Cerita Farmasi: Jenis Bolos Anak Farmasi

Iya, saya masih luntang lantung gaje, jadi masih sempat berpikir soal cerita farmasi. Kalau saya sedang sibuk seperti biasa, saya mah sibuk mikirin bagaimana ceritanya kayu manis di Kerinci sana bisa sampai ke pabrik dengan selamat. Dan olahannya bisa dikirim tepat waktu untuk memastikan saya selamat dari kejaran konsumen.

Baiklah, sesudah membahas tentang cara anak farmasi dalam melakukan kerja kelompok serta ahli-ahli yang tersedia di kelas farmasi, maka kali ini saya akan mengetengahkan topik yang agak sensitif. Disebut sensitif karena kalau habis dicelup urine menghasilkan dua garis, maka bisa menimbulkan huru-hara.

Eh, itu merk testpack bukan ya?

Oke. Abaikan saja kalimat barusan. Lagian nggak layak juga seorang jomblo nulis kalimat macam itu. Kalau kata Upin sama Ipin, “tak patut”. Sama tak patutnya dengan kelakuan anak farmasi yang akan saya bahas berikut. Ini khas banget anak muda. Namanya bolos, sebuah kata yang menurut KBBI bermakna ganda. Makna pertama dari bolos adalah “tidak masuk”, sedangkan makna keduanya adalah “meloloskan diri”. Iya, ini nggak salah loh. Silakan cek sendiri kalau nggak percaya. Lelaki memang sukar di percaya. Itu makanya Sukardi adalah nama lelaki, bukan nama wanita.

Kadang menjadi aneh kalau dipikir. Sudahlah kuliah itu mahal, eh kok ya mahasiswa-mahasiswa yang membayar mahal itu lebih memilih bolos daripada kuliah. Dan mahasiswa selalu punya alasan untuk membolos, demikian pula mahasiswa farmasi. Sebagian jenis bolos berikut mungkin juga jamak terjadi di fakultas lain, tapi sebagian kecilnya, saya yakin itu khas banget farmasi.

Yak. Markimul. Mari kita mulai.

Bolos Kesiangan

Seperti sudah saya kisahkan di dua cerita sebelumnya bahwa kuliah farmasi itu dipandang berat oleh banyak orang, termasuk juga dipandang berat oleh anak farmasi itu sendiri. Sebagian orang bahkan menganggap kuliah farmasi lebih berat daripada beban hidup, atau malah lebih berat daripada nama orang tua mereka yang ningrat.

Salah satu yang bikin berat adalah kewajiban untuk mengerjakan tugas dan laporan. Padahal kuliah dan praktikum saja sudah bikin mahasiswa ada di kampus dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Bahkan kadang sampai Matahari Dept Store tutup, itu mahasiswa juga masih ada di kampus. Kemungkinan dia memang punya tugas untuk keliling karena satpam kampus sedang diare.

Sudahlah kuliah capek, besok ada deadline laporan, belum kelar pula. Jadinya? Begadang deh. Padahal sudah sering dikatakan sama Bang Rhoma, jangan begadang kalau tiada perlunya. Memang sih begadang itu boleh saja kalau ada perlunya.

Tapi apa iya anak farmasi begadang karena laporan? Sebenarnya sih ada beberapa penyebab anak farmasi begadang.

Pertama, pacarnya ngambek. Berlaku untuk mahasiswa cowok ya. Yang semacam ini tentunya dimulai dari pertanyaan, “kamu kenapa”, yang tentunya dijawab, “aku nggak apa-apa”, yang lantas dilanjutkan dengan, “kamu yakin?”, dan tentu juga ditanggapi dengan, “menurut kamu?”. Dan seterusnya. Kalian semua pasti sudah paham bahwa obrolan ini tidak akan berakhir kalau tidak diakhiri. Nah, si anak farmasi ini kemudian harus minta maaf, mencari-cari kesalahannya sendiri, karena nggak dikasih tahu salahnya apa. Si cewek kemudian tersenyum dan hubungan kembali baik-baik saja pada jam 3 pagi. Itu cewek apa kuntilanak sih? Sepulang dari rumah pacarnya, si mahasiswa cowok lantas mengerjakan laporannya sambil begadang.

