Feel Neo di Hotel Neo Malioboro

Jogja yang katanya berhati mantan itu memang sedang dibanjiri oleh hotel-hotel aneka rupa. Sebagian hotel tampak mahal, sebagian murah, sebagian berada di tempat yang beneran pas untuk hotel, sebagian lagi bahkan memakai trotoar sebagai bagian dari hotel. Nah, ketika saya berada di Jogja, keputusan untuk menginap kemudian jatuh di Hotel Neo Malioboro.

11352018_917160671637347_924970697_nAlasan pertama, hotelnya baru. Kedua, kiri-kanan hotel juga, jadi setidaknya ini memang daerah wisata. Ketiga, letaknya otomatis di tengah kota. Yah, walaupun judulnya Neo Malioboro tapi sebenarnya berada di Jalan Pasar Kembang, sih. Keempat, dekat dengan Malioboro. Kelima, dekat dengan tempat dinas. Dan yang bikin menarik sebenarnya adalah warna hitamnya.

Dinas ke Jogja mungkin sepanjang karier cuma sekali ini, maka saya tiba di Jogja pagi-pagi, first flight dari Jakarta. Sesampainya di hotel tentu saja belum jam check in, namun untungnya kebijakan di Hotel Neo ini baik sehingga saya bisa menitipkan gembolan sebesar kenangan tanpa khawatir kehilangan. Sebagai gambaran, saya menitipkan laptop segala. Jadi keamanannya bolehlah. Oh, ada yang unik begitu pertama kali menjejak Hotel Neo. Resepsionisnya! Yang Mbak-Mbak memakai wig putih, yang Mas-Mas memakai topi-saya-bundar-bundar-topi-saya. Lumayan kerenlah.

Sepulang dari wisata volcano di Merapi, barulah saya masuk ke kamar. Luasnya ya nggak gede-gede banget, tapi tidak sesempit waktu saya di Manado. Yang menarik, di dinding ada wallpaper khas yang di masing-masing kamar beda. Kamar saya pas becak, kamar yang lain ada pojok beteng, ada tugu. Cukup menambah nuansa dan suasana Jogja. Uhuy!

photogrid_1448687759615.jpg

Warna hitam dan putih begitu mendominasi di kamar. Gelas hitam, sandal juga hitam, hairdryer warna hitam, sampai label botol air mineral juga hitam. Bagi yang bosan dengan hotel yang putih-putih begitu saja, perkakas kamar di Hotel Neo ini terbilang menarik.

photogrid_1448687810895.jpgphotogrid_1448687670615.jpg
Satu kelemahan Hotel Neo ini adalah karena letaknya yang strategis itu tadi. Saking strategisnya, dia terletak persis di seberang Stasiun Tugu. Yah, ini Stasiun Tugu, Bung! Pukul 2-3 pagi ketika enak-enaknya bobok, pada saat yang sama Kereta Api juga enak-enaknya sampai. Maka, bagi yang tidurnya kurang tenang, mungkin akan terganggu. Namun selama seminggu saya di Neo, karena lelah bekerja, jadinya ya bobok juga.

Bicara breakfast, ini sebenarnya salah satu yang paling kece di Neo. Pilihannya cukup banyak, dari jamu sampai sushi, dari bakso sampai wafel. Rasa juga nggak kalah. Cuma, karena hotel ini ramai, ketika breakfast kadang-kadang jadi kayak pasar. Heuheu. Waktu saya menginap itu ada 3 bis rombongan yang sama dan ya bayangkanlah seperti apa jadinya. Cicipi satu-satu deh. Baksonya enak, wafelnya juga, sushi nggak terlalu, demikian pula jamunya. Nasi gorengnya termasuk top. Dan, ah, monggo dirasakan sendiri saja.

photogrid_1448687561071.jpg

Oh iya, untuk yang check out subuh, bisa juga kok minta breakfast dibungkus, mau tipe nasi atau tipe roti bisa disediakan. Dan untuk ini pelayanan di Hotel Neo termasuk top. Di hotel ini juga ada ATM dan minimarket. Jadi kalau ada apa-apa uang butuh nggak terlalu jauh ke Malioboro. Di Depan hotel juga tersedia becak dan taksi. Termasuk sangat mudah diakses, deh.

Nah, demikian saja reviu tentang yang neo di Hotel Neo, kalau kali lain ada hotel-hotel di Jogja yang minta direviu, pasti saya tulis dengan lebih memadai dan mumpuni. Heuheu. *ceritanya kode keras*

4 thoughts on “Feel Neo di Hotel Neo Malioboro

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s