Bukan Dia

“Udah beres semua?”

“Udah kayaknya.”

“Sip, deh.”

“Pacaran dulu, yuk!”

“Eh, kamu ini, mau ujian kok malah pacaran dulu?”

“Nggak apa-apa, sayang. Udah khatam.”

Tanpa berlama-lama Echa melompat ke jok motorku, dan kami melesat ke kosnya yang sebenarnya tidak jauh-jauh benar dari kosku. Kami pacaran baru empat bulan. Tindakan terjauhku baru memeluknya. Bibirnya masih perawan, apalagi alat kelengkapan lainnya. Kami memang pacaran di dalam kamar, tapi dengan pintu terbuka. Itulah konsensus pacaran di kamar kosnya.

Pic

Sejak selesai membeli snack untuk dosen penguji, aku sudah melihat gelagat yang aneh pada Echa. Entahlah, aneh saja rasanya. Hanya aku tahu, tidaklah baik untuk bertanya ‘kamu kenapa’ kepada gadis yang sudah berusaha tampak tidak apa-apa. Itu hanya akan menjadi pekerjaan seperti menegakkan benang basah. Kini, kami hanya diam saja sambil setengah bermesraan di dalam kamarnya.

“Kok diam aja, yang?”

Continue Reading!

Advertisements

Kembali Bersama Pelangi

“Bagi yang pernah tinggal di Jogja, setiap titik adalah romantis.”

Rio tersungging membaca sebait kalimat yang tertulis di urutan 123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja itu. Sebuah bacaan yang menarik sebelum menaiki penerbangan pagi menuju sebuah kota yang setiap titiknya adalah romantis. Rio sepakat dengan kalimat itu, tentu saja karena dia menghabiskan 7 tahun penuh cerita di Jogja. Kisah yang akan segera disambutnya seiring panggilan boarding yang paralel disertai flight mode untuk ponselnya. Tentu saja Rio tidak dapat membaca ariesadhar.com dari dalam pesawat.

Tidak butuh waktu yang cukup lama untuk mencapai Jogja. Bahkan jika penerbangannya adalah malam hari, waktu menanti terbang karena antrian pesawat justru lebih lama daripada terbang itu sendiri. Untungnya Rio menaiki penerbangan pagi yang masih lancar. Lima puluh menit lamanya waktu sejak roda pesawat beranjak dari landasan Soekarno Hatta hingga kemudian mata Rio bisa menyaksikan Stadion Mandala Krida dari jarak yang tidak jauh.

Mandala Krida

Mandala Krida

Selamat datang, kenangan!

Mbohae!

Gadis di Dalam Hati

“Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat….”

Aku masih menatap jauh ke awan yang menggumpal di sebelah kiriku. Kepalaku masih melekat pada jendela pesawat sekaligus menutupi hak penumpang di kursi B dan C untuk menikmati langit. Biarlah, salahnya sendiri mereka nggak cek in duluan. Aku memang selalu meminta kursi di A atau F, sehingga bisa menikmati langit, awan, dengan segala cerah dan mendungnya. Aku selalu merasa bisa memaknai betapa kecilnya aku dalam dunia ini ketika melihat itu semua.

Roda pesawat menapak mulus di bandara, sekaligus menambah koleksi bandara tempatku pernah mendarat. Aku sudah pernah mendarat di Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, hingga Gunungsitoli, tapi belum pernah di kota ini. Meski memang aku sudah pernah menjejakkan kaki di kota ini dengan moda transportasi lainnya.

Kamera DSLR-ku segera keluar dari tas tempatnya berdiam sedari tadi. Kuarahkan ke nama bandara yang baru pertama kali kujejak ini, berikut lingkungan sekitar. Ah, kamera ini, aku masih ingat seorang gadis pernah berkata, “Kak, beli kamera DSLR gih. Nanti aku rela deh jadi modelnya.”

Gadis yang ada di dalam hatiku. Yang menjadi alasan aku mendarat di kota ini.

Aku melangkah keluar bandar udara dan segera mencari si taksi burung biru. Yah, semua berasa semacam dinas saja. Naik pesawat, ambil taksi burung biru, dan mungkin nanti hotel yang akan aku inapi. Tapi tentu saja tidak. Hari ini hari kerja, dan aku tidak dalam posisi dinas. Aku cuti, untuk menyelesaikan sebuah masalah yang mengerak di dalam hati.

Kalau saja aku pernah cuti 1 hari untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak SD, masak sih aku tidak merelakan cuti untuk menyelesaikan masalah hati ini?

“Selamat pagi, Mas. Mau diantarkan kemana?”

Aku menyebut nama sebuah tempat di selatan kota, dan supir taksi burung biru ini segera melajukan kendaraan yang akan membawaku mendekat pada penyelesaian masalah hati ini.

Kemacetan ternyata sudah menyapaku begitu lepas sebuah bundaran di pintu bandara. Ah, kota ini tidak jauh beda dengan tempatku mengeruk rupiah. Sama saja macet! Kendaraan ini berhenti dan segera pikiranku membuat kilas balik rentetan peristiwa sepekan terakhir.

“Pak, tahu kan kalau saya suka sama seseorang, sudah dari lama. Gimana ya enaknya? Saya perlu diam aja, atau perlu saya ungkapkan?”

Aku berhadapan penuh ketakutan kepada Bapak Pelatih. Bukan hal mudah bagiku untuk curhat, apalagi ke orang sepenting beliau. Tapi aku sungguh sudah kehabisan akal dan semakin penuh kebingungan karena masalah ini.

Tujuh tahun mencintai satu orang yang sama, dan sama sekali tidak punya nyali untuk mengungkapkan. How loser I am!

“Untuk masalah hati, Dek, saya sarankan dengan sangat, perasaan itu harus kamu ungkapkan,” ujar beliau dengan penekanan pada kata ‘harus’, “kalau memang sudah sangat terlambat, yang penting kan sudah diungkapkan. Minimal bisa bikin lega hati.”

Aku tertunduk lesu, tapi lega juga. Menyimpan rasa suka sendirian selama bertahun-tahun itu benar-benar menderita. Ketika kemudian aku bisa mengungkapkan ini–minimal pada Pak Pelatih–maka ada sekian persen beban yang lepas.

Ya. ‘Harus’ yang dibilang oleh beliau menjadi penuntunku untuk kemudian melakukan tindakan antik ini. Aku segera membeli tiket pesawat ke kota ini, berikut memesan tiket hotel, dan langsung mengajukan cuti dalam waktu yang singkat. Dan entah kenapa, semesta semacam mendukungku. Harga tiket terbilang terjangkau, dan kebetulan juga cuti bisa diperoleh dengan mudah, tanpa harus dikira sedang interview di perusahaan lain.

Hanya satu hal yang aku ragukan dari misiku hari ini. Apa iya semua biaya yang aku keluarkan ini akan memberikan hasil? Aku punya satu masalah: keberanian. Aku pernah menjalani misi ini, dengan naik bis, dan berujung ketidakberanian dengan hanya berdiri berdiam di depan kediaman gadis di dalam hati itu.

Tidak terasa, burung biru sudah membawaku ke jalan lurus yang tidak jauh dari kampus ternama di negeri ini, yang berarti aku sudah hendak sampai ke tempat yang aku minta sebelumnya.

“Hotel Indah ya, Pak. Yang warna hijau itu.”

Sedan biru mulus itu segera mendekat ke arah yang aku tunjukkan. Aku sampai di tempat menginap. Hotel yang berbeda dari perjalananku sebelumnya, yang gagal itu tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Persis waktunya untuk cek ini di hotel ini.

Proses cek in berlangsung dengan cepat, dan aku akhirnya sampai di kamar.

“Mau ngapain nih?” gumamku begitu tasku mendarat di kasur.

Aku sudah berjalan sejauh ini, dan aku masih punya ganjalan yang bernama keberanian. Kalau selama 7 tahun dan dalam konteks yang lebih mungkin untuk mengungkapkan perasaan ini, dan aku kemudian tidak berani menyampaikan apapun. Bagaimana dengan sekarang?

Aku punya lebih banyak alasan untuk menyimpan semua perasaan ini sampai mati, meskipun aku sudah sejauh ini.

Dan dengan segenap diam yang aku dapati dari gadis itu selama 1 tahun terakhir, maka mengetik sebuah pesan singkat bukanlah menjadi perkara yang mudah.

Siang, Kinar. Maaf mengganggu. Aku mau ngasih buku, sambil mau ngomong sebentar. Bisa minta waktunya 1 jam aja hari ini? Di Mekdi atau di kosmu atau dimana terserah deh. Minta tolong ya. Soalnya besok aku udah pulang.”

Bahkan jariku masih ragu untuk menekan ‘Send’, pada layar sentuhku. Tentu saja, kalau saja SMS barusan aku kirim ke gadis itu empat tahun yang lalu, semuanya akan berjalan berbeda. Aku tidak perlu takut tidak dibalas. Sekarang? Belum tentu.

Aku menggumamkan doa sejenak sebelum telunjukku menekan ‘Send’ pada layar sentuh.

Aku hanya berharap ada jawaban, bahkan hanya sebuah jawaban tanpa kesanggupan atas permintaanku adalah sebuah harapan yang sederhana.

Dan sejak aku menekan ‘Send’ tadi, waktu berjalan begitu lambat sekali. Serasa jenggotku dapat tumbuh dalam 30 menit berlalu. Tanpa balasan selama 30 menit ini sungguh perlahan memadamkan bara keberanian yang sebelumnya aku tiup pelan-pelan untuk bisa menyala kecil.

Bahkan aku tidak berminat membalas pesan-pesan whatsapp dari seorang gadis yang aku ketahui jatuh cinta kepadaku. Ya begitulah cinta. Bahwa konsep jatuh cinta itu baru akan baik adanya kalau dicintai dan mencintai mengacu pada objek yang sama. Kalau beda? Ya begini deh. Dia galau karenaku, aku galau karenamu. Nggak berujung ini.

Rrrrrtttttt…

Handphone bergetar.

Sbb Kak. Aku baru pulang kerja. Kakak dimana emang? Buku apa?

