Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

Menikmati 5 Santapan Khas Makassar

Jpeg

Setelah 3 kali mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin namun tidak turun dari pesawat–karena memang pesawatnya transit dari Kendari dan dari/ke Jayapura–akhirnya saya mendapat kesempatan untuk benar-benar mendarat dan menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan. Lumayan, sesudah kaki sisi Tenggara dan kepala, saya bisa juga berada di kaki sisi Selatan dari celebes. Wow!

photogrid_1454738199551.jpg

Dalam waktu nan singkat, memang sulit untuk menikmati suatu kota. Begitu, sih, pengalaman saya. Namun bagaimanapun, namanya lagi perjalanan kiranya rugi jika tidak menikmati santapan khas suatu kota. Termasuk ketika saya berada di Makassar, tentunya ada niatan untuk menikmati setiap kunyahan khas Makassar, meskipun sesudah makan terus mikir kira-kira berapa nilai kolesterol dalam darah. Heu. So, ini dia output kunjungan singkat saya ke Makassar, 5 santapan saja, kakak.

Klik untuk membaca selengkapnya!

Jadi Konsumen Cerdas Dengan Aplikasi Cek BPOM

bepepom

Satu hal yang meresahkan saya belakangan ini–selain dari populasi jomlo yang meningkat–adalah berseliwerannya share-share-an di Facebook. Share yang dilakukan dari website dengan nama merangsang semacam ‘bagikanlah.net’ atau ‘sakkarepmulah.com’ ini ditunjang dengan judul nan semlohai pula, seperti ‘Terungkap! Babi Ternyata Haram! Sebarkan Jika Peduli!’. Dan yang paling bikin gemas adalah share-share-an itu kebanyakan tentang obat dan makanan, dan bagian paling mengenaskan adalah sebagian besar HOAX.

Persepsi saya masih sama seperti ketika saya menulis tentang hoax PPA. Dengan linimasa dan menggila seperti sekarang, saya sungguh merasa perlu agar otak bisa dicuil dan ditaruh sedikit di jempol. Biar orang yang nge-share itu sebelum bertindak mikir dulu. Soalnya, ada nih, kakak kelas dulunya pintar bin asisten–namanya kakak kelas berarti ya apoteker, bukan arsitek, soalnya saya anak farmasi–ketika nge-share sesuatu dan saya bilang hoax, malah nesu-nesu. Njuk aku kudu piye? Aku kudu sayang-sayang Hayati? Nanti Hayati lelah. Heu.

Untunglah, regulator tentang obat dan makanan di Indonesia lumayan MULAI responsif. Maklum, tahun 2014 awal saja ketika Twitter lagi galak-galaknya, regulator bernama Badan POM itu bahkan belum punya akun untuk bercuit ria. Untungnya sekarang sudah ada. Salah satu inovasi yang dibuat oleh Badan POM–yang sering kali dengan semena-mena disebut sebagai BPPOM itu–adalah aplikasi Android! Soal BPPOM ini kesalahsebutannya masif dan terstruktur. Pernah lihat gedung MLM di bilangan Gatot Subroto? Itu kan ada layarnya, dan tertulis bahwa produknya sudah terdaftar di BBPOM. Beuh!

Kembali ke topik. Untuk apa, sih, aplikasi Android?

Selengkapnya tentang Cek BPOM!

Belajar Korupsi di Perpustakaan KPK

Belajar Korupsi

Perpustakaan. Beuh. Waktu SD, saya pernah mengalami masa doyan ke perpustakaan karena tempatnya luas dan menawan. Bukan mau baca, cuma mau guling-guling menunggu Mamak pulang kerja. Kala SMP, agak malas karena perpustakaannya ada di pojokan nan sepi. Hiii. Namun saya mulai suka pinjam buku, termasuk buku tentang musibah Tampomas dan heroik itu. Saat SMA? Ini dia. Saya rajin ke perpustakaan. Meminjam dan membaca buku memang iya, namun tujuan yang lebih utama adalah berebut membaca Bola dan Hai terbaru, karena kalau sudah delay 1-2 hari, maka wajah mbak-mbak kece di Majalah Hai sudah tinggal kenangan. Bolong, kak. Tujuan lainnya ya tidak lebih tidak kurang adalah karena nggak punya duit buat jajan di kantin.

