Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Ke Bali di Masa Pandemi

Selepas kelar kuliah, salah satu hal yang cukup bikin saya deg-degan setiap waktu adalah kalau disuruh perjalanan dinas luar kota. Bukan apa-apa, sejak Maret 2020 sampai September 2021 saya itu benar-benar hanya di Tangerang Selatan. Nggak kemana-mana sama sekali. Ke Jakarta sekalipun bisa dihitung dengan jari. Bahkan dalam kurun waktu 12 bulan dari Maret 2020 sampai Maret 2021, saya ke Jakarta (yang notabene normalnya saya lakoni tiap hari) hanya 3 kali dan semuanya untuk keperluan COVID-19. Pertama, swab massal di kantor. Kedua dan ketiga adalah vaksinasi dosis 1 dan 2. Sudah gitu doang saking tertibnya.

Nah, begitu sudah aktif lagi bekerja, maka saya tidak punya privilese untuk selalu #DiRumahAja, apalagi kerja beginian walaupun masih sangat memungkinkan untuk WFH tapi ada saja elemen kerja lintas kotanya. Hal itulah yang terjadi kemudian. Sesudah kemarin ke Surabaya, kali ini saya ke Bali. Dinas ke Bali itu bagi saya cukup menyebalkan karena ingat tahun 2017 pernah ke Bali, nginep di Hotel The Stones yang notabene cuma seberangan pantai Kuta tapi baru bisa melihat sunset itu di hari kelima. Kerjo po ngopo to sakjane~

Nah, saya ke Bali itu 20 Oktober ketika pariwisata baru dibuka untuk turis mancanegara dengan catatan karantina. Sekali lagi, terakhir kali saya ke Bali itu 2018, jadi yang saya lihat benar-benar sesuatu yang berbeda.

Karena acara yang hendak saya ikuti ada di sekitar Kuta, maka saya menginapnya di sekitar situ juga. Pada malam hari, saya yang kehabisan Rosuvastatin kemudian mengorder ojol untuk pergi ke apotek terdekat. Itu sekitar jam 8 malam. Dulu, jam 8 malam di Kuta itu justru awal mula aktivitas tiada henti sampai pagi.

Apa yang saya lihat?

Jalanan sepi. Tempat-tempat hiburan yang tutup. Demikian pula toko-toko. Termasuk sebagian diantaranya sudah diberi tulisan ‘DIKONTRAKKAN’. Belum lagi jika ditambahkan dengan curhat driver taksi dari bandara soal mobilnya yang sudah ditarik leasing dan mobil yang dipakainya adalah punya teman.

Itu tanggal 20.

Ketika saya pulang tanggal 22, ada nuansa yang berbeda. Di hari Jumat, sudah mulai banyak yang check in. Pada umumnya adalah rombongan dengan naik mobil sendiri. Hotel di sekitar Legian mulai menggeliat. Jika di hari Kamis saya sarapan dalam suasana sepi, maka makan siang di hari Jumat sudah mulai banyak orang. Kehidupan Bali mulai menggeliat.

Pada satu sisi, saya tetap takut soal potensi varian baru dan potensi penularan COVID-19. Apalagi, yang dikontrol kan perjalanan udara yang notabene sudah pakai HEPA Filter. Bagaimana dengan bis atau bahkan mobil pribadi? Wabah ini jelas belum selesai, tetapi bagaimanapun saya sangat paham bahwa banyak orang tergantung pada mobilisasi orang-orang. Termasuk saya pun demikian. Dari bujangan pengen banget ngajak anak istri ke Bali. Mana anak saya sudah suka ngomong pengen ke beach tapi naik airplane. Artinya, sekadar ke Ancol sudah nggak cocok buat dia dan Bali mestinya pas.

Ah, semoga wabah ini cepat hilang ya~

Naik Pesawat Lagi

Waktunya tiba juga. Privilege yang sangat saya nikmati akhirnya berakhir juga sesuai masa kedaluwarsanya. Iya, sejak Maret 2020 ketika semua orang dianjurkan untuk di rumah saja ya saya pun demikian. Saking patuhnya, sampai 12 bulan kemudian saya itu pergi ke Jakarta (dari Tangerang Selatan) itu cuma untuk 3 urusan dan semuanya terkait COVID-19. Pertama, swab massal dari kantor. Kedua dan ketiga adalah vaksinasi.

Iya, saya yang biasanya sehari bisa Tangerang Selatan, Jakarta, lalu Bekasi atau Bogor atau pernah juga seminggu Denpasar-Jakarta-Tangsel-Bandung-Tangsel-Jogja benar-benar menikmati kehidupan di rumah saja dan merasa aman dengan tidak kemana-mana. Cuma ya bagaimana lagi, periode kuliah saya ada batasnya dan kebetulan selesai pula. Jadi ya sesuai dengan SK yang dimiliki, maka saya kudu ngantor. Demikianlah adanya.

Hanya 4 hari sesudah wisuda, saya sudah dinas lagi. Untungnya ‘cuma’ ke Surabaya. Maksud saya, walaupun Jatim itu kasusnya termasuk tinggi, tapi ya setidaknya kalau ada apa-apa, nggak jauh-jauh amat dari rumah. Kalau misalnya di Manowkari atau Aceh kan saya mungkin kebingungan.

Sesungguhnya, terakhir kali saya naik pesawat itu Desember 2019 dari Padang. Dan tentu saja di masa pandemi ini semuanya berubah sehingga saya benar-benar sempat linglung. Tanpa pandemi pun mungkin saya juga linglung soal buka gesper, mengamankan ponsel, dll. Ditambah pandemi, maka segala elemen swab antigen, masker berlapis, dan lainnya juga menambah kompleksitas.

Sesungguhnya, saya melihat ada upaya dari penyedia jasa baik di bandara maupun maskapai untuk menjaga protokol kesehatan. Bagaimanapun, untuk suatu virus yang telah dinyatakan airbone, tempat sempit seperti pesawat terbang adalah sebuah arena yang tepat untuk virusnya beterbangan dan hinggap sana-sini. Cuma ya itu, ada saja penumpang yang mungkin bernafas dengan dagu sehingga maskernya diturunkan ke dagu dan nunggu pramugari lewat dulu baru menaikkan maskernya. Wis gedhe kok yo ngono ae kudu dikandhani.

Saya tidak tahu, apakah dalam waktu dekat akan terbang lagi. Dari hati kecil, saya sih berharap tidak. Cuma ya namanya sekarang sudah aktif bekerja, siapa yang tahu. Yang jelas saya hanya berharap akan selalu sehat dalam periode ini. Periode yang tampaknya angka kasusnya sudah turun, tapi kita tidak tahu ada apa di depan.

Sehat-sehat selalu untuk kita semua.

Rindu Bandung, Mal Populer, dan Akses Termudah dari Jakarta

Photo by Dinul hidayat on Pexels.com

Bagi saya, Bandung itu bukan sembarang kota yang pernah dituju. Istri saya lahir di Bandung dan mertua tentu masih di kota tersebut. Lebih lanjut lagi, anak saya juga lahir di Bandung. Maka wajar kalau rindu Bandung adalah sesuatu yang muncul di era pandemi begini, mengingat sudah lebih dari setahun saya dan keluarga tidak pulang ke Bandung. Dulu mah tiap beberapa bulan sekali pasti. Malah pas menjelang pernikahan dan kelahiran anak, kami juga wira-wiri Bandung-Jakarta.

Selain tempat-tempat wisata di sekitar Lembang, Bandung juga terkenal sebagai kota belanja dan sudah pasti ada banyak mal populer yang ada di Bandung. Sebagai tempat kunjungan andalan, mal juga menjadi salah satu tempat yang paling dipelototin pemerintah dalam penegakan protokol kesehatan di masa pandemi.

Nah, berikut ini sejumlah mal populer di Bandung yang biasanya saya dan keluarga sambangi kalau pas di Bandung.

