Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Bulan Tanpa Posting

Dari dulu, blog ini selalu ada 1 posting minimal sebulannya. Dan ini baru sadar sudah 31 Agustus 2022 tapi belum ada post. Saya sungguh mikir-mikir untuk mempertahankan blog pakai dot com begini ketika mengisinya saja sudah tidak sempat. Dulu dia bisa menghidupi diri sendiri, sekarang sudah tidak. Ya bagaimana orang tertarik pasang konten berbayar kalau diisi saja tidak~

Jadi ya sudah, ini post memang sengaja dibuat biar sekurang-kurangnya ada konten di bulan Agustus 2022. Semoga sih ke depan nggak seperti bulan ini. Heuheu.

WIB-Sentris Era Zoom Meeting yang Menggemaskan

Beberapa waktu yang lalu, saya dinas ke Ambon. Itu adalah kali pertama saya sejak 2015 berdinas di zona waktu +2. Tahun 2015 itu saya dinas ke Jayapura. Yah, memang nasibnya jarang-jarang ke WIT. Masanya tentu beda banget. Hari-hari ini adalah era Zoom Meeting dan tentu saja dinas ke luar kota tidak menghalangi agenda untuk disuruh Zoom Meeting.

Kala itu bulan puasa, jadi seharusnya kantor selesai jam 15.00 WIT. Saya baru sadar bahwa 15.00 WIT itu adalah 13.00 WIB. Jam favorit orang WIB untuk mengundang rapat. Ah, jangankan itu. Undangan rapat jam 15.00 WIB pun sering, kan? Hal itu berarti rapatnya adalah 17.00 WIT. Itu jamnya orang pulang kantor.

Photo by Anna Shvets on Pexels.com

Nah, kebetulan banget, beberapa hari lalu saya mendapat tugas untuk nge-desk salah satu kantor di WIT. Karena satu dan lain hal terjadi perubahan jadwal yang menggemaskan (karena makin jadi tren di era Zoom, seolah-olah semua orang itu jadwalnya kosong jadi jadwal bisa digeser seenaknya). Walhasil, daripada pening, saya sebagai Ketua Tim memutuskan untuk sesekali orang WIB di kantor pusat mengikuti jadwalnya orang WIT.

Yha, saya mengajukan jadwal desk itu jam ENAM PAGI WAKTU INDONESIA BARAT. Saya belajar dari upacara Hari Lahir Pancasila yang berpusat di Ende (WITA) dan kemudian memaksa para pejabat di Jakarta bisa upacara pukul 06.30 pagi. Dalam skala yang lebih kecil, desk yang saya lakukan dapatlah berupa penyesuaian itu.

Kalau teman-teman yang di WIT itu bisa Zoom Meeting nyaris tiap sore ke malam, masak sih orang-orang WIB yang katanya orang Pusat itu nggak bisa bikin Zoom Meeting mengikuti jadwal kantor di WIT. Ketika saya mulai jam 6, itu di Papua kan sudah jam 8. Sudah jam kantor. Sebuah penyesuaian yang menarik.

Begitulah rapat-rapat Zoom ini dalam satu sisi memudahkan, sih. Banyak orang bisa berkumpul dan bisa merapat dengan cepat. Cuma masalahnya saking mudahnya, jadi bikin keenakan. Dikit-dikit rapat. Rapat-rapat dikit. Teman-teman di daerah itu paling ngerasain, lah, sebab teman-teman di unit vertikal di daerah maupun juga Pemda berhadapan dengan begitu banyak program dari Pusat. Kalau Pusatnya sembrono bikin rapat karena begitu mudahnya langganan Zoom, korbannya ya daerah. Paling gawat adalah kalau lupa atau nggak bisa mengikuti, yang salah bukan yang mengundang, tapi yang nggak mengikuti.

Sejujurnya, saya berpikir harus ada pembatasan. Tidak lagi setiap unit kerja bisa punya 4-5 akun Zoom yang bisa digunakan seenaknya. Harus ada keterbatasan ruang rapat yang kemudian membuat pengaturan pertemuan menjadi realistis bagi yang diundang untuk menghadiri. Zoom 2, 3, atau 4 itu nggak akan ada faedahnya. Serius, deh. Otak ini nggak bisa melakoni lebih dari satu pekerjaan yang sama persis dalam satu waktu.

Saya nggak tahu dan nggak peduli tentang apapun yang akan dipikirkan orang tentang keputusan saya kemarin bikin desk jam 6 pagi yang kemudian bikin repot banyak orang WIB. Mulai dari yang buka Zoom, mengawal room, dan lain-lain. Saya sih lebih fokus pada upaya memberi pengalaman baru sekaligus sesekali menciptakan kondisi terbalik. Nggak harus WIT selalu mengikuti WIB. Sesekali, WIB bisa mengikuti jadwalnya WIT.

Realistisnya sih rapat itu mulai dari 8 WIB (10 WIT) dan bisa diakhiri rentangnya pada 14 WIB (16 WIT). Sebenarnya bisa, kalau yang Pusat itu nggak egois. Wk.