Lumayan. DIBALAS! Itu saja sudah bikin senang.

Aku nginep di Hotel Indah. Jadi bisa? Mau dimana? Bukuku. Ceritanya mau promo. Hehehe.

Dan, lagi-lagi, aku harus menunggu.

Rrrrrttttttt….

Bukumu? Hmmm, terserah, mau di kosku juga boleh. Emang tau?

Syukurlah. Jawaban ini semakin mengarah. Dan kali ini aku harus mengipas bara keberanianku untuk menuntaskan perasaan yang sudah 7 tahun terpendam di dalam hati sini.

Ya semoga tahu. Jam berapa bisanya?

Sekarang juga nggak apa-apa, kalau cuma 1 jam sih.”

Wow! Sekarang! Ini beneran ya?

Dan aku malah menampar pipiku sendiri, berkali-kali, hanya hendak memastikan bahwa ini nyata.

Aku segera keluar dari hotel, dan sudah sore rupanya. Aku masih ingat, tidak jauh dari sini ada markas tentara dengan 4 pohon tinggi dan pemandangan unik berupa angsa yang berterbangan diantara keempat pohon itu. Asli keren.

Maka, aku tidak lupa membawa kameraku. Meski memang lensanya kurang optimal, tapi sudah janjiku untuk kembali lagi kesini ketika aku sudah memiliki kamera DSLR. Cukup banyak jepretan yang aku ambil dari empat pohon itu. Sambil berlatih menggunakan kamera DSLR yang baru saja aku beli dan kreditnya masih lima kali lagi ini.

Dan aku segera melangkah mendekat ke tujuanku, kediaman Kinar.

Bahkan aku masih bertanya-tanya, apa sih yang hendak aku ucapkan nanti ketika aku bertemu? Yang aku ingat adalah hari-hari ketika aku dan Kinar curhat dalam waktu yang panjang, hari-hari saat Kinar memberiku bunga, tapi juga waktu-waktu ketika Kinar bahkan tampak tidak sudi untuk berpaling sekadar memandangku.

Dan langkahku kemudian sampai juga ke Jalan Tanjung. Seharusnya disini tempatnya. Di deretan jalan bernama bunga, mulai Mawar, Melati, hingga Tanjung, ada tempat kediaman Kinar. Dan kalau Kinar belum pindah, maka kos yang menjadi kediamannya ada di….

…ujung jalan ini.

Kosmu bener Jalan Tanjung Nomor 2?

Iya Kak.”

Kalau gitu, aku sudah di depan.”

Glek!

Perlahan pintu coklat membuka, dan sosok cantik yang 7 tahun silam merasuk ke dalam hatiku, dan tidak keluar-keluar, ada disana. Iya, Kinar sekarang ada 4 meter dari tempatku berdiri.

“Hai, Kak.”

“Hai, Kinar.”

Sebuah percakapan yang beku, penuh kekakuan. Kalau ini terjadi 4 tahun silam, yang ada tentu saja sapaan manis disertai salaman penuh kehangatan. Ah, waktu memang suka mempermainkan keadaan.

“Apa kabar?” tanyaku sambil menjulurkan tanganku.

“Baik, Kak. Duduk gih.”

Di teras kos, dengan 2 bangku plastik dan 1 meja yang juga dari plastik, aku dan Kinar, berdua saja. Tapi aku bahkan masih ingat kapan terakhir kali aku berdua saja bersama Kinar. 14 April dua tahun yang lalu, di teras kosnya yang lama, kos sewaktu kuliah.

Aku dapat mengingat semuanya dengan mudah. Sepertinya aku menganut prinsip Data Logger. Duduk, diam dan tenang sambil merekam segalanya. Entah untuk apa.

“Pertama, maaf mengganggu. Kamu pasti capek habis kerja,” ujarku membuka pembicaraan, sambil tanganku merogoh tas ranselku untuk mengeluarkan tiga buah buku.

Kinar tidak berkata-kata sedikitpun. Aku memandang wajahnya sekilas, dan masih menatap raut yang sama, yang dari pertama kali aku melihat wajah itu langsung diberi kesimpulan jatuh cinta.

“Ini, mau ngasih ini. Kalau yang ini, barengan sama yang pernah aku kasih sebenarnya. Waktu itu aku minta dua tanda tangan penulis buku ini, dua-duanya atas nama kamu.”

Dulu sekali, aku pernah memberikan sebuah buku bertanda tangan asli penulisnya kepada Kinar. Dan aku ingat sekali pesan singkatnya begitu menerima paket itu, “Apa coba artinya kamu ngasih buku ini, Kak?”

Kala itu, aku hanya menjawabnya dengan canda. Tidak ada sedikitpun keberanian untuk bilang bahwa aku berburu tanda tangan itu atas dasar cintaku pada Kinar.

“Kalau yang ini, sekalian ucapan terima kasih. Walaupun cuma 1 cerpen disini, tapi aku pakai nama kamu sebagai tokohnya. Dan percaya nggak percaya, tiga perempat cerita ini adalah kejadian nyata yang aku alami. Aku tokoh utamanya, dan kamu tokoh ceweknya. Ini yang aku SMS waktu itu. Udah pernah baca?”

Kinar menggeleng.

Ya sudah.

“Dan terakhir, yang ini, judulnya ALFA. Ini bukuku sendiri. Akhirnya aku punya buku sendiri juga. Dan harus aku kasih sendiri ke kamu, karena ada banyak kalimat di buku ini yang asalnya dari obrolan ngaco kita di SMS jaman dulu. Waktu nulis buku ini, sebagian waktu kita masih intensif SMS-an.”

“Wow. Selamat, Kak. Akhirnya punya buku juga.”

“Sebenarnya, kalau kamu nggak selalu bilang nggak pede, kamu lebih layak punya buku daripada aku.”

Kinar menerima tiga buku yang aku angsurkan kepadanya. Buku orang lain, buku antologi cerpen yang salah satu isinya adalah cerpenku, dan buku yang aku tulis sendiri. Tiga buku yang semuanya sebenarnya sangat lekat dengan Kinar, bersama segala prosesnya.

“Dan, satu lagi, mungkin ini akan mengganggu kamu, jadi aku mohon maaf dulu.”

“Mengganggu? Kenapa?”

Aku masih tidak yakin kalau aku punya cukup keberanian untuk ini. Sampai kemudian sebaris kenangan membawaku pada kata ‘harus’ yang dilontarkan oleh Pak Pelatih.

Maka aku mengela nafas sejenak, dan mulai berkata, “Ehm, maaf ya sebelumnya. Seharusnya mungkin aku nggak bilang ini, tapi karena aku sudah nggak kuat menyimpan sendirian, dan kata Pak Aji juga aku harus bilang, maka itu aku datang kesini.”

Kinar diam, dari raut mukanya tampak mengerti arah pembicaraan ini. Ketika aku menyebut nama Pak Aji, mukanya sedikit terkejut. Tentu saja, aku dan Kinar sama-sama dilatih oleh Pak Aji.

“Hari ini, tanggal 26, tepat 7 tahun aku pertama kali mendengar nama kamu, dan tepat 7 tahun juga aku jatuh cinta sama kamu. Iya, aku… cinta sama kamu, Kinar. Mungkin memang akan lebih mudah kalau aku bilang ini dulu. Waktu ketemu kamu di depan lab kelinci, atau waktu kita lagi malam keakraban dan kamu pakai baju hijau gambar kodok, atau mungkin waktu kamu curhat sama aku sambil kita duduk di atas batu.”

Dan Kinar masih saja terdiam.

“Ini mungkin terlambat, Kinar. Tapi pastinya akan buat aku lega. Menyimpan perasaan ini selama 7 tahun bukanlah hal yang baik dalam mencintai. Kayak kata Pak Aji, syukur-syukur ada respon. Hehehehe.”

“Hahaha. Kamu ini, Kak.”

“Kenapa?”

“Ya, kenapa nggak dari dulu?”

“Nggak tahu deh. Kalau urusannya sudah tentang kamu, aku jadi loser sejati. Kalau kamu ngaku kamu loser, maka aku loser yang merindukan dan mencintai loser kalau gitu. Hehehe.”

Kinar diam lagi, sambil menggengam tiga buku yang aku berikan padanya. Aku menatap bibirnya lekat-lekat sambil menantikan kata yang akan keluar dari sana.

“Iya. Kenapa nggak dari dulu. Kalau sekarang, kamu terlambat, Kak.”

Aku mendengar kata itu, kata yang jelas sudah aku sadari sebelumnya. Aku terlambat. Di usianya yang sekarang sudah 25 tahun, tentulah gadis secantik Kinar sudah punya pacar.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting aku sudah lega. Kalaupun terlambat, ya mending daripada nggak sama sekali.”

Kinar tersenyum dengan binar termanis yang pernah aku lihat. Tangannya menimang bukuku yang judulnya “ALFA”, dan seketika membuka halaman-halamannya.

“Ini kan kata-kataku, Kak?”

“Yang mana?”

“Yang ‘selalu keren’ ini?”

“Ya emang iya.”

Aku sudah mengutarakan semuanya pada gadis yang ada di dalam hatiku ini. Dan aku sudah tahu kalau Kinar bilang aku terlambat. Ya sudahlah. Memang sudah saatnya melanjutkan hidup.

* * *

“Iya, Kak. Kamu terlambat. Kalau kamu bilang dari dulu, bisa jadi kita sedang kursus persiapan pernikahan sekarang,” gumam Kinar, tanpa bisa didengar oleh Ranu, lelaki yang ada di hadapannya.

* * *

Feel Their Happiness

Baru sadar, sudah lebih dari 6 bulan nggak mengupdate cerita soal Dolanz-Dolanz. Uhuk. Rencana saya sih, tulisan ini akan jadi kompilasi yang menarik jika sebelumnya saya sudah jadi penulis yang terkenal. Dan pada akhirnya teman-teman saya yang gokil-gokil itu akan jadi terkenal juga. Sayangnya, sampai hari ini pageview saya ya masuk 100-an aja per hari.

Kapan terkenalnya?

Ya sudah. Populer tentu saja bukan tujuan. Tapi berkarya adalah keharusan. Bukan begitu?

