Biji Apel yang Termakan Bisa Sebabkan Kematian, Ini Penyebabnya

seperti dikutip dari Kumparan, apel, salah satu buah populer baik di Indonesia ataupun di dunia dikenal sebagai buah yang kaya akan vitamin, mineral dan mengandung air yang cukup banyak sehingga menjadikan apel sebagai buah tropis yang baik untuk menjaga keseimbangan air di dalam tubuh.

Meskipun menyehatkan, rupanya terselip bahaya yang mengintai pada buah apel. Apel dapat membuat seseorang keracunan, bahkan hingga menyebabkan kematian. Semua hal itu terdapat pada biji apel.

Sumber: CalorieBee

Biji apel mengandung amygdalin, yakni sebuah senyawa yang melepaskan sianida ketika terkontaminasi dengan enzim manusia. Amygdalin diketahui mengandung sianida dan gula yang jika tertelan oleh tubuh akan diubah menjadi hidrogen sianida atau HCN. Sianida ini bisa membuat seseorang kesakitan dan bahkan bisa membunuh.
Lalu, bagaimana sianida bisa berakibat fatal pada tubuh?

Sianida terkenal sebagai salah satu racun paling mematikan. Bekerja dengan menghambat oksigen dalam tubuh, sianida ternyata ditemukan di beberapa buah tropis seperti aprikot, ceri, pulm, peach dan buah apel sebagai buah yang paling sering dikonsumsi.

Biji apel dilapisi oleh lapisan pelindung yang kuat sehingga orang yang tak sengaja memakan biji apel tidak akan langsung meninggal seketika. Sianida yang ada pada biji apel baru akan menimbulkan efek fatal jika termakan lebih dari 200 biji apel atau sekitar secangkir gelas.

Apabila sianida dikonsumsi dalam jumlah yang lebih sedikit, maka akan menimbulkan gejala kejang-kejang, sesak nafas, gemetar, denyut jantung meningkat, tekanan darah rendah dan dari semua gejala ini maka akan menyebabkan hilangnya kesadaran.

Jumlah pasti sianida yang akan berakibat buruk pada tubuh disesuaikan dengan berat badan seseorang. Umumnya sianida akan bereaksi jika termakan sebanyak 0,5 sampai 3,5 mg di dalam tubuh. Sedangkan 1 gram biji apel menandung sekitar 0,06 sampai 0,24 mg sianida.

Meskipun tak langsung menimbulkan efek yang berbahaya, namun sebaiknya untuk membuang biji apel terlebih dahulu sebelum memakannya.

Sumber: kumparan.com

Advertisements

Jadi Konsumen Cerdas Dengan Aplikasi Cek BPOM

bepepom

Satu hal yang meresahkan saya belakangan ini–selain dari populasi jomlo yang meningkat–adalah berseliwerannya share-share-an di Facebook. Share yang dilakukan dari website dengan nama merangsang semacam ‘bagikanlah.net’ atau ‘sakkarepmulah.com’ ini ditunjang dengan judul nan semlohai pula, seperti ‘Terungkap! Babi Ternyata Haram! Sebarkan Jika Peduli!’. Dan yang paling bikin gemas adalah share-share-an itu kebanyakan tentang obat dan makanan, dan bagian paling mengenaskan adalah sebagian besar HOAX.

Persepsi saya masih sama seperti ketika saya menulis tentang hoax PPA. Dengan linimasa dan menggila seperti sekarang, saya sungguh merasa perlu agar otak bisa dicuil dan ditaruh sedikit di jempol. Biar orang yang nge-share itu sebelum bertindak mikir dulu. Soalnya, ada nih, kakak kelas dulunya pintar bin asisten–namanya kakak kelas berarti ya apoteker, bukan arsitek, soalnya saya anak farmasi–ketika nge-share sesuatu dan saya bilang hoax, malah nesu-nesu. Njuk aku kudu piye? Aku kudu sayang-sayang Hayati? Nanti Hayati lelah. Heu.

Untunglah, regulator tentang obat dan makanan di Indonesia lumayan MULAI responsif. Maklum, tahun 2014 awal saja ketika Twitter lagi galak-galaknya, regulator bernama Badan POM itu bahkan belum punya akun untuk bercuit ria. Untungnya sekarang sudah ada. Salah satu inovasi yang dibuat oleh Badan POM–yang sering kali dengan semena-mena disebut sebagai BPPOM itu–adalah aplikasi Android! Soal BPPOM ini kesalahsebutannya masif dan terstruktur. Pernah lihat gedung MLM di bilangan Gatot Subroto? Itu kan ada layarnya, dan tertulis bahwa produknya sudah terdaftar di BBPOM. Beuh!

Kembali ke topik. Untuk apa, sih, aplikasi Android?

Selengkapnya tentang Cek BPOM!