Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

Pengalaman Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat

PENGALAMAN MEMBUAT PASPOR DI KANTOR IMIGRASI JAKARTA PUSAT

Jadi gini. Dalam beberapa hal saya memang masih kalah sama orangtua saya, termasuk juga dalam aspek dulu-duluan ke luar negeri. Bapak-Mamak saya sudah sampai Petronas, saya lebih milih sampai Danau Sentani. Itu juga dibayari negara. Kurang baik apa negara ini? Lho?

Nah, dalam rangka nggak mau kalah sama Bapak dan Mamak akhirnya saya membulatkan perut dan tekad untuk membuat paspor. Dasar kere, umur 28 baru buat paspor. Lha piye meneh? Jadi saya itu buat paspor juga tanpa tendensi hendak ke luar negeri dengan segera. Cuma memang saya sudah melewatkan beberapa lomba blog yang mensyaratkan punya paspor untuk mengikutinya. Kan sedih.

wpid-photogrid_1436282262424.jpgSetelah mengecek ke imigrasi.go.id, problema utama ternyata adalah pada verifikasi keaslian. So, saya harus bawa Kartu Keluarga asli. Padahal tahun lalu itu KK sudah saya bawa buat mengurus pencairan JHT buat beli tivi dan bayar cicilan rumah karena waktu itu saya sudah tiga bulan nggak gajian. Kan pedih. Heu.

Selengkapnya, klik disini!

Perjalanan ke Paskalis

Kata orang, perjalanan itu dilakukan untuk pulang. Demikian pula #KelilingKAJ. Mungkin saya bisa jalan-jalan sampai Kedoya atau sampai Abepura (ini mah sudah beda provinsi gerejawi), namun kadang-kadang kita perlu menjelajah TKP yang dekat-dekat saja dari kos-kosan, walau bukan paroki tempat saya bernaung. Dimana itu? Masih satu Dekenat dengan Jalan Malang, #KelilingKAJ kali ini membahas tentang Gereja Paskalis.

Dimana lokasinya?

Paroki Cempaka Putih yang menaungi Gereja Paskalis ini sebenarnya mudah sekali dicapai, yakni di Jalan Letjen Soeprapto Cempaka Putih. Tidak jauh dari gedungnya Bea Cukai atau juga Rumah Sakit Islam maupun kantor pusat Kalbe Farma hingga Kantor Pusat Taspen. Halte TransJakarta terdekat adalah Halte Pasar Cempaka Putih yang berada di dekat Ace Hardware Cempaka Putih.

Selengkapnya!

Menyambangi Cagar Budaya Santa Maria de Fatima

Sesudah beberapa pekan sepi karena banyak hal, maka perjalanan #KelilingKAJ kembali dimulai persis pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus alias harinya komuni pertama. Tenang saja, saya tidak dalam posisi ngeh melakukan #KelilingKAJ pada saat komuni pertama. Cuma kok pas sampai Gereja, banyak anak dengan baju putih-putih, baru sadar. Sadar kalau misanya bakal lama, maksudnya.

TKP #KelilingKAJ kali ini sebenarnya sudah saya incar dari dulu karena keunikannya, baru sempat setelah saya melihat Google Street terlebih dahulu dan jalannya diketahui dengan pasti. Kenapa begitu? Nanti pasti tahu, deh, soalnya #KelilingKAJ kali ini melangkah ke Gereja Santa Maria de Fatima di Toasebio.

Dimana itu?

Untuk mencapai Gereja Toasebio ini, halte TransJakarta terdekat adalah Halte Glodok. Dari halte, keluar ke arah gedung yang baru dibangun, lantas berjalan sampai kelihatan JNE dan sebuah jalan berpagar hitam. Dari situ jalan saja dan ikuti petunjuk yang sangat membantu, yakni adanya papan petunjuk sekolah Ricci. Nanti akan sampai di Vihara, dari situ belok kiri lalu ikuti saja jalan yang ada dan nanti di sebelah kanan akan tampak sekolah Ricci nan megah. Gereja Toasebio ini berada persis di sebelah sekolah Ricci. Sekilas pandang, tidak jauh berbeda dengan Vihara karena sebenarnya letak keduanya boleh dibilang belakang-belakangan.

Selengkapnya!

Berefleksi ke Museum Sumpah Pemuda

Salah satu hal yang sering menggoda mata saya ketika dalam perjalanan TransJakarta pasca halte Pal Putih adalah sebuah bangunan kecil di jalan Kramat Raya yang tidak jauh dari halte itu dan tidak jauh pula dari Mie Babat Senen nan haram itu. Bangunan itu adalah Museum Sumpah Pemuda. Nah, di panas terik nan sunyi sepi sendiri, saya kemudian memutuskan untuk mampir. Tentu saja turun di Halte Pal Putih, bukan Pal Merah. Kalau itu jauh dan nggak ada TransJakarta, gitu.

