Gadis di Dalam Hati

“Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat….”

Aku masih menatap jauh ke awan yang menggumpal di sebelah kiriku. Kepalaku masih melekat pada jendela pesawat sekaligus menutupi hak penumpang di kursi B dan C untuk menikmati langit. Biarlah, salahnya sendiri mereka nggak cek in duluan. Aku memang selalu meminta kursi di A atau F, sehingga bisa menikmati langit, awan, dengan segala cerah dan mendungnya. Aku selalu merasa bisa memaknai betapa kecilnya aku dalam dunia ini ketika melihat itu semua.

Roda pesawat menapak mulus di bandara, sekaligus menambah koleksi bandara tempatku pernah mendarat. Aku sudah pernah mendarat di Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, hingga Gunungsitoli, tapi belum pernah di kota ini. Meski memang aku sudah pernah menjejakkan kaki di kota ini dengan moda transportasi lainnya.

Kamera DSLR-ku segera keluar dari tas tempatnya berdiam sedari tadi. Kuarahkan ke nama bandara yang baru pertama kali kujejak ini, berikut lingkungan sekitar. Ah, kamera ini, aku masih ingat seorang gadis pernah berkata, “Kak, beli kamera DSLR gih. Nanti aku rela deh jadi modelnya.”

Gadis yang ada di dalam hatiku. Yang menjadi alasan aku mendarat di kota ini.

Aku melangkah keluar bandar udara dan segera mencari si taksi burung biru. Yah, semua berasa semacam dinas saja. Naik pesawat, ambil taksi burung biru, dan mungkin nanti hotel yang akan aku inapi. Tapi tentu saja tidak. Hari ini hari kerja, dan aku tidak dalam posisi dinas. Aku cuti, untuk menyelesaikan sebuah masalah yang mengerak di dalam hati.

Kalau saja aku pernah cuti 1 hari untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak SD, masak sih aku tidak merelakan cuti untuk menyelesaikan masalah hati ini?

“Selamat pagi, Mas. Mau diantarkan kemana?”

Aku menyebut nama sebuah tempat di selatan kota, dan supir taksi burung biru ini segera melajukan kendaraan yang akan membawaku mendekat pada penyelesaian masalah hati ini.

Kemacetan ternyata sudah menyapaku begitu lepas sebuah bundaran di pintu bandara. Ah, kota ini tidak jauh beda dengan tempatku mengeruk rupiah. Sama saja macet! Kendaraan ini berhenti dan segera pikiranku membuat kilas balik rentetan peristiwa sepekan terakhir.

“Pak, tahu kan kalau saya suka sama seseorang, sudah dari lama. Gimana ya enaknya? Saya perlu diam aja, atau perlu saya ungkapkan?”

Aku berhadapan penuh ketakutan kepada Bapak Pelatih. Bukan hal mudah bagiku untuk curhat, apalagi ke orang sepenting beliau. Tapi aku sungguh sudah kehabisan akal dan semakin penuh kebingungan karena masalah ini.

Tujuh tahun mencintai satu orang yang sama, dan sama sekali tidak punya nyali untuk mengungkapkan. How loser I am!

“Untuk masalah hati, Dek, saya sarankan dengan sangat, perasaan itu harus kamu ungkapkan,” ujar beliau dengan penekanan pada kata ‘harus’, “kalau memang sudah sangat terlambat, yang penting kan sudah diungkapkan. Minimal bisa bikin lega hati.”

Aku tertunduk lesu, tapi lega juga. Menyimpan rasa suka sendirian selama bertahun-tahun itu benar-benar menderita. Ketika kemudian aku bisa mengungkapkan ini–minimal pada Pak Pelatih–maka ada sekian persen beban yang lepas.

Ya. ‘Harus’ yang dibilang oleh beliau menjadi penuntunku untuk kemudian melakukan tindakan antik ini. Aku segera membeli tiket pesawat ke kota ini, berikut memesan tiket hotel, dan langsung mengajukan cuti dalam waktu yang singkat. Dan entah kenapa, semesta semacam mendukungku. Harga tiket terbilang terjangkau, dan kebetulan juga cuti bisa diperoleh dengan mudah, tanpa harus dikira sedang interview di perusahaan lain.

Hanya satu hal yang aku ragukan dari misiku hari ini. Apa iya semua biaya yang aku keluarkan ini akan memberikan hasil? Aku punya satu masalah: keberanian. Aku pernah menjalani misi ini, dengan naik bis, dan berujung ketidakberanian dengan hanya berdiri berdiam di depan kediaman gadis di dalam hati itu.