Jadi, mari kita teruskan.

* * *

Hidup itu kadang runyam ya. Makin runyam lagi urusan perlelakian di sesama dolaners. Selain Bona yang terus bertahan menerjang badai lautan bersama kekasihnya sejak SMA, dolaners lelaki yang lain adalah peserta penggalauan massal yang digelar secara rutin oleh yang lainnya.

Dan tentu saja termasuk aku.

Tapi penggalauan itu bisa jadi nggak runyam, ketika satu persatu kabar gembira muncul. Yah, kabar gembira buat anak kuliahan selain jam kosong adalah…

teman punya pacar.

Ketika akhirnya teman sepergalauan itu punya pacar, rasanya sudah ikut senang. Walaupun aku masih juga tidak punya pacar. Walaupun itu berarti aku akan kehilangan teman menggalau ria sambil nonton bokep yang di-fast forward. Nah, berikut beberapa kisahnya, dan mohon maaf kalau akan terlalu banyak melibatkan Chiko. Iya, dia yang paling playboy soalnya.

Playboy kok galauan?

Chiko – Eka

Ini berita yang sifatnya syahdan. Apalagi Eka itu kakak kelas, dan aku sudah mengenalnya sejak aku masih SMA. Kabar kabur sudah muncul sesudah perhelatan Pharmacy Performance yang merupakan embrio terbentuknya UKF Dolanz-Dolanz.

Dan sebagai anak yang masih polos, aku tidak terlalu paham bahwa Chiko dan orang yang aku panggil Mbak Eka itu sudah dekat. Lah manggil Mbak soalnya kakak kelas. Iya to?

Begitu mendengar kabar kalau Chiko jadian sama Eka, perasaannya sih, “ohhh…”

Dan berhubung UKF Dolanz-Dolanz belum terbentuk, perasaan ikut bahagianya masih sedikit. Belum kelihatan, kayak mukaku.

Chiko (lagi) – Tina

Baiklah, untuk sebuah sebab musabab yang akupun tidak mengerti apa, Chiko putus sama Eka. Dan seiring dengan rencana perhelatan besar dolaners, maka tertiup kabar yang oye, Chiko sepertinya sedang dekat sama Tina.

Perhelatan besar ini adalah silaturahmi ke Pantai Ngobaran, season 2. Setelah season 1 yang agak kurang sukses, namun kemudian sukses menjadi momen berdirinya UKF Dolanz-Dolanz. Disebut besar karena direncanakan dengan lebih matang, dan dengan peserta yang jauh lebih banyak. Dua kali lipat rasanya.

“Kowe karo sopo, Ko?”

Pertanyaan mendasar ini, karena di petualangan sebelumnya Chiko memboncengkan Mami Aya, sekaligus sebagai korlap, koordinator ngelap. Perlu ditanyakan karena Tina juga termasuk angkatan kita, jadi siapa tahu hendak turut.

“Bonceng Tina, lah.”

“Lah uwis jadian po?”

Dan playboy itu diam seribu bahasa. Oke, baiklah. Nanti juga ketahuan.

Chiko pada akhirnya membawa Tina di perjalanan 70 kilometer ke selatan, yang bukan dilakukan untuk mencari kitab suci. Di perjalanan menggunakan sepeda motor yang kalau nggak salah namanya Gita itu, dolaners silih berganti menguntit kebersamaan dua sejoli itu.

“Eh, lah uwis jadian po?”

Bisik-bisik terjadi di pasukan sepeda motor di belakang Chiko-Tina.

“Lha mboh.”

“Nek uwis, kok ora dipeluk?”

Kala itu harga bensin masih di bawah 4.500, jadi wajar kalau anak mudanya beda kayak sekarang. Sekarang mah pacar juga bukan, tetap aja main peluk-pelukan.

“Ngko wae takon.”

Informasi sudah jadian itu ternyata dimiliki beberapa orang di dalam rombongan, namun memang belum tersebar luas. Dan pemandangan 70 kilometer pp tadi, plus adegan di pantai akhirnya membongkar fakta tersebut.

Cihuy, turut bergembira. Bahkan turut nggarapi di pantai. Fotonya? Ada. :p

Bayu – Putri

Sejujurnya hubungan Bayu dan Putri ini termasuk absurd tingkat kotamadya. Bayu temanku SMA, Putri temanku waktu ospek fakultas. Dan sebagai rangkaian dari proyek gagalku mencari pacar yang adalah temannya Putri, maka ditemukan efek samping yang lebih poten. Putri ternyata suka sama Bayu.

Ini juga cihuy. Proyek yang menarik. Apalagi melihat bahwa Bayu ini tampaknya belum suka wanita. Waduh. Padahal, kurang apa dia? Tampang lumayan, nyaingi si Chiko deh. Otak? Jelas ada. Saking adanya, Bayu bisa tidur sepanjang kuliah namun kemudian ketika bangun bisa melontarkan pertanyaan yang relevan dengan kuliah yang disampaikan sepanjang dia tidur tadi. Bahkan beberapa kali pertanyannya dapat pujian dari dosen.

Entah bagaimana ihwalnya, sampai kemudian Bayu yang nggak suka sama Putri, terus kemudian bisa dekat, teruusss, teruuuusss, dan teruussss sampai terdengar kabar bahwa mereka sudah jadian.

Sebagai salah satu pelopor-ingat, dia efek samping proyekku yang gagal-tentu saja aku ikut senang!

Roman – Adel

Nah ini, termasuk yang menjadi catatan turut senang milikku. Adel adalah korban yang berhasil aku gaet untuk kuliah di Farmasi. Dia teman agak lama, ketemunya waktu sama-sama ikut sanggar menulis yang sukses untuk gagal menelurkan buku. Ealah.

Roman sendiri adalah salah satu tempat peraduan untuk berteduh, selain kosannya Toni. Kebetulan nih, Adel sering SMS-an sama aku dan sebenarnya bilang kalau dia nge-fans sama Toni dengan rambut gondrongnya yang penuh dilema.

Tapi mungkin peletnya Roman lebih kuat, mereka kemudian bisa janjian. Sebuah janjian yang monumental, di tempat gorengan. Sepuluh meter dari kamar Roman.

Aku dan Bayu sempat membuka-buka HP Roman sesudah itu, maklum jaman itu belum ada smartphone, jadi semuanya phone masih bisa dibodohi, termasuk untuk dibuka-buka SMS-nya. Jadi deh kami tahu bahwa Roman dan Adel janjian di gorengan.

Dan persis ketika Dolaners plus-plus melakukan perjalanan ke Sri Ningsih, Roman dan Adel ikutan berangkat. Tanpa perlu disimpulkan, itu namanya sudah jadian.

Lah, kok bisa-bisanya Adel pindah kiblat dari Toni ke Roman? Mboh. Sebagai teman main dan teman lama, ikut senang juga pastinya.

Riono alias Richard – Riana

Sesungguhnya ya, kata orang Jerman, witing tresno jalaran soko kulino dan sesekali dapat diterjemahkan menjadi witing tresno jalaran soko ora ono sik lio, dan sekali-kali juga dapat menjadi witing tresno jalaran soko telo (emang e getuk?). Dan pepatah warga Jerman tadi dipakai banget oleh Richard untuk mendapatkan Riana.

Pendekatannya sih sudah dari awal. Ibarat kata sudah ditakdirkan oleh yang berkuasa di Biro Akademik. Riana punya nomor mahasiswa 87 dan Richard 88. Namanya juga mahasiswa, jadilah mereka selalu bersama, dalam suka dan duka, dalam kelompok apapun yang dibagi berdasarkan nomor absen. Hore!

Tapi momen mereka jadian sedikit lenyap karena Dolaners sibuk bekerja di berbagai tempat karena gempa. Aku di Bethesda, lanjut ke JRS. Roman dan Adel banyak di Bantul, demikian juga Bayu plus Putri. Oya, pada periode ini Bayu dan Putri sudah menjadi mantan kekasih, dengan realita yang miris. Kalau dulu Putri ngebet sama Bayu sekarang kebalikannya. Seandainya mereka saling ngebet pada saat yang sama.

Kabar kabur mulai terasa sesudah masuk lagi demi menyelesaikan ujian. Dan memang Riono dan Riana sudah menjadi sejoli pada periode menjadi relawan gempa.

Somebody said, “berkah gempa.”

Meski aku kurang setuju dengan istilah itu, ya sudahlah. Ikut senang! Senang melulu, aku kok nggak jadian-jadian ya?

Nasib.

Toni – Tini

Aku dan Toni kebetulan sekelas, dan di kelas anak Klinis, lelaki adalah manusia yang sama langkanya dengan Panda di dunia. Plus, entah darimana pula ada ide terkutuk untuk lomba Pom-Pom Boys se-farmasi. Huaaaa…

Mau nggak mau, aku, Toni, dan beberapa lelaki yang ada terpaksa terjun payung, termasuk menerjunkan tingkat kemaluan ke level terbawah untuk mewakili kelas Klinis ini.

Persiapan.. Persiapan.. Akuakuakuakua.. Mijonmijonmijon..

“Aku isin cah.”

“Aku yo iyo.”

“Lha aku ora po?”

Begitulah. Lelaki pun bisa malu, apalagi disuruh Pom-Pom Boys.

“Nek aku jomblo selamanya, kowe-kowe kudu tanggung jawab,” ujar Toni.

“Matamu,” timpal yang lain.

Pergelaran itu akhirnya berlalu juga, tentunya dengan sedikit meninggalkan kemaluan yang tersisa. Ya sudahlah, semoga adek-adek yang saya asisteni tidak melihat aib yang terjadi tersebut. Maluk euy.

Itu hari Kamis.

Seninnya, aku datang ke kosnya Toni. Dan karena sudah menganggap kos Toni adalah milik sendiri–sama halnya dengan Dolaners yang lain–maka aku langsung melihat di depan pintu yang terbuka itu ada…

sandal wanita.

Tercekatlah aku di depan pintu, begitu melihat Tini ada disana lagi ngobrol sam Toni. Sambil mengeluarkan flashdisk, aku melangkah mundur, lalu pura-pura menyapa Bambang di kamar sebelah.