  • Paris van Java

Tahun 2007 saya pernah lomba paduan suara di Bandung. Nah, sesudah lomba dan menuju edisi jalan-jalan, kontingen sempat terjebak dalam adu pendapat. Sejumlah orang ingin ke Pasar Baru, sisanya ke Paris van Java yang memang baru buka. Saya sendiri waktu itu memang ikut ke Pasar Baru. Saya baru ke Paris van Java waktu PKL di Depok dan jalan-jalan ke Bandung. Benar-benar dari terminal itu kami langsung ke PVJ.

Salah satu kekhasan PVJ adalah konsep open air. Jangankan tempat jalan-jalannya, WC cowoknya pun open air. Haha. PVJ agak berbeda dengan mal di Jakarta yang dioptimalisasi ke atas. Jumlah lantai di PvJ nggak banyak, jadi kalau memang mau jalan-jalan ya ke samping kiri-kanan sudah cukup melelahkan.

Oiya, salah satu yang menarik, sehari sebelum kelahiran Kristof, kami masih sempat ke PVJ untuk kulineran sekalian memperlancar jalan kelahiran—yang ternyata ya tetap saja pakai induksi. Wkwk.

  • Trans Studio Mall

Dahulu tempat ini namanya Bandung Super Mall. Saya pernah ke BSM pada masanya, naik angkot dan panas. Sejak 2011, mal ini menjelma menjadi TSM seiring penambahan Trans Studio Bandung yang satu kawasan. Lokasinya juga cukup strategis di Jalan Gatot Subroto.

Selain Trans Studio, di TSM ini juga ada kawasan Trans Luxury Hotel, salah satu hotel terbaik di Bandung. Jadi, bisa berbagai kepentingan dalam satu kali kedatangan.

  • Cihampelas Walk

Kembali ke tipe outdoor dan ramah pejalan kaki, ada Cihampelas Walk alias Ciwalk. Lokasinya tentu saja bukan di Ujung Berung, kan namanya Cihampelas. Dinginnya Bandung masih berasa lah kalau di Ciwalk ini.

Lokasi Ciwalk berdekatan dengan sejumlah factory outlet di Jalan Cihampelas. Kita juga masih bisa wisata kuliner di Skywalk Cihampelas.

  • Istana Plaza

Saya tidak bisa bilang ini mal tertua di Bandung, tapi termasuk yang juga pernah saya datangi pada periode 2006-an. Salah satu alasannya karena lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan Bandara Husein Sastranegara dan tidak jauh pula dari Stasiun Bandung. Pas mau interview di Padalarang tahun 2009 awal, kami juga menyempatkan diri nongkrong di IP sejenak begitu sampai ke Bandung dan masih bingung mau ngapain~

Salah satu yang menarik di IP ini memang kalau bawa bocah. Tempatnya luas dan cukup banyak mainan anaknya. Jadi nggak bikin bete lah kalau bawa anak ke IP.

  • Paskal 23

Berdiri tahun 2017, Paskal termasuk mal paling baru dan otomatis karena baru dan hadir di era media sosial jadi cepat populer juga. Sesuai namanya Paskal, lokasinya sudah pasti di Pasir Koja. Yak! Salah! Tentu di Pasir Kaliki dong.

Paskal 23 juga cukup ramah anak dan lebih ramai lagi untuk pecinta film karena bioskopnya kalau saya nggak keliru adalah salah satu yang terbesar di antara mal-mal yang ada di Bandung.

Salah satu akses yang biasa saya gunakan kalau mau ke Bandung adalah dengan DayTrans. DayTrans memang sudah dikenal sebagai travel andalan untuk rute Jakarta-Bandung pp. Dan karena sudah biasa dengan DayTrans Jakarta-Bandung pp, maka pas saya turun dari Denpasar di Solo dan hendak menuju Salatiga, saya akhirnya ya naik DayTrans Solo-Semarang. Pas di Jogja dan mau ke Semarang, jadinya ya naik DayTrans juga deh.

Salah satu yang menarik dari DayTrans adalah pilihan mobilnya yang memang oke punya seperti Isuzu Elf dan Toyota Hiace Commuter. Jadwal berangkat juga tepat waktu, bahkan saya pernah ketinggalan karena memang terlambat sampai ke pool. Lokasi-lokasi pool DayTrans juga strategis di setiap kota tempat berada.

Di Bandung misalnya, DayTrans tersedia di Dipatiukur, Pasteur, dan Cihampelas. Benar-benar nggak jauh dari mal-mal yang ada. Di Jakarta dan sekitarnya, poolnya tersebar di lokasi strategis seperti Slipi, Binus, Tebet, Atrium Senen, fX Senayan, hingga Tangerang City.

Lebih keren lagi karena sekarang kita juga bisa memesan tiketnya dari aplikasi Traveloka. Sudah seperti beli tiket pesawat dan kereta api, kan? Jadi, benar-benar bisa pesan sambil rebahan dan nggak perlu juga harus keluar pulsa untuk menelepon serta nggak perlu takut untuk kehabisan tiket karena semua bisa dipantau melalui aplikasi.

Cakupan vaksinasi di Jakarta dan Bandung terbilang keren. Jakarta sudah 100 persen bahkan lebih, sedangkan di Bandung sudah menuju 50 persen. Semoga sebentar lagi saya bisa ke Bandung dan anak saya jadi bisa mengingat kembali tempat kelahirannya nan indah permai itu.

Buku Kedua

Dulu sekali, cita-cita saya adalah jadi penulis buku. Saya cukup ingat betapa saya sangat excited bahkan ketika buku-buku antologi yang ada tulisan saya terbit. Buku seperti Cinta Membaca yang notabene self-publishing itupun saya borong sebelum kemudian sadar bahwa tidak ada benefit finansial apapun yang saya peroleh. Yang ada malah sempat di-SMS diajakin ta’aruf sama seseorang yang bilang bahwa dia habis membaca tulisan saya di buku itu. Entahlah.

Saya baru benar-benar tersadar bahwa menjadi penulis buku adalah jalan terjal ketika akhirnya punya buku sendiri. Promo buku saya lumayan padahal, ikut acara di f(x) sama museum Bank Mandiri. Buku saya itu satu promo-an dengan buku pertamanya Kevin Anggara. Pernah juga satu talkshow dengan Benakribo.

Tapi ya begitulah, mereka sukses. Saya kagak. Hahaha.

Pada titik itu saya kemudian benar-benar tidak hendak menulis buku. Apalagi mulai 2014 saya lebih asyik menulis artikel di berbagai situsweb, baik yang berbayar maupun tidak. Selain bikin buku itu adalah perjalanan panjang dan melelahkan, bayangan tidak laku itu sungguh mengesalkan. Bagaimanapun, saya melihat sendiri buku saya diobral 15 ribu dan berserakan begitu saja di sejumlah toko buku.

Ketika #OomAlfa nongol, setiap minggu saya ke Jakarta, dari mal ke mal, sekadar hendak memotret buku saya nampang di Gramedia sebelum kemudian sadar bahwa dalam 2-3 minggu buku saya sudah di-retur ke penerbit karena tidak laku. Dari sisi finansial saya memperoleh penerbit yang baik, tidak ada hak penulis yang hilang, malah kalau dari hitungan saya, sayanya yang justru berhutang karena royalti tahap pertama itu nilainya masih lebih besar dari royalti yang saya hasilkan.

Walau demikian, buku itu masih saya pajang. Gambarnya masih ada di satu sudut blog ini. Bagaimanapun buku itu membawa saya pada sejumlah kegiatan bersama penerbit, bersua para penulis keren, yang memang tidak semuanya sesukses Raditya Dika. Karena lagi-lagi, dunia kepenulisan itu ternyata cukup kejam.