Perjalanan Sentimentil di Bandung

Beberapa hari yang lalu saya dinas ke Bandung. Karena satu dan lain hal, saya naik travel dari TangSel ke Bandung kurang lebih pukul 9 malam. Walhasil, baru sampai ke Bandung ya sekitar pukul 00.00. Saya cukup tenang karena kota tujuannya cukup familar. Jadi ya masih beranilah untuk order ojol ke hotel tempat dinas. Lha wong dulu pernah saking gebleknya saya naik Argo Parahyangan paling malam ke Cimahi, eh ketiduran dan berakhir di Stasiun Bandung sehingga pukul 2 atau 3 pagi harus naik ojol plus taxol ke tempat mertua.

Ndilalah karena saya naik Cititrans, maka tujuan akhirnya adalah Dipati Ukur sehingga dari keluar tol di Pasteur menuju lokasi harus lewat RS Borromeus. Tengah malam lewat di depan RS Borromeus itu sungguh menjadi sesuatu yang sentimentil buat saya.

Saya ingat sekali 5 tahun yang lalu berjalan kaki dari penginapan di sekitar RS Borromeus untuk mengantarkan ASIP ke anak saya yang harus ngekos ekstra di RS karena kuning. Jumlah ASI yang saya antarkan itu nggak banyak. Tipis sekali lah plastiknya. Hanya saja, buat kami, ASI itu sangat berharga. Hari itu posisinya saya sempat pulang ke Jakarta untuk kerja karena cutinya habis dan balik lagi karena weekend.

Saya mengantarkan ASIP itu sekitar pukul 2 pagi. Satu hal yang saya ingat, sesudah mengantarkan ASIP itu, saya terlelap di lobi RS Borromeus selama sekitar 1 jam dalam posisi duduk si sofa. Kuesel biyanget, bos! Hal-hal semacam ini kadang-kadang bikin rindu untuk punya anak lagi. Namun saya mencoba berkaca, apakah jika nanti ada bayi lagi saya akan sekuat itu? Belum lagi ada Isto yang tentu juga harus diperhatikan.

Naik ojol melewati jalanan tempat saya dulu tengah malam mengantarkan ASIP menjadi perjalanan yang cukup sentimentil apalagi ketika melihat bahwa anak bayi yang dianterin ASIP itu sekarang sudah mau ulang tahun yang ke-5, sudah memberikan begitu banyak kegembiraan, terlepas dari begitu banyak amarah saya yang tercurah padanya.

Mudah Lelah Saat Perjalanan Kereta Api? Coba Atasi dengan Tips Berikut!

Untuk area pulau Jawa, kereta api merupakan alat transportasi yang paling diminati. Sebagian besar penduduk pulau Jawa memilih untuk naik kereta api jika ingin berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Selain karena aman dan nyaman, harga tiket kereta api juga lebih murah dari harga tiket pesawat.

Satu lagi, tidak ada kata macet ketika bepergian dengan kereta api. Jadi, kita bisa nyampe ke tujuan dengan tepat waktu. Sekarang ini, kamu bisa membeli tiket kereta api lewat aplikasi digital, seperti Traveloka. Misalnya, kamu ingin membeli tiket kereta api Bandung – Jakarta. Kamu tinggal buka Traveloka dan bisa cek harga tiket kereta Bandung Jakarta.

Namun, saat bepergian dengan kereta api, satu hal yang sering kali mengganggu perjalanan adalah rasa lelah. Ya, karena perjalanan jauh, wajar kiranya rasa lelah datang. Akan tetapi rasa lelah itu bisa di manage dengan baik supaya kondisi tubuh tetap fit hingga sampai tujuan. Berikut ini ada beberapa tips untuk mengatasi rasa lelah ketika perjalanan menggunakan kereta api:

Ngobrol dengan Orang Sebelah Bangku

Guna menghilangkan rasa lelah di perjalanan, kamu bisa mengisi waktu dengan ngobrol bersama orang sebelah bangku. Banyak hal yang bisa jadi bahan obrolan, apalagi sama-sama baru kenal.

Photo by veerasak Piyawatanakul on Pexels.com

Ngobrol bersama penumpang lain tidak hanya menghilangkan rasa lelah, tapi juga sebagai ajang untuk memperbanyak teman. Akan menyenangkan apabila ada ilmu yang didapat dari pembicaraan tersebut.

Untuk memulai pembicaraan, banyak hal yang bisa kamu lakukan, seperti menanyakan kemana tujuannya, asalnya dari mana, atau hal lain yang membuat dia nyaman dan mau ngobrol bersama kamu.

Menikmati Pemandangan Sekitar

Jalur kereta api sering kali berada di daerah sekitar pedesaan, daerah perbukitan, dan sawah. Makanya jangan heran kalau naik kereta api, kita pasti akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah.

Menikmati pemandangan tersebut tentu akan membuat kamu merasa lebih nyaman, rileks, dan jauh dari rasa lelah. Selain sebagai alat untuk melepas rasa lelah, ini juga bisa menjadi cerita seru bagi sanak saudara di kampung halaman.