wpid-photogrid_1435412846212.jpgMuseum Sumpah Pemuda ini, menurut sumber dari Dikbud, sebenarnya adalah bekas rumah Sie Kong Liong yang dulu disewa dan dijadikan asrama oleh pelajar sekolah dokter pribumi STOVIA (School Tot Opleiding van Indische Artsen). Namanya asrama, tentu dipakai untuk ngobrol penuh idealisme sehingga lantas disebut sebagai Indonesische Clubgebouw alias rumah perkumpulan Indonesia, plus juga menjadi tempat latihan kesenian yang dikenal dengan nama Langen Siswo. Sesuai namanya, tempat ini dikenal dengan Gedung Kramat Raya 106 yang lantas menjadi Gedung Sumpah Pemuda karena merupakan tempat terikrarkannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Sudah lama sekali. Di tempat inilah banyak diskusi dilakukan, pun karya-karya sastra diciptakan.

Selengkapnya!

Enam Senja di Papua

Hidup ini memang selalu ada konsekuensinya, bisa baik, pun bisa buruk. Nah, salah satu hal yang bahkan hingga 1 tahun yang lalu tidak terbayangkan oleh saya, justru terwujud ketika saya nyemplung di pekerjaan sekarang ini. Jika saya tetap berada di pabrik, jadi PPIC nan berjaya dan membahana membelah angkasa, maka sampai metode perencanaan Johnson beranak pinak jadi Johnson Simamora dan Johnson Simorangkir pun saya nggak bakal bisa menulis cerita ini. Ya, ada beberapa keinginan sederhana di dalam hidup ini dan sejujurnya salah satu yang masuk list itu adalah…

…menginjak tanah Papua!

wpid-photogrid_1435162319419.jpg

Kenapa? Entah, saya bahkan tidak tahu sama sekali alasan yang tepat. Namun saya mungkin mau mengira-ngira bahwa saya sudah pernah berada di Nias Selatan, maka saya ingin berada di sudut lain negeri nan indah bernama Indonesia ini. Tempat itu, ya, Papua. Maka, ketika tanggal 3 Juni silam dapat kabar bahwa akan ditugaskan ke Jayapura, harapan saya sungguh sangat sederhana. Jangan batal. Untunglah pada akhirnya tidak batal. Walau memang harus begebug sangat karena baru ditinggal pergi satu pekan, masuk sehari, lalu pergi lagi, saya lantas rela-rela saja. Ya, karena memang harus rela. Menurut ngana, pegawai-biasa-nan-agak-merana macam saya ini bisa apa? Heuheu.

Selengkapnya!

Menemukan Santo Bonaventura di Labirin Pulomas

Sesudah mendiamkan si BG selama sebulan, hari ini akhirnya dia bisa jalan lagi. Sebagai konsep rasa syukur, akhirnya saya mencoret syarat utama #KelilingKAJ yakni naik angkutan umum. Saya menggunakan si BG untuk melakukan kegiatan #KelilingKAJ dengan penuh rasa penasaran. Kenapa demikian?

Alkisah dua kali saya berencana mencari Gereja Santo Bonaventura Pulomas, namun entah kenapa, nggak pernah ketemu! Paling ingat itu pas Kamis Putih 2014 ketika saya masih kos di Pulo Asem yang notabene ikut Paroki Pulomas. Itu saya muter-mutar Pulomas ada kali satu jam dan menemukan sekitar 5 sampai 7 Gereja, dan kesemuanya Kristen. Bonaventura-nya entah dimana. Padahal waktu itu sudah ikut Google Maps, sudah cek website juga. Makanya saya menyebut Pulomas ini sebagai labirin, ya karena dua kali keblasuk tanpa harapan di dalamnya. Mana yang terakhir pas banjir pula. Untung si BG kuat hatinya.

Jika memang hendak naik angkutan umum, tolong siapkan kaki yang kuat karena memang jaraknya dari tempat transportasi umum lumayan jauh. Ya mirip dengan jarak Bojong Indah ke stasiun atau Kedoya ke halte TransJakarta. Halte terdekat adalah Halte ASMI untuk jalur Harmoni-Pulogadung. Jalan saja dari situ sampai pegel, ambil sisi kanan jalan karena Gerejanya di sebelah kanan. Jangan heran dengan banyaknya rumah karena memang Gereja Bonaventura terletak di dalam perumahan Pulomas yang terbilang elit dan terbilang banjir. Walau terletak di tempat elit, tapi cakupan Paroki ini juga termasuk Kampung Ambon, lho. Jadi, ya, cukup beragam.

Continue reading Menemukan Santo Bonaventura di Labirin Pulomas

Akhirnya Sampai Juga ke Santo Laurensius Alam Sutera!

Agak berbeda dengan TKP dan calon TKP misi #KelilingKAJ yang lain, sesungguhnya saya sudah meniatkan diri untuk mengunjungi TKP yang ini sejak lama, semata-mata karena faktor sentimentil. Pertama, tahun 2008 pada lebaran hari kedua, saya berkunjung ke rumah Bang Dedi dan waktu itu disuruh menunggu di sebelah Rumah Sakit OMNI. Waktu itu, kalau tidak salah baru ada McD dan OMNI. Sekarang? Lihat saja sendiri. Nah, ketika mulai jalan ke rumah, saya melihat sebuah bangunan yang kata Bang Dedi nantinya akan menjadi Gereja beneran.

