Paingan: Metamorfosa Penuh Memori

Pagi-pagi, habis mandi. Seharusnya sih segar, tapi layaknya karyawan lain pada umumnya, even itu yang levelnya bos sekalipun, pasti ada rasa jenuh. Sebuah rasa abstrak yang terenkripsi menjadi malas. Ya, intinya pagi itu aku malas. Kalau pagi-pagi lainnya sih rajin.

Di pagi yang belum jam kerja ini tiba-tiba handphone-ku bergetar. Sejak kejadian ringtone ‘Hujan Nggak Ada Ojek’ Cinta Laura yang membahana hanya tiga meter di belakang Manager QA paling galak se-Cimanggis, aku nggak berani menyalakan fungsi bersuara. Ini semacam miris, tapi ini lebih baik daripada kejadian bodoh itu terulang lagi.

Telepon dari orang HRD! Haduh, sepagi ini, yang nelpon HR pula!

“Halo?”

“Pak, sory ganggu.”

“Gitu tau ganggu.”

“Hehe. Cuma mau tanya, kampus lu sebelah mana Pak?”

“Lu di Jogja?”

“Iye, rekrutmen. Dimana? Ini supir taksi kagak ngerti Paingan.”

“Supir taksi baru kali tuh.”

“Ancer-ancernya deh.”

“Lu dimana?”

“Jalan Diponegoro. Amaris.”

Dan di pagi itu, seorang eksekutif muda wanna be dalam posisi hanya berlapis handuk, memegang telepon dari HRD, dalam rangka menjelaskan sebuah tempat yang jaraknya 12 jam dari tempatnya berada. Itulah aku.

“Jadi ntar suruh sampe ring road utara dulu. Terus suruh kea rah bandara. Kalau ketemu ruko-ruko gede namanya Case Grande, ntar belok kiri. Ada plangnya merah.”

“Ribet yak?”

“Haduh. Kalo nggak bilang aja, deket stadion Maguwoharjo. Stadion Sleman yang baru.”

Perkara stadion ini kadang bikin ngehek. Ketika aku menginjak Paingan untuk pertama kali, tertulis dengan mantap di pintu proyek ‘200 Hari Lagi’. Kemudian? Bahkan stadion ini baru dicat waktu aku semester tua. Yah, itulah Indonesia.

“Gitu ya Pak?”

“Kalo nggak ngerti dua-duanya. Berarti itu supir suruh resign aja jadi supir.”

“Hoho. Sip Pak. Makasih yo.”

“Siap.”

Telepon ditutup, giliran handuk dibuka. Sebuah kegiatan wajib di kamar yang tiada boleh diceritakan dengan gamblang. Bukan apa-apa, karena memang tidak akan mengundang nafsu, adanya malah jijik. Sepertinya sih.

Sebuah pertanyaan di pagi malas membuatku terbawa kembali ke masa silam. Ke sebuah tempat bernama Paingan. Lengkapnya, Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman.

 * * *

Aku tahu Paingan itu beberapa hari sesudah aku diterima di Fakultas Farmasi. Universitas mana? Ini adalah universitas yang cukup ternama. Sebutlah itu Universitas Sanata Dharma, institusi yang sama persis dengan yang dipilih Bapak untuk menimba puluhan tahun silam sehingga lantas Bapak menamaiku dengan nama yang sama persis.

Percayalah, menyandang beban nama universitas itu beban paling berat sepanjang hidup. Untunglah nama yang aku sandang adalah tempat dengan reputasi baik dan—setidaknya sampai aku lulus—humanis.

Di Minggu pagi yang risau, aku melajukan sebuah odong-odong merah bernama Alfa ke sebuah tempat bernama Paingan. Ini semacam miris karena aku sudah tiga tahun tinggal di Jogja, dan Paingan itu tidak sampai 7 kilometer dari tempatku tinggal, dan aku belum pernah kesana.

Paingan adalah sebuah desa yang bahkan tidak berbatasan langsung dengan ring road utara. Kalau berjalan dari arah Condong Catur ke Bandara, di tengah-tengah akan ada plang merah merona yang menantang karena besar sekali. Itulah satu-satunya penunjuk bahwa dengan belok ke kiri akan ada tempat besar yang nantinya akan penuh kenangan bernama PAINGAN.

Asal tahu saja, aku bahkan tidak langsung menemukan kampus USD itu dalam sekali pencarian. Sampai stress putar-putar dan ketemunya Instiper hingga Pasar yang akrab disebut Pasar Stan. Itu lebih menandakan bahwa aku adalah orang yang ‘malu bertanya sesat beneran’. Aku baru menemukan kampus megah, besar, dan cukup luas itu setelah 4 kali melihat plang merah dan dua kali bertanya plus sekali beli roti. Lapar soalnya.

Anggaplah itu tadi perjuangan menemukan tempat untuk berjuang. Paingan dan kampus 3 USD kemudian menjadi tempat yang tidak terpisahkan dari dua kata: metamorfosis dan memori.

 * * *

Ketika pertama kali menginjak Paingan dan kemudian putar-putar ketika sudah jadi mahasiswa yang kuliah disana, tempat itu tidaklah maju benar. Layaknya area kampus, yang ada di sana hanya tempat fotokopi dan warung makan, serta tentu saja kos-kosan.

Ironi paling mendasar dari Paingan di tahun 2004 adalah TIDAK ADA WARNET SAMA SEKALI! Inilah yang kemudian membuat orang menyebut Paingan sebagai dusun. Secara struktur kenegaraan sih nggak salah-salah amat. Tapi secara pengucapan, sudah jelas itu sindiran.

