Daftar Lomba Blog Desember 2019

Lomba blog masih ada dan masih banyak. Setelah kemarin-kemarin kalah, tentu tidak ada salahnya mencoba lagi pada ajang-ajang lainnya. Yuk!

Lomba Blog Cheria Holiday #9

Tema: Nge-Blog tentang Australia
Deadline: 2 Desember 2019

Hadiah:
Wisata Halal Singapore-Melaka-Singapore dengan kapal pesiar (termasuk tiket pesawat) dan uang saku untuk 3 finalis terbaik.
10 HP Xiaomi Redmi Note 6 Pro untuk 10 kontestan favorit.

Info Lengkap

Kompetisi Blog #BahagiaBersamaAirAsia

Screenshot_2022

Tema: Cerita pengalaman bahagia bersama AirAsia
Deadline: 16 Desember 2019

Hadiah:
Juara 1: 10 Juta Rupiah
Juara 2: 8 Juta Rupiah
Juara 3: 5 Juta Rupiah
Juara 4: 4 Juta Rupiah
Juara 5: 3 Juta Rupiah
20 Pengirim Pertama @ 300 Ribu Rupiah
Most Engaging Blog:
Peringkat 1: 5 Juta Rupiah
Peringkat 2: 3 Juta Rupiah
Peringkat 3: 1 Juta Rupiah

Info Lengkap

Rumah Web Blog Competition Periode 2

Tema: Bagaimana memanfaatkan domain untuk bisnis Anda?
Deadline 20 Desember 2019

Hadiah:
Juara 1: 3 Juta Rupiah
Juara 2: 2 Juta Rupiah
Juara 3: 1 Juta Rupiah
3 Orang Juara Favorit: 500 Ribu Rupiah

Info Lengkap

Kuliah Lagi

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Dari sisi karir di birokrasi, sesungguhnya gelar Apoteker yang saya punya sudah sangat cukup, setidaknya untuk kelak menjadi Eselon II, meskipun ya saya ogah, sih. Ya, Apoteker kalau di birokrasi harganya sama dengan S2.

Dari sisi pengembangan diri, saya cukup bersyukur ada di organisasi yang sedang bertumbuh sekaligus punya sumber daya yang cukup. Dalam 2 tahun terakhir, saya bisa punya sertifikasi Risk Management dan juga sertifikasi Lead Auditor ISO 9001:2015. Khusus yang terakhir ini terasa wow karena dulu di pabrik, bisa dapat sertifikasi macam ini hanya mimpi belaka, soalnya harganya mahal sekali.

Oh, terakhir bahkan saya diikutkan pelatihan yang berbonus free membership setahun jadi anggota the Institute of Internal Auditor (IIA).

Tapi tetap saja saya merasa perlu mengupgrade diri meskipun harus menceburkan diri ke zona yang tentunya tidak nyaman, terutama dengan penurunan income. Setidaknya saya punya mimpi bahwa Kristofer kelak akan cukup bangga punya bapak-ibu minimal S2. Ya, meskipun saya nggak bakal ngejar level S2-nya Mama Isto. Lulusan UCL, coy~

Maka, nyaris 2 tahun yang lalu saya memutuskan untuk merintis jalan agar bisa kuliah lagi. Ambil S2, meskipun saya kadang ingat bahwa pas jobfair di Bandung ada mbak-mbak dari S1 Teknik sesuatu dan S2 Manajamen mencoba ngelamar jadi CPNS untuk formasi S1 Manajemen. Sekadar fakta bahwa banyak juga orang ngambil S2 itu adalah atas dasar daripada nganggur sesudah S1.

Mau kuliah lagi di PNS itu tidak mudah. Prosedurnya panjang dan berliku. Untuk berbagai alasan, saya kemudian menambah sendiri tingkat keribetannya. Ya, saya ingin kuliah tanpa beasiswa dari kantor.

Awalnya, tujuan saya adalah di Singapura, di Lee Kwan Yew School of Public Policy. Pas ke Singapura pun saya menyempatkan diri untuk melihat langsung kampusnya di dekat Botanical Garden. Tua, sih, tapi terasa hawa kerennya. Tim LKYSPP juga getol cari mahasiswa asal Indonesia. Kalau kata Rian Ernest, caleg PSI gagal–serupa Mz Kokok Dirgantoro–scholarship di LKYSPP juga sangat cukup, belum lagi dosen-dosennya yang “nggak kayak di Indonesia”.