Sampai kemudian beberapa waktu yang lalu, saya dihubungi editor untuk berdiskusi tentang kemungkinan saya menulis buku dengan cara menulis mirip sejumlah artikel saya di Mojok. Ada peluang tapi saya tetap gamang. Kalau nggak laku lagi gimana~

Pada akhirnya, saya jadi juga menulis. Lebih absurd lagi sebenarnya karena tenggat yang disampaikan penerbit perihal kapan naskah saya kudu kelar itu adalah tenggat yang sama persis dengan proses pengerjaan tesis saya. Jadi, di bulan Mei 2021 kemarin saya menulis tesis dan menulis buku dalam waktu yang bersamaan. Bahkan sebenarnya ada satu pekan yang membuat saya meninggalkan tesis sejenak demi mengejar konten buku. Sejumlah kecil kontennya sebenarnya ada di Mojok, sebagian konten juga ada di blog ini, tapi tentu saya sesuaikan dan saya tambahkan banyak konten lain. Heavy 13, misalnya, ketika ditulis kembali agak-agak bikin terharu. Dulu tulisan itu ditulis 2-3 jam sesudah melakoni peristiwa tersebut, eh begitu ditulis ulang bertahun kemudian, rasanya jauh berbeda.

Dan buku itu sekarang sedang naik cetak. Sudah buka pre-order juga. Nanti di pertengahan Agustus, buku itu akan meluncur ke tangan teman-teman. Salah satu hal yang bikin saya tetap yakin dengan buku ini adalah karena jumlah 1 cetakannya masih lebih kecil dari jumlah buku #OomAlfa yang laku. Jadi, ya setidaknya saya masih bisa berharap 1 cetakan laku dan saya nggak jadi beban penerbit sebagaimana terjadi pada buku yang lalu.

Bukunya sendiri sebenarnya pernah ingin saya buat bertahun-tahun lalu kala masih jadi aktivis gereja. Begitu dibawa tahun 2021, outline waktu itu jadi beda sekali isinya plus muatannya. Tapi sembari menulis, saya nggumun sendiri, ternyata dinamika kehidupan beragama saya gitu amat. Naik turunnya jelas sekali. Pernah jadi aktivis, pernah juga jadi NaPas. Seekstrem itu ternyata. Mungkin buku ini dapat cocok bagi orang-orang yang sedang gamang iman semacam saya atau juga orang-orang yang dikecewakan oleh komunitas atau yang paling penting: bagi kalangan mayoritas yang ingin tahu lika-liku hidup sebagai minoritas.

Jadi, mari kita sambut buku kedua saya~

Daycare Murah Pemerintah Daerah Demi Peningkatan Produktivitas dan Generasi yang Berkualitas

Sudah lebih dari 400 hari saya menjadi bapak rumah tangga dengan mengasuh anak di rumah sembari menyelesaikan tugas-tugas sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Istri saya adalah pekerja rumah sakit sehinga WFH-nya bermakna Work From Hospital.

Sebelum pandemi, anak saya adalah penghuni daycare alias tempat penitipan anak. Ada beberapa alasan saya dan istri menggunakan opsi ini. Pertama, tentu saja lelah dengan drama Pekerja Rumah Tangga (PRT). Alasan kedua adalah alasan tumbuh kembang. PRT kedua saya memang termasuk keren dalam hal mengajari anak saya sedikit-sedikit tentang motorik, hanya saja tentu tidak terkonsep. Sementara di daycare, ada semacam kurikulumnya. Selain itu, anak saya jadi punya teman.

Sederhananya daycare adalah solusi bagi orangtua yang tidak bisa resign demi membersamai buah hati. Masalahnya klasik: tentang bagaimana bisa hidup. Gaji pokok saya ketika aktif bekerja di bawah UMR Jakarta. Hanya tiga juta koma sekian. Bagaimana mungkin saya meminta istri—seorang S2 lulusan Inggris bergaji lebih dari 2 kali lipat dari suamnya—untuk resign?

Kala menjadi bapak daycare, saya mendapati sejumlah orangtua tunggal. Sudah jelas, dia tidak bisa disuruh resign demi menjaga anak karena dia satu-satunya pencari nafkah. Jadi, persoalan membersamai pengasuhan anak sejatinya tidaklah sesederhana salah satu harus tidak bekerja untuk mengurus anak. Ada begitu banyak pertimbangan yang sifatnya sangat individual.

Oya, saya tinggal di Tangerang Selatan dan menggunakan jasa daycare dengan tarif mendekati gaji pokok saya per bulan. Untung yang bayar istri saya. Bayangkan kalau bekerja di Jakarta dengan UMR dan harus membayar 3 juta hanya untuk daycare. Jelas tidak masuk akal karena ada begitu banyak biaya lain dalam rumah tangga yang harus dialokasikan. Hal itu kemudian membuat sejumlah anak dititipkan ke tetangga, ke orangtua, dan opsi-opsi lain yang memungkinkan.

Bagaimana soal gizi? Soal stunting? Bagaimana soal motorik halus? Entahlah.

Kita berbicara angka begitu banyak anak-anak. Di kota-kota penyangga Jakarta, jumlah anak usia 0-4 tahun tidak jauh berbeda dengan jumlah orang seusia orangtua mereka, kurang lebih begini gambarannya:

Di kota-kota penyangga Jakarta banyak rumah tangga muda yang pola hidupnya cukup kejam karena harus menghabiskan waktu 2-4 jam hanya untuk berangkat dan pulang kantor karena jarak rumah ke kantor itu bisa puluhan kilometer. Saya saja yang ‘cuma’ naik KRL dari Stasiun Jurangmangu harus berangkat pukul 06.30 untuk bisa sampai ke Jakarta Pusat pada pukul 08.00 dan tidak potong gaji karena terlambat. Bagaimana dengan pekerja yang tinggal di tempat yang lebih jauh? Titik angkut bus jemputan PNS di Cibinong misalnya sudah ramai pada pukul 05.30 lho.

Lebih lanjut lagi tampak fenomena yang menarik di Kota Bekasi dan Tangerang Selatan karena persentase perempuan bekerja lebih tinggi daripada perempuan yang mengurus rumah tangga. Artinya? Ada begitu banyak istri yang juga harus bekerja demi kelangsungan rumah tangga. Kita berbicara angka 300.627 perempuan bekerja di Kota Bekasi dan 161.687 di Tangerang Selatan. Tentu tidak semuanya ibu muda, tetap saja angkanya yang besar.

Terkait pengasuhan anak ini, cukup banyak kantor di Jakarta yang menawarkan solusi dengan membuat daycare di kantor. Salah satunya adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rata-rata di kantor pemerintah memang mulai menyediakan daycare, sebagian swasta juga demikian.

Sebagai solusi yang ditawarkan, boleh-boleh saja. Tapi dalam pengalaman saya, itu tidak cukup solutif.

Pada suatu hari, daycare anak saya tutup dan saya tidak bisa cuti demikian pula istri. Maka saya harus membawa anak saya ke kantor di Jakarta dengan transportasi umum. Membawa bayi melompat dari peron ke kereta, kereta ke peron, lanjut naik bajaj, dan seterusnya itu melelahkan lho. Dan kayaknya kalau dilakukan tiap hari pegal juga. Jadi, menurut saya, akses daycare di kantor hanya bisa dimanfaatkan oleh kalangan tertentu.

Maka saat mempelajari tentang pemerintahan daerah, seketika terbayang suatu ide yang tampak lebih masuk akal guna mengatasi persoalan pengasuhan anak ini. Ide itu adalah daycare kelolaan pemerintah daerah yang berkolasi di dekat stasiun kereta atau drop point bus dekat pintu tol.

Seperti saya jelaskan tadi, di Tangsel ini daycare sebenarnya sudah banyak, tapi yang terjangkau tidaklah banyak. Daycare kelolaan pemerintah daerah diarahkan untuk menyasar para pekerja UMR yang punya anak balita dan butuh pengasuhan prima. Biayanya tentu tidak harus jutaan, kalau perlu hanya beberapa ratus ribu saja sebagai biaya komitmen. Sisanya, negara berperan melalui pemerintah daerah.

