Transportasi Unggul Landasan Konektivitas Untuk Pemerataan Pembangunan Demi Indonesia Maju

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (6)

“Membangun Indonesia dari pinggiran itu suatu keniscayaan. Sudah saatnya rakyat Indonesia merasakan pembangunan sesungguhnya. Keterhubungan antardaerah, jalan menuju perubahan Indonesia yang lebih baik.”
– Budi Karya Sumadi (Menteri Perhubungan RI)

Kementerian Perhubungan adalah salah satu tulang punggung pembangunan di Indonesia. Tidak seperti kementerian serupa di negara lain, terlebih di Eropa, Kementerian Perhubungan di Indonesia menanggung beban kerja yang luar biasa berat. Betapa tidak, negara kita terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Saya iseng cek Google Maps dan mendapati bahwa dari Banda Aceh ke Merauke dengan mode pencarian jalan kaki, dibutuhkan waktu 830 jam dengan jarak 7.102 kilometer. Jarak 7.000-an kilometer itu sudah sama saja dengan jalan kaki dari Aceh ke Karachi, Pakistan!

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (10)

Aceh sampai Papua kira-kira setara Aceh sampai Pakistan! Sumber: Google Maps

Dengan tipe pencarian yang berbeda yakni bermobil via darat dibutuhkan waktu 269 jam dengan jarak 8.013 kilometer. Angka-angka yang muncul sungguh menakjubkan dan sekaligus memperlihatkan betapa luasnya Indonesia dan sebagaimana tugasnya untuk menghubungkan seluruh negeri, maka tugas Kementerian Perhubungan menjadi demikian luas pula.

Spirit Kementerian Perhubungan adalah Wahana Manghayu Warga Pertiwi alias perhubungan merupakan wahana untuk mensejahterakan bangsa dan negara. Tidak ada gunanya perhubungan jika muaranya tidak kesejahteraan. Ingat, negeri ini dalam Pembukaan UUD 1945 memiliki cita-cita mencapai Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Pada periode pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kepada Kementerian Perhubungan diamanatkan untuk menggiatkan pembangunan infrastruktur transportasi darat, laut, udara, dan perkeretaapian. Untuk itu, dalam Rencana Strategis (Renstra) Kemenhub 2015-2019, hal tersebut menjadi salah satu program unggulan dengan garis besar capaian sebagai berikut:

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (5)

Capaian Pembangunan Sarana dan Prasarana 2015-2019 (Sumber: Laporan Kinerja 5 Tahun Pembangunan dan Pengembangan Transportasi Indonesia)

Kenapa fokusnya pada semua jenis moda transportasi? Sederhana saja, konektivitas antarmoda diharapkan dapat memperlancar distribusi logistik yang pada akhirnya dapat menjangkau sampai daerah-daerah pedalaman, terluar, dan perbatasan. Muaranya adalah terwujudnya konektivitas nasional.

Pembangunan infrastruktur perhubungan memang menjadi bagian dari program Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keberhasilan pembangunan ini diharapkan dapat berkontribusi positif bagi kegiatan perekonomian nasional dan pertama-tama mampu mengurangi potensi ekonomi biaya tinggi akibat keterbatasan layanan infrastruktur transportasi.

Saya tentu saja ingat ketika masih kerja di pabrik. Ketika itu, posisi pabriknya di Palembang, sementara hampir semua bahan baku berasal dari Pulau Jawa. Namanya pabrik obat, kebanyakan memang impor, tetapi impornya tentu ke gudang yang letaknya ya di sekitar Jabodetabek. Mau impor langsung? Ke Tanjung Priok juga.

Walhasil, sebagai orang supply chain, saya selalu deg-degan pada setiap proses order. Tentu saja, faktor ekspedisi menjadi pembeda daya saing pabrik obat tempat saya bekerja dengan kompetitor lain yang punya pabrik di Jawa. Kalau tidak karena pendiri pabrik punya misi spesial, sudah tentu pabrik itu akan tutup. Kalau saja tutup, wah, masak sih semuanya harus fokus ke Pulau Jawa, dan spesifik ke Jabodetabek lagi?

Jadi, perlu diingat bahwa misi dari Kementerian Perhubungan tidak semata-mata soal pengangkutan penumpang, tetapi juga barang. Ingat, yang hendak ditekan adalah ekonomi biaya tinggi. Persoalan ini harus jadi fokus karena siapapun juga tahu bahwa segala beban dalam ekonomi biaya tinggi akan ditimpakan ke pelanggan dalam wujud harga yang lebih mahal. Bagaimana Indonesia bisa lapang untuk maju ketika gerak perekonomian saja masih tersendat karena salah satunya ekonomi biaya tinggi?

Ketersediaan sarana dan prasarana angkutan yang memadai secara langsung akan memudahkan pengangkutan muatan, baik barang maupun penumpang. Maka, operasi infrastruktur transportasi pada berbagai wilayah di nusantara sudah barang tentu memberikan pengaruh positif bagi perekonomian masyarakat. Apalagi, ketika yang dikembangkan adalah wilayah terluar, terdepan, dan perbatasan. Pasti wujud pembangunan Indonesia akan lebih tampak lagi.

Transportasi Laut

Indonesia dikenal dengan lautnya yang sangat luas. Hal ini dapat memudahkan, dapat pula menyulitkan, tergantung perspektif kita. Munculnya konsep tol laut menjadi upaya mengoptimalkan laut untuk konektivitas. Kementerian Perhubungan periode 2015-2019 menyelenggarakan program tol laut dengan 18 rute pelayaran dengan tujuan menunjang kelancaran distribusi logistik nasional.

Program ini dioperasikan oleh PT Pelni dan perusahaan pelayaran swasta untuk memberi kemudahan pengangkutan kebutuhan pokok sampai ke daerah terpencil. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan juga menyediakan angkutan kapal perintis demi menunjang kelancaran distribusi dari muatan kapal tol laut dengan berperan sebagai angkutan feeder-nya.

Pembangunan angkutan penyeberangan pada rute perintis antara lain diselenggarakan di lintas pulau laut timur-Sebuku (Kalimantan Selatan), lintas Danau Toba (Sumatera Utara), dan banyak lintas di sekitar Maluku serta Maluku Utara karena memang banyak pulau-pulau kecil yang butuh konektivitas. Pembangunan kapal pendukung tol laut dilakukan sebanyak 100 unit kapal sejak 2015 sampai 2018 meliputi 60 unit kapal perintis, 15 unit kapal kontainer, 5 unit kapal ternak, dan 20 unit kapal rede.

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (8)

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (3)

Kalau kita ingat, konsep tol laut adalah jalur besarnya. Kalau kapal besar berlayar dengan muatan kosong, lama-lama tekor. Nah, dengan feeder, maka dari jalur besar itu barang bisa lanjut distribusinya sampai ke daerah-daerah terpencil. Hal ini tentu saja mampu menurunkan harga barang di daerah-daerah tersebut sehingga ada uang lebih yang bisa digunakan untuk kepentingan lainnya. Rute-rute perintis pun selalu bertambah setiap tahunnya.

