Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Mudah Lelah Saat Perjalanan Kereta Api? Coba Atasi dengan Tips Berikut!

Untuk area pulau Jawa, kereta api merupakan alat transportasi yang paling diminati. Sebagian besar penduduk pulau Jawa memilih untuk naik kereta api jika ingin berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Selain karena aman dan nyaman, harga tiket kereta api juga lebih murah dari harga tiket pesawat.

Satu lagi, tidak ada kata macet ketika bepergian dengan kereta api. Jadi, kita bisa nyampe ke tujuan dengan tepat waktu. Sekarang ini, kamu bisa membeli tiket kereta api lewat aplikasi digital, seperti Traveloka. Misalnya, kamu ingin membeli tiket kereta api Bandung – Jakarta. Kamu tinggal buka Traveloka dan bisa cek harga tiket kereta Bandung Jakarta.

Namun, saat bepergian dengan kereta api, satu hal yang sering kali mengganggu perjalanan adalah rasa lelah. Ya, karena perjalanan jauh, wajar kiranya rasa lelah datang. Akan tetapi rasa lelah itu bisa di manage dengan baik supaya kondisi tubuh tetap fit hingga sampai tujuan. Berikut ini ada beberapa tips untuk mengatasi rasa lelah ketika perjalanan menggunakan kereta api:

Ngobrol dengan Orang Sebelah Bangku

Guna menghilangkan rasa lelah di perjalanan, kamu bisa mengisi waktu dengan ngobrol bersama orang sebelah bangku. Banyak hal yang bisa jadi bahan obrolan, apalagi sama-sama baru kenal.

Photo by veerasak Piyawatanakul on Pexels.com

Ngobrol bersama penumpang lain tidak hanya menghilangkan rasa lelah, tapi juga sebagai ajang untuk memperbanyak teman. Akan menyenangkan apabila ada ilmu yang didapat dari pembicaraan tersebut.

Untuk memulai pembicaraan, banyak hal yang bisa kamu lakukan, seperti menanyakan kemana tujuannya, asalnya dari mana, atau hal lain yang membuat dia nyaman dan mau ngobrol bersama kamu.

Menikmati Pemandangan Sekitar

Jalur kereta api sering kali berada di daerah sekitar pedesaan, daerah perbukitan, dan sawah. Makanya jangan heran kalau naik kereta api, kita pasti akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah.

Menikmati pemandangan tersebut tentu akan membuat kamu merasa lebih nyaman, rileks, dan jauh dari rasa lelah. Selain sebagai alat untuk melepas rasa lelah, ini juga bisa menjadi cerita seru bagi sanak saudara di kampung halaman.

Menonton dan Mendengarkan Musik

Kemajuan teknologi membuat orang lebih mudah untuk mendapatkan hiburan. Hanya dengan menggunakan smartphone kita sudah bisa menikmati hiburan seperti menonton, membaca, dan mendengarkan musik. Ini bisa dimanfaatkan untuk mengatasi rasa lelah saat kamu di dalam kereta api.

Main Game

Selain menonton, membaca, dan mendengarkan musik, hiburan lain yang bisa kamu nikmati di kereta api adalah main game. Ya, saat ini ada banyak jenis game yang bisa dimainkan lewat smartphone baik yang harus menggunakan konektivitas atau pun tidak. Jika kamu bepergian dengan teman atau keluarga, kamu bisa mengajak mereka untuk main game bersama.

Tidur

Jika sudah bosan ngobrol, nonton, dan mendengarkan musik, berarti sudah saatnya kamu menghilangkan rasa lelah dengan tidur. Tidur sejenak juga akan menghilangkan rasa bosan dan membuat kamu menjadi lebih segar. Satu hal yang perlu diingat ketika tidur di transportasi umum, jangan untuk meletakkan barang berharga di tempat yang tidak bisa disentuh oleh orang lain.

Meregangkan Otot Kaki, Tangan, dan Leher

Duduk terus menerus selama perjalanan di kereta api tentunya akan membuat tubuh merasa lelah. Oleh karena itu kamu perlu meregangkan otot-otot kaki, tangan, dan leher.

Peregangan ini bisa kamu lakukan dengan cara memijat sendiri kaki dan tangan kamu. Sementara di bagian leher, kamu bisa melakukan stretching secara perlahan, seperti tengok kanan kiri secara bergantian.

Jalan-Jalan di Dalam Kereta

Selain bikin lelah, duduk terus menerus selama perjalanan juga akan membuat tubuh terasa kaku. Hal ini tentu sangat tidak mengenakkan. Kamu butuh melakukan aktivitas yang menggerakkan semua anggota tubuh, misalnya berjalan. Kamu bisa berjalan menuju ke toilet atau berjalan di lorong kereta api sambil menikmati pemandangan di sekitar. Meskipun jarak tempuhnya tidak jauh, tapi jika sering dilakukan, ini akan membuat tubuh menjadi lebih rileks dan segar.

Menjaga Pola Makan

Untuk menjalani perjalanan jauh dengan kereta api butuh kondisi tubuh fit. Karena kamu akan duduk terus menerus selama di perjalanan. Meskipun hanya duduk, tapi jika dilakukan dalam waktu yang lama itu akan berdampak buruk ke tubuh.

Di luar bulan puasa, sangat disarankan untuk banyak minum ketika duduk lama di perjalanan. Namun, jika kamu melakukan perjalanan di bulan puasa, kamu tetap butuh cairan yang banyak. Oleh karena itu, kamu harus banyak minum saat berbuka puasa dan sahur.

Selain kebutuhan cairan, suplai nutrisi ke tubuh juga harus dijaga selama di perjalanan. Kamu harus pintar-pintar menjaga makan supaya kondisi tubuh tetap fit.

Itulah beberapa tips mengatasi lelah selama perjalanan kereta api. Kamu bisa menerapkan tips ini untuk menjaga tubuh tetap fit selama di perjalanan. Untuk informasi terkait tiket kereta Bandung-Jakarta, kamu dapat mengaksesnya melalui laman resmi Traveloka atau langsung mengunduh aplikasinya, baik melalui Play Store atau pun App Store.

Batal Nikah

Sejujurnya, setelah menikah, saya suka menganggap bahwa dinamika yang ada di level anak muda yang belum menikah itu remeh. Hal yang dulu bisa bikin saya galau seharian itu ternyata begitu dipaparkan dengan peliknya hidup rumah tangga di tengah himpitan kebutuhan itu ternyata nggak ada apa-apanya.

Nah, sampai kemudian saya mendapati bahwa ada salah seorang bilang ke saya bahwa dia batal menikah. Seseorang yang saya ketahui sudah sempat cuti beberapa hari untuk mengurus pernikahannya. Biasalah, pekerja Jakarta tapi kampungnya di salah satu kota di Jawa. Sudah tunangan, sudah ada fotonya. Dan lain-lain begitulah. Intinya sih batal menikah.

Pada titik ini saya tentu tidak lagi bisa menganggap sepele. Ini soal pembatalan vendor, pembatalan ke KUA, dll. Bayangkan sudah mengurus ina-inu ke KUA, repot minta ampun, lalu datang lagi untuk membatalkannya. Tentu saja saya tidak pernah menghadapi permasalahan semacam itu. Level keparahan pada persiapan pernikahan saya adalah berantem sampai nangis di depan gereja persis sesudah mengurus buku panduan misa.