Yah, teman yang nomor mahasiswanya denganku ibarat Riono-Riana itu sudah punya pacar juga. Ikut senang. Hore. Hore.

*menangis pilu dalam hati*

Bayu – Putri (season 2)

Hari terakhir ngampus. Akhirnya! Dan keesokan harinya aku hendak pulang kampung ke kampung yang sudah tidak pernah aku injak sejak aku jadi mahasiswa. Gile ya, toyib sekali aku ini.

Di hari terakhir ini, aku masih bertemu Chica dan Bayu di kampus. Maka ngobrollah kami di tangga depan hall kampus.

Dan si Chica yang polos habis, dan cenderung oon, tapi kalau kuliah pinter ini tanpa tedeng aling-aling bertanya ke Bayu, “Wis jadian urung karo Putri?”

Memang, beberapa pekan belakangan, mereka tampak akrab kembali. Sebuah petualangan 1 tahun yang keren sekali. Ya meskipun aku sudah menangkap perubahan pesat dalam diri Putri, yang kemudian sedikit menjauhkanku darinya. Selain tentunya karena nggak ada proyekan lagi gitu.

“Uwis,” jawab Bayu sambil cengegesan.

Haiyah! Ada pula pacaran season 2 selang setahun? Cinta memang gila, segila cinta fitri yang berseason-season itu. Meski sudah nggak setuju. Turut senang deh.

Yama – Lia

Boleh baca kisah Dolaners yang lain untuk tahu seberapa strategis posisi Yama di UKF Dolanz-Dolanz. Dan ketika dia kemudian termasuk jomblo, maka itu juga jadi isu. Apalagi umurnya waktu itu sudah mau 22 tahun.

Tapi ya, walaupun tampangnya begitu, yang ngefans yang tetap saja ada. Heran saya. Pesonanya sungguh luar biasa.

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian Chiko memberi kabar padaku di akhir bulan Januari itu, bahwa Yama sudah jadian sama Lia! Oya, Lia ini teman satu kosnya Adel.

Weitz!

“Percoyo ora kowe?” tanya Chiko

“Sakjane ora sih.”

“Aku yo ora. Tapi kuwi tenan.”

Dan bagian terbaik dari semua itu adalah ketika Chiko mendeskripsikan semua detail penembakan yang kemudian membawa kita sampai pada kesimpulan:

ORA YAMA BANGET! TAPI KUWI TENAN!

Well, muka dan keseharian tidak mencerminkan keromantisan rupanya.

Dan beberapa hari kemudian, Chiko datang ke kosan Roman, melingkari sebuah tanggal di kalender, dan bilang:

“Aku wis nembak. Tapi njawab e tak kon sebulan meneh. Ben mikir.”

Chiko (lagi-lagi dia) – Irin

Bahwa kisah pahit ternyata tidak mengendurkan apapun, kalau sudah cinta. Mau tahu pahitnya semacam apa? Klik aja disini.

Ya, dengan kepahitan yang macam itu, Chiko kemudian tetap dekat-mendekat-lebih dekat, dan akhirnya menembak (dor!) Irin. Waktu ditembak ini, si Irin sudah jomblo sih, jadi ya wajar saja.

Fiuh.

Mau jadi apa kowe, Ko?

Ya gitu deh, kalau sudah sama-sama dewasa. Your own risk. 🙂

Dan persis 1 bulan sesudah Yama dan Lia diproklamirkan, due date yang dipasang Chiko tadi terlewati. Jawaban diterima, dan mereka jadian.

Ikut senang! Ikut senang! Meski dalam hati tetap bertanya-tanya. Kok ya bisa sih?

*catatan: di sela-sela Yama – Lia dan Chiko – Irin, aku jadian, sebentar sih.. tapi lumayan sempat nyari kado bareng Yama di Mirota Kampus plus ketahuan Roman-Adel di perempatan Concat*

Chiko (masih ini anak! edan!) – Cintia

Nyatanya Chiko juga nggak awer sama si Irin. Maka kembalilah dia menjadi petualang cinta. Dan edannya, sesudah dia putus di Lotek, langsung pamer ke aku sekaligus meminta nomor HP target selanjutnya.

Dasar lelaki! Untuk aku tidak suka lelaki!

Aku memberikan 2 nomor kala itu. Cintia dan Marin. Yang Marin tidak direkomendasikan karena toh dia pacarnya temanku. Gile ape?

Dan melalui proses silent operations tahu-tahu 1 September alias hanya beberapa bulan sesudah permintaan nomor HP itu, Chiko sudah jadian sama Cintia.

Sumpah, dalam hal mencari pacar, makhluk ini memang perlu disembah, terus dibanting. Begitu.

*Catatan: sebulan sesudah Chiko jadian, lewat proses yang juga silent operations, aku bisa jadian juga. Fiuh.*

Bayu – Clara

Beberapa bulan sebelum aku lulus dan Dolaners menjadi semakin seret untuk ketemu, Bayu mulai menebar tanya soal seorang wanita. Nggak jauh-jauh sih. Adek kelas, yang sengit-nya minta ampun sama dia. Terbukti waktu jadi panitia, dan tahu sendiri pemikirannya Bayu itu antah berantah, banyak dilawan oleh adek kelas, termasuk Clara.

Sambil sesekali rapat SC, Bayu bilang kalau Clara itu lumayan.

Ehm.

Padahalnya di SC itu juga ada Dita yang sohibnya Clara banget. Kok ya nggak bilang sama Dita aja? Malah sama aku? Nanti kan repot. *apa coba?*

Iseng deh, waktu ketemu Clara, aku menitipkan salam. Dan tentu saja responnya sengit. Iya, mereka sempat debat terbuka waktu rapat panitia yang mana Bayu SC-nya dan Clara salah satu OC.

Tapi siapa sangka?

Sengit itu lama-lama juga bisa nyerempet jadi cinta loh.

Isu beredar ketika salah seorang OC, adek kelas, laporan mendapati Bayu dan Clara pergi berdua di suatu hari Minggu dalam rangka bertemu Tuhan. Kedok religi adalah mekanisme paling mendasar dalam PDKT terhadap wanita, khususnya anak Dolaners. Percayalah!

Isu itu berkembang seminggu lamanya sampai kemudian aku dan pacar pergi bertemu Tuhan dan tidak sengaja melihat sebuah objek menarik hanya 4 meter di depan kami. Iyah, Bayu dan Clara duduk berduaan, sebelahan.

Nah.. Nah.. Nah..

Aku yang sudah resmi tentu nggak masalah dengan itu, nah mereka? Pasti ini ada apa-apanya.

Keesokan harinya terkuaklah fakta itu. Bayu akhirnya jadian sama Clara, persis sesudah momen aku nge-gap mereka. Dan ironisnya, bahkan jadian saja pakai bawa-bawa namaku. Kira-kira begini:

“Eh, kata si Goz kita digosipin loh.”

“Iya ya?”

“Iya. Lha gimana?”

“Gimana apanya?”

“Apa dijadiin beneran aja, biar nggak jadi gosip?”

PLAKKKK!!!!

Lu kate gue bigos?

Ah, ya sudahlah, turut bangga saja namaku dibawa dalam proses penembakan.

* * *

Begitulah beberapa kisah mendapati teman jadian. Sejatinya, aku merindukan saat-saat itu. Tapi sekarang adanya mereka sudah pada nikah. Jadi nggak mungkin kan ada kabar macam itu lagi? Yang ada kabar bahwa Clara melahirkan, lah itu baru masuk akal. Hehehehehehehe….

Objek yang Sama

Kamu menenggak kopi yang ada di depan kita. Malam yang dingin ini memang nikmat kalau diselamurkan dengan kopi. Tidak ada yang lebih sesuai untuk suhu 25 derajat celcius dibandingkan air hangat berisi kafein.

“Aku bingung,” katamu membuka pembicaraan.

“Kenapa? Ceritalah.”

Aku–si pendengar sejati–adalah tong sampah yang selalu siap menampung sampah dari banyak orang. Tidak terbilang yang sudah menumpahkan rahasianya kepadaku, bahkan termasuk ketidaksukaan atasanku sendiri pada atasan lain di kantorku.

2012-07-20-08-40-59-copy-copy

“Hati ini sudah hampa. Dan untuk itu aku berdoa pada Tuhan agar diberikan orang yang tepat untuk mengisi hati ini. Aku sudah lelah untuk bermain-main dengan hati.”

“Lalu?”

“Lalu permainan lain datang.”

“Maksudmu, Tuhan mempermainkanmu?”

“Tidak. Ini bukan permainan. Tuhan itu Maha Asyik, jadi ini pasti semacam petunjuk untuk memilih. Bayangkan, dari kosong, kini aku diberi dua pilihan, dengan dua konteks.”

Sungguhpun aku belum mengerti maksudmu, maka aku bertanya, “maksudnya?”

“Persis ketika aku berdoa, ehm, satu minggu sesudah aku berdoa tepatnya. Aku tiba-tiba mendapatkan peristiwa absurd ini. Ini tentang dua orang. Yang satu, latar belakangnya sangat sesuai dengan impianku tentang pasangan hidup. Yang satu, entah mengapa, dibalik ketidakyakinanku dan ketidaksesuaiannya dengan impianku tentang pasangan hidup, justru lebih membuat hatiku deg-degan.”

“Sebentar, kita bicara cinta?”

“Mungkin. Entahlah. Kita coba mulai dari bibitnya saja. Siapa tahu itu cinta.”

“Ehm, baiklah. Orang pertama. Silakan jelaskan.”

“Dia tiba-tiba datang di hadapanku, datang dengan sangat terbuka, dan memperlihatkan tanda-tanda yang jelas bahwa dia menyukaiku.”

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja?”

“Perasaanku kuat, teman. Jadi aku bisa menangkap itu. Lagipula, tanda-tandanya sangat jelas.”

“Hmmm, baiklah. Berikutnya? Orang kedua?”

Kamu mematut diri, menarik napas, dan hening sejenak, sebelum lantas mulai berkata-kata.