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (3)

Selain angkutan perintis, Kementerian Perhubungan juga melakukan peningkatan kapasitas dan pelayanan pada sejumlah pelabuhan baik besar, menegah, dan kecil yang ada di sejumlah daerah semata-mata agar kapal besar bisa bersandar tanpa hambatan berarti. Itu tadi, semakin besar kapal sebenarnya semakin mempermurah ongkos asalkan isinya nggak kosong. Dengan konsep tol laut ini, putaran roda perekonomian menjadi lebih lancar dan distribusi logistik nasional menjadi lebih terbantu.

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (4)

Pembangunan prasarana penyeberangan untuk menunjang mobilitas dan distribusi logistik secara lancar di Indonesia pada periode 2015-2019 diselenggarakan di berbagai tempat mulai dari Kuala Tungkal (Jambi), Kewapante (NTT), hingga Amahai (Maluku). Sampai tahun 2017 saja, telah dilakukan pengembangan pelabuhan non komersil di 104 lokasi dan 11 diantaranya diselesaikan pada 2018.

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (7)

Akan tetapi, namanya juga konsep baru pasti ada saja masalahnya. Untuk itu, pemerintah masih terus berproses dalam implementasi program tol laut di lapangan termasuk pencarian solusi ketika ada masalah. Apalagi, dalam satu program ini saja, garapannya mulai dari pembangunan pelabuhan baru, peningkatan kapasitas pelabuhan yang ada, penyelenggaraan kapal tol laut itu sendiri termasuk kapal perintisnya, pengadaan kapal navigasi, pengadaan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (LPLP), hingga pangadaan Kapal Pelayaran Rakyat (Pelpra).

Transportasi Udara

Selain mengoptimalkan transportasi laut, pengembangan infrastruktur perhubungan udara tetap digalakkan. Hal ini tidak hanya tentang pembangunan bandara baru, melainkan juga peningkatan kapasitas landasan pacu, peningkatan pengawasan serta pelayanan angkutan udara melalui pembangunan terminal, Air Traffic Control (ATC) hingga pembangunan fasilitas lainnya.

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (9)

Pembangunan Infrastruktur Perhubungan Udara (Sumber: Laporan Kinerja 5 Tahun Pembangunan dan Pengembangan Transportasi Indonesia)

Perlu diingat bahwa keseluruhan pembangunan itu dijalankan simultan demi menunjang pertumbuhan angkutan udara dengan tidak mengabaikan bahkan meningkatkan aspek keselamatan, keamanan, dan pelayanan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Konsep konektivitas dapat dilihat dari lokasi pembangunan bandara yang notabene mampu menjadi pembuka akses transportasi bagi masyarakat. Sebagai contoh bandar udara Letung di Anambas (Kepulauan Riau), bandara Tebelian di Sintang (Kalimantan Barat), maupun Bandar Udara Maleo di Morowali (Sulawesi Tengah).

Selain membuka akses baru, tentunya fasilitas yang sudah ada harus dikembangkan. Apalagi, industri penerbangan dalam satu dasawarsa terakhir sangat masif lajunya. Rehabilitasi dan pembangunan terminal bandara dilakukan di beberapa tempat seperti Bandara Matohara Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Bandara Domine Eduard Osok Sorong (Papua Barat), hingga Bandara Juwata Tarakan (Kalimantan Utara).

Untuk yang disebut terakhir, misalnya, berlokasi di provinsi termuda Indonesia yaitu Kalimantan Utara. Lokasinya hanya 3 kilometer dari pusat kota Tarakan dan selama ini aksesnya lebih banyak dari Balikpapan dan kemudian harus dilanjutkan dengan perjalanan darat dengan rute yang mendaki gunung lewati lembah. Kini, Bandara Juwata sudah bisa didarati pesawat jenis Boeing 737-400 dan 737-900 ER.

Demikian pula dengan Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda. Dahulu agak absurd kalau dinas ke Samarinda karena harus ada perjalanan lagi dari Balikpapan ke ibukota provinsi. Sekarang, kalau mau ke Samarinda, sudah bisa turun di bandara yang berjarak 18 kilometer saja dari pusat kota. Jadinya yang dinas di Samarinda bisa lebih efektif karena waktu perjalanan bisa lebih pendek tanpa harus takut ketinggalan pesawat.

Segala perkembangan rehabilitasi dan pembangunan terminal udara sebagaimana dipaparkan dapat disimak hanya dengan melihat infografis berikut ini:

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (1)

Rehabilitasi dan Pembangunan Terminal Bandara (Sumber: Laporan Kinerja 5 Tahun Pembangunan dan Pengembangan Transportasi Indonesia)

Seiring dengan berkembangnya dunia penerbangan, maka jumlah penumpang kemudian mengikuti dengan baik. Data menunjukkan bahwa selama 5 tahun terakhir selalu muncul pertumbuhan jumlah pengguna transportasi udara sebagaimana dipaparkan data berikut:

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (4)

Dengan demikian konsep konektivitas yang diharapkan membentuk transportasi unggul sudah dalam jalur yang tepat, dibuktikan dengan pertumbuhan jumlah penumpang. Sehingga jelas sekali bahwa berbagai pembangunan infrastruktur yang dilakukan memang betul-betul berguna dan outcome-nya dirasakan oleh masyarakat.

Transportasi Darat dan Perkeretaapian

Sebagai pengguna rutin rel, tentunya saya menyimak betul perkembangan transportasi dari sisi ini. Gawean besar seperti Double Track (DT) dan Double Double Track (DDT) mulai menampakkan hasil. Paling terasa tentu di Bekasi karena jalur yang sama digunakan oleh Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line dan seluruh Kereta Api arah timur. DDT di posisi ini tentu sangat membantu para pengguna KRL jalur tersebut.

Sampai dengan tahun 2019, telah dilakukan pembangunan jalur KA–termasuk jalur ganda dan reaktivasi–sebanyak 853,65 km’sp. Suatu pertumbuhan yang sangat masif dan sangat berbau Indonesia-sentris karena tidak hanya dibangun di Jawa!

Ada jalur ganda Kereta Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang telah beroperasi, ada jalur ganda KA jalur Martapura-Baturaja yang mampu memberikan dampak peningkatan volume angkutan barang antar kota/kabupaten dan provinsi hingga 30 juta ton per tahun, ada pula jalur KA Makassar-Parepare sebagian tahap pertama Trans Sulawesi. Selain itu, masih banyak juga yang lain sebagaimana dimuat dalam infografis panjang berikut:

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (7)

Pembangunan Jalur Kereta Api (Sumber: Laporan Kinerja 5 Tahun Pembangunan dan Pengembangan Transportasi Indonesia)

Terutama untuk menunjang DDT Manggarai-Cikarang, dibangun 5 stasiun baru pada jalur tersebut sesuai standar pelayanan minimum yakni di Buaran Baru, Klender Baru, Klender, Cakung, dan Kranji. Plus jangan lupa suatu capaian baru yang dirintis sejak 2013 dan diresmikan pada 2017 yakni elektrifikasi lintas Bekasi-Cikarang yang juga ditunjang oleh stasiun baru yang bahkan benar-benar baru seperti Stasiun Bekasi Timur dan Stasiun Cibitung.

