Mencari Nilai Hingga Regina Caeli

Sejauh ini misi #KelilingKAJ saya berjalan mulus. Tentu saja mulus karena semua TKP #KelilingKAJ yang saya pilih adalah yang dekat dengan sarana transportasi umum. Ada yang tinggal ngesot dari Halte TransJakarta semacam Matraman, atau yang rada dekat dengan stasiun semacam Pasar Minggu.

Supaya agak beriak, saya lalu mencari sasaran yang agak kejam. Kejam yang pertama adalah karena saya belum pernah menyusuri Jakarta sampai ke bagian sana. Kejam kedua adalah karena sarana transportasi umumnya tidak sesederhana dua moda favorit saya, TransJakarta dan KRL Commuter Line. Maka, diputuskanlah melalui Dewan Syuro bahwa TKP #KelilingKAJ berikutnya adalah Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk.

Satu-satunya yang membantu saya dalam pencarian lokasi Gereja Regina Caeli adalah blog berjudul Mengaku Backpacker. Sisanya? Nggak ada. Tentu saja, karena saya nggak yakin ada umat Regina Caeli yang ngangkot. Maklum, lokasinya berada di kawasan elit yang harga propertinya akan naik besok Senin.

Karena diperkirakan jauh, maka untuk misa 10.30 saya sudah cabut dari kos pukul 07.30. Apa daya, ternyata perjalanan sedemikian lancar sehingga saya bisa segera sampai Harmoni dan lantas bisa naik BKTB PIK untuk sampai di sekitar PIK pukul 08.30. Karena kegasikan, saya memutuskan untuk berhenti persis di akhir BKTB, yakni di Freshmarket. Di tempat ini saya melihat jembatan menuju pulau reklamasi yang selalu saya lihat setiap kali hendak mendarat di Cengkareng.

Sehabis makan di Freshmarket–dengan harga makanan yang alamakjang–saya terpaksa naik taksi untuk menuju Regina Caeli karena BKTB yang ditunggu-tunggu tiada tiba. Intinya, sih, kita turun di Patung Kuda Laut kalau naik BKTB. Patung Kuda Laut adalah pintu gerbang perumahan Mediterania Boulevard, dan Gereja Regina Caeli ada di dalam kompleks ini.

Benar saja, begitu masuk, saya ditanya satpam hendak kemana. Tampang saja memang semacam tukang bangunan yang lagi ada proyek di Mediterania Boulevard. Saya mengira bahwa lokasinya cukup dekat dari pintu gerbang, ternyata tidak juga karena persis di sisi kanan jalan masuk justru ada hutan bakau yang entah sampai berapa tahun lagi akan ada. Semoga sih akan tetap ada. Kompleks mewah ini benar-benar bertetangga dengan kera. Uwow!

Lokasi Gereja Regina Caeli ada di kanan jalan. Mengawali deretan rumah di sisi itu. Identitasnya jelas, berupa patung Santa Regina Caeli pelindung paroki ini. Begitu ketemu patung Regina Caeli, ada undak-undakan, naik saja. Kalau ada bangunan di depan mata, yakinkan diri bahwa bukan itu gedung Gerejanya. Cari tulisan “Masuk”, dan disitulah Gereja akan tampak. Buat pelengkap, bisa milipir di tempat jalan salib outdoor yang ada di Gereja ini. Sejauh ini, yang pertama saya temukan selama berkeliling.

IMG20150315115953

Kita akan melewati prasasti peresmian dan diketahui bahwa Gereja Regina Caeli ini diresmikan tahun 2008, sungguh belum lama. 2008 itu tahun ketika saya pertama kali hidup di ibukota dengan status PKL, dan menurut saya itu belum cukup lama. Tentu saja, karena PIK kan memang terbilang baru. Adalah Gereja Pluit yang lebih lama umurnya dan yang menjaga umat di kawasan Jakarta Utara sebelah elite itu–bandingkan dengan Tanjung Priok dan Cilincing.

Nah, begitu melewati prasasti akan ada undak-undakan lagi. Ternyata gedung Gereja diset di lantai 2, sementara bagian bawahnya dipakai untuk parkir. Ya, mengingat akses angkutan umum nyaris tiada di sekitar situ, maka area parkir harus jadi pertimbangan khusus. Awalnya, saya mengira bahwa Gereja ini tidak bermasalah dengan parkiran akibat adanya parkir di bawah Gereja. Akhirnya? Nanti saja.

???????????????????????????????

Karena masih 1 jam, saya kemudian mlipir ke Gua Maria. Ah, disini tempatnya kece sekali! Nuansa yang dibangun sebagai peziarahan Bunda Maria begitu terasa, apalagi dengan dukungan tempat doa yang sejuk. Jakarta Utara memang panas, lha belakang Gereja ini adalah hutan bakau, namun dengan bantuan peneduh nan kece, nuansa doa diperoleh dengan mantap. Kalaulah ada yang mengganggu adalah ketika ada sebuah Brio yang dikendarai ibu-ibu harus parkir susah payah sehingga arahan tukang parkir sampai ke telinga orang yang sedang berdoa.

Sesudah ketemu Bunda Maria, saya masuk ke dalam Gereja. Sebelum pintu masuk ada sebuah tempat bundar dan di tengah-tengahnya ada air suci. Air suci ditempatkan di wadah besar, persis di tengah-tengah, beberapa meter dari pintu masuk. Saya kemudian melangkah mantap ke pintu masuk yang tampak kecil itu setelah sempat melihat banner himbauan berpakaian rapi dan pantas di Gereja. Sip juga.