“Sejujurnya, dia sangat tidak sesuai dengan impianku akan pasangan hidup.”

“Dalam hal?”

“Segalanya. Tipe, pekerjaan, masa lalu, yah segalanya.”

“Lalu?”

“Tapi hati ini lebih berdebar begitu bersamanya!”

“Owh. Mungkin kamu mencintainya.”

“Entah, akupun bingung. Makanya, aku masih bertanya, kenapa Tuhan mengirimkan keduanya bersamaan. Aku bisa memilih. Memilih yang mungkin mencintaiku, dan berusaha menerimanya. Atau memilih yang mungkin aku cintai, dengan kemungkinan untuk diabaikan.”

“Jadi kamu hendak bagaimana?”

“Itu dia. Aku harus realistis soal hidup, tapi aku masih meyakini bahwa hati ini bisa menang. Aku sudah capek bermain-main dengan hati pada hubungan yang terdahulu. Itu sungguh melelahkan.”

“Yah, begitulah. Cinta itu baru akan indah ketika mencintai dan dicintai itu mengacu pada objek yang sama.”

“Dan sepertinya aku berbeda.”

Kamu menakar gelas kopimu dan segera menghabiskan isinya. Bahwa kafein mungkin dapat memberikan jalan yang benar pada pilihanmu. Siapa tahu, objek yang kamu cintai, sebenarnya juga mencintaimu. Bukankah itu indah?

* * *

*terinspirasi sudut bercerita pada Rectoverso.. hehehe…

Selepas Nada

Tepuk tangan membahana di setiap sudut gedung konser ini. Tidak ada satu sudutpun yang lepas dari resonansi yang dihasilkan oleh ratusan pasang tangan yang beradu satu sama lain. Ini indah. Sebuah bayaran paling sederhana atas sebuah kerja keras.

choir

We want more.. We want more..

Suara tepuk tangan tadi, mulai disertai oleh kata-kata dari pemilik tepuk tangan. Mereka mau lagi? Aih, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada ini.

Mbak Risa masih berada di posisinya, di bagian tedepan panggung, menghadap kami para penyanyi, dan tentu saja membelakangi penonton. Bibirnya bergerak membentuk satu kata, dan kebetulan aku tidak dapat memahami kata yang hendak diucapkan oleh Mbak Risa.

Opo ki?” tanyaku pada Bang Roman, yang berdiri persis di sebelah kananku.

“Yogyakarta.”

“Oh.”

Konser yang sebenarnya telah berakhir ini akhirnya memberikan lagu tambahan. Okelah. Menurut pengalamanku, energi para penyanyi itu paling besar justru di akhir, sesudah konser yang sebenarnya selesai. Kenapa? Karena disitulah energi eksitasi paling tinggi tercipta.

Intro dibunyikan oleh pemusik, penonton yang masih bertahan segera bertepuk tangan mengiringi intro lagu paling ternama bagi setiap orang yang pernah hidup di Jogja.

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…”

Maka bait-bait mulai terlontar, tentunya diiringi oleh nada yang merdu. Semuanya berpadu dan menyusup ke segala sisi yang ada di gedung ini. Meski sejatinya, Yogyakarta itu adalah lagu galau, tapi menyertakan konteks sebuah kota penuh kenangan ini sejatinya sudah berhasil membuat orang yang mendengar justru merasa terkenang, bukannya galau.

“Senyummu… Abadi…”

Enaknya jadi anak choir laki-laki itu adalah selalu diletakkan di belakang. Dan menjadi lebih enak, ketika kemudian aku bisa selalu memantau seorang gadis yang ada di bagian Sopran. Seorang gadis yang tersenyum manis kepada penonton ketika lirik terakhir barusan didendangkan. Aku mengamati itu dengan jelas, dan tidak ada keraguan sama sekali bahwa itu adalah senyum paling indah di dunia.

Lepas konser adalah hal yang lain lagi. Semua penyanyi akan berserak ke keluarga masing-masing, atau ke teman masing-masing. Ucapan selamat selalu terlontar setiap kali seorang penyanyi bertemu keluarga atau temannya.

Lelah sontak lenyap kalau begini. Percayalah.

Tidak serta merta setiap penyanyi akan bubar jalan sih. Ada kalanya mereka justru saling bersalaman dan berpelukan sendiri terlebih dahulu. Bahwasanya latihan choir apalagi untuk konser itu adalah hal yang berat, itu adalah fakta tidak terbantahkan. Bahwa ada banyak friksi yang mungkin terjadi, itu juga ada realitas interaksi antar manusia. Bayangkan saja ketika dua minggu terakhir, kami para penyanyi latihan setiap hari selama lebih dari 6 jam. Mengulang dan mengulang terus lagu yang sama. Semuanya demi penampilan yang istimewa hari ini.

Sejatinya konser ini akan menjadi sangat emosional bagiku. Tentunya karena ini adalah konser terakhirku bersama choir ini. Jalan kehidupan sudah menuntunku ke tempat yang lain, yang meminta untuk ditaklukkan. Maka, malam ini mungkin adalah untai nada terakhir yang lepas dari bibirku di kota ini.

Mungkin. Kita kan tidak tahu tentang masa depan.

“Wei, selamat ya bro! Keren tadi bass-nya,” ujar Tini, teman kuliahku yang jadi penonton di konser ini.

“Hahaha. Iya dong. Thanks ya.”

“Eh, Leona. Selamat lho. Apik banget tadi.”

Tini kemudian menyapa Leona, yang entah bagaimana ceritanya sudah ada 1 meter dari posisiku berdiri.

“Makasih ya, Mbak.”

Ah, Leona ini. Kok bisa-bisanya disini? Baiklah, ini dia gadis sopran yang senyumnya paling manis itu. Inilah gadis sopran yang selalu membuat sudut mataku sekecil apapun akan berpaling dan memperhatikannya. Inilah gadis sopran yang sudah 7 tahun lamanya menjadi ratu di dalam hatiku. Dan inilah gadis sopran yang selama 7 tahun pula hanya menjadi impianku.

Tenang saja, 7 tahun itu adalah rahasia rapat milikku sendiri. Aku bahkan masih bisa berpacaran dengan dua gadis lain berturut-turut, meski di hatiku jelas-jelas hanya ada Leona. Yah, terkadang kita harus membedakan impian dan realita.

7

Cuma, entah kenapa, malam ini ada rasa membuncah dalam hati. Memohon untuk segera dilepaskan. Otakku mencoba melawannya, lagi-lagi demi membedakan impian dan kenyataan. Tapi kali ini hati mengalahkan otak, dia menuntunku untuk mendekati Leona. Dasar hati, ada banyak hal yang mudah kenapa dia memilih yang sulit?

“Na, pulang sama siapa?”

“Sendiri dong, Bang. Kenapa?”

“Langsung pulang?”

“Iyalah. Udah malam gini.”

“Hmmm, kalau tak ajak ke McD Jombor mau? Nanti pulangnya tak barengin deh.”

“Ngapain?”

“Pengen ngobrol aja. Kan besok aku udah mau cabut dari Jogja.”

Leona tampak berpikir sejenak. Segaris keraguan tampak dari raut mukanya. Toh aku pun pasrah kalaulah itu akan menjadi sebuah penolakan.

“Tapi nggak lama-lama lho ya, Bang.”

* * *

“Tadi sopran ada yang salah kan, pas lagu pembukaan?” tanyaku sambil meletakkan nampan berisi dua paket nasi ayam plus kentang, disertai dua gelas minuman coke.

“Iya kayaknya. Tapi di lagu yang sama bass-nya nggak kedengeran.”

“Ya iyalah. Rendah banget. Ditinggiin kasihan soprannya.”

Bagian terbaik dari menjadi anggota choir adalah ketika kita mempertahankan martabat jenis suara kita sendiri.

“Yang penting dapat tepuk tangan to Bang?”

“Hooh. Kira-kira kapan meneh ya, dapat tepuk lagi?”

“Nyanyi wae di jalanan. Paling juga ditepukin.”

“Enak wae. Gini-gini aku kan bass yang berkelas.”

Nggaya banget kowe, Bang.”

Ayam goreng yang berminyak itu segera masuk ke mulut kami masing-masing. Disela saos sambal warna merah dan sesekali bersama kentang. Seruputan coke kemudian menjadi penyerta yang manis. Tidak disarankan untuk sering-sering, semata-mata karena harganya belum cocok untuk ukuran dompetku.

Pada dasarnya, makan cepat adalah takdirku. Tidak ada teori mengunyah 32 kali. Bahkan ketika kecil, aku adalah orang yang sering cegukan ketika makan. Semakin dewasa, aku semakin pandai menggunakan gerakan peristaltik untuk menghabiskan makanan. Tidak baik sih memang.

Dan karena aku sudah selesai, maka marilah kita menuntaskan malam ini.

Tanganku segera masih ke dalam tas ransel yang kubawa, merogohnya ternyata tidak mudah. Ada seragam properti konser di dalam tas ini, belum lagi sepatu dan barang-barang lainnya. Sampai akhirnya tanganku mendapati yang dituju.

Sebuah buku berjudul “Odong-Odong Merah”.

“Na…”

Yang diajak ngomong masih asyik menghabiskan kentang gorengnya.

“Nih tak kasih.”

“Apaan, Bang?”

“Buku.”

“Punya siapa?”

“Punyakulah. Masak punyamu.”

Kosodorkan buku yang kuambil dari dalam tasku itu. Cover putihnya menjadi latar tertulisnya judul “Odong-Odong Merah”, disertai nama alfarevo.

“Kamu yang nulis, Bang?”

“Iya dong. Jadi nanti kamu tak bonusin tanda tangan. Hahaha.”

“Wuih keren. Aku kapan ya?”

“Pada saatnya.”

“Sebentar, Bang.”

Leona segera berlalu dari hadapanku dan menuju wastafel. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan tangan yang mulus eh bersih. Bergegas pula dia membuka buku yang aku tulis itu.

“Ini bener penerbitnya? Sama kayak Marmut Merah Jambu dong?”

“Syukurlah. Kamu nggak tahu aja aku nunggu ini naskah terbit udah setahun. Hehe.”

