Satu Cerita Tentang Juara Tiga

Saya jarang menulis tentang kisah di balik tulisan-tulisan yang menjadi juara di berbagai perlombaan. Sebabnya satu: saya jarang juara. Heuheu. Bisa dilihat di sisi kanan blog ini, bahwa saya itu jadi juara lomba menulis dapat dihitung pakai jari sebelah tangan doang. Saking jarangnya.

Nah, mungkin khusus yang ini agak berbeda. Sebab, kalau yang dua sebelumnya adalah lomba blog, maka hari ini saya dapat rejeki di sebuah perlombaan Karya Tulis Ilmiah. Cuk, tulisan saya model di Mojok begitu, ternyata saya bisa juga ya nulis (((ILMIAH))).

Dikisahkan dari awal saja ya. Saya dikasih tahu lomba karya tulis ilmiah ini oleh dua orang teman. Satu, teman kantor sendiri. Senior, ding. Kedua, teman kampus yang kebetulan pegawai di instansi penyelenggara lomba. Sang teman ini yang cuilan kisahnya saya tulis di salah satu post blog ini, dan gara-gara itu, katanya… dia jadi enggan nulis curcol di blog lagi. Ew~

Intinya sih tenggatnya tanggal 5 Juni. Dengan format penulisan karya ilmiah (pendahuluan, teori, framework, pembahasan, dan kesimpulan). Minimal 1.250 kata. Rasanya itu saja.

Masalahnya adalah periode akhir Mei sampai 12 Juni adalah periode Ujian Akhir Semester. Dan ini era pandemi. Jadilah UAS-nya pasti berupa tugas dan tentu tidak sesederhana menjawab soal di lembar jawab dengan tulisan tangan.

Tugasnya rupa-rupa. Ada yang bikin critical note, review paper, sampai video segala. Mantap pokoknya. Mana saya sambil ngasuh anak di rumah pula. Nggak heran kalau anak saya jadinya ya anak asuh Daddy Pig dan hanya memanggil bapaknya kalau di YouTube ada iklan. Oya, iklan sedikit, ini salah satu tugas saya.

Lebih ciamik lagi adalah tanggal 5 itu tenggat UAS Statistik yang bahkan belum saya kerjakan pada tanggal 3, sebab saya fokus mengerjakan proposal tesis yang merupakan UAS Metodologi Penelitian dengan tenggat tanggal 3.

Pada akhirnya sih saya hanya bilang, “kalau sempat ya ikut…”

Posisinya waktu itu tanggal 5 sore hari ketika sang dosen secara baik hati melakukan pengunduran jadwal pengumpulan UAS! Ketika itu, saya belum kelar menggarap ujian bertenggat sama persis dengan lomba. Pengunduran itu kemudian memberikan potensi saya untuk ikut lomba lagi. Toh, masih ada 8 jam sebelum deadline.

BIKIN KARYA TULIS ILMIAH DELAPAN JAM ITU APAAN?

Untuk lebih memperjelas, bahkan saya sebenarnya mulai benar-benar menulis itu jam 8 malam. Heuheu.

Lantas apa rahasianya?

Sederhana saja, saya yakin kalau “hanya” menulis 1.250 kata itu saya bisa kelar dalam 1-2 jam. Saya sudah mencoba mencari topik yang relevan dengan tema, tapi kurang sreg secara mutu. Bukan apa-apa, dengan segala kegagalan yang pernah saya alami, tentunya saya menetapkan standar tertentu kalau mau ikut-ikut lomba. Saya biasa gagal, tapi saya nggak biasa berkarya sembarangan.

Pada akhirnya saya mengingat review paper pertama yang saya buat ketika kuliah S2. Di paper itu saya menguliti konsep “Trusted Advisor” begitu dalam dengan berbagai jurnal terkini. Tulisan itu dapat nilai A- dari Pak Dosen. Dan dengan posisi tenggat mepet begini, kok ya eman ada tulisan 5000 kata yang menurut saya nggak jelek-jelek amat dan nilainya menurut Pak Dosen juga oke, tapi tidak saya pakai.

Maka, terjadilah…

Tulisan saya kemudian berangkat dari konsep “Trusted Advisor” itu untuk membedah tentang “Agile Auditor”. Saya tahu bahwa Agile Auditor ini topik agak baru dan sebenarnya cukup banyak diriset juga. Tapi daripada repot, tentu saya pakai beberapa teori saja.

Kebetulan lagi, karena proposal tesis saya adalah tentang Government 2.0, saya follow akun media sosial Ibu Ines Mergel. Kok ya ndilalah di bulan Mei itu dia mengeluarkan sebuah tulisan yang betul-betul membahas konsep AGILE.

Maka, saya sambungkan dan kebetulan sekali cocok. Itu posisi jam 21.00 kurang lebih. Masih ada 3 jam sebelum tenggat.

Bagaimanapun salah satu keunggulan saya adalah bisa menulis cepat–apalagi kalau kepepet. Keunggulan itu yang dulu bikin saya suka ditelepon redaktur jam 8 malam untuk bisa mengirim tulisan tengah malam sehingga bisa terbit keesokan harinya. Hari ini, redaksi media itu menerima ratusan tulisan setiap harinya sehingga nggak perlu lagi orang-orang seperti saya. Walaupun, ya, saya tetap ngirim ke situ tentu saja. Lha, butuh je.

Ditambah 30 menit menggambar konsepnya di draw.io maka tulisan itu jadi pukul 23 lewat. Sesudah cek demi cek lagi, maka karya itu saya kirimkan beberapa menit sebelum tenggat berakhir.

Dan ya sudah. Selesai di situ.

Hingga kemudian hari tibalah hari Kamis sore, 11 Juni 2020. Itu posisinya adalah saya tengah mempersiapkan perayaan HUT Baginda Isto yang ke-3 keesokan harinya. Saya dikontak sama panitia lomba yang mengabarkan bahwa tulisan saya masuk 6 Besar. Okebaik.

Nah, dari 6 besar itu harus menyiapkan paparan untuk dipresentasikan ke dewan juri.

EH EH EH. SIK SIK SIK. Seingat saya nggak ada kriteria presentasi di flyer lombanya. Tapi kalau ada presentasi begini, kan… saya jadi deg-degan.

Tapi baiklah, dijalani saja. Saya mungkin orang paling culun di deretan 6 besar itu. Setidaknya dua nama adalah lulusan luar negeri, salah satunya bahkan S2 dan S3. Satunya lagi, gelar Certified-nya panjang sekali. Ada pula Widyaiswara yang tentu saja mengajari saya pas Diklat JabFung.

Lha, saya? Nulis di Mojok saja jarang-jarang masuk tulisan terpopuler.

Gara-gara presentasi ini tentu pengaturan berubah. Alih-alih menyiapkan party, saya malah bikin presentasy. Jam 1 pagi, saya kirim slidenya ke panitia. Soalnya disuruh kirim sebelum jam 8. Saya bukan mau pamer kesiapan ke panitia. Masalahnya, biasanya saya bangun jam 9 pagi~

Demikianlah akhirnya sampai ke presentasi. Ketika kontestan lain latarnya adalah meja kerja, aula kantor, maka latar belakang video saya adalah…

…BALON ULTAH KRISTO, yang sudah kadung terpasang.

Ketika tiba-tiba ada agenda seperti ini, pada akhirnya saya menganggap bahwa ini mungkin rejeki si Isto. Toh, setidaknya saya sudah jadi juara harapan 3 kan. Juara 6 dari 90-an peserta itu sudah wow sekali rasanya.

