Tag Archives: lagu

6 Alasan Anak Paduan Suara Mahasiswa Adalah Jodoh Yang Tepat

Ealah. Hari gini kok ya masih ngomongin jodoh? Seumur saya sudah waktunya ngomong pelunasan apartemen, padahal. Ya mau bagaimana lagi, posting paling top dan selalu trending di blog ini ya tanda-tanda jodoh. Hal itu membuat saya yakin bahwa sampai saat ini banyak yang mencari jodoh via Google. Nah, berhubung salah satu posting yang juga viral dari blog ini adalah tentang paduan suara mahasiswa, kenapa tidak menggabungkan keduanya? Jodoh yang adalah anak paduan suara mahasiswa. Keren, kan? Makanya, simak nih alasan-alasan penting bahwa anak paduan suara mahasiswa itu memang adalah jodoh yang tepat. Sambil menyimak, boleh loh mengunduh buku saya yang judulnya OOM ALFA di Playstore. Heuheuheu.

1025828_10201405936087281_936451288_o

1. Suaranya (Pada Umumnya) Bagus

Oke, saya mungkin bisa dikecualikan. Suara saya nggak bagus, suara saya bas, nggak pakai ‘gu’. Ya, tahulah bahwa punya pasangan bersuara bagus itu punya nilai positif untuk kebahagiaan. Untuk jangka panjang, bisa diharapkan menurunkan gen anak yang bisa menyanyi, sehingga nanti kalau lomba di sekolah nggak malu-maluin. Dalam jangka pendek, kalau cewek punya cowok anak paduan suara, bisa minta dinyanyikan lagu romantis. Ehm, yang begini agak susah, sih. Namanya juga paduan suara mahasiswa, biasa nyanyi bareng-bareng, kalau nyanyi sendiri hampa. Oke, ini ngeles. Suara yang bagus itu pula yang dapat menjadi kebanggaan kita kalau-kalau nanti si pacar atau suami atau istri didaulat menyanyikan lagu Dewa di kawinan, “Ingin kubunuh pacarmuuu….”

Selengkapnya, klik disini!

[Review] Tetangga Masa Gitu?

Satu nama ini memang selalu mampu ‘mengubah’ pertelevisian Indonesia. Ya, namanya Wishnutama. Sesudah menggebrak dengan Trans TV–kemudian menyusul Trans 7–dia kemudian hengkang dan tahu-tahu tiba di sebuah stasiun TV baru yang tampak aneh karena mencoba merebut ceruk iklan di kompetisi pertelevisian yang padat. Namun ,belum apa-apa, stasiun TV itu sudah bikin launching yang LUAR BIASA MEWAH. Saya mencoba menonton televisi itu beberapa kali, tapi mungkin hanya Sarah Sechan yang bisa mencuri perhatian. Ya, stasiun TV itu adalah NET.

Tunggu punya tunggu, akhirnya NET punya juga sebuah masterpiece. Diusung M. Ikhsan di Production Head, Yenni Pujiastuti di Produser, Nunung Kusuma Wardhani di bagian Creative, dan Fatur Rachman di Production Assistant, muncullah sebuah tayangan andalan setiap jam 7 malam. Sebuah jam yang sangat berani untuk melawan stasiun TV lain ketika kemudian ada hewan ganteng. Yup, liat NET jam 7 malam, setiap Senin sampai Jumat, maka kita akan berkenalan dengan Angel, Adi, Bintang, dan Bastian di Tetangga Masa Gitu?

dOUi2zFn_400x400

Garis besar ceritanya ada pada empat orang dan dua rumah tangga. Angelica Schweinsteiger (diperankan oleh Sophia Muller), seorang pengacara kaya, yang sudah menikah selama 10 tahun dengan pria bernama Adi Putranto (diperankan oleh Adi Dwi Sasono), seorang pelukis yang cenderung pengangguran. Lihat saja, dua nama kondang ini ada di skenario, bagaimana tidak menarik?

Selanjutnya, Mbohae!

Menjadi Lektor yang Baik

Hahahahahahahaha.

*ngakak dulu*

Posting sotoy juga ini yak. Jelas-jelas masih lektor cupu, bisa-bisanya nulis judul sangar begitu. Yah, tapi okelah, kalau mau melihat dan membaca soal bagaimana menjadi lektor yang baik boleh dicek disini, disini, dan disini.

Dulu, iya duluuuuuu banget, saya mengawali karier membaca sabda Tuhan ini pada hari ketika saya menerima komuni pertama. Maklum, kan anak guru dan anak ketua rayon (tentunya anggota dewan paroki juga), jadi punya privilege untuk bisa tampil. Hahahaha. Muka saya tentu masih amat sangat cupu dan unyu walaupun sekarang juga sih.

