Cerita MOS di Kandang Manuk

Blog ini sudah sesepi hati CPNS yang gagal mendapatkan kekasih pada saat prajab. Saya lalu bingung, mau menulis apa pula. Scroll punya scroll, lagi marak membahas tentang yang namanya MOS alias Masa Orientasi Sekolah (atau Siswa? Mbohlah). Sebagai anak muda peralihan Orde Baru ke Orde Antah Berantah, bisa dibilang saya berada di era MOS dimulai. Persis sebelum angkatan saya, setiap anak muda yang baru masuk SMP kudu ikut kegiatan bertajuk Penataran P4. Beuh!

Sekolah+De+Britto,+Yogyakarta,+2009Apa yang saya dapat ketika MOS di SMP? Yeah, kakak kelas yang kebablasan! Sangat kebablasan karena tidak ada satupun nilai edukatif yang muncul. Saya ingat benar, beraneka ragam rupa kakak kelas mendekati saya dan mengoleskan kapur tulis basah ke pipi, hidung, dan segala tempat yang tersedia di muka saya nan hina. Saya adalah anak dengan noda kapur terbanyak. Kenapa? Karena saya anak guru PPKn. Mungkin mereka dendam. Bisa jadi.

Tiga tahun berlalu, saya lantas kabur ke sebuah kota yang sekarang sudah penuh hotel sampai ke jalan-jalan tikus. Sudah penuh mal juga, sampai-sampai harus pakai nama orang jadi nama mal. Dahulu, empat belas tahun silam, hal itu tidak ada. Dalam perjalanan dari rumah Simbah ke sekolahpun, saya masih bisa melihat ular berganti kulit hingga jomblo yang menangis.

Pekan-pekan awal tentu tidak mudah, apalagi di sebuah sekolah menengah yang punya status kandang manuk alias semua siswanya punya burung. Ya, benar-benar tidak mudah, apalagi bagi anak kampung macam saya.

Acara wajib bernama MOS tetap ada, namun MOS yang sebenarnya justru ada beberapa hari kemudian, sepulang sekolah sampai malam hari. Sebuah acara yang bernama INISIASI. Acara Inisiasi ini tentu saja berbeda dengan MOS yang pernah saya alami, pun dengan Kamus MOS yang jamak beredar saat ini. Makanya saya mau cerita sedikit-sedikit. Sesedikit pembaca dan pembeli buku saya OOM ALFA. (Uhuk! Beli dong! Di Playstore akan kok!)

Inisiasi di Kandang Manuk dimulai dengan acara baris-berbaris di PBB. Cukup wagu, apalagi dibandingkan dengan stigma bahwa sekolah ini cuma upacara sekali dalam setahun. Tapi namanya anak baru, apa-apa ya diikutin saja, termasuk ketika Tutor yang mengajari PBB bahkan skill PBB-nya masih kalah dari anak Sempe Tupa (SMP Tujuh Payakumbuh) yang jadi lawan SMP saya di LASP3 2000.

Namun kiranya PBB itu hanya secuil, sebenar-benarnya cuil dari rangkaian total kegiatan. Kok gitu? Masih ada tugas membuat call-card. Masalahnya mungkin bukan di terminologi “membuat call-card”, namun lebih kepada seperti apa benda itu akan dibuat. Patokan bentuk, sih, ada. Namun ukurannya bikin dahi berlipat layaknya perut PNS kekinian. Untuk mendapatkan satu angka–sebutlah–2 cm, itu harus menyelesaikan persamaan yang kira-kira begini:

Jumlah lampu di kelas 7A + (Jumlah jengkal panjang aula/Panjang teralis loket pembayaran yang sekolah) – Keliling pohon talok dekat WC dalam Inchi

Ya, semacam itulah kira-kira.