Menonton dan Mendengarkan Musik

Kemajuan teknologi membuat orang lebih mudah untuk mendapatkan hiburan. Hanya dengan menggunakan smartphone kita sudah bisa menikmati hiburan seperti menonton, membaca, dan mendengarkan musik. Ini bisa dimanfaatkan untuk mengatasi rasa lelah saat kamu di dalam kereta api.

Main Game

Selain menonton, membaca, dan mendengarkan musik, hiburan lain yang bisa kamu nikmati di kereta api adalah main game. Ya, saat ini ada banyak jenis game yang bisa dimainkan lewat smartphone baik yang harus menggunakan konektivitas atau pun tidak. Jika kamu bepergian dengan teman atau keluarga, kamu bisa mengajak mereka untuk main game bersama.

Tidur

Jika sudah bosan ngobrol, nonton, dan mendengarkan musik, berarti sudah saatnya kamu menghilangkan rasa lelah dengan tidur. Tidur sejenak juga akan menghilangkan rasa bosan dan membuat kamu menjadi lebih segar. Satu hal yang perlu diingat ketika tidur di transportasi umum, jangan untuk meletakkan barang berharga di tempat yang tidak bisa disentuh oleh orang lain.

Meregangkan Otot Kaki, Tangan, dan Leher

Duduk terus menerus selama perjalanan di kereta api tentunya akan membuat tubuh merasa lelah. Oleh karena itu kamu perlu meregangkan otot-otot kaki, tangan, dan leher.

Peregangan ini bisa kamu lakukan dengan cara memijat sendiri kaki dan tangan kamu. Sementara di bagian leher, kamu bisa melakukan stretching secara perlahan, seperti tengok kanan kiri secara bergantian.

Jalan-Jalan di Dalam Kereta

Selain bikin lelah, duduk terus menerus selama perjalanan juga akan membuat tubuh terasa kaku. Hal ini tentu sangat tidak mengenakkan. Kamu butuh melakukan aktivitas yang menggerakkan semua anggota tubuh, misalnya berjalan. Kamu bisa berjalan menuju ke toilet atau berjalan di lorong kereta api sambil menikmati pemandangan di sekitar. Meskipun jarak tempuhnya tidak jauh, tapi jika sering dilakukan, ini akan membuat tubuh menjadi lebih rileks dan segar.

Menjaga Pola Makan

Untuk menjalani perjalanan jauh dengan kereta api butuh kondisi tubuh fit. Karena kamu akan duduk terus menerus selama di perjalanan. Meskipun hanya duduk, tapi jika dilakukan dalam waktu yang lama itu akan berdampak buruk ke tubuh.

Di luar bulan puasa, sangat disarankan untuk banyak minum ketika duduk lama di perjalanan. Namun, jika kamu melakukan perjalanan di bulan puasa, kamu tetap butuh cairan yang banyak. Oleh karena itu, kamu harus banyak minum saat berbuka puasa dan sahur.

Selain kebutuhan cairan, suplai nutrisi ke tubuh juga harus dijaga selama di perjalanan. Kamu harus pintar-pintar menjaga makan supaya kondisi tubuh tetap fit.

Itulah beberapa tips mengatasi lelah selama perjalanan kereta api. Kamu bisa menerapkan tips ini untuk menjaga tubuh tetap fit selama di perjalanan. Untuk informasi terkait tiket kereta Bandung-Jakarta, kamu dapat mengaksesnya melalui laman resmi Traveloka atau langsung mengunduh aplikasinya, baik melalui Play Store atau pun App Store.

Batal Nikah

Sejujurnya, setelah menikah, saya suka menganggap bahwa dinamika yang ada di level anak muda yang belum menikah itu remeh. Hal yang dulu bisa bikin saya galau seharian itu ternyata begitu dipaparkan dengan peliknya hidup rumah tangga di tengah himpitan kebutuhan itu ternyata nggak ada apa-apanya.

Nah, sampai kemudian saya mendapati bahwa ada salah seorang bilang ke saya bahwa dia batal menikah. Seseorang yang saya ketahui sudah sempat cuti beberapa hari untuk mengurus pernikahannya. Biasalah, pekerja Jakarta tapi kampungnya di salah satu kota di Jawa. Sudah tunangan, sudah ada fotonya. Dan lain-lain begitulah. Intinya sih batal menikah.

Pada titik ini saya tentu tidak lagi bisa menganggap sepele. Ini soal pembatalan vendor, pembatalan ke KUA, dll. Bayangkan sudah mengurus ina-inu ke KUA, repot minta ampun, lalu datang lagi untuk membatalkannya. Tentu saja saya tidak pernah menghadapi permasalahan semacam itu. Level keparahan pada persiapan pernikahan saya adalah berantem sampai nangis di depan gereja persis sesudah mengurus buku panduan misa.

