Merangkai Makna di Helena

Ini sebenarnya pelanggaran karena misi awal #KelilingKAJ kan didahului dengan keliling Jakarta. Namun apa daya, saya kok pas dapat kesempatan main sampai ke Tangerang. Jadi, ya, saya tulis saja. Namun tentu saya tidak dapat buru-buru melengkapi dengan jurusan Tangerang lainnya. Pertama, karena jauh-jauh dan agak butuh effort mengingat saya fix menginginkan misi ini menggunakan kendaraan umum. Kedua, karena mantan saya anak Tangerang. Uhuk!

Nah, tempat di Tangerang itu sebenarnya nggak jauh-jauh dari Jakarta. Tepatnya juga nggak jauh-jauh dari Mal Lippo Karawaci alias Supermal. Jadi ini semacam mengenang, karena saya dulu berada di paroki yang terletak di Lippo Cikarang. Sama-sama Lippo, cuma beda mal. Di Supermal, ujung satu Hypermart, ujung satunya Carrefour. Di MLC? Ujung satu Matahari, ujung satunya toko buku. Dan dari toko buku ke Matahari itu kelihatan. Benar-benar super (mini). Benar-benar mal terbesar se-Asia Tenggara, menyaingi besarnya Gardena dan Vikita di Jogja. Nama Gereja yang saya tuju dalam perjalanan ke Karawaci kali ini adalah Santa Helena.

Untuk mencapai Gereja Helena dari Jakarta cukup naik apapun bis Tangerang yang lewat Islamic. Dari Islamic, ambil angkot yang melewati Mal Lippo Karawaci. Boleh mampir sejenak sambil makan-makan karena kuliner di Mal Lippo Karawaci ini ibarat Jupiter dan Pluto dibandingkan Mal Lippo Cikarang. Nah, dari Mal Lippo Karawaci, sila menyeberang dan kemudian naik angkot putih ke arah Sekolah Budha. Nanti di sebelah Sekolah Budha yang ditandai patung lumayan besar itu, ada jalan masuk. Angkotnya tentu nggak masuk. Berhenti di gang itu, dan akan ada penunjuk arah menuju Gereja Helena. Well, jalan ke dalamnya agak jauh, melewati beberapa rumah yang sudah menjadi kos-kosan. Mirip Pavi kalau di Cikarang. Eh, itu mah Jababeka yak! Mirip Meadow Green deh, yang sama-sama Lippo.

Paroki Santa Helena ditetapkan sebagai paroki ke-58 KAJ pada 1 Oktober 2006. Sebelumnya sih sudah bernama Stasi Santa Helena sudah 10 tahun. Saya belum nemu datanya tapi sepertinya sih berasal dari Santa Monica Serpong. Bukan apa-apa, Romonya kan sama-sama OSC, gitu. Kumpulan stasi ini kiranya bernasib sama kayak Cikarang, cuma sekarang lebih baik. Dulu ngontrak di Lippo Karawaci, diprotes karena ramai terus pindah, terus ngontrak di RS Siloam–Cikarang juga gitu–lalu pindah juga ke Universitas Pelit Harapan.

Tapi siapa sangka sekitar tahun 1998, didapat lahan seluas 1.500 meter persegi di Kompleks Taman Permata, Curug. Kalau pernah mampir ke Helena, berasa bukan di Gereja Jakarta gitu dah. Luasnya sudah boleh disamakan dengan seminari minus lapangan bola. Nah, di lahan yang ada dibangun dulu bedeng semi permanen sambil terus mencari dana hingga akhirnya Gereja Santa Helena diresmikan oleh Julius Kardinal Darmaatmaja SJ pada 21 Januari 2007. Wah, satu hari satu tahun sebelum saya ujian skripsi terbuka! Belum lama! #Pret #NggakNgakuKalauTua.