Sore tadi, saya ketiduran. Saya terlambat nonton live YouTube pengumumannya. Tapi ada teman LPDP yang DM dan bilang bahwa saya juara 3. Karena saya kadang-kadang adalah Thomas alias Didimus, maka saya nggak berbahagia dan nggak percaya kalau nggak melihat. Apa daya, hidup saya 6 tahun terakhir kan dipaksa skeptis.

Maka, saya pencet mundur live YT yang sedang berjalan. Nemu pertama malah Bapaknya Dirham. Pencet maju, nggak nemu. Mundur lagi nggak nemu. Ternyata lombanya banyak, gaes.

Pada akhirnya tentu saja ketemu dan ya benarlah bahwa saya dapat juara 3. Saya tiada bisa berkata-kata lagi sebab rasanya itu sudah paling mentok. Dan ini adalah pertama kalinya tulisan saya dalam format ilmiah dapat penghargaan di lomba tingkat nasional.

Sekali lagi, saya mengisahkan riwayat di balik tulisan bukan bermaksud apa-apa selain wujud rasa syukur. Waktu menang Lomba Blog BPK itu saja saya sudah merasa kayaknya itu bakal menjadi prestasi saya paling tinggi seumur hidup soalnya~

Bahaya Laten Keringanan Cicilan Kartu Kredit di Masa Pandemi

Salah satu bentuk penyesuaian dari penyedia kartu kredit telah dilakukan. Per bulan lalu, saya dapat informasi bahwa ada pengurangan pembayaran minimal. Angka yang dulunya sudah rendah, jadi semakin rendah. Hal ini paralel dengan penyesuaian bunga per bulannya juga jadi sedikit lebih rendah.

Tentu, pasalnya adalah kemampuan bayar berkurang. Kita tahu, pandemi bikin ekonomi ambyar kayak menghadiri nikahan mantan. Boleh jadi, bank hanya berpikir bahwa yang penting ada uang yang masuk.

Sumber: Fox Business

Akan tetapi, bagi orang-orang yang punya hutang di kartu kredit, TERLEBIH YANG PUNYA KEBIASAAN BAYAR MINIMAL, harus waspada. Soalnya, dampaknya tentu sangat besar.

Sebagai gambaran, jika kita utang 10 juta, maka dulu bayar minimalnya 10% alias sejuta. Sekarang di 2 penyedia CC yang saya langgan, turun jadi 5%. Artinya, ibarat kata kita beli laptop 10 juta gesek doang maka di bulan depannya cukup bayar 500 ribu saja dan kita bebas dari telepon debt collector.

Kebiasaan bayar minimal itu dapat menyebabkan ada pikiran bahwa “ada sisa uang”. Jadi misalnya tadi bayar 1 juta, terus kemudian jadi hanya bayar 500 ribu, maka perasaannya boleh jadi adalah “Wah, ada sisa 500 ribu nih”.

Perasaan itu tentu sangat berba-hay-hay. Sebab, yang 500 ribu itu masihlah merupakan utang. Hanya ditunda saja–dan tentu saja jika tidak dibayar maka menjadi korban bunga yang akan terus terakumulasi dari bulan ke bulan.

Tulisan ini sekali lagi diutamakan bagi yang punya kebiasaan bayar minimal, yha. Sebab, saya sendiri dulu sempat begitu sebelum kemudian baru normal akhir tahun lalu. Bagaimanapun, CC ini sebaiknya harus dibayar tuntas pada bulan berikutnya. Kalau memang cicilan ya dibayar sesuai jumlah cicilannya.

Saya sendiri tidak menutup CC karena finansial saya belum cukup mantap. Kayak pas mudik kemarin, sekali beli tiket bertiga 10 juta. Sementara, uang belum ada segitu. Ada, sih, tapi peruntukannya lain. Jadi, CC dapat menjadi alat untuk penunda tagihan. Dan memang harus bisa dikelola dengan sangat bijak agar tidak terjebak ke hutang yang nggak-nggak.

Nanti kapan-kapan saya cerita, deh, soal jerat utang CC akibat bayar minimal terus. Asli, ora enak. Heuheu.

Kondangan Deg-Degan ke Jambi

Pada bulan Oktober, bos saya ketika itu menggelar kondangan pernikahan anak pertamanya di homebase-nya. Iya, sebagai orang Jambi, tentu saja pernikahannya digelar di Jambi. Mosok di Oregon?

Posisi saat itu, saya sudah lepas dari jabatan. Walhasil, tentu tidak dimungkinkan untuk mendapat biaya-biaya apapun dari kantor. Jadilah, saya berangkat dan pulang pakai uang sendiri. Kebetulan masih ada.

Soal itu sih nggak masalah. Yang masalah dan sangat bikin deg-degan, adalah satu problematika lagi.

ASAP.

Sejak pindah dari Palembang tahun 2011 sesungguhnya saya sudah kurang akrab sama asap. Ada sih kena asap sesekali ketika pergi dinas ke kota-kota yang familiar dengan asap. Tapi overall sudah lupa sama asap.

Nah, kondangan Pak Bos ini juga bertepatan dengan kabut asap yang lagi pekat-pekatnya. Saya sendiri membeli tiket balil hari. Pergi pagi-pagi sekali, kemudian pulang ya jam 4-an gitu. Untuk penerbangan lintas pulau, saya berasa pergi ke Bekasi karena hanya bawa 1 tas dan itupun isinya laptop (untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah di waktu-waktu luang yang ada).

Karena penerbangan pagi, belum ada halangan berarti meskipun kabutnya sudah jelas. Tapi masih bisa landing. Okesip.

Begitu sampai Jambi-nya. Wew. Lihat saja gambar-gambar berikut ini:

Ini adalah sesuatu yang pernah saya alami bertahun-tahun silam ketika masih di Bukittinggi atau di Palembang. Tentu tidak akan terjadi ketika saya ngekos nggak jauh dari istana negara. Memang begitu, yang jauh-jauh dari pusat kekuasaan itu agak kasihan. Ini adalah contohnya.

Kondangannya sendiri berlangsung baik-baik saja. Ketika sudah mulai cabut, saya mampir sejenak di sebuah warung kopi sembari menunggu waktu yang pas untuk ke bandara.

Ketika tiba waktunya, saya mendapati bahwa bandara Sultan Thaha ramai sekali. Cek flightradar24, eh, ternyata sudah ada beberapa penerbangan yang divert ke Palembang. Bandara sini ditutup karena jarak pandang.

Bayangkan posisinya saya sudahlah nggak punya uang, nggak punya baju pula. Sudah kebayang kalau mau menginap bagaimana ini caranya~

Well, pada akhirnya sih jarak pandang kembali terbuka. Meski memang sangat minimal tapi masih sesuatu standar sehingga setidaknya bisa terbang. Saya kemudian naik pesawat dengan deg-degan dan begitu pesawat menembus awan akhirnya agak legaan.

Btw, ini adalah penerbangan balik hari saya yang kedua. Pertama kali itu tahun 2008, ke bandara cuma minta tanda tangan dosen pembimbing 2. Saya dari Jogja ke Jakarta, bawa 8 skripsi untuk ditanda tangan. Kebetulan bapaknya mau dipaksa ke bandara. HAHAHAHAHA.

Tentang Ketertiban di Transportasi Umum

Sering mengeluh tentang betapa sulitnya orang Indonesia tertib, terutama di tempat umum? Saya juga sering. Heuheu. Akan tetapi, perlahan saya mulai memahami akar masalahnya karena sering naik transportasi umum.

Ya, terakhir sih 2 bulan yang lalu. Siapa sangka saya balik dari kuliah Kebijakan Publik hari Kamis malam sambil hujan-hujanan itu adalah terakhir kali saya naik KRL setidaknya sampai sekarang?