Lebih mengesalkan lagi adalah bahwa penyebab batal itu berasal dari orang ketiga. Orang ketiga yang tentunya muncul belakangan di akhir proses separo LDR dengan total jenderal hubungan 5 tahun. Wow. Percayalah, sebagai laki-laki, saya malu sendiri mendengar kelakuan orang itu sampai kemudian membuat orang yang saya kenal tadi harus balik ke rumah lagi guna mengurus pembatalan hanya 1 bulan sesudah mengurus pernikahan.

Cuma, kalau saya pikir-pikir lagi, mendinglah batalnya sekarang. Kalau sempat bablas sampai nikah perkaranya tentu berlipat lebih sulit. Apalagi kalau yang menikah itu PNS. Pertama, misalkan mau cerai saja prosedurnya panjang dan ribet serta nggak cocok untuk suasana batin orang yang mau cerai, yang tentu saja pengen semuanya cepat kelar. Kedua, bisa sempat ada anak, maka akan ada hal lain yang tentu akan menjadi bahan pikiran. Dan banyak hal lainnya.

Batal sekarang mungkin bikin galau sampai nangis. Tapi batal sekarang boleh jadi adalah kunci kebaikan di masa depan. Untuk tidak terjebak di hubungan pernikahan yang boleh jadi tidak akan seindah yang dibayangkan. Bagaimanapun, pernikahan itu akan menghadirkan begitu banyak keindahan tapi juga pada saat yang sama menghadirkan begitu banyak masalah yang boleh jadi tidak akan ada ketika tidak menikah.

Sambat vs Reformasi Birokrasi

Alkisah saya lagi ikutan suatu rangkaian acara berfaedah bernama ASN Academy. Sejujurnya saja, saya ikut acara begitu bukan untuk belajar system thinking atau apalah berbagai pengetahuan-pengetahuan penting yang terkait dengan inovasi, dll. Oh, bukan berarti nggak mau belajar juga lho ya. Hanya saja, kantor saya sebenarnya sudah cukup baik hati dalam membekali pegawainya pada ilmu-ilmu. Training itu walaupun standarnya 20 JP, tapi realitanya hampir semua bisa dapat lebih dan lebihnya itu berkali-kali lipat. Jadi, mau sekarang atau nanti, saya yakin pasti akan dapat pengetahuan-pengetahuan tersebut.

Nah, lantas apa dong?

Saya terngiang kali pertama diklat prajabatan di PPMKP Ciawi bersama teman-teman dari Kementerian Koperasi dan UMKM, Badan Informasi Geospasial, PPATK, dan beberapa instansi lainnya. Saya lalu ingat pengalaman yang lebih seru di Pusdiklat lain di Ciawi ketika diklat Jabatan Fungsional. Saya bilang lebih seru karena mayoritas teman di kamar itu adalah bapack-bapack dari Pemerintah Daerah. Dari Aceh Singkil sampai Pegunungan Bintang. Dan percayalah, ceritanya itu betul-betul banyak dan sebagian diantaranya bikin speechless.

Sampai kemudian saya kuliah S2, saya juga hadir di kelas dengan teman-teman dari BPKP, Kementerian PAN dan RB, Kementerian Dalam Negeri, hingga Pemprov DKI Jakarta. Lagi-lagi, yang saya peroleh adalah insight. Cerita yang rupanya penting untuk menguatkan diri sendiri dalam menghadapi beratnya hidup di birokrasi.

Ya tentu saja itu termasuk mengetahui betapa besarnya Tunjangan Kinerja (atau nama lain yang setara di pemda) dari teman yang level Jabatan Fungsionalnya sama persis dengan saya. Yes, pedih tapi tidak berdarah sebab nominalnya itu benar-benar 4 kali lipat. Bukan sekadar 4 juta lebih banyak lho ya. Tapi memang tunjangan saya dikali 4, nah itulah tunjangan dia. Sekali lagi: dengan level JF yang sama. Tapi ya sudahlah~

Nah, kemarin ini dalam kerangka persiapan menuju kegiatan utama, ASN Academy menggelar sebuah sesi yang cenderung menjadi SAMBAT TERSTRUKTUR. Saya perlu menyebut demikian karena memang topik yang dipilih memang sangat SAMBAT-ABLE. Dan entahlah kalau dari dulu itu setahu saya dalam urusan sambat, para pekerja birokrasi itu banyak betul bahannya. Isu-isu seperti benturan kepentingan, generation gap, dan juga pengembangan pegawai diangkat dan terjadi diskusi yang 60%-nya adalah sambat itu.

Sejak jadi Magister Ilmu Administrasi, saya suka overthinking. Bukan apa-apa, sih. Dengan belajar paradigma ilmu administrasi, riwayat, serta praktik baik di negoro lain, saya sebenarnya mulai terbuka perihal ‘hal yang benar’. Cuma begitu melihat ke lapangan dan tampak ada hal-hal yang sebenarnya sangat bisa untuk diubah, saya nggak bisa apa-apa karena memang tidak punya kuasa dan lagipula kerjaan saya sudah banyak.