Tidak terasa, burung biru sudah membawaku ke jalan lurus yang tidak jauh dari kampus ternama di negeri ini, yang berarti aku sudah hendak sampai ke tempat yang aku minta sebelumnya.

“Hotel Indah ya, Pak. Yang warna hijau itu.”

Sedan biru mulus itu segera mendekat ke arah yang aku tunjukkan. Aku sampai di tempat menginap. Hotel yang berbeda dari perjalananku sebelumnya, yang gagal itu tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Persis waktunya untuk cek ini di hotel ini.

Proses cek in berlangsung dengan cepat, dan aku akhirnya sampai di kamar.

“Mau ngapain nih?” gumamku begitu tasku mendarat di kasur.

Aku sudah berjalan sejauh ini, dan aku masih punya ganjalan yang bernama keberanian. Kalau selama 7 tahun dan dalam konteks yang lebih mungkin untuk mengungkapkan perasaan ini, dan aku kemudian tidak berani menyampaikan apapun. Bagaimana dengan sekarang?

Aku punya lebih banyak alasan untuk menyimpan semua perasaan ini sampai mati, meskipun aku sudah sejauh ini.

Dan dengan segenap diam yang aku dapati dari gadis itu selama 1 tahun terakhir, maka mengetik sebuah pesan singkat bukanlah menjadi perkara yang mudah.

Siang, Kinar. Maaf mengganggu. Aku mau ngasih buku, sambil mau ngomong sebentar. Bisa minta waktunya 1 jam aja hari ini? Di Mekdi atau di kosmu atau dimana terserah deh. Minta tolong ya. Soalnya besok aku udah pulang.”

Bahkan jariku masih ragu untuk menekan ‘Send’, pada layar sentuhku. Tentu saja, kalau saja SMS barusan aku kirim ke gadis itu empat tahun yang lalu, semuanya akan berjalan berbeda. Aku tidak perlu takut tidak dibalas. Sekarang? Belum tentu.

Aku menggumamkan doa sejenak sebelum telunjukku menekan ‘Send’ pada layar sentuh.

Aku hanya berharap ada jawaban, bahkan hanya sebuah jawaban tanpa kesanggupan atas permintaanku adalah sebuah harapan yang sederhana.

Dan sejak aku menekan ‘Send’ tadi, waktu berjalan begitu lambat sekali. Serasa jenggotku dapat tumbuh dalam 30 menit berlalu. Tanpa balasan selama 30 menit ini sungguh perlahan memadamkan bara keberanian yang sebelumnya aku tiup pelan-pelan untuk bisa menyala kecil.

Bahkan aku tidak berminat membalas pesan-pesan whatsapp dari seorang gadis yang aku ketahui jatuh cinta kepadaku. Ya begitulah cinta. Bahwa konsep jatuh cinta itu baru akan baik adanya kalau dicintai dan mencintai mengacu pada objek yang sama. Kalau beda? Ya begini deh. Dia galau karenaku, aku galau karenamu. Nggak berujung ini.

Rrrrrtttttt…

Handphone bergetar.

Sbb Kak. Aku baru pulang kerja. Kakak dimana emang? Buku apa?

Lumayan. DIBALAS! Itu saja sudah bikin senang.

Aku nginep di Hotel Indah. Jadi bisa? Mau dimana? Bukuku. Ceritanya mau promo. Hehehe.

Dan, lagi-lagi, aku harus menunggu.

Rrrrrttttttt….

Bukumu? Hmmm, terserah, mau di kosku juga boleh. Emang tau?

Syukurlah. Jawaban ini semakin mengarah. Dan kali ini aku harus mengipas bara keberanianku untuk menuntaskan perasaan yang sudah 7 tahun terpendam di dalam hati sini.

Ya semoga tahu. Jam berapa bisanya?

Sekarang juga nggak apa-apa, kalau cuma 1 jam sih.”

Wow! Sekarang! Ini beneran ya?

Dan aku malah menampar pipiku sendiri, berkali-kali, hanya hendak memastikan bahwa ini nyata.

Aku segera keluar dari hotel, dan sudah sore rupanya. Aku masih ingat, tidak jauh dari sini ada markas tentara dengan 4 pohon tinggi dan pemandangan unik berupa angsa yang berterbangan diantara keempat pohon itu. Asli keren.