Untuk lintasan saya sehari-hari yang paling dirasakan tentu Stasiun Palmerah dan Kebayoran. Khusus Kebayoran lebih terasa lagi karena ketika ada huru-hara yang menyumbat Palmerah kala demonstrasi beberapa waktu silam, renovasi memampukan stasiun legedaris ini menampung massa yang gagal berangkat dari Palmerah.

Pengembangan transportasi darat berjalan dalam spirit konektivitas dengan moda lainnya yakni dengan pengadaan sarana angkutan Bus Rapit Transit (BRT), angkutan bus perintis, serta moda angkutan massal perkotaan. Misalnya, Kereta Bandara yang menjadi penghubung bandara ke kota tujuan sebagaimana yang dibangun di Kuala Namu ke Medan, BIM ke Kota Padang, hingga Cengkareng ke Sudirman Baru lanjut Manggarai kalau di Jakarta.

Bersinergi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Kementerian Perhubungan juga bahu-membahu dalam operasional angkutan massal yang hits dalam 2-3 tahun terakhir ini.

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (6)

Suasana di LRT Palembang (Sumber: dokumentasi pribadi)

Sebut saja Light Rail Transit (LRT) di Palembang, LRT Jakpro di Jakarta, dan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta. Sembari kita menunggu yang sebentar lagi akan rilis adalah LRT Jabodetabek yang terbilang cukup menjanjikan untuk mengubah horor Cibubur arah Jakarta di pagi hari jadi agak mendingan.

mrt-jakarta

Suasana di MRT Jakarta (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

6

Suasana di LRT Jakpro (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Dalam hal transportasi darat spesifik pada kendaraan angkut yang melewati jalan raya juga tidak kalah bertumbuh. Sebagai contoh, dari 2014 sampai dengan 2018 diselenggarakan pembangunan dan rekonstruksi terminal dengan rincian sebagai berikut:

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (1)

Selain terminal, Kementerian Perhubungan dalam konteks Perhubungan Darat juga memiliki beberapa pencapaian lain, seperti pembangunan BRT. Untuk pembangunan pelabuhan dan kapal yang telah diterangkan detailnya sebelum ini juga masuk dalam cakupan Perhubungan Darat.

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (2)

Capaian Pembangunan Sektor Perhubungan Darat (Sumber: Laporan Kinerja 5 Tahun Pembangunan dan Pengembangan Transportasi Indonesia)

Pada akhirnya seluruh pembangunan diselenggarakan dalam sinergi guna menunjang konektivitas sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Arus orang dan barang pada akhirnya menjadi penting dalam ekonomi sehingga harus ditunjang perpindahannya. Dengan demikian, meski tampak jauh dari bidang ekonomi, Kementerian Perhubungan justru memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian.

Satu lagi tentang transportasi darat, pada zaman canggih seperti sekarang ini, Kementerian Perhubungan juga berbenah dengan mengimplementasikan Area Control Traffic System (ACTS) melalui APBN yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan. Dalam lima tahun terakhir, terjadi pertumbuhan jumlah kota yang menggunakan ACTS sebagai berikut:

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (5)

Blog_Kemenhub_Transportasi Unggul_Indonesia Maju (2)

Penerapan ACTS sendiri menjadi penting karena sebenarnya proporsi tertinggi jalanan di negara ini ya di kota sebagaimana infografis di atas. Poinnya tentu saja tidak sekadar kerapian, melainkan juga penunjang kelancaran arus barang dan orang sehingga lebih lancar. Dengan demikian konektivitas yang dibangun di Indonesia tampak terang benderang dalam konteks makro hingga mikro.

Mengingat Indonesia yang luasnya minta ampun, tentu saja tugas Kementerian Perhubungan tidak selesai dalam satu periode kepemimpinan. Tugas-tugas tersebut masih dilanjutkan pada tahun 2019-2024 guna membuka lebih banyak lagi akses pada tempat-tempat di Indonesia yang membutuhkannya.

Nah, lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas-tugas perihal konektivitas tersebut berikut perkembangan dunia transportasi Indonesia dalam mewujudkan transpotasi yang unggul demi Indonesia maju, bisa berkunjung ke situsweb Kementerian Perhubungan, akun Twitter @kemenhub151, laman Facebook Kemenhub 151, atau juga akun Instagram @kemenhub151.

Artikel ini diikutsertakan dalam Blogger Writing Competition 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan.

Referensi dan Sumber Gambar:

  • Laporan Kinerja 5 Tahun Pembangunan dan Pengembangan Transportasi Indonesia
  • Transportation Information 2018
  • Statistik Perhubungan 2018 Buku I

Bahagia Bersama AirAsia: Pertama Kali Naik Pesawat Ke Luar Negeri

bahagia-bersama-air-asia

Saya ini memang agak ndeso. Bagaimana tidak, ketika istri saya sudah naik pesawat ke luar negeri pada masa remajanya di ITB karena mengikuti kompetisi paduan suara di Eropa, saya ya begini-begini saja. Punya paspor saja baru umur 28 tahun! Kalau ketahuan Rhenald Kasali, saya mungkin bisa dianggap korban disrupsi.

Ya, namanya manusia, rejekinya memang masing-masing. Untuk menaikkan kelas, maka pada usia yang baru 2,5 tahun kurang, anak lanang semata wayang sudah kami bikinkan paspor. Keren, kan? Emaknya punya paspor jelang umur 20, bapaknya jelang umur 30, anaknya baru lepas 2 tahun. Heuheu.

Eh, tapi jelek-jelek begini, saya bukannya nggak pernah memanfaatkan paspor itu. Cuma, agak lucu saja ketika saya sebenarnya sudah pernah pergi ke 2 negara namun tidak melalui jalur udara. Sesuatu yang sebenarnya juga jarang-jarang terjadi, kan?

Pertama dan kedua kali saya ke luar negeri itu adalah ke Singapura, via Batam. Jadi ya jalurnya laut. Balik hari pula. Pergi pagi buta, pulang menjelang petang. Negara kedua malah lebih absurd lagi karena terjadi ketika saya sedang tugas di Atambua. Jadi, saya ke Timor Lester-nya dengan…

…jalan kaki. Malah kelakuan teman-teman bikin saya sempat membuat rekor: menutup pagar batas negara yang memang sudah seharusnya tutup pada pukul 17.00 WITA.

Untitled design (10)

Kesempatan untuk ke luar negeri pakai pesawat akhirnya datang beberapa waktu yang lalu. Kebetulan, teman dekat istri ketika kuliah di Inggris melangsungkan pernikahan. Lokasinya? Di HONG KONG. Jadi, kami kondangan ke Hong Kong, gaes. Kurang pura-pura kaya apa lagi itu? Saya selama ini cuma kondangan Jakarta-Jogja, Jakarta-Palembang, atau Jakarta-Surabaya sebenarnya juga takjub kok pada akhirnya malah kondangan ke Hong Kong.

Akan tetapi, bagaimana mungkin seorang PNS jelata bisa kondangan ke luar negeri dengan gaji yang segitu-gitu aja? Untunglah, saya kemudian ingat pada AirAsia!

Wilayah Operasional

Sumber: Annual Report 2018

Ketika lagi kesusahan tapi harus pergi, saya selalu kembali mengingat masa-masa silam ketika untuk bisa mudik itu susah sekali ongkosnya. Kalau sekarang, ongkos masih bisa dijangkau tapi cutinya yang terbatas. Jadi, seumur-umur saya naik pesawat, penerbangan ke-6, 7, dan 12 itu menggunakan AirAsia.

