Belajar Korupsi di Perpustakaan KPK

Belajar Korupsi

Perpustakaan. Beuh. Waktu SD, saya pernah mengalami masa doyan ke perpustakaan karena tempatnya luas dan menawan. Bukan mau baca, cuma mau guling-guling menunggu Mamak pulang kerja. Kala SMP, agak malas karena perpustakaannya ada di pojokan nan sepi. Hiii. Namun saya mulai suka pinjam buku, termasuk buku tentang musibah Tampomas dan heroik itu. Saat SMA? Ini dia. Saya rajin ke perpustakaan. Meminjam dan membaca buku memang iya, namun tujuan yang lebih utama adalah berebut membaca Bola dan Hai terbaru, karena kalau sudah delay 1-2 hari, maka wajah mbak-mbak kece di Majalah Hai sudah tinggal kenangan. Bolong, kak. Tujuan lainnya ya tidak lebih tidak kurang adalah karena nggak punya duit buat jajan di kantin.

photogrid_1453820853167.jpgKetika masuk ke perguruan tinggi, perpustakaan buat saya adalah peraduan kedua. Tenang, masih bukan urusan belajar. Perpustakaan adalah tempat saya kabur dari rumah tempat numpang untuk waktu yang cukup lama–cerita suram masa lalu saya yang bisa dibaca di buku OOM ALFAย yang lagi diskon gede-gedean. Selain itu, perpustakaan juga jadi tempat mengetik, karena saya belum punya komputer sendiri. Dan terakhir, perpustakaan adalah tempat melihat gebetan dari jauh, karena dari jendela perpustakaan tampak lorong cinta nan keji itu. Tsah.

Meskipun kini saya juga punya kartu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang letaknya nggak jauh-jauh amat dari kos, tapi perpustakaan tidaklah menjadi bagian integral dalam diri saya, seperti halnya barisan para mantan. Lah. Maka, ketika dalam proses mencari bahan untuk sebuah project, bisa terpikir untuk mencari bahan ke perpustakaan malah bikin saya bingung sendiri. Kok iso kepikiran. Mungkin belum move on.

Selengkapnya baca disini!

Advertisements

53 Pertanyaan Yang Diajukan Kepada Seseorang Yang Sudah Cukup Umur Yang Baru Pacaran Lagi Sesudah Lama Menjomblo

Judulnya kepanjangan? Biarin. Judulnya terlalu rumit? Biarin juga! Hidup sebagai jomblo berkepanjangan itu sudah jauh lebih rumit daripada judul yang panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas ini.

Yap! Bahwasanya manusia diciptakan untuk hobi mencampuri urusan sesamanya. Misalnya kamu tinggal di gang senggol, lalu ada tetangga tiba-tiba punya Vellfire. Sudah bisa dipastikan kamu akan mencoba mencari tahu asal muasal mobil itu. Padahal, siapa tahu kan tetangga itu adalah temannya Ahmad Fathanah?

Nah, sebagian dari ikut campur itu sejatinya adalah bentuk perhatian kepada sesama. Nggak apa-apa juga, sih. Namanya juga makhluk sosial. Sialnya so-so. Bentuk perhatian itu umumnya berupa pertanyaan. Ya, tentu saja menjadi sebuah fakta unik ketika seseorang yang terlihat lama menjomblo tahu-tahu punya pacar, cakep pula. Nah, mau tahu nih beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepada orang-orang yang sudah cukup umur dan baru pacaran lagi sesudah lama menjomblo? Ini dia!