Harus diakui, dibandingkan 8 tahun lalu ketika saya baru masuk, sebenarnya sudah ada begitu banyak perbaikan di birokrasi negoro ini. Sayangnya, mengutip pendapat dari penulis buku ASN Sontoloyo, birokrasi di negoro ini berasa senam poco-poco. Maju dua langkah, sih. Tapi nanti mundur lagi. Geser sih ke kanan, tapi nanti ke kiri lagi. Ujungnya? Ora maju-maju. Parameter saya sederhana, sih. Ketika di akun ini masih banyak pegawhy yang sambat pada sistem, maka sebenarnya sistem itu masih banyak bolongnya.

Sejujurnya, kemarin itu saya mendengar beberapa kisah yang membuat saya terkesiap. Bahkan ada cerita gawat dari K/L yang sebenarnya dari luar tampak bagus, karena toh saya memang pernah ikutan study tour ke K/L itu. Rupanya, banyak yang dikisahkan di study tour itu ternyata berbeza dengan cerita orang dalam.

Di sisi lain, saya sih menangkap optimisme tinggi. Soalnya, banyak sambat kemarin itu sebenarnya positif dalam artian kelihatan kok niat baiknya, tapi ganjalan sistem yang jadi perkara. Cuma memang gimana sih agar api semangat tetap berkobar dan tidak lantas padam oleh perkara sistem, itulah PR-nya.

Oya, ngomong-ngomong, saya pernah baca sebuah artikel tentang pegawhy ngeri di Singapore. Sebuah negeri yang katanya adalah role model untuk urusan civil servant. Agak terkejut, sih, karena rupanya menurut orang dalam, pengaturannya nggak bagus-bagus amat juga. Lebih lanjut bisa dibaca di ARTIKEL INI.

Saya tentu masih menantikan sesi-sesi lanjutan dari agenda utama ASN Academy. Semoga ilmu dan cerita-cerita yang akan saya dapatkan bisa memberikan faedah bagi akal dan pikiran saya, sekurang-kurangnya untuk bisa tetap waras menjalani hidup. Haha.

Ke Bali di Masa Pandemi

Selepas kelar kuliah, salah satu hal yang cukup bikin saya deg-degan setiap waktu adalah kalau disuruh perjalanan dinas luar kota. Bukan apa-apa, sejak Maret 2020 sampai September 2021 saya itu benar-benar hanya di Tangerang Selatan. Nggak kemana-mana sama sekali. Ke Jakarta sekalipun bisa dihitung dengan jari. Bahkan dalam kurun waktu 12 bulan dari Maret 2020 sampai Maret 2021, saya ke Jakarta (yang notabene normalnya saya lakoni tiap hari) hanya 3 kali dan semuanya untuk keperluan COVID-19. Pertama, swab massal di kantor. Kedua dan ketiga adalah vaksinasi dosis 1 dan 2. Sudah gitu doang saking tertibnya.

Nah, begitu sudah aktif lagi bekerja, maka saya tidak punya privilese untuk selalu #DiRumahAja, apalagi kerja beginian walaupun masih sangat memungkinkan untuk WFH tapi ada saja elemen kerja lintas kotanya. Hal itulah yang terjadi kemudian. Sesudah kemarin ke Surabaya, kali ini saya ke Bali. Dinas ke Bali itu bagi saya cukup menyebalkan karena ingat tahun 2017 pernah ke Bali, nginep di Hotel The Stones yang notabene cuma seberangan pantai Kuta tapi baru bisa melihat sunset itu di hari kelima. Kerjo po ngopo to sakjane~

Nah, saya ke Bali itu 20 Oktober ketika pariwisata baru dibuka untuk turis mancanegara dengan catatan karantina. Sekali lagi, terakhir kali saya ke Bali itu 2018, jadi yang saya lihat benar-benar sesuatu yang berbeda.

Karena acara yang hendak saya ikuti ada di sekitar Kuta, maka saya menginapnya di sekitar situ juga. Pada malam hari, saya yang kehabisan Rosuvastatin kemudian mengorder ojol untuk pergi ke apotek terdekat. Itu sekitar jam 8 malam. Dulu, jam 8 malam di Kuta itu justru awal mula aktivitas tiada henti sampai pagi.

Apa yang saya lihat?

Jalanan sepi. Tempat-tempat hiburan yang tutup. Demikian pula toko-toko. Termasuk sebagian diantaranya sudah diberi tulisan ‘DIKONTRAKKAN’. Belum lagi jika ditambahkan dengan curhat driver taksi dari bandara soal mobilnya yang sudah ditarik leasing dan mobil yang dipakainya adalah punya teman.

Itu tanggal 20.

Ketika saya pulang tanggal 22, ada nuansa yang berbeda. Di hari Jumat, sudah mulai banyak yang check in. Pada umumnya adalah rombongan dengan naik mobil sendiri. Hotel di sekitar Legian mulai menggeliat. Jika di hari Kamis saya sarapan dalam suasana sepi, maka makan siang di hari Jumat sudah mulai banyak orang. Kehidupan Bali mulai menggeliat.