Lebih mengesalkan lagi adalah bahwa penyebab batal itu berasal dari orang ketiga. Orang ketiga yang tentunya muncul belakangan di akhir proses separo LDR dengan total jenderal hubungan 5 tahun. Wow. Percayalah, sebagai laki-laki, saya malu sendiri mendengar kelakuan orang itu sampai kemudian membuat orang yang saya kenal tadi harus balik ke rumah lagi guna mengurus pembatalan hanya 1 bulan sesudah mengurus pernikahan.

Cuma, kalau saya pikir-pikir lagi, mendinglah batalnya sekarang. Kalau sempat bablas sampai nikah perkaranya tentu berlipat lebih sulit. Apalagi kalau yang menikah itu PNS. Pertama, misalkan mau cerai saja prosedurnya panjang dan ribet serta nggak cocok untuk suasana batin orang yang mau cerai, yang tentu saja pengen semuanya cepat kelar. Kedua, bisa sempat ada anak, maka akan ada hal lain yang tentu akan menjadi bahan pikiran. Dan banyak hal lainnya.

Batal sekarang mungkin bikin galau sampai nangis. Tapi batal sekarang boleh jadi adalah kunci kebaikan di masa depan. Untuk tidak terjebak di hubungan pernikahan yang boleh jadi tidak akan seindah yang dibayangkan. Bagaimanapun, pernikahan itu akan menghadirkan begitu banyak keindahan tapi juga pada saat yang sama menghadirkan begitu banyak masalah yang boleh jadi tidak akan ada ketika tidak menikah.

Sambat vs Reformasi Birokrasi

Alkisah saya lagi ikutan suatu rangkaian acara berfaedah bernama ASN Academy. Sejujurnya saja, saya ikut acara begitu bukan untuk belajar system thinking atau apalah berbagai pengetahuan-pengetahuan penting yang terkait dengan inovasi, dll. Oh, bukan berarti nggak mau belajar juga lho ya. Hanya saja, kantor saya sebenarnya sudah cukup baik hati dalam membekali pegawainya pada ilmu-ilmu. Training itu walaupun standarnya 20 JP, tapi realitanya hampir semua bisa dapat lebih dan lebihnya itu berkali-kali lipat. Jadi, mau sekarang atau nanti, saya yakin pasti akan dapat pengetahuan-pengetahuan tersebut.

Nah, lantas apa dong?

Saya terngiang kali pertama diklat prajabatan di PPMKP Ciawi bersama teman-teman dari Kementerian Koperasi dan UMKM, Badan Informasi Geospasial, PPATK, dan beberapa instansi lainnya. Saya lalu ingat pengalaman yang lebih seru di Pusdiklat lain di Ciawi ketika diklat Jabatan Fungsional. Saya bilang lebih seru karena mayoritas teman di kamar itu adalah bapack-bapack dari Pemerintah Daerah. Dari Aceh Singkil sampai Pegunungan Bintang. Dan percayalah, ceritanya itu betul-betul banyak dan sebagian diantaranya bikin speechless.

Sampai kemudian saya kuliah S2, saya juga hadir di kelas dengan teman-teman dari BPKP, Kementerian PAN dan RB, Kementerian Dalam Negeri, hingga Pemprov DKI Jakarta. Lagi-lagi, yang saya peroleh adalah insight. Cerita yang rupanya penting untuk menguatkan diri sendiri dalam menghadapi beratnya hidup di birokrasi.

Ya tentu saja itu termasuk mengetahui betapa besarnya Tunjangan Kinerja (atau nama lain yang setara di pemda) dari teman yang level Jabatan Fungsionalnya sama persis dengan saya. Yes, pedih tapi tidak berdarah sebab nominalnya itu benar-benar 4 kali lipat. Bukan sekadar 4 juta lebih banyak lho ya. Tapi memang tunjangan saya dikali 4, nah itulah tunjangan dia. Sekali lagi: dengan level JF yang sama. Tapi ya sudahlah~

Nah, kemarin ini dalam kerangka persiapan menuju kegiatan utama, ASN Academy menggelar sebuah sesi yang cenderung menjadi SAMBAT TERSTRUKTUR. Saya perlu menyebut demikian karena memang topik yang dipilih memang sangat SAMBAT-ABLE. Dan entahlah kalau dari dulu itu setahu saya dalam urusan sambat, para pekerja birokrasi itu banyak betul bahannya. Isu-isu seperti benturan kepentingan, generation gap, dan juga pengembangan pegawai diangkat dan terjadi diskusi yang 60%-nya adalah sambat itu.

Sejak jadi Magister Ilmu Administrasi, saya suka overthinking. Bukan apa-apa, sih. Dengan belajar paradigma ilmu administrasi, riwayat, serta praktik baik di negoro lain, saya sebenarnya mulai terbuka perihal ‘hal yang benar’. Cuma begitu melihat ke lapangan dan tampak ada hal-hal yang sebenarnya sangat bisa untuk diubah, saya nggak bisa apa-apa karena memang tidak punya kuasa dan lagipula kerjaan saya sudah banyak.

Harus diakui, dibandingkan 8 tahun lalu ketika saya baru masuk, sebenarnya sudah ada begitu banyak perbaikan di birokrasi negoro ini. Sayangnya, mengutip pendapat dari penulis buku ASN Sontoloyo, birokrasi di negoro ini berasa senam poco-poco. Maju dua langkah, sih. Tapi nanti mundur lagi. Geser sih ke kanan, tapi nanti ke kiri lagi. Ujungnya? Ora maju-maju. Parameter saya sederhana, sih. Ketika di akun ini masih banyak pegawhy yang sambat pada sistem, maka sebenarnya sistem itu masih banyak bolongnya.

Sejujurnya, kemarin itu saya mendengar beberapa kisah yang membuat saya terkesiap. Bahkan ada cerita gawat dari K/L yang sebenarnya dari luar tampak bagus, karena toh saya memang pernah ikutan study tour ke K/L itu. Rupanya, banyak yang dikisahkan di study tour itu ternyata berbeza dengan cerita orang dalam.

Di sisi lain, saya sih menangkap optimisme tinggi. Soalnya, banyak sambat kemarin itu sebenarnya positif dalam artian kelihatan kok niat baiknya, tapi ganjalan sistem yang jadi perkara. Cuma memang gimana sih agar api semangat tetap berkobar dan tidak lantas padam oleh perkara sistem, itulah PR-nya.

Oya, ngomong-ngomong, saya pernah baca sebuah artikel tentang pegawhy ngeri di Singapore. Sebuah negeri yang katanya adalah role model untuk urusan civil servant. Agak terkejut, sih, karena rupanya menurut orang dalam, pengaturannya nggak bagus-bagus amat juga. Lebih lanjut bisa dibaca di ARTIKEL INI.

Saya tentu masih menantikan sesi-sesi lanjutan dari agenda utama ASN Academy. Semoga ilmu dan cerita-cerita yang akan saya dapatkan bisa memberikan faedah bagi akal dan pikiran saya, sekurang-kurangnya untuk bisa tetap waras menjalani hidup. Haha.

