[Review] Cahaya Dari Timur: Beta Maluku

Seumur-umur, saya baru dua kali nonton film pada hari pertama kemunculannya di bioskop, yakni The Avengers dan Soegija. Nah, ternyata saya bisa juga dapat kesempatan untuk nonton film pada hari minus dua kemunculan di bioskop. Ya, kemaren saya menghadiri penayangan perdana film “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku” di Plaza Senayan, sekaligus baru tahu kalau pas premier itu ternyata banyak artis berseliweran. Selayang pandang ada Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan, Dion Wiyoko, Laudya Chyntia Bella, Erwin Gutawa, Harvey Malaiholo (saya hampir saya mendatangi dia kan bertanya kenapa CF nggak lolos 5 besar Golden Voice tujuh tahun yang lalu), Pandji, dan artis-artis lainnya yang saya tidak kenal, dan tentu saja nggak kenal saya, apalagi kenal OOM ALFA.

Ah, sudahlah, tanpa berpanjang-panjang mari kita mulai review-nya.

10378003_1442631622660445_7170772361984751093_n

Satu hal yang harus saya tekankan adalah durasi film ini tidak seperti durasi film Indonesia pada umumnya. Mungkin bisa cek di website-nya twentiwan soal durasi pastinya, tapi yang jelas dari film dimulai sekitar 21.30, saya keluar studio itu jam 23.55! Saya hitung-hitung bahkan lebih panjang dari Captain America, Divergent, dan X-Men, tiga film terakhir yang saya tonton.

Selengkapnya!

Advertisements

Cara-Cara Resign yang Baik

pablo (1)

Hah! Habis membenahi posting soal hal-hal yang bikin nggak jadi resign, plus mem-publish email resign saya, rasanya kok pengen memberikan masukan kepada pekerja yang pengen untuk bisa resign dengan agak baik dan kira-kira benar. Ya, saya memang baru saja resign tanggal 5 Maret kemaren untuk pindah kerja ke tempat yang nggak memungkinkan resign semudah mencuci baju. Jadi setidaknya saya bisa menulis berdasarkan hal yang saya lakukan sendiri, tidak sekadar copy paste blog orang. Heu.

Selain sudah pernah resign, sepanjang karier saya yang hampir 5 tahun itu kira-kira saya bertemu lebih dari 100 teman kantor yang resign. Ada yang resign lalu balik lagi, tapi lebih banyak yang resign dan tidak kembali. Jadi, cara-cara yang saya uraikan berikut ini bukanlah cara-cara yang abstrak dan tidak pernah diimplementasikan. So, mari disimak!

JANGAN EMOSIONAL

Tentu saja, dalam dunia kerja akan ada orang yang menyebalkan, tapi itu tidak berarti kita bisa menjadikan dia sebagai alasan untuk bertindak emosional. Suatu ketika saya bertemu dengan teman yang baru saja nangis-nangis habis ketemu bosnya, sedang ngeprint surat resign. Iya, habis ketemu bos, sebel, emosi, lalu minta resign. Saya cuma bilang, “kamu beneran mau ngasih ini ke bos?”. Tentu saja jawabannya adalah “Tidak.”

resign1

Sebelum memutuskan untuk resign, pikirkan dulu matang-matang. Apalagi kalau mau resign dengan alasan situasi kantor yang kurang kondusif. Lain kasus dengan adanya offering yang lebih baik, emosi yang ada disini justru adalah kesentimentilan. Sudah kadung berteman enak-lah, sudah kadung fasih dengan teh bikinan OB, atau sudah kadung kasbon dengan warteg depan kantor. Kalau terlalu sentimentil, ya jatuhnya juga nggak akan resign.

Resign Yuk!

Tarif Ojek Paling Sinting

“Mana hujan, nggak ada ojek, becek…”

Terima kasih kepada Cinta Laura yang sudah mempopulerkan ucapan ini. Setidaknya tukang ojek jadi dapat promosi gratis. Tapi kalau bicara kata-kata di atas, yang saya ingat adalah ketika saya memasukkan handphone saya yang mendadak berbunyi dan lupa saya silent ke dalam tumpukan sampah kemasan sebuah produk suplemen makanan ternama, hanya gegara 3 meter dari saya sedang duduk seorang manajer Quality Assurance paling galak se-Jalan Raya Bogor. Untungnya beliau lagi fokus pada pekerjaannya sehingga nggak dengar Motorola L6 saya dengan alaynya memperdengarkan lagu Cinta Laura tersebut. Meskipun saya agak kurang yakin itu beneran Cinta Laura pernah bilang begitu, sih.