Kedua, laporan diselesaikan sesudah urusan lain yang lebih penting. Umumnya urusan yang lebih penting ini bernama DVD Film Korea. Mengingat DVD ini disewa dan deadline kembalinya besok, maka para mahasiswi yang nggak mau rugi kemudian menghabiskan malamnya sambil nonton DVD Film Korea. Tidak lupa cemilan (yang katanya bikin gendut), tidak lupa pula menyuruh pacarnya jangan datang dengan berkata, “aku lagi mau sendiri dulu, aku mau kencan sama Lee Min-ho”, plus membeli tisu dua karung untuk menangis. Urusan DVD Film Korea ini kemudian kelar jam 12 malam bertepatan dengan pulangnya Cinderella. Kemudian si mahasiswi mengerjakan laporan sambil begadang.

4702_1112203378688_1635022450_261725_8232894_n

Ketiga, ini setengah-setengah, separuh mahasiswa dan setengah mahasiswi melakukannya. Ini juga pengalaman saya dulu karena saya adalah penggemar berat Football Manager. Sejak jam 4 sore sepulang kuliah saya sibuk mengatur klub saya waktu itu–Fiorentina–dan kemudian berniat untuk berhenti jam 8. Sayangnya saya kalah terus, jadi saya terusin dulu sampai menang. Nah, giliran sudah menang, dan sudah banyak kalahnya tadi, jadi saya main lagi supaya merasakan kemenangan lagi. Begitu seterusnya sampai saya ingat kalau laporan belum kelar. Jadilah saya mengerjakan laporan sambil begadang.

Padahal kuliah farmasi itu umumnya dimulai jam 7 pagi. Kalau laporannya saja baru selesai jam 5 pagi dan kemudian sesudah ayam berkokok baru tidur, kira-kira apa bangun itu buat kuliah jam 7?

Umumnya sih nggak. Jadi? Bolos deh. Sebagian kebablasan jadi nggak sempat minta tolong titip tanda tangan, apalagi titip jempol. Sedangkan sebagian lagi masih sempat terbangun sekejap, ngirim surat via merpati ke teman yang kuliah dengan isi pesan begini:

TITIP TND TGN YA TTK HBS

Bolos Deadline

Seringkali, usaha dan kerja keras tidak bisa menandingi kerasnya dunia perkuliahan farmasi. Padahal dunia kerjanya jauh lebih keras. Ah, malah curhat kan?

Kembali ke topik.

Hal yang saya maksud adalah mahasiswa sudah begadang dengan bekal dua galon kopi dan ganjal mata, tapi tetap saja tugas tidak selesai. Kebetulan tugas itu dikumpulkan jam 11 siang. Masalahnya, jadwal kuliah sudah padat sejak jam 7. Jadi 7 sampai 9 kuliah Kimia Organik, jam 9 sampai 11 kuliah Kimia Orgalau.

Sumber: markdenham.com

Sumber: markdenham.com

Modus bolos deadline ini biasanya sangat rapi dan terbagi dua, yakni individual dan berkelompok. Untuk yang individual, mereka akan mudah ditemui di tempat-tempat strategis, semisal kamar kosnya sendiri, perpustakaan, atau di atas menara SUTET. Mahasiswa jenis ini akan tampak seperti mahasiswa yang sangat rajin dan fokus pada tugas yang dikerjakan sambil melihat jam setiap 5 detik sekali. Lalu pelaku bolos deadline ini akan datang ke kampus dengan berlari berputar-putar di pohon seperti film India, sehingga jam 11 sampai di kelas atau lab dengan terengah-engah. Tidak lupa berteriak “nenikikamen” lalu menggelepar dan meninggal dunia seperti Pheidippides yang lari dari Marathon sampai Athena.

Sedangkan yang berkelompok jauh lebih mulus. Jadi dua kuliah awal itu sudah dibagi siapa saja yang bolos. Kalau 1 kelompok terdiri dari 4 orang, maka 2 orang akan bolos di kuliah jam 7, dan 2 orang lagi bolos di kuliah jam 9. Mereka akan bergantian mengerjakan tugas di tempat-tempat yang juga strategis seperti perpustakaan, bilik warnet, panti pijat, hingga kamar hotel melati.