Dengan pemilihan lokasi tersebut, orangtua bisa menitipkan anaknya di daycare sebelum meluncur naik transportasi umum ke Jakarta guna mencari nafkah. Artinya, tidak perlu pula ongkos mlipir karena kebetulan satu jalan. Begitu pulang kantor juga sang anak bisa segera dijemput dan dibawa pulang.

Mengapa pemerintah daerah? Tentu saja karena anak-anak itu adalah masa depan suatu daerah. Kita berbicara tentang anak-anak yang mulutnya kotor sekali karena bergaul begitu mudah dengan teman-teman yang lebih tua. Kita bicara pula anak-anak yang pemenuhan gizinya di periode emas tidak maksimal sehingga mempengaruhi kecerdasan dan hal-hal lainnya. Bayangkan jika pada usia 0-4 tahun, anak-anak yang harus ditinggal orangtuanya bekerja mendapat pengasuhan dan gizi yang tepat dalam kelolaan pemerintah daerah tentu hasilnya akan lebih optimal.

Adapun pada saat yang sama, daycare ini dapat menunjang kebutuhan tenaga kerja setempat. Mengingat daycare mungkin akan buka dari pukul 5 pagi sampai 9 malam maka akan butuh 2 shift sehingga kebutuhan pekerja juga dikali 2. Pemerintah daerah bisa memberdayakan tenaga kesehatan muda dengan menjadikan daycare tersebut sarana menimba pengalaman sebelum kemudian ditempatkan ke fasilitas kesehatan, misalnya. Mahasiswa bidang pendidikan juga dapat diarahkan untuk mengisi muatan pembelajaran dan permainan. Cocok sekali dengan konsep Kampus Merdeka, bukan?

Pada titik ini, melibatkan para calon orangtua dalam pengasuhan akan dapat pula membentuk mindset yang lebih baik ketika mereka kelak menjadi orangtua. Kita tahu ada begitu banyak orangtua yang sebenarnya tidak siap menjadi orangtua sehingga kemudian ada KDRT, ada pengasuhan yang tidak tepat, dll.

Tentu butuh komitmen anggaran dari pemda, tapi bukankah anggaran pendidikan dan kesehatan itu diatur dengan proporsi cukup besar? Bisa dong dikombinasikan untuk kepentingan balita masa depan negeri? Melalui daycare ini, para orangtua akhirnya bisa fokus bekerja dan muaranya kemudian adalah pada peningkatan produktivitas. Di sisi lain, produktivitas juga didorong oleh pemberdayaan tenaga-tenaga muda di masa pendidikan agar dalam 1-2 tahun lebih siap menghadapi dunia kerja. Dan pada akhirnya, generasi yang lebih cerdas tentu akan membentuk bangsa yang bekerja cerdas dan negeri ini dapat menjadi jauh lebih produktif dari sebelumnya. Semoga.

Pengalaman Perdana Konferensi Internasional

Konferensi Internasional – Kurang lebih 2 bulan blog ini nyaris tidak berisi. Selain memang tidak ada orderan (wkwk~), tapi masalah utamanya adalah saya sibuk mengerjakan tesis. Dan sebagai bagian dari tesis biar kelihatan keren, saya mengikutsertakan bagian dari tesis saya ke sebuah konferensi internasional.

Salah satu faedah dari menjadi penerima beasiswa LPDP adalah biaya untuk mengikuti konferensi internasional dapat diklaim. Pas belum pandemi, beberapa teman bahkan sudah berangkat ke Singapura dan Malaysia untuk mengikuti konferensi internasional dengan biaya ditanggung oleh LPDP.

Apa daya, saya kuliahnya di masa pandemi~

Ya, maksud hati untuk jalan-jalan ke LN pada akhirnya tiada bisa diwujudkan. Namun di sisi lain, saya jadi bisa mengikuti konferensi di manapun tanpa harus mikir ada uang tambahan atau tidak buat mengganjal minus kalau misal harus konferensi ke Eropa.

Maka kemudian setelah cari demi cari dan dikabarkan pula oleh salah seorang dosen jadilah saya mendaftarkan diri ke salah satu konferensi internasional yang rupanya cukup hits di kalangan akademisi bidang administrasi publik, namanya IRSPM.

Jadi, dua bulan kosong di blog ini salah satunya adalah karena fokus menyelesaikan data dan kemudian menyusun paper dalam Bahasa Inggris. Sesuatu yang baru sekali ini saya lakukan. Mana disambi ngurus anak juga, kan.

Konferensi ini terbilang cukup murah, apalagi karena Indonesia dianggap sebagai negara yang harus diberi diskon. Tarif registrasi untuk mahasiswa asal Indonesia adalah yang paling murah. Kurang lebih “hanya” 800 ribu lebih segelas kopi kekinian. Saya harus bilang “hanya” karena memang tarif itu sudah paling murah.

Masalahnya kemudian tarif yang murah ini ternyata pada akhirnya tidak bisa saya klaim ke pemberi beasiswa. Ada pasal utama bahwa konferensi yang ditanggung adalah yang memiliki prosiding. Dan di awal memang tidak ada informasi itu dari si konferensi. Ketika saya sudah mendaftarkan diri, pada akhirnya dapat email yang menyatakan bahwa memang tidak akan ada prosiding di konferensi ini. Jadi ya mau dipakai untuk syarat ujian tesis juga nggak bisa, diklaim ke pemberi beasiswa juga nggak bisa.

Ya, santai saja sih. Saya kemudian menganggapnya sebagai bagian dari jajan akademis saja. Toh sama LPDP saya juga diberi uang buku yang nominalnya cukup besar. Dianggap saja ngambil dari situ.

Di konferensi internasional ini, kurang lebih ada 400 judul yang berkeliaran dengan kurang dari 10 judul asal Indonesia. Ya, beneran sesedikit itu. Serunya, saya bisa berada di satu konferensi, walaupun beda panel, dengan dosen saya dan beberapa dosen lain yang biasanya hanya bisa saya sitir pendapatnya di paper atau artikel populer. Ada kemungkinan paper saya bisa masuk karena saya memasukkannya lewa jalur Panel New Researcher. Panel ini adalah panel dengan peserta terbanyak di konferensi ini.

Tadinya sudah merendahkan diri sendiri karena memang yang tersingkir di panel ini hanya 10 judul. Ibarat 50 daftar, 40 diterima. Gitu kira-kira. Cuma, begitu saya lihat bahwa yang satu panel sama saya pun adalah para asisten profesor atau orang-orang yang tengah post-doktoral, jadinya saya kok nggak merasa minder-minder amat.

Pengalaman ini cukup menarik karena merupakan kali pertama saya presentasi dalam Bahasa Inggris. Kali pertama pula saya bikin paper full Bahasa Inggris. Dan ternyata saya bisa, walaupun tentu banyak kelemahannya.

Masih ada waktu 4 bulan untuk mengeksplorasi diri sebelum kembali ke dunia nyata kerja. Semoga waktu yang ada bisa saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Digitalisasi BPJS Kesehatan Sebagai Potret Transformasi e-Government di Indonesia

Digitalisasi BPJS Kesehatan sesungguhnya merupakan topik menarik dalam perspektif administrasi publik pada umumnya dan e-Government pada khususnya. Alasan pertama tentu saja karena yang diurus adalah kesehatan, suatu sektor yang sangat krusial dalam kehidupan manusia. Alasan berikutnya, seluruh core business dari BPJS Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi itu sendiri.

Oh, kita tentu tidak sedang membahas perkembangan teknologi kedokteran. Walaupun BPJS Kesehatan membiayai suatu tindakan medis, tapi ranahnya bukan itu. Kita juga tidak sedang membahas formularium obat yang proses penyusunannya melibatkan banyak pakar dari berbagai institusi.

