Masih lanjut dengan #KelilingKAJ, mumpung masih niat. Seperti biasa, rute ditentukan oleh arah angin. Kali ini angin mengarah ke selatan, dan dalam rangka persiapan bangun pagi minggu depan (tugas balkes ke Cikarang-red), maka Gereja yang dituju mesti dekat dengan jalur kereta api. Dan pilihan jatuh kepada Gereja Keluarga Kudus Pasar Minggu. Sebagai catatan, di Keuskupan Agung Jakarta, nama Keluarga Kudus juga dimiliki oleh Rawamangun. Memang nama idola.
Perjalanan saya mulai dengan keluar dari kos jam 4.30 pagi, kemungkinan bersamaan dengan maling-maling yang pulang dari perjalanan dinas. Saya naik bajaj ke Stasiun Manggarai. Kenapa naik bajaj? Supaya kelihatan merakyat. Tsah. Di Manggarai, pukul 04.50 pagi, saya naik KRL ke arah Bogor. Ini kan ceritanya subuh aja belum kali ya, tapi KRL menuju Bogor itu sudah penuh, saudara-saudari. Saya harus berjalan beberapa gerbong untuk menemukan kursi yang kosong. Ini penduduk Jakarta kagak ada tidurnya apa ya?
Misi #KelilingKAJ kembali lagi pekan ini. Sesudah Blok Q dan Bidara Cina serta diselingi oleh Kolese Kanisius, saya pengen sesuatu yang berbeda kali ini. Blok Q kan masuk Dekenat Selatan, Bidara Cina ikut Timur, Pusat ya tinggal Jalan Malang yang belum pernah saya injak. Kayaknya seru juga kalau beranjak ke sisi Barat, namun tidak mencari kitab suci bersama OOM ALFA. Sesudah mencari angin yang berhembus, maka keputusan dibuat. Sasaran berikutnya adalah Paroki Bunda Hati Kudus atau yang sering dikenal juga sebagai Paroki Kemakmuran.
Ada beberapa alasan saya memilih dan menetapkan Paroki Kemakmuran sebagai TKP #KelilingKAJ. Pertama adalah karena kaki kiri saya cedera kecil pas futsal kemaren, sehingga harus mencari yang dekat-dekat dengan sarana transportasi umum. Kedua, gereja ini berlokasi di Jalan Hasyim Ashari. Siapapun tahu bahwa KH Hasyim Ashari adalah pendiri Nahdlatul Ulama yang juga adalah ayah dari KH Wahid Hasyim, ulama terkemuka Indonesia. KH Wahid Hasyim sendiri adalah ayah dari Presiden paling nyentrik Republik Indonesia versi saya, Gus Dur. Bukankah hal menarik bahwa di Jalan Hasyim Ashari berdiri sebuah Gereja? Apalagi ketika saya masuk, di layar tertera ucapan selamat datang, berikut alamat jelas yang notabene adalah nama tokoh Islam besar di Indonesia. Sesungguhnya saya terharu, bahwa sebenarnya Indonesia bisa kok saling menyayangi satu sama lain.
Sesiangan tidur siang dalam kondisi hujan deras, saya lantas terbangun dan melihat via jendela bahwa matahari bersinar begitu teriknya macam knalpot OOM ALFA. Tetiba saya bingung, tadi itu hujan-hujanan mimpi apa bukan ya?
Karena matahari masih baik hati untuk bersinar, saya kemudian membulatkan perut, eh, tekat untuk menuju ke pengelanaan berikutnya. Mengingat sudah Minggu sore, maka berkelananya nggak usah jauh-jauh banget, yang penting terjangkau. Maka, tujuan yang ditetapkan adalah Gereja Santo Antonius Padua Bidara Cina, dengan jadwal yang saya incar adalah 17.45.
Berhubung saya itu anaknya rajin menggalau, akhirnya saya sampai TKP malah pukul 16.30, terlalu cepat. Gereja ini boleh dibilang sangat strategis karena bisa dicapai dengan mudah via TransJakarta jalur gemuk, Harmoni-PGC. Meski namanya Bidara Cina, namun jangan turun di Halte Bidara Cina. Gereja ini bisa dicapai secara lebih mudah dengan turun di Halte Gelanggang Dewasa, eh, Gelanggang Remaja. Hayo, nggak pada bayangin aktivitas dewasa yang dilakukan di gelanggang kan? Dari Halte Gelanggang Remaja, tempat tujuan bahkan sudah bisa dilihat–setidaknya dari parkiran mobil di jalan.
