan keengganan itu. Lagipula itu alamiah. Manusia yang normal pasti sama semua.

Kira-kira dapat nggak intinya? hehehe.. Sekadar refleksi sebelum kembali ke peraduan, mempersiapkan hari esok yang lebih gemilang.

Salam Semangat!

Cerita Klakson

Hufftt.. lama nggak masukin posting disini. Setelah di awal Juli membombardir dengan puluhan posting, saya sadar, bahwa kualitas itu tidak selalu paralel dengan kuantitas. Kadang kebanyakan kuantitas, orang jadi nggak merindukan lagi, disitulah maknanya kualitas. #sajakbijak

Ini cerita soal kelakuan si BG yang agak menarik.

Dua minggu lalu, saya pergi ke Lippo Cikarang. Nah, di jembatan tegalgede, ada cegatan minggu pagi (seperti biasa). Karena saya malas bertemu dengan polisi, meskipun sepenuhnya saya comply, saya memutar balik menyusur kalimalang. Lalu menuju Lippo Cikarang lewat jalur alternatif.

Jalan ini melalui sebuah jembatan tanpa pengaman, itu sudah bahaya. Hahaha.. Lalu masuk jalan kampung, melewati atas tol via jembatan mini yang lebarnya cuma 1 mobil. Lalu menyusur jalan berbatu yang belum diaspal karena kelihatannya ini proyek perumahan yang lagi proses. Lalu tembus ke tambal ban dekat Taman Beverli.

Bagian tersulit dari ini adalah goncangan di jalan berbatu yang menyebabkan klakson si BG mati total.

Nah, kemarin, dalam upaya menonton Harry Potter sesi terakhir, saya kembali melewati jalan yang sama. Terpaksa, daripada bertemu kemacetan di jalur Jababeka-Lippo. Dan terpaksa juga melewati jalan batu yang sama.

What next?

Klakson si BG menyala kembali, walaupun tidak sepenuhnya sempurna. Agaknya goncangan batu mengembalikan posisi kabel yang error ke tempat yang mendekati semula.

Apa yang saya dapat?

Kadang, ketika mendapati bahwa suatu jalan itu sulit, kita emoh melalui kembali jalan yang sama. Ketika jalan itu menimbulkan kesakitan, luka, dan sejenisnya, kita menolak untuk melaluinya lagi.

Tapi si BG tampil dengan cara yang berbeda. Ia saya paksa melalui kembali jalan yang sama, yang membuat klaksonnya rusak. Dan ternyata, meski tidak sempurna, bunyi klaksonnya kembali. Si BG berani melalui jalan batu itu dan sembuh.

Mungkin, kalau kita tersakiti, ada kalanya kita perlu meretas kembali jalan itu, semata-mata berharap, mungkin disitu kita dapat penyembuhan. Toh, bila penyembuhan tidak didapat, kita bisa beroleh kekuatan untuk bertahan. Tidak ada yang buruk dari keduanya.

Begitu menurut saya.. 🙂