Saya lantas mengambil tes TOEFL yang cocok untuk bisa apply LKYSPP, ya semata-mata karena tenggat dan harga, sih. Mereka tidak menyebut standar TOEFL yang pasti, tapi bilang angka yang bisa dipertimbangkan dan ketika TOEFL saya keluar ya masih di bawah tapi tidak jauh.

Kalau saja saya itu adalah istri saya zaman muda, saya pasti nekat apply. FYI, istri saya itu pada apply pertama nggak diterima sama UCL. Tapi karena bisa banding, dia banding dengan argumentasi tambahan (tanpa mengubah pokok masalah) dan kerennya keputusan UCL bisa berubah.

Akan tetapi, saya tentu tyda boleh egois. Saya sekarang sudah bapak-bapak. Ada istri, ada anak. Kalau saya ke SG sana, terus apa ya istri saya yang M.Sc Farmasi Klinis dari England itu kudu resign dan menemani saya ke SG sambil bawa anak? Atau kalau saya tinggal saja di Indonesia, nanti siapa yang bikin susu Isto kalau dia lagi ihik-ihik minta dodot tengah malam? Bukan apa-apa, sejak dia masih piyik itu tugas saya soalnya. Dan kebetulan, kami sepakat tidak pakai ART menginap.

Lebih dari semuanya itu, saya tidak hendak kehilangan masa-masa bertumbuh dari Kristofer. Saya yakin, untuk alasan ini, pilihan saya untuk enggan mencoba lagi mencari beasiswa ke LN, yang sebetulnya cukup dekat untuk diusahakan, adalah keputusan yang tepat.

Screenshot_1956

Maka, dengan bayangan seram kuliah di dalam negeri, saya pada akhirnya harus memilih. Ini juga tidak mudah.

Kalau mau egois, ya tentu saja saya ingin masuk UGM. Presiden RI sekarang lulusan sana, saya juga dulu sudah pernah nyanyi “bhakti kami, mahasiswa Gadjah Mada….” dengan cukup fasih. Bayangan hidup di Jogja yang 10 tahun silam enak itu jelas mengemuka.

Lagi-lagi, saya bukan lagi bujangan. Dengan pertimbangan yang sama, saya akhirnya menihilkan UGM dari pilihan. Opsinya ya tinggal 1: ambil S2 di Jakarta dan sekitarnya, dan di list dari pemberi beasiswa pilihan mengerucut jadi satu saja: Universitas Indonesia.

Tidak usah jauh-jauh, menjadi ‘Anak UI’ itu sudah cukup luar biasa di keluarga saya. Bapak, Mamak, saya, dan 3 adik sejauh ini kuliahnya swasta semua. Jadi, ini untuk pertama kalinya ada di keluarga saya yang kuliah di PTN.

Seluruh proses saya jalani. Bagi PNS yang ingin beasiswa di luar kantor perkaranya jadi tiga macam dan nggak jelas juga mana yang sebenarnya duluan. Pertama, mengurus beasiswanya itu sendiri. Kedua, mengurus prosedur Tugas Belajar yang akan membebaskan kita dari kewajiban bekerja dan digantikan dengan wajib belajar. Ketiga, ya daftar kampusnya.

Hampir 1,5 tahun waktu untuk menyelesaikan itu semua. Dan kini semuanya selesai, saya akan segera menjalani kehidupan baru. Kehidupan yang sudah 10 tahun lebih saya tinggalkan. Ya, menjadi mahasiswa (lagi), belajar (lagi), mengerjakan tugas-tugas (lagi), dan segala dinamika lain yang pastinya akan sangat berbeda dibandingkan sepuluh tahun silam ketika saya lulus Program Profesi Apoteker.

Ya, hari ini sampai dua tahun ke depan, saya akan menjalani studi S2 di Universitas Indonesia. Mohon doa dari teman-teman sekalian. Doa paling sederhana saja, kok, supaya saya bisa lulus pas 2 tahun. Bukan apa-apa, lewat dari 2 tahun, beasiswanya nggak mau bayarin lagi, soalnya. Hehe.

Tabik!

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Percaya atau tidak, ketika seseorang berubah status dari lajang menjadi menikah, sebenarnya nggak banyak hal yang berubah. Paling ya nggak bisa lagi menggebet anak orang sesukanya, karena kan sudah punya pasangan yang terikat secara resmi secara agama dan negara.