Maka, aku tidak lupa membawa kameraku. Meski memang lensanya kurang optimal, tapi sudah janjiku untuk kembali lagi kesini ketika aku sudah memiliki kamera DSLR. Cukup banyak jepretan yang aku ambil dari empat pohon itu. Sambil berlatih menggunakan kamera DSLR yang baru saja aku beli dan kreditnya masih lima kali lagi ini.

Dan aku segera melangkah mendekat ke tujuanku, kediaman Kinar.

Bahkan aku masih bertanya-tanya, apa sih yang hendak aku ucapkan nanti ketika aku bertemu? Yang aku ingat adalah hari-hari ketika aku dan Kinar curhat dalam waktu yang panjang, hari-hari saat Kinar memberiku bunga, tapi juga waktu-waktu ketika Kinar bahkan tampak tidak sudi untuk berpaling sekadar memandangku.

Dan langkahku kemudian sampai juga ke Jalan Tanjung. Seharusnya disini tempatnya. Di deretan jalan bernama bunga, mulai Mawar, Melati, hingga Tanjung, ada tempat kediaman Kinar. Dan kalau Kinar belum pindah, maka kos yang menjadi kediamannya ada di….

…ujung jalan ini.

Kosmu bener Jalan Tanjung Nomor 2?

Iya Kak.”

Kalau gitu, aku sudah di depan.”

Glek!

Perlahan pintu coklat membuka, dan sosok cantik yang 7 tahun silam merasuk ke dalam hatiku, dan tidak keluar-keluar, ada disana. Iya, Kinar sekarang ada 4 meter dari tempatku berdiri.

“Hai, Kak.”

“Hai, Kinar.”

Sebuah percakapan yang beku, penuh kekakuan. Kalau ini terjadi 4 tahun silam, yang ada tentu saja sapaan manis disertai salaman penuh kehangatan. Ah, waktu memang suka mempermainkan keadaan.

“Apa kabar?” tanyaku sambil menjulurkan tanganku.

“Baik, Kak. Duduk gih.”

Di teras kos, dengan 2 bangku plastik dan 1 meja yang juga dari plastik, aku dan Kinar, berdua saja. Tapi aku bahkan masih ingat kapan terakhir kali aku berdua saja bersama Kinar. 14 April dua tahun yang lalu, di teras kosnya yang lama, kos sewaktu kuliah.

Aku dapat mengingat semuanya dengan mudah. Sepertinya aku menganut prinsip Data Logger. Duduk, diam dan tenang sambil merekam segalanya. Entah untuk apa.

“Pertama, maaf mengganggu. Kamu pasti capek habis kerja,” ujarku membuka pembicaraan, sambil tanganku merogoh tas ranselku untuk mengeluarkan tiga buah buku.

Kinar tidak berkata-kata sedikitpun. Aku memandang wajahnya sekilas, dan masih menatap raut yang sama, yang dari pertama kali aku melihat wajah itu langsung diberi kesimpulan jatuh cinta.

“Ini, mau ngasih ini. Kalau yang ini, barengan sama yang pernah aku kasih sebenarnya. Waktu itu aku minta dua tanda tangan penulis buku ini, dua-duanya atas nama kamu.”

Dulu sekali, aku pernah memberikan sebuah buku bertanda tangan asli penulisnya kepada Kinar. Dan aku ingat sekali pesan singkatnya begitu menerima paket itu, “Apa coba artinya kamu ngasih buku ini, Kak?”

Kala itu, aku hanya menjawabnya dengan canda. Tidak ada sedikitpun keberanian untuk bilang bahwa aku berburu tanda tangan itu atas dasar cintaku pada Kinar.

“Kalau yang ini, sekalian ucapan terima kasih. Walaupun cuma 1 cerpen disini, tapi aku pakai nama kamu sebagai tokohnya. Dan percaya nggak percaya, tiga perempat cerita ini adalah kejadian nyata yang aku alami. Aku tokoh utamanya, dan kamu tokoh ceweknya. Ini yang aku SMS waktu itu. Udah pernah baca?”

Kinar menggeleng.

Ya sudah.

“Dan terakhir, yang ini, judulnya ALFA. Ini bukuku sendiri. Akhirnya aku punya buku sendiri juga. Dan harus aku kasih sendiri ke kamu, karena ada banyak kalimat di buku ini yang asalnya dari obrolan ngaco kita di SMS jaman dulu. Waktu nulis buku ini, sebagian waktu kita masih intensif SMS-an.”