Itu baru call-card. Pada akhir hari, anak-anak muda yang sebagian diantaranya tidak tahu apa-apa tentang kota yang baru 1-2 pekan ditinggalinya harus mencari benda-benda yang tidak aneh. Namun benda-benda biasa itu menjadi tidak biasa ketika ada keharusan merk tertentu yang bahkan belum pernah saya dengar sama sekali. Dua yang saya ingat adalah Kopi Susu merk Ya! dan Mie Instan Gurimi. Butuh keliling kota untuk menemukan benda-benda itu semua.

Semuanya itu masih ditunjang oleh kewajiban membawa kantong kresek sebagai wadah barang yang diwajibkan untuk dibawa itu. Dan tentu saya bukan sembarang kantong kresek karena dari sekian kelompok yang ada harus membawa kresek dari toko yang berbeda-beda. Mulai dari Gramedia, Gelael, Ramayana, hingga–toko legendaris yang kiranya lebih luas dari Mal Lippo Cikarang–Gardena. Susah, sungguh susah. Apalagi senior yang mendiktekan list itu adalah sekelas Thoni Chandra yang sekarang kerja saja di luar negeri.

Lucunya, benda-benda aneh itu selalu berhasil saya dapatkan pada jam pelajaran oleh kawan-kawan nan baik hatinya. Sepanjang inisiasi, hanya 1 barang yang luput saya bawa dan itu sesungguh-sungguhnya sepele: gula 1/4 kilogram. Fak!

Sepanjang inisiasi, tekanan hidup sungguh luar biasa. Teriakan dari Seksi Tatib membahana kesana kemari dengan lantangnya. Bayangkan, pintu baru dibuka, sudah dibengoki “Ayo, Cepat!”. Sudahlah disuruh cepat, begitu lewat anak tangga, dibengoki meneh, “Tangga jangan dilompati!”. Melirik sedikit ketika baris juga kena damprat, minimal kena plirikan. Dipikir-pikir mau melirik apa, isi aula itu kan lelaki semua. Beuh. Pas giliran snack juga bukannya enak. Bagaimana bisa enak kalau kita makan lemper sambil diteriaki supaya cepat, belum lagi dengan faktor minuman berupa teh yang panas. Belum lagi ketika menyanyikan jingle yang gerakannya asli lucu, tapi kita nggak boleh ketawa. Senyum dikit, maka “Apa kamu senyum-senyum?”

Ketika lantas tiba saat menginap dan masuk sesi mandi sore, fenomenanya makin keren karena memaksa para peserta untuk bisa mandi secara mangkus dan sangkil. Baru masuk WC sedetik, sudah diketok, “Ayo, Cepat!”. Lha edan. Guna memperingkas keadaan, maka di dalam WC yang kurang dari 2 kali 2 meter itu berjejal 4 manusia yang sama-sama berbelalai tidak panjang dengan aktivitasnya masing-masing. Entahlah. Kok yo iso. Aku yo heran. Bagian paling epik dari aktivitas ini adalah ketika ada sempak yang ketinggalan, dan kemudian diangkat-angkat di dalam aula dengan pertanyaan, “Punya siapa ini?”. Sungguh pertanyaan yang menusuk harga diri pemilik sempak.

Seluruh kegiatan dan kegilaan akan ditutup ketika pagi-pagi buta, para lelaki itu disuruh bangun dari tidurnya yang kademen karena harus bobok di ruangan yang tembok kelasnya cuma separo. Di kegelapan pagi itu, mereka harus bertelanjang dada dan pergi ke lapangan bola. Di lapangan bola, mereka lantas guling-guling dan entah apalagi yang dilakukan hingga kemudian tiba saat berbaris. Satu demi satu lelaki itu maju, memasukkan call-card yang digarap dengan sepenuh jiwa dan setengah misuh ke dalam api, kemudian mereka diguyur air berikut bendera merah putih. Ada janji dan ada komitmen. Sejak saat itu, batas senioritas bisa dikatakan pupus sudah. Perkara ada hal-hal yang dibawa ke daerah sekitar LPP, itu ranah yang berbeda.

