Tentang Saya dan Mojok Dot Co

Hampir setahun belakangan saya menjelma jadi manusia serigala yang tidak setampan Aliando. Setiap tengah malam saya melolong, “aduuuhhh, gaji guweh kok segini-gini ajeh..”. Tanpa diduga, sampai ganti Presiden sekalipun, gaji saya ya tetap gini-gini aja. Bisa jadi akan begini terus, sampai Raditya Dika menikah dan beranak dua. Mungkin karena terlalu banyak melolong, saya agak luput ketika sebuah portal atawa situs atawa entahapanamanya bernama mojok dot co lahir.

mojoklogo

Adalah sosok Jonru yang mengantarkan saya kepada Mojok. Di timeline FB saya, ada seorang kenalan, walau di FB disebut ‘Friend’ tapi saya sih nggak ngerasa dia kawan, yang adalah pengikut Jonru, hingga mengkopas segala status Jonru ke statusnya sendiri, tanpa menyebutkan sumber. Mungkin dia saking ngefansnya, lupa hakikat menghargai sumber karena merasa dirinya adalah Jonru. Tapi di sisi lain, ada yang anti Jonru beud, saking anti-nya nge-share kiriman di fanspage Jonru terus, hingga akhirnya yang di-anti itu malah jadi lebih terkenal. Saya? Bagaimanapun saya adalah member di penulislepas.com, ketika menjadi penulis hanya berupa mimpi (bukan basah) saya di masa lalu, dan nyaris mendaftar seminar Jonru kalau saja waktu itu saya punya duit.

Mojok, yuk!

[Review] Koala Kumal

Bagi yang sering baca blog saya pasti ingat bahwa di salah satu posting, saya pernah bercerita bahwa seterkenal apapun Raditya Dika dengan buku dan film-filmnya, tetap ada ibu-ibu di Pejaten Village yang nggak ngeh dia itu siapa. Ceritanya ketika saya dan kawan-kawan penulis GagasMedia Group lainnya diundang nonton Manusia Setengah Salmon. Pas Raditya Dika sedang di panggung dengan muka kucelnya, tetiba ada ibu-ibu lewat dan bertanya. “itu siapa?”

B2sD5VjCUAAxhnd

“Itu Raditya Dika, bu,” jawab saya.

“Siapa dia?”

“Artis.”

“Kok saya nggak kenal?”

*hening*

Continue Reading, Mbohae!

Nulis Komedi, Yuk!

Beberapa hari yang lalu, saya dapat informasi bahwa sebuah naskah komedi saya diterima di sebuah antologi. Well, dengan demikian saya segera menyongsong antologi mayor ke-4, sesudah “Kebelet Kawin, Mak!”, “Radio Galau FM Fans Stories”, dan “Curhat LDR”. Sebuah pencapaian yang sebenarnya terlambat jika menilik ke usia saya yang sudah kepala lima ini. Sebentar lagi sudah punya cucu.

*itu dusta*

*pacar aja belum ada*

Dari 3 antologi yang sudah ada, 2 diantaranya bergenre komedi. Pada akhirnya saya berpikir, mungkin rejeki saya memang di genre ini. Soalnya kalau mau dirunut-runut dari awal saya menulis (kembali), sama sekali nggak ada niatan untuk menyentuh tulisan komedi. Silakan klik posting-posting saya di awal mula kebangkitan blog ini, di 2011, nggak ada yang lucu, atau bahkan sekadar niat ngelucu. Pun dengan antologi-antologi indie yang saya ikuti di tahun 2011 hingga awal 2012, juga tidak ada yang beraroma komedi.

LANJUT!