Kenali Makanan Penyebab Masalah Alergi Anak

screenshot_301

Anda pastinya tahu bahwa alergi merupakan suatu kondisi dimana tubuh mengalami hal yang tidak wajar yang disebabkan zat-zat asing tertentu sehingga menimbulkan gejala yang tidak wajar. Hal ini seringkali ditemui pada anak-anak yang memang rentan terhadap segala macam zat dan sistem kekebalan tubuh mereka memang belum sempurna. Masalah alergi anak ini juga lebih sering disebabkan karena makanan daripada hal lainnya seperti bulu binatang maupun debu rumah.

Karena masalah alergi pada anak ini sangat penting Anda ketahui terutama yang disebabkan oleh beberapa makanan yang sering menyebabkan alergi, maka berikut beberapa ulasan jenis makanan yang seringkali menjadi penyebab alergi pada anak Anda:

1. Telur

Seorang anak biasanya mengalami alergi terhadap telur disebabkan karena suatu reaksi yang ditimbulkan sebab vaksin yang sebelumnya ditanam pada suatu kuning telur, misalnya vaksin campak.

2. Ikan

Selain telur yang seiring menjadi makanan alergi pada anak-anak adalah ikan. Banyak yang mengalami alergi pada ikan dan seringkali dijumpai suatu reaksi dari alergi makanan yang satu ini adalah asma. Selain ikan, biasanya makanan sejenis lainnya yakni makanan laut yang seringkali menjadi penyebab alergi pada anak-anak adalah lobster, udang, dan masih banyak jenis seafood laut lainnya.

3. Kacang-kacangan

Kacang-kacangan juga seringkali menjadi makanan yang menyebabkan alergi meskipun seringkali menimbulkan reaksi yang sifatnya sangat ringan seperti muncul gatal-gatal pada bagian tenggorokan. Namun hal tersebut sangat mengganggu terutama untuk anak-anak. Hal tersebut disebabkan kacang memiliki sifat yakni alergenitsnya begitu rendah Selain itu jenis makanan yang satu ini juga seringkali sebagai pengganti susu sapi yang mana sifat alergenitas pada kacang mampu berkurang jika terkena suhu panas.

4. Susu sapi

Untuk makanan yang satu ini pastinya sudah banyak yang tahu dan tidak asing lagi sebagai reaksi yang menyebabkan alergi pertama pada anak-anak, terutama untuk yang berada di bawah satu tahun seringkali masalah alergi ke dokter alergi anak terbaik. Untuk itu, Anda sebagai orang tua perlu selektif dalam memilih jenis susu sapi untuk anak Anda. Pilihlah susu SGM yang sudah diformulasikan khusus dan banyak pilihan bagi para penderita alergi.

Advertisements

Menjadi Pengguna Taksi Online Nan Budiman di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

screenshot_211

Akhir tahun silam, ada waktu ketika saya berada di bandar udara internasional Soekarno-Hatta setidaknya satu pekan sekali. Jenuh adalah suatu keniscayaan. Penat, pasti. Saya bahkan hafal bahwa vending machine selepas x-ray di Terminal 3 Ultimate itu nggak terima uang sama sekali, pajangan doang. Kalau mau pakai vending machine, di bawah saja, bahkan terima uang yang nyaris remuk.

Walau begitu, saya tetap bersyukur diberi keselamatan meski telah wira-wiri kesana dan kemari. Plus, saya merasakan aneka kisah dalam waktu singkat mulai dari delay 2,5 jam untuk penerbangan 30 menit ke Tanjung Karang hingga numpang nonton film di dalam GA606 sebelum kemudian turun dan lantas pulang ke rumah dengan bahagia.

Nah, salah satu hal yang saya amati di bandar udara Soekarno-Hatta adalah penggunaan taksi online, baik itu Uber, GrabCar, hingga Go-Car. Sudah menjadi rahasia umum bahwa taksi online sebenarnya haram hukumnya beredar di sekitar bandara tersibuk se-Indonesia itu. Begitu banyak kisah driver Uber, GrabCar, dan Go-Car yang keciduk petugas dan lantas mendapatkan sanksi.