Ketiga perjalanan itu masing-masing terjadi pada tahun 2006, 2007, dan 2008. Saya ingat sekali bahwa pada tahun 2006 dan 2007 itu, AirAsia adalah opsi terbaik dari sisi finansial dan kenyamanan. Maka, ketika harus balik ke Jogja dari praktek lapangan di Depok, pilihannya juga AirAsia.

Ini fotonya. Ya, kira-kira 20-30 kilogram yang lalu.

Screenshot_2002

Sumber: Kenangan Kala Kurang Gizi

Melalui situsweb AirAsia atau juga dengan mengunduh serta install aplikasi AirAsia pada gawai, banyak pilihan tiket penerbangan bisa diperoleh. Apalagi tujuannya ke Hong Kong. Pasti ada.

Kebetulan, istri sudah beberapa kali dinas baik ke Kuala Lumpur maupun ke Filipina, seringnya ya pakai AirAsia juga. Kalau istri saya sudah merekomendasikan, apalah saya yang patokan kenyamanannya adalah bis malam ini.

Bahkan kalau gabung dengan AirAsia BIG Loyality dan jadi member AirAsia BIG bisa dapat informasi promo lebih awal lagi. Poin juga diperoleh ketika kita beli tiket AirAsia, menginap di Tune Hotel, atau juga ketika booking hotel di AirAsia GO. Kumpulan poinnya bisa ditukar dengan tiket AirAsia lagi, voucher hotel di AirAsia GO, hingga aneka merchandise AirAsia lainnya.

Salah satu yang istimewa dari situsweb AirAsia adalah informasi tanggal dan harga dalam satu interface. Selain itu, informasi yang tidak kalah penting adalah ini:

Screenshot_2023

Tiket sudah dibeli dan kami kemudian bersiap. Persiapan paling penting tentu meninggalkan Isto. Ya, bukannya mau bulan madu, tapi menurut kami membawa bocah belum 2 tahun ke luar negeri itu bukanlah ide yang menarik. Baru jalan ke Jam Gadang saja sempat muntah, beberapa bulan sebelumnya. Walhasil, dengan segala hormat dan maaf, si bayi kami titip ke Eyangnya.

Penerbangan yang kami ambil adalah malam hari. Jadi, pagi sampai sorenya masih kerja dulu. Dengan kelelahan pasca bergelantungan di KRL dan lantas di kantor kena semprot bos orang lain, sampai di rumah hitungannya sudah lemash. Tapi kan sekali tiket dibeli, pantang pulang. Apalagi, ini adalah kesempatan perdana saya pergi ke luar negeri naik pesawat terbang setelah sebelumnya hanya naik kapal dan…

…jalan kaki. Duh.

Kami agak santai karena sudah check in melalui aplikasi AirAsia. Pengalaman sehari-hari memang bikin saya cenderung lebih suka check in di aplikasi karena kita tidak tahu seperti apa wujud manusia yang bergabung bersama kita di antrean nanti. Toh, nggak bawa bagasi dan nggak harus print boarding pass yang bagus untuk dipertanggungjawabkan ke kantor juga.

Satu hal yang keren bagi saya dari AirAsia adalah efektivitas proses boardingnya. Jadi, antrian untuk boarding sudah dipersiapkan dan bahkan penumpang sudah bisa mengantri ketika pesawatnya bahkan masih di sekitar Kepulauan Seribu! Padahal, prosedurnya kan sesudah penumpang turun dan sebelum penumpang berikutnya boarding, harus ada pembersihan.

Saya sendiri karena sering kerja lewat bandara, jadi agak paham dengan urusan ini. Makanya, ketika saya pantau via Flight Radar bahwa pesawatnya masih di langit, saya santai saja beli minum. Eh, begitu balik antriannya sudah panjang.

Ketika pesawat kemudian merapat ke Terminal 3, tidak butuh waktu lama untuk penumpang berikutnya bisa masuk. Saya penasaran, dong, pada kebersihan pesawatnya. Begitu saya cek, ternyata bersih sebagaimana mestinya. Tampaknya penerbangan ini akan benar-benar membahagiakan.

Tengah malam, pesawat mendarat dengan mulus di Kuala Lumpur, kota transit AirAsia selain Don Mueang. Saya sih memang mencari KL karena kota ini kan rumahnya AirAsia. Jadi, sekalian mau lihat-lihat.

Begitu masuk ke gedung terminal, saya langsung terharu. Akhirnya saya bisa naik pesawat ke luar negeri. Sebuah achievement yang sebenarnya mudah dicapai banyak orang, bahkan cenderung biasa saja, tapi ya untuk saya yang pertama ini tentu istimewa.

bahagia-bersama-airasia

Suasana di KL

Bandara transit di KL terbilang memiliki penataan ruang yang efektif. Crowded-nya paling ketika di depan toilet saja. Ya, namanya juga penumpang transit pasti yang dicari adalah toilet.

Guna menghadapi perjalanan yang lebih jauh–dari KL ke HK–maka saya dan istri sudah menyiapkan diri dengan order makan di dalam pesawat. Lumayan, harganya ya tyda mahal-mahal amat.

Kenapa harus pre-book? Karena harga di langit punya kemungkinan berbeda tergantung kode penerbangan. Sebagai gambaran saya ambil dari situsweb AirAsia sendiri bahwa untuk kode QZ harga menu yang disebut sebagai Santan ini hanya Rp36.900. Masih lebih mahal konsumsi rapat bagi PNS tingkat pusat yang Rp47.000,- pada tahun 2019. Atau ya setara order makanan pakai ojek online plus ongkos kirimnya. Kalau ngirim ke langit kan nggak mungkin semurah itu, dong?

landing-page-combo-meal-spiral-idid

Perjalanan ke Hong Kong kami tempuh juga dengan bahagia. Begitu langit sudah terang, kami mendapati bahwa dalam beberapa saat lagi akan segera sampai di Hong Kong. Gaes, bayangkan perasaan saya yang jarang dolan ini begitu menjejakkan kaki pada negara di luar Asia Tenggara. Terharu juga. Ya, ndeso memang. Tapi akibat perjalanan ini, saya sudah meniatkan diri untuk lebih sering cari uang demi bisa dolan ke luar negeri dan untuk itulah Isto kami buatkan paspor. Supaya nggak kena disrupsi, gitu.

Yes, kami akhirnya sampai di Hong Kong. Bersiap menghadapi ketidaktahuan atas lokasi penginapan dan aneka perkara lain. Tapi yang penting kan dihadapi berdua. Tsah.

IMG_20181108_114428

Baru sampai dan pastinya belum mandi

IMG_20181108_121154

AirAsia di Indonesia sendiri semakin menarik karena per 2019 juga menyediakan penerbangan ke Sorong, Lombok, dan Labuan Bajo. Dan, serius, tarif Jakarta ke tiga destinasi tersebut sungguh sangat kompetitif–menurut saya. Jadi, Labuan Bajo yang tadinya terasa jauh bisa mulai ada perubahan untuk sedikit lebih dekat. Minimal, dekat di kantong.