IMG201505231409256

Lalu yang kedua?

Selengkapnya di Alam Sutera!

Raun Ke Rawamangun

Sesudah kabur ke Ciawi, Bogor dalam rangka menghilangkan huruf C yang memperseret kemajuan peredaran darah di dompet–dan bukan dalam rangka raun alias jalan-jalan, akhirnya saya kembali lagi ke Jakarta yang royo-royo. Karena masih lelah oleh hasil internalisasi nilai-nilai ANEKA, akhirnya saya melanjutkan #KelilingKAJ ke tempat yang dekat-dekat saja, yang penting kesinambungan project ini terjaga. So, saya akhirnya mampir ke Gereja Keluarga Kudus Rawamangun.

Sesuai dengan #KelilingKAJ sebelum-sebelumnya, sebisa mungkin saya mencapai lokasi dengan menggunakan kendaraan umum. Kali ini bukan masalah idealisme, namun masalahnya memang sepeda motor saya rusak. Ah, ini semacam dejavu. 2005 saya hidup dengan sepeda motor penuh dilema yang delapan tahun kemudian tertuang kisah kampretnya di dalam buku OOM ALFA. 2015, saya kini harus berhadapan dengan si BG. Memang dari sisi umur dia layak bermasalah, sih. Tapi sebenarnya dia motor yang jelas jauh lebih tangguh daripada OOM ALFA, dan yang lebih penting dari semuanya, si BG ini saya beli dengan setengah mati menggunakan uang sendiri.

selengkapnya!

Beberapa Hal Yang Harus Diketahui Tentang Prajabatan Pola Baru

Absurdisme birokrasi Indonesia memang sudah sangat kronis dan mendarah daging. Memang, sih, pelan-pelan sudah mulai membaik dengan aneka perubahan berkepala e alias apa-apa dielektronisasi dan dionlinekan, tapi perbaikan itu kalah jauh dibandingkan peningkatan jumlah maling yang semakin berkompeten. Mungkin maling-maling berdasi ini pada masa remajanya nggak kesampaian jadi begal.

Nah, mungkin itu memutus bertumbuhnya kampret-kampret birokrasi, Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang bertanggungjawab pada urusan perdiklatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia ini mencoba melakukan terobosan. Salah satu terobosan yang kemudian mencoba mendobrak kemapanan adalah pada diklat prajabatan. Diklat ini cukup krusial, karena bisa jadi akan menjadi satu-satunya diklat yang dilakoni oleh seorang PNS seumur hidupnya. Atau salah dua, satunya lagi diklat Masa Persiapan Pensiun. Nasib PNS kan siapa tahu?

10322-2014-10-27-16-17

Kalau kita nge-search tentang prajabatan yang akrab disapa prajab ini di Google, belum banyak yang menuliskan tentang pola baru. Ya maklum, polanya memang benar-benar baru karena Peraturan Kepala LAN-nya juga belum setahun nongol. Ditunjang dengan fakta bahwa hidup di birokrasi itu harus bisa mengurus dan memperjuangkan diri sendiri, maka akhirnya banyak CPNS yang akan prajabatan yang kemudian kecele. Nah, berikut ini ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para CPNS yang akan melakoni prajab dengan pola baru, agar tidak keblasuk nasib seperti senior-seniornya.

Lanjut, Gan!

Serba Putih di Bojong Indah

“Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya”

Seluruh Agama pasti menggunakan prinsip ini. Kita semua yang beragama terkadang merasa bahagia ketika sudah memanjatkan doa, atau membaca kitab suci, padahal sekali-kali kita nggak pernah melihat yang dilakukan oleh Nabi-Nabi di masa silam. Yup, pada akhirnya kita semua tidak melihat tapi percaya, maka kita berbahagia.

Di dalam tradisi Katolik, kalimat itu muncul di pekan pertama sesudah Paskah. Dan sebenarnya ucapan Yesus itu ditujukan kepada Thomas yang orangnya nggak percayaan. Nah, dalam rangka memperingati sesuatu yang saya percaya terjadi 2000-an tahun silam itu, maka saya datang misa Minggu Sore ke Paroki Santo Thomas Rasul Bojong Indah Jakarta Barat.

Perihal Santo Thomas ini saya ingat sekali cerita Romo Antonius Yakin Cipta Mulya Pr, produk asli Paroki Bojong Indah yang sekarang berkarya di Paroki Ibu Teresa Cikarang. Katanya dulu dia malu menyebut anak Paroki Thomas soalnya Thomas ya gitu itu, namun kemudian dia memahami dan justru kemudian bangga menyebut diri berasal dari Paroki Santo Thomas Rasul. Jujur saja, pertama kali saya dengan kata ‘Bojong Indah’ yang dari Romo Yakin ini. Makanya penasaran juga.
Selanjutnyah tentang Bojong Indah