All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Bukan Dia

“Udah beres semua?”

“Udah kayaknya.”

“Sip, deh.”

“Pacaran dulu, yuk!”

“Eh, kamu ini, mau ujian kok malah pacaran dulu?”

“Nggak apa-apa, sayang. Udah khatam.”

Tanpa berlama-lama Echa melompat ke jok motorku, dan kami melesat ke kosnya yang sebenarnya tidak jauh-jauh benar dari kosku. Kami pacaran baru empat bulan. Tindakan terjauhku baru memeluknya. Bibirnya masih perawan, apalagi alat kelengkapan lainnya. Kami memang pacaran di dalam kamar, tapi dengan pintu terbuka. Itulah konsensus pacaran di kamar kosnya.

Pic

Sejak selesai membeli snack untuk dosen penguji, aku sudah melihat gelagat yang aneh pada Echa. Entahlah, aneh saja rasanya. Hanya aku tahu, tidaklah baik untuk bertanya ‘kamu kenapa’ kepada gadis yang sudah berusaha tampak tidak apa-apa. Itu hanya akan menjadi pekerjaan seperti menegakkan benang basah. Kini, kami hanya diam saja sambil setengah bermesraan di dalam kamarnya.

“Kok diam aja, yang?”

Continue Reading!

Tulisan ariesadhar.com di Laman Pertama Google

Tulisan ini sekalian promosi buat siapapun yang ingin bekerjasama dengan saya perihal blog. Hehe. Soalnya, kemaren saya iseng mengetik beberapa kata kunci dan agak kaget juga mengetahui bahwa beberapa tulisan yang ada di blog ini nangkring di laman pertama pencarian via Mbah Google. Tidak selalu nomor 1, sih, tapi ada deh di halaman 1 Google. Apakah itu pertanda saya sudah mulai bisa SEO? Ah, saya mah nggak mikir. Blog ini kan buat suka-suka-hore-hore, kalau ada pendapatan itu bonus.

Tulisan yang greng (mengutip bahasa dari seorang petinggi yang kelakuannya tidak bisa diprediksi) di blog ini umumnya adalah tentang fakta-fakta. Itu tentunya sejak saya menulis 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma. Maka jelaslah ada beberapa kata kunci yang terkait fakta-fakta itu yang nangkring di laman pertama Google, seperti:

Fakta Sadhar

Itu si nomor 2 sebenarnya tulisan saya yang dicopas orang (#akurapopo). Terus yang nomor 3, itu turunan dari si nomor 1, lumayan dong, menginspirasi sesama.

Continue Reading!

123 Hal Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Saat Berada di Dalam Pesawat Yang Sedang Terbang

1. Membuka sabuk pengaman orang lain yang duduk di sebelah kamu
2. Apalagi kamu nggak kenal sama dia
3. Apalagi kalau di sebelahnya ada suaminya, nanti kamu dipliriki kayak gini:

012414hu2sh-e14205145757664. Mengajak penghuni hot seat untuk bertukar kursi
5. Ngobrol sama kondektur
6. Minta rokok sama kondektur
7. Meminta pilot untuk ngeblong
8. Menyemangati pilot untuk menyalip Rosalia Indah
9. Atau Kramat Djati
10. Menurut ngana, ini Pantura?

Masih 100-an lagi, baca yuk!

Dua Malam di Manado

Heyhoh! Kembali lagi dalam edisi perjalanan di blog sepele ariesadhar.com ini! Kembali lagi atas nama pekerjaan, saya kembali naik pesawat. Sesungguhnya, naik pesawat di kala berita tentang proses evakuasi Air Asia QZ8501 sedang kencang-kencangnya, bukan hal yang mudah. Apalagi kali ini perjalanannya kembali menuju timur. Timur Prado…, eh, ya ke timur aja, gitu. Untungnya lagi, kali ini pekerjaannya tidak selama dan seberat yang dua perjalanan awal yang tentunya bisa dibaca juga liputannya di blog ini.