Oh, iya, sesudah penerbangan ke Hong Kong itu tadi, dua pekan kemudian tanpa dipaksa saya naik AirAsia lagi. Kali ini, ketika pulang dinas di Denpasar, hendak menuju Solo terlebih dahulu. Pegawai kayak saya memang suka begitu nasibnya. Sudah punya agenda cuti bagus-bagus, eh, di tengah-tengah dikasih kegiatan wajib ikut. Jadi, ya sudah dari kegiatan di Denpasar saya akhirnya bablas ke Solo untuk jadi bapak baptis dari keponakan saya, Gabriel.

Sampai saat ini, saya sudah terbang 6 kali dengan AirAsia dan itu berkaitan dengan 6 bandara yang berbeda-beda yakni di Jakarta, Padang, KL, Hong Kong, Denpasar, dan Solo.

AirAsia pada tahun 2018 secara total mengoperasikan 24 armada pesawat dan telah mengangkut 5,2 juta penumpang alias naik 13 persen dari tahun sebelumnya. Tingkat keterisian juga meningkat pada setiap periodenya. Soalnya, saya sebagai penumpang juga ngeri lho kalau pesawat kosong. Takut nggak ada lagi rutenya. Heuheu.

Screenshot_2024

Pada 17 Juli, AirAsia meraih Juara Dunia kesepuluh kalinya di Skytrax dan sebulan kemudian AirAsia Indonesia menuntaskan audit keselamatan operasional IATA. Dua poin ini juga menunjang kepercayaan saya sebagai calon pelanggan pada kinerja AirAsia. Penumpang kalau nggak percaya sama maskapai ya bisa berabe, kan?

Demikianlah kiranya saya terbantu untuk Bahagia Bersama AirAsia. Setidaknya, diawali dengan bantuan AirAsia, saya bisa berfoto di tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ini…

Screenshot_175

Sekian dan selamat berbahagia~~

Petualangan Murah Meriah di Hong Kong

1

Hong Kong dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terkemuka di Asia dan dunia. Sebenarnya tidak hanya karena wisata, namun kunjungan bisnis juga jamak dilakukan ke Hong Kong, mengingat banyak perusahaan multinasional memiliki markas di Hong Kong ini.

Resminya, Hong Kong adalah Daerah Administratif Khusus dengan sejarah panjang. Pasca kekalahan Tiongkok di Perang Opium Pertama (1839 sampai 1842) dari Kerajaan Inggris, Hong Kong diserahkan ke Inggris oleh Tiongkok, termasuk di dalamnya Semenanjung Kowloon serta New Territories.

Sempat diduduki Jepang pada Perang Dunia II, Hong Kong kembali dikontrol oleh Inggris hingga pada tahun 1997–sesuai dengan “penyewaan 99 tahun New Territories” pada tahun 1898–Hong Kong menjadi Daerah Administratif Khusus di Tiongkok.

Secara umum, Hong Kong memang dikesankan mahal. Ya, memang mahal, sih. Hong Kong juga memberikan profil sebuah kota yang sibuk dan penuh dengan kelelahan. Berjalan-jalan di Stasiun Central, kita akan menemukan para pekerja yang berjalan kencang demi bisa masuk ke kantor. Sebenarnya, nggak beda-beda amat dengan Jakarta.

Malah sebenarnya Hong Kong lebih padat, ditandai dengan bangunan tinggi dimana-mana sebagai pemukiman. Dengan lahan hanya seluas 1.104 kilometer persegi, ada sekitar 7 juta jiwa manusia yang tinggal di dalamnya.

Nah, karena posisinya yang demikian itulah, Hong Kong menjadi menarik buat saya untuk dikunjungi.

Tapi, budget terbatas. Bagaimana dong cara menikmatinya?

Gampang sekali.

Pertama-tama, tentu saja tiket. Kita nggak mungkin naik ojek online dari Indonesia ke Hong Kong, jadi ya pasti naik pesawat. Tiket pesawat ke Hong Kong sendiri bisa kita peroleh antara lain melalui PegiPegi.

Mencari tiket pesawat ke Hong Kong, kalau lewat PegiPegi itu, baik via Desktop, aplikasi, maupun mobile site biasa, sama-sama mudahnya. Misalnya begini:

Screenshot_174

Mau pakai aplikasi? Bisa juga:

Screenshot_176

Yang unik, di PegiPegi itu ada kalender promo seperti gambar di atas! Jadi, dengan hanya menginput asal, tujuan, dan bulan keberangkatan yang kita inginkan, maka akan muncul tanggal, hari, berikut harga paling menarik yang bisa kita dapatkan. Jadi, hal ini sangat membantu pencarian harga tiket paling sesuai dengan kantong.

Satu hal yang penting, biasanya tiket murah itu ya pas weekdays. Jadi, luangkan cuti yang cukup untuk bisa mengeksplorasi Hong Kong dengan leluasa. Oh, dan jangan lupa, untuk harga terbaik, kadang ada konsekuensi transit begitu lama. Jadi, ya harus disiapkan juga. Saya sendiri mengalami kemarin itu transit di Singapura sampai bisa dapat 4-5 film di bioskop mini gratisannya itu~

Transportasi Umum

Begitu sampai Hong Kong, jika ingin murah, tentu jangan naik taksi. Belilah tiket Kereta Bandara. Kalau saya kemarin, karena tujuannya ke Wan Chai di Hong Kong sisi Island, bukan sisi Cina Daratan, jadi saya turun di Hong Kong, bukan di Kowloon. Nah kalau di Hong Kong ini sebagai jarak terjauh ongkosnya adalah HK$110 untuk sekali jalan. Cukup murah untuk sebuah perjalanan 24 menitan yang kuencanggg tapi nyaman.

Bukan apa-apa, bandara Hong Kong itu letaknya di Pulau Lantau, yang jaraknya sekitar 40 kilometer. Jadi kalau pakai taksi ya bangkrut di awal kitanya.

Nah, di Hong Kong, lantainya atas bawah dengan Central Station. Central ini adalah kunci dari segala kunci MRT di Hong Kong. Kalau diibaratkan ke KRL Jabodetabek ya Manggarai-nya. Dari Central inilah kita akan kemana-mana di Hong Kong~

Begitu sampai di Central, segera beli kartu Octopus. Satu keunggulan di Hong Kong, Octopus ini bisa dipakai untuk naik MRT, naik bis, hingga naik kapal. Jadi mau diisi langsung banyak juga nggak masalah, karena nantinya juga bisa di-redeem sebelum pulang.

Hong Kong Museum of History

Wisata gratis paling utama ya museum ini, diantara banyak museum lain di Hong Kong yang juga gratis-gratis itu. Melalui Museum of History, kita langsung bisa melihat Hong Kong secara keseluruhan di satu tempat.

2

Penyajian history-nya sangat urut, bahkan mulai dari zaman Dinosaurus. Tradisi kuno juga ada satu lantai sendiri, demikian pula dengan masa Perang Opium itu tadi. Di bagian akhir, kita juga jadi tahu ihwal pembangunan masif dari Hong Kong ini. Jadi betul-betul disajikan dengan flow terbaik.

