Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Daycare Murah Pemerintah Daerah Demi Peningkatan Produktivitas dan Generasi yang Berkualitas

Sudah lebih dari 400 hari saya menjadi bapak rumah tangga dengan mengasuh anak di rumah sembari menyelesaikan tugas-tugas sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Istri saya adalah pekerja rumah sakit sehinga WFH-nya bermakna Work From Hospital.

Sebelum pandemi, anak saya adalah penghuni daycare alias tempat penitipan anak. Ada beberapa alasan saya dan istri menggunakan opsi ini. Pertama, tentu saja lelah dengan drama Pekerja Rumah Tangga (PRT). Alasan kedua adalah alasan tumbuh kembang. PRT kedua saya memang termasuk keren dalam hal mengajari anak saya sedikit-sedikit tentang motorik, hanya saja tentu tidak terkonsep. Sementara di daycare, ada semacam kurikulumnya. Selain itu, anak saya jadi punya teman.

Sederhananya daycare adalah solusi bagi orangtua yang tidak bisa resign demi membersamai buah hati. Masalahnya klasik: tentang bagaimana bisa hidup. Gaji pokok saya ketika aktif bekerja di bawah UMR Jakarta. Hanya tiga juta koma sekian. Bagaimana mungkin saya meminta istri—seorang S2 lulusan Inggris bergaji lebih dari 2 kali lipat dari suamnya—untuk resign?

Kala menjadi bapak daycare, saya mendapati sejumlah orangtua tunggal. Sudah jelas, dia tidak bisa disuruh resign demi menjaga anak karena dia satu-satunya pencari nafkah. Jadi, persoalan membersamai pengasuhan anak sejatinya tidaklah sesederhana salah satu harus tidak bekerja untuk mengurus anak. Ada begitu banyak pertimbangan yang sifatnya sangat individual.

Oya, saya tinggal di Tangerang Selatan dan menggunakan jasa daycare dengan tarif mendekati gaji pokok saya per bulan. Untung yang bayar istri saya. Bayangkan kalau bekerja di Jakarta dengan UMR dan harus membayar 3 juta hanya untuk daycare. Jelas tidak masuk akal karena ada begitu banyak biaya lain dalam rumah tangga yang harus dialokasikan. Hal itu kemudian membuat sejumlah anak dititipkan ke tetangga, ke orangtua, dan opsi-opsi lain yang memungkinkan.

Bagaimana soal gizi? Soal stunting? Bagaimana soal motorik halus? Entahlah.

Kita berbicara angka begitu banyak anak-anak. Di kota-kota penyangga Jakarta, jumlah anak usia 0-4 tahun tidak jauh berbeda dengan jumlah orang seusia orangtua mereka, kurang lebih begini gambarannya:

Di kota-kota penyangga Jakarta banyak rumah tangga muda yang pola hidupnya cukup kejam karena harus menghabiskan waktu 2-4 jam hanya untuk berangkat dan pulang kantor karena jarak rumah ke kantor itu bisa puluhan kilometer. Saya saja yang ‘cuma’ naik KRL dari Stasiun Jurangmangu harus berangkat pukul 06.30 untuk bisa sampai ke Jakarta Pusat pada pukul 08.00 dan tidak potong gaji karena terlambat. Bagaimana dengan pekerja yang tinggal di tempat yang lebih jauh? Titik angkut bus jemputan PNS di Cibinong misalnya sudah ramai pada pukul 05.30 lho.

Lebih lanjut lagi tampak fenomena yang menarik di Kota Bekasi dan Tangerang Selatan karena persentase perempuan bekerja lebih tinggi daripada perempuan yang mengurus rumah tangga. Artinya? Ada begitu banyak istri yang juga harus bekerja demi kelangsungan rumah tangga. Kita berbicara angka 300.627 perempuan bekerja di Kota Bekasi dan 161.687 di Tangerang Selatan. Tentu tidak semuanya ibu muda, tetap saja angkanya yang besar.

Terkait pengasuhan anak ini, cukup banyak kantor di Jakarta yang menawarkan solusi dengan membuat daycare di kantor. Salah satunya adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rata-rata di kantor pemerintah memang mulai menyediakan daycare, sebagian swasta juga demikian.

Sebagai solusi yang ditawarkan, boleh-boleh saja. Tapi dalam pengalaman saya, itu tidak cukup solutif.

Pada suatu hari, daycare anak saya tutup dan saya tidak bisa cuti demikian pula istri. Maka saya harus membawa anak saya ke kantor di Jakarta dengan transportasi umum. Membawa bayi melompat dari peron ke kereta, kereta ke peron, lanjut naik bajaj, dan seterusnya itu melelahkan lho. Dan kayaknya kalau dilakukan tiap hari pegal juga. Jadi, menurut saya, akses daycare di kantor hanya bisa dimanfaatkan oleh kalangan tertentu.

Maka saat mempelajari tentang pemerintahan daerah, seketika terbayang suatu ide yang tampak lebih masuk akal guna mengatasi persoalan pengasuhan anak ini. Ide itu adalah daycare kelolaan pemerintah daerah yang berkolasi di dekat stasiun kereta atau drop point bus dekat pintu tol.

Seperti saya jelaskan tadi, di Tangsel ini daycare sebenarnya sudah banyak, tapi yang terjangkau tidaklah banyak. Daycare kelolaan pemerintah daerah diarahkan untuk menyasar para pekerja UMR yang punya anak balita dan butuh pengasuhan prima. Biayanya tentu tidak harus jutaan, kalau perlu hanya beberapa ratus ribu saja sebagai biaya komitmen. Sisanya, negara berperan melalui pemerintah daerah.

Dengan pemilihan lokasi tersebut, orangtua bisa menitipkan anaknya di daycare sebelum meluncur naik transportasi umum ke Jakarta guna mencari nafkah. Artinya, tidak perlu pula ongkos mlipir karena kebetulan satu jalan. Begitu pulang kantor juga sang anak bisa segera dijemput dan dibawa pulang.

Mengapa pemerintah daerah? Tentu saja karena anak-anak itu adalah masa depan suatu daerah. Kita berbicara tentang anak-anak yang mulutnya kotor sekali karena bergaul begitu mudah dengan teman-teman yang lebih tua. Kita bicara pula anak-anak yang pemenuhan gizinya di periode emas tidak maksimal sehingga mempengaruhi kecerdasan dan hal-hal lainnya. Bayangkan jika pada usia 0-4 tahun, anak-anak yang harus ditinggal orangtuanya bekerja mendapat pengasuhan dan gizi yang tepat dalam kelolaan pemerintah daerah tentu hasilnya akan lebih optimal.

Adapun pada saat yang sama, daycare ini dapat menunjang kebutuhan tenaga kerja setempat. Mengingat daycare mungkin akan buka dari pukul 5 pagi sampai 9 malam maka akan butuh 2 shift sehingga kebutuhan pekerja juga dikali 2. Pemerintah daerah bisa memberdayakan tenaga kesehatan muda dengan menjadikan daycare tersebut sarana menimba pengalaman sebelum kemudian ditempatkan ke fasilitas kesehatan, misalnya. Mahasiswa bidang pendidikan juga dapat diarahkan untuk mengisi muatan pembelajaran dan permainan. Cocok sekali dengan konsep Kampus Merdeka, bukan?

Pada titik ini, melibatkan para calon orangtua dalam pengasuhan akan dapat pula membentuk mindset yang lebih baik ketika mereka kelak menjadi orangtua. Kita tahu ada begitu banyak orangtua yang sebenarnya tidak siap menjadi orangtua sehingga kemudian ada KDRT, ada pengasuhan yang tidak tepat, dll.

Tentu butuh komitmen anggaran dari pemda, tapi bukankah anggaran pendidikan dan kesehatan itu diatur dengan proporsi cukup besar? Bisa dong dikombinasikan untuk kepentingan balita masa depan negeri? Melalui daycare ini, para orangtua akhirnya bisa fokus bekerja dan muaranya kemudian adalah pada peningkatan produktivitas. Di sisi lain, produktivitas juga didorong oleh pemberdayaan tenaga-tenaga muda di masa pendidikan agar dalam 1-2 tahun lebih siap menghadapi dunia kerja. Dan pada akhirnya, generasi yang lebih cerdas tentu akan membentuk bangsa yang bekerja cerdas dan negeri ini dapat menjadi jauh lebih produktif dari sebelumnya. Semoga.

