Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

Beberapa Hal Yang Harus Diketahui Tentang Prajabatan Pola Baru

Absurdisme birokrasi Indonesia memang sudah sangat kronis dan mendarah daging. Memang, sih, pelan-pelan sudah mulai membaik dengan aneka perubahan berkepala e alias apa-apa dielektronisasi dan dionlinekan, tapi perbaikan itu kalah jauh dibandingkan peningkatan jumlah maling yang semakin berkompeten. Mungkin maling-maling berdasi ini pada masa remajanya nggak kesampaian jadi begal.

Nah, mungkin itu memutus bertumbuhnya kampret-kampret birokrasi, Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang bertanggungjawab pada urusan perdiklatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia ini mencoba melakukan terobosan. Salah satu terobosan yang kemudian mencoba mendobrak kemapanan adalah pada diklat prajabatan. Diklat ini cukup krusial, karena bisa jadi akan menjadi satu-satunya diklat yang dilakoni oleh seorang PNS seumur hidupnya. Atau salah dua, satunya lagi diklat Masa Persiapan Pensiun. Nasib PNS kan siapa tahu?

10322-2014-10-27-16-17

Kalau kita nge-search tentang prajabatan yang akrab disapa prajab ini di Google, belum banyak yang menuliskan tentang pola baru. Ya maklum, polanya memang benar-benar baru karena Peraturan Kepala LAN-nya juga belum setahun nongol. Ditunjang dengan fakta bahwa hidup di birokrasi itu harus bisa mengurus dan memperjuangkan diri sendiri, maka akhirnya banyak CPNS yang akan prajabatan yang kemudian kecele. Nah, berikut ini ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para CPNS yang akan melakoni prajab dengan pola baru, agar tidak keblasuk nasib seperti senior-seniornya.

Lanjut, Gan!

Serba Putih di Bojong Indah

“Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya”

Seluruh Agama pasti menggunakan prinsip ini. Kita semua yang beragama terkadang merasa bahagia ketika sudah memanjatkan doa, atau membaca kitab suci, padahal sekali-kali kita nggak pernah melihat yang dilakukan oleh Nabi-Nabi di masa silam. Yup, pada akhirnya kita semua tidak melihat tapi percaya, maka kita berbahagia.

Di dalam tradisi Katolik, kalimat itu muncul di pekan pertama sesudah Paskah. Dan sebenarnya ucapan Yesus itu ditujukan kepada Thomas yang orangnya nggak percayaan. Nah, dalam rangka memperingati sesuatu yang saya percaya terjadi 2000-an tahun silam itu, maka saya datang misa Minggu Sore ke Paroki Santo Thomas Rasul Bojong Indah Jakarta Barat.

Perihal Santo Thomas ini saya ingat sekali cerita Romo Antonius Yakin Cipta Mulya Pr, produk asli Paroki Bojong Indah yang sekarang berkarya di Paroki Ibu Teresa Cikarang. Katanya dulu dia malu menyebut anak Paroki Thomas soalnya Thomas ya gitu itu, namun kemudian dia memahami dan justru kemudian bangga menyebut diri berasal dari Paroki Santo Thomas Rasul. Jujur saja, pertama kali saya dengan kata ‘Bojong Indah’ yang dari Romo Yakin ini. Makanya penasaran juga.
Selanjutnyah tentang Bojong Indah

Berhari Raya di Kedoya

Salah satu hari raya umat Katolik (dan Kristen pada umumnya) yang menjadi tanggal merah adalah Wafat Isa Almasih. Penting untuk menjadi tanggal merah karena peringatan wafat itu biasa dihelat siang-siang. Dulunya begitu. Perkembangan umat yang gila-gilaan kadang membuat peringatan itu nggak bisa sekali karena menimbulkan banyak dampak bagi masyarakat. Yang terutama tentu saja kemacetan. Nah, karena itulah di Pekan Suci 2015 ini saya memutuskan untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi supaya tidak bikin rempong panitia, plus memilih jam-jam ke Gereja yang enak untuk naik kendaraan umum. Sesudah memilih dan memilah saya akhirnya menetapkan Gereja Santo Andreas Kedoya sebagai tujuan #KelilingKAJ edisi spesial hari raya alias pekan suci.

Namun apa daya, sudah berangkat jam 9.30 dari kosan, ternyata kendalanya banyak. Utamanya adalah jarangnya bus TransJakarta untuk arah Lebak Bulus. Walhasil, saya memang lantas sampai di Gereja yang terletak di dalam kompleks Green Garden itu, tapi mengikuti peringatan tidak dari dalam Gereja, namun untungnya tidak keringetan juga. Buat para komunitas telat-datang-padahal-sudah-1-jam-sebelum-mulai ala Pekan Suci pasti paham bahwa telat datang itu sama dengan kipas-kipas. Bagaimana ceritanya kok bisa begitu?

Ah, nanti juga tahu.

Selengkapnya Tentang Kedoya!