*salah fokus*

Ya, intinya sih bagaimana caranya tugas yang 11 itu tadi kelar. Tapi kalau mengumpulkan tugasnya jam 7 pagi. Maka ada modus paralel dengan bolos kesiangan tadi. Jadi si pembuat akan mati-matian menahan kantuk sampai subuh, lalu kemudian menyerahkan ke temannya, sementara dianya sendiri bolos sambil ngorok di kos. Jadi, mau pilih yang mana? Terserah.

Bolos Kemahasiswaan

Tidak semua anak farmasi kuliah dengan fokus. Ada juga anak farmasi yang memilih terjun di dunia birokrasi seperti menjadi gubernur atau presiden. Iya, walaupun ruang lingkupnya “cuma” Badan Eksekutif Mahasiswa sih.

Dalam menunaikan kewajiban sebagai elemen BEM atau kepanitiaan-kepantiaan tertentu, terkadang mahasiswa terpaksa mengorbankan waktu kuliahnya dengan bolos. Ini yang saya sebut sebagai bolos kemahasiswaan.

Semisal ada proposal yang harus ditandatangani oleh Pak Dekan. Menurut informasi dari tata usaha, Pak Dekan hanya ada di kantor jam 11 siang karena sebelumnya mengajar di kampus lain, sedangkan jam 12 sudah harus berangkat ke Madagaskar. Padahal jam 11 itu juga ada kuliah. Lalu bagaimana?

Ya sudah, bolos deh.

Atau ketika mengurusi soal peminjaman ruangan yang ada di gedung pusat. Proposal peminjaman gedung itu harus dimasukkan sebelum jam 11 siang.  Si mahasiswa sudah sampai di tempat proposal diberikan jam 10 dengan harapan bisa mengejar ikut kuliah jam 11. Sayangnya si petugas pelayanan tempat peminjaman itu dikenal juga sebagai miss ring-ring, alias suka telepon sana telepon sini. Kadang juga BBM-an sama sana-sini. Masih sempat juga ngirim telegram ke keluarganya di kampung. Jadinya si mahasiswa terpaksa bolos karena urusan ini.

Yang saya tahu, mayoritas perkuliahan mengenal absensi 75% atau nomina lainnya, jadi celah itulah yang sering dimanfaatkan, salah satunya untuk bolos kemahasiswaan ini.

Bolos Demi Cinta

Kalau yang semacam ini mah, dari zaman Firaun masih kuliah juga sudah ada kayaknya. Ada-ada saja mahasiswa yang memilih untuk bolos karena pacarnya habis kecelakaan ditabrak bom bom car. Ada pula mahasiswa yang bolos karena harus menjemput pacarnya yang baru pulang dari Antartika. Dan kadang-kadang ada juga mahasiswa yang bolos karena memilih untuk mendatangi kos-kosan pacarnya yang lagi marah sama dia.

sumber: jimjjg.blogspot.com

sumber: jimjjg.blogspot.com

Sayangnya, begitu didatangi, eh si pacar lagi berduaan dengan sahabatnya si mahasiswa. Perih jon!

Bolos Akademik

Jenis bolos yang ini sangat dilematis. Bolos kok demi kepentingan akademis? Gimana ceritanya?

Ada misalnya mahasiswa yang diutus oleh gurunya mencari kitab suci, maka mahasiswa itu bernama Sun Go Kong. Ada juga mahasiswa yang diutus oleh kampus untuk mengikuti lomba disana dan disini. Ini nih yang saya sebut sebagai bolos akademis. Kembali kepada definisi bolos yang pertama: “tidak masuk”.

Bolos akademik nan dilematis juga dialami oleh mahasiswa yang umumnya sedang skripsi. Misalnya dia skripsi mikrobiologi yang melakukan inkubasi selama 24 jam. Kemarin dia memulai jam 12 siang, jadi harus dicek jam 12 siang hari ini. Padahal jam 11 sampai jam 1 ada kuliah. Nah, kalau sudah begini, ya terpaksa demi kemaslahatan umat untuk tidak masuk kuliah dan mengecek hasil inkubasi di lab mikro.