Oke, skip dulu curhatnya. Tapi begini, seburuk-buruknya KRL di weekday, sesungguhnya lebih parah di weekend. Itu kalau menurut saya. Separah-parahnya di Tanah Abang mau jam berapapun, orang-orang yang selow di tangga dan bahkan di tangga berjalan itu umumnya terjadi ketika weekend.

Demikian pula dengan MRT. Kalau kita ikutan wisata MRT di Sabtu atau Minggu, selain kepadatan nggak kira-kira, perilaku manusianya juga nggak karuan. Hal itu berbeda kalau kita naik MRT di hari kerja.

Nih, saya punya buktinya. Rapi sekali.

Kenapa itu terjadi?

Dugaan saya, ini adalah soal kebiasaan. Di weekday, para pengguna adalah pengguna rutin yang tiap hari ya menggunakan moda yang sama. Setidak terburu-burunya mereka, sudah ada pemahaman perihal perilaku yang seharusnya dilakukan. Saya bilang tadi, seburuk-buruknya Tanah Abang, kalau weekday itu satu-dua doang orang yang diam di sebelah kanan tangga berjalan atau santai-santai di tangga manual.

Jadi, para pengguna rutin itu sudah tahu aturan dasarnya. Di MRT cenderung lebih tertib lagi kemungkinan karena faktor pendidikan dan pekerjaan dari para penumpang. Pemandangan antre serapi di foto tadi adalah hal biasa di stasiun MRT manapun dan jam berapa saja peristiwa itu ada asal pas hari kerja.

Boleh jadi karena cukup pendidikan dan cukup pengetahuan, para pengguna MRT di kala weekday ini jauh lebih tertib dan bisa sekali membuat MRT Indonesia serapi di Singapura atau Hong Kong.

Kesimpulan sementara saya adalah tatanan itu tidak dimengerti para pengguna sekali-sekali yang umumnya menggunakan moda transportasi umum itu di kala weekend alias hanya Sabtu-Minggu atau hari libur saja. Karena tidak mengerti, jadi suka bingung. Ya mending kalau bingung lalu diingatkan terus minggir atau membenahi diri. Masalahnya, kalau penumpang weekend itu suka enaknya sendiri. Kalau ditegur, suka sengak dan malah marahin yang negur.

Kan asem.

Hal yang serupa juga saya dapati ketika naik TransJakarta. Kalau jam 8 atau 9 di setiap halte ramai sekitar Sudirman itu kelihatan kok ketertiban orang-orang antre keluar dengan membentuk barisan atas dasar kesadaran sendiri. Paling kondang ya halte Dukuh Atas yang sempit tapi hub penting jadi kalau sore antrenya bisa mengular sampai atas dan antreannya terbentuk tanpa masalah.

Jadi intinya sih kebiasaan dan lingkungan. Hal itu sebenarnya sudah terbentuk ketika weekday namun seringkali bablas kala weekend.

Bujet Riset Dalam Kelindan Isu Kesehatan Indonesia

Sebagian dari kita mungkin ingat kontroversi cuitan CEO BukaLapak, Achmad Zaky, pada pukul 22.25 WIB tanggal 13 Februari 2019 tentang omong kosong industri 4.0, bujet riset dan pengembangan, serta presiden baru. Sebagian lagi mungkin mengingat dampaknya yang cukup panjang. Pertama, tentu saja perkembangan tagar #UninstallBukaLapak yang bekalangan jadi semakin politis karena kata ‘BukaLapak’ malah diganti dengan ‘Jokowi’, padahal jelas-jelas Jokowi adalah Presiden, bukan aplikasi, jadi ya nggak mungkin di-uninstall, toh?

Kedua, Zaky sendiri sampai datang ke istana karena Jokowi khawatir bahwa tagar untuk meng-uninstall aplikasi yang belum lama di-endorse olehnya itu akan berdampak pada para penjual. Yha, bagi yang doyan belanja daring sih pasti paham bahwa mayoritas penjual itu punya toko di sekurang-kurangnya 3 marketplace besar di Indonesia alias kalau satu ditinggal, tokonya masih bisa dikunjungi via marketplace lainnya.

Ketiga, publik penggerak #UninstallBukaLapak ternyata sama saja pemikirannya dengan #UninstallTraveloka cuma gara-gara hal sepele. Lebih parah lagi, malah jadi lupa pada substansi.

Walaupun ditengarai datanya salah tahun, namun poin Zaky pada pentingnya bujet riset dan pengembangan itu sudah selayaknya jadi perhatian. Supaya isunya tidak seliar cuitan pria Solo tersebut, mari kita coba tempatkan pembahasan pada sektor yang sangat riil kebutuhan akan riset dan pengembangannya yakni industri kesehatan. Lebih spesifik lagi: industri farmasi.

Konsep Riset Industri Farmasi

Saya beruntung pernah hampir 5 tahun berkecimpung di sebuah industri farmasi papan atas Indonesia yang menguasai pangsa pasar obat generik berlogo namun juga pemiliknya cukup edan untuk memiliki sebuah unit riset tersendiri dengan bujet setahun yang nilainya bisa menghidupi sebuah industri farmasi kecil. Dengan demikian, saya bisa cukup percaya diri dalam mengurai perkara riset dalam konteks kefarmasian.

Bagaimanapun, industri farmasi itu unik karena yang dihadapi tidak hanya kompetitor bisnis, namun juga perkembangan penyakit hingga pemutakhiran data keamanan suatu obat sehingga kemudian peran riset dan pengembangan alias R&D menjadi sangat penting.

Apabila pada industri makanan dan kosmetik, R&D bisa dikembangkan ke arah variasi produk seperti rasa maupun warna—hingga kemudian kita bisa mendapati mi instan rasa rendang atau keripik rasa mi instan, misalnya, maka berbeda halnya dengan industri farmasi.

Para peneliti farmasi sejak mula mengembangkan suatu molekul dengan target yang jelas, yakni mengobati suatu penyakit. Metode yang digunakan memang semakin modern dan semakin menggunakan pendekatan bioteknologi untuk hasil yang lebih optimal. Namun tetap saja harus ada harga yang dibayar untuk itu.

Biaya riset menjadi besar setidaknya karena 4 hal, yakni teknologi yang digunakan, bahan aktif baru yang lebih kompleks, fokus riset pada penyakit kronis dan degeneratif dengan biaya yang lebih mahal, dan persyaratan regulatori yang lebih ketat. Dikutip dari penelitian mantan Kepala BPOM, Sampurno, dengan judul ‘Kapabilitas Teknologi dan Penguatan R&D: Tantangan Industri Farmasi Indonesia’ yang dimuat pada Majalah Farmasi Indonesia (2007) estimasi biaya yang dikeluarkan untuk penelitian sejak dari laboratorium hingga dipasarkan pada tahun 1979 adalah 54 juta dolar, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 897 juta dolar. Itupun, tingkat keberhasilannya terbilang rendah. Artikel yang sama menyajikan data bahwa pasca Uji Klinis Tahap III, hanya 20% molekul obat baru yang disetujui untuk diproduksi dan dipasarkan. Forbes pada tahun 2017 menyitir beberapa riset terbaru dan kisarannya sudah semakin dahsyat, bisa mencapai 2,7 miliar dolar per produk!

Makanya, saya suka berpikir kalau di grup WhatsApp ada yang bilang bahwa suatu penyakit adalah konspirasi suatu negara atau kalangan agar mereka bisa menjual obatnya atau suatu obat diarahkan untuk wajib karena ingin membunuh generasi suatu bangsa. Dalam pola pikir ilmiah dan bisnis, kedua konspirasi itu sungguh sangat tidak relevan dan hanya akan terpikirkan oleh otak yang penuh dengan kebencian.