Warnet pertama akhirnya muncul di tahun 2005 awal, namanya K@MI SAMA. Sebuah nama yang agak mengundang tanda tanya sebenarnya. Kalau koneksinya sih mengundang tanda seru. Maksudnya? Silahkan terka sendiri.

Entah berhubungan atau tidak, atau memang era itu adalah terlalu pesatnya kemajuan ekonomi, sejak munculnya warnet ini, Paingan menjadi berubah signifikan. Usaha-usaha silih berganti datang dan pergi. Usaha khas kos-kosan macam Laundry, Rental VCD, hingga Rental Komik adalah usaha-usaha yang tumbuh-mati-tumbuh-mati selain warung makan, kos-kosan, dan rental PS.

Sejak saat itu, Paingan bukanlah dusun buatku. Setidaknya kalau mau beli shampoo ada Agatha. Kalau mau rental VCD ada Star Otopia. Hendak beli nasi yang bikin kangen rumah? Sebutlah Carano. Mau laundry yang cepet? Ada Fortitu-B. Pengen cuci motor? Ada Cucian Motor Mbah Mardi. Bagian ini anggap saja promosi.

Apalagi hayo? Fotokopi? Pada masanya ada Pena Mas, lalu lanjut Alaska, Akiyama, hingga Melina yang terkenal dengan mbak-mbak yang jutek. Mau beli obat? Ada apotek juga disana. Getol main PS? Hajar ke Sakura. Atau ingin ngangkring? Capcus ke Angkringan Agung kalau begitu.

Paingan sudah memberikan support untuk hidup. Okelah kalau hendak hura-hura dikit, bisa keluar via ring road, Gejayan dan seterusnya. Ehm, bahwa aku melakukan itu hampir setiap hari. Maklum, ceritanya aktivis. Aktif mencari makanan gratis.

Paingan adalah saksi ketika anak-anak berwajah unyu ditempa menjadi pria dan wanita bergelar SARJANA. Dan kemudian meninggalkan Paingan dengan penuh haru. Metamorfosis. Anggaplah itu sama. Bagaimanapun, pria dan wanita itu tidak sekadar dibentuk oleh kampus dan lingkungan. Tapi ada latar tempat, dan itu jelas Paingan.

Meski Paingan di Google tidak banyak ditemukan, bahkan yang lebih banyak muncul adalah Paingan, Ilocos Sur, Filipina, tapi tentu tidak mengurangi nilai dari tempat yang menjadi sarana perubahan penuh sentimen itu.

Paingan memang belum cukup lama dipakai, masih belasan tahun. Jadi wajar kalau lulusan Paingan belum banyak yang mentereng. Tapi yang calon mentereng? Banyak! Ada yang jadi mandor di pabrik obat panas dalam terkemuka, ada yang jadi penunggu gudang produk multivitamin anak yang tenar, ada pula yang pegang mesin-mesin untuk pabrik-pabrik ternama di Indonesia.

Orang-orang itu hendak menjelma dan bermetamorfosis kembali menjadi lebih besar. Itu pasti. Sebuah perubahan yang pernah terjadi di tempat bernama Paingan kemudian masuk menjadi memori. Yak, 3 tahun adalah batas minimal orang ditempa di Paingan, dan sangat tidak mungkin memori selama itu hilang semua. Dalam rentang 3 hingga tahun yang tak boleh disebut, pastilah proses metamorfosis itu masuk dan meresap di memori. Buatku itu pasti.

Aku sendiri dapat tambahan nama di 2008 dan 2009 sejak menginjak Paingan pada 2004. Rentang waktu yang ada itu tentunya sangat cukup untuk membuat banyak memori di otak, apalagi untuk orang dengan level melankoli berlebihan macam aku.

Perubahan dalam wahana bernama waktu itu jelas terasa ketika kemudian aku harus membongkar poster-poster kiper di kamarku, membongkar kabel komputer, melepas semua yang tertempel di dinding, untuk pindah. Pindah dari Paingan adalah hal yang sulit, namun menjadi mudah ketika dengan gelar di belakang nama, masih nekat berkeliaran di Paingan, tanpa pekerjaan.

Bagiku, sebuah kompilasi memori pasti akan memunculkan sebuah album. Judul album itu: UKF Dolanz-Dolanz. Sebuah jejak masa muda di tempat bernama Paingan. Sebuah jejak muda yang penuh dengan cerita. Sebuah jejak belia yang tiada lekang oleh masa.

* * *

Maunya ini bakal jadi semacam Buku Anak Kos Dodol. Berhubung ini baru niat, mohon didoakan karena saya biasanya jago dalam berniat. Udah, berhenti gitu doang sih. Hehehehe…

Advertisements

6 thoughts on “Paingan: Metamorfosa Penuh Memori

  1. Tahun 1998 sampai sekitar 2004 an warnet terdekat ada di sebelah masjid samping Casa Grande (dahulu masih berupa sirkuit Pugeran), dan di Selatan Instiper. Dua-duanya berpredikat sama “Sangat Lambat Koneksi”. Wartel langganan adalah milik pak Lurah atau di Selatan perempatan Taman Cemara (semua kini sudah tutup). Belanja biasanya di warung pak Kapten (depan SD Timbulrejo/Paingan) mungkin itu minimarket pertama diikuti Agatha. Tahun 1998 dan hampir 7 tahun an kami berada di kampus Paingan yang masih lebat dengan pohon Sengon/Albiso, masih mengandalkan angkutan Tweety (Jalur 21) untuk menjenguk rumah Mrican sekedar meminta dispensasi pembayaran.

    Like

  2. Pingback: Insadha: Cerita Ospek Tanpa Kekerasan | ariesadhar.com

  3. Pingback: Belajar Korupsi di Perpustakaan KPK | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s