Pengalaman Perdana Konferensi Internasional

Konferensi Internasional – Kurang lebih 2 bulan blog ini nyaris tidak berisi. Selain memang tidak ada orderan (wkwk~), tapi masalah utamanya adalah saya sibuk mengerjakan tesis. Dan sebagai bagian dari tesis biar kelihatan keren, saya mengikutsertakan bagian dari tesis saya ke sebuah konferensi internasional.

Salah satu faedah dari menjadi penerima beasiswa LPDP adalah biaya untuk mengikuti konferensi internasional dapat diklaim. Pas belum pandemi, beberapa teman bahkan sudah berangkat ke Singapura dan Malaysia untuk mengikuti konferensi internasional dengan biaya ditanggung oleh LPDP.

Apa daya, saya kuliahnya di masa pandemi~

Ya, maksud hati untuk jalan-jalan ke LN pada akhirnya tiada bisa diwujudkan. Namun di sisi lain, saya jadi bisa mengikuti konferensi di manapun tanpa harus mikir ada uang tambahan atau tidak buat mengganjal minus kalau misal harus konferensi ke Eropa.

Maka kemudian setelah cari demi cari dan dikabarkan pula oleh salah seorang dosen jadilah saya mendaftarkan diri ke salah satu konferensi internasional yang rupanya cukup hits di kalangan akademisi bidang administrasi publik, namanya IRSPM.

Jadi, dua bulan kosong di blog ini salah satunya adalah karena fokus menyelesaikan data dan kemudian menyusun paper dalam Bahasa Inggris. Sesuatu yang baru sekali ini saya lakukan. Mana disambi ngurus anak juga, kan.

Konferensi ini terbilang cukup murah, apalagi karena Indonesia dianggap sebagai negara yang harus diberi diskon. Tarif registrasi untuk mahasiswa asal Indonesia adalah yang paling murah. Kurang lebih “hanya” 800 ribu lebih segelas kopi kekinian. Saya harus bilang “hanya” karena memang tarif itu sudah paling murah.

Masalahnya kemudian tarif yang murah ini ternyata pada akhirnya tidak bisa saya klaim ke pemberi beasiswa. Ada pasal utama bahwa konferensi yang ditanggung adalah yang memiliki prosiding. Dan di awal memang tidak ada informasi itu dari si konferensi. Ketika saya sudah mendaftarkan diri, pada akhirnya dapat email yang menyatakan bahwa memang tidak akan ada prosiding di konferensi ini. Jadi ya mau dipakai untuk syarat ujian tesis juga nggak bisa, diklaim ke pemberi beasiswa juga nggak bisa.

Ya, santai saja sih. Saya kemudian menganggapnya sebagai bagian dari jajan akademis saja. Toh sama LPDP saya juga diberi uang buku yang nominalnya cukup besar. Dianggap saja ngambil dari situ.

Di konferensi internasional ini, kurang lebih ada 400 judul yang berkeliaran dengan kurang dari 10 judul asal Indonesia. Ya, beneran sesedikit itu. Serunya, saya bisa berada di satu konferensi, walaupun beda panel, dengan dosen saya dan beberapa dosen lain yang biasanya hanya bisa saya sitir pendapatnya di paper atau artikel populer. Ada kemungkinan paper saya bisa masuk karena saya memasukkannya lewa jalur Panel New Researcher. Panel ini adalah panel dengan peserta terbanyak di konferensi ini.

Tadinya sudah merendahkan diri sendiri karena memang yang tersingkir di panel ini hanya 10 judul. Ibarat 50 daftar, 40 diterima. Gitu kira-kira. Cuma, begitu saya lihat bahwa yang satu panel sama saya pun adalah para asisten profesor atau orang-orang yang tengah post-doktoral, jadinya saya kok nggak merasa minder-minder amat.

Pengalaman ini cukup menarik karena merupakan kali pertama saya presentasi dalam Bahasa Inggris. Kali pertama pula saya bikin paper full Bahasa Inggris. Dan ternyata saya bisa, walaupun tentu banyak kelemahannya.

Masih ada waktu 4 bulan untuk mengeksplorasi diri sebelum kembali ke dunia nyata kerja. Semoga waktu yang ada bisa saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Digitalisasi BPJS Kesehatan Sebagai Potret Transformasi e-Government di Indonesia

Digitalisasi BPJS Kesehatan sesungguhnya merupakan topik menarik dalam perspektif administrasi publik pada umumnya dan e-Government pada khususnya. Alasan pertama tentu saja karena yang diurus adalah kesehatan, suatu sektor yang sangat krusial dalam kehidupan manusia. Alasan berikutnya, seluruh core business dari BPJS Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi itu sendiri.

Oh, kita tentu tidak sedang membahas perkembangan teknologi kedokteran. Walaupun BPJS Kesehatan membiayai suatu tindakan medis, tapi ranahnya bukan itu. Kita juga tidak sedang membahas formularium obat yang proses penyusunannya melibatkan banyak pakar dari berbagai institusi.

Pembahasan kita adalah pada proses bisnis BPJS Kesehatan yang mengumpulkan uang, mengelolanya, dan menggunakannya ketika memang benar-benar dibutuhkan. Tampak sederhana, tapi tentu tidak sederhana ketika yang diurus adalah 221.471.196 peserta (data per 31 Januari 2021) dengan rincian sebagai berikut:

Boleh dibilang, BPJS Kesehatan menjadi contoh pelayanan publik dengan peserta terbanyak se-Indonesia Raya. Kalau dibandingkan dengan e-KTP, akte kelahiran, dan sejenisnya, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan dinas kependudukan dan pencatatan sipil di daerah, yang notabene adalah bawahannya Kepala Daerah. Bebannya banyak, tapi tetap masih ada pembagiannya.

Belum lagi, berbeda dengan layanan seperti e-KTP, sebagian publik yang dilayani BPJS adalah peserta yang membayar setiap bulan secara rutin. Ketika publik membayar atas sesuatu, maka publik akan lebih demanding. Dengan kata lain, publik yang dilayani BPJS Kesehatan itu akan cenderung lebih banyak komplainnya dibandingkan layanan publik lainnya. Di sisi lain, jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini punya dampak sosial yang luar biasa.

Hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa penduduk Indonesia pada September 2020 adalah 270,2 juta jiwa. Artinya, peserta BPJS Kesehatan jumlahnya sudah lebih dari 80% penduduk Indonesia dan semuanya itu diurus sendiri oleh BPJS Kesehatan.

Dengan beban kerja seberat itu, tanpa digitalisasi, sudah fix bakal ambyar. Kebayang dong jumlah kertas yang harus disiapkan dan dihabiskan untuk mengurusi pendaftaran, pembayaran iuran, hingga klaim dari 80% penduduk Indonesia jika layanan BPJS Kesehatan tidak didigitalisasi? Belum lagi pengelolaan iuran dari puluhan juta peserta mandiri yang tentu saja tidak terima apabila uang iuran itu tidak dikelola secara akuntabel.

6 Core Business BPJS Kesehatan

Seperti telah dijelaskan bahwa urusan BPJS Kesehatan itu banyak, tapi dalam tulisan ini mari kita fokus pada core business saja. Jadi, urusan pengadaan kertas buat operasional sehari-hari, dll tidak kita kulik.

Dari gambar di atas sebenarnya kembali terlihat urgensi digitalisasi. Sebab, harus ada data yang konsisten sejak layanan kepesertaan hingga pada pelayanan kesehatan yang dimaksud. Sehingga sejalan dengan yang pernah saya ceritakan sebelumnya saat periksa ginjal dengan dokter spesialis, datanya juga jelas perihal saya itu dirujuk dari fasilitas kesehatan mana, dengan gejala dan kebutuhan apa, di dokter spesialis mendapatkan treatment apa, dan lain-lain.

Ujung-ujungnya tentu agar saya sendiri bisa mendapatkan layanan kesehatan yang baik. Di sisi lain, rumah sakit yang melayani juga mendapatkan imbal jasa yang pas dengan treatment yang diberikan. BPJS Kesehatan sendiri juga mengeluarkan dana pada jumlah yang tepat sesuai treatment yan saya terima.