Pembahasan kita adalah pada proses bisnis BPJS Kesehatan yang mengumpulkan uang, mengelolanya, dan menggunakannya ketika memang benar-benar dibutuhkan. Tampak sederhana, tapi tentu tidak sederhana ketika yang diurus adalah 221.471.196 peserta (data per 31 Januari 2021) dengan rincian sebagai berikut:

Boleh dibilang, BPJS Kesehatan menjadi contoh pelayanan publik dengan peserta terbanyak se-Indonesia Raya. Kalau dibandingkan dengan e-KTP, akte kelahiran, dan sejenisnya, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan dinas kependudukan dan pencatatan sipil di daerah, yang notabene adalah bawahannya Kepala Daerah. Bebannya banyak, tapi tetap masih ada pembagiannya.

Belum lagi, berbeda dengan layanan seperti e-KTP, sebagian publik yang dilayani BPJS adalah peserta yang membayar setiap bulan secara rutin. Ketika publik membayar atas sesuatu, maka publik akan lebih demanding. Dengan kata lain, publik yang dilayani BPJS Kesehatan itu akan cenderung lebih banyak komplainnya dibandingkan layanan publik lainnya. Di sisi lain, jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini punya dampak sosial yang luar biasa.

Hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa penduduk Indonesia pada September 2020 adalah 270,2 juta jiwa. Artinya, peserta BPJS Kesehatan jumlahnya sudah lebih dari 80% penduduk Indonesia dan semuanya itu diurus sendiri oleh BPJS Kesehatan.

Dengan beban kerja seberat itu, tanpa digitalisasi, sudah fix bakal ambyar. Kebayang dong jumlah kertas yang harus disiapkan dan dihabiskan untuk mengurusi pendaftaran, pembayaran iuran, hingga klaim dari 80% penduduk Indonesia jika layanan BPJS Kesehatan tidak didigitalisasi? Belum lagi pengelolaan iuran dari puluhan juta peserta mandiri yang tentu saja tidak terima apabila uang iuran itu tidak dikelola secara akuntabel.

6 Core Business BPJS Kesehatan

Seperti telah dijelaskan bahwa urusan BPJS Kesehatan itu banyak, tapi dalam tulisan ini mari kita fokus pada core business saja. Jadi, urusan pengadaan kertas buat operasional sehari-hari, dll tidak kita kulik.

Dari gambar di atas sebenarnya kembali terlihat urgensi digitalisasi. Sebab, harus ada data yang konsisten sejak layanan kepesertaan hingga pada pelayanan kesehatan yang dimaksud. Sehingga sejalan dengan yang pernah saya ceritakan sebelumnya saat periksa ginjal dengan dokter spesialis, datanya juga jelas perihal saya itu dirujuk dari fasilitas kesehatan mana, dengan gejala dan kebutuhan apa, di dokter spesialis mendapatkan treatment apa, dan lain-lain.

Ujung-ujungnya tentu agar saya sendiri bisa mendapatkan layanan kesehatan yang baik. Di sisi lain, rumah sakit yang melayani juga mendapatkan imbal jasa yang pas dengan treatment yang diberikan. BPJS Kesehatan sendiri juga mengeluarkan dana pada jumlah yang tepat sesuai treatment yan saya terima.

Sejujurnya ini agak mirip PPIC, kalau diceritakan satu per satu terlihat gampang. Tapi begitu dimasukkan pada realitas bahwa yang diurus adalah ribuan produk, ya jadinya pusing juga.

e-Government

Sebelum lebih lanjut mendalami digitalisasi, mari kita bahas sejenak soal e-Government. Sederhananya, electronic government alias e-Government alias lagi e-Gov merupakan penggunaan teknologi informasi oleh institusi di pemerintahan yang mampu mengubah relasi dengan warga negara, dunia usaha, hingga bidang pemerintahan lainnya. Kurang lebih begitu kalau menurut World Bank.

Seperti perkembangan lain di bidang administrasi publik, tadinya e-Gov diimplementasikan di negara maju. Ketika di negara maju sudah cukup mapan, negara berkembang hingga negara miskin kemudian merasa butuh juga. Salah satu metode yang cukup sering digunakan untuk mendorong implementasi e-Gov adalah dengan ‘memaksa’ negara miskin dan berkembang untuk menerapkan e-Gov jika hendak menerima pinjaman maupun bantuan dari negara maju. Lewat metode ini, e-Gov kemudian berkembang.

Konsep e-Gov sendiri tidaklah sesederhana layanan publik via internet seperti kita mengurus paspor daring atau menggunakan layanan BPJS Kesehatan via aplikasi Mobile JKN sebagai wujud hubungan Government to Citizens (G2C). Walaupun memang layanan itulah yang dirasakan oleh publik secara langsung.

Pada saat yang sama, G2C itu juga berkelindan dengan Government to Government (G2G) dan Government to Business (G2B). Dalam hal layanan BPJS Kesehatan, G2B-nya antara lain pengadaan barang/jasa untuk operasional BPJS Kesehatan. Sedangkan G2G-nya adalah relasi antara Kementerian Keuangan atau Kementerian Kesehatan.

Kehadiran e-Gov ini berangkat dari perkembangan paradigma New Public Management (NPM) yang ‘swasta banget’ sehingga efisiensi, kecepatan, dan transparansi menjadi kunci. Tidak heran pula bahwa dalam implementasi e-Gov, banyak konsep-konsep yang berangkat dari penerapan pada perusahaan swasta seperti yang paling sederhana: Customer Relationship Management. Dulu-dulu kalau menerima layanan pemerintah, ya harus manut apapun masalahnya. Sekarang? Bahkan ada kanal pengaduan pelanggan segala!

Digitalisasi Sektor Kesehatan

Perkembangan e-Gov kemudian juga masuk ke sektor kesehatan. Sebagaimana pada bidang lain, tentu ada disrupsinya. Sekarang kalau kita ke RS, sudah jarang membawa resep sendiri ke bagian farmasi untuk ditebus. Pada umumnya dokter sudah mengisi di sistem, lalu pada saat yang sama bagian farmasi mendapat informasinya, lantas mempersiapkannya. Dampaknya buat kita sebagai publik? Tentu saja, pelayanan jadi lebih cepat! Sering terjadi kita selesai mengurusi pembayaran, pas mampir ke farmasi, obatnya sudah tersedia. Walaupun pada prosesnya tentu muncul kerentanan di sana-sini sebelum akhirnya adaptasi terjadi.

Van Velthoven dari University of Oxford menyebut digitalisasi telah mengubah masyarakat secara revolusioner yang bahkan tidak pernah terbayangkan 1 abad silam, dengan mampu menyasar isu-isu lama seperti mutu layanan hingga biaya. Kotarba dari Warsaw University of Technology mengidentifikasi lima dimensi penting dalam digitalisasi yakni ekonomi, masyarakat, industri, enterprise, dan klien. Adapun e-Gov sendiri hadir sebagai elemen dari dimensi masyarakat. Aspek ini adalah yang utama dan paling mudah dinilai publik, sementara institusi pemerintah termasuk BPJS Kesehatan tetap harus sibuk mengembangkan 4 dimensi lainnya. Lagi-lagi, ujungnya sebenarnya adalah agar publik menerima layanan yang lebih baik dan kalau bisa malah terbaik sekalian.

Pada awal BPJS Kesehatan hadir, cukup banyak proses yang menuntut masyarakat mengurus segala sesuatu secara manual. Tidak usah jauh-jauh, ketika saya mengurusi tambahan kartu pada tahun 2018 untuk anak, ya tetap harus izin dari kantor dan mengantri ke kantor BPJS yang paling dekat dengan kantor. Model pelayanan seperti ini yang harus ditekan seminimal mungkin meskipun tentu tidak pula harus dihilangkan.

Dalam prosesnya, saya melihat dan mengalami sendiri betapa digitalisasi BPJS Kesehatan terasa langsung di gawai. Paling gampangnya adalah saya bisa melihat diagnosis dokter ketika memeriksakan diri menggunakan BPJS untuk kejadian yang bahkan sudah lewat 3 tahun. Hal ini mungkin tampak sepele, tapi dalam dunia kesehatan, riwayat tersebut sangatlah penting. Tidak selengkap rekam medis di fasilitas kesehatan tentu saja, tapi sudah cukup membantu peserta.