Ke Bali di Masa Pandemi

Selepas kelar kuliah, salah satu hal yang cukup bikin saya deg-degan setiap waktu adalah kalau disuruh perjalanan dinas luar kota. Bukan apa-apa, sejak Maret 2020 sampai September 2021 saya itu benar-benar hanya di Tangerang Selatan. Nggak kemana-mana sama sekali. Ke Jakarta sekalipun bisa dihitung dengan jari. Bahkan dalam kurun waktu 12 bulan dari Maret 2020 sampai Maret 2021, saya ke Jakarta (yang notabene normalnya saya lakoni tiap hari) hanya 3 kali dan semuanya untuk keperluan COVID-19. Pertama, swab massal di kantor. Kedua dan ketiga adalah vaksinasi dosis 1 dan 2. Sudah gitu doang saking tertibnya.

Nah, begitu sudah aktif lagi bekerja, maka saya tidak punya privilese untuk selalu #DiRumahAja, apalagi kerja beginian walaupun masih sangat memungkinkan untuk WFH tapi ada saja elemen kerja lintas kotanya. Hal itulah yang terjadi kemudian. Sesudah kemarin ke Surabaya, kali ini saya ke Bali. Dinas ke Bali itu bagi saya cukup menyebalkan karena ingat tahun 2017 pernah ke Bali, nginep di Hotel The Stones yang notabene cuma seberangan pantai Kuta tapi baru bisa melihat sunset itu di hari kelima. Kerjo po ngopo to sakjane~

Nah, saya ke Bali itu 20 Oktober ketika pariwisata baru dibuka untuk turis mancanegara dengan catatan karantina. Sekali lagi, terakhir kali saya ke Bali itu 2018, jadi yang saya lihat benar-benar sesuatu yang berbeda.

Karena acara yang hendak saya ikuti ada di sekitar Kuta, maka saya menginapnya di sekitar situ juga. Pada malam hari, saya yang kehabisan Rosuvastatin kemudian mengorder ojol untuk pergi ke apotek terdekat. Itu sekitar jam 8 malam. Dulu, jam 8 malam di Kuta itu justru awal mula aktivitas tiada henti sampai pagi.

Apa yang saya lihat?

Jalanan sepi. Tempat-tempat hiburan yang tutup. Demikian pula toko-toko. Termasuk sebagian diantaranya sudah diberi tulisan ‘DIKONTRAKKAN’. Belum lagi jika ditambahkan dengan curhat driver taksi dari bandara soal mobilnya yang sudah ditarik leasing dan mobil yang dipakainya adalah punya teman.

Itu tanggal 20.

Ketika saya pulang tanggal 22, ada nuansa yang berbeda. Di hari Jumat, sudah mulai banyak yang check in. Pada umumnya adalah rombongan dengan naik mobil sendiri. Hotel di sekitar Legian mulai menggeliat. Jika di hari Kamis saya sarapan dalam suasana sepi, maka makan siang di hari Jumat sudah mulai banyak orang. Kehidupan Bali mulai menggeliat.

Pada satu sisi, saya tetap takut soal potensi varian baru dan potensi penularan COVID-19. Apalagi, yang dikontrol kan perjalanan udara yang notabene sudah pakai HEPA Filter. Bagaimana dengan bis atau bahkan mobil pribadi? Wabah ini jelas belum selesai, tetapi bagaimanapun saya sangat paham bahwa banyak orang tergantung pada mobilisasi orang-orang. Termasuk saya pun demikian. Dari bujangan pengen banget ngajak anak istri ke Bali. Mana anak saya sudah suka ngomong pengen ke beach tapi naik airplane. Artinya, sekadar ke Ancol sudah nggak cocok buat dia dan Bali mestinya pas.

Ah, semoga wabah ini cepat hilang ya~

Naik Pesawat Lagi

Waktunya tiba juga. Privilege yang sangat saya nikmati akhirnya berakhir juga sesuai masa kedaluwarsanya. Iya, sejak Maret 2020 ketika semua orang dianjurkan untuk di rumah saja ya saya pun demikian. Saking patuhnya, sampai 12 bulan kemudian saya itu pergi ke Jakarta (dari Tangerang Selatan) itu cuma untuk 3 urusan dan semuanya terkait COVID-19. Pertama, swab massal dari kantor. Kedua dan ketiga adalah vaksinasi.

Iya, saya yang biasanya sehari bisa Tangerang Selatan, Jakarta, lalu Bekasi atau Bogor atau pernah juga seminggu Denpasar-Jakarta-Tangsel-Bandung-Tangsel-Jogja benar-benar menikmati kehidupan di rumah saja dan merasa aman dengan tidak kemana-mana. Cuma ya bagaimana lagi, periode kuliah saya ada batasnya dan kebetulan selesai pula. Jadi ya sesuai dengan SK yang dimiliki, maka saya kudu ngantor. Demikianlah adanya.

Hanya 4 hari sesudah wisuda, saya sudah dinas lagi. Untungnya ‘cuma’ ke Surabaya. Maksud saya, walaupun Jatim itu kasusnya termasuk tinggi, tapi ya setidaknya kalau ada apa-apa, nggak jauh-jauh amat dari rumah. Kalau misalnya di Manowkari atau Aceh kan saya mungkin kebingungan.

Sesungguhnya, terakhir kali saya naik pesawat itu Desember 2019 dari Padang. Dan tentu saja di masa pandemi ini semuanya berubah sehingga saya benar-benar sempat linglung. Tanpa pandemi pun mungkin saya juga linglung soal buka gesper, mengamankan ponsel, dll. Ditambah pandemi, maka segala elemen swab antigen, masker berlapis, dan lainnya juga menambah kompleksitas.

Sesungguhnya, saya melihat ada upaya dari penyedia jasa baik di bandara maupun maskapai untuk menjaga protokol kesehatan. Bagaimanapun, untuk suatu virus yang telah dinyatakan airbone, tempat sempit seperti pesawat terbang adalah sebuah arena yang tepat untuk virusnya beterbangan dan hinggap sana-sini. Cuma ya itu, ada saja penumpang yang mungkin bernafas dengan dagu sehingga maskernya diturunkan ke dagu dan nunggu pramugari lewat dulu baru menaikkan maskernya. Wis gedhe kok yo ngono ae kudu dikandhani.

Saya tidak tahu, apakah dalam waktu dekat akan terbang lagi. Dari hati kecil, saya sih berharap tidak. Cuma ya namanya sekarang sudah aktif bekerja, siapa yang tahu. Yang jelas saya hanya berharap akan selalu sehat dalam periode ini. Periode yang tampaknya angka kasusnya sudah turun, tapi kita tidak tahu ada apa di depan.

Sehat-sehat selalu untuk kita semua.

Rindu Bandung, Mal Populer, dan Akses Termudah dari Jakarta

Photo by Dinul hidayat on Pexels.com

Bagi saya, Bandung itu bukan sembarang kota yang pernah dituju. Istri saya lahir di Bandung dan mertua tentu masih di kota tersebut. Lebih lanjut lagi, anak saya juga lahir di Bandung. Maka wajar kalau rindu Bandung adalah sesuatu yang muncul di era pandemi begini, mengingat sudah lebih dari setahun saya dan keluarga tidak pulang ke Bandung. Dulu mah tiap beberapa bulan sekali pasti. Malah pas menjelang pernikahan dan kelahiran anak, kami juga wira-wiri Bandung-Jakarta.