Sesudah lelah lahir batin karena sinyal provider Telu menjadi antah berantah sehingga posting tentang Gereja Santa baru kelar jam 2 pagi, saya akhirnya bangun jam 7 pagi dan berniat tidur lagi. Namun apa daya, Spongebob berhasil membuat saya gagal tidur lagi dan lantas memilih untuk bersiap-siap. Kebetulan, hari Jumat saya menerima email dari Mas Alex Arab (asli, dia bukan Arab kok) bahwa ada misa awal tahun Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia (AAJI). Mengingat bahwa saya SMA dan kuliahnya di bawah Jesuit, pengen juga hadir. Kebetulan lagi selow karena tidak sedang dinas, pun tidak bisa pacaran karena LDR. Hiks.
Sambil mengintip awan, saya lantas berangkat karena belum ada air yang menetes dari langit. Lokasi misa tidak jauh dari kos, yakni di Kapel St. Petrus Kanisius, Kolese Kanisius, Menteng. Hitung-hitung bisa mencicipi masuk ke CC. Tempat yang mestinya mirip De Britto. CC ini terbilang sekolah elit, alumninya mulai dari Ananda Sukarlan sampai Fauzi Bowo, dari Akbar Tanjung sampai Soe Hok Gie. Kalau JB setidaknya yang lagi tenar dan mengemuka sekarang adalah Hasto Kristiyanto.
Begitu sampai di CC, tampak lapangan bola yang tidak seluas JB, tapi pasti sudah langka di Jakarta, di Menteng apalagi. Saya kemudian bergegas menuju kapel. Begitu masuk, eh, kosong melompong. Ada sih beberapa orang yang beredar, tapi kok uzur semua. Saya lantas mampir bertemu Bunda Maria. Letak Gua Maria-nya di belakang altar persis, bahkan pipa buangan AC juga ada di lokasi itu. Kursinya cuma ada 4, jadi kapasitasnya nggak banyak. Saya hakulyakin, ketika masa-masa ujian, tempat ini adalah peraduan lelaki-lelaki-mendadak-religius untuk berdoa mohon kelancaran. Anak muda memang begitu, rata-rata baru ingat Tuhan kalau mau ujian.
Di Hari Valentine yang seharusnya ceria, saya tetap ceria meskipun pacar ada jauh (banget) di seberang lautan. Oh, katanya Valentine itu haram dan amoral, ya? Baiklah, kita ganti jadi Palentain. Tampak lebih bermoral, kan? Kebetulan sebuah tulisan di blog yang ini berhasil membuat saya dapat even di Palentain ini. Ceritanya? Ah, itu di blog sana saja, ya.
Sesudah kelar ber-slalom ria, saya kemudian beranjak ke tujuan berikutnya yaitu sebuah tempat terkemuka bernama Gereja Santa. Dari Senayan, saya menuju Halte Polda untuk kemudian naik TransJakarta ke Blok M. Di terminal dengan banyak jurusan itu, saya lantas menaiki Kopaja 616 jurusan Cipedak. Sebenarnya, kalau dari Blok M menuju Gereja Santa ini sangat mudah, karena pilihannya banyak. Bisa naik Kopaja 57 (Blok M-Kampung Rambutan), Kopaja 616, Kopaja 620 (Blok M-Pasar Rumput), Mayasari R57 (Blok M-Pulogadung), Metromini 75 (Blok M-Pasar Minggu), Metromini 77 (Blok M-Ragunan), dan PPD 45 (Blok M-Cililitan). Semuanya akan melewati Gereja Santa.
Namun, saya sotoy. Saya turun di JALAN SENOPATI. Entah kenapa saya turun disana, dan mau naik lagi kok malas. Akhirnya, ya, saya jalan kaki. Jalan kaki menyusuri Jalan Senopati dan Jalan Suryo untuk kemudian mendapati sebuah pertigaan, ke kiri ke Tendean, ke kanan ke Pasar Santa. Nah, disinilah seharusnya tadi saya lanjut naik 616. Turunnya persis di depan tempat yang ada spanduknya.
Well, well, well. Sudah berapa kali saya menulis tentang Bukittinggi di blog ini. Cukup banyaklah pokoknya. Cari saja sendiri, kalau nggak percaya. Memang, sih, saya lelaki, susah dipercaya. Tapi plis, tolong dipahami! Okesip. Bicara kota Bukittinggi tentu saja nggak akan ada habisnya. Sudah begitu, kamu belum pernah datang ke Bukittinggi? Ah, sayang sekali. Supaya semakin termotivasi, berikut ini saya beberkan secara gamblang bahwa ada DELAPAN BELAS alasan kamu harus datang ke Bukittinggi. Banyak, kan? Makanya. Terus apa saja 18 alasan itu? Ini, nih.