Faktanya COVID-19 sekarang ini sampai nyaris 5 bulan belum ada obatnya. Sampai-sampai obat Ebola yang belum kelar uji klinik diberdayakan.

Biaya riset yang tinggi untuk suatu molekul obat itu tentu saja membutuhkan perlindungan. Tidak ada entitas bisnis yang cukup dungu membiarkan hasil risetnya ditiru dengan serta merta oleh pesaing. Maka dalam dunia farmasi dikenal adanya perlindungan paten. Dampaknya tentu saja adalah harga yang tinggi sebagai upaya untuk balik modal biaya riset dan juga sarana untuk meraih keuntungan sebagaimana hakikat sebuah industri pada umumnya. Begitulah yang terjadi di luar negeri.

Riset Farmasi di Indonesia

Masih menurut Sampurno, di Indonesia agak berbeda karena industri farmasi adalah industri formulasi, bukan research-based company. Kegiatan R&D lebih banyak dilakukan untuk pengembangan formula produk dengan mengandalkan obat-obat yang sudah atau akan segera habis masa patennya. Misalkan untuk obat diabetes Metformin, R&D akan difokuskan pada pencarian kombinasi zat aktif dan eksipien yang akan memberikan hasil paling optimal pada proses produksi, paling mendekati standar kualitas yang telah ditetapkan, serta juga paling efisien dari sisi akuntansi.

Meski begitu, masih ada beberapa pemilik perusahaan yang cukup gila dalam inovasi. Kantor saya dulu, misalnya, berani membayar ratusan miliar untuk mendirikan gedung riset berbasis bahan alam Indonesia, termasuk juga memanggil pulang anak bangsa yang lama berkecimpung dalam riset di luar negeri—tentu saja dengan bayaran yang memadai dan berarti cost yang tinggi bagi perusahaan.

Riset yang baik tentu didukung oleh penelitian tentang kebutuhan obat yang tepat, metode berbasis bioteknologi dan komputasi yang baik, alat-alat yang mutakhir, periset yang kompeten, bahan baku riset yang cukup untuk bereksplorasi, fasiilitas untuk memadai untuk upscaling dari skala laboratorium ke skala industri, fasilitas produksi yang terkini, hingga pemenuhan terhadap standar yang ditetapkan baik oleh regulator maupun oleh calon mitra tujuan ekspor. Sekali lagi, itu semua butuh cost.

Perlu lebih dari 5 tahun hingga unit riset tersebut bisa menelurkan suatu produk sampai ke pasar dan itupun setelah melewati tahapan-tahapan yang tidak mudah terutama dari aspek regulasi. Ketika itu, tidak ada insentif khusus, misalnya, karena riset bahan alam Indonesia maka ada tahap-tahap yang boleh dilewati. TIdak ada sama sekali. Kalaulah ada yang agak bisa membanggakan adalah pengembangan unit riset tersebut menjadi salah satu pabrik pertama di Indonesia yang diakui sebagai Industri Ekstrak Bahan Alam dengan peresmian yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan berikut Plt. Kepala BPOM pada tahun 2013 silam.

Proses registrasi produk hasil riset sendiri berjalan sesuai dan sejalan dengan regulasi yang ditetapkan. Begitulah, untuk proses yang sepanjang itu, dipastikan butuh perusahaan yang cukup kuat secara finansial dan pemimpin yang cukup nekat untuk terus menggelontorkan bujet pada risetnya, yang belum tentu balik modal dengan segera.

Tidak Dapat Kompromi Pada Mutu

Sekali lagi, industri farmasi punya kekhasan, yakni tidak dapat kompromi pada 3 hal yakni keamanan, mutu, dan khasiat. Hal itulah yang menyebabkan proses registrasi dari produk yang merupakan hasil karya anak bangsa sekalipun juga harus mengikuti tahapan-tahapan yang ditetapkan tanpa perlakuan khusus. Pada posisi ini, pemerintah harus menjalankan beberapa peran sekaligus yakni mendukung sektor industri pada satu kaki, mendukung tambahan terapi pada sektor kesehatan pada kaki yang lain, namun juga harus menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk tersebut pada kaki yang lain lagi.

Aspek mutu ini juga bersisian dengan daya saing. Pada era persaingan bebas, banyak negara menyiapkan perlindungan kepada warganya untuk tetap bisa mendapatkan produk yang bermutu dengan menerapkan pagar berupa standar yang tinggi kepada suatu produk agar bisa masuk ke pasar negara tersebut. Demikian juga dengan sektor farmasi. Walhasil, industri farmasi nasional yang memiliki pasar di luar negeri, mulai ASEAN hingga Eropa harus senantiasa menerapkan standar yang tinggi agar bisa memenuhi standar yang diterapkan di negara tujuan. Dan siapapun tahu, semakin tinggi kualitas yang diharapkan, maka biaya juga akan menyesuaikan.

Ihwal biaya baik untuk riset maupun untuk kualitas yang berstandar internasional ini di Indonesia akan sangat terkait dengan pendapatan suatu industri farmasi yang dalam konstelasi tata kelola kesehatan di Indonesia akan begitu lekat pada isu yang selalu hangat: BPJS Kesehatan.

Sebagai perlindungan kesehatan nasional, BPJS Kesehatan memang masih memiliki segudang pekerjaan rumah untuk pembenahan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, BPK RI pun telah melakukan pemeriksaan kinerja pada layanan BPJS Kesehatan ini. Persoalan tentang tersendatnya pembayaran dari BPJS Kesehatan ke Rumah Sakit menjadi salah satu perkara yang sering diangkat ke publik.

Pada konteks ini, industri farmasi dipastikan terkena dampaknya. Obat sebagai produk industri farmasi hanyalah salah satu komponen dari pelayanan kesehatan. Artinya, terhadap pembayaran yang tersendat ke rumah sakit akan berdampak pula pada pembayaran obat ke industri farmasi dan kalaupun pembayaran sudah dilakukan boleh jadi akan dialokasikan terlebih dahulu untuk pembayaran listrik atau air hingga tenaga kesehatan, baru kemudian obat. Bagi industri, pembayaran yang tersendat berarti uang yang diam dan tidak dapat diapa-apakan, padahal ada potensi untuk dikelola salah satunya pada riset dan pengembangan.

Jadi, ketika pendiri BukaLapak membawa isu R&D ke ranah netizen nan kejam dan terlalu fokus pada tahun data dan perkembangan angka, sejatinya problematika R&D itu sendiri telah sedemikian rumitnya di industri farmasi. Persoalannya bukan lagi sekadar besarnya dana sehingga butuh komitmen bersama dari elemen pemerintah yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, industri farmasi maupun yang relevan dengan dunia kesehatan lainnya, hingga stakeholder lain untuk bisa mengurai problematika riset dalam rumit serta ganasnya gorengan isu kesehatan di negeri ini.

Satu hal yang pasti, untuk membahas soal ini kita tidak perlu membawa-bawa politik yang sarat kepentingan. Bukan apa-apa, kepentingan rakyat dalam persoalan kesehatan itu saja sudah begitu besar dan lebih dari cukup untuk menjadi dasar berpikir bersama demi kesehatan dan industri farmasi Indonesia yang lebih baik.

King Henry dan Monaco Yang Terlalu Sibuk Berbisnis

Marcus Lilian Thuram-Ulien berlari membelah lini pertahanan AS Monaco yang sepi. Sejurus kemudian, putra Prancis kelahiran Parma itu mendapat bola cantik dari Ludovic Blas yang mengelabuhi Giulian Biancone. Tidak ada Kamil Glik disana, pun Benoit Badiashile—sosok yang viral di video karena kena marah Thierry Henry akibat tidak membereskan kursi konferensi pers. Putra Lilian Thuram itupun kemudian memperdaya Diego Benaglio. Gol untuk En Avant de Guingamp.