Sejujurnya ini agak mirip PPIC, kalau diceritakan satu per satu terlihat gampang. Tapi begitu dimasukkan pada realitas bahwa yang diurus adalah ribuan produk, ya jadinya pusing juga.

e-Government

Sebelum lebih lanjut mendalami digitalisasi, mari kita bahas sejenak soal e-Government. Sederhananya, electronic government alias e-Government alias lagi e-Gov merupakan penggunaan teknologi informasi oleh institusi di pemerintahan yang mampu mengubah relasi dengan warga negara, dunia usaha, hingga bidang pemerintahan lainnya. Kurang lebih begitu kalau menurut World Bank.

Seperti perkembangan lain di bidang administrasi publik, tadinya e-Gov diimplementasikan di negara maju. Ketika di negara maju sudah cukup mapan, negara berkembang hingga negara miskin kemudian merasa butuh juga. Salah satu metode yang cukup sering digunakan untuk mendorong implementasi e-Gov adalah dengan ‘memaksa’ negara miskin dan berkembang untuk menerapkan e-Gov jika hendak menerima pinjaman maupun bantuan dari negara maju. Lewat metode ini, e-Gov kemudian berkembang.

Konsep e-Gov sendiri tidaklah sesederhana layanan publik via internet seperti kita mengurus paspor daring atau menggunakan layanan BPJS Kesehatan via aplikasi Mobile JKN sebagai wujud hubungan Government to Citizens (G2C). Walaupun memang layanan itulah yang dirasakan oleh publik secara langsung.

Pada saat yang sama, G2C itu juga berkelindan dengan Government to Government (G2G) dan Government to Business (G2B). Dalam hal layanan BPJS Kesehatan, G2B-nya antara lain pengadaan barang/jasa untuk operasional BPJS Kesehatan. Sedangkan G2G-nya adalah relasi antara Kementerian Keuangan atau Kementerian Kesehatan.

Kehadiran e-Gov ini berangkat dari perkembangan paradigma New Public Management (NPM) yang ‘swasta banget’ sehingga efisiensi, kecepatan, dan transparansi menjadi kunci. Tidak heran pula bahwa dalam implementasi e-Gov, banyak konsep-konsep yang berangkat dari penerapan pada perusahaan swasta seperti yang paling sederhana: Customer Relationship Management. Dulu-dulu kalau menerima layanan pemerintah, ya harus manut apapun masalahnya. Sekarang? Bahkan ada kanal pengaduan pelanggan segala!

Digitalisasi Sektor Kesehatan

Perkembangan e-Gov kemudian juga masuk ke sektor kesehatan. Sebagaimana pada bidang lain, tentu ada disrupsinya. Sekarang kalau kita ke RS, sudah jarang membawa resep sendiri ke bagian farmasi untuk ditebus. Pada umumnya dokter sudah mengisi di sistem, lalu pada saat yang sama bagian farmasi mendapat informasinya, lantas mempersiapkannya. Dampaknya buat kita sebagai publik? Tentu saja, pelayanan jadi lebih cepat! Sering terjadi kita selesai mengurusi pembayaran, pas mampir ke farmasi, obatnya sudah tersedia. Walaupun pada prosesnya tentu muncul kerentanan di sana-sini sebelum akhirnya adaptasi terjadi.

Van Velthoven dari University of Oxford menyebut digitalisasi telah mengubah masyarakat secara revolusioner yang bahkan tidak pernah terbayangkan 1 abad silam, dengan mampu menyasar isu-isu lama seperti mutu layanan hingga biaya. Kotarba dari Warsaw University of Technology mengidentifikasi lima dimensi penting dalam digitalisasi yakni ekonomi, masyarakat, industri, enterprise, dan klien. Adapun e-Gov sendiri hadir sebagai elemen dari dimensi masyarakat. Aspek ini adalah yang utama dan paling mudah dinilai publik, sementara institusi pemerintah termasuk BPJS Kesehatan tetap harus sibuk mengembangkan 4 dimensi lainnya. Lagi-lagi, ujungnya sebenarnya adalah agar publik menerima layanan yang lebih baik dan kalau bisa malah terbaik sekalian.

Pada awal BPJS Kesehatan hadir, cukup banyak proses yang menuntut masyarakat mengurus segala sesuatu secara manual. Tidak usah jauh-jauh, ketika saya mengurusi tambahan kartu pada tahun 2018 untuk anak, ya tetap harus izin dari kantor dan mengantri ke kantor BPJS yang paling dekat dengan kantor. Model pelayanan seperti ini yang harus ditekan seminimal mungkin meskipun tentu tidak pula harus dihilangkan.

Dalam prosesnya, saya melihat dan mengalami sendiri betapa digitalisasi BPJS Kesehatan terasa langsung di gawai. Paling gampangnya adalah saya bisa melihat diagnosis dokter ketika memeriksakan diri menggunakan BPJS untuk kejadian yang bahkan sudah lewat 3 tahun. Hal ini mungkin tampak sepele, tapi dalam dunia kesehatan, riwayat tersebut sangatlah penting. Tidak selengkap rekam medis di fasilitas kesehatan tentu saja, tapi sudah cukup membantu peserta.

Transformasi Digital BPJS Kesehatan

Nah, perkembangan e-Gov tadi semakin didorong cenderung dipaksa oleh kehadiran pandemi COVID-19. Bagaimana tidak, wong kita diminta untuk sebisa mungkin di rumah saja, padahal banyak urusan yang harus jalan terus. Hampir semua instansi pemerintah bergerak lebih kencang karena didorong oleh kondisi tersebut, termasuk tentu saja BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan sendiri kalau menurut saya sudah cukup ciamik e-Gov-nya dari dulu, seperti misalnya sudah bisa pindah faskes hanya pakai aplikasi dan tidak perlu ke kantor. Termasuk juga tidak perlu bawa kartu kemana-mana, cukup pakai aplikasi. Di era pandemi ini, BPJS Kesehatan juga mendorong peserta JKN-KIS untuk menggunakan layanan digital. Selain Mobile JKN yang tadi sudah saya kisahkan, ada juga BPJS Kesehatan Care Center 1500400, masih ada pula Chat Assitant JKN atau CHIKA, Voice Interactive JKN atau VIKA, sampai dengan Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp atau PANDAWA.

Pilihan-pilihan tersebut sangat penting untuk disediakan oleh BPJS Kesehatan. Data Digital 2020 menyebut bahwa penetrasi internet di Indonesia ada di angka 64% dengan rata-rata waktu yang dihabiskan dalam sehari untuk menggunakan internet di gawai masing-masing mencapai 4 jam dan 46 menit! Alternatif-alternatif layanan yang sejalan dengan karakteristik masyarakat menjadi penting dalam upaya meningkatkan engagement dengan publik yang merupakan peserta BPJS Kesehatan. Ambil contoh PANDAWA, kehadiran layanan itu sangat masuk akal ketika disandingkan dengan data Digital 2020 bahwa 84% pengguna media sosial di Indonesia memakai WhatsApp. CHIKA dan VIKA bahkan sudah berteknologi artificial intelligence (AI) sehingga semakin relevan pula dengan perkembangan zaman.

Digitalisasi di BPJS Kesehatan juga menjadi jawaban dari sejumlah permasalahan yang dalam beberapa tahun terakhir diidentifikasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Pada Ikhtisar Hasil Pemeriksaan BPK RI Semester I Tahun 2020 disebutkan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian seperti optimalisasi pemutakhiran dan validasi kepesertaan maupun pentingnya verifikasi klaim layanan yang didukung sistem pelayanan dan sistem kepesertaan yang terintegrasi dengan andal.

Pada akhirnya harus dipahami bahwa #DigitalisasiBPJSKesehatan bukanlah pekerjaan sekali jadi, melainkan senantiasa berkesinambungan. BPJS Kesehatan sendiri pada akhirnya harus juga dapat agile guna bisa beradaptasi dengan baik pada transformasi yang dibutuhkan sejalan dengan perkembangan dunia kesehatan hingga ekspektasi dari masyarakat sebagai peserta, terutama dalam elemen kecepatan dan ketepatan pelayanan.

Ketika pelayanan tepat dan cepat, maka peserta senang, fasilitas kesehatan juga senang, termasuk BPJS Kesehatan pun turut senang. Menyenangkan sekali, bukan?