Bolos Untuk Kembali

Ini apa pula? Ya, saya yakin ini rada jarang terjadi, tapi ada. Ada beberapa kuliah yang hanya bisa disampaikan oleh praktisi tertentu. Namanya praktisi, ya mereka orang sibuk, jadi dengan semena-mena mereka membuat jadwal kuliah yang sangat tidak mahasiswai (temennya manusiawi) yakni 6 jam berturut-turut.

Siapa coba yang tahan 6 jam mengikuti kuliah tiada henti? Kalau nggak orang yang niat banget, nggak bisa itu. Waktu segitu itu, ditambah 2 jam lagi, sudah bisa bikin kue delapan jam yang khas Palembang itu kelar.

Jadi beberapa orang akan datang pada 1 jam pertama, lalu pura-pura keluar untuk pipis dengan tetap meninggalkan tas dan kelengkapan lainnya di meja. Tidak lama kemudian temannya menyusul juga pura-pura pipis. Sehingga ini menjadi pipis bersama. Sesudah pipis, apa yang mereka lakukan?

Tentu saja, cuci tangan.

Sekeluarnya dari WC, mereka nggak akan belok kanan kembali ke kelas, tapi belok kiri, mlipir kampus dari pintu belakang dan kemudian menyambangi sebuah tempat yang sangat keramat serta dipuja utamanya oleh kaum mahasiswa. Tempat itu adalah…

…rental PS.

Para pelaku pipis bareng tadi silih berganti main PS. Kalau sudah umur-umur mahasiswa sih pilihannya nggak jauh-jauh dari Winning Eleven atau Pro Evolution Soccer. Ada yang sepanjang hayat akan pakai Real Madrid terus kemudian pura-pura ada telepon begitu panahnya CR7 menunjuk ungu ke bawah. Ada yang Barcelona garis keras yang lantas pura-pura muntah darah dan minta digantikan saat melihat panahnya Messi berwarna ungu dan menunjuk ke bawah. Yang semacam itu ada kok. Tenang saja.

Nah, sesudah jam-nya tiba. Praktisi pipis tadi akan kembali ke kelas satu persatu dan mendapati rekan-rekannya dengan tatapan kosong, serta beberapa otaknya berasap, dan sebagian lain mangap ileran. Mereka-mereka yang main PS itu tadi, kembali mengikuti kuliah dan sesekali melontarkan pertanyaan. Mereka nggak bolos kan? Mereka bolos untuk kembali.

Bolos Religi

Singkat saja kalau yang ini. Pengalaman pribadi waktu kuliah, kalau nggak salah semester 6. Jadi saya mengikuti misa awal semester di kampus Mrican dengan asumsi perkuliahan baru dimulai jam 9. Memang sih menurut jadwal yang ada, jam 8 itu ada kuliah Uji Klinik 1 SKS.

Saya santai saja datang ke kampus sekitar jam 9 itu dan lantas melongo melihat teman-teman saya keluar dari K.309.

“Kuliah po?”

“Iyolah.”

Yak. Semester itu baru mulai 1 jam, dan saya sudah bolos. Bolosnya karena ikut misa pula. Kira-kira layaklah ya disebut sebagai bolos religi.

Bolos Pengen Aja

Percayalah, kelakuan mahasiswa itu ada-ada aja. Ada yang suka ngupil lalu menempelkan upilnya dimana-mana, ada yang suka pacaran lalu menggampar pacarnya dimana-mana, ada juga yang suka nongkrong demi melihat gebetannya lewat.

Gebetannya sih lewat, tapi si gebetan lewat sambil gandengan sama pacar.

Nah, anak-anak nongkrong ini, selain dalam rangka melihat gebetan, ada juga yang merupakan kaum bolos pengen aja ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, bahwa umumnya ada ketentuan kehadiran minimal 75%, dan lalu diterjemahkan oleh mahasiswa menjadi boleh bolos 25%. Saking pinternya mahasiswa sampai bisa mengubah makna dari sebuah kalimat. Itu mahasiswa farmasi, gimana kalau mahasiswa sastra yang notabene lebih pintar berkata-kata?