Pada satu sisi, saya tetap takut soal potensi varian baru dan potensi penularan COVID-19. Apalagi, yang dikontrol kan perjalanan udara yang notabene sudah pakai HEPA Filter. Bagaimana dengan bis atau bahkan mobil pribadi? Wabah ini jelas belum selesai, tetapi bagaimanapun saya sangat paham bahwa banyak orang tergantung pada mobilisasi orang-orang. Termasuk saya pun demikian. Dari bujangan pengen banget ngajak anak istri ke Bali. Mana anak saya sudah suka ngomong pengen ke beach tapi naik airplane. Artinya, sekadar ke Ancol sudah nggak cocok buat dia dan Bali mestinya pas.

Ah, semoga wabah ini cepat hilang ya~

Naik Pesawat Lagi

Waktunya tiba juga. Privilege yang sangat saya nikmati akhirnya berakhir juga sesuai masa kedaluwarsanya. Iya, sejak Maret 2020 ketika semua orang dianjurkan untuk di rumah saja ya saya pun demikian. Saking patuhnya, sampai 12 bulan kemudian saya itu pergi ke Jakarta (dari Tangerang Selatan) itu cuma untuk 3 urusan dan semuanya terkait COVID-19. Pertama, swab massal dari kantor. Kedua dan ketiga adalah vaksinasi.

Iya, saya yang biasanya sehari bisa Tangerang Selatan, Jakarta, lalu Bekasi atau Bogor atau pernah juga seminggu Denpasar-Jakarta-Tangsel-Bandung-Tangsel-Jogja benar-benar menikmati kehidupan di rumah saja dan merasa aman dengan tidak kemana-mana. Cuma ya bagaimana lagi, periode kuliah saya ada batasnya dan kebetulan selesai pula. Jadi ya sesuai dengan SK yang dimiliki, maka saya kudu ngantor. Demikianlah adanya.

Hanya 4 hari sesudah wisuda, saya sudah dinas lagi. Untungnya ‘cuma’ ke Surabaya. Maksud saya, walaupun Jatim itu kasusnya termasuk tinggi, tapi ya setidaknya kalau ada apa-apa, nggak jauh-jauh amat dari rumah. Kalau misalnya di Manowkari atau Aceh kan saya mungkin kebingungan.

Sesungguhnya, terakhir kali saya naik pesawat itu Desember 2019 dari Padang. Dan tentu saja di masa pandemi ini semuanya berubah sehingga saya benar-benar sempat linglung. Tanpa pandemi pun mungkin saya juga linglung soal buka gesper, mengamankan ponsel, dll. Ditambah pandemi, maka segala elemen swab antigen, masker berlapis, dan lainnya juga menambah kompleksitas.

Sesungguhnya, saya melihat ada upaya dari penyedia jasa baik di bandara maupun maskapai untuk menjaga protokol kesehatan. Bagaimanapun, untuk suatu virus yang telah dinyatakan airbone, tempat sempit seperti pesawat terbang adalah sebuah arena yang tepat untuk virusnya beterbangan dan hinggap sana-sini. Cuma ya itu, ada saja penumpang yang mungkin bernafas dengan dagu sehingga maskernya diturunkan ke dagu dan nunggu pramugari lewat dulu baru menaikkan maskernya. Wis gedhe kok yo ngono ae kudu dikandhani.

Saya tidak tahu, apakah dalam waktu dekat akan terbang lagi. Dari hati kecil, saya sih berharap tidak. Cuma ya namanya sekarang sudah aktif bekerja, siapa yang tahu. Yang jelas saya hanya berharap akan selalu sehat dalam periode ini. Periode yang tampaknya angka kasusnya sudah turun, tapi kita tidak tahu ada apa di depan.

Sehat-sehat selalu untuk kita semua.

Rindu Bandung, Mal Populer, dan Akses Termudah dari Jakarta

Photo by Dinul hidayat on Pexels.com

Bagi saya, Bandung itu bukan sembarang kota yang pernah dituju. Istri saya lahir di Bandung dan mertua tentu masih di kota tersebut. Lebih lanjut lagi, anak saya juga lahir di Bandung. Maka wajar kalau rindu Bandung adalah sesuatu yang muncul di era pandemi begini, mengingat sudah lebih dari setahun saya dan keluarga tidak pulang ke Bandung. Dulu mah tiap beberapa bulan sekali pasti. Malah pas menjelang pernikahan dan kelahiran anak, kami juga wira-wiri Bandung-Jakarta.

Selain tempat-tempat wisata di sekitar Lembang, Bandung juga terkenal sebagai kota belanja dan sudah pasti ada banyak mal populer yang ada di Bandung. Sebagai tempat kunjungan andalan, mal juga menjadi salah satu tempat yang paling dipelototin pemerintah dalam penegakan protokol kesehatan di masa pandemi.

Nah, berikut ini sejumlah mal populer di Bandung yang biasanya saya dan keluarga sambangi kalau pas di Bandung.