Ketahui Manfaat Asuransi Jiwa AXA Mandiri untuk Hidupmu

Manfaat asuransi jiwa memang sangat krusial untuk masa depan. Sebab, manusia tidak pernah tahu masa depan dan apa yang akan terjadi dalam kehidupannya nanti sehingga tindakan antisipatif sangat diperlukan, salah satunya dengan memiliki asuransi jiwa. Dengan adanya asuransi jiwa, ketenangan hidup bisa lebih terjamin di masa depan.

Ketenangan hidup di masa depan bersama asuransi AXA Mandiri

Manfaat Memiliki Asuransi Jiwa AXA Mandiri

Untuk memberikan perlindungan maksimal kepada diri sendiri dan anggota keluarga lainnya pilihlah hanya asuransi jiwa terbaik. AXA Mandiri yang telah membuktikan diri dan diakui sebagai asuransi terbaik di dunia selama 5 tahun yang dirilis oleh Interbrand. Peringkat pertama di level dunia membuktikan bahwa AXA Mandiri merupakan pilihan asuransi terbaik dengan manfaat sebagai berikut:

1. Mendapatkan Manfaat dan Penggantian Biaya Perawatan

Dengan menjadi nasabah dari asuransi AXA Mandiri, Anda akan mendapatkan berbagai manfaat kesehatan. Penggantian biaya diberikan mulai dari biaya perawatan maupun rawat jalan. Termasuk juga biaya konsultasi dokter umum dan spesialis serta penggantian ongkos transportasi ke RS.

2. Perlindungan Jiwa dan Kesehatan Secara Maksimal

Asuransi AXA Mandiri akan melindungi Anda dari berbagai masalah yang timbul akibat kesehatan yang terganggu. Rawat inap ataupun rawat jalan serta tindakan bedah semua ditanggung oleh AXA Mandiri.

3. Jangkauan ke Negara ASEAN

Tidak perlu cemas akan serangan penyakit mendadak saat sedang berada di luar negeri karena layanan AXA Mandiri menjangkau ke luar negeri. Layanan AXA Mandiri tersebar di seluruh negara anggota ASEAN.

4. Santunan Harian dan Duka

AXA Mandiri akan memberikan santunan harian secara tunai kepada nasabahnya. Jika terjadi kecelakaan hingga menyebabkan nasabah meninggal dunia, AXA Mandiri juga akan memberikan santunan uang duka kepada keluarga yang ditinggalkan.

5. Adanya Fasilitas Cashless

Fasilitas cashless yang diberikan oleh AXA Mandiri memudahkan Anda untuk mengatasi masalah biaya perawatan kesehatan dimanapun. Hanya dengan kartu asuransi AXA Mandiri semua masalah akan teratasi.

Sebagai asuransi yang telah melayani lebih dari 100 juta nasabah di 57 negara dunia, AXA Mandiri tampil dengan berbagai pilihan jenis yang semuanya menguntungkan. Anda bisa memilih jenis asuransi manakah yang paling sesuai dengan kondisi diri sendiri maupun keluarga.

Bahkan, Anda juga dapat mengubah alokasi dana investasi asuransi AXA Mandiri yang tata caranya sudah dibahas di blog ini pada postingan beberapa waktu yang lalu. Itulah kenapa asuransi AXA Mandiri ini dapat menjadi pilihan utama ketika ingin memiliki asuransi sebagai perlindungan diri.

Perlindungan diri dengan asuransi AXA Mandiri

Jenis Asuransi Terbaik dari AXA Mandiri

Sudah menjadi prinsip bagi AXA Mandiri untuk memberikan perlindungan maksimal dan terbaik bagi semua nasabahnya. Semua manfaat dan kebaikan tersebut bisa didapatkan dari asuransi-asuransi berikut ini:

1. Asuransi AXA Mandiri Perlindungan Sejahtera

Merupakan produk asuransi dari Mandiri yang ditujukan untuk perorangan dengan mobilitas tinggi. Anda yang sibuk bisa melindungi diri dengan maksimal.

2. Asuransi AXA Mandiri Solusi Kesehatan

Bagi keluarga tercinta Anda bisa memberikan Asuransi Solusi Kesehatan dari AXA Mandiri. Lindungi keluarga tercinta dengan pilihan asuransi terbaik dari AXA.

3. Asuransi AXA Mandiri Kesehatan Prima

Asuransi ini akan memberikan perlindungan maksimal bagi perawatan keluarga di rumah sakit swasta. Klaim bisa diajukan tanpa medical check-up

4. Asuransi AXA Mandiri Penyakit Tropis

Inilah perlindungan terbaik bagi Anda yang tinggal di negara dengan iklim tropis seperti di Indonesia. Gangguan penyakit tropis seperti DBD ataupun flu bisa diatasi dengan segera melakukan perawatan terbaik tanpa pusing memikirkan biayanya.

5. Asuransi AXA Mandiri SmartCAre Executive

Lindungi diri sendiri dan keluarga dengan asuransi AXA SmartCare Executive dengan jangkauan perawatan di 700 RS rekanan. Asuransi ini akan membantu biaya rawat jalan dan perlindungan dari kecelakaan.

6. Asuransi AXA Mandiri International Exclusive

Tidak perlu kuatir menderita sakit ketika berada di luar negeri dengan Asuransi International Exclusive dari AXA Mandiri. Dapatkan keuntungan maksimal dimanapun Anda berada.

7. Asuransi AXA Mandiri Kesehatan Syariah

Asuransi kesehatan terbaik tanpa riba khusus untuk Anda yang ingin menegakkan syariat Islam. Perlindungan maksimal tanpa takut dosa.

Keuntungan Memiliki Asuransi AXA Mandiri

Berbagai keuntungan akan didapatkan nasabah dari Asuransi AXA Mandiri tersebut sehingga tidak perlu kuatir dengan masalah kesehatan dimanapun. Beberapa keuntungan bergabung dengan asuransi dari AXA Mandiri yaitu:

  1. Jangkauan di dalam dan luar negeri dengan 700 rumah sakit rekanan.
  2. Memberikan perlindungan terhadap biaya perawatan kesehatan
  3. Premi bulanan ringan dengan nilai pertanggungan yang tinggi
  4. Pengembalian premi setelah 5 tahun kepesertaan dan kelipatannya.

Banyaknya keuntungan dan manfaat yang ditawarkan oleh AXA Mandiri membuatnya menjadi yang terbaik. Tidak ada lagi alasan bagi nasabah untuk tidak memilih yang terbaik yaitu Asuransi AXA Mandiri.

Ketika Anak Keminggris

Sejak kuliah lagi, yang terbayang oleh saya sebenarnya adalah kehidupan yang sangat akademis. Ya, sebenarnya sudah lumayan terbentuk di semester 1. Ketika itu, saya berangkat ke kampus untuk menyediakan waktu 3-4 jam di perpustakaan guna mengerjakan paper. Kadang-kadang, saya juga ke kampus Depok untuk pergi ke perpustakaan yang lebih besar. Terbayang juga untuk saya bisa mengikuti acara-acara akademis yang tersebar di penjuru Jakarta karena saya punya waktu untuk itu.

Pada saat yang sama, anak tetap di daycare. Sore hari dijemput sama istri. Pendidikan dia akan terjamin karena sejauh ini dia cukup oke kinerjanya di daycare. Nyaris nggak ada masalah berarti selain menggigit anak orang. Itupun sebenarnya karena dia diganggu terlebih dahulu.

Saya dan istri bahkan sudah punya perencanaan indah. Istri ikut conference di Singapura. Saya yang kebetulan liburan semester akan punya fleksibilitas untuk turut serta dan kami bisa liburan ke Singapura. Gambarannya, Singapura adalah negara pertama yang akan didatangi oleh Isto. Kami bahkan sudah menyiapkannya paspor. Ya, teman-temannya se-daycare sudah main ke Jepang sampai Perancis, sementara Isto paling jauh Jam Gadang. Sebagai orangtua, kami tentu ingin bikin anak senang dan tampak keren.

Apa daya, manusia hanya bisa berencana. COVID-19 kemudian menjadi penentu.

Semester 2 saya lewati lebih dari separo periodenya dengan kuliah sembari menjaga anak. Bikin paper tentu tidak bisa di perpus, jadilah di rumah saja. Sambil kadang-kadang diganduli untuk dibilang, “Papa jangan kuliah…”

Isto mana tahu kalau sampai saya telat lulus, pos anggaran terbesar yang terancam untuk digunakan (karena beasiswa saya tidak terima telat lulus) adalah biaya pendidikannya. Amit-amit. Jangan sampai, deh.