Ujung-ujungnya, mahasiswa jenis ini tetap datang ke kampus, tapi cuma nongkrong doang, dan tidak masuk kuliah serta ketika ditanya akan menjawab, “pengen aja”.

Aneh? Iya. Tapi ada.

Bolos Kecele

Ini bolos yang paling bikin hati mangkel. Dalam dunia perkuliahan ada konsekuensi. Beberapa dosen yang moderat menetapkan peraturan, kalau saya belum datang 15 menit, maka itu berarti kuliah kosong. Tapi ada sebagian yang lain yang harus ditunggu hingga 3 abad lamanya dan mahasiswa nggak boleh pulang, karena dia pasti datang.

Untuk dosen yang tipe kedua itu, beberapa mahasiswa cenderung tidak sabar. Banyak orang yang tidak sabar sih di dunia ini. Ada yang tidak sabar menunggu jodoh yang tepat sehingga kemudian asal nikah dan lantas cerai. Ada juga yang tidak sabar menunggu gebetan nembak sehingga kemudian menerima tembakan dari sahabatnya gebetan. Dan juga ada yang tidak sabar menunggu dosen kuliah, serta mengaplikasikan aturan dosen A pada dosen B.

Jadi si dosen B ini sudah 15 menit nggak datang. Si mahasiswa kemudian mengambil tasnya dan pergi dari muka bumi, karena ada urusan di kayangan. Tiba-tiba, 1 menit kemudian dosen B datang dan perkuliahan dimulai. Sementara si mahasiswa sudah dalam perjalanan menggunakan Elang Air ke kayangan sehingga nggak bisa balik lagi buat kuliah. Kecele dah.

Atau, ada juga yang bolos karena menyangka nggak ada kuliah, padahal sejatinya ada, cuma pindah ruangan. Biasanya ini terjadi pada mahasiswa yang telatan dan kurang gaul. Dia sudah datang di K.309 dan melihat kelas kosong melompong, hanya ada Mas Santo lagi bersih-bersih disana, lalu nanyalah dia.

“Mas, nggak ada yang kuliah?”

“Nggak.”

Lalu kesimpulan yang diambil adalah memang nggak ada kuliah.

Padahal, si Mas Santo ada disitu buat bersih-bersih karena ada mahasiswi habis jambak-jambakan. Dan karena itu, perkuliahan dipindahkan di K.418. Pada akhirnya perkuliahan, karena kuliah yang 1 ini, si mahasiswa jadi tidak bisa memenuhi syarat kehadiran 75%.

Ngenes.

Bolos Kurang Ajar

Bolos tipe ini benar-benar tidak boleh untuk ditiru. Ironisnya saya sendiri menjadi pelaku dalam dua kuliah yang dibawakan oleh dua profesor. Yap, sudahlah jarang-jarang saya diajar sama seseorang bergelar profesor, eh saya sia-siakan pula. Masa muda yang sungguh kelam.

Profesor pertama–sekarang sudah almarhum–adalah seorang pakar Pancasila yang terkenal seantero Indonesia. Profesor ini juga adalah dosennya Bapak saya. Bayangkan saya betapa uzurnya dosen ini. Padahal saya sama Bapak saya saja selisih 33 tahun. Tentunya waktu mengajar Bapak saya, beliau belum profesor.

Nah, berhubung memang sudah sepuh, beliau mengajar dengan duduk di kursi dan menggunakan OHP. Periode saya kuliah Pancasila ini memang belum zamannya LCD proyektor kok. Kebetulan pula, kelas Pancasila ini adalah kelas campur. Bukan campur sari, tapi campur dengan program studi lain. Jadi ya ramai minta ampun. Saya pun jadi nggak fokus dengan kuliah yang diberikan, selain juga saya memang dalam posisi agak mengkritisi nilai-nilai yang disampaikan karena nyatanya tidak sesuai dengan apa yang saya lihat di sekitar.

Keadilan sosial? Adil apanya kalau orang bangun rumah ibadah saya nggak boleh?

Ya, yang semacam itu.

Dalam beberapa pertemuan berikutnya, saya memilih untuk bolos saja. Toh juga saya nggak dapat apa-apa. Ah, benar-benar kurang ajar.