Jadi, kemana saya kali ini?

manado1

Yup, saya kembali lagi ke Bumi Celebes. Sesudah kemaren ke salah satu kakinya, sekarang saya ke kepalanya. Demi efektivitas perjalanan dan pekerjaan, akhirnya diputuskan bahwa berangkatnya jam 05.30 pagi WIB. Yang mana daripada saya harus sudah ada di bandara Soekarno-Hatta setidak-tidaknya jam 04.30, dan tentu saja saya nggak mungkin nunggu Damri jam segitu. Jadilah saya sok kaya dengan Taksi Blue Bird. Mau bagaimana lagi? Pukul 03.30 saya sudah cabut dari kosan, ditemani rintik hujan dan maling-maling yang sedang dinas.

Lanjutkan bacanya, yuk!

4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi

4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi

Sudah lama nggak nulis tentang farmasi. Tentunya karena saya sudah hampir 1 tahun tidak bekerja lagi di pabrik farmasi. Saya malah lebih sibuk mengenang, fotokopi dan mengisi TTS. Gimana, dong? Nah, untuk meredakan rindu pembaca farmasi di blog ini, saya mau menulis tentang beberapa kalimat berupa omongan yang sering terlontar kepada anak farmasi. Menurut riset yang dilakukan, bekerjasama dengan A.C.Lontong, hampir 99,4% anak farmasi pernah dan akan menerima omongan-omongan di bawah ini. Penasaran? Penampakan? Ini dia!

1. “Ini obat apa, sih?”

Begitu ketahuan kalau mahasiswa farmasi–semester 1 belum ospek sekalipun–seseorang akan mulai akrab dengan obat dan pertanyaan-pertanyaan terkait, terutama yang menjadi judul poin ini. Seringkali Mamak saya menelepon ketika sedang di rumah orang, “Bang, untuk apa obat ini, nak?”. Disebutkanlah sebuah merk. Mengingat di Indonesia Raya ini ada 200-an pabrik farmasi, masing-masing pabrik punya sekian ratus brand obat, maka ketika suatu merk disebut, apakah itu berarti saya akan mudah menyimpulkan dan menjawab dengan lugas dan tuntas berikut farmakoterapi obat orang lain yang sedang ditanyakan oleh orangtua saya? Ya, kali. Ketika saya menjadi karyawan pabrik yang merupakan market leader untuk obat generik, memang menjadi lebih mudah untuk menjawab. Apalagi saya kan PPIC.

Menjadi MIMS atau ISO berjalan adalah keharusan bagi seseorang yang sudah melekatkan farmasi dan hidup kesehariannya. Sejatinya sudah agak dipermudah ketika ada regulasi untuk mencantumkan kandungan obat dengan ukuran 80% dari font merk obat. Jadi, ketika saya ditanya, maka saya akan nanya balik, “isinya apa?”. Namun, bagi apoteker yang kerjanya mengurusi kotak dan angka di spreadsheet, mengurusi oli mesin cetak, mengurusi event, siapa yang ingat seketika suatu obat Lisinopril berasal dari golongan apa, mekanismenya gimana, tahunya ya obat hipertensi. Apakah dia termasuk golongan Angiotensin Receptor-Blocker (ARB), JKW, JK, Win-HT, dan golongan-golongan lainnya.

2. “Wah, bisa baca tulisan jelek, dong?”

Bisa baca tulisan ini?

bertha-004

Baca selengkapnya, yuk!

Tertangkap Pastor Paroki

Pacaran, pada prinsipnya, adalah sesuatu yang menyenangkan, walaupun kawan-kawan saya bilang bahwa menikah lebih menyenangkan. Apapun, yang jelas keduanya jauh lebih menyenangkan daripada jomlo menahun, berkerak penuh luka dalam kesendirian nan hina, berteman dengan sepi dan kenangan-kenangan yang melintas dalam fragmen-fragmen panjang tiada henti. Ah!

Sesudah mencari pacar di berbagai arena, akhirnya saya menemukan gadis yang bersedia ditipu dengan sebongkah ongol-ongol dan berkenan menjadi pacar saya. Siapa duga dan siapa sangka, ternyata gadis itu adalah umat dari Mas-nya Bapak saya. Ya, kebetulan beliau memilih jalan menjadi pemuka umat Katolik. Ada beberapa sisi positif dan negatif dari posisi ini. Sisi positifnya, ketika PDKT, rekomendasi dari Pakde sendiri yang adalah pemuka umat tentu adalah nilai plus. Sisi negatifnya? Mengingat proses pengesahan pernikahan dalam agama Katolik adalah via Pastor Paroki, maka bisa jadi saya akan terjebak dalam penyelidikan kanonik nan menyeramkan mengingat Pastor yang menyelidiki itu telah mengenal saya sejak belum dibuat.