Pernah saya dihantam oleh kakak kelas dalam rangkaian itu? Tidak sama sekali. Dipliriki sih sering. Tapi mengingat MOS sampah yang saya alami di SMP semata-mata karena saya anak guru, Inisasi yang saya dapat justru tampak maknanya. Kresek dan benda-benda biasa bermerk aneh itu memang dikaji agar anak yang baru masuk kota itu berkeliling benar-benar. Dipaksa untuk mengitari tempat yang akan dihuninya selama setidaknya 3 tahun ke depan.

Ketika lantas berada di pihak yang berbeda, saya melihat profilnya dengan jelas. Yah, meladeni arem-arem kepada lelaki muda yang mau makan saja tertekan itu tidak mudah. Menuang teh panas ke gelas saat yang akan meminumnya kudu buru-buru menghabiskannya juga mengiris hati. Atau ketika lantas jadi Tutor, tahu bahwa ada diantara anak di kelompok yang dulunya Pramuka tangguh. Pun dengan mendapati anggota kelompok yang kebingungan dan menyembunyikan diri ketika tidak membawa suatu benda yang disuruh. Ya, seru saja, tahu dua sisi semacam itu.

Dalam periode itu, pernahkah saya dipermalukan dengan bikin kalung dari gayung? No! Ya, aneh-aneh tapi menurut saya tidak aneh yang dipaksa kayak di kampus anu yang memaksa mahasiswa baru untuk pakai topi dari bola plastik yang ditambahi rumbai-rumbai tali teyen. Fak sekali.

Soal kegiatan juga nggak main-main. Ada sesi diskusi dan semacam debat dari kelompok presentasi dan disanggah oleh teman lain di satu kelas. Di sesi diskusi inilah, saya pertama kali mengenal kata kunci abad ini: Asu.

Disitu menurut saya bedanya antara MOS yang disoroti sama Pak Anies Baswedan dan jajarannya dengan Inisiasi yang saya alami. Tidak pernah ada kekerasan fisik setidaknya selama tiga tahun saya terlibat. Kalau ada Tatib yang kebablasan misuh, dia akan berurusan dengan guru yang turut serta di sepanjang proses. Bahkan batas yang saya bilang pupus itu beberapa kali bablas jadi wagu ketika ada Tatib yang dua hari lalu bilang “Tangga jangan dilompati” malah berkata “Silakan dilompati”. Namanya juga anak SMA, pasti kebablasan, sih. Yang jelas, guru-guru selalu ada dan berbeda dengan saat saya SMP ketika para gurunya malah memasrahkan MOS kepada anak kelas 3. Guru-guru itu ada di setiap seksi, dan ada bintang utamanya. Ada Pak Guru yang sekarang kolumnis rajin sekaligus pengajar tentang kepenulisan kemana-mana. Ada juga Pak Guru Matematika yang kalau marah-marah malah kayak baca puisi, dulu kerempeng sekarang buncit. Ada juga Pak Guru agak bantet dan bangga bisa mempersunting etnis Tionghoa. Kontrol mereka membantu meredam niat balas dendam menjadi terarah. Menurut saya demikian.

Dengar-dengar, semakin Inisasi ini berada di Orde Baru, semakin keji dan lucu pengalaman yang dijalani peserta. Tentu saja saya tidak hendak bertestimoni karena tidak mengalaminya. Cukuplah saya menulis yang saya alami saja, tepat 14 tahun yang lalu. Melalui tulisan ini, saya hanya hendak menekankan bahwa keberadaan guru itu penting sangat, plus segala hal yang aneh-aneh itu pada prinsipnya tidaklah aneh ketika dasarnya jelas, bukan dasar turun-menurun dan lucu-lucuan belaka. Dengan begitu, MOS jadi sebenar-benarnya ajang untuk mengenal sekolah, teman-teman, sekaligus mengeksplorasi diri di tempat barunya. Mungkin Mas-Mas dan Adek-Adek yang mengalami hal berbeda, bisa share di komen ya.