Transformasi Digital BPJS Kesehatan

Nah, perkembangan e-Gov tadi semakin didorong cenderung dipaksa oleh kehadiran pandemi COVID-19. Bagaimana tidak, wong kita diminta untuk sebisa mungkin di rumah saja, padahal banyak urusan yang harus jalan terus. Hampir semua instansi pemerintah bergerak lebih kencang karena didorong oleh kondisi tersebut, termasuk tentu saja BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan sendiri kalau menurut saya sudah cukup ciamik e-Gov-nya dari dulu, seperti misalnya sudah bisa pindah faskes hanya pakai aplikasi dan tidak perlu ke kantor. Termasuk juga tidak perlu bawa kartu kemana-mana, cukup pakai aplikasi. Di era pandemi ini, BPJS Kesehatan juga mendorong peserta JKN-KIS untuk menggunakan layanan digital. Selain Mobile JKN yang tadi sudah saya kisahkan, ada juga BPJS Kesehatan Care Center 1500400, masih ada pula Chat Assitant JKN atau CHIKA, Voice Interactive JKN atau VIKA, sampai dengan Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp atau PANDAWA.

Pilihan-pilihan tersebut sangat penting untuk disediakan oleh BPJS Kesehatan. Data Digital 2020 menyebut bahwa penetrasi internet di Indonesia ada di angka 64% dengan rata-rata waktu yang dihabiskan dalam sehari untuk menggunakan internet di gawai masing-masing mencapai 4 jam dan 46 menit! Alternatif-alternatif layanan yang sejalan dengan karakteristik masyarakat menjadi penting dalam upaya meningkatkan engagement dengan publik yang merupakan peserta BPJS Kesehatan. Ambil contoh PANDAWA, kehadiran layanan itu sangat masuk akal ketika disandingkan dengan data Digital 2020 bahwa 84% pengguna media sosial di Indonesia memakai WhatsApp. CHIKA dan VIKA bahkan sudah berteknologi artificial intelligence (AI) sehingga semakin relevan pula dengan perkembangan zaman.

Digitalisasi di BPJS Kesehatan juga menjadi jawaban dari sejumlah permasalahan yang dalam beberapa tahun terakhir diidentifikasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Pada Ikhtisar Hasil Pemeriksaan BPK RI Semester I Tahun 2020 disebutkan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian seperti optimalisasi pemutakhiran dan validasi kepesertaan maupun pentingnya verifikasi klaim layanan yang didukung sistem pelayanan dan sistem kepesertaan yang terintegrasi dengan andal.

Pada akhirnya harus dipahami bahwa #DigitalisasiBPJSKesehatan bukanlah pekerjaan sekali jadi, melainkan senantiasa berkesinambungan. BPJS Kesehatan sendiri pada akhirnya harus juga dapat agile guna bisa beradaptasi dengan baik pada transformasi yang dibutuhkan sejalan dengan perkembangan dunia kesehatan hingga ekspektasi dari masyarakat sebagai peserta, terutama dalam elemen kecepatan dan ketepatan pelayanan.

Ketika pelayanan tepat dan cepat, maka peserta senang, fasilitas kesehatan juga senang, termasuk BPJS Kesehatan pun turut senang. Menyenangkan sekali, bukan?

Ketahui Manfaat Asuransi Jiwa AXA Mandiri untuk Hidupmu

Manfaat asuransi jiwa memang sangat krusial untuk masa depan. Sebab, manusia tidak pernah tahu masa depan dan apa yang akan terjadi dalam kehidupannya nanti sehingga tindakan antisipatif sangat diperlukan, salah satunya dengan memiliki asuransi jiwa. Dengan adanya asuransi jiwa, ketenangan hidup bisa lebih terjamin di masa depan.

Ketenangan hidup di masa depan bersama asuransi AXA Mandiri

Manfaat Memiliki Asuransi Jiwa AXA Mandiri

Untuk memberikan perlindungan maksimal kepada diri sendiri dan anggota keluarga lainnya pilihlah hanya asuransi jiwa terbaik. AXA Mandiri yang telah membuktikan diri dan diakui sebagai asuransi terbaik di dunia selama 5 tahun yang dirilis oleh Interbrand. Peringkat pertama di level dunia membuktikan bahwa AXA Mandiri merupakan pilihan asuransi terbaik dengan manfaat sebagai berikut:

1. Mendapatkan Manfaat dan Penggantian Biaya Perawatan

Dengan menjadi nasabah dari asuransi AXA Mandiri, Anda akan mendapatkan berbagai manfaat kesehatan. Penggantian biaya diberikan mulai dari biaya perawatan maupun rawat jalan. Termasuk juga biaya konsultasi dokter umum dan spesialis serta penggantian ongkos transportasi ke RS.

2. Perlindungan Jiwa dan Kesehatan Secara Maksimal

Asuransi AXA Mandiri akan melindungi Anda dari berbagai masalah yang timbul akibat kesehatan yang terganggu. Rawat inap ataupun rawat jalan serta tindakan bedah semua ditanggung oleh AXA Mandiri.

3. Jangkauan ke Negara ASEAN

Tidak perlu cemas akan serangan penyakit mendadak saat sedang berada di luar negeri karena layanan AXA Mandiri menjangkau ke luar negeri. Layanan AXA Mandiri tersebar di seluruh negara anggota ASEAN.

4. Santunan Harian dan Duka

AXA Mandiri akan memberikan santunan harian secara tunai kepada nasabahnya. Jika terjadi kecelakaan hingga menyebabkan nasabah meninggal dunia, AXA Mandiri juga akan memberikan santunan uang duka kepada keluarga yang ditinggalkan.

5. Adanya Fasilitas Cashless

Fasilitas cashless yang diberikan oleh AXA Mandiri memudahkan Anda untuk mengatasi masalah biaya perawatan kesehatan dimanapun. Hanya dengan kartu asuransi AXA Mandiri semua masalah akan teratasi.

Sebagai asuransi yang telah melayani lebih dari 100 juta nasabah di 57 negara dunia, AXA Mandiri tampil dengan berbagai pilihan jenis yang semuanya menguntungkan. Anda bisa memilih jenis asuransi manakah yang paling sesuai dengan kondisi diri sendiri maupun keluarga.

Bahkan, Anda juga dapat mengubah alokasi dana investasi asuransi AXA Mandiri yang tata caranya sudah dibahas di blog ini pada postingan beberapa waktu yang lalu. Itulah kenapa asuransi AXA Mandiri ini dapat menjadi pilihan utama ketika ingin memiliki asuransi sebagai perlindungan diri.

Perlindungan diri dengan asuransi AXA Mandiri

Jenis Asuransi Terbaik dari AXA Mandiri

Sudah menjadi prinsip bagi AXA Mandiri untuk memberikan perlindungan maksimal dan terbaik bagi semua nasabahnya. Semua manfaat dan kebaikan tersebut bisa didapatkan dari asuransi-asuransi berikut ini:

1. Asuransi AXA Mandiri Perlindungan Sejahtera

Merupakan produk asuransi dari Mandiri yang ditujukan untuk perorangan dengan mobilitas tinggi. Anda yang sibuk bisa melindungi diri dengan maksimal.

2. Asuransi AXA Mandiri Solusi Kesehatan

Bagi keluarga tercinta Anda bisa memberikan Asuransi Solusi Kesehatan dari AXA Mandiri. Lindungi keluarga tercinta dengan pilihan asuransi terbaik dari AXA.