Akan tetapi, begitu statusnya berubah menjadi orang tua, nah, barulah perubahan besar terjadi. Bagaimanapun, orang tua baru itu diberi tanggung jawab untuk menangani sebuah kehidupan baru–yha, kecuali anaknya kembar, sih. Continue reading

Memutar Kenangan Antara Solo dan Jogja

Memutar Kenangan Antara Solo dan Jogja

Solo dan Jogja, setidaknya menurut saya, adalah dua kota dengan sejarah unik. Paling gampang tentu saja jika kita menyebut Kraton sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi di dua kota ini. Kebetulan pula, meskipun saya nyaris 8 tahun tinggal di Jogja, saya malah pernahnya mampir ke Kraton Solo dalam sebuah perjalanan epik yang akan selalu dikenang sebagai kelakuan masa muda. Itu terjadi tahun 2005.

Kini, akses antara kedua kota tersebut boleh dibilang lebih mudah. Memang, jalanan yang terbilang lebar dan mulus untuk was-wis-wus itu agak lebih macet dibandingkan 14-15 tahun silam. Namun pada saat yang sama, ada alternatif Kereta Api yang lebih beragam opsinya dibandingkan dahulu kala. Ada bahkan teman saya yang walaupun sudah menikah dan tinggal di Jogja, tetap saja kerjanya di Solo. Perkara akses memang cukup menarik, ternyata. Kalau begitu, yuk cobain perjalanan dari Kota Solo ke Jogja dengan kereta! Continue reading

Ayo Beli Rumah Harga Murah di Kota Ramah Anak Jawa Barat!

Kota Layak Anak (KLA) secara awam bisa dijelaskan sebagai kota yang memenuhi semua kriteria standar untuk memenuhi segala kebutuhan tumbuh kembang buah hati dari segala aspek dan sisi. Misalnya dengan adanya fasilitas serta sarana prasarana ramah anak sampai kemudahan mengurus dan mendapatkan urusan administrasi si kecil.

Tapi sayangnya, diantara sebegitu banyak kota dan wilayah di Indonesia, belum semua titik menjadi kota ramah anak disebabkan banyak faktor misal kendala uang dari pemerintah atau memang pemerintah yg belum berfokus terhadap hal tersebut. Tahun 2018 saja, baru ada sekitar 177 daerah yang mendapat anugerah kota layak anak dari pemerintah pusat.

Padahal, KLA sangat penting tuk diwujudkan karena secara langsung maupun tidak, tumbuh kembang anak Indonesia tergantung dari kualitas serta standar – standar KLA. Sehingga sangat penting sebenarnya bagi orang tua untuk secara cermat menentukan dimana sebuah keluarga bakal bermukim, agar si kecil bisa mendapatkan fasilitas serta hak tumbuh kembang terbaik dimulai dari lingkungan sekitar.

Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki titik ramah anak cukup banyak dengan ketersediaan jual beli rumah murah cukup berlimpah adalah Provinsi Jawa Barat. Tahun 2017 saja, sudah ada 15 titik yang mendapat predikat layak anak dan jumlah itu terus bertambah.

Ariesadhar.com - Pixabay

Tertarik buat melirik jual beli rumah murah di provinsi yg juga ramah anak ini? Berikut ulasan beberapa titiknya:

Bogor

Hanya berjarak sekitar 40 menit dari Ibukota, Bogor merupakan opsi utama bagi orang tua yg ingin jual beli rumah murah di areal layak anak. Sebab, meski dekat tetapi bisa dirasakan sekali perbedaannya mengenai kualitas udara dimana tingkat polusinya jauh lebih rendah dari DKI. Maka dari itu tingkat stressnya pun lebih rendah daripada Jakarta.

Stok rumah dijual di Bogor pun melimpah, tidak hanya landed house mewah saja tetapi Anda juga bisa rumah dijual di Bogor dengan harga miring dengan sangat mudah. Mau cari rumah dijual di Bogor tipe subsidi? Jangan khawatir, sebab stok hunian seperti itu juga banyak sekali.

Bandung

Dikenal sebab keindahan dan keberagaman tempat wisata, Bandung memang menawarkan sesuatu yg berbeda. Udara jauh lebih sejuk dan bersih dari Bogor. Plus setelah sempat dipimpin oleh Bapak Ridwan Kamil, makin banyak ruang terbuka serta taman yg bisa dijadikan tempat bermain buat anak. Tentunya dengan begitu aspek edukatifnya pun bakal lebih terasa.