photogrid_1453820853167.jpgKetika masuk ke perguruan tinggi, perpustakaan buat saya adalah peraduan kedua. Tenang, masih bukan urusan belajar. Perpustakaan adalah tempat saya kabur dari rumah tempat numpang untuk waktu yang cukup lama–cerita suram masa lalu saya yang bisa dibaca di buku OOM ALFA yang lagi diskon gede-gedean. Selain itu, perpustakaan juga jadi tempat mengetik, karena saya belum punya komputer sendiri. Dan terakhir, perpustakaan adalah tempat melihat gebetan dari jauh, karena dari jendela perpustakaan tampak lorong cinta nan keji itu. Tsah.

Meskipun kini saya juga punya kartu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang letaknya nggak jauh-jauh amat dari kos, tapi perpustakaan tidaklah menjadi bagian integral dalam diri saya, seperti halnya barisan para mantan. Lah. Maka, ketika dalam proses mencari bahan untuk sebuah project, bisa terpikir untuk mencari bahan ke perpustakaan malah bikin saya bingung sendiri. Kok iso kepikiran. Mungkin belum move on.

Selengkapnya baca disini!

5 Tips Agar Asyik Mengunjungi Museum De Arca dan De Mata Yogyakarta

Sesudah berhasil bergratisan ria di depan museum Trick Eye, Singapura, saya mencoba menemukan tempat agar saya bisa berfoto di tempat yang trick eye beneran dengan harga yang sesuai dengan kantong kering calon manten. Nah, sambil membajak mahasiswa-jomlo-nan-kerap-terjebak-friendzone yang belum masuk kuliah, saya akhirnya bisa berkunjung ke Museum De Mata, Yogyakarta. Sehingga, setidaknya saya bisa berpose macam begini:

photogrid_1452615781186.jpgSebagai bonus, saya juga berkunjung ke museum ala-ala Madame Tussaud yang bernama De Arca. Lokasinya satu kompleks dengan De Mata, di dalam kompleks XT Square, Yogyakarta. Jadi saya bisa lihat bagaimana Dalai Lama melirik Bunda Teresa dan Mahatma Gandhi.

photogrid_1452673370232.jpgDengan tempat yang menurut saya bahkan lebih lebar daripada Trick Eye Singapura, kedua museum unik di Yogyakarta ini adalah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Namun, akan lebih afdol kiranya jika sebelum berkunjung, kita memperhatikan gambar ini:

wp-1452722246427.jpegEh, maksud saya memperhatikan beberapa tips dari OOM ALFA berikut. Bukan apa-apa, ini hasil evaluasi saya sesudah kembali dari foto-foto-gila di De Arca dan De Mata. Semoga membantu, yha!

1. Datang Pada Hari dan Jam Kerja
Mengacu pada website kedua museum ini, harga tiketnya adalah 75 ribu untuk paket dua museum. Kalau satu museum, di De Arca 50 ribu, De Mata 40 ribu. Well, sebuah opsi menarik, kan, jika kita datang di jam kerja–atau sering disebut Happy Hour. Kemaren ketika saya ke De Mata, tiket masuknya 60 ribu BERDUA, dan ke De Arca 70 ribu BERDUA juga. Sebuah bilangan harga yang menarik untuk kesempatan berfoto di titik-titik yang cukup cantik dan menarik untuk di-socmed-kan.

wp-1452722229105.jpegKapan lagi dengan harga 35 ribu bisa berfoto sama patungnya Pak Presiden yang anaknya jualan martabak itu?

Selengkapnya!