Tujuh menit kemudian, dengan skema serangan balik yang serupa, Blas kembali mengirim bola cantik. Kali ini, Nolan Roux yang sukses membuat bola melewati Benaglio dan bersarang ke gawang. Dua untuk Guingamp, nol untuk AS Monaco yang merupakan tuan rumah dalam laga papan bawah tersebut. Guingamp, si juru kunci Ligue 1 yang sebelum ini hanya pernah menang sekali di kandang Angers SCO pada pekan ke-8, berhasil menghapus rekor buruk mereka.

Guingamp tetap di dasar klasemen, namun jarak dengan tim diatasnya tinggal sedikit. Ya, tim yang baru mereka taklukkan. Tim yang dua musim lalu adalah jawara Ligue 1. AS Monaco.

Kekalahan dari satu-satunya tim yang berkinerja lebih buruk dari mereka tersebut benar-benar menenggelamkan AS Monaco, tim yang gilang gemilang dalam urusan penjualan pemain di bursa transfer dua tahun belakangan. Kini, AS Monaco yang dua musim lalu adalah juara liga itu terjerembab di peringkat 2 dari bawah dengan 3 kemenangan, 4 imbang, dan 11 kekalahan. Mereka memang punya simpanan 1 laga tunda versus Nice—yang seharusnya bakal seru karena itu berarti Thierry Henry akan ketemu Patrick Vieira—tapi rasanya 1 laga tidaklah signifikan saat ini.

Sebagai gambaran, 11 kekalahan itu merupakan sudah lebih 1 dari total kekalahan yang mereka derita di Ligue 1 pada musim 2015/2016 dan 2016/2017 digabung. Bahkan, kalau merujuk ke era kejayaan rezim Leonardo Jardim, total kekalahan mereka di 2016/2017 dan 2017/2018 hanya 9 kali untuk dua musim sekaligus. Jadi kekalahan ke-11 hanya dari 18 pekan pertandingan itu sungguh betul-betul mengerikan.

Pada tahun 2010/2011 ketika terakhir kali AS Monaco terdegradasi, dalam semusim mereka juga hanya kalah 12 kali dalam semusim. Melihat buruknya performa AS Monaco kemarin, rasanya 1 kekalahan pasti akan diperoleh dalam waktu yang tidak lama. Mungkin akan langsung diperoleh kala melawat ke Marseille untuk membuka tahun 2019.

Terakhir kali AS Monaco tidak ada di 10 besar selepas akhir pekan ke-18 adalah pada tahun mereka terdegradasi. Ketika itu, bermodal 2 kemenangan dan 10 hasil imbang, AS Monaco nangkring di peringkat 18. Ya, masih 1 strip lebih baik dibandingkan AS Monaco musim ini.

Penampilan AS Monaco musim ini memang suram betul. Pasca meraih juara pada saat Paris Saint Germain nan kaya itu agak keteteran di musim perdana Unai Emery, AS Monaco tampak lebih seperti entitas bisnis alih-alih olahraga. Dalam dua musim terakhir, mereka mampu meraih lebih dari 400 juta Poundsterling hanya dari penjualan pemain! Tidak ada tim lain yang lebih untung daripada AS Monaco dalam 2 musim belakangan.

Penjualan Kylian Mbappe memang menyumbang porsi terbesar, kurang lebih sepertiga angka penjualan 2 musim terakhir. Namun dari daftar itu juga terselip Bernardo Silva, Tiemoue Bakayoko, Benjamin Mendy, hingga Fabinho yang dijual dengan harga sangat untung. Bahkan AS Monaco sempat-sempatnya menjual striker yang jarang benar dipakai, Guido Carillo, ke Southampton dan menjadi pembelian termahal sepanjang sejarah di tim semenjana itu.

Ketika pertama kali diambil alih oleh Dmitry Rybolovlev dan keluarganya, Monaco tampak akan menjadi tim serupa Chelsea-nya Roman Abramovich. Sesudah naik ke Ligue 1, Monaco mendatangkan nama besar seperti Radamel Falcao, James Rodriguez, hingga Joao Moutinho dan Geoffrey Kondogbia. Uang besar ini memang mendatangkan prestasi. Masih diasuh Claudio Ranieri, mereka meraih peringkat kedua dalam status sebagai tim promosi.

Sesudah itu, kursi pelatih diambil alih Jardim yang memang tampak cocok dengan ide bisnis Rybolovlev tapi prestasi tetap jalan. Empat musim Jardim mengasuh AS Monaco, mereka selalu berada di 3 besar dengan 1 kali juara Ligue 1. Prestasi yang betul-betul istimewa.

Model berdagang memang tampak jelas ketika Jardim menjabat. James yang kinclong di Piala Dunia 2014 langsung dilepas ke Real Madrid. Falcao yang psikisnya goyah karena cedera dipinjamkan ke Manchester United dengan fee setara dengan harga beli Tiemoue Bakayoko dari Stade Rennais ditambah sedikit. Betul-betul pintar jualan!

Sosok Jardim harus diakui mampu memberikan kestabilan pada Monaco meskipun setiap musim berganti pemain kunci. Lihat saja, sejak 2014/2015, Monaco telah melepas James dan Falcao. Musim berikutnya, Martial, Kondogbia, Layvin Kurzawa, dan Yannick Carrasco yang pergi. Paling dahsyat adalah musim 2017/2018 pasca juara. Mereka melepas Benjamin Mendy, Silva, Bakayoko, dan terutama Mbappe.

Sepandai-pandainya Jardim mengelola tim, pada akhirnya dia jatuh juga. Betul bahwa sepakbola itu soal datang dan pergi. Masalahnya, Monaco belakangan ini kehilangan kemampuan transfernya. Rekrutan mereka dua musim belakangan nyaris semua flop. Walhasil, sesudah 9 pekan musim ini berjalan, Jardim dipecat untuk digantikan oleh Henry.

Pemain termahal musim lalu yang digadang bisa menggantikan Mbappe, Keita Balde, gagal bersinar. Bintang muda Belgia, Youri Tielemans yang diharapkan menghapus jejak Bernardo Silva juga biasa saja. Terence Kongolo yang diangkut dari Feyenoord saat lagi jaya-jayanya juga tidak memberikan nilai tambah.

Yang lucu, pemain-pemain rekrutan musim lalu itu kebanyakan malah dijual untung oleh Monaco. Jadi, mereka benar-benar tidak menciptakan fondasi baru untuk tim. Lihat saja, Keita Balde dilepas dengan pinjaman seharga 4,5 juta Pound. Rachid Ghezzal yang didatangkan gratis, dilepas ke Leicester City di atas 10 juta Pound. Kongolo? Dilepas ke Huddersfield Town di Liga Inggris bersama Adama Diakhaby. Monaco untuk sekitar 5 juta Pound dari dua pemain ini. Penjualan itu di luar lepasnya para bintang seperti Thomas Lemar (Atletico Madrid), Joao Moutinho (Wolverhampton Wanderers), dan terutama Fabinho (Liverpool).

Pada musim yang suram ini, Monaco melengkapi diri dengan bintang Rusia di Piala Dunia 2018, Aleksandr Golovin. Datang juga sosok muda dalam diri Benjamin Henrichs dan Willem Geubbels. Sosok senior sendiri didapat Monaco dalam diri Nacer Chadli yang diangkut dari West Brom. Seharusnya, musim ini tidak buruk-buruk benar bagi Monaco.