Walau demikian, orderan tetap saja jalan. Sejauh inipun, saya bisa menikmati layanan taksi online tanpa kendala. Berdasarkan curhat para driver, sejatinya masalah utama justru ditimbulkan oleh calon penumpang sendiri, dan itupun saya alami dengan jelas kala bersama teman-teman dari kalangan gadis-gadis belia menuju tua.

Continue reading

Untunglah Indonesia Tidak Juara

finale

Menurut kabar, Indonesia sedang berduka karena kegagalan (lagi) tim nasional-nya PSSI untuk menjuarai Piala AFF 2016. Kalau menurut Ahmad Dhani dalam salah satu lagunya–dengan sedikit penyesuaian, “seperti final-final yang sudah-sudah”. Agak beda kisah dengan 2010 kala kita begitu jumawa di lapangan sejak awal namun kemudian bubrah di Kuala Lumpur, meski kemudian menang di Jakarta. Kali ini, kita bahkan tidak mendukung tim nasional kita sendiri pada awalnya. Apalagi pada pertandingan pertama kalah, pertandingan kedua seri dengan menggemaskan, pertandingan ketiga ketinggalan duluan sebelum kemudian berjaya via gol Andik dan Lilipaly.

Lagi-lagi Indonesia tumbang di final, tapi dengan segala latar belakang yang menyertai, sebenarnya dan seperti biasa orang Indonesia kita harus melihat keuntungan dari tidak juaranya Indonesia dalam Piala AFF kali ini.

Tanpa Kompetisi Resmi

Sejak dicabut pembekuannya oleh FIFA, PSSI belum lagi menggelar kompetisi resmi. Negeri ini hanya mengenal Indonesia Soccer Championship yang berformat ala kompetisi sebagai tempat para pemain berkreasi di lapangan. Pemain-pemain yang ada sebagian besar adalah pemain di kompetisi itu. Ya, walaupun bosnya liga adalah orang-orang yang itu-itu juga dan masih eksis di PSSI terkini, namun bagaimanapun secara jelas dan terang bahwa liga nan resmi, nan berjenjang, dan berada dalam naungan federasi, serta kemudian juaranya dapat bermain di AFC Cup tidak ada sama sekali. Jika Indonesia juara, tentu menjadi justifikasi kurang baik bahwa tidak butuh kompetisi resmi untuk menghasilkan tim yang juara di ASEAN.

Continue reading

Badan POM dan Bebiluck: Simpati yang (Seharusnya) Sama

simpati

Sedang duduk pasca mengarungi lautan polusi di ibukota, tetiba saya mendapat broadcast di grup WhatsApp. Pesan panjang yang biasanya malas saya baca. Kalau saja broadcast itu muncul di grup FPL Ngalor Ngidul, saya tinggal komentar, “Tulung disimpulke (tolong disimpulkan)”. Masalahnya, ini muncul di grup yang berbeda dan kala membacanya saya kok jadi trenyuh sendiri. Ya, kebetulan saya hobinya memang mengenang.

Broadcast itu berjudul “Sejarah Kami adalah Sejarah Cinta Ibu Kepada Anaknya” ditulis oleh Lutfiel Hakim kalau menurut tulisan pada pesan yang saya terima. Intinya, broadcast ini adalah suara dari pemilik makanan bayi Bebiluck yang belum lama ini didatangi oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan di Serang dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) karena produknya tidak memiliki Nomo Izin Edar (NIE).

Saya membaca kisah Pak Lutfiel ini berulang kali karena nggak ada kerjaan, termasuk perihal awal mula makanan bayi, dan perspektif saya adalah broadcast ini merupakan kebenaran, alias bukan hoax layaknya banyak pesan broadcast lain yang menuh-menuhin gawai saya.

Seketika saya bersimpati dengan Bebiluck dan saya yakin banyak pembaca juga berlaku sama. Bagaimana tidak? Dalam usaha menangani makanan bayi yang tergolong risiko tinggi, aneka usaha telah dilakukan. Mulai dari membuka CV untuk penerbitan SIUP, konsultasi dengan Dinas Kesehatan hingga mendapatkan izin PIRT, hingga uji laboratorium Dinas Kesehatan.