6 Kegiatan Gratisan di Sekitar Universal Studio Singapore

Bahwasanya tidak ada yang gratis di dunia ini. Kalau di Indonesia, pipis mbayar. Kalau di Singapura, ngeludah itu mbayar. Sungguhpun sekarang ini untuk sekadar berekskresi belaka, ternyata bukan hal yang mudah. Namun demikian, bagi manusia yang hendak berwisata (tapi) kere di Singapura, kita tetap bisa melakoni kegiatan yang gratisan namun menyenangkan di sekitar Universal Studio Singapore. Jadi, tanpa perlu mengeluarkan uang tujuh puluhan dollar Singapura untuk masuk ke Universal Studio, kita sudah bisa menahbiskan diri jadi wisatawan gratisan.

mtf_kvfaz_317.jpg.jpg

Jadi, cukup dengan mengeluarkan duit 4 dollar Singapura, alias kurang lebih 40 ribu rupiah, kita sudah dapat naik Monorel dari Vivo Mall ke Sentosa Island. Di perhentian pertama, kita berhenti dan mbak-mbak kece sudah ada di pintu Monorel untuk mengarahkan kita sampai ke DEPAN Universal Studio. Mestinya sih masuk ke dalam Universal Studio, seperti yang dituliskan sama Om Roy Saputra di postingan paling populer di blognya. Nah, bagi yang belum mampu, ini dia enam kegiatan gratisan yang dapat kita lakukan di sekitar Universal Studio Singapore bersama OOM ALFA.

1. Menikmati Perjalanan Monorail
Okelah, ini tidak gratis karena kita bayar 4 dollar Singapura. Namun, 4 dollar ini berlaku sepuas kita mau bolak balik Monorail Sentosa Island sesuka kita. Ada tiga stasiun destinasi kalau kita berangkat dari Vivo Mall, yang akan dilewati oleh Monorail berwarna-warni kece itu. Tidak lama, makanya kalau memang belum puas ya bablaskan saja bolak-balik suka-suka, niscaya 4 dollar Singapura akan terasa gratis.

2. Berfoto Dengan Bola Dunia khas Universal Studio
Ini mau Mamak-Mamak-Naik-Metik sampai cabe-cabean juga pasti akan mencari spot satu ini. Bola besar dengan tulisan UNIVERSAL yang selalu berputar pelan itu adalah titik foto paling happening dan selalu kekinian. Mamak saya saja sudah duluan berfoto di tempat itu. Lokasinya persis di depan pintu masuk Universal Studio. Cukup lapang untuk berfoto, namun perlu usaha, kerja keras, dan doa untuk mendapatkan posisi foto yang clear dari sesama manusia. Sekali lagi, itu karena animo yang luar biasa dari para pengunjung–yang sebagian adalah turis gratisan kayak saya.

Selengkapnya, klik disini!

Berhari Minggu di Blok B

Salah satu Dekenat yang paling menarik untuk disudahi dalam #KelilingKAJ karena cakupannya yang singkat dan sangat kota adalah Paroki Blok B. Kenapa? Tentu saja karena posisinya yang lumayan dekat dengan Blok M. Jangan lupa, di Blok M kita dapat menemukan tas, ikat pinggang, dompet, copet, hingga banyak bus kota baik yang mapan maupun yang zombie. Untuk mencapai Gereja Blok B ini, cukup turun dengan kendaraan apapun di Terminal Blok M dan lantas berjalan menembus proyek MRT. Nanti begitu ketemu perempatan belok kanan saja ke arah Taman Ayodya. Nah, lokasi Gereja dapat dilihat dengan mudah disitu. Jalan kaki nggak capek-capek amat kok, lebih lelah menjomblo. #eh

Sama halnya dengan Gereja Santa alias Blok Q, Paroki Blok B ini dibawah asuhan Jesuit. Ya, sebagian Gereja di Jakarta juga dulunya Jesuit, namun dilepas satu-satu ke Diosesan KAJ. Menyisakan beberapa saja yang masih dipegang sendiri sama SJ.