Bagi Tuhan dan Bangsaku!

Advertisements

[Review] Koala Kumal

Bagi yang sering baca blog saya pasti ingat bahwa di salah satu posting, saya pernah bercerita bahwa seterkenal apapun Raditya Dika dengan buku dan film-filmnya, tetap ada ibu-ibu di Pejaten Village yang nggak ngeh dia itu siapa. Ceritanya ketika saya dan kawan-kawan penulis GagasMedia Group lainnya diundang nonton Manusia Setengah Salmon. Pas Raditya Dika sedang di panggung dengan muka kucelnya, tetiba ada ibu-ibu lewat dan bertanya. “itu siapa?”

B2sD5VjCUAAxhnd

“Itu Raditya Dika, bu,” jawab saya.

“Siapa dia?”

“Artis.”

“Kok saya nggak kenal?”

*hening*

Continue Reading, Mbohae!

Tentang Kebelet Bilang Cinta

Salah satu hal yang saya sesali di tahun 2014 ini adalah minimnya karya monumental. Kalau tidak karena project bukunya Jamban Blogger yang judulnya Galau: Unrequited Love sudah bisa dipastikan tahun 2014 ini saya nihil buku. Padahal sejak 2012 saya sudah mewarnai dunia persilatan dengan buku-buku antologi yang berujung di OOM ALFA tahun 2013. Selain itu, kiranya semua penyesalan tertutupi oleh fakta bahwa saya punya pacar tahun ini.

Entahlah, saya itu kalau nggak sreg sama cewek, eh, plot, dijamin nggak semangat nulisnya. Ada 2-3 outline yang saya serahkan ke Elly untuk harapan buku kedua, tapi nyatanya juga saya sendiri nggak sreg sama outline itu. Berakhirlah dia pada tumpukan file yang mungkin akan kena defrag, saking jijiknya si Tristan sama isi outline itu.

Sampai kemudian Bukune bikin KAMFRET. Awalnya saya sih ngerasa nggak enakan buat ikutan, soalnya itu toh penerbit saya sendiri. Tapi ketika kemudian saya melihat di Twitter banyak penulis lain yang juga ikutan, maka saya bersemangat untuk ikutan. Bahkan, karena terlalu semangat saya sampai bersyukur bahwa KAMFRET itu diperpanjang sama Bukune. Padahal, dulu saya males banget sama lomba yang diperpanjang, sementara kita sudah buru-buru mengejar deadline. Dunia memang mudah berubah, Bung!

Continue reading!

[Interv123] Calon Pegawai Nihil Setoran

Namanya juga bayar utang, jadi dikebut! Kalau kemaren kita bertemu dengan pegawai pajak yang statusnya sudah PNS sejak lahir, sekarang kita berjumpa dengan seorang calon pegawai nyari nihil setoran bernama Rido Arbain. Ya, dalam masa-masa tertentu dapat disapa sebagai Rido G. Bastian. Memang Rido suka menggantikan Vino khusus adegan ranjang semisal ketiban ranjang, ranjang kebakar, atau–yang paling umum–membersihkan ranjang.

Kenapa Rido? Kenapa bukan Paimin atau Tukirin? Tentu saja, tamu interv123 tidak pernah biasa-biasa saja. Rido pernah satu buku dengan saya di Radio Galau FM Fans Stories, dan sebagai seorang CPNS yang bukan Raditya Dika, jumlah follower-nya terhitung lumayan, plus aktivitas ngetwitnya mengagumkan. Coba saja follow @ridoarbain, atau tengok blognya ridoarbain.com

RGFM Fans Stories: Rido Galau FM Fans Stories

RGFM Fans Stories: Rido Galau FM Fans Stories

Yuk, kita mulai dengan pertanyaan LIMAWESATUHA!

YUK!!!!