Tapi untuk urusan jual beli rumah, tak berbeda jauh dengan rumah dijual di Bogor. Terdapat banyak opsi beli rumah serta range dan variasi landed house buat segera dimiliki. Tak peduli hunian murah maupun hunian mewah, tetap semuanya dikelilingi oleh ragam fasilitas serta infrastruktur buat mendukung segala perkembangan buah hati Anda. Ya, Bandung memang selalu istimewa.

Kalau Ketemu Tenaga Kesehatan, Tanya Apakah Mereka Sehat?

Screenshot_1814

Tulisan soal Tenaga Kesehatan ini dimuat di Voxpop, pada tanggal 3 Desember 2017 – Pak Dokter membunuh Bu Dokter yang notabene istrinya. Ada juga dokter yang melepaskan tembakan di tempat parkir hanya gara-gara biaya parkir. Hal itu belakangan menjadi konsumsi publik.

Satu hal yang kurang adalah kalangan kepo-ers yang biasanya bisa menemukan afiliasi politik Pak Dokter, kemudian menjadikannya sebagai alasan bertindak kriminal.

Gitu aja terus, mau orang lagi kesusahan maupun orang mati sekalipun kan sekarang yang diurusi adalah pilihan politiknya.

Di sisi lain, kumpulan dokter sempat wara-wiri di berbagai rumah sakit untuk seorang pasien yang menurut Nazaruddin, sakti. Sampai-sampai begitu banyak dokter ikutan konferensi pers bareng KPK menjelang tengah malam, ketika tersangka bernama Setya Novanto diantarkan ke Kuningan.

Hey, kalau dokter-dokter pada konferensi pers, lantas siapa yang menangani pasien? Tentu saja dokter jaga.

adult doctor girl healthcare

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dokter adalah salah satu dari sekian banyak tenaga kesehatan. Sebagai pemilik gelar Apoteker yang kerjanya sekadar fotokopi berkas dan sesekali antar surat ke kantor pemerintah, saya begitu mencermati soal profesi tenaga kesehatan ini sejak lama.

Terkadang saya bersyukur nggak ikut-ikutan jadi tenaga kesehatan beneran di pelayanan. Sebab, setelah saya pikir-pikir, kok ya tenaga kesehatan lama-lama malah menjadi jenis pekerjaan yang tidak sehat.

Gambaran Tugas Tenaga Kesehatan

Gambaran sepelenya saya peroleh dari istri saya yang sering melaporkan bahwa ia baru makan siang pada pukul 4 sore, karena begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai Farmasis Klinis di rumah sakit. Keadaan itu bahkan dialami kala dia hamil.

Sebagai suami milenial nan budiman, saya semula selow saja, karena itu mungkin sudah risiko dari sebuah profesi. Tapi dipikir-pikir kok ya ngenes juga. Misinya menyembuhkan pasien, tapi gaya hidup sehari-hari malah bikin tubuh sendiri menjadi sakit.

Ini belum lagi soal dokter-dokter yang praktik sampai larut malam bahkan jelang pagi, lantas paginya sudah harus on lagi. Mereka beristirahat hanya 3-4 jam dan sisanya bekerja. Boro-boro olahraga.

Maka, ketika seorang dokter yang buncit maksimal menyampaikan pesan agar saya banyak-banyak berolahraga, tetiba saya ingin balik bertanya, “Kapan terakhir kali Pak Dokter berolahraga?

Saya juga pernah bertemu dengan dokter anestesi yang bahkan lupa kapan terakhir kali dia tidur selama 8 jam. Saking tidak pernahnya.

Pak Dokter yang menembak istrinya beberapa waktu lalu, diketahui mengonsumsi obat penenang. Percayalah, ada lho dokter yang hidupnya tertekan, karena rasio pasien yang tidak terselamatkan cukup besar.

Ya, hidup sebagai dokter atau tenaga kesehatan pada umumnya itu memang butuh ‘penenang’, karena besarnya tekanan yang dihadapi.

Lain dokter, lain apoteker, lain juga perawat. Ini lebih parah lagi. Pasien-pasien itu kebanyakan masih gak enakan kalau marah sama dokter. Lantas kalau ada apa-apa, marahnya sama siapa? Perawat.