Jalan Kaki dan Bis

IMG_20181109_111146

Oya, karena judulnya adalah murah meriah, saya harus kasih tips utamanya di awal. Kita harus siap banyak-banyak jalan kaki. Hehe. Jangan sedikit-sedikit naik taksi, kecuali situ Sultan. Untuk jarak yang agak jauh, sebenarnya bisa naik MRT, namun setelah saya bandingkan, sebenarnya lebih murah naik bis. Ya, kelemahannya adalah agak lama. Namun positifnya, turunnya ya di pinggir jalan, bukan bawah tanah. Jadi kalau pas macet ya sekalian menikmati pemandangan, dah.

Tsim Sha Tsui

5

Tsim Sha Tsui adalah kawasan yang sangat identik dengan turis, kalau di Hong Kong. Memang ada banyak taman juga di Hong Kong, namun yang ada di Tsim Sha Shui yang menjadi menarik karena letaknya tidak terlalu jauh dengan pelabuhan Star Ferry. Tsim Sha Tsui Promenade, namanya, juga berdekatan dengan Hong Kong Space Museum dan Hong Kong Miseum of Art. Bahkan kalau hari Minggu ada hiburan internasional gratis. Pas saya ke sana, yang lagi tampil adalah…

…Tari Piring.

Ketemunya orang Padang, lagi. Saya sendiri sebenarnya nemu Tsim Sha Tsui Promenade karena ingin melihat lokasi Avenue of Stars tapi lokasinya ditutup karena sedang renovasi. Eh, di Tsim Sha Tsui-nya salah malah nemu taman bagus dan tentu saja (karena hari Minggu) ketemu banyak orang Indonesia.

4

Pasar Mong Kok

Mau cari oleh-oleh ya harus di Mong Kok. Soalnya, tidak ada yang semurah disini dan tidak ada yang lebih paham Bahasa Indonesia selain disini. Berasa belanja di Pasar Bugis Singapura, lah, karena sebagian pedagangnya ngerti Bahasa Indonesia sedikit-sedikit.

6

Untuk itu, menawar sedikit-sedikit juga diperlukan di tempat ini. Mediumnya? Kalkulator! Baik penjual dan calon pembeli akan mengetikkan angka di kalkulator untuk kesepakatan. Pengalaman saya menemani delegasi luar negeri waktu konferensi internasional, walaupun Bahasa Inggris kita dan dia cukup cas-cis-cus, kalau sudah urusan duit ya belibet juga.

Victoria Peak

Menurut saya, kalau tidak mampu ke studio-studio mahal, sebaiknya kesini saja. Victoria Peak adalah salah satu spot yang paling-hong-kong. Lebih Hong Kong daripada Hong Kong itu sendiri.

Jika ingin murah, ya jangan naik tram yang antreannya mengalahkan antrean sembako itu. Naiklah bis. Tapi, kalau naik bis, pergilah ke awal perjalanan bis itu supaya dapat tempat. Bis di Hong Kong ini kalau sudah penuh nggak maksa harus masuk semua. Saya menunggu dekat Wan Chai, 2 jam hanya untuk dilewati bis nomor 15 berkali-kali. Hiks.

Untuk bisa naik ke bagian teratas gedung memang harus membayar, tapi itu sajalah pengeluaran termahal. Kalau kepepet ya bisa pakai kartu kredit Indonesia, diterima kok dengan lapang dada.

Sedangkan kalau ingin foto yang prima, sebenarnya kita bisa sedikit berkorban dengan menggunakan jasa fotografer resmi. Ya, memang, mahal. Tapi menurut saya cukup sepadan dengan kualitas fotonya, dan ya mumpung sekali-kali ke Hong Kong. Tips iritnya adalah nggak usah dicetak, apalagi pakai frame, cukup diemail saja. Itu sangat jauh lebih murah, toh ya tujuannya diupload, kan?

7

Sementara kalau hanya foto-foto pakai HP biasa, tenang saja, saya malah saling bantu foto keluarga dengan sesama orang Tangerang Selatan. Bah~

Liburan itu pilihan, dan karena sumber daya kita baik waktu dan uang terbatas, mahal kita harus memilih. Tempat-tempat tadi adalah pilihan saya dan istri, meskipun kami jadinya ya melewatkan beberapa museum dan juga Victoria Park, tapi ya namanya juga ada keterbatasan.

Ah, jadi pengen ke Hong Kong lagi…

Screenshot_175

Staycation Menyenangkan di Swiss-Belhotel Pondok Indah

Staycation Menyenangkan di Swiss-Belhotel Pondok Indah

Libur lebaran dan tidak pulang kampung ke Bandung maupun Bukittinggi memang agak runyam. Saya sebagai PNS pasti libur, sedangkan istri saya hanya libur pas tanggal merah alias 5 dan 6 saja. Pengalaman berkata bahwa membawa bocah hanya untuk perjalanan 2 hari untuk kemudian balik lagi lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Jadi, ya sudah, stay saja di Jakarta.

Berhubung habis pulang dinas dari Surabaya, sesudah dipotong anggaran beli Spikoe dan beli Sei Aroma, ada sisa uang sedikit yang dikolaborasikan dengan promo besar dari online ticket agency kondang, maka saya dan istri memutuskan untuk melakukan staycation saja di Jakarta.

Salah satu target liburan kami adalah membawa Isto naik Mass Rapid Transit alias Moda Raya Terpadu alias MRT. Ya, meskipun dia juga nggak ngerasa, tapi lumayan sebagai seorang bocah kalau punya kisah naik moda transportasi paling ngehits se-Jakarta saat ini. Dengan demikian, lokasi staycation mengerucut ke tidak-jauh-jauh-dari-stasiun-MRT.

Dari beberapa pilihan, akhirnya kami memilih untuk menginap di Swiss-Belhotel Pondok Indah. Dulu, sih, pernah hampir ngereview makanan di hotel ini tapi karena hal yang saya sudah lupa, nggak jadi. Alasan utama sih karena posisinya yang dekat dengan halte TransJakarta serta kolam renang yang tampaknya paling menarik dibandingkan hotel-hotel di sekitarnya.

Lagipula, karena saya sudah cukup kenal dengan Swiss-Bel di berbagai kota–termasuk di Palangkaraya sebagai hotel terbaik di kota itu–jadi seharusnya tidak akan terlalu mengecewakan.

Apakah benar demikian? Continue reading

Ketika Rakyat Jelata Naik Kereta Api Kelas Priority

KETIKA RAKYAT JELATA NAIK

Menjelang arus mudik dimulai, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) meluncurkan sebuah gerbong mewah yang dikenal dengan kereta sleeper. Banyak rakyat jelata yang sekadar kagum pada liputan televisi maupun media mainstream, soalnya harganya memang tinggi, sebagaimana biaya hidup keluarga kalau anak di daycare.

Sebelumnya, sejak Maret 2018, PT. KAI telah menelurkan varian baru dalam layanannya. Sebuah gerbong dengan kapasitas hanya 30 orang, seat yang lega—tidak seperti hati oposisi yang kalahan, hiburan yang, enggg, yang penting ada hiburan. Seluruh layanan itu berada di kelas Priority, dengan harga dua kali lipat kelas eksekutif.