[Review] NGENEST Ernest Prakasa

Bermula dari upaya menjadi abang yang baik, akhirnya saya mengantarkan si Dani ke Toga Mas. Oh, iya, soal menyoal bagaimana cerita saya di Jogja, itu ada juga ceritanya. Tentang naik apa saya ke Jogja, juga ada kisahnya.

Nah, namanya pecinta buku, kalau masuk ke Toga Mas, sudah pasti tergoda. Godaan pertama tentu saja godaan ngamuk karena buku saya nggak ada di situ. Godaan kedua adalah godaan beli. Godaan beli itu juga jadi penting karena sebenarnya di kos juga masih ada setumpuk buku yang belum kelar dibaca. Ah, jangankan di kos. Di dalam si PG yang saya bawa ke Jogja saja ada dua buku, Past and Curious sama Tulang Rusuk Susu.

Berbekal niat teguh, akhirnya saya sampai ke kasir dengan satu buku persiapan SNMPTN IPS, satu buku persiapan UN 2014 IPS, dan…

…sebuah buku warna kuning. Judulnya NGENEST.

coverdepan

 

Baca lanjut!

[Interv123] Blessed Survivor

Interv123 baru nongol bersama Bu Bidan, tanggal 20 kemaren. Seharusnya akan nongol lagi tanggal 10. Tapi hari ini saya terpaksa melanggar ketentuan saya sendiri karena tamu Interv123 hari ini buat saya sungguh luar biasa. Dan adalah kerugian besar bagi saya kalau harus egois menahan isi wawancara ini sampai tanggal 10. Lagipula, wawancara dilakukan tanggal 1. Mengetiknya antara tanggal 1 sampai tanggal 2, bulan 12, di tahun 2013. Baca lagi, 1-12-13 ke 2-12-13. Semuanya masih beraroma 123. Jadi pelanggaran masih diperkenankan. Seperti yang saya tulis di salah satu halaman skripsi: setiap hal ada pengecualiannya.

Semuanya bermula dari sesorean tadi–sepulang jadi apoteker beneran, sekali dalam sebulan–saya iseng mengecek TL Twitter. Sebagai penulis yang followernya nambah 3 tapi kurang 5, saya harus eksis bercicitcuit. Saya lalu mendarat di posting Derita Mahasiswa berjudul Tuhan Punya Rencana Lain. Awalnya sih biasa saja, sampai kemudian saya membaca hingga akhir posting itu. Begitu selesai? Saya terhenyak, karena ternyata saya pernah membaca nama di dalam posting itu sebelumnya.

Penulis favorit saya, beberapa bulan yang lalu menulis cerpen berjudul Anak Lelaki di Samping Jendela. Di akhir cerita, ada tulisan begini:

Caramel Macchiato

Ya, tokoh di dalam posting Derma dan tokoh di dalam salah satu cerpen dari penulis favorit saya itu merujuk pada 1 orang yang sama: @shiromdhona.

:)

🙂

Mbohae!

Orang yang Lebih Bersyukur

Pernah punya mimpi? Saya yakin sih pernah, setidaknya yang cowok pasti pernah mimpi basah. Maksudnya, mimpi kehujanan.

Pernah merasakan sebuah mimpi menjadi kenyataan? Dalam hal kecil, pasti pernah. Misalnya mimpi ingin makan cimol, tahu-tahu di depan rumah ada tukang cimol lewat, dan kita beli. Atau hal level alay tapi krusial untuk seorang fans, seperti waktu saya berhasil nonton Inter Milan langsung di depan mata. Atau sampai hal besar kayak saya dulu bermimpi untuk bisa menulis di surat kabar, dan akhirnya terwujud juga pada 6 Januari 2006. Selengkapnya baca di buku saya yang judulnya Oom Alfa. *tetep promosi*

Selanjutnya

Percakapan Tentang Hati

“Dan saya membeli buku yang sudah saya baca sebelumnya, tapi minjem.”