Selain tempat-tempat wisata di sekitar Lembang, Bandung juga terkenal sebagai kota belanja dan sudah pasti ada banyak mal populer yang ada di Bandung. Sebagai tempat kunjungan andalan, mal juga menjadi salah satu tempat yang paling dipelototin pemerintah dalam penegakan protokol kesehatan di masa pandemi.

Nah, berikut ini sejumlah mal populer di Bandung yang biasanya saya dan keluarga sambangi kalau pas di Bandung.

  • Paris van Java

Tahun 2007 saya pernah lomba paduan suara di Bandung. Nah, sesudah lomba dan menuju edisi jalan-jalan, kontingen sempat terjebak dalam adu pendapat. Sejumlah orang ingin ke Pasar Baru, sisanya ke Paris van Java yang memang baru buka. Saya sendiri waktu itu memang ikut ke Pasar Baru. Saya baru ke Paris van Java waktu PKL di Depok dan jalan-jalan ke Bandung. Benar-benar dari terminal itu kami langsung ke PVJ.

Salah satu kekhasan PVJ adalah konsep open air. Jangankan tempat jalan-jalannya, WC cowoknya pun open air. Haha. PVJ agak berbeda dengan mal di Jakarta yang dioptimalisasi ke atas. Jumlah lantai di PvJ nggak banyak, jadi kalau memang mau jalan-jalan ya ke samping kiri-kanan sudah cukup melelahkan.

Oiya, salah satu yang menarik, sehari sebelum kelahiran Kristof, kami masih sempat ke PVJ untuk kulineran sekalian memperlancar jalan kelahiran—yang ternyata ya tetap saja pakai induksi. Wkwk.

  • Trans Studio Mall

Dahulu tempat ini namanya Bandung Super Mall. Saya pernah ke BSM pada masanya, naik angkot dan panas. Sejak 2011, mal ini menjelma menjadi TSM seiring penambahan Trans Studio Bandung yang satu kawasan. Lokasinya juga cukup strategis di Jalan Gatot Subroto.

Selain Trans Studio, di TSM ini juga ada kawasan Trans Luxury Hotel, salah satu hotel terbaik di Bandung. Jadi, bisa berbagai kepentingan dalam satu kali kedatangan.

  • Cihampelas Walk

Kembali ke tipe outdoor dan ramah pejalan kaki, ada Cihampelas Walk alias Ciwalk. Lokasinya tentu saja bukan di Ujung Berung, kan namanya Cihampelas. Dinginnya Bandung masih berasa lah kalau di Ciwalk ini.

Lokasi Ciwalk berdekatan dengan sejumlah factory outlet di Jalan Cihampelas. Kita juga masih bisa wisata kuliner di Skywalk Cihampelas.

  • Istana Plaza

Saya tidak bisa bilang ini mal tertua di Bandung, tapi termasuk yang juga pernah saya datangi pada periode 2006-an. Salah satu alasannya karena lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan Bandara Husein Sastranegara dan tidak jauh pula dari Stasiun Bandung. Pas mau interview di Padalarang tahun 2009 awal, kami juga menyempatkan diri nongkrong di IP sejenak begitu sampai ke Bandung dan masih bingung mau ngapain~

Salah satu yang menarik di IP ini memang kalau bawa bocah. Tempatnya luas dan cukup banyak mainan anaknya. Jadi nggak bikin bete lah kalau bawa anak ke IP.

  • Paskal 23

Berdiri tahun 2017, Paskal termasuk mal paling baru dan otomatis karena baru dan hadir di era media sosial jadi cepat populer juga. Sesuai namanya Paskal, lokasinya sudah pasti di Pasir Koja. Yak! Salah! Tentu di Pasir Kaliki dong.

Paskal 23 juga cukup ramah anak dan lebih ramai lagi untuk pecinta film karena bioskopnya kalau saya nggak keliru adalah salah satu yang terbesar di antara mal-mal yang ada di Bandung.

Salah satu akses yang biasa saya gunakan kalau mau ke Bandung adalah dengan DayTrans. DayTrans memang sudah dikenal sebagai travel andalan untuk rute Jakarta-Bandung pp. Dan karena sudah biasa dengan DayTrans Jakarta-Bandung pp, maka pas saya turun dari Denpasar di Solo dan hendak menuju Salatiga, saya akhirnya ya naik DayTrans Solo-Semarang. Pas di Jogja dan mau ke Semarang, jadinya ya naik DayTrans juga deh.

Salah satu yang menarik dari DayTrans adalah pilihan mobilnya yang memang oke punya seperti Isuzu Elf dan Toyota Hiace Commuter. Jadwal berangkat juga tepat waktu, bahkan saya pernah ketinggalan karena memang terlambat sampai ke pool. Lokasi-lokasi pool DayTrans juga strategis di setiap kota tempat berada.

Di Bandung misalnya, DayTrans tersedia di Dipatiukur, Pasteur, dan Cihampelas. Benar-benar nggak jauh dari mal-mal yang ada. Di Jakarta dan sekitarnya, poolnya tersebar di lokasi strategis seperti Slipi, Binus, Tebet, Atrium Senen, fX Senayan, hingga Tangerang City.

Lebih keren lagi karena sekarang kita juga bisa memesan tiketnya dari aplikasi Traveloka. Sudah seperti beli tiket pesawat dan kereta api, kan? Jadi, benar-benar bisa pesan sambil rebahan dan nggak perlu juga harus keluar pulsa untuk menelepon serta nggak perlu takut untuk kehabisan tiket karena semua bisa dipantau melalui aplikasi.

Cakupan vaksinasi di Jakarta dan Bandung terbilang keren. Jakarta sudah 100 persen bahkan lebih, sedangkan di Bandung sudah menuju 50 persen. Semoga sebentar lagi saya bisa ke Bandung dan anak saya jadi bisa mengingat kembali tempat kelahirannya nan indah permai itu.

Buku Kedua

Dulu sekali, cita-cita saya adalah jadi penulis buku. Saya cukup ingat betapa saya sangat excited bahkan ketika buku-buku antologi yang ada tulisan saya terbit. Buku seperti Cinta Membaca yang notabene self-publishing itupun saya borong sebelum kemudian sadar bahwa tidak ada benefit finansial apapun yang saya peroleh. Yang ada malah sempat di-SMS diajakin ta’aruf sama seseorang yang bilang bahwa dia habis membaca tulisan saya di buku itu. Entahlah.

Saya baru benar-benar tersadar bahwa menjadi penulis buku adalah jalan terjal ketika akhirnya punya buku sendiri. Promo buku saya lumayan padahal, ikut acara di f(x) sama museum Bank Mandiri. Buku saya itu satu promo-an dengan buku pertamanya Kevin Anggara. Pernah juga satu talkshow dengan Benakribo.

Tapi ya begitulah, mereka sukses. Saya kagak. Hahaha.