3. Asuransi AXA Mandiri Kesehatan Prima

Asuransi ini akan memberikan perlindungan maksimal bagi perawatan keluarga di rumah sakit swasta. Klaim bisa diajukan tanpa medical check-up

4. Asuransi AXA Mandiri Penyakit Tropis

Inilah perlindungan terbaik bagi Anda yang tinggal di negara dengan iklim tropis seperti di Indonesia. Gangguan penyakit tropis seperti DBD ataupun flu bisa diatasi dengan segera melakukan perawatan terbaik tanpa pusing memikirkan biayanya.

5. Asuransi AXA Mandiri SmartCAre Executive

Lindungi diri sendiri dan keluarga dengan asuransi AXA SmartCare Executive dengan jangkauan perawatan di 700 RS rekanan. Asuransi ini akan membantu biaya rawat jalan dan perlindungan dari kecelakaan.

6. Asuransi AXA Mandiri International Exclusive

Tidak perlu kuatir menderita sakit ketika berada di luar negeri dengan Asuransi International Exclusive dari AXA Mandiri. Dapatkan keuntungan maksimal dimanapun Anda berada.

7. Asuransi AXA Mandiri Kesehatan Syariah

Asuransi kesehatan terbaik tanpa riba khusus untuk Anda yang ingin menegakkan syariat Islam. Perlindungan maksimal tanpa takut dosa.

Keuntungan Memiliki Asuransi AXA Mandiri

Berbagai keuntungan akan didapatkan nasabah dari Asuransi AXA Mandiri tersebut sehingga tidak perlu kuatir dengan masalah kesehatan dimanapun. Beberapa keuntungan bergabung dengan asuransi dari AXA Mandiri yaitu:

  1. Jangkauan di dalam dan luar negeri dengan 700 rumah sakit rekanan.
  2. Memberikan perlindungan terhadap biaya perawatan kesehatan
  3. Premi bulanan ringan dengan nilai pertanggungan yang tinggi
  4. Pengembalian premi setelah 5 tahun kepesertaan dan kelipatannya.

Banyaknya keuntungan dan manfaat yang ditawarkan oleh AXA Mandiri membuatnya menjadi yang terbaik. Tidak ada lagi alasan bagi nasabah untuk tidak memilih yang terbaik yaitu Asuransi AXA Mandiri.

Ketika Anak Keminggris

Sejak kuliah lagi, yang terbayang oleh saya sebenarnya adalah kehidupan yang sangat akademis. Ya, sebenarnya sudah lumayan terbentuk di semester 1. Ketika itu, saya berangkat ke kampus untuk menyediakan waktu 3-4 jam di perpustakaan guna mengerjakan paper. Kadang-kadang, saya juga ke kampus Depok untuk pergi ke perpustakaan yang lebih besar. Terbayang juga untuk saya bisa mengikuti acara-acara akademis yang tersebar di penjuru Jakarta karena saya punya waktu untuk itu.

Pada saat yang sama, anak tetap di daycare. Sore hari dijemput sama istri. Pendidikan dia akan terjamin karena sejauh ini dia cukup oke kinerjanya di daycare. Nyaris nggak ada masalah berarti selain menggigit anak orang. Itupun sebenarnya karena dia diganggu terlebih dahulu.

Saya dan istri bahkan sudah punya perencanaan indah. Istri ikut conference di Singapura. Saya yang kebetulan liburan semester akan punya fleksibilitas untuk turut serta dan kami bisa liburan ke Singapura. Gambarannya, Singapura adalah negara pertama yang akan didatangi oleh Isto. Kami bahkan sudah menyiapkannya paspor. Ya, teman-temannya se-daycare sudah main ke Jepang sampai Perancis, sementara Isto paling jauh Jam Gadang. Sebagai orangtua, kami tentu ingin bikin anak senang dan tampak keren.

Apa daya, manusia hanya bisa berencana. COVID-19 kemudian menjadi penentu.

Semester 2 saya lewati lebih dari separo periodenya dengan kuliah sembari menjaga anak. Bikin paper tentu tidak bisa di perpus, jadilah di rumah saja. Sambil kadang-kadang diganduli untuk dibilang, “Papa jangan kuliah…”

Isto mana tahu kalau sampai saya telat lulus, pos anggaran terbesar yang terancam untuk digunakan (karena beasiswa saya tidak terima telat lulus) adalah biaya pendidikannya. Amit-amit. Jangan sampai, deh.

Ya begitulah. Mau tidak mau, anak saya betul-betul harus terikat dengan YouTube. Tidak di HP, sih. Saya dan istri membeli Smart TV Box sehingga YouTube-nya di TV. Mahal sedikit nggak apa-apa, yang penting gede. Pada periode tertentu kadang-kadang saya pakai streaming badminton juga, seperti pas Suhandinata Cup 2019. Enak nontonnya. Gede.

Pada saat dia terjebak bersama saya di rumah karena daycare-nya tutup dan kemudian ya akhirnya tutup permanen, usianya belum 3 tahun. Sekarang sudah lewat 3 tahun. Usia yang sangat krusial untuk masuknya hal-hal baru. Dan dampaknya terasa betul sekarang. Ya, gara-gara sebagian hidupnya terpaksa harus bersama YouTube, maka anak saya benar-benar keminggris ngomongnya. Tanpa perlu saya diajari.

Tayangan yang dia tonton adalah Peppa Pig, Blippi, dan sekarang Octonauts. Yang Octonauts sih baru ya, belum terasa dampaknya. Tapi kombinasi Peppa Pig dan Blippi betul-betul sangat meng-influence dia. Isto sering sekali storytelling dengan kata-kata Blippi, seperti “I show you…” atau “Here we go!” atau yang agak mirip “Hmmm, let’s do….” Demikian pula dengan kata-kata dan konteks yang ada di Peppa Pig, seperti kalau menerima makanan baru, dia sering bilang, “Hmm, delicious…”

Berhitung pun sudah lancar, tapi ya dari one sampai twenty, bukan satu sampai dua puluh. Kemarin kami beli paket sekolah daring yang elemen pengantarnya pakai bahasa Indonesia, ya anak saya berasa nggak nyambung. Padahal ya bisa, cuma pakai English.

Pada satu sisi ya saya senang-senang saja. Toh selama ini dia juga saya ajak ngobrol Bahasa Indonesia, kok. TOEFL saya kan 700 dari 3 kali tes, jadi memang penguasaan Bahasa Inggris saya nggak bagus-bagus banget. Emaknya sebagai lulusan Inggris yang sudah pasti keren. Ketika kemudian anak saya belum bisa berhitung satu, dua, tiga, dst tapi bisa one, two, three ya saya biasa aja juga. Kadang-kadang saja agak berpikir keras bagaimana kelak dia ketika masuk sekolah.

Ya mau bagaimana lagi? Ini konsekuensi. Toh menurut saya, pengaturan sekarang boleh dibilang berkat. Pas pandemi, pas saya kuliah, pas bisa daring pula. Jadi saya bisa menjaga anak saya dari dunia luar yang sedang kejam-kejamnya. Kalau kejadiannya pas saya sudah aktif lagi, boleh jadi daycare adalah pilihan tunggal yang tidak bisa dielakkan.

Jadi, kalau anak keminggris gimana? Kata saya ya udah, mau diapain lagi~

Satu Cerita Tentang Juara Tiga

Saya jarang menulis tentang kisah di balik tulisan-tulisan yang menjadi juara di berbagai perlombaan. Sebabnya satu: saya jarang juara. Heuheu. Bisa dilihat di sisi kanan blog ini, bahwa saya itu jadi juara lomba menulis dapat dihitung pakai jari sebelah tangan doang. Saking jarangnya.

Nah, mungkin khusus yang ini agak berbeda. Sebab, kalau yang dua sebelumnya adalah lomba blog, maka hari ini saya dapat rejeki di sebuah perlombaan Karya Tulis Ilmiah. Cuk, tulisan saya model di Mojok begitu, ternyata saya bisa juga ya nulis (((ILMIAH))).