Aku membaca sepotong pesan singkat itu sambil tersenyum. Entah apa maknanya gadis cantik di seberang sana mengirimkan pesan singkat itu padaku. Siapa aku sampai perlu tahu hal sekecil itu? Jangan-jangan sepotong pesan kecil itu hanya membuatku berharap berlebihan.

Sepotong pesan singkat yang dikirim sudah lama sekali.

Ya, aku membuka kembali handphone lamaku sekadar untuk membaca kembali percakapanku dengannya. Sebuah percakapan yang teramat sangat aku rindukan kini. Sebuah percakapan yang kini berubah menjadi dingin. Sangat dingin.

Buku itu, ah..

Mungkin bukan buku, lebih tepat disebut novel. Ya, novel itu yang membuatku sampai perlu membuka kembali percakapan bertahun-tahun silam.

Novel itu, entah sudah berapa kali gadis cantik itu menceritakannya padaku dalam bentuk rekomendasi. Entah sudah berapa kali pula aku melewatkannya di toko buku. Hal sederhana saja, bukannya aku tidak mampu membeli buku itu. Harganya hanya separo pendapatanku sehari.

Hingga pada akhirnya aku membeli juga novel ini, setelah dua edisi film-nya selesai tayang di bioskop. Lama sekali.

Lantas mengapa aku terlambat?

Aku, teramat sangat tidak ingin terikat dengannya.

Cupu? Mungkin. Tapi sungguh dua kata yang menjadi judul buku itu sangat melekat di benakku, dan sangat identik dengan dia.

Dan kini hanya ada aku, novel itu, dan sebuah kamar hotel yang luas. Sebuah caraku untuk berefleksi melepaskan diri dari keramaian duniawi. Aku pergi ke tempat yang jauh untuk menyepi, meski aku harus mengeluarkan sedikit uang lebih. Tak apalah. Sekali-sekali juga.

Dan sebuah pergulatan tidak penting juga terjadi sampai akhirnya aku memilih novel itu sebagai bahan untuk menyendiri. Ya, pergulatan untuk kembali mengingat dia. Dia yang pada dasarnya sudah coba kulupakan dua kali. Dan yang terakhir, dengan sebuah perjalanan keputusan. Fiuhhh..

Kalimat demi kalimat kulewati, dan aku perlahan tahu tentang tokoh-tokoh yang sering dikisahkan gadis cantik itu padaku. Tentang dua orang sosok yang saling mencintai, meski akhirnya ada perkara dengan hati.

Ah! Hati!

Sesungguhnya, percakapan tentang hati adalah bagian yang paling aku rindukan dari gadis yang seharusnya sudah kulupakan itu. Texting soal hati dengannya adalah hal terbaik dalam bertukar pola pikir. Sesungguhnya aku menemukan sesuatu yang hilang, padanya.

Dan sesekali aku membaca sepotong kalimat yang aku tahu benar pernah dikirimkannya kepadaku, dalam percakapan tentang hati itu. Semakin aku membaca, semakin aku merindukannya. Dan semakin pula aku sadar bahwa hati ini sebenarnya sudah memilihnya, dari suatu waktu yang sudah lama sekali.

Kualihkan pandanganku sejenak dari baris-baris kalimat di novel warna hijau yang kupegang. Mataku beralih ke sebelah kanan, jendela. Bintang bersinar di sana dalam kesunyian yang mengelilinginya. Bahkan bintang pun berani bersinar dalam kegelapan, kenapa aku justru memilih berdiam dalam keheningan? Berdiam dalam rentang waktu yang teramat lama sehingga kemudian aku hanya berhasil mendapati kenyataan bahwa aku harus melupakan gadis itu.

Mataku kembali ke kertas abu-abu di genggamanku. Kembali kubaca kata-kata tentang hati, dan.. ah.. kenapa aku harus membaca seluruh kata-kata ini? Kenapa rangkaian huruf di novel ini membentuk sebuah kata yang adalah nama gadis itu di benakku? Kenapa aku merasakan kembali bahwa sebenarnya hati ini memilih dia? Kenapa aku merasa bahwa aku merasa bahwa dia lah yang tidak perlu melakukan apa-apa, tapi aku sanggup memberikan semuanya?