Masih dalam tulisan yang sama, ada ahli pangan yang direkrut, badan usaha diganti menjadi PT, melakukan uji laboratorium di TUV Nord, hingga mendapatkan sertifikat halal LPPOM MUI. Sebagai mantan auditor halal internal, saya sedikit-sedikit paham sih dengan soal halal ini, makanya saya langsung cek ke Daftar Produk Halal terkini, dan memang ada nama Bebi Luck atas nama CV. Hasanah Bebifood Sejahtera, pada laman ke-314 file bertipe pdf dalam tabel LPPOM MUI Banten.

Selengkapnya!

Istilah CASN: Sesuai Dengan Peraturan Atau Tidak?

Ada cukup banyak hal yang bikin geli di dunia ini, selain bulu babi dan bulu ayam yang dielus-eluskan di telapak kaki. Demikian juga melihat Chelsea Olivia maupun mantan terindah nikah duluan, itu juga geli. Geli-geli ngilu. Naik OOM ALFA apalagi, geli banget itu, mah. Well, salah satu hal yang bikin geli akhir-akhir ini–setidaknya buat saya–adalah penggunaan istilah CASN.

Munculnya istilah CASN sebenarnya sejalan dengan munculnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Sehingga banyak yang bilang bahwa sekarang nggak ada lagi PNS, nggak ada lagi kenangan, nggak ada lagi mantan, adanya ASN. Ini lucu, karena di dalam UU ASN sendiri, dalam Pasal 6 disebut bahwa:

Pegawai ASN terdiri atas:
a. PNS; dan
b. PPPK.

Upload_1

Jadi, istilah PNS itu sebenarnya masih ada, hanya ditambahkan ruang lingkup besarnya ke dalam ASN bersama dengan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Maka, menyebut bahwa sekarang istilahnya bukan lagi PNS tapi ASN itu boleh dibilang tidak cocok sama UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN. Istilah PNS itu masih ada, kok. Masih eksis bahkan di dalam UU yang katanya meniadakan istilah PNS itu.

Selengkapnya!

Insadha: Cerita Ospek Tanpa Kekerasan

Hey! Kamu yang disana menatap lurus bagai peluru
Hey! Singsingkan lengan baju membangun negeri dengan karyamu
Tunjukkan pada dunia bahwa dirimu bisa

Hey! Janganlah engkau raihlah ilmu teruslah maju
Hey! Jadikan hari ini ukiran sejarah bagi hidupmu
Tunjukkan pada dunia bahwa dirimu bisa

Salam Insadha kuucapkan hanya padamu
Salam Insadha kutunjukkan hanya untukmu
Lewati masa ini membangun dunia ini
Bersatu kita dalam Salam Insadha

Lagu yang liriknya tertera di pembuka posting ini pertama kali saya dengarkan bulan Agustus, sebelas tahun silam, via suara emas Mas Kongko yang mirip Duta Sheila on 7. Dan ajaibnya, saya masih hafal, bahkan di beberapa bagian saya masih ingat gerakannya. Bagian ‘Hey!’ dipraktekkan dengan meletakkan kedua telapak tangan di depan bibir layaknya memanggil orang dari jarak jauh. Part ‘membangun negeri’ dilantunkan sambil membentuk segitiga di atas kepala dengan dua tangan, dilanjutkan dengan ‘dengan karyamu’ sambil macak binaragawan dengan pose paling klasik. ‘Salam Insadha’ dinyanyikan sambil melompat kiri kanan sambil dadah-dadah. Bahkan ada bagian kita selalu mahasiswa baru nan jomblo bisa bergandengan tangan dengan siapapun yang ada di sebelah kita. Uhuk!

sumber: debbynataya.wordpress.com

sumber: debbynataya.wordpress.com

Yes, sesudah selamat dari kemungkinan mengalami MOS yang gaib dan tidak berkonsep di SMA karena saya mengalami Inisiasi yang keren, saya terselamatkan lagi dari Ospek dengan sok-sokan pakai topi bertali rafia serta tas dari karung. Orientasi alias pengenalan lingkungan yang saya alami ketika menjadi anak baru di universitas menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan yang digambarkan mengenai Ospek. Kala itu, sebelas tahun silam, saya masuk ke Universitas Sanata Dharma, dan menjadi peserta Inisiasi Sanata Dharma atau yang terkenal dengan nama Insadha.