Ya begitulah. Mau tidak mau, anak saya betul-betul harus terikat dengan YouTube. Tidak di HP, sih. Saya dan istri membeli Smart TV Box sehingga YouTube-nya di TV. Mahal sedikit nggak apa-apa, yang penting gede. Pada periode tertentu kadang-kadang saya pakai streaming badminton juga, seperti pas Suhandinata Cup 2019. Enak nontonnya. Gede.

Pada saat dia terjebak bersama saya di rumah karena daycare-nya tutup dan kemudian ya akhirnya tutup permanen, usianya belum 3 tahun. Sekarang sudah lewat 3 tahun. Usia yang sangat krusial untuk masuknya hal-hal baru. Dan dampaknya terasa betul sekarang. Ya, gara-gara sebagian hidupnya terpaksa harus bersama YouTube, maka anak saya benar-benar keminggris ngomongnya. Tanpa perlu saya diajari.

Tayangan yang dia tonton adalah Peppa Pig, Blippi, dan sekarang Octonauts. Yang Octonauts sih baru ya, belum terasa dampaknya. Tapi kombinasi Peppa Pig dan Blippi betul-betul sangat meng-influence dia. Isto sering sekali storytelling dengan kata-kata Blippi, seperti “I show you…” atau “Here we go!” atau yang agak mirip “Hmmm, let’s do….” Demikian pula dengan kata-kata dan konteks yang ada di Peppa Pig, seperti kalau menerima makanan baru, dia sering bilang, “Hmm, delicious…”

Berhitung pun sudah lancar, tapi ya dari one sampai twenty, bukan satu sampai dua puluh. Kemarin kami beli paket sekolah daring yang elemen pengantarnya pakai bahasa Indonesia, ya anak saya berasa nggak nyambung. Padahal ya bisa, cuma pakai English.

Pada satu sisi ya saya senang-senang saja. Toh selama ini dia juga saya ajak ngobrol Bahasa Indonesia, kok. TOEFL saya kan 700 dari 3 kali tes, jadi memang penguasaan Bahasa Inggris saya nggak bagus-bagus banget. Emaknya sebagai lulusan Inggris yang sudah pasti keren. Ketika kemudian anak saya belum bisa berhitung satu, dua, tiga, dst tapi bisa one, two, three ya saya biasa aja juga. Kadang-kadang saja agak berpikir keras bagaimana kelak dia ketika masuk sekolah.

Ya mau bagaimana lagi? Ini konsekuensi. Toh menurut saya, pengaturan sekarang boleh dibilang berkat. Pas pandemi, pas saya kuliah, pas bisa daring pula. Jadi saya bisa menjaga anak saya dari dunia luar yang sedang kejam-kejamnya. Kalau kejadiannya pas saya sudah aktif lagi, boleh jadi daycare adalah pilihan tunggal yang tidak bisa dielakkan.

Jadi, kalau anak keminggris gimana? Kata saya ya udah, mau diapain lagi~

Satu Cerita Tentang Juara Tiga

Saya jarang menulis tentang kisah di balik tulisan-tulisan yang menjadi juara di berbagai perlombaan. Sebabnya satu: saya jarang juara. Heuheu. Bisa dilihat di sisi kanan blog ini, bahwa saya itu jadi juara lomba menulis dapat dihitung pakai jari sebelah tangan doang. Saking jarangnya.

Nah, mungkin khusus yang ini agak berbeda. Sebab, kalau yang dua sebelumnya adalah lomba blog, maka hari ini saya dapat rejeki di sebuah perlombaan Karya Tulis Ilmiah. Cuk, tulisan saya model di Mojok begitu, ternyata saya bisa juga ya nulis (((ILMIAH))).

Dikisahkan dari awal saja ya. Saya dikasih tahu lomba karya tulis ilmiah ini oleh dua orang teman. Satu, teman kantor sendiri. Senior, ding. Kedua, teman kampus yang kebetulan pegawai di instansi penyelenggara lomba. Sang teman ini yang cuilan kisahnya saya tulis di salah satu post blog ini, dan gara-gara itu, katanya… dia jadi enggan nulis curcol di blog lagi. Ew~

Intinya sih tenggatnya tanggal 5 Juni. Dengan format penulisan karya ilmiah (pendahuluan, teori, framework, pembahasan, dan kesimpulan). Minimal 1.250 kata. Rasanya itu saja.

Masalahnya adalah periode akhir Mei sampai 12 Juni adalah periode Ujian Akhir Semester. Dan ini era pandemi. Jadilah UAS-nya pasti berupa tugas dan tentu tidak sesederhana menjawab soal di lembar jawab dengan tulisan tangan.

Tugasnya rupa-rupa. Ada yang bikin critical note, review paper, sampai video segala. Mantap pokoknya. Mana saya sambil ngasuh anak di rumah pula. Nggak heran kalau anak saya jadinya ya anak asuh Daddy Pig dan hanya memanggil bapaknya kalau di YouTube ada iklan. Oya, iklan sedikit, ini salah satu tugas saya.

Lebih ciamik lagi adalah tanggal 5 itu tenggat UAS Statistik yang bahkan belum saya kerjakan pada tanggal 3, sebab saya fokus mengerjakan proposal tesis yang merupakan UAS Metodologi Penelitian dengan tenggat tanggal 3.

Pada akhirnya sih saya hanya bilang, “kalau sempat ya ikut…”

Posisinya waktu itu tanggal 5 sore hari ketika sang dosen secara baik hati melakukan pengunduran jadwal pengumpulan UAS! Ketika itu, saya belum kelar menggarap ujian bertenggat sama persis dengan lomba. Pengunduran itu kemudian memberikan potensi saya untuk ikut lomba lagi. Toh, masih ada 8 jam sebelum deadline.

BIKIN KARYA TULIS ILMIAH DELAPAN JAM ITU APAAN?

Untuk lebih memperjelas, bahkan saya sebenarnya mulai benar-benar menulis itu jam 8 malam. Heuheu.

Lantas apa rahasianya?

Sederhana saja, saya yakin kalau “hanya” menulis 1.250 kata itu saya bisa kelar dalam 1-2 jam. Saya sudah mencoba mencari topik yang relevan dengan tema, tapi kurang sreg secara mutu. Bukan apa-apa, dengan segala kegagalan yang pernah saya alami, tentunya saya menetapkan standar tertentu kalau mau ikut-ikut lomba. Saya biasa gagal, tapi saya nggak biasa berkarya sembarangan.

Pada akhirnya saya mengingat review paper pertama yang saya buat ketika kuliah S2. Di paper itu saya menguliti konsep “Trusted Advisor” begitu dalam dengan berbagai jurnal terkini. Tulisan itu dapat nilai A- dari Pak Dosen. Dan dengan posisi tenggat mepet begini, kok ya eman ada tulisan 5000 kata yang menurut saya nggak jelek-jelek amat dan nilainya menurut Pak Dosen juga oke, tapi tidak saya pakai.

Maka, terjadilah…

Tulisan saya kemudian berangkat dari konsep “Trusted Advisor” itu untuk membedah tentang “Agile Auditor”. Saya tahu bahwa Agile Auditor ini topik agak baru dan sebenarnya cukup banyak diriset juga. Tapi daripada repot, tentu saya pakai beberapa teori saja.

Kebetulan lagi, karena proposal tesis saya adalah tentang Government 2.0, saya follow akun media sosial Ibu Ines Mergel. Kok ya ndilalah di bulan Mei itu dia mengeluarkan sebuah tulisan yang betul-betul membahas konsep AGILE.

Maka, saya sambungkan dan kebetulan sekali cocok. Itu posisi jam 21.00 kurang lebih. Masih ada 3 jam sebelum tenggat.

Bagaimanapun salah satu keunggulan saya adalah bisa menulis cepat–apalagi kalau kepepet. Keunggulan itu yang dulu bikin saya suka ditelepon redaktur jam 8 malam untuk bisa mengirim tulisan tengah malam sehingga bisa terbit keesokan harinya. Hari ini, redaksi media itu menerima ratusan tulisan setiap harinya sehingga nggak perlu lagi orang-orang seperti saya. Walaupun, ya, saya tetap ngirim ke situ tentu saja. Lha, butuh je.