Selain itu, mengingat Pakde saya adalah pemuka umat setempat, jadi tempat saya pacaran otomatis juga adalah teritorial beliau. Dan pemuka umat tentunya juga bertugas melindungi umatnya, termasuk dari ancaman keponakannya sendiri. Itulah konteks ketika cerita ini terjadi.

Suatu kali dalam kunjungan ke Cimahi, saya dan pacar misa ke Pratista, sebuah tempat retret milik Ordo Salib Suci (kayaknya), yang terletak di Jalan Kolonel Masturi. Kalau ke Bandung dan sekitarnya, jangan heran sama Jalan Kolonel Masturi karena panjangnya melebihi jalan kenangan. Mungkin hanya kasih ibu yang bisa menyaingi panjangnya, seperti kata pepatah, kasih ibu sepanjang jalan Masturi, kasih ayah sepanjang jalan Riau.

rekoleksi-wil-theresia-2

Continue Reading!

Beasiswa Kecil-Kecilan Yang Tidak Kecil

Seperti sudah diketahui bersama oleh khalayak ramai dan penghuni Bikini Bottom, pacar saya sedang kuliah di Inggris, atas pembiayaan pemerintah. Beasiswanya kalau ditotal mungkin nyaris 1 Miliar, kali sekian ratus pemuda pemudi harapan bangsa yang disekolahkan ke luar negeri dengan harapan nantinya Indonesia punya pemimpin nan mumpuni untuk menghadapi bonus demografi. Saya berencana mengikuti jejaknya, tapi tentu saya harus menunggu huruf ketiga dari abjad mengganggu seluruh langkah hidup saya.

Berita_USD_10022011141414_GedungPusat_USD1

Kebetulan hari ini saya membaca sebuah status adek kelas juauhhhh bangedddddhhh di Farmasi dan di PSM tentang kuliahnya yang terjadi karena beasiswa. Saya kok lantas jadi mellow dan terkenang masa-masa silam. Bagian soal beasiswa ini juga saya sertakan di novel saya, Oom Alfa.

Saya tidak pintar. Jadi, mungkin nanti kalau saya apply beasiswa luar negeri, saya baru bisa diterima di universitas yang ada di Uganda dan Zaire. Inggris? Mungkin bisa juga, tapi di BSI London–misalnya. Seperti kata Obama KW, “Kuliah? BSI aja!”

Continue reading!

Twenty Something

Haduh. Ngomong umur ini memang agak pelik. Apalagi ketika sudah memasuki angka yang menurut saya TUA. Sudah tua, belum kawin, belum punya mobil, punya rumah tapi cuma buat sarang ular, gaji 1,9 juta dan belum ada tanda-tanda meningkat, dan lain-lainnya. Ya, begitulah saya. Selamat datang di usia yang baru, twenty something ini. 😀

Well, baiklah, mari kita review dulu apa saja yang telah saya lakukan di usia yang baru saja lewat ini.

Januari

Membeli kerupuk jeletot untuk kewajiban ulang tahun di kantin kantor adalah pilihan yang agak hore karena ternyata begitu saya ulang tahun, Cikarang hujan deras bin banjir selama berhari-hari. Cukup hore karena sembari hujan, saya malah membawa kardus voluminus itu. Ya, tidak seistimewa tahun sebelumnya ketika ulang tahun saya diperingati dengan audit BPOM. Ehm, satu hal yang paling saya ingat adalah Mbak Mantan yang memilih untuk mengucapkan paling terakhir. Mantan yang satu itu memang anti mainstream kelakuannya. Heran juga kenapa saya pernah jadian sama dia. Hem.

Saya berulangtahun dalam kondisi jomlo kronis-nis-nis-nis. Sesudah putus–entah kapan–di tahun 2012, saya melewatkan tahun 2013 dengan di-PHP dan mem-PHP wanita. Dan pas ulang tahun itu saya kosong-sekosong-kosongnya. Begitulah. Kasihan. Tapi ternyata di akhir bulan Januari itu, Coco–yang di blog ini difiksikan sebagai Chiko–dengan gagah berani memberi jalan kepada saya untuk berkenalan dengan seorang cewek. Iya, itu akhir Januari, di hari Senin. Pada tanggal twenty something.