Pada titik itu saya kemudian benar-benar tidak hendak menulis buku. Apalagi mulai 2014 saya lebih asyik menulis artikel di berbagai situsweb, baik yang berbayar maupun tidak. Selain bikin buku itu adalah perjalanan panjang dan melelahkan, bayangan tidak laku itu sungguh mengesalkan. Bagaimanapun, saya melihat sendiri buku saya diobral 15 ribu dan berserakan begitu saja di sejumlah toko buku.

Ketika #OomAlfa nongol, setiap minggu saya ke Jakarta, dari mal ke mal, sekadar hendak memotret buku saya nampang di Gramedia sebelum kemudian sadar bahwa dalam 2-3 minggu buku saya sudah di-retur ke penerbit karena tidak laku. Dari sisi finansial saya memperoleh penerbit yang baik, tidak ada hak penulis yang hilang, malah kalau dari hitungan saya, sayanya yang justru berhutang karena royalti tahap pertama itu nilainya masih lebih besar dari royalti yang saya hasilkan.

Walau demikian, buku itu masih saya pajang. Gambarnya masih ada di satu sudut blog ini. Bagaimanapun buku itu membawa saya pada sejumlah kegiatan bersama penerbit, bersua para penulis keren, yang memang tidak semuanya sesukses Raditya Dika. Karena lagi-lagi, dunia kepenulisan itu ternyata cukup kejam.

Sampai kemudian beberapa waktu yang lalu, saya dihubungi editor untuk berdiskusi tentang kemungkinan saya menulis buku dengan cara menulis mirip sejumlah artikel saya di Mojok. Ada peluang tapi saya tetap gamang. Kalau nggak laku lagi gimana~

Pada akhirnya, saya jadi juga menulis. Lebih absurd lagi sebenarnya karena tenggat yang disampaikan penerbit perihal kapan naskah saya kudu kelar itu adalah tenggat yang sama persis dengan proses pengerjaan tesis saya. Jadi, di bulan Mei 2021 kemarin saya menulis tesis dan menulis buku dalam waktu yang bersamaan. Bahkan sebenarnya ada satu pekan yang membuat saya meninggalkan tesis sejenak demi mengejar konten buku. Sejumlah kecil kontennya sebenarnya ada di Mojok, sebagian konten juga ada di blog ini, tapi tentu saya sesuaikan dan saya tambahkan banyak konten lain. Heavy 13, misalnya, ketika ditulis kembali agak-agak bikin terharu. Dulu tulisan itu ditulis 2-3 jam sesudah melakoni peristiwa tersebut, eh begitu ditulis ulang bertahun kemudian, rasanya jauh berbeda.

Dan buku itu sekarang sedang naik cetak. Sudah buka pre-order juga. Nanti di pertengahan Agustus, buku itu akan meluncur ke tangan teman-teman. Salah satu hal yang bikin saya tetap yakin dengan buku ini adalah karena jumlah 1 cetakannya masih lebih kecil dari jumlah buku #OomAlfa yang laku. Jadi, ya setidaknya saya masih bisa berharap 1 cetakan laku dan saya nggak jadi beban penerbit sebagaimana terjadi pada buku yang lalu.

Bukunya sendiri sebenarnya pernah ingin saya buat bertahun-tahun lalu kala masih jadi aktivis gereja. Begitu dibawa tahun 2021, outline waktu itu jadi beda sekali isinya plus muatannya. Tapi sembari menulis, saya nggumun sendiri, ternyata dinamika kehidupan beragama saya gitu amat. Naik turunnya jelas sekali. Pernah jadi aktivis, pernah juga jadi NaPas. Seekstrem itu ternyata. Mungkin buku ini dapat cocok bagi orang-orang yang sedang gamang iman semacam saya atau juga orang-orang yang dikecewakan oleh komunitas atau yang paling penting: bagi kalangan mayoritas yang ingin tahu lika-liku hidup sebagai minoritas.

Jadi, mari kita sambut buku kedua saya~

Daycare Murah Pemerintah Daerah Demi Peningkatan Produktivitas dan Generasi yang Berkualitas

Sudah lebih dari 400 hari saya menjadi bapak rumah tangga dengan mengasuh anak di rumah sembari menyelesaikan tugas-tugas sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Istri saya adalah pekerja rumah sakit sehinga WFH-nya bermakna Work From Hospital.

Sebelum pandemi, anak saya adalah penghuni daycare alias tempat penitipan anak. Ada beberapa alasan saya dan istri menggunakan opsi ini. Pertama, tentu saja lelah dengan drama Pekerja Rumah Tangga (PRT). Alasan kedua adalah alasan tumbuh kembang. PRT kedua saya memang termasuk keren dalam hal mengajari anak saya sedikit-sedikit tentang motorik, hanya saja tentu tidak terkonsep. Sementara di daycare, ada semacam kurikulumnya. Selain itu, anak saya jadi punya teman.

Sederhananya daycare adalah solusi bagi orangtua yang tidak bisa resign demi membersamai buah hati. Masalahnya klasik: tentang bagaimana bisa hidup. Gaji pokok saya ketika aktif bekerja di bawah UMR Jakarta. Hanya tiga juta koma sekian. Bagaimana mungkin saya meminta istri—seorang S2 lulusan Inggris bergaji lebih dari 2 kali lipat dari suamnya—untuk resign?

Kala menjadi bapak daycare, saya mendapati sejumlah orangtua tunggal. Sudah jelas, dia tidak bisa disuruh resign demi menjaga anak karena dia satu-satunya pencari nafkah. Jadi, persoalan membersamai pengasuhan anak sejatinya tidaklah sesederhana salah satu harus tidak bekerja untuk mengurus anak. Ada begitu banyak pertimbangan yang sifatnya sangat individual.

Oya, saya tinggal di Tangerang Selatan dan menggunakan jasa daycare dengan tarif mendekati gaji pokok saya per bulan. Untung yang bayar istri saya. Bayangkan kalau bekerja di Jakarta dengan UMR dan harus membayar 3 juta hanya untuk daycare. Jelas tidak masuk akal karena ada begitu banyak biaya lain dalam rumah tangga yang harus dialokasikan. Hal itu kemudian membuat sejumlah anak dititipkan ke tetangga, ke orangtua, dan opsi-opsi lain yang memungkinkan.

Bagaimana soal gizi? Soal stunting? Bagaimana soal motorik halus? Entahlah.

Kita berbicara angka begitu banyak anak-anak. Di kota-kota penyangga Jakarta, jumlah anak usia 0-4 tahun tidak jauh berbeda dengan jumlah orang seusia orangtua mereka, kurang lebih begini gambarannya:

Di kota-kota penyangga Jakarta banyak rumah tangga muda yang pola hidupnya cukup kejam karena harus menghabiskan waktu 2-4 jam hanya untuk berangkat dan pulang kantor karena jarak rumah ke kantor itu bisa puluhan kilometer. Saya saja yang ‘cuma’ naik KRL dari Stasiun Jurangmangu harus berangkat pukul 06.30 untuk bisa sampai ke Jakarta Pusat pada pukul 08.00 dan tidak potong gaji karena terlambat. Bagaimana dengan pekerja yang tinggal di tempat yang lebih jauh? Titik angkut bus jemputan PNS di Cibinong misalnya sudah ramai pada pukul 05.30 lho.