Selengkapnya tentang Insadha!

Cerita MOS di Kandang Manuk

Blog ini sudah sesepi hati CPNS yang gagal mendapatkan kekasih pada saat prajab. Saya lalu bingung, mau menulis apa pula. Scroll punya scroll, lagi marak membahas tentang yang namanya MOS alias Masa Orientasi Sekolah (atau Siswa? Mbohlah). Sebagai anak muda peralihan Orde Baru ke Orde Antah Berantah, bisa dibilang saya berada di era MOS dimulai. Persis sebelum angkatan saya, setiap anak muda yang baru masuk SMP kudu ikut kegiatan bertajuk Penataran P4. Beuh!

Sekolah+De+Britto,+Yogyakarta,+2009Apa yang saya dapat ketika MOS di SMP? Yeah, kakak kelas yang kebablasan! Sangat kebablasan karena tidak ada satupun nilai edukatif yang muncul. Saya ingat benar, beraneka ragam rupa kakak kelas mendekati saya dan mengoleskan kapur tulis basah ke pipi, hidung, dan segala tempat yang tersedia di muka saya nan hina. Saya adalah anak dengan noda kapur terbanyak. Kenapa? Karena saya anak guru PPKn. Mungkin mereka dendam. Bisa jadi.

Tiga tahun berlalu, saya lantas kabur ke sebuah kota yang sekarang sudah penuh hotel sampai ke jalan-jalan tikus. Sudah penuh mal juga, sampai-sampai harus pakai nama orang jadi nama mal. Dahulu, empat belas tahun silam, hal itu tidak ada. Dalam perjalanan dari rumah Simbah ke sekolahpun, saya masih bisa melihat ular berganti kulit hingga jomblo yang menangis.

Pekan-pekan awal tentu tidak mudah, apalagi di sebuah sekolah menengah yang punya status kandang manuk alias semua siswanya punya burung. Ya, benar-benar tidak mudah, apalagi bagi anak kampung macam saya.

Acara wajib bernama MOS tetap ada, namun MOS yang sebenarnya justru ada beberapa hari kemudian, sepulang sekolah sampai malam hari. Sebuah acara yang bernama INISIASI. Acara Inisiasi ini tentu saja berbeda dengan MOS yang pernah saya alami, pun dengan Kamus MOS yang jamak beredar saat ini. Makanya saya mau cerita sedikit-sedikit. Sesedikit pembaca dan pembeli buku saya OOM ALFA. (Uhuk! Beli dong! Di Playstore akan kok!)

Inisiasi di Kandang Manuk dimulai dengan acara baris-berbaris di PBB. Cukup wagu, apalagi dibandingkan dengan stigma bahwa sekolah ini cuma upacara sekali dalam setahun. Tapi namanya anak baru, apa-apa ya diikutin saja, termasuk ketika Tutor yang mengajari PBB bahkan skill PBB-nya masih kalah dari anak Sempe Tupa (SMP Tujuh Payakumbuh) yang jadi lawan SMP saya di LASP3 2000.

Namun kiranya PBB itu hanya secuil, sebenar-benarnya cuil dari rangkaian total kegiatan. Kok gitu? Masih ada tugas membuat call-card. Masalahnya mungkin bukan di terminologi “membuat call-card”, namun lebih kepada seperti apa benda itu akan dibuat. Patokan bentuk, sih, ada. Namun ukurannya bikin dahi berlipat layaknya perut PNS kekinian. Untuk mendapatkan satu angka–sebutlah–2 cm, itu harus menyelesaikan persamaan yang kira-kira begini:

Jumlah lampu di kelas 7A + (Jumlah jengkal panjang aula/Panjang teralis loket pembayaran yang sekolah) – Keliling pohon talok dekat WC dalam Inchi

Ya, semacam itulah kira-kira.