Februari

Jalannya si eks playboy itu kemudian lancar. Februari kemudian diwarnai oleh cerita PDKT saya dan mbak-mbak itu. Dimulai dari nonton Comic 8 di Bintaro, sebagai perjumpaan pertama. Kemudian diikuti ngabur dari baksos karena janjian di Plaza Senayan demi pelet brownies tempe. Hingga kemudian akhirnya saya berhasil menipu dia untuk menjadi pacar saya. Ah, syukurlah, upaya menjelma menjadi romantis dalam beberapa pekan berhasil. *senyum licik David Luiz*

Maret

Ini salah satu bulan krusial dalam hidup saya, karena tanggal 5 saya memilih untuk menjadi pengangguran dengan resign dari kantor lama. Tapi ada untungnya juga. Di bulan Maret saya bisa ikut jalan-jalan ke Cisantana, sebuah tempat yang nggak mungkin saya capai kalau saya masih pegawai. Saya juga bisa mengurus beberapa hal yang terkait administrasi. Cukup hore, deh, pokoknya.

Satu lagi, di bulan ini juga saya diberi kabar bahwa Mbak Pacar keterima kuliah di London. Dua perasaan muncul. Pertama, senang bukan kepalang karena calon bini saya kuliahnya bergengsi. Kedua? Yaelah, LDR lagi.

Continue Reading!

[Review] Koala Kumal

Bagi yang sering baca blog saya pasti ingat bahwa di salah satu posting, saya pernah bercerita bahwa seterkenal apapun Raditya Dika dengan buku dan film-filmnya, tetap ada ibu-ibu di Pejaten Village yang nggak ngeh dia itu siapa. Ceritanya ketika saya dan kawan-kawan penulis GagasMedia Group lainnya diundang nonton Manusia Setengah Salmon. Pas Raditya Dika sedang di panggung dengan muka kucelnya, tetiba ada ibu-ibu lewat dan bertanya. “itu siapa?”

B2sD5VjCUAAxhnd

“Itu Raditya Dika, bu,” jawab saya.

“Siapa dia?”

“Artis.”

“Kok saya nggak kenal?”

*hening*

Continue Reading, Mbohae!

Selamat Ulang Tahun, Mamak!

Kalah set sama si Cici yang sudah duluan ngepost yang semacam ini. Nggak apa-apa. Toh ya ini soal Mamak yang sama. Kebetulan Mamak saya dan Mamak Cici sama. Kan dia adek saya, gimana, sih? Posting ini juga perlu karena tahun 2013 saya pernah menulis posting ucapan yang sama kepada Bapak. Salah-salah saya dikutuk jadi Malin Kundang. Ampun.

Hari ini, Mamak saya genap berusia 52 tahun. Sebuah usia yang masih so-so, dalam kategori menimang cucu. Sebagai wanita karier yang beranak di usia 24 tahun, kiranya umur segini masih segar. Ya kan, Mak? Jadi cucunya kapan-kapan saja kan? *uhuk*

foto1

Sebenarnya, saya paling sering ribut sama Mamak saya nan asli Batak ini. Tidak seperti Bapak saya nan bijak tiada tara, kalau sama Mamak, saya bisa tinggi-tinggian nada. Kadang kalau pakai telepon, berasa ingin membanting handphone kalau nggak sadar bahwa harga handphone-nya melebihi gaji saya sebulan. Cuma, saya yakin ini dinamika keluarga belaka. Anak yang ribut dengan orangtuanya kiranya lebih mending daripada anak yang menuntut Ibu-nya di pengadilan. Kadang ributnya nggak penting. Ingat sekali ketika tahun 2004 saya menangis di Bandara Tabing. Tangisan yang kalau dipikir sekarang adalah kurang krusial. Saya menangis karena menurut saya cukup ndeso untuk makan dengan bekal yang dibawa jauh-jauh dari Bukittinggi, di Bandara Tabing. Kalau dipikir-pikir lagi, itu kan tanda sayang? Begitulah.

Continue Reading!