Tag Archives: beasiswa

Pengalaman Perdana Konferensi Internasional

Konferensi Internasional – Kurang lebih 2 bulan blog ini nyaris tidak berisi. Selain memang tidak ada orderan (wkwk~), tapi masalah utamanya adalah saya sibuk mengerjakan tesis. Dan sebagai bagian dari tesis biar kelihatan keren, saya mengikutsertakan bagian dari tesis saya ke sebuah konferensi internasional.

Salah satu faedah dari menjadi penerima beasiswa LPDP adalah biaya untuk mengikuti konferensi internasional dapat diklaim. Pas belum pandemi, beberapa teman bahkan sudah berangkat ke Singapura dan Malaysia untuk mengikuti konferensi internasional dengan biaya ditanggung oleh LPDP.

Apa daya, saya kuliahnya di masa pandemi~

Ya, maksud hati untuk jalan-jalan ke LN pada akhirnya tiada bisa diwujudkan. Namun di sisi lain, saya jadi bisa mengikuti konferensi di manapun tanpa harus mikir ada uang tambahan atau tidak buat mengganjal minus kalau misal harus konferensi ke Eropa.

Maka kemudian setelah cari demi cari dan dikabarkan pula oleh salah seorang dosen jadilah saya mendaftarkan diri ke salah satu konferensi internasional yang rupanya cukup hits di kalangan akademisi bidang administrasi publik, namanya IRSPM.

Jadi, dua bulan kosong di blog ini salah satunya adalah karena fokus menyelesaikan data dan kemudian menyusun paper dalam Bahasa Inggris. Sesuatu yang baru sekali ini saya lakukan. Mana disambi ngurus anak juga, kan.

Konferensi ini terbilang cukup murah, apalagi karena Indonesia dianggap sebagai negara yang harus diberi diskon. Tarif registrasi untuk mahasiswa asal Indonesia adalah yang paling murah. Kurang lebih “hanya” 800 ribu lebih segelas kopi kekinian. Saya harus bilang “hanya” karena memang tarif itu sudah paling murah.

Masalahnya kemudian tarif yang murah ini ternyata pada akhirnya tidak bisa saya klaim ke pemberi beasiswa. Ada pasal utama bahwa konferensi yang ditanggung adalah yang memiliki prosiding. Dan di awal memang tidak ada informasi itu dari si konferensi. Ketika saya sudah mendaftarkan diri, pada akhirnya dapat email yang menyatakan bahwa memang tidak akan ada prosiding di konferensi ini. Jadi ya mau dipakai untuk syarat ujian tesis juga nggak bisa, diklaim ke pemberi beasiswa juga nggak bisa.

Ya, santai saja sih. Saya kemudian menganggapnya sebagai bagian dari jajan akademis saja. Toh sama LPDP saya juga diberi uang buku yang nominalnya cukup besar. Dianggap saja ngambil dari situ.

Di konferensi internasional ini, kurang lebih ada 400 judul yang berkeliaran dengan kurang dari 10 judul asal Indonesia. Ya, beneran sesedikit itu. Serunya, saya bisa berada di satu konferensi, walaupun beda panel, dengan dosen saya dan beberapa dosen lain yang biasanya hanya bisa saya sitir pendapatnya di paper atau artikel populer. Ada kemungkinan paper saya bisa masuk karena saya memasukkannya lewa jalur Panel New Researcher. Panel ini adalah panel dengan peserta terbanyak di konferensi ini.

Tadinya sudah merendahkan diri sendiri karena memang yang tersingkir di panel ini hanya 10 judul. Ibarat 50 daftar, 40 diterima. Gitu kira-kira. Cuma, begitu saya lihat bahwa yang satu panel sama saya pun adalah para asisten profesor atau orang-orang yang tengah post-doktoral, jadinya saya kok nggak merasa minder-minder amat.

Pengalaman ini cukup menarik karena merupakan kali pertama saya presentasi dalam Bahasa Inggris. Kali pertama pula saya bikin paper full Bahasa Inggris. Dan ternyata saya bisa, walaupun tentu banyak kelemahannya.

Masih ada waktu 4 bulan untuk mengeksplorasi diri sebelum kembali ke dunia nyata kerja. Semoga waktu yang ada bisa saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Beasiswa Kecil-Kecilan Yang Tidak Kecil

Seperti sudah diketahui bersama oleh khalayak ramai dan penghuni Bikini Bottom, pacar saya sedang kuliah di Inggris, atas pembiayaan pemerintah. Beasiswanya kalau ditotal mungkin nyaris 1 Miliar, kali sekian ratus pemuda pemudi harapan bangsa yang disekolahkan ke luar negeri dengan harapan nantinya Indonesia punya pemimpin nan mumpuni untuk menghadapi bonus demografi. Saya berencana mengikuti jejaknya, tapi tentu saya harus menunggu huruf ketiga dari abjad mengganggu seluruh langkah hidup saya.

Berita_USD_10022011141414_GedungPusat_USD1

Kebetulan hari ini saya membaca sebuah status adek kelas juauhhhh bangedddddhhh di Farmasi dan di PSM tentang kuliahnya yang terjadi karena beasiswa. Saya kok lantas jadi mellow dan terkenang masa-masa silam. Bagian soal beasiswa ini juga saya sertakan di novel saya, Oom Alfa.

Saya tidak pintar. Jadi, mungkin nanti kalau saya apply beasiswa luar negeri, saya baru bisa diterima di universitas yang ada di Uganda dan Zaire. Inggris? Mungkin bisa juga, tapi di BSI London–misalnya. Seperti kata Obama KW, “Kuliah? BSI aja!”

Continue reading!