Itu baru call-card. Pada akhir hari, anak-anak muda yang sebagian diantaranya tidak tahu apa-apa tentang kota yang baru 1-2 pekan ditinggalinya harus mencari benda-benda yang tidak aneh. Namun benda-benda biasa itu menjadi tidak biasa ketika ada keharusan merk tertentu yang bahkan belum pernah saya dengar sama sekali. Dua yang saya ingat adalah Kopi Susu merk Ya! dan Mie Instan Gurimi. Butuh keliling kota untuk menemukan benda-benda itu semua.

Semuanya itu masih ditunjang oleh kewajiban membawa kantong kresek sebagai wadah barang yang diwajibkan untuk dibawa itu. Dan tentu saya bukan sembarang kantong kresek karena dari sekian kelompok yang ada harus membawa kresek dari toko yang berbeda-beda. Mulai dari Gramedia, Gelael, Ramayana, hingga–toko legendaris yang kiranya lebih luas dari Mal Lippo Cikarang–Gardena. Susah, sungguh susah. Apalagi senior yang mendiktekan list itu adalah sekelas Thoni Chandra yang sekarang kerja saja di luar negeri.

Lucunya, benda-benda aneh itu selalu berhasil saya dapatkan pada jam pelajaran oleh kawan-kawan nan baik hatinya. Sepanjang inisiasi, hanya 1 barang yang luput saya bawa dan itu sesungguh-sungguhnya sepele: gula 1/4 kilogram. Fak!

Sepanjang inisiasi, tekanan hidup sungguh luar biasa. Teriakan dari Seksi Tatib membahana kesana kemari dengan lantangnya. Bayangkan, pintu baru dibuka, sudah dibengoki “Ayo, Cepat!”. Sudahlah disuruh cepat, begitu lewat anak tangga, dibengoki meneh, “Tangga jangan dilompati!”. Melirik sedikit ketika baris juga kena damprat, minimal kena plirikan. Dipikir-pikir mau melirik apa, isi aula itu kan lelaki semua. Beuh. Pas giliran snack juga bukannya enak. Bagaimana bisa enak kalau kita makan lemper sambil diteriaki supaya cepat, belum lagi dengan faktor minuman berupa teh yang panas. Belum lagi ketika menyanyikan jingle yang gerakannya asli lucu, tapi kita nggak boleh ketawa. Senyum dikit, maka “Apa kamu senyum-senyum?”

Ketika lantas tiba saat menginap dan masuk sesi mandi sore, fenomenanya makin keren karena memaksa para peserta untuk bisa mandi secara mangkus dan sangkil. Baru masuk WC sedetik, sudah diketok, “Ayo, Cepat!”. Lha edan. Guna memperingkas keadaan, maka di dalam WC yang kurang dari 2 kali 2 meter itu berjejal 4 manusia yang sama-sama berbelalai tidak panjang dengan aktivitasnya masing-masing. Entahlah. Kok yo iso. Aku yo heran. Bagian paling epik dari aktivitas ini adalah ketika ada sempak yang ketinggalan, dan kemudian diangkat-angkat di dalam aula dengan pertanyaan, “Punya siapa ini?”. Sungguh pertanyaan yang menusuk harga diri pemilik sempak.

Seluruh kegiatan dan kegilaan akan ditutup ketika pagi-pagi buta, para lelaki itu disuruh bangun dari tidurnya yang kademen karena harus bobok di ruangan yang tembok kelasnya cuma separo. Di kegelapan pagi itu, mereka harus bertelanjang dada dan pergi ke lapangan bola. Di lapangan bola, mereka lantas guling-guling dan entah apalagi yang dilakukan hingga kemudian tiba saat berbaris. Satu demi satu lelaki itu maju, memasukkan call-card yang digarap dengan sepenuh jiwa dan setengah misuh ke dalam api, kemudian mereka diguyur air berikut bendera merah putih. Ada janji dan ada komitmen. Sejak saat itu, batas senioritas bisa dikatakan pupus sudah. Perkara ada hal-hal yang dibawa ke daerah sekitar LPP, itu ranah yang berbeda.