Baiklah, kita lupakan sejenak Cinta Laura dan beralih pada inti dari postingan ini: ojek. Sebuah fenomena dalam dunia transportasi. Soalnya dibilang tergolong moda kok nggak juga. Dibilang kendaran umum, lah platnya hitam. Jadilah saya bingung. Satu hal yang pasti, kalau OOM ALFA digunakan untuk ojek, bisa dipastikan penumpang tidak akan sampai ke tujuan.

Satu hal yang pasti dialami oleh para pengguna ojek sedunia akhirat adalah soal tarif, terutama pada rute yang memang tidak biasa digunakan. Iya kan? Nah, di postingan ini saya hendak berbagi beberapa tarif dan rute berikut tingkat kelogisan tarifnya. Ada satu alasan utama saya terpaksa membuat posting ini, dan kira-kira itu karena sakit hati sama ucapan seorang tukang ojek.

Sinting kan!

Email Resign Anti-Mainstream

ROADTRIP

Seumur hidup, saya baru sekali merasakan resign. Kalau sekadar pindah tempat kerja, sekali juga. Kalau kawin? Belum, sih. Nah, perkara resign ini sangat khas. Namanya juga pekerja swasta, ketika tidak betah, atau ketika disingkirkan pelan-pelan oleh teman sejawat, atau ketika ada tawaran lain yang lebih baik, tinggal pindah dong ya? Ketika berpisah, umumnya ada sekadar sapaan perpisahan by email. Tentunya ini berlaku bagi level yang memang jamak berkomunikasi via email. Kalau yang resign satpam, nggak perlu juga pakai email resign.

images5

Perihal email resign ini selalu saya perhatikan dan simpan di folder khusus. Jadi saya tahu bahwa ada sebagian orang yang copy paste email resign yang lain dengan hanya mengganti nama belaka. Ada juga yang nulis sendiri tapi sebatas 1-2 kalimat. Saya cuma mikir aja, ini kan resign dan akan sulit kita berkomunikasi lagi dengan orang-orang di perusahaan itu, jadi, kenapa kita nggak bikin email resign alias email perpisahan yang anti mainstream? Sesuatu yang bisa dikenang oleh orang banyak bahwa kita itu unik, dan saran saya sih nggak usah mengirim email resign pada sejawat yang menyingkirkan kita. Nanti dia lonjak-lonjak kegirangan.

Ketika saya pindah unit, dalam perusahaan yang sama, saya membuat email perpisahan lokal dengan judul Terima Kasih. Dan ketika saya resign beneran, maka saya harus membuat email sekali seumur hidup yang keren. Ini dia emailnya.

emailnya

Kenapa Harus Tentang Kematian?

Senin pagi. Sesudah dua hari yang melelahkan kala weekend, saya terbangun di hari kerja itu dengan malas-malasan. Adalah sebuah panggilan telepon dari orangtua yang membangunkan saya, berhubung semalam saya lupa mengeset alarm. Dan pagi itu kabar yang datang justru buruk. Sepupu saya yang baru saja ulang tahun ke-25, meninggal dunia.

Hari itu kemudian menjadi hari yang agak sibuk. Kebetulan saya masih woles di tempat kerja baru, karena memang anak baru masih cupu. Saya hanya membayangkan kalau ini terjadi ketika saya di tempat lama, mungkin saya akan ditelepon terus kalau tidak ada di tempat. Pun, sekarang saya sudah tinggal di Jakarta. Kalaulah saya masih di Cikarang–atau bahkan Palembang–semuanya mungkin menjadi lebih tidak sederhana.