Perawat ini juga setali tiga uang. Hidup mereka dibolak-balik waktunya, karena bagaimanapun harus ada yang menjaga pasien pada tengah malam. Sebagai tenaga kesehatan mereka jelas tahu bahwa hidup dibolak-balik begitu sebenarnya juga nggak baik.

Kadang, saking sibuknya mengurus pasien, mereka juga luput untuk makan, sementara begitu sampai di ranjang pasien selalu bertanya, “Makanannya kok nggak dihabiskan?”

Itu tadi baru sekilas mengenai risiko untuk diri sendiri. Sekarang mari kita pindah ke Meikarta pola bisnis kesehatan.

Bisnis Kesehatan dan Balada Tenaga Kesehatan

Bisnis kesehatan, terutama rumah sakit, adalah bisnis yang menurut saya paling unik. Bagaimanapun orang yang sedang sakit membutuhkan tindakan, baik untuk penyembuhan penyakit, pengendalian penyakit, dan lain-lain.

Nah, segala kegiatan itu jelas-jelas membutuhkan biaya. Pasien dirawat di rumah sakit tentu harus tidur di ranjang yang mesti dibeli – nggak bisa rental, lu kate Play Station – terus diterangi lampu yang listriknya harus dibayar dan tarif dasarnya terus naik.

Terlebih, harus pakai alat canggih kayak yang dipakai Setya Novanto yang juga kudu dibeli dari luar negeri. Kemudian dirawat oleh tenaga kesehatan yang harus digaji, mendapat obat yang harus dibeli dari pabrik, dan sederet komponen lain.

Itu tentunya dibebankan kepada pasien maupun lewat penanggungnya, baik asuransi maupun jaminan kesehatan pemerintah.

Selain itu, bisnis rumah sakit ini juga merupakan jenis layanan yang secara psikologis berbeda dengan layanan publik lain, seperti bikin KTP atau buka rekening bank.

Kalau tembok kelurahan paling menampung pisuhan orang-orang yang dipermainkan birokrasi atau diperalat kekasih, tembok di rumah sakit adalah penampung doa paling banyak karena ada banyak suasana batin.

Mulai dari rasa bahagia seiring kelahiran anak, perasaan was-was karena kondisi orang tua atau sanak-saudara yang dirawat belum pulih, bahkan kesedihan begitu ada yang meninggal dunia.

Rasanya hanya rumah sakit yang berani memasang poster ‘Hormati Staf Kami’ dalam standar layanannya. Kita tidak akan menemukannya di pelayanan lain, seperti mengurus izin hingga SIM. Kalau SIM, kita sih sudah serta-merta ‘Hormati Pak Polisi’ tanpa disuruh.

Kondisi psikologis yang sedang buruk dan asa yang tinggi pada layanan tersebut adalah latar belakang paling pas bagi pasien, keluarga pasien, maupun LSM untuk sekadar marah-marah kepada para pekerja kesehatan tanpa pandang bulu.

Seorang perawat bernama Tova Kararo di Israel dibakar hidup-hidup sama pasien yang tidak puas. Di Jepang, Satoru Nomura memerintahkan Yoshinobu Nakata untuk membunuh seorang perawat dengan alasan kesal karena operasi plastik gagal.

Di Indonesia, persekusi terhadap tenaga kesehatan juga pelan-pelan menjadi hal yang sama biasanya dengan ngupil. Kan ngeri.

Perawat, dokter jaga, dokter spesialis, apoteker, dan sederet komponen yang bahu-membahu di rumah sakit itu ibarat bidak-bidak catur yang melawan penyakit pasien.

Dalam catur, mereka bisa menang, bisa juga kalah. Sudah menjadi konsekuensi kalau ada tenaga kesehatan yang dipersekusi oleh LSM.

Bahwa ada pasien yang gawat dan kudu dirawat, ya benar. Sebagai manusia, para tenaga kesehatan itu juga pasti berpikir. Maka, nggak perlu kita mempersekusi dengan bilang, “Ini nyawa orang, lho!”

Nyatanya, setiap kali ada nyawa yang diselamatkan, memangnya ada yang mengucapkan terima kasih kepada semua tenaga kesehatan yang terlibat?

Para tenaga kesehatan itu juga manusia, punya rasa punya hati jangan samakan dengan pisau belati, yang pasti juga paham soal kemanusiaan. Namun, pada sisi yang sama, mereka juga kudu tunduk pada prosedur di tempat mereka bekerja.

Jangan salah, para tenaga kesehatan itu juga kepikiran begitu tren pasien-pasiennya yang meninggal meningkat. Mereka juga bertanya, “Aku ini salah apa?”