  • Paris van Java

Tahun 2007 saya pernah lomba paduan suara di Bandung. Nah, sesudah lomba dan menuju edisi jalan-jalan, kontingen sempat terjebak dalam adu pendapat. Sejumlah orang ingin ke Pasar Baru, sisanya ke Paris van Java yang memang baru buka. Saya sendiri waktu itu memang ikut ke Pasar Baru. Saya baru ke Paris van Java waktu PKL di Depok dan jalan-jalan ke Bandung. Benar-benar dari terminal itu kami langsung ke PVJ.

Salah satu kekhasan PVJ adalah konsep open air. Jangankan tempat jalan-jalannya, WC cowoknya pun open air. Haha. PVJ agak berbeda dengan mal di Jakarta yang dioptimalisasi ke atas. Jumlah lantai di PvJ nggak banyak, jadi kalau memang mau jalan-jalan ya ke samping kiri-kanan sudah cukup melelahkan.

Oiya, salah satu yang menarik, sehari sebelum kelahiran Kristof, kami masih sempat ke PVJ untuk kulineran sekalian memperlancar jalan kelahiran—yang ternyata ya tetap saja pakai induksi. Wkwk.

  • Trans Studio Mall

Dahulu tempat ini namanya Bandung Super Mall. Saya pernah ke BSM pada masanya, naik angkot dan panas. Sejak 2011, mal ini menjelma menjadi TSM seiring penambahan Trans Studio Bandung yang satu kawasan. Lokasinya juga cukup strategis di Jalan Gatot Subroto.

Selain Trans Studio, di TSM ini juga ada kawasan Trans Luxury Hotel, salah satu hotel terbaik di Bandung. Jadi, bisa berbagai kepentingan dalam satu kali kedatangan.

  • Cihampelas Walk

Kembali ke tipe outdoor dan ramah pejalan kaki, ada Cihampelas Walk alias Ciwalk. Lokasinya tentu saja bukan di Ujung Berung, kan namanya Cihampelas. Dinginnya Bandung masih berasa lah kalau di Ciwalk ini.

Lokasi Ciwalk berdekatan dengan sejumlah factory outlet di Jalan Cihampelas. Kita juga masih bisa wisata kuliner di Skywalk Cihampelas.

  • Istana Plaza

Saya tidak bisa bilang ini mal tertua di Bandung, tapi termasuk yang juga pernah saya datangi pada periode 2006-an. Salah satu alasannya karena lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan Bandara Husein Sastranegara dan tidak jauh pula dari Stasiun Bandung. Pas mau interview di Padalarang tahun 2009 awal, kami juga menyempatkan diri nongkrong di IP sejenak begitu sampai ke Bandung dan masih bingung mau ngapain~

Salah satu yang menarik di IP ini memang kalau bawa bocah. Tempatnya luas dan cukup banyak mainan anaknya. Jadi nggak bikin bete lah kalau bawa anak ke IP.

  • Paskal 23

Berdiri tahun 2017, Paskal termasuk mal paling baru dan otomatis karena baru dan hadir di era media sosial jadi cepat populer juga. Sesuai namanya Paskal, lokasinya sudah pasti di Pasir Koja. Yak! Salah! Tentu di Pasir Kaliki dong.

Paskal 23 juga cukup ramah anak dan lebih ramai lagi untuk pecinta film karena bioskopnya kalau saya nggak keliru adalah salah satu yang terbesar di antara mal-mal yang ada di Bandung.

Salah satu akses yang biasa saya gunakan kalau mau ke Bandung adalah dengan DayTrans. DayTrans memang sudah dikenal sebagai travel andalan untuk rute Jakarta-Bandung pp. Dan karena sudah biasa dengan DayTrans Jakarta-Bandung pp, maka pas saya turun dari Denpasar di Solo dan hendak menuju Salatiga, saya akhirnya ya naik DayTrans Solo-Semarang. Pas di Jogja dan mau ke Semarang, jadinya ya naik DayTrans juga deh.

Salah satu yang menarik dari DayTrans adalah pilihan mobilnya yang memang oke punya seperti Isuzu Elf dan Toyota Hiace Commuter. Jadwal berangkat juga tepat waktu, bahkan saya pernah ketinggalan karena memang terlambat sampai ke pool. Lokasi-lokasi pool DayTrans juga strategis di setiap kota tempat berada.

Di Bandung misalnya, DayTrans tersedia di Dipatiukur, Pasteur, dan Cihampelas. Benar-benar nggak jauh dari mal-mal yang ada. Di Jakarta dan sekitarnya, poolnya tersebar di lokasi strategis seperti Slipi, Binus, Tebet, Atrium Senen, fX Senayan, hingga Tangerang City.

Lebih keren lagi karena sekarang kita juga bisa memesan tiketnya dari aplikasi Traveloka. Sudah seperti beli tiket pesawat dan kereta api, kan? Jadi, benar-benar bisa pesan sambil rebahan dan nggak perlu juga harus keluar pulsa untuk menelepon serta nggak perlu takut untuk kehabisan tiket karena semua bisa dipantau melalui aplikasi.

Cakupan vaksinasi di Jakarta dan Bandung terbilang keren. Jakarta sudah 100 persen bahkan lebih, sedangkan di Bandung sudah menuju 50 persen. Semoga sebentar lagi saya bisa ke Bandung dan anak saya jadi bisa mengingat kembali tempat kelahirannya nan indah permai itu.