Sebagai rakyat jelata yang mendapat Tunjangan Hari Raya (THR), sudah tentu saya ingin mengembalikan uang yang saya terima untuk memperkuat negara. Salah satu bentuk kontribusi yang bisa saya lakukan adalah dengan menggunakan produk BUMN. Supaya fix masuk ke negara, maka saya gunakan layanan satu-satunya BUMN yang memonopoli jalur rel di Indonesia, PT. KAI. Supaya sumbangannya banyak, ya saya pilih harga yang paling mahal dong. Nah, karena kereta sleeper yang hits itu belum tersedia untuk rute mudik ke rumah Eyangnya Isto, jadi saya ambil kelas Priority.

KETIKA RAKYAT JELATA NAIK (1)

Soal kelas-kelas di kancah perkeretaapian itu sebenarnya nisbi belaka kok. Nyatanya, untuk KA Argo Parahyangan, rangkaian ekonomi, eksekutif, hingga Priority jadi satu rangkaian. Semuanya berangkat pada waktu yang sama dan sampai pada waktu yang sama. Pemandangan ciamik sepanjang Cimahi-Purwakarta dan sebaliknya juga sama. Hanya pegal kaki yang berbeda. Jadi ini bukan soal waktu yang diutamakan, tetapi pelayanan.

Gerbong Priority ini hanya ada 1 dalam rangkaian KA Argo Parahyangan. Letaknya di ujung pula. Secara prinsip benar, sih, bahwa gerbong Priority ini privat. Nggak boleh ada orang lewat kecuali penumpang yang punya tiket. Hanya saja, menjadi masalah ketika naiknya dari Stasiun Cimahi karena peron beratapnya tidak panjang. Masak sudah beli tiket mahal-mahal harus kepanasan di peron? Saya, misalnya, naik dari tengah rangkaian, tepatnya gerbong ekonomi terakhir, melewati restorasi, lanjut lewat 4 gerbong eksekutif, barulah sampai ke Priority. Dalam penghayatan, ini ibarat kehidupan: bersusah-susah dahulu, Priority kemudian.

woman wearing maroon velvet plunge neck long sleeved dress while carrying several paper bags photography

Photo by bruce mars on Pexels.com

Suasana luks di gerbong Priority sudah tampak dari bordes. Sudah berkarpet dan dindingnya penuh ornamen kayu. Mungkin karpetnya juga berperedam sehingga kebisingan khas bordes juga kurang. Makanya, kalau ada yang berisik-berisik—baik cangkem maupun tweetnya—Itu mbok ya diberi peredam biar tenang.

Begitu masuk, saya langsung merasakan tatapan heran dan takjub penumpang lain. Mungkin merasa kagum ada orang bermuka susah, pakai kaos ‘I Hate Mojok’, bisa beli tiket kelas Priority. Beuh, mereka mana tahu kalau tiket itu saya cicil melalui skema 0% selama 12 bulan melalui Tokopedia. Artinya, saya bayar 600 ribu, cicil 50 ribu sebulan, itu juga sudah dapat cashback 60 ribu yang sudah dipakai untuk membeli popok. Terima kasih, promo!

Bangku di kelas ini sungguh lapang, jelas berbeda dengan kelas ekonomi yang terbilang sempit seperti himpitan ekonomi. Bangku itu juga ditunjang dengan on-board entertainment berupa layar monitor di masing-masing seat. Hiburannya memang baru sekadar film dan audio. Ada Wi-Fi, tapi begitu dicoba kurang memuaskan juga.

KETIKA RAKYAT JELATA NAIK (2)Pada bagian belakang gerbong—kalau dari Bandung—ada minibar yang menyediakan free kopi, teh, dan makanan ringan. Free? Wong mbayar dua kali lipat kok free. Minibar ini sekaligus bisa menjadi tempat PDKT, lobi politik, hingga pembahasan makar kalau memang bernyali. Minibar ini juga menjadi penanda penumpang memang rakyat yang kaya atau sok kaya. Yang sok kaya, melihat kopi dan gula sachet bertebaran bisa dipastikan akan ngembat beberapa buah untuk bekal di rumah nanti. Yang kaya beneran, bahkan ke minibar saja tidak. Yang jelata kayak saya, cukup minum 3 gelas kopi selama 3 jam perjalanan. Lumayan, gratis dan tetap jujur.

Penumpang juga berhak atas sekotak makanan ringan yang terdiri dari roti basah dan sebotol air mineral. Rotinya juga nggak sembarangan: merk terkemuka, bukan pendukung penista agama, dan jumlahnya tiga biji pula. Rakyat jelata pasti senang mendapatkan jatah seperti ini.

KETIKA RAKYAT JELATA NAIK (3)Untuk barang, bisa ditaruh di bagasi atas, sebagaimana naik kereta api pada umumnya, hanya saja desainnya pakai pintu sehingga cenderung lebih aman, tapi lebih sempit. Akan sulit untuk membawa benda-benda seperti kulkas, ayam jago, brankas, hingga tanah lima karung jika menggunakan layanan di Priority.

Satu hal yang pasti, dengan adanya gerbong Priority ini, PT. KAI sukses mengambil ceruk lain penumpang. Salah satunya adalah penumpang kepepet. Dulu, saya pernah harus ke Jogja secara dadakan. Tiket pesawat sudah habis semua, kecuali kelas bisnis. Karena memang kudu ke Jogja, terpaksa tiket yang harganya sekali gaji itu saya ambil. Ceruk rakyat kepepet semacam ini pasti selalu ada, selain ceruk rakyat yang kebetulan tajir dan selalu suka kemevvahan.

Untuk hal ini, PT. KAI telah sukses menjadi perusahaan yang cerdas dalam memberikan faedah untuk rakyat dan negeri. Jelas lebih berfaedah daripada orang-orang yang dibayar pakai uang negara tapi kerjanya nyinyir belaka.

Balada Bayi Pup di Ketinggian 34000 Kaki Dpl

Ini sisa #IstoMudik2018 yang lalu. Bayi millennial yang satu itu sebelumnya sudah naik pesawat 2 kali. Jakarta ke Jogja pulang pergi. Jogja doang, selow. Tantangan berikutnya lebih mantap. Penerbangan 1,5 jam ke Padang. Istoyama mau paskahan di Gereja tempat Bapaknya belajar agama.

Penerbangan ke Padang dijalankan dengan sukses. Sengaja saya pilih penerbangan pukul 06.15 karena menurut jadwal Daycare, kurang lebih 06.30 sesudah mandi, Istoyama akan tidur dengan durasi ya 1-2 jam. Harusnya pas.

Keberangkatan sukses. Dengan demikian, Isto telah 3 kali terbang dengan pola ciamik. Tidur sejak take-off dan baru menggeliat saat landing. Saya cukup bangga dengan kemampuannya beradaptasi pada perjalanan.

Singkat kata, perjalanan pulang dilakoni dengan naik travel AWR bayar 3 seat. Karena pukul 5 pagi, jadi si bayi ini statusnya juga masih lelap. Ibarat berangkat ke Daycare saja jadinya. Tapi naik mobilnya 2 jam. Continue reading

Danau Linow, Tempat Nongkrong Zaman Now

Danau LinowTempatNongkrongZaman Now

Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada posisi tidak bisa menolak, juga pada posisi tiba-tiba bersua tempat-tempat baru. Ya begitulah kisah saya bisa nyasar sampai Danau Linow ini.