Saya kemudian janjian dengan adek dan 2 sepupu lain untuk melayat. Permintaan koordinasi janjian itu justru saya peroleh dari Maktua saya–orangtua kedua sepupu tersebut. Kami kemudian janjian di RS Dharmais karena sepertinya itu adalah tempat yang cukup tengah dibandingkan tempat-tempat lainnya. Sesudah sampai di lokasi, kami juga bertemu dengan sepupu lainnya, tentu saja termasuk 2 kakak dan 1 abang dari adek sepupu saya yang meninggal itu.

Seolah menjadi kebetulan yang aneh, sepupu saya yang lain dari Surabaya memang sudah ada jadwal untuk datang ke Jakarta karena ada proyek. Semuanya akhirnya dilengkapi oleh kehadiran orangtua saya dari Bukittinggi dan Maktua-Paktua dari Bandung. Plus, sepupu saya yang pas off dari jadwal terbang dan adek saya yang naik motor 3 jam dari Bekasi ke Tangerang. Formasi yang cukup banyak.

Anak-anak UKF Dolanz-Dolanz punya semacam ucapan satir bahwa orang-orang–dengan kesibukannya masing-masing–hanya akan bisa berkumpul kalau tidak di kawinan, ya pas kematian. Dan tetiba saya sadar dengan jelas soal fakta ini. Kematian adek sepupu ini mengumpulkan orang-orang yang sulit sekali untuk dipertemukan.

Ya, kalau bukan kawinan, ternyata kematian. Ucapan satir anak-anak Dolaners itu ada benarnya. Coba saja, dalam keadaan normal bukan kawinan atau kematian, lalu ada ajakan untuk bertemu, apa sih yang kita katakan? Maukah kita benar-benar meluangkan waktu?

Apalagi, pertemuan kembali orangtua sepupu saya yang meninggal ini dengan saudara-saudara perempuannya. Percayalah, ini hal yang sulit, tapi akhirnya terjadi juga. Saya jadi bersyukur membatalkan niat untuk langsung pulang dan kemudian memilih menginap di Bintaro dengan konsekuensi dua pagi harus berangkat kerja naik KRL dari Pondokranji. Nggak apa-apa, hitung-hitung belajar kalau nanti punya rumah di daerah Tangerang dan kudu naik KRL untuk bekerja. Pada akhirnya saya bisa menjadi saksi dari berkumpul kembalinya keluarga yang sudah terpencar-pencar ini.

Tentu saja, setiap kejadian mengandung hikmah masing-masing. Adalah suatu kehilangan besar ketika sepupu saya meninggal di usia yang masih muda. Sejujurnya, saya ketemu dia itu cuma di 3 peristiwa. Tahun 1997 dan 1999 ketika main ke rumahnya, serta tahun 2012 pada acara pernikahan kakaknya. Dari bocah kecil rambut lurus belah tengah, menjelma menjadi pria brewokan. Dan di pertemuan keempat, sepupu saya mengenakan pakaian yang sama dengan saat terakhir kali saya dan dia bertemu. Dua kejadian: perkawinan dan kematian.

Dua hari ini membuka mata saya lagi atas saudara-saudara yang saya miliki. Ompung saya memang keluarga besar, karena keluarga intinya saja ada 8 orang. Sebanyak 8 orang adalah cikal bakal dari sekitar 34 cucu. Plus beberapa juga sudah punya anak juga. Ya, intinya jelas: banyak. Dan sesudah dihitung-hitung, lebih dari 50% ada di Jabotabek. Selain banyak, ada satu kata lagi: dekat.

Tanpa bermakud bergembira di atas kepergian saudara saya, tapi jelas ada rasa syukur ketika kami berkumpul kemarin. Apalagi kemudian muaranya adalah momen rekonsiliasi. Sesuatu yang tidak mudah, apalagi kalau kita berbicara betapa kerasnya orang Batak dalam memegang prinsip diri sendiri. Syukurlah, di balik kejadian sedih ini, ada hikmah yang bisa diambil. Syukur juga saya tidak melewatkan momen itu, momen pertemuan yang terjadi jam 1 pagi dalam campuran derai tangis kesedihan dan haru pertemuan, disaksikan oleh sepupu saya dalam tubuh kakunya di peti.

Selamat jalan, Lae. Selamat bergembira bersama Bapa!