Pernah saya dihantam oleh kakak kelas dalam rangkaian itu? Tidak sama sekali. Dipliriki sih sering. Tapi mengingat MOS sampah yang saya alami di SMP semata-mata karena saya anak guru, Inisasi yang saya dapat justru tampak maknanya. Kresek dan benda-benda biasa bermerk aneh itu memang dikaji agar anak yang baru masuk kota itu berkeliling benar-benar. Dipaksa untuk mengitari tempat yang akan dihuninya selama setidaknya 3 tahun ke depan.

Ketika lantas berada di pihak yang berbeda, saya melihat profilnya dengan jelas. Yah, meladeni arem-arem kepada lelaki muda yang mau makan saja tertekan itu tidak mudah. Menuang teh panas ke gelas saat yang akan meminumnya kudu buru-buru menghabiskannya juga mengiris hati. Atau ketika lantas jadi Tutor, tahu bahwa ada diantara anak di kelompok yang dulunya Pramuka tangguh. Pun dengan mendapati anggota kelompok yang kebingungan dan menyembunyikan diri ketika tidak membawa suatu benda yang disuruh. Ya, seru saja, tahu dua sisi semacam itu.

Dalam periode itu, pernahkah saya dipermalukan dengan bikin kalung dari gayung? No! Ya, aneh-aneh tapi menurut saya tidak aneh yang dipaksa kayak di kampus anu yang memaksa mahasiswa baru untuk pakai topi dari bola plastik yang ditambahi rumbai-rumbai tali teyen. Fak sekali.

Soal kegiatan juga nggak main-main. Ada sesi diskusi dan semacam debat dari kelompok presentasi dan disanggah oleh teman lain di satu kelas. Di sesi diskusi inilah, saya pertama kali mengenal kata kunci abad ini: Asu.

Disitu menurut saya bedanya antara MOS yang disoroti sama Pak Anies Baswedan dan jajarannya dengan Inisiasi yang saya alami. Tidak pernah ada kekerasan fisik setidaknya selama tiga tahun saya terlibat. Kalau ada Tatib yang kebablasan misuh, dia akan berurusan dengan guru yang turut serta di sepanjang proses. Bahkan batas yang saya bilang pupus itu beberapa kali bablas jadi wagu ketika ada Tatib yang dua hari lalu bilang “Tangga jangan dilompati” malah berkata “Silakan dilompati”. Namanya juga anak SMA, pasti kebablasan, sih. Yang jelas, guru-guru selalu ada dan berbeda dengan saat saya SMP ketika para gurunya malah memasrahkan MOS kepada anak kelas 3. Guru-guru itu ada di setiap seksi, dan ada bintang utamanya. Ada Pak Guru yang sekarang kolumnis rajin sekaligus pengajar tentang kepenulisan kemana-mana. Ada juga Pak Guru Matematika yang kalau marah-marah malah kayak baca puisi, dulu kerempeng sekarang buncit. Ada juga Pak Guru agak bantet dan bangga bisa mempersunting etnis Tionghoa. Kontrol mereka membantu meredam niat balas dendam menjadi terarah. Menurut saya demikian.

Dengar-dengar, semakin Inisasi ini berada di Orde Baru, semakin keji dan lucu pengalaman yang dijalani peserta. Tentu saja saya tidak hendak bertestimoni karena tidak mengalaminya. Cukuplah saya menulis yang saya alami saja, tepat 14 tahun yang lalu. Melalui tulisan ini, saya hanya hendak menekankan bahwa keberadaan guru itu penting sangat, plus segala hal yang aneh-aneh itu pada prinsipnya tidaklah aneh ketika dasarnya jelas, bukan dasar turun-menurun dan lucu-lucuan belaka. Dengan begitu, MOS jadi sebenar-benarnya ajang untuk mengenal sekolah, teman-teman, sekaligus mengeksplorasi diri di tempat barunya. Mungkin Mas-Mas dan Adek-Adek yang mengalami hal berbeda, bisa share di komen ya.