Itu tahun berapa ya? Sekitar 1996 atau 1997, pastinya saya lupa. Sudah belasan tahun silam. Bahkan anak yang tahun itu belum lahir saja sudah bisa memperkosa *barusan baca berita perkosaan oleh anak 12 tahun, absurd*

Waktu kecil, saya itu amat sangat anti kritik. Pas pertama kali disodorin bacaan, maka saya baca secepat kilat, pokoknya kelar. Saya anggap semakin cepat semakin baik.

Salah. Saya ngambek.

Lalu ketika mulai paham bahwa ini sabda Tuhan yang harus dibaca dengan tempo tertentu (saya kalau ngomong biasa memang dasarnya cepat), saya kemudian dilatih untuk membaca oleh orang tua. Pas jatah kata “mereka”, saya baca dengan “mEreka”, saya diketawain orang tua.

Salah. Saya ngambek lagi.

Sebuah proses kampret dalam pendewasaan diri saya yak. Begitulah. Memang sungguh semprul sekali.

Pada perjalanannya, saya punya idola anaknya Pak Edi, kalau nggak salah namanya Mas Uus. Kalau ngelektor santai banget. Paling senang kalau lihat dia baca bacaan pertama Jumat Agung, dari Yesaya, yang panjangnya ora kiro-kiro itu, tapi kontennya menarik.

Dari situ saya mulai mengerti ‘cara membaca yang baik’.

Pindah ke SMA, waktu dimana saya nyaris murtad dan menjelma menjadi Kristen NaPas, ya mana ada cerita jadi lektor?

Saya baru jadi lektor lagi di Cana Community, kapel Santo Robertus Bellarminus Mrican. Yang ironisnya, saya tinggalkan karena satu kritik.

Kritik sih, cuma buat saya disampaikan dengan tidak proper oleh seorang suster. Saya lagi baca, kurang mengalir, terus dibilang, “gini nih kalau nggak biasa nyanyi.”

Dan saya sikapi dengan daftar PSM, lalu berkarier disana. Bye bye lektor. Hahahahaha.

Itu tahun 2005, dan saya baru ngelektor lagi tahun 2013. DELAPAN tahun kemudian. Syukurlah, skill itu nggak hilang-hilang banget.

Sebenarnya, apa sih makna menjadi lektor? Buat saya ada beberapa hal.

1. Membaca sabda adalah hal yang berbeda dengan membaca biasa. Saya coba praktek dengan membaca buku Rectoverso (pinjem), dengan cara lektor, rasanya jelas beda. Persislah dengan teman saya yang muslim yang mendaraskan surat-surat yang tertera di kitab sucinya. Itu inspiring sekali loh. Terutama si Irfan, kalau lagi malam-malam di mushala office lantai 2.

Menurut teori, memang ada pesan yang disampaikan ketika kita membaca. Tapi kalau saya sih mencoba berpikir sederhana saja. Sesudah doa pembukaan kan dibilang, “marilah kita MENDENGARKAN sabda Tuhan”, itu yang buat saya–walau megang teks–nggak pernah baca teks. Nah, bagaimana supaya yang mendengar itu bisa menerima isinya, itu yang sulit. Caranya? Ya bacalah sebaik-baiknya. Itu saja. Kita kan nggak tahu umat yang lagi dengerin lektor itu sedang ngelamun jorok apa kagak (itu mah saya kali…)

Poinnya adalah membaca sabda, punya nilai, yang sebisa mungkin tersampaikan kepada pembaca.

Sedikit membenarkan si suster yang menghina dina saya dulu, bahwa menyanyi itu membantu dalam membaca. Setiap bacaan mempunyai lagu, dan tidak selalu harus dibaca ala puisi. Yeah, dulu pas Bahasa Indonesia paling tobat saya kalau disuruh baca puisi. Terimo ora. Tenan.

Inilah yang kemudian membantu upaya penyampaian maksud bacaan kepada umat. 🙂

2. Lebih dekat dengan sabda Tuhan adalah sisi baik lektor. Saya ini yah, ampun-ampun, walaupun punya kitab suci, mana pernah saya baca? Coba tanya saya 1 kalimat yang saya hafal di alkitab, mana ada?

Tapi, saya bisa ingat loh, bacaan-bacaan yang pernah saya baca di mimbar, dan sekaligus kata-kata penekanannya. Misal, “….karena engkau, mentaati sabda-Ku..”, atau “….dan mereka semua disembuhkan…”

Nggak usah muluk-muluk ke orang, urusan ke diri sendiri si lektor aja dulu. Pengaruhnya signifikan, terutama bagi orang yang jarang baca alkitab kayak saya. Hahaha.

3. Menikmati diri didengarkan, buat saya adalah perspektif lain. Dulu, buat saya, secepat mungkin selesai, lebih baik. Hehe. Tapi perlahan saya sadar, umat nggak akan melempar saya dengan sepatunya kalau saya terlalu lama di mimbar. Lha wong romo yang kotbahnya 1 jam sendiri juga nggak dilempar kan? *ekstrim mode on*

Umat datang (salah satunya) untuk mendengarkan sabda, jadi menikmati saat-saat di mimbar adalah penting.