Lebih lanjut lagi tampak fenomena yang menarik di Kota Bekasi dan Tangerang Selatan karena persentase perempuan bekerja lebih tinggi daripada perempuan yang mengurus rumah tangga. Artinya? Ada begitu banyak istri yang juga harus bekerja demi kelangsungan rumah tangga. Kita berbicara angka 300.627 perempuan bekerja di Kota Bekasi dan 161.687 di Tangerang Selatan. Tentu tidak semuanya ibu muda, tetap saja angkanya yang besar.

Terkait pengasuhan anak ini, cukup banyak kantor di Jakarta yang menawarkan solusi dengan membuat daycare di kantor. Salah satunya adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rata-rata di kantor pemerintah memang mulai menyediakan daycare, sebagian swasta juga demikian.

Sebagai solusi yang ditawarkan, boleh-boleh saja. Tapi dalam pengalaman saya, itu tidak cukup solutif.

Pada suatu hari, daycare anak saya tutup dan saya tidak bisa cuti demikian pula istri. Maka saya harus membawa anak saya ke kantor di Jakarta dengan transportasi umum. Membawa bayi melompat dari peron ke kereta, kereta ke peron, lanjut naik bajaj, dan seterusnya itu melelahkan lho. Dan kayaknya kalau dilakukan tiap hari pegal juga. Jadi, menurut saya, akses daycare di kantor hanya bisa dimanfaatkan oleh kalangan tertentu.

Maka saat mempelajari tentang pemerintahan daerah, seketika terbayang suatu ide yang tampak lebih masuk akal guna mengatasi persoalan pengasuhan anak ini. Ide itu adalah daycare kelolaan pemerintah daerah yang berkolasi di dekat stasiun kereta atau drop point bus dekat pintu tol.

Seperti saya jelaskan tadi, di Tangsel ini daycare sebenarnya sudah banyak, tapi yang terjangkau tidaklah banyak. Daycare kelolaan pemerintah daerah diarahkan untuk menyasar para pekerja UMR yang punya anak balita dan butuh pengasuhan prima. Biayanya tentu tidak harus jutaan, kalau perlu hanya beberapa ratus ribu saja sebagai biaya komitmen. Sisanya, negara berperan melalui pemerintah daerah.

Dengan pemilihan lokasi tersebut, orangtua bisa menitipkan anaknya di daycare sebelum meluncur naik transportasi umum ke Jakarta guna mencari nafkah. Artinya, tidak perlu pula ongkos mlipir karena kebetulan satu jalan. Begitu pulang kantor juga sang anak bisa segera dijemput dan dibawa pulang.

Mengapa pemerintah daerah? Tentu saja karena anak-anak itu adalah masa depan suatu daerah. Kita berbicara tentang anak-anak yang mulutnya kotor sekali karena bergaul begitu mudah dengan teman-teman yang lebih tua. Kita bicara pula anak-anak yang pemenuhan gizinya di periode emas tidak maksimal sehingga mempengaruhi kecerdasan dan hal-hal lainnya. Bayangkan jika pada usia 0-4 tahun, anak-anak yang harus ditinggal orangtuanya bekerja mendapat pengasuhan dan gizi yang tepat dalam kelolaan pemerintah daerah tentu hasilnya akan lebih optimal.

Adapun pada saat yang sama, daycare ini dapat menunjang kebutuhan tenaga kerja setempat. Mengingat daycare mungkin akan buka dari pukul 5 pagi sampai 9 malam maka akan butuh 2 shift sehingga kebutuhan pekerja juga dikali 2. Pemerintah daerah bisa memberdayakan tenaga kesehatan muda dengan menjadikan daycare tersebut sarana menimba pengalaman sebelum kemudian ditempatkan ke fasilitas kesehatan, misalnya. Mahasiswa bidang pendidikan juga dapat diarahkan untuk mengisi muatan pembelajaran dan permainan. Cocok sekali dengan konsep Kampus Merdeka, bukan?

Pada titik ini, melibatkan para calon orangtua dalam pengasuhan akan dapat pula membentuk mindset yang lebih baik ketika mereka kelak menjadi orangtua. Kita tahu ada begitu banyak orangtua yang sebenarnya tidak siap menjadi orangtua sehingga kemudian ada KDRT, ada pengasuhan yang tidak tepat, dll.

Tentu butuh komitmen anggaran dari pemda, tapi bukankah anggaran pendidikan dan kesehatan itu diatur dengan proporsi cukup besar? Bisa dong dikombinasikan untuk kepentingan balita masa depan negeri? Melalui daycare ini, para orangtua akhirnya bisa fokus bekerja dan muaranya kemudian adalah pada peningkatan produktivitas. Di sisi lain, produktivitas juga didorong oleh pemberdayaan tenaga-tenaga muda di masa pendidikan agar dalam 1-2 tahun lebih siap menghadapi dunia kerja. Dan pada akhirnya, generasi yang lebih cerdas tentu akan membentuk bangsa yang bekerja cerdas dan negeri ini dapat menjadi jauh lebih produktif dari sebelumnya. Semoga.

Pengalaman Perdana Konferensi Internasional

Konferensi Internasional – Kurang lebih 2 bulan blog ini nyaris tidak berisi. Selain memang tidak ada orderan (wkwk~), tapi masalah utamanya adalah saya sibuk mengerjakan tesis. Dan sebagai bagian dari tesis biar kelihatan keren, saya mengikutsertakan bagian dari tesis saya ke sebuah konferensi internasional.

Salah satu faedah dari menjadi penerima beasiswa LPDP adalah biaya untuk mengikuti konferensi internasional dapat diklaim. Pas belum pandemi, beberapa teman bahkan sudah berangkat ke Singapura dan Malaysia untuk mengikuti konferensi internasional dengan biaya ditanggung oleh LPDP.

Apa daya, saya kuliahnya di masa pandemi~

Ya, maksud hati untuk jalan-jalan ke LN pada akhirnya tiada bisa diwujudkan. Namun di sisi lain, saya jadi bisa mengikuti konferensi di manapun tanpa harus mikir ada uang tambahan atau tidak buat mengganjal minus kalau misal harus konferensi ke Eropa.

Maka kemudian setelah cari demi cari dan dikabarkan pula oleh salah seorang dosen jadilah saya mendaftarkan diri ke salah satu konferensi internasional yang rupanya cukup hits di kalangan akademisi bidang administrasi publik, namanya IRSPM.

Jadi, dua bulan kosong di blog ini salah satunya adalah karena fokus menyelesaikan data dan kemudian menyusun paper dalam Bahasa Inggris. Sesuatu yang baru sekali ini saya lakukan. Mana disambi ngurus anak juga, kan.

Konferensi ini terbilang cukup murah, apalagi karena Indonesia dianggap sebagai negara yang harus diberi diskon. Tarif registrasi untuk mahasiswa asal Indonesia adalah yang paling murah. Kurang lebih “hanya” 800 ribu lebih segelas kopi kekinian. Saya harus bilang “hanya” karena memang tarif itu sudah paling murah.