Leona mencoba membalik-balik halaman yang ada di dalam buku. Sebuah buku yang aslinya adalah kumpulan kisah ngenes hidupku.

“Ehm, gini Na. Itu buku emang baru banget terbitnya. Jadi, sebelum orang lain di luar sana pada tahu. Aku mau pengakuan dosa duluan.”

Hell yeah! Aku mendefinisikan sendiri bahwa jatuh cinta adalah sebuah dosa.

“Coba dibuka bab 22, judulnya Cinta Diam-Diam,” kataku sambil menunjuk ke arah buku putih yang dipegang oleh Leona. Yang disuruh langsung mengikuti instruksiku.

Bab 22 itu kebetulan memang singkat, dan isinya mayoritas dialog. Jadi kalaulah panjang halamannya, itu lebih kepada habis karena teks yang di-enter saja.

“Kalau ingat, yang bagian akhir itu cerita waktu kita lewat selokan mataram, pas insiden helm hilang, Na.”

Leona diam saja. Kadung nanggung, maka baiklah kalau kita tuntaskan semuanya ini segera.

lilin

“Jadi begitulah, Na. Aku cinta dan akan selalu cinta sama kamu. Hanya memang aku sadar bahwa cinta yang ini benar-benar impian belaka. Makanya, aku cuma mau bilang itu kok. Toh, aku juga sudah tahu kalau kamu tidak merasakan hal yang sama.”

Leona masih diam, sejurus lantas menyeruput coke di hadapannya, yang mungkin isinya tinggal es batu, lalu beralih menatapku.

“Kok begini, Bang?”

“Nggak ngerti aku, Na. Semuanya berjalan dengan aneh ketika itu semua menyangkut kamu. Sekadar mencari tahu kamu single atau nggak dulu pas semester 1, itu saja sudah sulit. Dan semuanya lah.”

“Terus, kamu sama mantan-mantanmu?”

“Ya, hidup kan harus realistis juga, Na. Masak aku mau jomblo terus. Aku sih berharapnya cinta itu akan timbul sambil jalan. Nyatanya ya nggak.”

“Lha kalau sekarang?”

“Tujuh tahun itu lama lho, Na. Mungkin cinta itu bisa demikian karena dia nggak aku ungkapkan. Aku yakin dia hanya minta diungkapkan, langsung ke orangnya. Itu doang. Setidaknya sehabis ini aku bisa lebih realistis lagi dalam bermimpi.”

“Hahaha. Mimpi kok realistis Bang?”

“Habis ngimpiin kamu ketinggian, Na.”

“Emang kenapa sih?” tanya Leona dengan pandangan penuh selidik.

“Nggak lihat kalau kamu itu orangnya sangat adorable? Mungkin nggak banyak yang bilang kamu cantik, tapi semua setuju kamu menarik. Apalagi, mantannya kamu kan tampannya tiga kali lipat mukaku, Na. Kebanting dong nanti. Hehe.”

“Gitu doang?”

“Dan hal-hal lainnya yang mendukung sih.”

“Darimana kamu tahu aku nggak merasakan hal yang sama?”

“Lha, bukannya habis aku kasih kamu hadiah ulang tahun waktu itu, kamu jadi dingin kayak es batu gitu ke aku? Wong kita ketemu di kampus aja berasa nggak kenal gitu. Makanya, sejak itu sih aku mulai bisa realistis. Jadi ya aku nggak akan memaksakan apapun, atau meminta jawaban sekalipun. Aku cuma ingin bilang perasaanku saja kok. Mana kan sudah ditulis di buku, masak nanti kamu tahu dari orang, ya tambah bubar dunia.”

“Emangnya kenapa kamu ngerasa begitu, ehm maksudku, cinta gitu, ke aku Bang?”

“Nggak tahu. Perlu alasan ya?”

“Mestinya.”

“Sayangnya nggak ada.”

Leona menunduk lagi, matanya menerawang ke arah Ring Road Utara yang mulai sepi.

“Kalau kamu tahu keadaanku, kamu juga nggak akan mau sama aku, Bang.”

“Loh kenapa?”

Napas panjang dihela oleh Leona, tampaknya ada sesuatu yang amat penting yang hendak disampaikan.

“Aku ini ada glaukoma lho, Bang.”

“Terus?”

“Masih cinta?”

“Hahahaha. Na, Na. Sudah baca bab 22 kok masih nanya gitu. Kan udah jelas disitu, aku jatuh cinta sama Leona Mayasari itu sejak pertama kali mendengar nama itu. Mana tahu aku bentuknya kayak gimana? Begitu dua minggu kemudian, baru aku nemu foto kamu. Dua minggu berikutnya baru aku lihat kamu. Sampai tujuh tahun kemudian, kok ya perasaannya masih sama itu.”

“Jatuh cintamu aneh, Bang.”

“Makanya, perjalanannya juga aneh. Sebenarnya lebih aneh lagi kalau terus kita jadian sih. Hehehe.”

“Masalahnya kamu cuma bilang gitu, Bang. Kamu nggak nanya sama sekali kan tadi?”

“Enggg.. Iya sih. Nggak apa-apa deh. Kan ceritanya cuma mau bilang cinta, bukan mau cari pacar.”

“Oh ya udah kalo gitu.”

Semacam jawaban yang bikin aku tertantang.

Tarik nafas dalam-dalam. Mari kita tuntaskan!

“Aku cinta kamu, Na. Dan akan selalu cinta. Jadi, bolehkah aku terus mencintai kamu, sebagai pasanganku?”

Akhirnya lepas juga. Kalau tadi lega, sekarang lega banget!

“Cieee.”

“Yah, ini anak, ditembak malah bilang cieee.”

“Hahaha. Habis kamu lucu sih, Bang. Punya perasaan kok dibohongi.”

“Ya maka dari itu aku bilang ke kamu. Masak tiap pengakuan dosa, sama melulu. Pembohongan terhadap hati.”

“Iya. Iya. Hmmm, oiya lupa satu lagi. Kalau nih, kalau aku terima, emang kamu mau LDR-an?”

“Owh. Jadinya cita-cita S2 di negeri orang itu mau diwujudkan ya?”

“Gila. Kok tahu Bang?”

“SMS-mu dari tahun 2007 aja masih tak simpen rapi, Na. SMS-mu yang cerita lagi naik Pramex juga aku ingat. SMS kamu bilang merindukanku juga aku simpan rapi. Apalagi cerita soal cita-cita, ya aku ingat bangetlah. Nasib jadi melankolis sentimentil yang jatuh cinta.”

Hening melanda, seiring dengan semakin sepinya tempat ini. Ternyata sudah jam 12 malam aja.

“Baiklah, Bang. I’m yours now.”

Kalaulah ada yang lebih menyenangkan dari tepuk tangan penonton konser, maka itu adalah jawaban yang baru saja terlontar dari bibir manis Leona.

🙂

UNdur-UNdur

Pada suatu hari di negeri amburadul, Raja menunjuk seorang patih untuk mengurusi masalah pendidikan supaya semakin amburadul. Raja menunjuk seorang mahaguru dari sebuah perguruan terbaik di negeri tersebut. Adapun negeri itu memiliki uang berlimpah untuk melaksanakan pendidikan. Terhitung 20% dari kas negeri dikhususkan untuk pendidikan.

Saking luasnya negeri amburadul, mahaguru yang ditunjuk sebagai patih tersebut kebingungan. Ia kemudian berpikir semalaman dan akhirnya memutuskan serta mengumumkan ke seluruh negeri bahwa bagi seluruh anak di perguruan harus melaksanakan ujian negeri yang dilaksanakan serentak di seluruh negeri. Bahan ujian akan sama di seluruh negeri dan dibuat oleh mahaguru lain dari berbagai perguruan yang terbaik di negeri amburadul.

Singkat cerita, 5 hari menjelang tanggal ujian yang ditetapkan, patih yang hanya duduk di belakang meja mendapati bahwa daun lontar yang akan digunakan sebagai bahan ujian di seluruh negeri belum tersedia semua.

“Bagaimana ini?” tanya Patih kebingungan.

“Tenang, Yang Mulia. Semuanya pasti akan dibereskan,” ujar pembantu Patih.

Sang patih kembali tenang-tenang di balik mejanya.

Dua hari menjelang tanggal yang ditetapkan, Patih kembali mendapat kabar bahwa daun lontar belum tersedia di seluruh negeri. Padahal ia sudah mengumumkan bahwa seluruh negeri akan melaksanakan ujian negeri secara serentak.

“Nggak bisa dipenuhi? Ada apa ini? Kemarin laporannya baik-baik saja?” tanya Patih sambil kebingungan sekali.

“Akan lebih baik kalau Yang Mulia mengumumkan pengUNduran ujian negeri di daerah yang belum mendapat daun lontar.”

Patih yang kebingungan kemudian menjalankan bisikan pembantunya. Sebagian negeri gempar karena anak-anak di perguruan sudah bersiap untuk melaksanakan ujian negeri. Dengan tenang, Patih berkata ke seluruh negeri, “Saya yang bertanggung jawab pada keadaan ini.”

Patih kemudian mengerahkan balatentara dan kendaraan berikut kuda-kuda terbaik kerajaan guna mendistribusikan daun lontar berisi bahan ujian ke seluruh negeri. Kebetulan, Raja sedang berada di negeri seberang, sedang menerima gelar kehormatan. Jadi Patih tenang-tenang saja.

Pekan berikutnya, ujian negeri masih berlangsung. Patih mendapat bisikan bahwa masalah sudah selesai. Ujian dapat dilaksanakan secara serentak. Namun pada hari yang ditentukan, ada beberapa daerah yang belum melaksanakan ujian ketika matahari tepat di atas atap perguruan. Beberapa perguruan kemudian berteriak.

Kabar berita itu kemudian sampai ke Patih.

“Kok bisa?”

“Ada sedikit masalah, Yang Mulia. Tapi tenang saja. Toh, Yang Mulia tidak pernah bilang kalau ujian akan serentak sebelum matahari tepat di atas atap perguruan kan? Hingga nanti matahari terbenam pun masih bisa.”