Dari sisi sejarah, sebelum tahun 1950, banyak pegawai gubernemen dan pegawai perusahaan yang ada ketika masa penjajahan Belanda yang tinggal di daerah Kebayoran Baru dengan rumah-rumah permanen. Termasuk juga diantaranya pegawai-pegawai negeri seperti Bapak B.S.Poedjosoekarto, Bapak J. Mardiwarsito, Bapak Soemarno, hingga Bapak Bikis Hadiatmodjo. Perkumpulan orang-orang seiman itu memulai misa kudus pertama tanggal 29 Oktober 1950 pada Hari Raya Kristus Raja dengan dipimpin oleh Pastor J. Awick SJ. Tempatnya? Rumah keluarga Bapak P. Hofland. Ini dia yang menjadi cikal bakal adanya Gereja Katolik di sekitar Kebayoran Baru. Tidak lama kemudian, tanggal 25 Januari 1951 sudah dimulai pencatatan buku baptis perdana. Yakni, (Bapak) Horbert, anak dari Walterus Bernardus van Ginneken. Johanna Antonia Maria Engelbregt. Yang membaptis juga Pastor Awick SJ. Adapun paroki Santo Yohanes Penginjil sendiri diresmikan satu tahun berikutnya, tepatnya 2 Maret 1952. Jadi Gereja Blok B ini tidak termasuk generasi gereja perdana, pun tidak masuk ramai-ramai di era Mgr. Leo namun termasuk jaman yang kalau saya sebut sebagai era antara.

Selengkapnyah klik disinih!

Cerita Dari Theresia

Sebenarnya dalam periode perjalanan #KelilingKAJ, Gereja ini termasuk sering saya datangi. Cuma karena dekat dengan bakal kesini-sini lagi juga, kok mulai malas menuliskan, bahkan mengambil foto juga malas. Ini juga kalau Keuskupan Agung Jakarta kagak mendung pekat, saya juga nggak buka laptop dan menulis tentang #KelilingKAJ ke Gereja Theresia ini.

Yes, Gereja di bawah lindungan Santa Theresia ini merupakan salah satu generasi Gereja Katolik pertama di Jakarta. Terletak tidak jauh dari jalan protokol, Thamrin, dan bisa dijangkau dengan TransJakarta, cukup turun di Halte Sarinah lantas berjalan melalui Sarinah ke belakang. Gereja ini ditemukan di sebelah kanan. Kalau lagi jam misa, lebih gampang lagi. Cari saja yang parkiran mobilnya mewah-mewah dua lapis. Ehehe.

Selengkapnya!

[Seri Audit Intern] Pengertian Risiko

Percayalah, di dunia birokrasi nan heroik itu, masih banyak orang yang nggak ngerti arti risiko. Lebih parah lagi ketika ada auditor intern yang tiada mengerti makna risiko. Ini paling gaswat, segaswat kedatangan mantan pada nikahan. Kenapa? Ya, bagaimana mungkin mau memberi saran perbaikan maupun saran pengendalian kalau perihal yang dikendalikan saja tiada paham?

Woke, lanjut materi. Sejatinya banyak definisi para ahli mengenai risiko, semua tergantung disiplin keilmuan dan lingkup keahlian. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 bilang bahwa risiko adalah suatu kejadian yang mungkin terjadi dan apabila terjadi akan memberikan dampak negatif pada pencapaian tujuan instansi pemerintah. Jadi kalau buat jawab pilihan ganda gampang sekali, begitu tidak ada kata-kata instansi pemerintah berarti salah. Ini tips jujur, ya, bukan kayak ada gitu instansi anu yang pas mau ujian auditor ngebooking seluruh bangku di belakang dan bisik-bisik sepanjang ujian. Auditor kok nyontek, gimana kita mau percaya sama hasil auditnya? HUAHAHAHAHAHA.