Apa daya, tim ini telah benar-benar kehilangan pondasinya. Ibarat amblasnya jalan di Gubeng, kekuatan Monaco tidak kuat kalau dikeruk terus menerus hingga akhirnya jebol. Rupanya, kehilangan sosok Fabinho jadi cukup krusial. Musim lalu, dengan lepasnya Silva hingga Mbappe, Monaco masih bisa tetap kokoh dan masih jadi runner up. Kini, Kamil Glik (dan Diego Benaglio) benar-benar harus berjuang sendirian bersama bocah-bocah dalam formasi King Henry yang tampak frustasi dengan pemain-pemain lama seperti Jemerson dan Andrea Raggi.

Dalam laga versus Guingamp, Monaco memainkan Glik bersama Badiashile (17 tahun) di tengah. Biancone yang kena tipu bola cantik Blas itu juga baru 18 tahun. Henrichs sendiri baru 21 tahun dan itu lebih tua 3 tahun dari Sofiane Diop yang main di depannya pada sisi kiri lapangan Monaco. Sosok lain di tengah adalah Romain Faivre (20 tahun), Tielemans (21 tahun), dan Youssef Ait Bennasser (22 tahun). Di depan, Falcao ditemani Moussa Sylla (19 tahun).

Buruknya tim ini semakin diperjelas dengan profil (sedikit) gol yang dibuat Monaco di bawah asuhan Henry, utamanya di Ligue 1. Hanya 7 gol dari 9 laga, tiga diantaranya dari titik putih dan satu dari tendangan bebas, plus satu set piece (Kamil Glik vs Dijon). Ya, hanya 2 gol saja yang dicetak dari betul-betul permainan terbuka. Sebuah catatan yang semakin mengenaskan bagi tim yang diasuh striker legendaris.

Henry—yang sebenarnya adalah legenda Arsenal itu—harus putar otak benar-benar untuk menyelamatkan timnya. Diharapkan jadi penyelamat, Henry bisa saja mengulangi nasib Alan Shearer, sesama legenda klub yang justru jadi pelatih yang membawa timnya degradasi. Sebuah beban yang sungguh berat, apalagi untuk seorang manajer newbie yang diminta mengasuh tim doyan jualan.

Pada akhirnya Henry tidak lama menjadi manajer AS Monaco. Dirinya kemudian digantikan lagi oleh Jardim dan kemudian menyelamatkan tim itu dan hingga kini AS Monaco belum lagi bisa kembali pada keajaibannya waktu itu.

Tamu Istimewa dari Nigeria

November 2018, saya sebenarnya diset untuk ikut cerdas cermat kepemiluan di KPU. Tiba-tiba, saya malah dapat penugasan agak absurd. Jadi ceritanya, kantor saya menghelat sebuah konferensi internasional dengan mengundang banyak tamu dari negara-negara Islam di dunia. Eh kok ya, tiba-tiba nama saya ada di daftar Liaison Officer~

Ini perhelatan besar yang membawa nama baik kantor dan negara. Terus saya disuruh memegang satu delegasi dari negara-negara Islam. Pertanyaan pertama saya tentu saja: emang saya bisa? Tapi ya namanya juga PNS, apapun kudu siap. Termasuk tugas yang lumayan menantang ini.

Semakin takjub ketika H-1 penugasan, saya mengetahui bahwa saya akan memegang tamu dari Nigeria. Persoalannya adalah Nigeria merupakan salah satu delegasi terbesar (4 orang). Artinya, saya sendiri harus meng-handle 4 orang Nigeria. Semakin nggak kepikiran.

Dari daftar yang ada saya mendapati bahwa 1 dari 4 nama delegasi adalah orang kedutaan besar. Maka, dengan naik ojol, saya berangkat dari kantor ke Kedubes Nigeria di Kuningan sana. Sebuah pengalaman menarik bahwa saya bisa masuk ke dalam kedutaan bahkan sampai ke ruangan salah seorang petinggi. Kalau tidak salah, orang di bawah Dubes langsung.

Hal pertama yang saya tahu adalah mereka berempat itu tidak berkoordinasi satu sama lain. Ini mulai repot. Lebih repot lagi karena kemudian yang 3 sisanya juga dibagi 2. Pertama, Mr. Umar Musa seorang direktur di NAFDAC. Kedua, Ade dan Umar, saya lupa keduanya dari instansi mana.

Saya sendiri terlambat untuk mengenali Mr. Umar karena tidak terinformasi. Posisinya adalah saya mengetahui belakangan bahwa tamu saya itu sudah di kamar. Dengan nekat dan tentu saja boso enggres pas-pasan ala saya, menelepon langsung ke kamar menjadi alternatif tunggal agar koordinasinya mudah. Bukan apa-apa, bapak ini juga pembicara dalam konferensi. Jadi, saya nggak bisa ngasal mengurusinya.

Dua lainnya, beda urusan pula. Ade dan Umar datang tanpa booking hotel terlebih dahulu. Jadi, saya pertama-tama mengakses hotel yang sudah rekanan dengan panitia terlebih dahulu. Apalagi, mereka datangnya nyaris tengah malam. Itu ya saya tungguin sampai mereka masuk. Bahkan, saya duluin bayarnya, sebab mereka nggak pegang rupiah.

Lha wong baru datang.

Jadi, sepanjang konferensi saya berurusan dengan 4 orang dan 3 sumber kedatangan. Repot sih jelas sekali. Tapi lumayan, gara-gara mengurusi Mr. Umar, saya dapat jatah makan di hotel berbintang dan biasanya jadi langganan penginanan atlet-atlet badminton Denmark kalau main di Indonesia.

Secara umum, kalau menurut testimoni sih mereka puas dengan servis saya. Khusus Ade dan Umar sempat saya antar ke Sarinah untuk cari oleh-oleh, tapi kemudian saya lepas sendiri. Ada begitu banyak obrolan karena dari Senayan ke Sarinah pada sore hari itu macet sekali. Nanti kapan-kapan saya share kalau nggak lupa. Salah satunya sih Ade yang takjub melihat mamang nasi goreng.

Adapun Mr. Umar sang pejabat saya bawa ke Thamrin City untuk belanja-belanja dan habisnya lumayan. Terakhir, saya bawa ke salah satu lapak jamu kondang di dekat kantor dan dia membawa beberapa untuk oleh-oleh.

Pengalaman ini merupakan hal yang luar biasa sepanjang umur saya. Bisa mengakses orang yang langsung berbahasa Inggris, dari negara yang 11-12 dengan Indonesia, para pejabatnya pula. Dan secara umum merekanya juga puas dengan pelayanan saya.

Yha, lumayan~

Tentang Bahan Sosialisasi Pak Sekda

Salah satu hal yang menarik dari persiapan Pilkada tentu saja materi sosialisasi dari para calon. Sebagai orang Tangerang Selatan, yang saya lihat sehari-hari tentu tidak jauh-jauh dari beberapa orang yang siap maju. Beberapa diantaranya adalah Azmi Abubakar, Tomi Patria, Ruhamaben, serta tiga orang yang digadang-gadang sebagai calon paling kuat yaitu Pak Wakil Walikota, Pak Sekda, serta anaknya Pak Wakil Presiden.

Nah, salah satu bahan sosialisasi yang menarik dan sempat beredar di dekat Stasiun Jurangmangu pada bulan Desember 2019 adalah punya Pak Sekda ini. Dalam soal ini, saya rasa tim yang memasang alat peraga ini perlu diberi brief yang lebih jelas.

Pertama, tentu saja karena desainnya yang sangat biasa untuk profil setinggi Pak Sekda. Lebih gawat lagi tentu saja font-nya~ Banyak tim media sosial masa kini menggunakan Canva dan pilihan font-nya tentu jauh lebih mendingan.