Masalahnya kemudian tarif yang murah ini ternyata pada akhirnya tidak bisa saya klaim ke pemberi beasiswa. Ada pasal utama bahwa konferensi yang ditanggung adalah yang memiliki prosiding. Dan di awal memang tidak ada informasi itu dari si konferensi. Ketika saya sudah mendaftarkan diri, pada akhirnya dapat email yang menyatakan bahwa memang tidak akan ada prosiding di konferensi ini. Jadi ya mau dipakai untuk syarat ujian tesis juga nggak bisa, diklaim ke pemberi beasiswa juga nggak bisa.

Ya, santai saja sih. Saya kemudian menganggapnya sebagai bagian dari jajan akademis saja. Toh sama LPDP saya juga diberi uang buku yang nominalnya cukup besar. Dianggap saja ngambil dari situ.

Di konferensi internasional ini, kurang lebih ada 400 judul yang berkeliaran dengan kurang dari 10 judul asal Indonesia. Ya, beneran sesedikit itu. Serunya, saya bisa berada di satu konferensi, walaupun beda panel, dengan dosen saya dan beberapa dosen lain yang biasanya hanya bisa saya sitir pendapatnya di paper atau artikel populer. Ada kemungkinan paper saya bisa masuk karena saya memasukkannya lewa jalur Panel New Researcher. Panel ini adalah panel dengan peserta terbanyak di konferensi ini.

Tadinya sudah merendahkan diri sendiri karena memang yang tersingkir di panel ini hanya 10 judul. Ibarat 50 daftar, 40 diterima. Gitu kira-kira. Cuma, begitu saya lihat bahwa yang satu panel sama saya pun adalah para asisten profesor atau orang-orang yang tengah post-doktoral, jadinya saya kok nggak merasa minder-minder amat.

Pengalaman ini cukup menarik karena merupakan kali pertama saya presentasi dalam Bahasa Inggris. Kali pertama pula saya bikin paper full Bahasa Inggris. Dan ternyata saya bisa, walaupun tentu banyak kelemahannya.

Masih ada waktu 4 bulan untuk mengeksplorasi diri sebelum kembali ke dunia nyata kerja. Semoga waktu yang ada bisa saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Digitalisasi BPJS Kesehatan Sebagai Potret Transformasi e-Government di Indonesia

Digitalisasi BPJS Kesehatan sesungguhnya merupakan topik menarik dalam perspektif administrasi publik pada umumnya dan e-Government pada khususnya. Alasan pertama tentu saja karena yang diurus adalah kesehatan, suatu sektor yang sangat krusial dalam kehidupan manusia. Alasan berikutnya, seluruh core business dari BPJS Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi itu sendiri.

Oh, kita tentu tidak sedang membahas perkembangan teknologi kedokteran. Walaupun BPJS Kesehatan membiayai suatu tindakan medis, tapi ranahnya bukan itu. Kita juga tidak sedang membahas formularium obat yang proses penyusunannya melibatkan banyak pakar dari berbagai institusi.

Pembahasan kita adalah pada proses bisnis BPJS Kesehatan yang mengumpulkan uang, mengelolanya, dan menggunakannya ketika memang benar-benar dibutuhkan. Tampak sederhana, tapi tentu tidak sederhana ketika yang diurus adalah 221.471.196 peserta (data per 31 Januari 2021) dengan rincian sebagai berikut:

Boleh dibilang, BPJS Kesehatan menjadi contoh pelayanan publik dengan peserta terbanyak se-Indonesia Raya. Kalau dibandingkan dengan e-KTP, akte kelahiran, dan sejenisnya, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan dinas kependudukan dan pencatatan sipil di daerah, yang notabene adalah bawahannya Kepala Daerah. Bebannya banyak, tapi tetap masih ada pembagiannya.

Belum lagi, berbeda dengan layanan seperti e-KTP, sebagian publik yang dilayani BPJS adalah peserta yang membayar setiap bulan secara rutin. Ketika publik membayar atas sesuatu, maka publik akan lebih demanding. Dengan kata lain, publik yang dilayani BPJS Kesehatan itu akan cenderung lebih banyak komplainnya dibandingkan layanan publik lainnya. Di sisi lain, jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini punya dampak sosial yang luar biasa.

Hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa penduduk Indonesia pada September 2020 adalah 270,2 juta jiwa. Artinya, peserta BPJS Kesehatan jumlahnya sudah lebih dari 80% penduduk Indonesia dan semuanya itu diurus sendiri oleh BPJS Kesehatan.

Dengan beban kerja seberat itu, tanpa digitalisasi, sudah fix bakal ambyar. Kebayang dong jumlah kertas yang harus disiapkan dan dihabiskan untuk mengurusi pendaftaran, pembayaran iuran, hingga klaim dari 80% penduduk Indonesia jika layanan BPJS Kesehatan tidak didigitalisasi? Belum lagi pengelolaan iuran dari puluhan juta peserta mandiri yang tentu saja tidak terima apabila uang iuran itu tidak dikelola secara akuntabel.

6 Core Business BPJS Kesehatan

Seperti telah dijelaskan bahwa urusan BPJS Kesehatan itu banyak, tapi dalam tulisan ini mari kita fokus pada core business saja. Jadi, urusan pengadaan kertas buat operasional sehari-hari, dll tidak kita kulik.

Dari gambar di atas sebenarnya kembali terlihat urgensi digitalisasi. Sebab, harus ada data yang konsisten sejak layanan kepesertaan hingga pada pelayanan kesehatan yang dimaksud. Sehingga sejalan dengan yang pernah saya ceritakan sebelumnya saat periksa ginjal dengan dokter spesialis, datanya juga jelas perihal saya itu dirujuk dari fasilitas kesehatan mana, dengan gejala dan kebutuhan apa, di dokter spesialis mendapatkan treatment apa, dan lain-lain.

Ujung-ujungnya tentu agar saya sendiri bisa mendapatkan layanan kesehatan yang baik. Di sisi lain, rumah sakit yang melayani juga mendapatkan imbal jasa yang pas dengan treatment yang diberikan. BPJS Kesehatan sendiri juga mengeluarkan dana pada jumlah yang tepat sesuai treatment yan saya terima.

Sejujurnya ini agak mirip PPIC, kalau diceritakan satu per satu terlihat gampang. Tapi begitu dimasukkan pada realitas bahwa yang diurus adalah ribuan produk, ya jadinya pusing juga.

e-Government

Sebelum lebih lanjut mendalami digitalisasi, mari kita bahas sejenak soal e-Government. Sederhananya, electronic government alias e-Government alias lagi e-Gov merupakan penggunaan teknologi informasi oleh institusi di pemerintahan yang mampu mengubah relasi dengan warga negara, dunia usaha, hingga bidang pemerintahan lainnya. Kurang lebih begitu kalau menurut World Bank.

Seperti perkembangan lain di bidang administrasi publik, tadinya e-Gov diimplementasikan di negara maju. Ketika di negara maju sudah cukup mapan, negara berkembang hingga negara miskin kemudian merasa butuh juga. Salah satu metode yang cukup sering digunakan untuk mendorong implementasi e-Gov adalah dengan ‘memaksa’ negara miskin dan berkembang untuk menerapkan e-Gov jika hendak menerima pinjaman maupun bantuan dari negara maju. Lewat metode ini, e-Gov kemudian berkembang.