Selengkapnya!

[Seri Audit Intern] Manfaat Komunikasi Dalam Audit Intern

Halo kawan-kawan pembaca setia ariesadhar.com yang hobinya galau. Melalui posting ini, pertama-tama saya mohon maaf dan numpang lewat bahwa kemungkinan beberapa posting ke depan akan ada judul khusus [Seri Audit Intern]. Jadi kalau sementara cari-cari tentang keliling Keuskupan Agung Jakarta, tentang LDR, dan tentang jodoh bisa tengok-tengok sedikit di posting lawas. Ehehehe. Kenapa seri ini muncul, sebenarnya semata-mata karena ada sedikit kepentingan dan mempercepat hafalan. Heuheuheu.

Bicara audit, di blog ini sudah ada beberapa jenis tulisan tentang audit. Mulai dari yang tentang audit beneran, sampai kajian audit terhadap pasangan yang diduga selingkuh. Jadi sebenarnya nggak asing-asing benar, kok. So, mari kita mulai saja. Selak malam minggu.

InternalAudit

Komunikasi dimaknai sebagai pengiriman dan penerimaan berita antara dua orang, atau lebih, dengan cara yang tepat sehingga sesuatu yang dimaksudkan berhasil dipahami. Tidak hanya kepada kekasih maupun mantan terindah, komunikasi juga merupakan bagian integral dari sesuatu yang kita kenal sebagai audit intern. Entah itu perencanaan, pasti hasil komunikasi. Pelaksaan tentu juga iya. Menurut ngana, kalau auditor ujug-ujug nongol di ruang meeting terus kemudian minta mengaudit, terus bisa, gitu? Bisa, sih. Bisa gila. Jadi, dengan adanya komunikasi yang baik, nantinya akan diperoleh bukti audit yang cukup dan valid dan pada akhirnya bermuara pada simpulan audit yang menawan.

Nah, menurut buki sakti berwarna kuning dari BPKP, sekurang-kurangnya ada empat manfaat komunikasi dalam audit intern, yaitu:

Memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam pengujian audit

Yang namanya audit itu dipandang sebagai proses pengumpulan dan pengujian informasi untuk menghasilkan simpulan dan rekomendasi. Seperti dijelaskan dalam pembahasan perihal kajian audit terhadap pasangan yang diduga selingkuh, rekomendasi itu bisa putus atau lanjut dengan sakit hati. Nah, dalam proses audit yang beneran, pemilik data dan informasi adalah auditan. Kalau data yang diperoleh tidak memadai, tentu saja audit tidak akan mencapai hal yang memuaskan. Mungkin malah memuakkan.

Selengkapnya!

Segi Lima di Tebet

Bulan baru dan status baru, serta tentu saja tagihan baru blog ini. Heu. Maka, ada baiknya jika saya mulai melunasi hutang untuk misi yang ternyata tidak mudah bernama #KelilingKAJ. Sesudah menggunakan si BG untuk #KelilingKAJ ke Paskalis, Danau Sunter, dan Pejompongan, maka saya menggunakan teknologi baru untuk berkeliling. Teknologi bernama Go-Jek. Heuheu. Target #KelilingKAJ kali ini adalah salah satu Dekenat Selatan yakni Paroki Fransiskus Asisi Tebet.

Untuk menuju Gereja Katolik di kawasan Tebet ini, patokan paling mudah adalah Hotel Pop! Tebet. Berhubung satu kompleks dengan sekolah Asisi, Gerejanya tidak di pinggir jalan besar, melainkan di jalan kecil perumahan. Saya masuk melalui seberang Hotel Pop!, menyusuri jalan sesuai penunjuk arah panah ke sekolah. Masuk ke dalam kompleks sekolah Asisi kemudian melintas sekolah Asisi hingga ke ujung untuk kemudian menemukan sebuah bangunan yang tidak besar. Itulah Gereja Fransiskus Asisi Tebet.

Selengkapnya!