IMG20150315093826

Ternyata, Gereja ini berbentuk macam trapesium. Pintu yang kecil itu kemudian membawa saya pada arsitektur Gereja yang membesar di bagian depan. Ketika melihat langit-langit ada ornamen salib besar yang diawali dari pintu sampai ke bagian tengah. Setelah dilihat-lihat, ternyata itu AC! AC-nya menyaru dalam ornamen salib. Keren juga, sih.

Gereja ini terbilang besar dan tampak mewah di bagian altar. Koor berada di sebelah kiri altar, di balkon. Jadi dirigennya harus orang yang tidak takut ketinggian. Berhadapan dengan koor, pun dengan di bawah koor ada tempat untuk umat. Untuk yang berhadapan dengan koor biasanya untuk yang agak telat dan sudah kehabisan tempat di tengah.

IMG20150315094738

Tanpa bermaksud rasis, tapi di Gereja ini tampak mayoritas adalah etnis Tionghoa. Saya nan hitam ini berasa berbeda. Kalaulah ada yang muka-muka kayak saya, itu adalah mbak-mbak yang membawa tas dan botol minum anak. Pengasuh. Ya, gitu deh.

Misa diawali dari belakang, karena sakristinya di belakang. Kebetulan warna liturgi yang digunakan pink. Sangat keren ketika sampai tali kasut Prodiakonnya saja warna pink. Sungguh total. Komentator mengawali misa dengan pengantar dan dia tidak akan kemana-mana. Komentator punya mimbar sendiri dekat mimbar utama tapi di bawah. Dan beneran hanya dia yang pakai mimbar itu, adapun Lektor dan Romo berbagi mimbar di sisi kanan altar. Pengen saya jadi komentator di Regina Caeli, bisa ndelik sepanjang misa.

Hal menarik dari Regina Caeli adalah tata laksana putra altar dan putri sakristinya, terutama menjelang komuni. Mereka akan berbaris di pinggiran akses utama, lantas saling berhadapan dan ketika Prodiakon lewat mereka menunduk. Sesudah menunduk itu dan Prodiakon lewat, satu per satu menyusul Prodiakon yang lewat. Tanpa lilin, lho. Saya sempat heran untuk apa fungsi mereka. Nah, begitu giliran saya komuni, saya sampai pada suatu aktivitas misdinar yang cukup mengganggu.

Jadi, nih, kepada setiap umat yang habis menerima komuni, misdinar menjelma menjadi pengawas apakah hosti itu dimakan di tempat atau tidak. Bahkan pas saya, misdinar yang sudah agak dewasa itu melongoknya lumayan kentara. Nggak sekadar melirik. Jujur saja, ini tempat pertama saya dibegitukan pas komuni, padahal saya sudah belasan tahun komuni. Agak risih juga sih.

Namun saya harus sadar bahwa itu adalah kearifan lokal. Kemungkinan besar, kegiatan tidak menyantap hosti di tempat adalah kasus jamak sehingga perlu perlakuan khusus semacam itu. Siapa tahu?

Adapun di Regina Caeli ini, misa dipersembakan pada hari Minggu pukul 08.00, 10.30, dan 17.00. Pengakuan dosa juga dilakukan rutin setiap Jumat sore pukul 18.00, yang sempat dicurhatkan oleh Romo Jack bahwa yang hadir adalah nyamuk dan boleh jadi besok-besok adalah kera. Umatnya kemana? Entah.

Nah, ketika saya berpikir sudah saatnya pulang, saya kemudian mendapati fakta bahwa Gereja ini ternyata tidak cukup parkir. Sepanjang perjalanan saya ke pintu depan Mediterania Boulevard, sepanjang itu pulalah parkiran mobilnya! Bukan 1 lapis pula! Dan di Regina Caeli inilah saya melihat begitu banyak Fortuner, Outlander, dan Pajero. Bahkan saya sempat pula lihat Porsche. Avanza, Xenia, dan Agya tampak bagai remah-remah roti belaka. Sungguh, nyatanya umat-umat disini kaya secara mobil. Saya tidak dapat menjustifikasi secara keimanan karena saya bukanlah apa-apa. Saya cuma umat yang jalan-jalan demi mencari dimana sih Regina Caeli ini.

Saya lantas berjalan kaki hingga pintu depan PIK, karena memang tidak ada angkot yang lewat. Suasana sungguh panas, beda ketika saya ngadem persis di bawah AC ketika di dalam Gereja. Hidup memang seperti itu kan, kali-kali dingin, kali-kali panas. Saya meninggalkan PIK dengan angkot merah arah Grogol, turun di Pluit dan cabut kembali ke kediaman.

Saya merenung sekali lagi. Profil kemewahan Gereja selalu menarik perhatian saya, karena setiap kali begitu saya kembali ingat Cikarang. Ketika yang tampak hanya karya, dan bukan gedung megah, soalnya memang nggak ada gedungnya. Pertanyaan saya untuk kesekian kalinya–dan sekaligus menjadi alasan misi #KelilingKAJ–, seperti apakah Katolik itu sebenarnya?

Salam #KelilingKAJ!

6 thoughts on “Mencari Nilai Hingga Regina Caeli

  1. Soal putra altar yang memastikan komuni dimakan atau engga itu juga saya alami di beberapa gereja disini. setahu saya tujuannya menjaga nilai kesucian dari hosti, karena mungkin ada umat yg terima hosti dan memperlakukannya secara kurang layak hehe

    Like

  2. Pingback: Berhari Raya di Kedoya | ariesadhar.com

  3. Pingback: Raun Ke Rawamangun | ariesadhar.com

  4. Pingback: Akhirnya Sampai Juga ke Santo Laurensius Alam Sutera! | ariesadhar.com

  5. Pingback: Menemukan Santo Bonaventura di Labirin Pulomas | ariesadhar.com

  6. Pingback: Misa Bahasa Inggris di Danau Sunter | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s