Ditambah 30 menit menggambar konsepnya di draw.io maka tulisan itu jadi pukul 23 lewat. Sesudah cek demi cek lagi, maka karya itu saya kirimkan beberapa menit sebelum tenggat berakhir.

Dan ya sudah. Selesai di situ.

Hingga kemudian hari tibalah hari Kamis sore, 11 Juni 2020. Itu posisinya adalah saya tengah mempersiapkan perayaan HUT Baginda Isto yang ke-3 keesokan harinya. Saya dikontak sama panitia lomba yang mengabarkan bahwa tulisan saya masuk 6 Besar. Okebaik.

Nah, dari 6 besar itu harus menyiapkan paparan untuk dipresentasikan ke dewan juri.

EH EH EH. SIK SIK SIK. Seingat saya nggak ada kriteria presentasi di flyer lombanya. Tapi kalau ada presentasi begini, kan… saya jadi deg-degan.

Tapi baiklah, dijalani saja. Saya mungkin orang paling culun di deretan 6 besar itu. Setidaknya dua nama adalah lulusan luar negeri, salah satunya bahkan S2 dan S3. Satunya lagi, gelar Certified-nya panjang sekali. Ada pula Widyaiswara yang tentu saja mengajari saya pas Diklat JabFung.

Lha, saya? Nulis di Mojok saja jarang-jarang masuk tulisan terpopuler.

Gara-gara presentasi ini tentu pengaturan berubah. Alih-alih menyiapkan party, saya malah bikin presentasy. Jam 1 pagi, saya kirim slidenya ke panitia. Soalnya disuruh kirim sebelum jam 8. Saya bukan mau pamer kesiapan ke panitia. Masalahnya, biasanya saya bangun jam 9 pagi~

Demikianlah akhirnya sampai ke presentasi. Ketika kontestan lain latarnya adalah meja kerja, aula kantor, maka latar belakang video saya adalah…

…BALON ULTAH KRISTO, yang sudah kadung terpasang.

Ketika tiba-tiba ada agenda seperti ini, pada akhirnya saya menganggap bahwa ini mungkin rejeki si Isto. Toh, setidaknya saya sudah jadi juara harapan 3 kan. Juara 6 dari 90-an peserta itu sudah wow sekali rasanya.

Sore tadi, saya ketiduran. Saya terlambat nonton live YouTube pengumumannya. Tapi ada teman LPDP yang DM dan bilang bahwa saya juara 3. Karena saya kadang-kadang adalah Thomas alias Didimus, maka saya nggak berbahagia dan nggak percaya kalau nggak melihat. Apa daya, hidup saya 6 tahun terakhir kan dipaksa skeptis.

Maka, saya pencet mundur live YT yang sedang berjalan. Nemu pertama malah Bapaknya Dirham. Pencet maju, nggak nemu. Mundur lagi nggak nemu. Ternyata lombanya banyak, gaes.

Pada akhirnya tentu saja ketemu dan ya benarlah bahwa saya dapat juara 3. Saya tiada bisa berkata-kata lagi sebab rasanya itu sudah paling mentok. Dan ini adalah pertama kalinya tulisan saya dalam format ilmiah dapat penghargaan di lomba tingkat nasional.

Sekali lagi, saya mengisahkan riwayat di balik tulisan bukan bermaksud apa-apa selain wujud rasa syukur. Waktu menang Lomba Blog BPK itu saja saya sudah merasa kayaknya itu bakal menjadi prestasi saya paling tinggi seumur hidup soalnya~

Bahaya Laten Keringanan Cicilan Kartu Kredit di Masa Pandemi

Salah satu bentuk penyesuaian dari penyedia kartu kredit telah dilakukan. Per bulan lalu, saya dapat informasi bahwa ada pengurangan pembayaran minimal. Angka yang dulunya sudah rendah, jadi semakin rendah. Hal ini paralel dengan penyesuaian bunga per bulannya juga jadi sedikit lebih rendah.

Tentu, pasalnya adalah kemampuan bayar berkurang. Kita tahu, pandemi bikin ekonomi ambyar kayak menghadiri nikahan mantan. Boleh jadi, bank hanya berpikir bahwa yang penting ada uang yang masuk.

Sumber: Fox Business

Akan tetapi, bagi orang-orang yang punya hutang di kartu kredit, TERLEBIH YANG PUNYA KEBIASAAN BAYAR MINIMAL, harus waspada. Soalnya, dampaknya tentu sangat besar.

Sebagai gambaran, jika kita utang 10 juta, maka dulu bayar minimalnya 10% alias sejuta. Sekarang di 2 penyedia CC yang saya langgan, turun jadi 5%. Artinya, ibarat kata kita beli laptop 10 juta gesek doang maka di bulan depannya cukup bayar 500 ribu saja dan kita bebas dari telepon debt collector.

Kebiasaan bayar minimal itu dapat menyebabkan ada pikiran bahwa “ada sisa uang”. Jadi misalnya tadi bayar 1 juta, terus kemudian jadi hanya bayar 500 ribu, maka perasaannya boleh jadi adalah “Wah, ada sisa 500 ribu nih”.

Perasaan itu tentu sangat berba-hay-hay. Sebab, yang 500 ribu itu masihlah merupakan utang. Hanya ditunda saja–dan tentu saja jika tidak dibayar maka menjadi korban bunga yang akan terus terakumulasi dari bulan ke bulan.

Tulisan ini sekali lagi diutamakan bagi yang punya kebiasaan bayar minimal, yha. Sebab, saya sendiri dulu sempat begitu sebelum kemudian baru normal akhir tahun lalu. Bagaimanapun, CC ini sebaiknya harus dibayar tuntas pada bulan berikutnya. Kalau memang cicilan ya dibayar sesuai jumlah cicilannya.

Saya sendiri tidak menutup CC karena finansial saya belum cukup mantap. Kayak pas mudik kemarin, sekali beli tiket bertiga 10 juta. Sementara, uang belum ada segitu. Ada, sih, tapi peruntukannya lain. Jadi, CC dapat menjadi alat untuk penunda tagihan. Dan memang harus bisa dikelola dengan sangat bijak agar tidak terjebak ke hutang yang nggak-nggak.

Nanti kapan-kapan saya cerita, deh, soal jerat utang CC akibat bayar minimal terus. Asli, ora enak. Heuheu.

Kondangan Deg-Degan ke Jambi

Pada bulan Oktober, bos saya ketika itu menggelar kondangan pernikahan anak pertamanya di homebase-nya. Iya, sebagai orang Jambi, tentu saja pernikahannya digelar di Jambi. Mosok di Oregon?

Posisi saat itu, saya sudah lepas dari jabatan. Walhasil, tentu tidak dimungkinkan untuk mendapat biaya-biaya apapun dari kantor. Jadilah, saya berangkat dan pulang pakai uang sendiri. Kebetulan masih ada.

Soal itu sih nggak masalah. Yang masalah dan sangat bikin deg-degan, adalah satu problematika lagi.

ASAP.

Sejak pindah dari Palembang tahun 2011 sesungguhnya saya sudah kurang akrab sama asap. Ada sih kena asap sesekali ketika pergi dinas ke kota-kota yang familiar dengan asap. Tapi overall sudah lupa sama asap.

Nah, kondangan Pak Bos ini juga bertepatan dengan kabut asap yang lagi pekat-pekatnya. Saya sendiri membeli tiket balil hari. Pergi pagi-pagi sekali, kemudian pulang ya jam 4-an gitu. Untuk penerbangan lintas pulau, saya berasa pergi ke Bekasi karena hanya bawa 1 tas dan itupun isinya laptop (untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah di waktu-waktu luang yang ada).

Karena penerbangan pagi, belum ada halangan berarti meskipun kabutnya sudah jelas. Tapi masih bisa landing. Okesip.

Begitu sampai Jambi-nya. Wew. Lihat saja gambar-gambar berikut ini:

Ini adalah sesuatu yang pernah saya alami bertahun-tahun silam ketika masih di Bukittinggi atau di Palembang. Tentu tidak akan terjadi ketika saya ngekos nggak jauh dari istana negara. Memang begitu, yang jauh-jauh dari pusat kekuasaan itu agak kasihan. Ini adalah contohnya.