“Pintar sekali kamu wahai pembantuku.”

Patih lantas mengumumkan kepada rakyat kerajaan bahwa pengunduran dapat dilakukan, dan dia memang tidak pernah berkata bahwa ujian akan dilakukan serentak jamnya, tapi serentak harinya.

Rakyat mulai gamang. Anak-anak yang mereka dampingi mulai gelisah karena waktu yang tidak jelas untuk melaksanakan ujian. Padahal Patih sudah menekankan bahwa ujian ini penting sekali untuk standarisasi negeri. Patih selalu mengagung-agungkan ujian negeri sebagai satu-satunya solusi negeri guna bersaing dengan negeri sebelah.

“Mereka membuat ujian ini menjadi sedemikian sakral, tapi kemudian mereka menganggapnya remeh,” bisik ibu-ibu di pasar depan istana.

Beberapa rakyat yang vokal kemudian bersorak meminta Patih mundur dari jabatannya. Ketika berkumpul di pendopo kerajaan, Patih lantas melangkah dua kali ke belakang sambil berkata, “Lha ini saya mundur.”

Rakyat melakukan tepok jidat bersama-sama ketika menyaksikan bahwa Patih yang mengurusi kepintaran anak-anak negeri sama sekali tidak tahu bahwa di dalam kamus lontar ada beberapa arti kata mundur. Aksi tepok jidat bersama-sama ini kemudian dilanjutkan dengan aksi ngetwit bersama.

Akibat menyaksikan rakyat tepok jidat bersama, Patih melanjutkan, “Saya kemarin sudah dipanggil oleh Raja. Dan dia tidak memarahi saya. Saya hanya diminta memperbaiki ke depan agar lebih baik. Yang mengangkat saya kan Raja, jadi yang memberhentikan saya ya juga Raja dong. Enak aje lu suruh-suruh ane mundur gan.”

Seluruh pendopo riuh oleh pernyataan Patih. Dan seluruh rakyat sadar bahwa masa depan pendidikan di negeri ini ada pada orang yang salah. Bukan kisruhnya yang menjadi penekanan utama, tetapi bagaimana Patih menyikapi kisruh dengan ngeles lah yang menjadi alasan rakyat untuk berhenti berharap.

Rakyat pun kembali ke rumah masing-masing dengan tangan mengepal dan pisuhan di mulutnya. Sebagian rakyat bertemu kumpulan undur-undur di perjalanan pulang.

“Sekarang itu jalan mundur bukan tren, saudara-saudaraku. Orang salah pun bisa terus maju asal keras kepala. Itu kenapa kami memilih untuk menyembunyikan diri saja, ” ujar para undur-undur.

* * *

 

Derita Dalam Diam

“Hati-hati Bang. Ini aneh, tapi sering terjadi, dan bakal jadi jatuh cinta tersakit di seluruh dunia.”

“Apaan tuh? Ngeri banget?”

“Jatuh cinta diam-diam.”

“Waduh! Jadi gimana?”

“Bertindak!”

* * *

e4870ce6e44311323cca49de33ff9b65

Sudah berbilang tahun sedari aku dan Alfa bercakap-cakap dengan Alfa tentang perasaanku padanya. Telah beragam peristiwa berlalu sampai kemudian banyak kekhawatiran terbukti tanpa ada kompensasi.

Entah Alfa sudah berada dimana sekarang, tapi aku harus mengakui dengan sepenuh hati bahwa jatuh cinta ini adalah jatuh cinta tersakit di seluruh dunia.

Kenapa?

Kini, perlahan aku mulai menemukan jawabnya.

Karena sebesar apapun cintamu padanya, tidak punya makna apapun selama itu semua hanya dipendam. Dan, toh, tidak ada yang tahu cintamu itu selagi kamu memendamnya. Iya, tidak ada yang tahu, bahkan dirimu sendiri mencoba mengabaikan rasa itu dengan cara… memendamnya dalam-dalam.

Ketika dia disakiti, apa yang kamu lakukan?
Ketika dia mendapatkan cinta yang lain–yang kamu yakini tidaklah sebesar cintamu untuknya–apa pula yang bisa kamu tunjukkan?

Tidak ada. Cintamu hanyalah derita dalam diam.

Semua cinta yang dipendam, hanyalah ihwal kekalahan. Jelas demikian, karena dalam hal ini, yang berani mengungkapkanlah yang kemudian akan menang.

Aku sudah berada dalam keadaan hati yang tidak lagi utuh. Tercerai berai gegara terlalu besarnya cinta yang dipendam, sehingga kemudian dia meledak.

Meledak di dalam hati, tanpa ada yang tahu–sama sekali.

Aku memendam rapat-rapat semuanya ini, semata-mata takut membuat aku dan dia jauh. Apakah kamu juga begitu?

HAHAHAHAHAHAHAHASU…

Bahkan tanpa aku ungkapkan kemudian, segala dampak dari semua yang dipendam itu dengan sendirinya membuat dia jauh. Kalaulah dia jauh sesudah aku mengungkapkan semua perasaan ini, pastinya masih lebih baik daripada dia jauh tanpa aku pernah mengungkapkan cinta ini padanya.

Oh iya, cinta yang tidak pernah berubah sama sekali.
Sejak aku mulai menyimpan cinta ini dalam hati.

Aku sudah berada disini.

Kamu?

Ya, coba bayangkanlah. Imajinasikan dirimu berada di sebuah sudut ruangan besar dan kamu hanya meringkuk pilu di sudut ruangan itu. Ruangan yang nyata-nyata adalah hatimu sendiri.

Sementara, pada saat yang sama, orang lain tertawa-tawa bersamanya.
Atau mungkin, pada saat yang sama, dia menangisi orang lain yang menyakitinya.
Yang artinya? Bahkan bukan kamu yang ada di hatinya.

Hati itu memang dipilih, bukan memilih. Tapi memendam perasaan sama sekali tidak akan mampu membuka kesempatan hati ini untuk dipilih.

Hingga pada ujung dari semuanya itu, sebesar apapun cinta yang ada, selama apapun rasa itu dipendam, sepenuh apapun hatimu olehnya, tidaklah ada artinya.

Semuanya akan kalah oleh rasa yang terungkap. Mereka yang mengungkap rasa itu, yang menang. Sementara aku–dan mungkin kamu–akan terus terjebak dalam jatuh cinta paling sakit sedunia.

* * *

Sumber foto (dengan pengeditan)

Apa Aku Membencimu Saja?

Sudah bertahun-tahun lamanya. Ketika aku dan kamu dalam dua jalan yang berbeda. Meskipun aku selalu berusaha membuatnya sama, tapi sulit.

Dalam setiap pertemuan kita, dalam setiap kata-kata yang kamu ucapkan, dalam setiap baris-baris pesan singkat, bahkan dalam setiap pesan di Facebook, sungguh selalu menggugah perasaan rindu. Tidak untuk siapa-siapa, hanya untukmu.

Pantaskah aku merindumu di saat seharusnya aku merindukan orang lain? Makanya, orang bilang rindu itu indah. Waktu teman-temanku melepas rindu bersama kekasihnya tampak sekali indah. Lantas aku? Aku begitu tersiksa karena rinduku padamu hanya sekadar rindu belaka.

Tidak ada keharusan kamu untuk juga merinduku, tidak juga ada sarana atau upaya untuk melepas kerinduanku kepadamu.

Apa aku membenci dirimu saja?

Waktu kamu menjatuhkan hatimu pada orang lain, sungguh aku sudah mendapatkan perasaan itu. Aku berhasil membencimu. Namun waktu ternyata tidak berjalan semudah yang aku kira. Kamu terluka, kamu sakit, kamu lantas memutuskan sesuatu yang besar, dan tidak ada lagi alasan bagiku untuk membencimu lagi.

Aku tidak pernah dan tidak akan pernah bisa menyentuhmu. Tidak pernah dan tidak akan pernah bisa memilikimu. Tapi aku selalu dan akan selalu merindumu. Bahkan ketika aku sudah berhasil membencimu, satu-satunya alasanku berbuat itu sirna dengan mudahnya.

Aku berada di persimpangan jalan. Persimpangan yang sulit. Apakah aku harus memilihmu, sementara tidak mungkin aku memilikimu? Apakah aku harus bertahan dengan pilihanku, sementara di dalam hatiku selalu ada kamu?

Ini persimpangan tersulit dalam hidupku.

Kupejamkan mata dan berdiri di persimpangan itu. Kuhirup nafas dalam, hingga paru-paru penuh dengan oksigen. Semua memompakan darah ke otakku. Berharap aku bisa berpikir.

Tapi sia-sia, darah itu malah mengalir ke hati dimana satu-satunya pilihan menurutnya adalah kamu!

Tampak bayangan seluruh hidupku datang menghampiri. Kupeluk erat dia, kuharap dapat memberikan sesuatu yang berharga untuknya. Aku ingin dia menikmati seluruh perjalanannya. Dan itu tidak lain butuh pilihanku. Jalan mana yang hendak kupilih. Jalan itu tak jauh, persis di depanku.

Waktu sudah mengayuh dirinya terlalu jauh. Dan semakin aku terbawa olehnya! Sungguh sulit. Memang lebih baik seharusnya aku membencimu saja. Tapi membaca tulisan-tulisanmu, membaca kata-katamu, dan memaknai detail-detail kalimat manismu, aku betul-betul tak bisa membencimu.

Tolonglah, beri aku cara!

* * *

Pria galau itu masih berdiri lemah di persimpangan berdebu. Berteriak penuh keluh kesah. Pilihan hidup tentunya tidak mudah. Apalagi disuruh memilih hati dan otak.

Pria itu semakin lemasnya tapi masih ada senyum tersungging di bibir tebalnya. Hmmm.. agaknya dia sudah mendapatkan keputusan.

 * * *

Aku berjalan disini, memilih jalanmu. Sederhana bukan? Terserah padamu, meski aku tahu kamu mencintai yang lain, tapi biarkan aku mencintaimu. Ada atau tiada cinta, bagiku tiada mengapa. Setidaknya dengan ini, aku bisa menemukan diriku yang telah lama hilang.