Maka, sekali lagi, jangan heran kalau ada segelintir tenaga kesehatan yang mengonsumsi obat anti-depresan, semata-mata biar nggak depresi dengan pilihan hidupnya. Jangan salah juga, dalam era BPJS saat ini, para tenaga kesehatan begitu sering berhadapan dengan dilema kemanusiaan versus aturan-aturan. Dan, masih banyak lagi dilema-dilema lainnya.

Begitulah, menjadi tenaga kesehatan nyatanya tidak sehat-sehat amat, kadang lebih banyak makan hati. Namun, bagaimanapun juga, kudu ada manusia yang jadi tenaga kesehatan.

Jangan lupa, belum lama ini kita disuguhi pemandangan tentang bapak-bapak tajir yang masuk rumah sakit dengan penyakit vertigo, pengapuran jantung, tumor, benjol segede bakpao, kemudian disembuhkan secara luar biasa.

Oleh siapa? Tenaga kesehatan, dong! Menurut ngana?!

Rok sebagai Fashion Items yang Wajib Dimiliki oleh Para Wanita

Lambang feminisme seringkali dilambangkan dengan rok, bahkan lambang dari toilet wanita pun demikian, membentuk siluet orang yang menggunakan rok. Penggunaan rok memang sudah menjadi keseharian yang melambangkan jati diri wanita seutuhnya. Rok itu sendiri terdiri dari berbagai macam tergantung dari panjang dan pendeknya. Pecinta rok merasa kurang lengkap tanpa kehadiran fashion items yang satu ini dan faktanya hampir semua wanita pasti pernah merasakan mengenakan rok atau malah memilikinya meski hanya satu. Semua itu dikarenakan wajibnya penggunaan rok untuk perempuan di sekolah negeri. Berikut alasan yang bisa dijadikan alasan kuat untuk selalu mengenakan rok dalam kegiatan sehari hari.

woman standing beside fire extinguisher

Photo by antas singh on Pexels.com

Melambangkan Wanita Seutuhnya
Sejak zaman dahulu, penggunaan rok memang sudah dibiasakan oleh para wanita. Bahkan wanita jawa dahulu menggunakan sehelai kain batik yang dijadikan bentuk rok untuk menutupi tubuh bagian bawah. Tidak aka nada orang yang salah mengenal Anda sebagai pria saat mengenakan rok. Untuk informasi tambahan, rok juga digunakan sebagai pakaian adat untuk negara skotlandia yang dikenakan pada pria pula.

Lebih Nyaman Dikenakan Oleh Wanita
Perempuan merasa lebih nyaman menggunakan rok hampir sama seperti apa yang pria rasakan saat mengenakan celana dan sarung. Fakta tersebut menjadikan penggunaan rok tidak pernah mengalami penurunan meski dunia fashion terus berkembang.

beach couple dawn dusk

Photo by Adam Kontor on Pexels.com

Bahan yang Beraneka Ragam

Wanita memang paling ahli dalam memilih bahan terbaik untuk dikenakan. Begitu pulang dengan fashion items yang satu ini. Banyak bahan yang bisa dipilih untuk menyesuaikan dengan selera pengguna. Mulai dari katun biasa hingga baloteli yang tidak mudah kusut. Bisa pula ditambahkan beberapa kantung tambahan untuk menaruh ponsel atau barang barang kecil di dalamnya.

Penggunaan rok dalam kehidupan sehari-hari membuat banyak pemakainya seolah lupa akan kesibukan karena kenyamanan yang dirasakan. Untuk menghindari bau badan, Anda bisa menggunakan deodorant roll on pemutih. Rutin membersihkan wajah dengan micellar water oil control yang bagus untuk wajah yang cerah bersinar.

Cara Cepat Melunasi Utang yang Perlu Kamu Lakukan Agar Keuanganmu Kembali Sehat

Di tengah peningkatan biaya hidup yang terjadi saat ini, berutang menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang. Betapa tidak, ada banyak pengeluaran yang kerap menyita penghasilan dalam sekejap demi untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Ditambah lagi, saat ini inflasi lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan kebanyakan orang.

Sejatinya, berutang bukan berarti tabu untuk dilakukan. Berutang tak akan jadi masalah jika keuanganmu tetap dimanajemen dengan sebaik mungkin. Seperti diketahui, dalam prinsip keuangan yang sehat, idealnya beban cicilan utang setiap orang maksimal adalah 35% dari penghasilan rutinnya.