Merangkai Makna di Helena

Ini sebenarnya pelanggaran karena misi awal #KelilingKAJ kan didahului dengan keliling Jakarta. Namun apa daya, saya kok pas dapat kesempatan main sampai ke Tangerang. Jadi, ya, saya tulis saja. Namun tentu saya tidak dapat buru-buru melengkapi dengan jurusan Tangerang lainnya. Pertama, karena jauh-jauh dan agak butuh effort mengingat saya fix menginginkan misi ini menggunakan kendaraan umum. Kedua, karena mantan saya anak Tangerang. Uhuk!

Nah, tempat di Tangerang itu sebenarnya nggak jauh-jauh dari Jakarta. Tepatnya juga nggak jauh-jauh dari Mal Lippo Karawaci alias Supermal. Jadi ini semacam mengenang, karena saya dulu berada di paroki yang terletak di Lippo Cikarang. Sama-sama Lippo, cuma beda mal. Di Supermal, ujung satu Hypermart, ujung satunya Carrefour. Di MLC? Ujung satu Matahari, ujung satunya toko buku. Dan dari toko buku ke Matahari itu kelihatan. Benar-benar super (mini). Benar-benar mal terbesar se-Asia Tenggara, menyaingi besarnya Gardena dan Vikita di Jogja. Nama Gereja yang saya tuju dalam perjalanan ke Karawaci kali ini adalah Santa Helena.

Untuk mencapai Gereja Helena dari Jakarta cukup naik apapun bis Tangerang yang lewat Islamic. Dari Islamic, ambil angkot yang melewati Mal Lippo Karawaci. Boleh mampir sejenak sambil makan-makan karena kuliner di Mal Lippo Karawaci ini ibarat Jupiter dan Pluto dibandingkan Mal Lippo Cikarang. Nah, dari Mal Lippo Karawaci, sila menyeberang dan kemudian naik angkot putih ke arah Sekolah Budha. Nanti di sebelah Sekolah Budha yang ditandai patung lumayan besar itu, ada jalan masuk. Angkotnya tentu nggak masuk. Berhenti di gang itu, dan akan ada penunjuk arah menuju Gereja Helena. Well, jalan ke dalamnya agak jauh, melewati beberapa rumah yang sudah menjadi kos-kosan. Mirip Pavi kalau di Cikarang. Eh, itu mah Jababeka yak! Mirip Meadow Green deh, yang sama-sama Lippo.

Selengkapnya!

Mencari Nilai Hingga Regina Caeli

Sejauh ini misi #KelilingKAJ saya berjalan mulus. Tentu saja mulus karena semua TKP #KelilingKAJ yang saya pilih adalah yang dekat dengan sarana transportasi umum. Ada yang tinggal ngesot dari Halte TransJakarta semacam Matraman, atau yang rada dekat dengan stasiun semacam Pasar Minggu.

Supaya agak beriak, saya lalu mencari sasaran yang agak kejam. Kejam yang pertama adalah karena saya belum pernah menyusuri Jakarta sampai ke bagian sana. Kejam kedua adalah karena sarana transportasi umumnya tidak sesederhana dua moda favorit saya, TransJakarta dan KRL Commuter Line. Maka, diputuskanlah melalui Dewan Syuro bahwa TKP #KelilingKAJ berikutnya adalah Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk.

Satu-satunya yang membantu saya dalam pencarian lokasi Gereja Regina Caeli adalah blog berjudul Mengaku Backpacker. Sisanya? Nggak ada. Tentu saja, karena saya nggak yakin ada umat Regina Caeli yang ngangkot. Maklum, lokasinya berada di kawasan elit yang harga propertinya akan naik besok Senin.

Selengkapnya!

Jalan Singkat di Jalan Malang

Pada suatu hari Minggu pagi yang sendu karena hujan, saya bimbang perihal tujuan #KelilingKAJ berikutnya. Bukan apa-apa, siang harinya saya ada latihan paduan suara di Kolese Kanisius, jadi nggak mungkin saya pilih tujuan yang jauh. Sedangkan TKP sejenis Paskalis, Kramat, hingga Theresia saya simpan untuk terakhiran saja, karena toh dekat.

IMG20150308094952

Sembari bimbang, saya lantas ingat satu-satunya Gereja di Dekenat Pusat yang sama sekali belum pernah saya datangi. Ya, yang lain beneran sudah, bahkan sampai ke Pejompongan. Dulu ke Pejompongan karena sial soalnya TransJakarta ke Theresia ketutup lomba lari, sementara saya sudah sampai di Komdak. Nah, yang satu ini sebenarnya sudah saya incar dari dulu. Bahkan sejak saya masih di Cikarang dan lewat Manggarai sekadar hendak ke Gramedia Matraman. Diintip-intip kok kayak Gereja Katolik. Eh, ternyata benar. Berhubung waktu yang mepet akhirnya disahkan saja bahwa tujuan #KelilingKAJ berikutnya adalah Paroki Santo Ignatius Jalan Malang.


Selengkapnya!

Sunrise di Swiss-Belhotel Kendari

Pertama-tama, saya mau nanya, bagaimana pendapat kamu-kamu semua dengan pemandangan ini di pagi hari?