Buku Kedua

Dulu sekali, cita-cita saya adalah jadi penulis buku. Saya cukup ingat betapa saya sangat excited bahkan ketika buku-buku antologi yang ada tulisan saya terbit. Buku seperti Cinta Membaca yang notabene self-publishing itupun saya borong sebelum kemudian sadar bahwa tidak ada benefit finansial apapun yang saya peroleh. Yang ada malah sempat di-SMS diajakin ta’aruf sama seseorang yang bilang bahwa dia habis membaca tulisan saya di buku itu. Entahlah.

Saya baru benar-benar tersadar bahwa menjadi penulis buku adalah jalan terjal ketika akhirnya punya buku sendiri. Promo buku saya lumayan padahal, ikut acara di f(x) sama museum Bank Mandiri. Buku saya itu satu promo-an dengan buku pertamanya Kevin Anggara. Pernah juga satu talkshow dengan Benakribo.

Tapi ya begitulah, mereka sukses. Saya kagak. Hahaha.

Pada titik itu saya kemudian benar-benar tidak hendak menulis buku. Apalagi mulai 2014 saya lebih asyik menulis artikel di berbagai situsweb, baik yang berbayar maupun tidak. Selain bikin buku itu adalah perjalanan panjang dan melelahkan, bayangan tidak laku itu sungguh mengesalkan. Bagaimanapun, saya melihat sendiri buku saya diobral 15 ribu dan berserakan begitu saja di sejumlah toko buku.

Ketika #OomAlfa nongol, setiap minggu saya ke Jakarta, dari mal ke mal, sekadar hendak memotret buku saya nampang di Gramedia sebelum kemudian sadar bahwa dalam 2-3 minggu buku saya sudah di-retur ke penerbit karena tidak laku. Dari sisi finansial saya memperoleh penerbit yang baik, tidak ada hak penulis yang hilang, malah kalau dari hitungan saya, sayanya yang justru berhutang karena royalti tahap pertama itu nilainya masih lebih besar dari royalti yang saya hasilkan.

Walau demikian, buku itu masih saya pajang. Gambarnya masih ada di satu sudut blog ini. Bagaimanapun buku itu membawa saya pada sejumlah kegiatan bersama penerbit, bersua para penulis keren, yang memang tidak semuanya sesukses Raditya Dika. Karena lagi-lagi, dunia kepenulisan itu ternyata cukup kejam.

Sampai kemudian beberapa waktu yang lalu, saya dihubungi editor untuk berdiskusi tentang kemungkinan saya menulis buku dengan cara menulis mirip sejumlah artikel saya di Mojok. Ada peluang tapi saya tetap gamang. Kalau nggak laku lagi gimana~

Pada akhirnya, saya jadi juga menulis. Lebih absurd lagi sebenarnya karena tenggat yang disampaikan penerbit perihal kapan naskah saya kudu kelar itu adalah tenggat yang sama persis dengan proses pengerjaan tesis saya. Jadi, di bulan Mei 2021 kemarin saya menulis tesis dan menulis buku dalam waktu yang bersamaan. Bahkan sebenarnya ada satu pekan yang membuat saya meninggalkan tesis sejenak demi mengejar konten buku. Sejumlah kecil kontennya sebenarnya ada di Mojok, sebagian konten juga ada di blog ini, tapi tentu saya sesuaikan dan saya tambahkan banyak konten lain. Heavy 13, misalnya, ketika ditulis kembali agak-agak bikin terharu. Dulu tulisan itu ditulis 2-3 jam sesudah melakoni peristiwa tersebut, eh begitu ditulis ulang bertahun kemudian, rasanya jauh berbeda.

Dan buku itu sekarang sedang naik cetak. Sudah buka pre-order juga. Nanti di pertengahan Agustus, buku itu akan meluncur ke tangan teman-teman. Salah satu hal yang bikin saya tetap yakin dengan buku ini adalah karena jumlah 1 cetakannya masih lebih kecil dari jumlah buku #OomAlfa yang laku. Jadi, ya setidaknya saya masih bisa berharap 1 cetakan laku dan saya nggak jadi beban penerbit sebagaimana terjadi pada buku yang lalu.

Bukunya sendiri sebenarnya pernah ingin saya buat bertahun-tahun lalu kala masih jadi aktivis gereja. Begitu dibawa tahun 2021, outline waktu itu jadi beda sekali isinya plus muatannya. Tapi sembari menulis, saya nggumun sendiri, ternyata dinamika kehidupan beragama saya gitu amat. Naik turunnya jelas sekali. Pernah jadi aktivis, pernah juga jadi NaPas. Seekstrem itu ternyata. Mungkin buku ini dapat cocok bagi orang-orang yang sedang gamang iman semacam saya atau juga orang-orang yang dikecewakan oleh komunitas atau yang paling penting: bagi kalangan mayoritas yang ingin tahu lika-liku hidup sebagai minoritas.

Jadi, mari kita sambut buku kedua saya~