Aku memang tidak bisa membencimu. Sungguh.

Pada Akhirnya

“Nus, ikut ya?”

“Ini nanya, atau?”

“Retorika.”

“Ehm, baiklah. Perbuatlah yang kamu mau, Kak.”

Kak Rina segera memasukkanku ke dalam ranselnya. Kemarin Karin–nama panggilanku untuknya–bilang ini hari terakhir berada di kamar nan elit sebelum kemudian kembali ke kehidupan normal.

“Sebenarnya mau kemana sih?” tanyaku persis sebelum Karin menutup ranselnya.

“Katanya perbuatlah yang aku mau. Pakai nanya nih?”

“Ya, nggak jadi deh. Silahkan. Hehehe.”

Ransel menutup dan akupun menatap dalam gelap. Kuharap gelap ini tidak berlangsung lama.

* * *

“Hey! Udah lama?”

Aku mendengar suara itu, milik Karin. Siapa yang dia sapa?

“Belum kok. Baru juga nyampe. Silahkan duduk.”

Kali ini aku mendengar suara laki-laki. Dan sesungguhnya aku tidak mengenali suara itu sama sekali. Sejauh ini suara laki-laki yang aku dengar hanyalah lelaki yang pernah bertandang ke kos-kosan Karin, baik itu di Cikarang, Jogja, dan Solo. Tidak ada yang serupa itu.

“Repot-repot amat, Bang.”

Ah! Aku mengenal sapaan itu. Aku sangat berharap Karin membawaku untuk alasan yang lebih baik daripada berada di dalam ransel sambil menebak-nebak lawan bicara Karin.

“Besok jadinya jam berapa?”

“Jam 9 lewat 10, Bang. Nggak jadi reschedule flight.”

“Wah, sayang sekali.”

“Emang kenapa?”

“Mau tak ajak keliling ibukota. Hehehehe.”

“Ah, waktu aku PKL di pedalaman Cikarang kan udah putar-putar ibukota. Lagian polusi semua ini, mau lihat apa? Mending juga Jogja.”

“Yah, kalau Jogja mah nggak usah ditanya. Disana hanya kurang kendaraan umum doang. Lainnya udah oke. Ngomongin Jogja jadi ingat DM kamu dulu banget, Rin.”

Eh, sebentar. Ngomong Jogja, lalu ingat DM. Ini kok semacam mulai nyambung.

“Yang kapan?”

“Yang waktu kamu mau pindah ke Solo. Yang katanya mau lepas poster aja galau.”

“Hahaha. Tahu sendiri Bang, sebagai sesama sentimentil, kamu harus paham.”

Makin dekat, makin jelas. Aku kan membaca DM itu dengan saksama dan sebaik-baiknya. Rasanya nggak mungkin ada DM lain deh.

“Karin, keluarkan saya dari sini,” gumamku lirih.

“Eh, mana punyamu?” tanya suara laki-laki tersebut.

“Ada, bawa kok. Punyamu?”

“Bawa juga dong. Masak lupa, kan udah janjian.”

Karin segera menarik resleting ranselnya dan aku mulai melihat secercah cahaya yang perlahan membesar. Lalu tangan mulus Karin segera menjamahku dan menarikku keluar dari pengapnya ransel ini.

“Kak?”

“Ini, Bang. Kenalin, namanya Neptunus.”

“Hahahaha, kamu tiru-tiru Kugy dong, Rin?”

“Iya. Seru kan? Kalau Kugy harus tulis surat di perahu kertas supaya sampai ke Neptunus, aku bisa panggil dia kapanpun. Sampai pergi seminar ke Jakarta aja aku bawa. Eh, kamu jadinya beli kapan?”

“Belum lama. Setelah ditimbang-timbang masak-masak baru beli.”

“Untuk gaji seorang esmud di ibukota, nggak mungkin menimbang-nimbang karena perkara finansial. Bohong banget kalau begitu,” kata Karin, penuh dugaan.

“Hahaha. Alasannya sudah aku tulis di blog kok.”

Heh! Aku baca lho! Kalau benar bahwa lelaki di depan mataku ini adalah pemilik akun @alfabege yang diblok Karin sekian bulan silam sih.

“Hmmm, kayaknya aku baca. Jadi mana punyamu?”

“Oh iya, lupa.”

Lelaki itu kemudian ganti merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku bercover hijau dengan judul yang sama persis denganku. Perahu Kertas.

“Namanya?”

“Luhde.”

“Hahaha, tiru-tiru juga kamu Bang.”

“Nggak apa-apa. Luhde kayaknya cakep. Kata Kugy, kayak malaikat. Lagian nggak mungkin juga kasih nama Remi.”

Aku menatap buku yang barusan diletakkan di sebelahku, dari kiri ke kanan.

“Hai. Kita sama ya?” tanya buku itu.

“Iya. Aku Neptunus. Kamu?”

“Luhde.”

“Baiklah. Salam kenal. Yang punya kamu siapa?”

“Oh, ini Bang Alfa.”

Nah, sudah banyak dugaan yang menuju kenyataan. Tapi melihat momen di sekitar, aku jadi menebak akan terjadi sesuatu. Tempat itu ternyata romantis sekali. Sebuah kafe dengan rak buku di satu bagian dinding, lalu ruang bercahaya remang tapi dilengkapi lampu baca. Plus, lilin aromaterapi yang jaraknya hanya 10 sentimeter dari tempatku sekarang.

“Eh, De. Ini bosmu suka sama bosku ya?”

“Nggak tahu, Nus.”

“Kamu nggak sering kepoin dia?”

“Dia mah nggak bisa dikepoin. Aktifnya pakai HP. Nggak bisa ngintip aku.”

“Oh, begitu. Sayang sekali. Soalnya nih, dari dulu aku berpikir kalau sebenarnya bosmu ini suka sama bosku.”

“Rin,” kata Bang Alfa perlahan.

“Tadi bilang kalau baca blogku?”

“Iya.”

“Baca semua?”

“Lumayan.”

“Ehm, menurutmu itu fiksi atau nyata?”

“Fiksi dong.”

“Kok?”

“Kalau nggak fiksi, berarti kamu udah punya pacar berapa kali, Bang? Hehehe.”

Aku dan Luhde mulai bertatapan, tanpa suara, dan mengerti satu sama lain perihal sesuatu yang akan segera terjadi.

“Bisa aja. Menurutmu, kita ketemu lagi begini itu kebetulan bukan ya?”

“Bisa jadi. Kenapa Bang?”

“Kamu percaya kebetulan? Aku sih nggak.”

“Kadang percaya. Kenapa nggak?”

“Buatku sih kebetulan itu adalah persinggungan dua garis nasib. Dan nasib yang sudah diatur sama Tuhan. Jadi kebetulan itu kan kehendak Tuhan juga.”

“Lalu?”

“Ehm, entah sih, tapi semalaman aku berpikir soal ini. Kenapa kita ketemu lagi, kenapa bertemu kamu dalam keadaan sama-sama masih jomblo, kenapa dan kenapa lainnya. Dan sepertinya aku harus bilang sesuatu.”

“Apa?” tanya Karin perlahan, matanya sedikit melirik padaku.

“Ada banyak bagian dari posting di blogku yang sebenarnya adalah perasaanku sendiri, Rin. Perasaanku sendiri, ke kamu.”

Karin hening, bibir manisnya mengatup, tangannya malah memilih untuk mengaduk-aduk kopi. Sementara suara musik istrumen mengalun pelan di penjuru kafe.

“Sejak 7 tahun yang lalu, Rin. Sejak aku melihat kamu pertama kali, aku sudah merasakan ini. Tapi karena kemudian kita terlanjur dekat sebagai teman, jadi ya aku simpan saja. Dan kamu ingat kan pernah bilang sesuatu soal memendam cinta?”

“Memendam cinta adalah cara tercepat untuk patah hati.”

“Tepat sekali.”

“Dan bahwa aku sudah cukup patah hati ketika kemudian aku nggak bisa lagi menghubungi kamu. Kamu boleh bilang aku gila, tapi sebenarnya hadiah ulang tahunmu waktu itu, aku sendiri yang nganter ke kantor.”

“Bang? Serius?” tanya Karin dengan ekspresi yang berubah drastis. Kali ini dia benar-benar terkejut.

“Iya, aku ke Solo. Menghabiskan cuti sih, jadi sekalian gitu. Sudah sampai di depan kos-kosanmu malah. Sudah ngetuk pintu juga. Tapi akhirnya balik kanan pulang. Baru mampir ke kantormu, nitip hadiah itu. Kadang nyesel juga ngasih hadiah begitu kalau tahu akhirnya kamu malah menjauh begitu.”

“Asli, nggak nyangka Bang.”

“Buat lelaki, nggak ada yang aneh atau nekat kalau statusnya udah cinta, Rin.”

Karin terdiam lagi, melirikku lagi. Aku rasa dia mulai membenarkan perkataanku perihal sesuatu yang aneh kemarin. Salahnya juga nggak mendengarkan aku kan?

“Daripada aku panjang-panjang lagi, intinya sih hanya satu baris. Aku cinta sama kamu, Rin.”

Karinku tertunduk malu-malu, sementara Bang Alfa meraih tangan Karin yang sedari tadi tampak menggengam angin. Karin membuka genggaman jemarinya dan menerima lima jari Bang Alfa di sela-sela lima jarinya.

Aku dan Luhde terdiam saja melihat pemandangan seperti ini. Kejadian ini untuk dinikmati, bukan untuk dikomentari. Aku menikmati setiap saat ketika cinta dinyatakan, dan aku yakin Luhde demikian.

Badan Bang Alfa terangkat sedikit demi sedikit dari kursinya, kepalanya bergerak mendekati kepala Karin. Pemilikku itu kemudian mengangkat sedikit kepalanya, menyambut sebuah kecupan manis dari sebuah bibir yang baru saja menyebut cinta.

Luhde menatapku dan tersenyum penuh arti. Aku sendiri senang, karena pada akhirnya hipotesaku terbukti, seratus persen.

* * *

buatan minggu lalu, baru diunggah sekarang.. lagi niat.. hehehehe..