SWISBEL1

Kece, kan? Kece, dong! Pemandangan semacam ini saya temukan di sebuah pagi ketika saya menginap di sebuah hotel yang berlokasi di Kendari. Yup, ketika berada di Kendari, saya menginap di Swiss-Belhotel. Menurut website resminya, bintangnya 4. Namun satu hal yang krusial, harganya lumayan terjangkau. Bulan Januari silam saya sempat telepon–tapi nggak jadi karena perutusan dibatalkan–harga promonya hanya 400 ribu saja. Wow juga, kan.

Selengkapnya!

Melintas Masa di Matraman

Jakarta alias Batavia adalah sentral perkembangan Gereja pada zaman dahulu kala. Selain Katedral, generasi awal Gereja Katolik di Jakarta ada di tempat #KelilingKAJ yang saya bahas kali ini. Yup, kali ini kaki saya melangkah ke tempat yang nggak jauh-jauh benar dari kos yakni Gereja Santo Yoseph Matraman. Gereja ini, menurut saya, punya nilai spesial. Selain tergolong dalam generasi awal perkembangan Agama Katolik di Jakarta, juga termasuk dalam sebuah peristiwa titik balik. Jika belum pada lupa, Gereja Santo Yoseph Matraman merupakan salah satu sasaran bom malam natal tahun 2000, dan membawa korban jiwa.

Matraman3

Gereja Santo Yoseph berlokasi di Jalan Matraman Raya nomor 127 Jakarta Timur. Letaknya sebenarnya terbilang dekat dengan Gereja lainnya. Untuk ke Gereja Kramat, tinggal lurus–atau naik TransJakarta via Slamet Riyadi – Tegalan – Matraman- Salemba Carolus – Salemba UI – Kramat Sentiong – Pal Putih–turun dah. Kalau mau diterusin lagi, juga sampai ke Bidara Cina.

Aksesnya juga mudah, semudah ke Wisma Kemhan. Selain halte Slamet Riyadi, Gereja ini tidak jauh dari Stasiun Pondok Jati. Pun bisa dijangkau dengan angkot biru M.01. Benar-benar sangat dimudahkan. Plus bukan titik macet karena lumayan jauh dari perempatan Matraman yang durasi lampu merah (plus macetnya) setara durasi menanak nasi lalu kemudian menggorengnya.


Selengkapnya!

Melihat Laut dari Hotel Travello Manado

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, jelek-jelek begini saya pernah berada di Manado. Memang bukan kali pertama saya menjejakkan kaki ke Sulawesi, karena beberapa bulan sebelumnya sudah pernah ke Kendari, namun Manado tetaplah menjadi destinasi lumayan menarik. Baik itu menarik dari sisi pemandangan alam, maupun pemandangan berupa manusia alias ceweknya cantik-cantik.

Selama dua malam berada di Manado, saya menginap di Hotel Travello. Hotel ini berada di posisi yang lumayan tengah kota, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman nomor 123. Sebuah nomor yang menjadi alasan saya memilih hotel ini, karena bisa dibaca di bagian lain blog ini bahwa saya itu cinta tiga angka tersebut. Alasan lain? Tentu saja, budget!

TRAVELLO4

Ketika menghubungi Hotel Travello di nomor telepon (0431) 855999, telepon saya diangkat dengan cukup ramah. Eh, kok saya bisa tahu yang ngangkat itu ramah ya? Ya begitulah. Namanya juga hotel, kan harus ramah. Setelah bertelepon ria, saya mendapatkan jumlah kamar yang dibutuhkan, di lantai 8, lantai tertinggi di hotel Travello.

Continue Reading!

Melangkah Hingga Mangga Besar

Sesudah mengkalkulasi KAJ secara holistik, ternyata memang bagian Barat belum saya jamah secara sempurna. Maka, sesudah sempat ke Kemakmuran, saya lantas menguatkan hati, batin, dan ongkos untuk menapak jejak kedua di sebelah barat. Mempertimbangkan akses dan jadwal, maka pilihan jatuh di Mangga Besar.

Siapapun yang kenal Jakarta, pasti kenal kawasan Mangga Besar. Hotel-hotel di sepanjang jalan, hingga sebuah kompleks hiburan jelas menggambarkan itu semua. Di salah satu grup obrolan lelaki yang ada di ponsel saya, Mangga Besar jelas disebut sebagai sebuah lokasi untuk bersenang-senang di waktu malam. Saya kadang pengen ikutan, apa daya, untuk bayar ongkos taksi ke Mangga Besar saja tiada sanggup, kan disuruh hidup sederhana.

Saya menyisir jalan menuju Gereja Mangga Besar via Stasiun Mangga Besar. Penelusuran via Google Maps kali ini mengecewakan. Saya lantas dibantu oleh Wikimapia dan sedikit logika sederhana. Dari Stasiun Mangga Besar, cukup berjalan ke sebelah kiri, kemudian menyeberang, dan nanti sesudah Lokasari, kamu akan menemukan sebuah gerbang dengan tulisan berbackground merah pada bagian atas. Gereja Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar berada di dalam kawasan yang dilindungi oleh gerbang itu. Perhatikan dengan saksama jalur yang saya tempuh, tampak jelas bahwa yin dan yang memang harus bersebelahan.

Lanjutkan!