1. Kapan kawin?

2. Ketemu dimana?

3. Gimana ketemunya?

4. Kok bisa?

5. Nggak salah, tuh?

6. Lo boongin gimana tuh cewek?

7. Anak mana, sih?

8. Gadis/janda/perjaka/duda?

9. Kapan kawin?

10. Berapa lama PDKT-nya?

11. Kok cepat banget?

12. Ngebet ya?

13. Kapan kawin?

14. Kok kamu mau sama dia?

15. Kok dia mau sama kamu?

16. Kok kalian sama-sama mau?

17. Kapan kawin?

18. Kapan kawin?

19. Kok nanyanya kapan kawin melulu?

20. Ya, udah. Mau ganti apa?

21. Kapan nikah?

22. Yaelah, Bro! Nggak ada yang laen?

23. Udah ngapain aja sama doi?

24. Comblangnya siapa?

25. Doi umur berapa?

26. Mantannya berapa?

27. Mantannya yang udah nikah berapa?

28. Dulu kenapa putus sama mantannya?

29. Kapan nikah?

30. Lo pakai pelet apaan?

31. Gue minta alamat dukunnya, dong! Dimana?

32. Udah insyaf ya?

33. Udah kapok ngejomblo?

34. Ini yang lo cari?

35. Kapan nikah?

36. Lah, kapan kawin sama kapan nikah kan sama?

37. Ya emang pertanyaan utamanya itu! Protes melulu sih?

38. Nggak ada yang laen apa?

39. Ya udah! Nih! Kapan diresmikan?

40. Gimana jadiannya?

41. Dimana jadiannya?

42. Romantis nggak jadiannya?

43. Nanti nikahnya mau di tempat doi apa nggak?

44. Lo udah baca OOM ALFA belom? *oke ini tidak relevan*

45. Ada acara ngunduh mantu nggak di tempat lo?

46. Nunggu apalagi, sih?

47. Orang tua udah tau?

48. Orang tua udah kenal sama doi?

49. Kapan disahkan?

50. Kapan naik pelaminan?

51. Tuh kan! Sama-sama lagi pertanyaannya! Gimana, sih?

52. Lo tahu nggak?

53. Apaan?

54. Emang kalau udah cukup umur itu 50% pertanyaannya ya ‘kapan kawin’ dan derivatnya!

List pertanyaan ini sudah didiskusikan dengan beberapa pihak, utamanya Bapak ini. HEUHEUHEU! Enjoy ya! Just for fun!

Saat Nggak Punya Apa-Apa

Melihat segala benda mati yang saya punya sekarang, kadang jadi ingat 4 tahun silam. Ya, lebih dari 4 tahun sih. Pokoknya periode ketika saya kemudian meninggalkan segala yang saya punya di Jogja untuk bekerja di Palembang.

Ada dua benda penting milik orang tua yang dulu menjadi kekuasaan saya, si anak pertama.

Selanjutnya

Etika Mengirim Email (Lagi)

Kenapa judulnya pakai ‘(lagi)’? Soalnya dulu udah saya tulis disini dan disini juga.

Kenapa saya tulis lagi, soalnya barusan dapat inspirasi tambahan *halah*.

Jadi saya dapat email, isinya sih CV. Seperti biasa, buat tak teruskan ke orang HR.

UntitledJadi emailnya ya begitu doang. Gampangannya konten doang. Tentu posting ini bukan bermaksud bilang yang ngirim beginian salah, soalnya kadang, saya juga email macam itu kok. Dan untuk perkara CV begini, maksudnya dikirim konten doang, juga sudah sering saya alami. Dulu bahkan pernah lihat isi emailnya mantan karena disuruh ngecek, eh dia ngirim email ke HRD sebuah perusahaan dengan cara konten doang gitu.

*tepok jidat*

Ya gini deh, mendapat email konten doang, apalagi dari orang nggak dikenal itu rada runyam. Jangan2 ini SPAM. Ya to?

Nah, SPAM saja kalau ngirim sesuatu kan pakai kata pengantar bla..bla..bla.. Masak kita ngirim surat beneran, lantas kosongan gitu.

Apa sih susahnya nulis:

Dear blablabla,

Terlampir blablabla.

Terima kasih

Best Regards,
Ablublublu

Yah begitulah, saya juga lupa dulu gimana kalau ngirim email. Tapi sehubungan dengan pengalaman yang terus bertambah, perlahan ya akhirnya tahu juga hal-hal etis soal per-email-an. Jadi, sebisa mungkin jangan berikan email kosong, alias konten (attach) doang.

Begitu ya. ๐Ÿ™‚