Sedangkan profesor berikutnya, ketika mengajar saya usianya juga sudah sepuh. Modelnya juga OHP dan transparansi. Plus, kuliahnya 3 jam pula. Ketika setengah jalan, beliau bilang, “kita istirahat dulu 15 menit, nanti mulai lagi.”

Iya. Yang ada di kelas itu mahasiswa berusia 19 tahun yang masih labil. Dikasih istirahat 15 menit bukannya beneran istirahat, tapi malah kabur, dan…

…tidak kembali.

Kebetulan, saya adalah salah satu dari setengah kelas yang tidak kembali itu. Benar-benar kurang ajar.

Oya, soal kurang ajar ini ada juga cerita teman saya. Sebut saja si B1 dan B2. Keduanya duduk sebelahan pas kuliah, dan dari awal kuliah sudah ketawa-ketiwi nggak karuan. Ya bukannya menertawakan Pak Dosen yang berkumis itu sih, tapi menertawakan yang lain.

Entah Pak Dosen berkumis itu lagi sensitif atau lagi PMS, tiba-tiba dia terusik dengan duo B tadi.

“Kamu ngapain ketawa-ketawa? Ngetawain saya ya?”

“Nggak, Pak.”

“Lalu kenapa?”

“Nggak, Pak.”

“Jawab!”

“Nggak, Pak.”

“Kurang ajar kalian. Keluar dari kelas saya!”

Dan duo B yang dicap kurang ajar tadi segera keluar dari kelas. Ternyata eh ternyata, Bapaknya si B1 adalah temannya Pak Dosen berkumis. Dunia memang sempit, sampai anak teman sendiri diusir dari kelas. Ya, dunia memang tak selebar daun kelor, tapi juga tak sefleksibel tali kolor. Kira-kira demikian adanya.

Sudah cukup banyak tipe bolos yang saya bahas, dan entah kenapa si Tristan ini tahu-tahu mengeluarkan bunyi yang nggak biasanya. Waduh, ini laptop kan umurnya belum seberapa. Jadi, saya sudahi saja ya. Buat para pelaku, jangan tersinggung ya. Ini just for fun kok. Yang tahu jenis bolos lainnya, monggo ditambahkan di komentar.

😀

Advertisements

12 thoughts on “Cerita Farmasi: Jenis Bolos Anak Farmasi

  1. Bolos piaraan
    Kalau jamanku kuliah ada bolos jenis ini. Mahasiswi ini rela bolos kuliah,bolos kerja kelompok dan bolos2 yg lain hanya untuk dan demi piaraannya. Pernah waktu disuruh kumpul buat kerja tugas kelompok,dia udah ditunggu lamaa banget sampe ngoyot n tugas kelar ga dateng2 juga. Keesokan harinya pas ditanya kenapa ga dateng alesannya piaraannya lagi datang bulan jadi repot ngebersihin lah,ini lah itu lah. Lain waktu bolos kuliah alesannya nganterin piaraannya lomba lah,ke salon lah de el el lah,,pokoknya piaraannya adalah segalanya kkkkkkkkk…*no mention 😛

    Like

  2. Pingback: Cerita Farmasi: Balada Mengerjakan Tugas | Sebuah Perspektif Sederhana

  3. Bolos manjat gunung:

    Si pelaku biasanya abis kesasar di gunung karena kelamaan galau terus ditinggal sama temen-temennya. Walhasil, yang harusnya bisa pulang hari apa jadi pulang hari apa. Padahal hari apanya itu ada apa-apa. Ya udah deh, bolos aja. Daripada kenapa-kenapa kan?

    Like

  4. Pingback: Salon Thailand? Siapa Takut? | Sebuah Perspektif Sederhana

  5. hahahaha aq pernah bolos wisuda…ktrima d s2 pdhl s1na blm wisuda, akhirnya bolooosss ini itu buat yudisium lah, wisuda n tentunya poto2..berhubung dosen jm 1 killer ampun, jadilah gw masuk dgn make up lengkap tp baju kasual hahahahaha…

    Like

  6. Pingback: 4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi | ariesadhar.com

  7. Pingback: 97 Fakta Unik Anak Farmasi | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s