[Seri Audit Intern] Manfaat Komunikasi Dalam Audit Intern

Halo kawan-kawan pembaca setia ariesadhar.com yang hobinya galau. Melalui posting ini, pertama-tama saya mohon maaf dan numpang lewat bahwa kemungkinan beberapa posting ke depan akan ada judul khusus [Seri Audit Intern]. Jadi kalau sementara cari-cari tentang keliling Keuskupan Agung Jakarta, tentang LDR, dan tentang jodoh bisa tengok-tengok sedikit di posting lawas. Ehehehe. Kenapa seri ini muncul, sebenarnya semata-mata karena ada sedikit kepentingan dan mempercepat hafalan. Heuheuheu.

Bicara audit, di blog ini sudah ada beberapa jenis tulisan tentang audit. Mulai dari yang tentang audit beneran, sampai kajian audit terhadap pasangan yang diduga selingkuh. Jadi sebenarnya nggak asing-asing benar, kok. So, mari kita mulai saja. Selak malam minggu.

InternalAudit

Komunikasi dimaknai sebagai pengiriman dan penerimaan berita antara dua orang, atau lebih, dengan cara yang tepat sehingga sesuatu yang dimaksudkan berhasil dipahami. Tidak hanya kepada kekasih maupun mantan terindah, komunikasi juga merupakan bagian integral dari sesuatu yang kita kenal sebagai audit intern. Entah itu perencanaan, pasti hasil komunikasi. Pelaksaan tentu juga iya. Menurut ngana, kalau auditor ujug-ujug nongol di ruang meeting terus kemudian minta mengaudit, terus bisa, gitu? Bisa, sih. Bisa gila. Jadi, dengan adanya komunikasi yang baik, nantinya akan diperoleh bukti audit yang cukup dan valid dan pada akhirnya bermuara pada simpulan audit yang menawan.

Nah, menurut buki sakti berwarna kuning dari BPKP, sekurang-kurangnya ada empat manfaat komunikasi dalam audit intern, yaitu:

Memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam pengujian audit

Yang namanya audit itu dipandang sebagai proses pengumpulan dan pengujian informasi untuk menghasilkan simpulan dan rekomendasi. Seperti dijelaskan dalam pembahasan perihal kajian audit terhadap pasangan yang diduga selingkuh, rekomendasi itu bisa putus atau lanjut dengan sakit hati. Nah, dalam proses audit yang beneran, pemilik data dan informasi adalah auditan. Kalau data yang diperoleh tidak memadai, tentu saja audit tidak akan mencapai hal yang memuaskan. Mungkin malah memuakkan.

Meningkatkan mutu audit

Seperti halnya pacaran tanpa WhatsApp-an dan berteleponan yang dapat menyebabkan mutu berkasih-kasihan menjadi kurang, demikian pula dengan audit intern. Ketika aktivitas-aktivitas dasar dalam audit–seperti pengumpulan informasi, pengujian, dan penyampaian hasil audit–dapat berjalan lancar, maka konsentrasi tim audit dapat diarahkan pada usah-usaha untuk meningkatkan mutu audit. Kalau komunikasi bagus, maka informasi-informasi yang dibutuhkan untuk audit bisa tersedia dengan cepat, maka tim audit dapat berkonsentrasi penuh untuk memilih proses analisis yang lebih tepat, bukan malah main Duel Otak atau PES karena data untuk audit tidak tersedia.

Mengendalikan dan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan tim audit

Namanya audit itu pasti dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari individu-individu. Hanya audit dalam kajian selingkuh yang tadi itu yang bisa sendirian. Heuheu. Komunikasi yang baik di dalam tim audit, tentu akan membuat interaksi individu dan rangkaian aktivitas dalam audit bisa berjalan dengan lancar seperti halnya baru jadian. Masalah-masalah dapat diselesaikan bersama pacar baru sehingga hambatan dalam proses audit bisa diminimalkan. Jadi nggak ada kisahnya ada yang bete-betean dalam satu tim. Itu tim audit apa ababil galau?

Memperbaiki citra auditor internal

Auditor itu apa? Selama ini, auditor itu makhluk jadi-jadian yang disambut dengan senyum, kalau perlu diservis sebaik-baiknya, tapi pada saat yang bersamaan dijelek-jelekkan di grup WhatsApp kantor. Di depan auditor senyam-senyum, di belakang ngadu pakai bumbu ke bos. Wisbiyasa. Itu mungkin karena pencitraan auditor sebagai sosok yang tidak ramah, sibuk sendiri, malah sampai sewenang-wenang. Auditan yang punya gambaran citra keliru tentang auditor pastinya akan cenderung tertutup, tidak mau bekerjasama, bahkan berpikiran untuk menghambat pekerjaan auditor. Nah, adanya ketrampilan komunikasi antar pribadi, diharapkan citra itu dapat dikurangi dan terbangunlah citra auditor yang baru, yang memposisikan auditan sebagai mitra dalam pelaksanaan auditnya.

Kira-kira demikian faedah komunikasi yang baik dalam melaksanakan audit. Makanya, auditor mah bukan sekadar manusia hobi jalan-jalan, tapi punya konteks kerja nan tiada kalah mulia. Yang kurang mulia mungkin manusia yang berkehendak memindahkan orang yang bersemangat jadi auditor ke posisi lain. Heuheuheu.

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s