Belum lagi penulisan nama dan gelar Pak Sekda yang nyaris tanpa tanda baca. Bpk Drs H itu masing-masing harus diakhiri oleh titik. Demikian pula gelar Pak Sekda itu tidak sembarangan nulis M.si. Kuliah S2 itu susah, coy. Nggak sembarangan lah nulis gelar.

Perihal tagline di paling bawah tentu tidak diragukan lagi. Namanya Sekda tentu merupakan orang yang bukan hanya mengerti, tapi paling mengerti kota tempatnya bertugas. Namun, alat peraga ini justru menimbulkan sedikit pertanyaan di kepala saya.

Begini, jikalau memang Pak Sekda adalah orang yang mengerti kotanya, mestinya tahu bahwa di kotanya itu banyak sekali tempat printing poster dan banner, tidak sedikit pula yang 24 jam bukanya. Di masing-masing tempat itu ada jasa desain pula dan untuk profil setinggi Pak Sekda nggak mungkin juga ditolak walaupun buru-buruk, kan?

Alat peraga yang semacam ini malah kontradiktif sekali. Meskipun tentu saja nggak ngaruh banyak. Pak Sekda, misalnya sudah berhasil mendapatkan rekomendasi dari salah satu partai yang dikenal sebagai partai anak muda. Partai anak muda mendukung Sekda. Sungguh sangat Mata Najwa, bukan?

Sementara calon-calon lain dengan desain poster lebih wow justru kalah kondang. Ya memang, sih, ini kan Pilkada yak, bukan lomba desain alat peraga~ Tidak jauh dari lokasi alat peraga ini, Pak Wakil Walikota petahana punya alat peraga yang lebih besar serta lebih rapi desainnya. Kalau kemudian nanti jadi bersua di medan laga, semoga alat peraganya lebih ciamik lagi ya Bapak-Bapak…

Pilih Nilai atau Nias?

Saya mau cerita agak pribadi sedikit. Alkisah, belasan tahun lalu, saya lulus S1 dengan IP pas-pasan. Kalau saya nggak salah, IPK saya adalah yang paling rendah dari 20-an mahasiswa yang lulus 3,5 tahun. Iya, lulus tapi IP-nya ambyar. Saya kebanyakan sampingan sih ketika S1.

Untunglah saya masih diberi sarana lain untuk memperbaiki diri, yaitu karena ada jalur berikutnya Profesi Apoteker. Saya sangat niat ketika itu. Buktinya, dari seluruh mata kuliah di Semester 1 alias seluruh kuliah teori di program profesi itu, nilai saya hanya A dan B saja. B-nya juga cuma dua. Kalau saya nggak salah, nilai B itu adalah di Compounding and Dispensing serta Etika dan Perundang-undangan.

Sisanya A. Bahkan untuk kuliah CPOB juga A. Saya jadi ada peluang untuk tampil sebagai lulusan terbaik. Lha kan tinggal mengulang 2 ujian saja, kok.

Semuanya tampak baik-baik saja sampai kemudian 2 pekan sebelum ujian saya mendapat penawaran yang sangat menarik tapi penuh dilema. Ya, sebuah peluang untuk mendapatkan pengalaman baru sebagai asisten fasilitator bidang obat dan logistik medis di…

…NIAS!

Selain nilai uang yang sangat lumayan bagi uang saku saya ketika itu, bisa pergi ke Nias juga menjadi daya tarik tersendiri untuk saya. Apalagi, project itu adalah penutup kerja Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Gempa Aceh-Nias 2004.

Intinya, sih, kalau saya berangkat ke Nias maka saya melewatkan kesempatan mengikuti 2 ujian ulangan yang berarti akan meniadakan mimpi saya mendapat nilai sempurna untuk semua mata kuliah. Tapi kalau saya menolak kesempatan itu, entah kapan lagi saya akan bisa pergi ke Nias.

Gamang sekali saya ketika itu. Sebuah pilihan menarik hadir ketika saya hendak lulus sekaligus memberi gambaran berbagai pilihan yang ada di depan mata ketika dunia kerja menerjang. Pada akhirnya, di dunia kerja (kecuali PNS) kita kan berhadapan dengan berbagai pilihan. Pindah atau nggak pindah dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, daya tarik untuk ikutan di Nias mengalahkan ambisi saya untuk bisa lulus dengan IP 4. Ketika sedang kuliah lagi sekarang ini saya juga sempat berambisi untuk IP 4, tapi saya realistis saja mosok ya di UI orang seperti saya bisa IP 4. Wkwk. Jadi, saya targetnya yang penting lulus saja.

Yha, 2 bulan kemudian kelulusan, IP saya 3.88 alias memang hanya ada 2 nilai B. Nilai B yang terjadi karena saya tidak mengulang ujian. Sementara yang dipanggil maju adalah teman saya, Rissa, sebagai IP 4. Plus, beberapa teman lain sebagai IP 3.92 alias 1 nilai B. Kalau ada juara tiga ya saya pasti kepanggil, tapi kebetulan nggak ada. Heuheu.

Walau demikian, ambisi itu ditukar dengan berbagai pengalaman menarik dalam kurang lebih 2 pekan saya di Nias. Mulai dari brengseknya birokrasi, enaknya seafood di Nias, bisnis apotek yang sangat menggiurkan, hingga tentu saja sekali-kalinya saya bisa sampai di Teluk Dalam, Nias Selatan. Oh iya, satu lagi, dalam perjalanan Jogja-Nias ini pula saya seumur-umur bisa menikmati kelas Bisnis Garuda Indonesia. Sesuatu yang justru sekarang ketika saya bolak-balik naik Garuda, tidak pernah terjadi lagi. Ketika itu, saya bersebelahan dengan manajernya Eko Patrio. Di kelas yang sama, ada Eko dan Ivan Gunawan.

Hidup itu adalah pilihan dan dalam hal ini antara nilai dengan Nias, saya memilih Nias dan tentu saja saya tidak menyesalinya~

3 Atlet Bulutangkis Yang Wajib Dibuatkan Film Sesudah Susi Susanti

Dari sekian banyak olahraga yang beredar di Indonesia, harus diakui bahwa bulutangkis adalah olahraga yang konsisten dengan prestasinya sejak dulu kala. Kalaulah ada yang menemani dari sisi penyediaan prestasi tingkat dunia, mungkin angkat besi saja yang bisa. Paling terkenang tentu saja di London tahun 2012 ketika Triyatno meraih perak dan Eko Yuli Irawan bawa pulang perunggu Olimpiade. Pada tahun itu, bulutangkis Indonesia gagal total tanpa medali sama sekali.

Maka tidak heran jika bulutangkis menjadi topik menarik untuk dibuatkan filmnya. Film yang cukup kondang dari ranah bulutangkis adalah ‘KING’ yang begitu diingat pada zaman sekarang karena menampilkan Jonatan Christie dan Kevin Sanjaya cilik.

Begitulah. Indonesia itu sangat bisa bersatu ketika olahraga, kala lawannya adalah negara lain dan bulutangkis adalah salah satu cabang yang bisa menjanjikan kemenangan. Terbukti ketika cebong dan kampret bersatu padu membela negeri di Asian Games 2018. Eh, sekarang cebong sama kampret apa kabar, ya?

Pada 24 Oktober 2019 lalu, giliran film ‘Susi Susanti’ yang tayang. Harus diakui, Susy Susanti—yang benar adalah pakai ‘y’—adalah salah satu nama yang nyaris selalu mewarnai prestasi Indonesia sejak akhir 1980-an. Susy belia memperpanjang nafas Indonesia di Piala Sudirman 1989 setelah menang 12-10 di game kedua atas Lee Young-suk, untuk kemudian menang dengan skor afrika 11-0 di game penentuan. Dua laga selanjutnya direbut Indonesia dan itu adalah pertama kali dan hingga kini satu-satunya momen Indonesia memenangi Piala Sudirman.