Bagi Tuhan dan Bangsaku!

5 Hal Menarik dari PRJ 2015

Jakarta Fair alias Pekan Raya Jakarta 2015 telah usai. Untunglah tahun ini saya sempat ke PRJ setelah puluhan tahun tidak ke PRJ. Yes, jelas puluhan karena terakhir kali saya ke PRJ itu tahun 1989. Chelsea Islan–yang kalau gereja ke Gereja Santa–saja belum dibuat pada saat itu. Tenang saja, saya tidak berburu chiki 10 ribuan, saya malah tertarik sama AMDK yang iklannya menurut saya terlalu berlebihan bilang-bilang manis. Padahal, jelas saja lebih manis Chelsea Islan dan Maudy Ayunda. Ya, toh?

Sumber: Tribun

Sumber: Tribun

Nah, begitu saya mencecap (tsah) PRJ 2015, akhirnya saya menemukan beberapa fenomena menarik yang terjadi. Boleh jadi ini fenomena 2010, 2013, dan tahun-tahun lainnya. Namun saya tidak berani menyimpulkan, mending membuat kesimpulan pada kejadian yang memang saya lihat sendiri buktinya.

So, apa saja hal menarik itu?

1. Bayi-Bayi Merah Yang Tangguh

Namanya orangtua membawa anaknya ke tempat ramai itu biasa. Toh saya juga ke PRJ 1989 itu dalam usia saya yang baru 2 tahun lebih sedikit, adek saya jelas lebih muda lagi. Tapi saya juga nggak ingat sudah ngapain saja di PRJ 1989 itu, membaca saja saya belum bisa, apalagi menghitung sisa KPR.

Suelengkapnyuah!

Kisah Cinta Segitiga Tauke Karet di RS Charitas

Kurang lebih lima tahun yang lalu saya menjalani opname. Opname kesekian, sebenarnya, namun terhitung yang pertama bagi saya–dan semoga itu satu-satunya–ketika dewasa. Kalau waktu kecil, nggak usah dihitung, lha wong saya sudah sampai pada tataran matanya-putih-semua. Sebab musabab saya opname itu sungguh tidak elit. Vertigo. Tapi memang sangat memusingkan, bahkan untuk berjalan sudah tidak sanggup. Di otak saya isinya hanya Cefradoxil ratusan kilogram yang bikin saya ditelepon Pak Eko dengan pertanyaan klasik, “Itu kok datang lagi? Ini masih banyak lho.”

Ya, baiklah, ini bukan tentang vertigonya saya, tapi tentang kisah pada hari keempat saya dirawat. Kebetulan dengan asuransi InHealth, saya mendapatkan perawatan di kelas II–kalau tidak salah, dengan fasilitas satu ruangan berisi dua orang dengan satu televisi di tengah-tengahnya. Kebetulan juga saya kan tidak kabar-kabar ke rumah kalau sedang diopname, jadi benar-benar tidak ada yang menunggui. Hanya Mas Sigit, Boni, atau Jack yang datang, itu juga by request karena kehabisan sempak.

Nah, makhluk yang sama-sama terkapar di kamar yang sama dengan saya itu adalah seorang lelaki buncit, gondrong dengan tato di tangannya. Super sekali. Dia ditunggui oleh seseorang yang sama sekali berbeda dengan dia, dan selalu memanggil dengan, “bos”. Sudah jelas bahwa dia adalah orang upahan. Saya juga orang upahan sih, yang diupah untuk vertigo karena gudang penuh.

Pada hari keempat itu, kondisi sepi-sepi saja. Seperti Rumah Sakit pada umumnya. Kalau ajep-ajep itu namanya Alexis, bukan RS. Pada jam kunjungan tiba, muncullah seorang perempuan datang berkunjung. Semuanya lantas berjalan biasa-biasa saja. Saya pikir, ah, dia paling juga istrinya, atau cem-cemannya, atau mungkin mantan terindahnya. Saya? Ah, ditelepon sama pacar saja tidak kala itu, apalagi dibesuk. Untung sekarang sudah jadi mantan. HAHAHAHAHA

Saya tidak melihat ngapain aja si cewek itu di balik tirai. Yang saya tahu, penunggu si gendut ini pergi ke teras. Jadi berdua saja mereka di tempat itu. Bertiga sama saya, sih, di balik tirai. Siang-siang, panas pula.