Halaman terakhir menjelang, dan sebuah akhir manis dari novel ini kubaca. Dua manusia itu menang dalam petualangan hatinya. Mereka bersatu dalam sebuah jalinan kisah cinta yang resmi. Ah, manis sekali.

Lembar hijau terakhir itu kututup, dan kupejamkan mataku.

Benarlah, bahwa hati ini tidak perlu diarahkan, dia akan memilih.
Benarlah, bahwa hati ini tidak akan kalah oleh konsekuensi sebuah pilihan.

Dan kebenaran pahit menjadi kesimpulan terakhirku: bahwa memang dia adalah pilihan hatiku.

Mungkin aku perlu jalan yang lebih berliku daripada Keenan dalam rangka mencapai Kugy. Tapi tak apa, seperti yang tertulis di novel Perahu Kertas ini, hatiku sudah memilih. Dan pilihan itu tidak pernah berubah, meski aku tahu, hal yang sama tidak terjadi padanya.

🙂

*sebuah apresiasi bebas untuk novel perahu kertas

9 Summers 10 Autumns

image

sumber: dok pribadi

Judul Buku: 9 Summers 10 Autumns
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku ini saya peroleh dengan membeli (tentu saja!) di Pameran Buku di Istora. Sungguh Cikarang bukanlah tempat yang friendly dengan pencinta buku, maka untuk memuaskan hasrat saya harus lari-lari ke Jakarta. Ongkos pulang perginya bahkan sudah bisa beli buku 1 🙂

Saya mungkin telat membacanya, karena di buku itu sudah tertera “National Best Seller” tentunya sudah ribuan orang membeli buku ini sehingga lantas jadi Best Seller, tapi tidak ada kata terlambat untuk membaca buku. Saya sempat menimang lama buku ini karena budget saya hanya 200 ribu sementara di sini adalah ribuan buku yang semua bagus-bagus. Dengan tekad kukuh berlapis baja saya ambil buku ini.

Sebuah kisah yang inspiratif membuat saya tidak menyesal membeli buku ini. Saya ini kalau beli buku dan nggak suka, maka itu buku nggak akan habis dibaca. Jadi, kalaulah sebuah buku habis dibaca, itu artinya saya cocok. Sebuah kebiasaan yang absurd 🙂

Sudut pandangnya sebenarnya kisah-kisah global yang didetailkan. Misalnya, perkenalan siapa Bapak, siapa Ibuk, bagaimana masa kuliah, masa kerja, dan lainnya dibungkus bab demi bab dalam bentuk obrolan bersama si kecil yang sampai akhir nggak ketahuan siapa. Kalau saya tebak sih itu Mas Iwan versi kecil. CMIIW.

Dan saya terhenyak ketika ada yang meninggalkan posisi bagus di NY demi pulang ke rumah di Batu. Tapi itu sungguh pilihan hati. Dan tidak ada yang salah soal itu.

Konten menarik itu membuat saya menghabiskan buku itu segera dan menomorduakan borongan saya yang lain dari pameran. Hanya saja, secara alur yang menurut saya terlalu slow, sebenarnya membuat saya pengen buru-buru membalik halaman. Ini versi saya lho Mas Iwan hehehe..

Pada intinya ini buku bagus dan menjawab bagaimana perjuangan itu pasti ada buahnya. Dan sesudah membaca buku ini, saya segera menelurkan outline tentang masa-masa keluarga saya jadi kontraktor alias mengontrak rumah dari tempat satu ke tempat lain. Semoga kelak bisa dijadikan buku macam punya Mas Iwan ini. Sip!

Update:

Terima kasih Mas Iwan atas tanggapannya 🙂