Badan POM dan Bebiluck: Simpati yang (Seharusnya) Sama

simpati

Sedang duduk pasca mengarungi lautan polusi di ibukota, tetiba saya mendapat broadcast di grup WhatsApp. Pesan panjang yang biasanya malas saya baca. Kalau saja broadcast itu muncul di grup FPL Ngalor Ngidul, saya tinggal komentar, “Tulung disimpulke (tolong disimpulkan)”. Masalahnya, ini muncul di grup yang berbeda dan kala membacanya saya kok jadi trenyuh sendiri. Ya, kebetulan saya hobinya memang mengenang.

Broadcast itu berjudul “Sejarah Kami adalah Sejarah Cinta Ibu Kepada Anaknya” ditulis oleh Lutfiel Hakim kalau menurut tulisan pada pesan yang saya terima. Intinya, broadcast ini adalah suara dari pemilik makanan bayi Bebiluck yang belum lama ini didatangi oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan di Serang dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) karena produknya tidak memiliki Nomo Izin Edar (NIE).

Saya membaca kisah Pak Lutfiel ini berulang kali karena nggak ada kerjaan, termasuk perihal awal mula makanan bayi, dan perspektif saya adalah broadcast ini merupakan kebenaran, alias bukan hoax layaknya banyak pesan broadcast lain yang menuh-menuhin gawai saya.

Seketika saya bersimpati dengan Bebiluck dan saya yakin banyak pembaca juga berlaku sama. Bagaimana tidak? Dalam usaha menangani makanan bayi yang tergolong risiko tinggi, aneka usaha telah dilakukan. Mulai dari membuka CV untuk penerbitan SIUP, konsultasi dengan Dinas Kesehatan hingga mendapatkan izin PIRT, hingga uji laboratorium Dinas Kesehatan.

Masih dalam tulisan yang sama, ada ahli pangan yang direkrut, badan usaha diganti menjadi PT, melakukan uji laboratorium di TUV Nord, hingga mendapatkan sertifikat halal LPPOM MUI. Sebagai mantan auditor halal internal, saya sedikit-sedikit paham sih dengan soal halal ini, makanya saya langsung cek ke Daftar Produk Halal terkini, dan memang ada nama Bebi Luck atas nama CV. Hasanah Bebifood Sejahtera, pada laman ke-314 file bertipe pdf dalam tabel LPPOM MUI Banten.

Selengkapnya!

Advertisements

Waspada! Ini Daftar Air Minum Dalam Kemasan Yang Berbahaya! Sebarkan!

WASPADA

Air mineral, kiranya kita tidak akan sadar bahwa produk yang dalam regulasinya bernama air minum dalam kemasan alias AMDK ini adalah bentuk kapitalisme. Waktu saya muda, yang kira-kira bertepatan dengan Perjanjian Renville, nggak akan kepikiran bahwa air minum yang dibotolin akan menjadi kebutuhan kekinian. Sampai saya cabut dari rumah sebagai anak rantau dalam kesendirian, saya masih minum dari air kran yang direbus. Ketika saya dinner di Cassis Kitchen, saya hampir trenyuh begitu melihat harga air putihnya yang setara dengan ongkos taksi di Bengkulu sesuai Peraturan Menteri Keuangan tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2016.

Begitulah, dengan harga yang puluhan ribu seliter itu kita bahkan bisa mendapatkan Shell V-Power sekian liter. Bayangkan kala air minum lebih mahal daripada sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak bumi yang telah diolah jadi bensin itu. Ngeri kan?

Selengkapnya!

Jadi Konsumen Cerdas Dengan Aplikasi Cek BPOM

bepepom

Satu hal yang meresahkan saya belakangan ini–selain dari populasi jomlo yang meningkat–adalah berseliwerannya share-share-an di Facebook. Share yang dilakukan dari website dengan nama merangsang semacam ‘bagikanlah.net’ atau ‘sakkarepmulah.com’ ini ditunjang dengan judul nan semlohai pula, seperti ‘Terungkap! Babi Ternyata Haram! Sebarkan Jika Peduli!’. Dan yang paling bikin gemas adalah share-share-an itu kebanyakan tentang obat dan makanan, dan bagian paling mengenaskan adalah sebagian besar HOAX.

Persepsi saya masih sama seperti ketika saya menulis tentang hoax PPA. Dengan linimasa dan menggila seperti sekarang, saya sungguh merasa perlu agar otak bisa dicuil dan ditaruh sedikit di jempol. Biar orang yang nge-share itu sebelum bertindak mikir dulu. Soalnya, ada nih, kakak kelas dulunya pintar bin asisten–namanya kakak kelas berarti ya apoteker, bukan arsitek, soalnya saya anak farmasi–ketika nge-share sesuatu dan saya bilang hoax, malah nesu-nesu. Njuk aku kudu piye? Aku kudu sayang-sayang Hayati? Nanti Hayati lelah. Heu.

Untunglah, regulator tentang obat dan makanan di Indonesia lumayan MULAI responsif. Maklum, tahun 2014 awal saja ketika Twitter lagi galak-galaknya, regulator bernama Badan POM itu bahkan belum punya akun untuk bercuit ria. Untungnya sekarang sudah ada. Salah satu inovasi yang dibuat oleh Badan POM–yang sering kali dengan semena-mena disebut sebagai BPPOM itu–adalah aplikasi Android! Soal BPPOM ini kesalahsebutannya masif dan terstruktur. Pernah lihat gedung MLM di bilangan Gatot Subroto? Itu kan ada layarnya, dan tertulis bahwa produknya sudah terdaftar di BBPOM. Beuh!

Kembali ke topik. Untuk apa, sih, aplikasi Android?

Selengkapnya tentang Cek BPOM!

Tentang Hoax PPA: Perlukah Kita Menyisihkan Secuil Otak di Jempol?

Minggu lalu waktu saya sedang leyeh-leyeh di Hotel Neo, Sarkem, tetiba dapat pesan WA dari Pak Tri, dedengkot pelayanan di Cikarang sono. Pesannya simpel, hendak mengkonfirmasi terhadap sebuah share-share-an berikut ini:

wpid-photogrid_1442934054717.jpgSungguh, ketika membaca gambar itu untuk pertama kali, saya ngakak habis! Tapi lama kelamaan, ketika saya terus bermain di linimasa, saya malah jadi sedih karena gambar kampret itu tersebar kemana-mana dengan pesan untuk berhati-hati. Saya memang ngakak, karena saya mengerti isu itu. Yah, anak farmasi lawas pasti juga tahu kalau konten gambar itu lucu. Cuma memang, nggak semua orang paham.

Selengkapnyah!

Tentang Beras Plastik: Mari Belajar Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya

Oke, negara ini memang super. Super sekali, bahkan. Banyak makanan absurd–selain makan teman–yang boleh jadi pada akhirnya meningkatkan jumlah penderita penyakit aneh-aneh. Pewarna pakaian jadi pewarna es, boraks jadi barang yang justru wajib ada supaya kenyal, dan pacar harus ada meskipun tidak cinta. Pelik sekali. Semakin pelik ketika lantas muncul yang namanya OOM ALFA, eh, beras plastik.

Seperti biasa, begitu sudah masuk soal beginian, maka segera telunjuk, kelingking, jari tengah, sampai jempol kaki menunjuk pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). Sampai ada judul-judul nan super bingit, semisal yang ini:

Picture1

Selengkapnya!