Kondangannya sendiri berlangsung baik-baik saja. Ketika sudah mulai cabut, saya mampir sejenak di sebuah warung kopi sembari menunggu waktu yang pas untuk ke bandara.

Ketika tiba waktunya, saya mendapati bahwa bandara Sultan Thaha ramai sekali. Cek flightradar24, eh, ternyata sudah ada beberapa penerbangan yang divert ke Palembang. Bandara sini ditutup karena jarak pandang.

Bayangkan posisinya saya sudahlah nggak punya uang, nggak punya baju pula. Sudah kebayang kalau mau menginap bagaimana ini caranya~

Well, pada akhirnya sih jarak pandang kembali terbuka. Meski memang sangat minimal tapi masih sesuatu standar sehingga setidaknya bisa terbang. Saya kemudian naik pesawat dengan deg-degan dan begitu pesawat menembus awan akhirnya agak legaan.

Btw, ini adalah penerbangan balik hari saya yang kedua. Pertama kali itu tahun 2008, ke bandara cuma minta tanda tangan dosen pembimbing 2. Saya dari Jogja ke Jakarta, bawa 8 skripsi untuk ditanda tangan. Kebetulan bapaknya mau dipaksa ke bandara. HAHAHAHAHA.

Tentang Ketertiban di Transportasi Umum

Sering mengeluh tentang betapa sulitnya orang Indonesia tertib, terutama di tempat umum? Saya juga sering. Heuheu. Akan tetapi, perlahan saya mulai memahami akar masalahnya karena sering naik transportasi umum.

Ya, terakhir sih 2 bulan yang lalu. Siapa sangka saya balik dari kuliah Kebijakan Publik hari Kamis malam sambil hujan-hujanan itu adalah terakhir kali saya naik KRL setidaknya sampai sekarang?

Oke, skip dulu curhatnya. Tapi begini, seburuk-buruknya KRL di weekday, sesungguhnya lebih parah di weekend. Itu kalau menurut saya. Separah-parahnya di Tanah Abang mau jam berapapun, orang-orang yang selow di tangga dan bahkan di tangga berjalan itu umumnya terjadi ketika weekend.

Demikian pula dengan MRT. Kalau kita ikutan wisata MRT di Sabtu atau Minggu, selain kepadatan nggak kira-kira, perilaku manusianya juga nggak karuan. Hal itu berbeda kalau kita naik MRT di hari kerja.

Nih, saya punya buktinya. Rapi sekali.

Kenapa itu terjadi?

Dugaan saya, ini adalah soal kebiasaan. Di weekday, para pengguna adalah pengguna rutin yang tiap hari ya menggunakan moda yang sama. Setidak terburu-burunya mereka, sudah ada pemahaman perihal perilaku yang seharusnya dilakukan. Saya bilang tadi, seburuk-buruknya Tanah Abang, kalau weekday itu satu-dua doang orang yang diam di sebelah kanan tangga berjalan atau santai-santai di tangga manual.

Jadi, para pengguna rutin itu sudah tahu aturan dasarnya. Di MRT cenderung lebih tertib lagi kemungkinan karena faktor pendidikan dan pekerjaan dari para penumpang. Pemandangan antre serapi di foto tadi adalah hal biasa di stasiun MRT manapun dan jam berapa saja peristiwa itu ada asal pas hari kerja.

Boleh jadi karena cukup pendidikan dan cukup pengetahuan, para pengguna MRT di kala weekday ini jauh lebih tertib dan bisa sekali membuat MRT Indonesia serapi di Singapura atau Hong Kong.

Kesimpulan sementara saya adalah tatanan itu tidak dimengerti para pengguna sekali-sekali yang umumnya menggunakan moda transportasi umum itu di kala weekend alias hanya Sabtu-Minggu atau hari libur saja. Karena tidak mengerti, jadi suka bingung. Ya mending kalau bingung lalu diingatkan terus minggir atau membenahi diri. Masalahnya, kalau penumpang weekend itu suka enaknya sendiri. Kalau ditegur, suka sengak dan malah marahin yang negur.

Kan asem.

Hal yang serupa juga saya dapati ketika naik TransJakarta. Kalau jam 8 atau 9 di setiap halte ramai sekitar Sudirman itu kelihatan kok ketertiban orang-orang antre keluar dengan membentuk barisan atas dasar kesadaran sendiri. Paling kondang ya halte Dukuh Atas yang sempit tapi hub penting jadi kalau sore antrenya bisa mengular sampai atas dan antreannya terbentuk tanpa masalah.

Jadi intinya sih kebiasaan dan lingkungan. Hal itu sebenarnya sudah terbentuk ketika weekday namun seringkali bablas kala weekend.

Bujet Riset Dalam Kelindan Isu Kesehatan Indonesia

Sebagian dari kita mungkin ingat kontroversi cuitan CEO BukaLapak, Achmad Zaky, pada pukul 22.25 WIB tanggal 13 Februari 2019 tentang omong kosong industri 4.0, bujet riset dan pengembangan, serta presiden baru. Sebagian lagi mungkin mengingat dampaknya yang cukup panjang. Pertama, tentu saja perkembangan tagar #UninstallBukaLapak yang bekalangan jadi semakin politis karena kata ‘BukaLapak’ malah diganti dengan ‘Jokowi’, padahal jelas-jelas Jokowi adalah Presiden, bukan aplikasi, jadi ya nggak mungkin di-uninstall, toh?

Kedua, Zaky sendiri sampai datang ke istana karena Jokowi khawatir bahwa tagar untuk meng-uninstall aplikasi yang belum lama di-endorse olehnya itu akan berdampak pada para penjual. Yha, bagi yang doyan belanja daring sih pasti paham bahwa mayoritas penjual itu punya toko di sekurang-kurangnya 3 marketplace besar di Indonesia alias kalau satu ditinggal, tokonya masih bisa dikunjungi via marketplace lainnya.

Ketiga, publik penggerak #UninstallBukaLapak ternyata sama saja pemikirannya dengan #UninstallTraveloka cuma gara-gara hal sepele. Lebih parah lagi, malah jadi lupa pada substansi.

Walaupun ditengarai datanya salah tahun, namun poin Zaky pada pentingnya bujet riset dan pengembangan itu sudah selayaknya jadi perhatian. Supaya isunya tidak seliar cuitan pria Solo tersebut, mari kita coba tempatkan pembahasan pada sektor yang sangat riil kebutuhan akan riset dan pengembangannya yakni industri kesehatan. Lebih spesifik lagi: industri farmasi.

Konsep Riset Industri Farmasi

Saya beruntung pernah hampir 5 tahun berkecimpung di sebuah industri farmasi papan atas Indonesia yang menguasai pangsa pasar obat generik berlogo namun juga pemiliknya cukup edan untuk memiliki sebuah unit riset tersendiri dengan bujet setahun yang nilainya bisa menghidupi sebuah industri farmasi kecil. Dengan demikian, saya bisa cukup percaya diri dalam mengurai perkara riset dalam konteks kefarmasian.

Bagaimanapun, industri farmasi itu unik karena yang dihadapi tidak hanya kompetitor bisnis, namun juga perkembangan penyakit hingga pemutakhiran data keamanan suatu obat sehingga kemudian peran riset dan pengembangan alias R&D menjadi sangat penting.

Apabila pada industri makanan dan kosmetik, R&D bisa dikembangkan ke arah variasi produk seperti rasa maupun warna—hingga kemudian kita bisa mendapati mi instan rasa rendang atau keripik rasa mi instan, misalnya, maka berbeda halnya dengan industri farmasi.

Para peneliti farmasi sejak mula mengembangkan suatu molekul dengan target yang jelas, yakni mengobati suatu penyakit. Metode yang digunakan memang semakin modern dan semakin menggunakan pendekatan bioteknologi untuk hasil yang lebih optimal. Namun tetap saja harus ada harga yang dibayar untuk itu.