Dikisahkan dari awal saja ya. Saya dikasih tahu lomba karya tulis ilmiah ini oleh dua orang teman. Satu, teman kantor sendiri. Senior, ding. Kedua, teman kampus yang kebetulan pegawai di instansi penyelenggara lomba. Sang teman ini yang cuilan kisahnya saya tulis di salah satu post blog ini, dan gara-gara itu, katanya… dia jadi enggan nulis curcol di blog lagi. Ew~

Intinya sih tenggatnya tanggal 5 Juni. Dengan format penulisan karya ilmiah (pendahuluan, teori, framework, pembahasan, dan kesimpulan). Minimal 1.250 kata. Rasanya itu saja.

Masalahnya adalah periode akhir Mei sampai 12 Juni adalah periode Ujian Akhir Semester. Dan ini era pandemi. Jadilah UAS-nya pasti berupa tugas dan tentu tidak sesederhana menjawab soal di lembar jawab dengan tulisan tangan.

Tugasnya rupa-rupa. Ada yang bikin critical note, review paper, sampai video segala. Mantap pokoknya. Mana saya sambil ngasuh anak di rumah pula. Nggak heran kalau anak saya jadinya ya anak asuh Daddy Pig dan hanya memanggil bapaknya kalau di YouTube ada iklan. Oya, iklan sedikit, ini salah satu tugas saya.

Lebih ciamik lagi adalah tanggal 5 itu tenggat UAS Statistik yang bahkan belum saya kerjakan pada tanggal 3, sebab saya fokus mengerjakan proposal tesis yang merupakan UAS Metodologi Penelitian dengan tenggat tanggal 3.

Pada akhirnya sih saya hanya bilang, “kalau sempat ya ikut…”

Posisinya waktu itu tanggal 5 sore hari ketika sang dosen secara baik hati melakukan pengunduran jadwal pengumpulan UAS! Ketika itu, saya belum kelar menggarap ujian bertenggat sama persis dengan lomba. Pengunduran itu kemudian memberikan potensi saya untuk ikut lomba lagi. Toh, masih ada 8 jam sebelum deadline.

BIKIN KARYA TULIS ILMIAH DELAPAN JAM ITU APAAN?

Untuk lebih memperjelas, bahkan saya sebenarnya mulai benar-benar menulis itu jam 8 malam. Heuheu.

Lantas apa rahasianya?

Sederhana saja, saya yakin kalau “hanya” menulis 1.250 kata itu saya bisa kelar dalam 1-2 jam. Saya sudah mencoba mencari topik yang relevan dengan tema, tapi kurang sreg secara mutu. Bukan apa-apa, dengan segala kegagalan yang pernah saya alami, tentunya saya menetapkan standar tertentu kalau mau ikut-ikut lomba. Saya biasa gagal, tapi saya nggak biasa berkarya sembarangan.

Pada akhirnya saya mengingat review paper pertama yang saya buat ketika kuliah S2. Di paper itu saya menguliti konsep “Trusted Advisor” begitu dalam dengan berbagai jurnal terkini. Tulisan itu dapat nilai A- dari Pak Dosen. Dan dengan posisi tenggat mepet begini, kok ya eman ada tulisan 5000 kata yang menurut saya nggak jelek-jelek amat dan nilainya menurut Pak Dosen juga oke, tapi tidak saya pakai.

Maka, terjadilah…

Tulisan saya kemudian berangkat dari konsep “Trusted Advisor” itu untuk membedah tentang “Agile Auditor”. Saya tahu bahwa Agile Auditor ini topik agak baru dan sebenarnya cukup banyak diriset juga. Tapi daripada repot, tentu saya pakai beberapa teori saja.

Kebetulan lagi, karena proposal tesis saya adalah tentang Government 2.0, saya follow akun media sosial Ibu Ines Mergel. Kok ya ndilalah di bulan Mei itu dia mengeluarkan sebuah tulisan yang betul-betul membahas konsep AGILE.

Maka, saya sambungkan dan kebetulan sekali cocok. Itu posisi jam 21.00 kurang lebih. Masih ada 3 jam sebelum tenggat.

Bagaimanapun salah satu keunggulan saya adalah bisa menulis cepat–apalagi kalau kepepet. Keunggulan itu yang dulu bikin saya suka ditelepon redaktur jam 8 malam untuk bisa mengirim tulisan tengah malam sehingga bisa terbit keesokan harinya. Hari ini, redaksi media itu menerima ratusan tulisan setiap harinya sehingga nggak perlu lagi orang-orang seperti saya. Walaupun, ya, saya tetap ngirim ke situ tentu saja. Lha, butuh je.

Ditambah 30 menit menggambar konsepnya di draw.io maka tulisan itu jadi pukul 23 lewat. Sesudah cek demi cek lagi, maka karya itu saya kirimkan beberapa menit sebelum tenggat berakhir.

Dan ya sudah. Selesai di situ.

Hingga kemudian hari tibalah hari Kamis sore, 11 Juni 2020. Itu posisinya adalah saya tengah mempersiapkan perayaan HUT Baginda Isto yang ke-3 keesokan harinya. Saya dikontak sama panitia lomba yang mengabarkan bahwa tulisan saya masuk 6 Besar. Okebaik.

Nah, dari 6 besar itu harus menyiapkan paparan untuk dipresentasikan ke dewan juri.

EH EH EH. SIK SIK SIK. Seingat saya nggak ada kriteria presentasi di flyer lombanya. Tapi kalau ada presentasi begini, kan… saya jadi deg-degan.

Tapi baiklah, dijalani saja. Saya mungkin orang paling culun di deretan 6 besar itu. Setidaknya dua nama adalah lulusan luar negeri, salah satunya bahkan S2 dan S3. Satunya lagi, gelar Certified-nya panjang sekali. Ada pula Widyaiswara yang tentu saja mengajari saya pas Diklat JabFung.

Lha, saya? Nulis di Mojok saja jarang-jarang masuk tulisan terpopuler.

Gara-gara presentasi ini tentu pengaturan berubah. Alih-alih menyiapkan party, saya malah bikin presentasy. Jam 1 pagi, saya kirim slidenya ke panitia. Soalnya disuruh kirim sebelum jam 8. Saya bukan mau pamer kesiapan ke panitia. Masalahnya, biasanya saya bangun jam 9 pagi~

Demikianlah akhirnya sampai ke presentasi. Ketika kontestan lain latarnya adalah meja kerja, aula kantor, maka latar belakang video saya adalah…

…BALON ULTAH KRISTO, yang sudah kadung terpasang.

Ketika tiba-tiba ada agenda seperti ini, pada akhirnya saya menganggap bahwa ini mungkin rejeki si Isto. Toh, setidaknya saya sudah jadi juara harapan 3 kan. Juara 6 dari 90-an peserta itu sudah wow sekali rasanya.

Sore tadi, saya ketiduran. Saya terlambat nonton live YouTube pengumumannya. Tapi ada teman LPDP yang DM dan bilang bahwa saya juara 3. Karena saya kadang-kadang adalah Thomas alias Didimus, maka saya nggak berbahagia dan nggak percaya kalau nggak melihat. Apa daya, hidup saya 6 tahun terakhir kan dipaksa skeptis.

Maka, saya pencet mundur live YT yang sedang berjalan. Nemu pertama malah Bapaknya Dirham. Pencet maju, nggak nemu. Mundur lagi nggak nemu. Ternyata lombanya banyak, gaes.

Pada akhirnya tentu saja ketemu dan ya benarlah bahwa saya dapat juara 3. Saya tiada bisa berkata-kata lagi sebab rasanya itu sudah paling mentok. Dan ini adalah pertama kalinya tulisan saya dalam format ilmiah dapat penghargaan di lomba tingkat nasional.

Sekali lagi, saya mengisahkan riwayat di balik tulisan bukan bermaksud apa-apa selain wujud rasa syukur. Waktu menang Lomba Blog BPK itu saja saya sudah merasa kayaknya itu bakal menjadi prestasi saya paling tinggi seumur hidup soalnya~