1. Malalak dan Lembah Anai
Anggap saja kamu datang ke Sumatera Barat via langit. Otomatis kamu akan mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM). Setelah bergelut dengan serbuan tawaran travel yang dimulai dari sejengkal sejak pintu keluar. Yup, sebagaimana banyak jalan menuju Vatikan sambil selfie, eh, Roma, maka ada beberapa jalan juga menuju Bukittinggi dari BIM ini. Dua jalan yang paling umum boleh dibilang memiliki karakteristik tersendiri, sekaligus menjadi alasan bagi kamu untuk pergi ke Bukittinggi. Kenapa? Baru menuju Bukittinggi saja, sudah disuguhi pemandangan keren.
Via Malalak, boleh dibilang adalah jalan alternatif dari jalur utama Padang-Bukittinggi. Umumnya, travel tidak akan lewat Malalak kecuali ada penumpang yang turun di Balingka dan sekitarnya, atau jalur utama sedang macet parah. Menurut seorang Bapak yang turun di Balingka waktu saya mudik via Malalak kemaren, jalur Malalak ini adalah menyusuri pinggangnya gunung Singgalang. Begitu saya googling, katanya Tandikat. Yang bener yang mana? Heu. Jalur ini boleh dibilang rawan longsor dan penuh batu besar, plus ada beberapa cerita mistis soal batu besar. Plus, dari ketinggian tertentu, kita bisa melihat LAUT! Bayangkan betapa tingginya.
Sumber: 2persen.wordpress.com
Terus kalau via jalur normal, sudah dipastikan kita akan menyaksikan pemandangan klasik benama Lembah Anai, dan air terjun yang legendaris. Saking legendarisnya, ketika musim liburan para pengunjung mampir dan, ya, lumayan bikin macet. Tapi, tetap saja, indah.
Sumber: terbanglayang.wordpress.com
Jadi nggak usah takut, lewat manapun, selalu ada alasan untuk pergi ke Bukittinggi.
Heyhoh! Kembali lagi dalam edisi perjalanan di blog sepele ariesadhar.com ini! Kembali lagi atas nama pekerjaan, saya kembali naik pesawat. Sesungguhnya, naik pesawat di kala berita tentang proses evakuasi Air Asia QZ8501 sedang kencang-kencangnya, bukan hal yang mudah. Apalagi kali ini perjalanannya kembali menuju timur. Timur Prado…, eh, ya ke timur aja, gitu. Untungnya lagi, kali ini pekerjaannya tidak selama dan seberat yang dua perjalanan awal yang tentunya bisa dibaca juga liputannya di blog ini.
Jadi, kemana saya kali ini?
Yup, saya kembali lagi ke Bumi Celebes. Sesudah kemaren ke salah satu kakinya, sekarang saya ke kepalanya. Demi efektivitas perjalanan dan pekerjaan, akhirnya diputuskan bahwa berangkatnya jam 05.30 pagi WIB. Yang mana daripada saya harus sudah ada di bandara Soekarno-Hatta setidak-tidaknya jam 04.30, dan tentu saja saya nggak mungkin nunggu Damri jam segitu. Jadilah saya sok kaya dengan Taksi Blue Bird. Mau bagaimana lagi? Pukul 03.30 saya sudah cabut dari kosan, ditemani rintik hujan dan maling-maling yang sedang dinas.
Yah, begitulah. Memang sepertinya isi blog ini bakal sepi. Huiks. Semoga sih tidak, tapi memang apa daya, ada kendala waktu, terlebih ketika saya harus melakoni tugas negara. Ketika tugas negara, waktu saya kurang, jadi ngeblog cuma sekadar mimpi yang bukan basah. At least, saya tetap bikin poin-poin untuk di-blog-kan. Belum 3 post rasanya saya nulis sejak Tujuh Hari di Kendari. Iya, memang begitu. Sesudah bertualang ke Celebes, kali ini saya mendapat tugas di Andalas. Dan bagi seorang sentimentil melankolis semacam saya, penugasan kali ini agak menyingkap sisi hati. Uhuk. Batuk Pak Haji?
Ketika pertama kali mengetahui bahwa saya dapat penugasan di kota itu, saya senang-senang sedih. Senangnya tentu karena kota itu punya memori luar biasa bagi hidup saya. Sedihnya? Justru karena saya pernah tinggal berbilang tahun, kok rasanya sayang kalau jadi tujuan. Soalnya dari list penugasan, ada beberapa kota yang memang belum sempat saya injak. Selanjutnya, Mbohae!