Konsep e-Gov sendiri tidaklah sesederhana layanan publik via internet seperti kita mengurus paspor daring atau menggunakan layanan BPJS Kesehatan via aplikasi Mobile JKN sebagai wujud hubungan Government to Citizens (G2C). Walaupun memang layanan itulah yang dirasakan oleh publik secara langsung.

Pada saat yang sama, G2C itu juga berkelindan dengan Government to Government (G2G) dan Government to Business (G2B). Dalam hal layanan BPJS Kesehatan, G2B-nya antara lain pengadaan barang/jasa untuk operasional BPJS Kesehatan. Sedangkan G2G-nya adalah relasi antara Kementerian Keuangan atau Kementerian Kesehatan.

Kehadiran e-Gov ini berangkat dari perkembangan paradigma New Public Management (NPM) yang ‘swasta banget’ sehingga efisiensi, kecepatan, dan transparansi menjadi kunci. Tidak heran pula bahwa dalam implementasi e-Gov, banyak konsep-konsep yang berangkat dari penerapan pada perusahaan swasta seperti yang paling sederhana: Customer Relationship Management. Dulu-dulu kalau menerima layanan pemerintah, ya harus manut apapun masalahnya. Sekarang? Bahkan ada kanal pengaduan pelanggan segala!

Digitalisasi Sektor Kesehatan

Perkembangan e-Gov kemudian juga masuk ke sektor kesehatan. Sebagaimana pada bidang lain, tentu ada disrupsinya. Sekarang kalau kita ke RS, sudah jarang membawa resep sendiri ke bagian farmasi untuk ditebus. Pada umumnya dokter sudah mengisi di sistem, lalu pada saat yang sama bagian farmasi mendapat informasinya, lantas mempersiapkannya. Dampaknya buat kita sebagai publik? Tentu saja, pelayanan jadi lebih cepat! Sering terjadi kita selesai mengurusi pembayaran, pas mampir ke farmasi, obatnya sudah tersedia. Walaupun pada prosesnya tentu muncul kerentanan di sana-sini sebelum akhirnya adaptasi terjadi.

Van Velthoven dari University of Oxford menyebut digitalisasi telah mengubah masyarakat secara revolusioner yang bahkan tidak pernah terbayangkan 1 abad silam, dengan mampu menyasar isu-isu lama seperti mutu layanan hingga biaya. Kotarba dari Warsaw University of Technology mengidentifikasi lima dimensi penting dalam digitalisasi yakni ekonomi, masyarakat, industri, enterprise, dan klien. Adapun e-Gov sendiri hadir sebagai elemen dari dimensi masyarakat. Aspek ini adalah yang utama dan paling mudah dinilai publik, sementara institusi pemerintah termasuk BPJS Kesehatan tetap harus sibuk mengembangkan 4 dimensi lainnya. Lagi-lagi, ujungnya sebenarnya adalah agar publik menerima layanan yang lebih baik dan kalau bisa malah terbaik sekalian.

Pada awal BPJS Kesehatan hadir, cukup banyak proses yang menuntut masyarakat mengurus segala sesuatu secara manual. Tidak usah jauh-jauh, ketika saya mengurusi tambahan kartu pada tahun 2018 untuk anak, ya tetap harus izin dari kantor dan mengantri ke kantor BPJS yang paling dekat dengan kantor. Model pelayanan seperti ini yang harus ditekan seminimal mungkin meskipun tentu tidak pula harus dihilangkan.

Dalam prosesnya, saya melihat dan mengalami sendiri betapa digitalisasi BPJS Kesehatan terasa langsung di gawai. Paling gampangnya adalah saya bisa melihat diagnosis dokter ketika memeriksakan diri menggunakan BPJS untuk kejadian yang bahkan sudah lewat 3 tahun. Hal ini mungkin tampak sepele, tapi dalam dunia kesehatan, riwayat tersebut sangatlah penting. Tidak selengkap rekam medis di fasilitas kesehatan tentu saja, tapi sudah cukup membantu peserta.

Transformasi Digital BPJS Kesehatan

Nah, perkembangan e-Gov tadi semakin didorong cenderung dipaksa oleh kehadiran pandemi COVID-19. Bagaimana tidak, wong kita diminta untuk sebisa mungkin di rumah saja, padahal banyak urusan yang harus jalan terus. Hampir semua instansi pemerintah bergerak lebih kencang karena didorong oleh kondisi tersebut, termasuk tentu saja BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan sendiri kalau menurut saya sudah cukup ciamik e-Gov-nya dari dulu, seperti misalnya sudah bisa pindah faskes hanya pakai aplikasi dan tidak perlu ke kantor. Termasuk juga tidak perlu bawa kartu kemana-mana, cukup pakai aplikasi. Di era pandemi ini, BPJS Kesehatan juga mendorong peserta JKN-KIS untuk menggunakan layanan digital. Selain Mobile JKN yang tadi sudah saya kisahkan, ada juga BPJS Kesehatan Care Center 1500400, masih ada pula Chat Assitant JKN atau CHIKA, Voice Interactive JKN atau VIKA, sampai dengan Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp atau PANDAWA.

Pilihan-pilihan tersebut sangat penting untuk disediakan oleh BPJS Kesehatan. Data Digital 2020 menyebut bahwa penetrasi internet di Indonesia ada di angka 64% dengan rata-rata waktu yang dihabiskan dalam sehari untuk menggunakan internet di gawai masing-masing mencapai 4 jam dan 46 menit! Alternatif-alternatif layanan yang sejalan dengan karakteristik masyarakat menjadi penting dalam upaya meningkatkan engagement dengan publik yang merupakan peserta BPJS Kesehatan. Ambil contoh PANDAWA, kehadiran layanan itu sangat masuk akal ketika disandingkan dengan data Digital 2020 bahwa 84% pengguna media sosial di Indonesia memakai WhatsApp. CHIKA dan VIKA bahkan sudah berteknologi artificial intelligence (AI) sehingga semakin relevan pula dengan perkembangan zaman.

Digitalisasi di BPJS Kesehatan juga menjadi jawaban dari sejumlah permasalahan yang dalam beberapa tahun terakhir diidentifikasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Pada Ikhtisar Hasil Pemeriksaan BPK RI Semester I Tahun 2020 disebutkan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian seperti optimalisasi pemutakhiran dan validasi kepesertaan maupun pentingnya verifikasi klaim layanan yang didukung sistem pelayanan dan sistem kepesertaan yang terintegrasi dengan andal.

Pada akhirnya harus dipahami bahwa #DigitalisasiBPJSKesehatan bukanlah pekerjaan sekali jadi, melainkan senantiasa berkesinambungan. BPJS Kesehatan sendiri pada akhirnya harus juga dapat agile guna bisa beradaptasi dengan baik pada transformasi yang dibutuhkan sejalan dengan perkembangan dunia kesehatan hingga ekspektasi dari masyarakat sebagai peserta, terutama dalam elemen kecepatan dan ketepatan pelayanan.

Ketika pelayanan tepat dan cepat, maka peserta senang, fasilitas kesehatan juga senang, termasuk BPJS Kesehatan pun turut senang. Menyenangkan sekali, bukan?