Jika saat ini Kamu sedang terlibat dalam utang atau sedang berusaha mengembalikan pinjaman uang, sebaiknya segerakan lunasi utangmu tersebut agar keuangan yang sehat tetap terjaga. Berikut adalah cara cepat melunasi utang yang perlu Kamu lakukan, sebagaimana dirangkum dari beberapa sumber. Yuk disimak.

1. Berpikir Jernih

man with hand on temple looking at laptop

Photo by bruce mars on Pexels.com

Kamu yang berutang bisa jadi tidak tenang karena masih ada cicilan panjang dalam jumlah besar yang harus dilunasi. Tetaplah berpikir jernih menyikapi hal ini. Seringnya, pikiran yang kalap tidak akan banyak membantu selain membuatmu semakin khawatir. Jangan panik agar solusi terbaik itu segera datang. Tetaplah berfokus pada jalan keluar untuk masalahmu, bukan masalahnya itu sendiri.

2. Dapatkan Informasi

Bagaimanapun, adalah penting untuk mengidentifikasi masalah keuanganmu dan mendapatkan informasi sebanyak mungkin yang sekiranya bisa membantumu segera keluar dari masalah tersebut. Penting juga untuk tetap berpikir positif meskipun jangan naïf. Kamu bisa mendapatkan banyak cara untuk segera melunasi utangmu, terutama dengan menambah jumlah penghasilan agar baik kebutuhan hidup maupun urusan utang bisa segera terselesaikan.

Jika memang bekerja lebih keras merupakan opsi yang perlu diambil, Kamu akan ingin mempertimbangkan untuk mendapat pekerjaan sampingan.

3. Temukan Solusi Alternatif

Berpikir kreatiflah dalam mencari solusi. Siapa tahu Kamu bisa menemukan alternatif yang out-of-the-box di luar sana. Kamu juga bisa meminta saran dan masukan dari orang-orang yang cukup relevan dalam hal ini. Konsultasikan masalah keuanganmu, siapa tahu muncul titik terang dan seseorang malah menawarkan pekerjaan, proyek dan sebagainya.

midsection of man holding hands over white background

Photo by Pixabay on Pexels.com

4. Gunakan Aset untuk Bereskan Utang

Coba pikirkan dan hitung aset apa saja yang Kamu punya beserta nilainya. Kepemilikan asetmu bisa dimanfaatkan untuk membayar utang. Kamu bisa menjual beberapa barang yang masih layak namun sudah tidak Kamu gunakan lagi.

Untuk aset yang lebih bernilai seperti tabungan, deposito, tanah, emas, perhiasan atau aset yang berharga lainnya juga bisa Kamu pertimbangkan untuk melunasi utangmu.

background bank banking banknote

Photo by Pixabay on Pexels.com

Perhatikan, biasanya orang akan merasa sayang dan tak rela melepas asetnya demi untyuk membayar utang. Namun cara ini merupakan cara tercepat bagi Kamu untuk terbebaskan dari beban utang. Utangmu akan lebih berkurang dan lebih ringan. Atau justru lebih baik lagi, langsung lunas.

Setelahnya, Kamu bisa segera mulai menabung serta membangun kembali aset dan keuangan idealmu setelah lunasi utang.

5. Susun Daftar Prioritas Pembayaran

Jika utangmu lebih dari satu, atau jika tagihan dan keperluan lainnya juga perlu diprioritaskan, maka Kamu perlu menyusun daftar prioritas pembayaran. Untuk yang utangnya lebih dari satu, Kamu bisa memulai dari utang yang biaya atau bunganya paling mahal. Setelah diurutkan, segera bereskan dengan melunasi utang yang bunganya paling tinggi. Kamu tentu tak ingin uangmu habis hanya untuk dibayarkan bunga utang saja.

6. Negosiasikan dengan Pemberi Utang

Terjebak utang memang tak enak. Namun jika sudah terlanjur, coba temui pemberi utang dan negosiasikan baik-baik secara kekeluargaan. Entah itu perorangan, pihakbank ataupun lembaga keuangan lainnya. Kamu bisa mulai dengan menyampaikan kondisi keuanganmu yang sesungguhnya dengan jujur dan berterus terang.

man in brown long sleeved button up shirt standing while using gray laptop computer on brown wooden table beside woman in gray long sleeved shirt sitting

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Saat bernegosiasi, Kamu juga bisa tunjukkan niat dan itikad baikmu untuk tetap membayar utang mengingat itu merupakan kewajiban. Bahkan Kamu pun bisa meminta masukan dan solusi dari pihak pemberi utang. Namun sebagai catatan, solusi tersebut bukan berarti Kamu membuat utang lagi yang baru.