Nah, tiba-tiba masuklah sesosok wanita ke dalam ruangan, dan bergegas menuju balik tirai sebelah saya. Syukurlah bukan ke tirai saya. HEUHEU. Saya pikir ini juga temannya, atau apanyalah. Ternyata itu cuma pikiran saya belaka, karena sejurus kemudian muncul dialog yang bikin saya trenyuh.

“Oh, jadi ini ya Koh, perempuan itu.” ujar perempuan yang baru datang tadi.

“Napo kau kesini?”

Terlontar dengan suara berat, sudah jelas si lelaki buncit itu.

“Aku nak jingok suami lah, Koh. Dio ni, nak jingok sapo disini?”

“Alah kau ni.”

“Koh, kalu dak karna anak kito, aku dak nak jingok kokoh. Eh, ado dio disini. Jadi gitu, Koh?”

Si lelaki diam.

“Sudahlah, Koh. Kalo memang nak samo dio ni, cerai kito dulu. Uruslah dulu. Jangan digantung cak ini.”

“Iyo. Iyo,” suara mengiyakan secara males terdengar.

“Capek badanku Koh ngurus anak kito. Kemaren dio sakit, ado Kokoh jingok? Idak. Idak, Koh.”

“Iyo. Aku lah tau.”

“Anak kito kemaren juara di sekolah, Koh. Kokoh idak tau jugo kan?”

Hening.

“Jadi sudahlah, Koh. Kalau lah memang nak samo dio ni. Atur, urus dulu cerai kito. Biar samo-samo lemak kito ni.”

“Iyolah. Iyo.”

“Kamu jugo. Tahu kan kalau Kokoh ini lah bebini?”

Hening (lagi).

“Ah, sudah. Pegi galo. Pegi,” usir lelaki yang sedang tidak bisa apa-apa itu.

Kedua wanita itu pergi. Benar-benar berlalu di depan mata saya. Meninggalkan sisa kehebohan yang bikin saya nggak jadi tidur siang itu. Sorenya, saya ngobrol dengan penunggunya, dan baru tahu kalau si Kokoh ini adalah Tauke karet, sebuah profesi yang jamak di Palembang dan sekitarnya. Pantas saja dia kaya, dan pantas saya dia kemudian ngelaba. Entahlah, itu urusan dia juga. Masalahnya, kenapa dia ribut-ribut rumah tangga ketika dia satu ruangan dengan saya?

Waktu beranjak sore, ketika saya hendak tidur sore, dan kemudian sang istri datang lagi.

*buru-buru pingsan*

NB: mohon maaf kalau Bahasa Palembangnya sudah kacau, maklum kejadiannya sudah lama. Ehehehe. Sudah lama juga nggak ke Palembang. Heuheuheu.

Forum Diskusi KKMK: How To Sell Yourself

Jadi begini, sejak pindah ke Jakarta saya memang agak kehilangan sesuatu yang bernama komunitas berbau agama. Sesuatu yang kalau di Cikarang bisa saya peroleh bahkan hanya dari 1 bidang pelayanan saja. Saya mencoba-coba stalking dan mencicipi beberapa komunitas tapi, mboh ki, belum ada yang cukup menyamai 1 bidang itu.

Nah, seperti pernah saya bilang di aneka kegiatan pribadi #KelilingKAJ, bahwa sebenarnya di Jakarta itu enak bagi orang Katolik untuk beribadah dan berkomunitas karena dalam radius yang terhitung dekat, rumah ibadah bisa diakses dengan cepat, dan, ya walaupun macetos hore. Dalam prinsip itu, kemudian saya stalking sebuah komunitas bernama Komunitas Karyawan Muda Katolik alias KKMK Keuskupan Agung Jakarta. Kebetulan ada event begitu di laman FB-nya.

10410652_950253465016639_965639814791734498_n

Selengkapnya…