Biaya riset menjadi besar setidaknya karena 4 hal, yakni teknologi yang digunakan, bahan aktif baru yang lebih kompleks, fokus riset pada penyakit kronis dan degeneratif dengan biaya yang lebih mahal, dan persyaratan regulatori yang lebih ketat. Dikutip dari penelitian mantan Kepala BPOM, Sampurno, dengan judul ‘Kapabilitas Teknologi dan Penguatan R&D: Tantangan Industri Farmasi Indonesia’ yang dimuat pada Majalah Farmasi Indonesia (2007) estimasi biaya yang dikeluarkan untuk penelitian sejak dari laboratorium hingga dipasarkan pada tahun 1979 adalah 54 juta dolar, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 897 juta dolar. Itupun, tingkat keberhasilannya terbilang rendah. Artikel yang sama menyajikan data bahwa pasca Uji Klinis Tahap III, hanya 20% molekul obat baru yang disetujui untuk diproduksi dan dipasarkan. Forbes pada tahun 2017 menyitir beberapa riset terbaru dan kisarannya sudah semakin dahsyat, bisa mencapai 2,7 miliar dolar per produk!

Makanya, saya suka berpikir kalau di grup WhatsApp ada yang bilang bahwa suatu penyakit adalah konspirasi suatu negara atau kalangan agar mereka bisa menjual obatnya atau suatu obat diarahkan untuk wajib karena ingin membunuh generasi suatu bangsa. Dalam pola pikir ilmiah dan bisnis, kedua konspirasi itu sungguh sangat tidak relevan dan hanya akan terpikirkan oleh otak yang penuh dengan kebencian.

Faktanya COVID-19 sekarang ini sampai nyaris 5 bulan belum ada obatnya. Sampai-sampai obat Ebola yang belum kelar uji klinik diberdayakan.

Biaya riset yang tinggi untuk suatu molekul obat itu tentu saja membutuhkan perlindungan. Tidak ada entitas bisnis yang cukup dungu membiarkan hasil risetnya ditiru dengan serta merta oleh pesaing. Maka dalam dunia farmasi dikenal adanya perlindungan paten. Dampaknya tentu saja adalah harga yang tinggi sebagai upaya untuk balik modal biaya riset dan juga sarana untuk meraih keuntungan sebagaimana hakikat sebuah industri pada umumnya. Begitulah yang terjadi di luar negeri.

Riset Farmasi di Indonesia

Masih menurut Sampurno, di Indonesia agak berbeda karena industri farmasi adalah industri formulasi, bukan research-based company. Kegiatan R&D lebih banyak dilakukan untuk pengembangan formula produk dengan mengandalkan obat-obat yang sudah atau akan segera habis masa patennya. Misalkan untuk obat diabetes Metformin, R&D akan difokuskan pada pencarian kombinasi zat aktif dan eksipien yang akan memberikan hasil paling optimal pada proses produksi, paling mendekati standar kualitas yang telah ditetapkan, serta juga paling efisien dari sisi akuntansi.

Meski begitu, masih ada beberapa pemilik perusahaan yang cukup gila dalam inovasi. Kantor saya dulu, misalnya, berani membayar ratusan miliar untuk mendirikan gedung riset berbasis bahan alam Indonesia, termasuk juga memanggil pulang anak bangsa yang lama berkecimpung dalam riset di luar negeri—tentu saja dengan bayaran yang memadai dan berarti cost yang tinggi bagi perusahaan.

Riset yang baik tentu didukung oleh penelitian tentang kebutuhan obat yang tepat, metode berbasis bioteknologi dan komputasi yang baik, alat-alat yang mutakhir, periset yang kompeten, bahan baku riset yang cukup untuk bereksplorasi, fasiilitas untuk memadai untuk upscaling dari skala laboratorium ke skala industri, fasilitas produksi yang terkini, hingga pemenuhan terhadap standar yang ditetapkan baik oleh regulator maupun oleh calon mitra tujuan ekspor. Sekali lagi, itu semua butuh cost.

Perlu lebih dari 5 tahun hingga unit riset tersebut bisa menelurkan suatu produk sampai ke pasar dan itupun setelah melewati tahapan-tahapan yang tidak mudah terutama dari aspek regulasi. Ketika itu, tidak ada insentif khusus, misalnya, karena riset bahan alam Indonesia maka ada tahap-tahap yang boleh dilewati. TIdak ada sama sekali. Kalaulah ada yang agak bisa membanggakan adalah pengembangan unit riset tersebut menjadi salah satu pabrik pertama di Indonesia yang diakui sebagai Industri Ekstrak Bahan Alam dengan peresmian yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan berikut Plt. Kepala BPOM pada tahun 2013 silam.

Proses registrasi produk hasil riset sendiri berjalan sesuai dan sejalan dengan regulasi yang ditetapkan. Begitulah, untuk proses yang sepanjang itu, dipastikan butuh perusahaan yang cukup kuat secara finansial dan pemimpin yang cukup nekat untuk terus menggelontorkan bujet pada risetnya, yang belum tentu balik modal dengan segera.

Tidak Dapat Kompromi Pada Mutu

Sekali lagi, industri farmasi punya kekhasan, yakni tidak dapat kompromi pada 3 hal yakni keamanan, mutu, dan khasiat. Hal itulah yang menyebabkan proses registrasi dari produk yang merupakan hasil karya anak bangsa sekalipun juga harus mengikuti tahapan-tahapan yang ditetapkan tanpa perlakuan khusus. Pada posisi ini, pemerintah harus menjalankan beberapa peran sekaligus yakni mendukung sektor industri pada satu kaki, mendukung tambahan terapi pada sektor kesehatan pada kaki yang lain, namun juga harus menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk tersebut pada kaki yang lain lagi.

Aspek mutu ini juga bersisian dengan daya saing. Pada era persaingan bebas, banyak negara menyiapkan perlindungan kepada warganya untuk tetap bisa mendapatkan produk yang bermutu dengan menerapkan pagar berupa standar yang tinggi kepada suatu produk agar bisa masuk ke pasar negara tersebut. Demikian juga dengan sektor farmasi. Walhasil, industri farmasi nasional yang memiliki pasar di luar negeri, mulai ASEAN hingga Eropa harus senantiasa menerapkan standar yang tinggi agar bisa memenuhi standar yang diterapkan di negara tujuan. Dan siapapun tahu, semakin tinggi kualitas yang diharapkan, maka biaya juga akan menyesuaikan.

Ihwal biaya baik untuk riset maupun untuk kualitas yang berstandar internasional ini di Indonesia akan sangat terkait dengan pendapatan suatu industri farmasi yang dalam konstelasi tata kelola kesehatan di Indonesia akan begitu lekat pada isu yang selalu hangat: BPJS Kesehatan.

Sebagai perlindungan kesehatan nasional, BPJS Kesehatan memang masih memiliki segudang pekerjaan rumah untuk pembenahan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, BPK RI pun telah melakukan pemeriksaan kinerja pada layanan BPJS Kesehatan ini. Persoalan tentang tersendatnya pembayaran dari BPJS Kesehatan ke Rumah Sakit menjadi salah satu perkara yang sering diangkat ke publik.

Pada konteks ini, industri farmasi dipastikan terkena dampaknya. Obat sebagai produk industri farmasi hanyalah salah satu komponen dari pelayanan kesehatan. Artinya, terhadap pembayaran yang tersendat ke rumah sakit akan berdampak pula pada pembayaran obat ke industri farmasi dan kalaupun pembayaran sudah dilakukan boleh jadi akan dialokasikan terlebih dahulu untuk pembayaran listrik atau air hingga tenaga kesehatan, baru kemudian obat. Bagi industri, pembayaran yang tersendat berarti uang yang diam dan tidak dapat diapa-apakan, padahal ada potensi untuk dikelola salah satunya pada riset dan pengembangan.

Jadi, ketika pendiri BukaLapak membawa isu R&D ke ranah netizen nan kejam dan terlalu fokus pada tahun data dan perkembangan angka, sejatinya problematika R&D itu sendiri telah sedemikian rumitnya di industri farmasi. Persoalannya bukan lagi sekadar besarnya dana sehingga butuh komitmen bersama dari elemen pemerintah yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, industri farmasi maupun yang relevan dengan dunia kesehatan lainnya, hingga stakeholder lain untuk bisa mengurai problematika riset dalam rumit serta ganasnya gorengan isu kesehatan di negeri ini.

Satu hal yang pasti, untuk membahas soal ini kita tidak perlu membawa-bawa politik yang sarat kepentingan. Bukan apa-apa, kepentingan rakyat dalam persoalan kesehatan itu saja sudah begitu besar dan lebih dari cukup untuk menjadi dasar berpikir bersama demi kesehatan dan industri farmasi Indonesia yang lebih baik.