7. Bekerja Lebih Keras

Tambahlah kemampuan membayarmu dengan cara meningkatkan penghasilanmu. Hal ini bisa membuatmu segera melunasi utang yang ada. Temukan pekerjaan sampingan. Bekerjalah lebih keras lagi, lebih cerdas lagi agar penghasilanmu segera bertambah dan utangmu segera terlunasi.

8. Stop Menambah Utang

Terpenting, hindari menambah utangmu. Pasalnya ada beberapa orang yang memutuskan membuat utang baru demi membayar utang yang sebelumnya. Memang benar bahwa dalam dunia keuangan, ada taktik refinancing dimana Kamu bisa membayar utang lama dengan utang baru—yang biasanya lebih murah. Tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, yakni utang barumu memiliki biaya yang sama mahal, atau malah lebih mahal dari yang sebelumnya, hindari saja.

Sejatinya, berutang berarti menambah beban keuangan dan pikiranmu sendiri. Usahakan untuk tidak berutang dan lunasi segera semua utangmu. Jangan ambil keputusan yang salah dan malah makin menyusahkan keuanganmu di kemudian hari. Sebaliknya, tingkatkan lagi kemampuan bayarmu untuk mendapatkan penghasilan lebih sehingga ke depannya Kamu pun tak perlu berutang lagi. Sukses selalu, semoga bermanfaat.

Di Balik Tulisan “Yang Harus Dipahami Dalam Kasus Penarikan Albothyl”

Di Balik Tulisan _Yang Harus Dipahami Dalam Kasus Penarikan Albothyl_

Hari Jumat, pas Imlek, Prima Sulistya, cicik-cicik KW embuh yang tidak merayakan Imlek merupakan pemimpin redaksi salah satu media kafir, Mojok, mengirim pesan WhatsApp kepada saya berkaitan dengan penulisan sebuah topik, yang mungkin dikirimkannya mengingat kayaknya hanya saya apoteker di antara deretan penulis Mojok.

Ini merupakan pesan istimewa karena inilah kali pertama Cik Prima request artikel ke saya sejak bliyo naik pangkat jadi pimred. Sebelumnya, Cik Prim hanya redaktur biasa nan jelata. Beberapa tulisan yang saya kirimkan kepadanya pun memang dimuat tapi view-nya mengenaskan.

Bagi saya, apapun tawaran dari Cik Prim yang berkaitan dengan nulis di Mojok adalah keharusan untuk diiyakan, terlebih dalam kondisi finansial saya yang gundah gulana begini. WA-nya kepada saya mungkin kombinasi dari masukan koreksi untuk sebuah topik yang lalu ditambah dengan unggahan saya berupa Istoyama yang sedang makan kerupuk saja, saking kerenya bapaknya. Continue reading

Taksi Bandara Galak di Hang Nadim

Banyak hal yang bikin bete di dunia ini. Pertama, tentu saja makhluk hidup bernama Fahmi Wicaksono, agen properti yang selalu membawa serta bininya kemanapun pergi serta katanya sudah sering jualan tapi malah bikin uang saya amblas 36 juta. Kedua, mantan terindah dihamili oleh suaminya sendiri–suatu hal wajar nan menyakitkan. Ketiga, bertemu dengan taksi bandara nan galak tanpa tata krama sama sekali.

Alkisah dalam sebuah perjalanan dinas, saya dan tim sampai di bandara Hang Nadim, Batu Besar, Batam menggunakan penerbangan Garuda Indonesia terakhir. Itu lho, yang dari Jakarta jam tujuh kurang sedikit. Dasar penerbangan terakhir, sesudah semua penumpang berpulangan maka yang tersisa hanya sepi, rindu, dan kenangan. Tsah.

Bermula dari miskomunikasi antara tim dengan kantor di Batam, muaranya adalah sampai kami sampai belum ada yang menjemput. Dasarnya juga nggak sering-sering amat ke Batam, jalanlah kami mengikuti orang-orang ke arah parkiran mobil.

Yang kemudian terjadi…

Continue reading