“Wow. Selamat, Kak. Akhirnya punya buku juga.”

“Sebenarnya, kalau kamu nggak selalu bilang nggak pede, kamu lebih layak punya buku daripada aku.”

Kinar menerima tiga buku yang aku angsurkan kepadanya. Buku orang lain, buku antologi cerpen yang salah satu isinya adalah cerpenku, dan buku yang aku tulis sendiri. Tiga buku yang semuanya sebenarnya sangat lekat dengan Kinar, bersama segala prosesnya.

“Dan, satu lagi, mungkin ini akan mengganggu kamu, jadi aku mohon maaf dulu.”

“Mengganggu? Kenapa?”

Aku masih tidak yakin kalau aku punya cukup keberanian untuk ini. Sampai kemudian sebaris kenangan membawaku pada kata ‘harus’ yang dilontarkan oleh Pak Pelatih.

Maka aku mengela nafas sejenak, dan mulai berkata, “Ehm, maaf ya sebelumnya. Seharusnya mungkin aku nggak bilang ini, tapi karena aku sudah nggak kuat menyimpan sendirian, dan kata Pak Aji juga aku harus bilang, maka itu aku datang kesini.”

Kinar diam, dari raut mukanya tampak mengerti arah pembicaraan ini. Ketika aku menyebut nama Pak Aji, mukanya sedikit terkejut. Tentu saja, aku dan Kinar sama-sama dilatih oleh Pak Aji.

“Hari ini, tanggal 26, tepat 7 tahun aku pertama kali mendengar nama kamu, dan tepat 7 tahun juga aku jatuh cinta sama kamu. Iya, aku… cinta sama kamu, Kinar. Mungkin memang akan lebih mudah kalau aku bilang ini dulu. Waktu ketemu kamu di depan lab kelinci, atau waktu kita lagi malam keakraban dan kamu pakai baju hijau gambar kodok, atau mungkin waktu kamu curhat sama aku sambil kita duduk di atas batu.”

Dan Kinar masih saja terdiam.

“Ini mungkin terlambat, Kinar. Tapi pastinya akan buat aku lega. Menyimpan perasaan ini selama 7 tahun bukanlah hal yang baik dalam mencintai. Kayak kata Pak Aji, syukur-syukur ada respon. Hehehehe.”

“Hahaha. Kamu ini, Kak.”

“Kenapa?”

“Ya, kenapa nggak dari dulu?”

“Nggak tahu deh. Kalau urusannya sudah tentang kamu, aku jadi loser sejati. Kalau kamu ngaku kamu loser, maka aku loser yang merindukan dan mencintai loser kalau gitu. Hehehe.”

Kinar diam lagi, sambil menggengam tiga buku yang aku berikan padanya. Aku menatap bibirnya lekat-lekat sambil menantikan kata yang akan keluar dari sana.

“Iya. Kenapa nggak dari dulu. Kalau sekarang, kamu terlambat, Kak.”

Aku mendengar kata itu, kata yang jelas sudah aku sadari sebelumnya. Aku terlambat. Di usianya yang sekarang sudah 25 tahun, tentulah gadis secantik Kinar sudah punya pacar.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting aku sudah lega. Kalaupun terlambat, ya mending daripada nggak sama sekali.”

Kinar tersenyum dengan binar termanis yang pernah aku lihat. Tangannya menimang bukuku yang judulnya “ALFA”, dan seketika membuka halaman-halamannya.

“Ini kan kata-kataku, Kak?”

“Yang mana?”

“Yang ‘selalu keren’ ini?”

“Ya emang iya.”

Aku sudah mengutarakan semuanya pada gadis yang ada di dalam hatiku ini. Dan aku sudah tahu kalau Kinar bilang aku terlambat. Ya sudahlah. Memang sudah saatnya melanjutkan hidup.

* * *

“Iya, Kak. Kamu terlambat. Kalau kamu bilang dari dulu, bisa jadi kita sedang kursus persiapan pernikahan sekarang,” gumam Kinar, tanpa bisa didengar oleh Ranu, lelaki yang ada di hadapannya.

* * *

6 thoughts on “Gadis di Dalam Hati

  1. Pingback: Cerita Farmasi: Kelasnya Para Ahli | Sebuah Perspektif Sederhana

  2. Pingback: Kenapa PNS Harus Rajin Berbelanja? | ariesadhar.com

  3. Pingback: Belajar Korupsi di Perpustakaan KPK | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s