Gold Medal Indonesia GIF - Find & Share on GIPHY

Susy juga peraih medali emas perdana Indonesia di kancah Olimpiade sesudah mengalahkan Bang Soo-hyun di final. Alan Budikusuma—suaminya—juga adalah peraih medali emas, tapi rasanya agak berbeda karena yang dilawan di final adalah teman sendiri. Selain itu, Susy juga turut membawa pulang Piala Uber ke Indonesia pada 1994 dan 1996 setelah lama sekali piala itu tidak mampir dan sampai sekarang ya nggak mampir-mampir lagi.

Begitu sekarang jadi perpanjangan tangan Wiranto di lapangan sebagai Kabid Binpres, Susy juga menjadi orang Indonesia pertama yang memegang Piala Suhandinata, sebelum menyerahkannya ke Febriana Dwipuji Kusuma dan Leo Rolly Carnando. Yes, belum lama ini, Susy menjadi manajer tim Indonesia pada Kejuaraan Dunia Junior 2019 yang berlangsung di Kazan.

Dengan begitu harumnya nama Indonesia di kancah bulutangkis, sesungguhnya masih ada deretan atlet lain yang punya potensi untuk dibuatkan film dan punya potensi laris manis di pasaran.

Taufik Hidayat

Kalau Susy meraih medali emas di Olimpiade 1992, maka Taufik Hidayat adalah peraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena. Sejak 1992 dan selain 2012, Indonesia memang selalu meraih satu medali emas dan selalu dari bulutangkis. Taufik remaja mulai dikenal publik sesudah turut serta dalam tim di Asian Games 1998 yang meraih medali emas beregu putra.

Taufik Hidayat Smash 2 GIF | Gfycat

Soal kontroversi untuk dijadikan film, tentu saja Taufik punya banyak kisah. Dengan sederet prestasinya, Taufik yang sangat dikenal dengan backhand mematikan tersebut sempat berada dalam suasana kisruh dengan PBSI antara lain terkait dengan sosok pelatihnya, Mulyo Handoyo. Sampai sekarang hampir berumur 40 tahun dan terjun ke politik, Taufik juga dikenal dengan komentar-komentar pedasnya terutama untuk sektor tunggal putra.

Sebagai sosok bergelimang gelar, tentu saja setiap kritik dari legenda akan jadi pembahasan. Salah satu yang paling dikenang adalah dalam waktu singkat sesudah dikritik Taufik, dua tunggal putra andalan Indonesia, Anthony Ginting dan Jojo langsung bikin all-Indonesian final di Australia.

Dengan segala kontroversi yang melekat tapi tampang yang sangat baik-baik, Iqbaal Ramadhan adalah tokoh yang cocok untuk memerankan Taufik Hidayat.

Hendra Setiawan

Dewa Hendra adalah idaman kita semua dengan seluruh gelar yang sudah diraih dalam dua periode keemasan dan tiga kali keluar Pelatnas Cipayung. Julukan ‘Dewa’ sendiri bahkan diberikan oleh netizen Tiongkok yang sudah terlalu pasrah jika andalan mereka ketemu Hendra di lapangan.

Juara Dunia, Ahsan/Hendra Masih Sulit Samai Catatan 2013
Sumber: CNN Indonesia

Hendra juga sekarang sedang jadi kesayangan netizen pasca dua gelar bergengsi, All England dan Kejuaraan Dunia, pada tahun 2019, berikut lima kali bikin all-Indonesian Final bareng Minions, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang bikin netizen Indonesia bisa selalu jumawa pada tiap kejuaraan.

Film tentang Hendra Setiawan juga dijamin laku seiring kemunculan akun ‘Hendra Setiawan’ di YouTube dengan subscriber sudah puluhan ribu. Belum setara Atta Halilintar, sih, tapi pertambahan subscriber-nya terbilang eksponensial untuk sebuah akun yang foto profilnya saja masih huruf H.

Nama Ernest Prakasa adalah tokoh yang cocok untuk menggarap film ini sekaligus jadi bintang utama. Alasan utamanya adalah Ernest selalu menggarap film dengan konsep berbeda dan biopik sejenis Susi Susanti yang dikerjakan oleh Daniel Mananta belum ada dalam daftar karyanya.

Fitriani

Sejak Susy pensiun dan kemudian disusul pindahnya Mia Audina ke Belanda. Indonesi nyaris tidak punya tunggal putri yang mumpuni. Secara kebetulan pula Fitriani muncul pada saat yang salah, di era netizen dengan komentar tanpa adab.

Fitriani ikut di Piala Uber 2016 dalam usia 18 tahun, langsung jadi tunggal kedua sesudah Maria Febe Kusumastuti. Pada tahun itu dan sebenarnya sampai sekarang, sektor putri Indonesia masih agak bermasalah. Karena adanya cuma Fitri, maka dalam periode sejak 2016 itu hingga munculnya Gregoria Mariska Tunjung, Fitri hampir selalu dikirim ke berbagai kejuaraan internasional dan hampir selalu kalah di putaran pertama atau kedua.

Fitri muncul bersamaan dengan ramainya akun bulutangkis di media sosial sekaligus kelahiran Minions. Jadi, satu rombongan Indonesia ke kejuaraan manapun akan selalu diperhatikan, termasuk ketika nyaris selalu hanya sisa Minions di hari Minggu dengan Fitriani yang selalu kalah di awal.

Kondisi itu bikin Fitriani selalu jadi korban perundungan kejamnya netizen—yang sebenarnya kalau dites bisa servis dengan baik atau tidak ya paling belum tentu bisa. Padahal, ya kondisinya Fitriani dikirim karena yang bisa dikirim memang cuma dia. Dan kalaupun kalah, ya namanya juga atlet muda. Nggak semua atlet muda bisa semoncer Susy Susanti atau An Se-young, atlet remaja Korea yang tahun ini lagi gila-gilanya.

Fitriani baru dapat teman sesama dirundung netizen pasca Jorji naik kelas ke senior. Jorji menjadi lebih seksi untuk dirundung karena dia naik dengan status juara dunia junior tunggal putri dan punya pacar artis. Jorji dalam setahun sukses menyalip Fitriani namun penampilannya cenderung menurun tahun 2019 ini. Sementara itu, Fitriani sempat menghentak netizen julid lewat gelar di Thailand Masters pada awal tahun 2019. Gelar pertama di sektor tunggal putri sesudah sekian purnama.

Resep Fitriani Juarai Thailand Masters 2019 - Ragam Bola.com

Sebelum dibikin film, sebenarnya sinetron azab lebih dahulu bisa dibuat untuk konteks Fitriani. Tentunya jalan ceritanya menyangkut para netizen kejam di komentar-komentar Instagram dan livechat streaming di YouTube. Beberapa usulan saya adalah “Sering Nanya Fitriani Kapan Main, Seorang Netizen Meledak Karena Ditanya Kapan Nikah” atau “Azab Menyuruh Fitriani Ngulek Bawang di Dapur, Seorang Netizen Pingsan Ketiban Ulekan”.

Seriusan, khusus Fitriani, perundungan di linimasa itu sangat kejam. Untungnya, Fitriani sendiri tidak punya media sosial dan sebagaimana testimoni Putri KW, Fitriani adalah atlet senior yang paling rajin saat latihan.

Kalau ada aktris yang bisa dicoba untuk memerankan Fitri, kemungkinan adalah Rina Nose. Pertama-tama tentu karena Rina adalah aktris yang tabah luar biasa dalam menjawab komentar-komentar tidak beradab di media sosialnya.

Segitu dulu. Jangan tanya soal Kevin atau Jojo, yha. Nanti kapan-kapan tentu ada pembahasannya.