Tugas atau dinas luar adalah hal yang biasa dalam 2 tahun pertama karier saya, bahkan sempat sampai pada tataran bilang, “Udah, Pak. Yang lain aja yang berangkat”. Tapi itu dulu. Tiga tahun berikutnya? Boro-boro. Disuruh berangkat training aja kagak. Ngendon belajar sendiri di dalam kantor dan hanya pergi sekali. Itu juga ke Bandung, balik hari, bertemu supplier tua bangka dengan istri remaja. Kabar terakhir, supplier itu habis bangkit dari koma, untuk kedua kalinya. Luar biasa survive.
Maka, ketika masuk ke pekerjaan yang memang perlu dinas ke luar kota macam sekarang ini tentu nggak terlalu kagok. Koper siap, mental juga biasa. Koleksi botol shampo hotel saya cukup memperlihatkan jatidiri saya yang sudah menginap di berbagai hotel. *ngutil kok ngaku*
Masalahnya kemudian adalah surat tugas untuk pergi dinas itu datang tanggal 16 Oktober, untuk berangkat tanggal 19 Oktober. Bukan mepetnya yang jadi masalah, tapi tanggal 19 Oktober itu sudah saya book untuk menghadiri pernikahan Coco, si mantan playboy. Coco ini muncul beberapa kali di dalam buku saya OOM ALFA, terutama di bagian Gempa Jogja.
Di sisi lain, saya cukup excited dengan tugas perdana ini. Memang semua yang perdana itu bikin excited, semacam malam pertama (kecuali untuk yang sudah malam pertama duluan sebelum nikah, sih). Apalagi tujuannya adalah sebuah kota yang ada di kaki K dari pulau yang belum pernah saya injak sebelumnya. Celebes. Tebak, kota apa? Yup. Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Provinsi yang lagi butuh banyak anggota DPRD karena lagi hobi pemekaran. Entah pemekaran itu berguna atau tidak.
Coba nonton Spongebob di TV lokal Indonesia, kemudian simak iklannya. Ya, iklan di Spongebob memang menjadi satu hal yang membedakan tayangan di TV lokal dengan di TV aslinya. Episode standar Spongebob itu 3 sesi, awal-tengah-akhir. Namun, demi iklan, bagian tengah itu dipotong. Spongebob episode asli di TV lokal itu cuma ada di Lativi. Siapapun yang tahu bahwa pernah ada TV lokal yang mengambil nama pemiliknya itu, mungkin usianya sudah cukup matang.
Oke, fokusnya bukan itu. Mari simak iklannya! Segala macam pangan ada, segala makanan dan minuman, dari yang beku sampai cair, dari yang langsung santap hingga yang perlu dimasak terlebih dahulu, dari mantan pertama sampai calon istri kedua. Semuanya berseliweran silih berganti–tidak hanya di tayangan Spongebob–di TV kita. Apalagi yang masih TV tanpa bayar. Ah, jangankan gitu, Emak saya saja yang pakai TV berbayar malah memilih nonton acara tentang terong-terongan. *if you know what i mean*
Padahal, kalau mau tahu, iklan di TV itu hanya segelintir dan benar-benar secuil dari seluruh pangan olahan pabrikan yang beredar di Indonesia. Hanya perusahaan-perusahaan dengan budget maksimal yang berani main di above the line, sisanya milih below the line. Bahkan kadang ada yang nggak pakai line-line-an segala. Nih, tinggal masuk ke website Badan POM di www.pom.go.id lalu masuk ke tab ‘Produk Teregistrasi’ profilnya langsung kelihatan.
Itu baru 2014 saja loh. Bulan puasa aja baru lewat, 17 Agustus juga belum, tapi jumlah produk yang mendapat persetujuan sejumlah itu. Atau kalau mau lebih seru, cuma masukkan query ‘MD’ di pencarian. Saya menemukan angka 30.655 data hanya untuk MD saja! Kalau mengetik ML, maka yang nongol adalah 28.211 data! Hampir 60 ribu macam pangan yang beredar di Indonesia Raya ini. Sekilas info, MD itu kode nomor yang diberikan untuk pangan yang dihasilkan di dalam negeri (domestik), sedangkan ML itu pangan yang dihasilkan di luar negeri dan kemudian diimpor masuk ke Indonesia. Please note bahwa itu hanya yang terdaftar di Badan POM saja.