Datanglah ke mimbar, lalu bersiap sejenak. Lihat ke depan, jangan ke belakang, apalagi ke atas *iki ngopo sih?* Kalau melihat ke depan, toleh dikit kiri kanan siapa tahu ada yang cantik.

*lektor sesat*

Untuk hal ini, saya angkat topi untuk Felic, anak Cana dulu. Ini anak paling menikmati soal tengak tengok ini. Naik mimbar, tengak tengok dulu. Pede abis pokoknya. Tapi jadinya keren.

Coba nikmati begini:

Naik ke mimbar, letakkan buku, pastikan bacaan terbuka dengan baik. Lalu lihat ke depan, sedikit kiri, sedikit kanan. Kalau nemu yang cantik, tetapkan sasaran. Kalau ada pacar, bolehlah jadi titik pusat. Lalu ambil nafas, tahan sampai besok.

*ngawur kan*

Ucapkan kalimat dengan perlahan, sehingga tidak akan merasa kehabisan napas. Karena di altar tidak ada tabung oksigen. Pelan-pelan saja, dan jangan terus gemetar. Ini posting sotoy, jadi jangan percaya kalau yang nulis nggak gemetaran. Percayalah, bahwa saya pun kadang masih gemetaran.

Cari kalimat-kalimat yang perlu ditekankan. Itu akan menjadi penekanan berbeda waktu membaca. Plus, begitu mau kelar, temponya diperlambat. Ini teori saya dapat waktu di Cana, lupa dari siapa, tapi ini yang bikin membaca jadi asyik. Tempo diperlambat, kata per kata kalau perlu ditekankan. Kebanyakan sih, poin utama bacaan itu memang ada disana. Nggak tahu kalau ada perubahan dari 2005 ke 2013 ya.

Nah, sesudah kelar. Tarik napas lagi, tahan lagi sampai besok, lalu bilang, “demikianlah sabda Tuhan.”

4. Tapi sebenarnya, bagian terbaik dari menjadi lektor adalah ketika mendapat berkat di sakristi ketika tugas sudah berakhir. Itu rasanya berbeda dibandingkan jadi umat biasa. Maklum, bertahun-tahun jadi umat biasa. Luar biasa sih, maksudnya, biasa di luar. *halah*

Ya begitulah. Seperti saya bilang tadi, kalau mau yang baik dan benar sila baca tautan yang sudah saya buat. Tapi kalau mau jadi yang sesat, boleh ikuti cara saya. Dijamin ngawur. Hehehehe.

The Script – The Man Who Can’t Be Moved

Going back to the corner where I first saw you,

Gonna camp in my sleeping bag. I’m not gonna move,
Got some words on cardboard got your picture in my hand,
Saying if you see this girl can you tell her where I am,
Some try to hand me money they don’t understand,
I’m not… broke I’m just a broken hearted man,
I know it makes no sense, but what else can I do,
How can I move on when I’ve been in love with you…

Cos if one day you wake up and find that you’re missing me,
And your heart starts to wonder where on this earth I can be,
Thinking maybe you’d come back here to the place that we’d meet,
And you’d see me waiting for you on the corner of the street.

So I’m not moving…
I’m not moving.

Policeman says son you can’t stay here,
I said there’s someone I’m waiting for if it’s a day, a month, a year,
Gotta stand my ground even if it rains or snows,
If she changes her mind this is the first place she will go.

Cos if one day you wake up and find that you’re missing me,
And your heart starts to wonder where on this earth I can be,
Thinking maybe you’d come back here to the place that we’d meet,
And you’d see me waiting for you on the corner of the street.

So I’m not moving…
I’m not moving.

I’m not moving…
I’m not moving.

People talk about the guy
Whos waiting on a girl…
Oohoohwoo
There are no holes in his shoes
But a big hole in his world…
Hmmmm

Maybe I’ll get famous as man who can’t be moved,
And maybe you won’t mean to but you’ll see me on the news,
And you’ll come running to the corner…
Cos you’ll know it’s just for you

I’m the man who can’t be moved
I’m the man who can’t be moved…

Cos if one day you wake up and find that you’re missing me,
And your heart starts to wonder where on this earth I can be,
Thinking maybe you’d come back here to the place that we’d meet,
And you’d see me waiting for you on the corner of the street.

So I’m not moving…
I’m not moving.

I’m not moving…
I’m not moving.

Going back to the corner where I first saw you,
Gonna camp in my sleeping bag not I’m not gonna move.

sumber: miracleondecember.wordpress.com

* * *

Lagu galau lainnya..
Haduh, galau terus bae ni..

T_T