Menikmati 5 Santapan Khas Makassar

Jpeg

Setelah 3 kali mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin namun tidak turun dari pesawat–karena memang pesawatnya transit dari Kendari dan dari/ke Jayapura–akhirnya saya mendapat kesempatan untuk benar-benar mendarat dan menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan. Lumayan, sesudah kaki sisi Tenggara dan kepala, saya bisa juga berada di kaki sisi Selatan dari celebes. Wow!

photogrid_1454738199551.jpg

Dalam waktu nan singkat, memang sulit untuk menikmati suatu kota. Begitu, sih, pengalaman saya. Namun bagaimanapun, namanya lagi perjalanan kiranya rugi jika tidak menikmati santapan khas suatu kota. Termasuk ketika saya berada di Makassar, tentunya ada niatan untuk menikmati setiap kunyahan khas Makassar, meskipun sesudah makan terus mikir kira-kira berapa nilai kolesterol dalam darah. Heu. So, ini dia output kunjungan singkat saya ke Makassar, 5 santapan saja, kakak.

Bakso Ati Raja

Sungguhpun bakso bukan makanan kesukaan saya, tapi nama Bakso Ati Raja tentu tidak bisa dikesampingkan untuk dicicipi ketika berada di Makassar. Porsi baksonya sih terbilang kecil, namun akan menjadi banyak begitu bakso gorengnya keluar, plus buka deh burasnya kalau memang masih kelaparan. Sungguh, rasanya juara. Apalagi waktu saya ke Bakso Ati Raja, langsung hujan deras sekali.

Menurut Makassar Guide, Bakso Ati Raja ini adalah kesialan berbuah manis. Alkisah adonan daging giling halus dan tepung kanji tanpa sengaja ketumpahan daun bawang untuk kuah bakso. Karena eman-eman, adonan itu digoreng dan jadilah bakso goreng khas Ati Raja.

Konro Karebosi

Konro adalah konro, dan konro sudah seakan menjadi panganan jamak di Indonesia. Di Kendari maupun di Jayapura, saya juga makan konro. Eh, jangankan itu, di Jakarta saya juga makan panganan yang sama. Lagi-lagi, mumpung di Makassar, tentu tiada afdol jika tidak mencicipi salah satu makanan idola ini. Ya, walaupun di Kelapa Gading juga ada.

Konro bakar yang adalah iga sapi yang dibakar ini kurang lebih tiga potong setiap porsinya. Tidak alot, layaknya iga bakar mahal yang saya beli di suatu restoran di Jakarta. Ditambah dengan kuahnya yang khas, maka segeralah saya lupa sama kolesterol. Sesudah makan baru ingat, ya namanya juga manusia.

photogrid_1454596904439.jpg

Konro Karebosi sendiri terletak tentu saja di dekat lapangan Stamford Bridge Karebosi, dan kira-kira sudah dirintis sejak akhir tahun 1960-an oleh Haji Hanaping bersama sembilan anaknya. Dan sekarang menjelma menjadi tempat makan yang bikin konsumen harus plirak-plirik untuk mendapatkan tempat duduk.

Coto Gagak

Di Jakarta, santapan bernama Coto Makassar bukan hal sulit untuk didapatkan. Namun kalau memang sedang di Makassar, menyantap Coto yang direkomendasi tentu menjadi hal yang kudu dilakukan, bahkan saya sampai melewatkan sunset di Pantai Losari untuk menikmati makanan ini. Masih daging, dan masih saja kolesterol.

photogrid_1454737958898.jpg

Tenang, kalau lihat gambarnya, itu masih belum pakai daun bawang sama bawang goreng makanya plain begitu. Dan meskipun namanya Gagak, tenang juga, kita nggak lagi makan daging gagak. Ini asli sebenar-benarnya sapi. Menurut teman kantor yang menemani, pemilik Coto Gagak ini tidak lulus SD tapi bisa sukses sebegitunya. Dan mungkin hal ini disayangkan sama pembenci Presiden, karena di lokasi Coto Gagak ini, ada foto si empunya Coto Gagak dengan Pak Jokowi. Jadi, mungkin, kalau Coto Gagak ini enak, itu karena salah Jokowi. #eh

Pisang Epe

Kurang lebihnya, pengolahan pisang epe ini sama persis dengan pisang kapik kalau di Padang. Hanya beda sedikit di kegepengan pisang. Ya, pisang epe ini adalah pisang raja yang dibakar lalu dipenyet sampai ketebalan tertentu kemudian ditambahi toping-toping aneka rasa.

Untuk menikmati pisang epe nggak perlu bingung. Mungkin dalam sekejap pandangan mata di Makassar, kita bisa menemukan penjual pisang epe. Apalagi di sekitar Pantai Losari, itu sederet jalan pedagang pisang epe semua. Menunya, ya sama semua.

photogrid_1454597125539.jpg

Saya sendiri memesan pisang epe keju coklat. Begitu pertama datang, saya bingung karena pisangnya benar-benar ketutup coklat sama keju. Begitu disingkirkan baru ketemu bentuk dan tekstur pisang epe yang sebenarnya. Karena lebih tebal dari pisang kapik, maka lebih mantap jika makannya pakai sendok, sekalian mendulang toping-topingnya.

Cuma saya heran, bagaimanapun mungkin sekian banyak pedagang pisang epe berada di tempat yang sama dan menjual komoditi yang sama persis? Pakar marketing dengan teori diferensiasinya mungkin akan bingung. Hehe. Kalau boleh usul, adakanlah pisang epe premium, dengan toping toblerone dan sejenisnya.

Jalangkote

Begitu disuguhi panganan bernama jalangkote ini, saya langsung komen, “ini kan pastel?”. Bagaimanapun bentuknya ya pentuk kue pastel yang sering ada di kotak-kotak konsumsi rapat untuk menghabiskan anggaran di berbagai lembaga negara.

Namun setelah dilihat-lihat, jalangkote ini lebih besar dan setelah dicicipi, ternyata muatannya banyak juga. Ada wortel, kentang, toge, dan laksa, serta ada bumbu-bumbu sejenis bawang merah dan bawang putih dalam adonannya. Pas yang saya cicip juga ada telur rebus dan daging cincang. Memakannya pun memakai sambal cair yang adalah campuran dari cuka dan cabe, bukan pakai rawit maupun saos ala pastel Ma’cik yang kesohor itu.

Yes, saya yakin banyak santapan khas Makassar yang belum saya coba. Ada mie titi alias mie kering, tapi itu saya coba di hotel sebagai breakfast. Jadi, siapa tahu saya bisa dapat kesempatan ke Makassar lagi untuk waktu yang cukup guna menikmati kekayaan kuliner di bumi Makassar dan melupakan ihwal kolesterol.

Ciao!

19 thoughts on “Menikmati 5 Santapan Khas Makassar

  1. Kenapa posting soal makanan enak jam segini? Biar apa? *cacing di perut bangun lagi*

    Itu baso gorengnya dicocol ke sambel enak kali yak? Nampak garing di luar, empuk di dalem. Halah.. Sambil makan iga 😂

    *ga sabar nunggu pedagang makanan buka besok pagi*

    Like

  2. Pingback: Sedapnya Mi Aceh di Bendungan Hilir | ariesadhar.com

  3. Pingback: 5 Tempat Makan Dengan Sajian Berkuah di BSD | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s