Perjalanan ke Danau Linow sebenarnya beberapa jam lebih awal daripada kisah Tunan. Hanya karena Tunan terlalu sayang untuk ditunda kisah dan keindahannya, makanya Linow harus rela ditaruh agak ke belakang.

Danau Linow terletak di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Tomohon diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Lokon dan Gunung Mahawu. Jelas, seperti Bukittinggi, namanya diapit gunung pasti ujungnya adalah sejuk. Kesejukannya begitu terasa karena jendela mobil dibuka, mengingat jalanannya yang naik turun bak hubungan Dilan dan Milea. Sesekali, sebelum tiba di Kota Tomohon dari Manado, kita akan melihat kebun bunga. Wajar, Tomohon punya julukan Kota Seribu Bunga.

Jarak Danau Linow dari Kota Manado kurang lebih 30 km atau sekitar 1 jam perjalanan versi teori. Di Manado yang macetnya lumayan, bisa menjelma jadi 1,5 jam. Danau Linow sendiri berada 3 km arah barat dari Kota Tomohon.

 

“Itu gunung apa, Pak? tanya kami kepada Pak Martin yang bawa mobil.
” Gunung Lokon.”
“Aktif?”
“Aktif.” Continue reading

Mengenang Mantan di Pantai Oetune

pantai_oetune_6

“Pokoknya, apik, Mas. Nggak rugi.”

Demikian salah satu rayuan gombal yang saya terima dalam kaitannya dengan pantai-pantai di sisi selatan Pulau Timor. Pria-pria zaman now memang suka terjebak urusan menggombali dan digombali. Akan tetapi, saya tentu tidak meragukannya, karena Indonesia adalah surganya pantai. Terlebih ini laut selatan, yang memang dikenal ganas. Ganas indahnya tapi juga ganas ombaknya.

Apalagi, pembangunan di NTT sudah cukup lumayan. Bahkan jika dibandingkan dengan kali pertama saya menginjakkan kaki ke NTT, tepatnya di Kota Kupang. Maka, ketika ada kesempatan untuk melihat pantai di selatan Pulau Timor, tentu saya tidak akan mengabaikannya.

Ada beberapa pantai cakep di selatan Pulau Timor. Akan tetapi, saya hanya sempat menginjakkan kaki di dua pantai saja. Dua pantai yang karakteristiknya benar-benar berbeda: Oetune dan Kolbano.

Pantai pertama yang saya kunjungi adalah Pantai Ouetune. Pantai ini terletak di Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Pantai Oetune menawarkan kombinasi hamparan pasir putih yang lembut, gelombang ombak yang pecahnya agak berbeda–mungkin karena pantai selatan–, Pohon Lontar yang berdiri dalam rentang 6 hingga 8 meter, plus padang pasir yang cukup luas untuk sekadar ambil foto Instagram. Dalam sudut pandang foto tertentu, apalagi kalau bisa menghadirkan unta kita sudah bisa berpose seolah berada di Timur Tengah. Semuanya dilindungi oleh langit yang birunya menenangkan.

pantai_oetune_2

Tidak perlu khawatir akan hujan karena NTT sendiri adalah provinsi dengan curah hujan yang rendah. Tapi khawatirlah bisa pipis dengan higienis atau tidak di pantai ini. Ah, nanti di bawah saya kisahkan. Continue reading

Bersua Air Terjun Tunan Karena Penundaan Penerbangan

Apa yang paling bikin bete dalam urusan penerbangan? Pertama-tama adalah ketika sudah ada di lobi hotel, driver sudah tiba, eh dapat SMS kalau penerbangan GA607 dari Manado ke Jakarta ditunda. Kedua, ketika kejadian nomor 1 terjadi pada tanggal merah alias hari libur. Wong penerbangan pagi itu dipilih supaya bisa menghabiskan waktu bersama Istoyama, je. Ini malah habis di jalan.

Akan tetapi, masalah sebaiknya jangan dikutuk, nanti jadi tambah masalah. Alih-alih kembali tidur dengan galau, saya kemudian memilih untuk bergerak. Kebetulan di Kota Manado ada Gereja Katedral dan ada juga ojek online. Maka, sembari googling keliru, saya memilih untuk order Gojek menuju Katedral dengan tarif hanya 6000 rupiah saja.

Saya kemudian tiba di Katedral Manado pada pukul 5.50 dan sudah bacaan pertama. Ini yang saya sebut googling keliru karena ternyata misa dimulai pada 5.40 alih-alih 6.00 sesuai hasil pencarian. Lumayan, kerja kayak gini telah bikin saya dapat merasakan misa di beberapa Katedral di Indonesia, mulai dari Surabaya, Banjarmasin, hingga Atambua. Soal Atambua ini kapan-kapan saya ceritakan.

Nah, kadung sudah di Manado, ada baiknya kita mencari-cari sesuatu yang ada di alam, tapi nggak jauh-jauh dari bandara agar tidak terburu-buru nantinya pada saat jam penerbangan. Tadinya hasil pencarian menyebut Air Terjun Kima Atas. Akan tetapi, Pak Martin, driver kami, justru mengarahkan ke tempat lain sembari bilang, “Kayaknya di dekat sini ada….” Continue reading

Lost in Bangka (10): Danau Kaolin

LOSTINBANGKA_DANAUKAOLIN

Pasca mengunjungi Pantai Pasir Padi dan Kelenteng Dewi Laut, akhirnya rombongan pengelana tiada tara beranjak ke selatan. Bagian ini penting karena dari kemarin-kemarin kami main ke utara tepatnya ke Sungai Liat. Satu-satunya perjalanan ke selatan ini adalah destinasi pamungkas yang juga merupakan salah satu alasan perjalanan ke Bangka ini digagas.

Danau Kaolin saat kami berkunjung, baru terkenal kurang lebih setahun. Kalau sekarang, berarti sudah 2 tahun. Kalau tahun depan, tiga tahun. Gitu. Angkat nama di akhir 2015, grup FPL Ngalor Ngidul kemudian ramai kala Tintus dalam perjalannya nganvas ke Koba, memposting foto di lokasi yang katanya mirip dengan danau di Islandia. Dengan air nan biru jernih serta hijau jernih begitu, memang menjadi hal paling beda dan jelas menarik siapapun untuk berkunjung. Sejak saat itu, kunjungan ke Bangka yang wajib menyertakan Danau Kaolin sebagai destinasi mulai digagas hingga pada akhirnya terpenuhi pada Oktober 2016 itu.

IMG-20161024-WA0019

Rian Chocho Chiko dan istri

Hey? Oktober 2016? Sekarang November 2017? Ini nulis apa merenung, kok lama bener?

BERISIK! Namanya pegawengeri itu sibuk, kak.

Danau Kaolin ini dikenal sebagai Camoi Aek Biru dan berada di Desa Air Bara, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Pangkal Pinang. Menggunakan mobil dan driver lokal yang terkenal sejak kuliah suka lupa jalan, pada akhirnya kami hanya butuh 1 jam lebih sedikit untuk tiba di lokasi. Dari Pangkal Pinang hingga menuju tikungan terakhir ke lokasi sih mulus-lus-lus.

Continue reading