Gedung Gereja Helena ini super luas untuk ukuran Jakarta, utamanya karena saya sudah merasakan beberapa Gereja yang mini selama misi #KelilingKAJ ini. Soal parkir juga nyaris nggak masalah. Cuma masalah di akses saja karena ada di dalam perumahan. Jadi, masuk dan keluar untuk kondisi tertentu akan berbeda. Supaya lancar.

IMG20150328194139

Bangunan Gerejanya agak di atas, jadi ada tangga menuju kesana. Nah, di belakang altar dan agak nyempil barulah ada Gua Maria nan kece karena berada di taman. Bentuknya juga unik dan semakin kece di malam hari. Sisa lahan diisi oleh sebuah gedung serbaguna nan wah. Sebuah ruangan digunakan untuk ekstensi pada misa yang padat. Padahal Gerejanya sudah gede, ternyata tetap kurang gede! Ada juga ruang-ruang semisal 2B, 3C, dan sejenisnya yang saya lihat digunakan untuk latihan koor.

Ada pilar di tepi-tepi altar sehingga koor kemungkinan nggak akan lihat Pastor karena ketutup. Ada dua mimbar, di kiri dan kanan untuk fungsi mimbar sabda dan mimbar keperluan lainnya. Satu hal yang unik di Komentator adalah ada instruksi menunduk pada bagian di Syahadat, plus informasi bahwa doa damai hanya didaraskan oleh Pastor, bukan umat. Umat cuma kejatah ‘Amin’. Hal semacam ini baru sekali saya temukan di #KelilingKAJ.

Mengingat Gereja yang besar serta letak paroki di Tangerang yang adalah tempat keluarga muda berkembang, membeli rumah, dan lain-lain, maka tampak di bocil altarnya: melimpah! Ini enaknya misa di daerah urban yang memang sedang berkembang. Beda dengan beberapa daerah yang dalam tanda kutip perkembangannya mati karena sudah mentok yang otomatis merujuk pada minimnya regenerasi.

Karena kebetulan saya misa Sabtu Minggu Palma, maka ada perarakan. Sejujurnya saya lupa kalau hari biasa ada perarakan apa kagak. Prodiakonnya juga banyak, dan sebagian tampak adalah bapak-bapak muda. Tentu prodiakon dibutuhkan, kalau tidak ini komuni kapan selesainya?

Panti koornya sendiri berada di sebelah kiri, berdekatan dengan akses menuju tempat ekstensi misa, plus dekat Gua Maria. Tidak ada penanda permanen macam di beberapa tempat lain, namun diberikan partisi kayu kira-kira sepinggang plus mimbar dirigen yang gede untuk fasilitas buat koor berikut mikrofon berdiri serta kursi lipat buat para penyanyi di koor.

IMG20150328171136

Saya tahu berada di paroki bertumbuh macam Helena ini potensi konfliknya tinggi, maklum masih menggelegak, darah muda kalau Bang Rhoma bilang. Belum lagi jaraknya pasti jauh-jauh, beberapa mungkin senasib dengan Cikarang. Apalagi kalau pakai acara lewat Legok. Bah! Itu kalau mau nembak gebetan tapi lewat Legok, keburu dia dilamar kamu baru sampai. Macetos beibeh!

Yup, ada kesamaan suasana batin dengan yang terjadi di Cikarang. Suasana batin ketika umatnya ada dari semua kalangan, kasarannya dari yang punya Fortuner sampai yang nambal ban Fortuner. Dari yang kaya banget sampai kere banget. Apalagi sama dengan Cikarang, kawasan Karawaci tidak semata-mata Lippo, tapi justru tempat lain di sekitarnya, di kampung-kampung yang menjadi kantong penduduk. Bedanya mungkin hanya pada gedung. Justru, di tempat semacam inilah akan banyak pertanyaan tentang dimana Tuhan sesungguhnya berada. Menurut saya demikian.

Salam #KelilingKAJ!

2 thoughts on “Merangkai Makna di Helena

  1. Pingback: Berhari Raya di Kedoya | ariesadhar.com

  2. Pingback: Akhirnya Sampai Juga ke Santo Laurensius Alam Sutera! | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s