Twenty Something

Haduh. Ngomong umur ini memang agak pelik. Apalagi ketika sudah memasuki angka yang menurut saya TUA. Sudah tua, belum kawin, belum punya mobil, punya rumah tapi cuma buat sarang ular, gaji 1,9 juta dan belum ada tanda-tanda meningkat, dan lain-lainnya. Ya, begitulah saya. Selamat datang di usia yang baru, twenty something ini.😀

Well, baiklah, mari kita review dulu apa saja yang telah saya lakukan di usia yang baru saja lewat ini.

Januari

Membeli kerupuk jeletot untuk kewajiban ulang tahun di kantin kantor adalah pilihan yang agak hore karena ternyata begitu saya ulang tahun, Cikarang hujan deras bin banjir selama berhari-hari. Cukup hore karena sembari hujan, saya malah membawa kardus voluminus itu. Ya, tidak seistimewa tahun sebelumnya ketika ulang tahun saya diperingati dengan audit BPOM. Ehm, satu hal yang paling saya ingat adalah Mbak Mantan yang memilih untuk mengucapkan paling terakhir. Mantan yang satu itu memang anti mainstream kelakuannya. Heran juga kenapa saya pernah jadian sama dia. Hem.

Saya berulangtahun dalam kondisi jomlo kronis-nis-nis-nis. Sesudah putus–entah kapan–di tahun 2012, saya melewatkan tahun 2013 dengan di-PHP dan mem-PHP wanita. Dan pas ulang tahun itu saya kosong-sekosong-kosongnya. Begitulah. Kasihan. Tapi ternyata di akhir bulan Januari itu, Coco–yang di blog ini difiksikan sebagai Chiko–dengan gagah berani memberi jalan kepada saya untuk berkenalan dengan seorang cewek. Iya, itu akhir Januari, di hari Senin. Pada tanggal twenty something.

Februari

Jalannya si eks playboy itu kemudian lancar. Februari kemudian diwarnai oleh cerita PDKT saya dan mbak-mbak itu. Dimulai dari nonton Comic 8 di Bintaro, sebagai perjumpaan pertama. Kemudian diikuti ngabur dari baksos karena janjian di Plaza Senayan demi pelet brownies tempe. Hingga kemudian akhirnya saya berhasil menipu dia untuk menjadi pacar saya. Ah, syukurlah, upaya menjelma menjadi romantis dalam beberapa pekan berhasil. *senyum licik David Luiz*

Maret

Ini salah satu bulan krusial dalam hidup saya, karena tanggal 5 saya memilih untuk menjadi pengangguran dengan resign dari kantor lama. Tapi ada untungnya juga. Di bulan Maret saya bisa ikut jalan-jalan ke Cisantana, sebuah tempat yang nggak mungkin saya capai kalau saya masih pegawai. Saya juga bisa mengurus beberapa hal yang terkait administrasi. Cukup hore, deh, pokoknya.

Satu lagi, di bulan ini juga saya diberi kabar bahwa Mbak Pacar keterima kuliah di London. Dua perasaan muncul. Pertama, senang bukan kepalang karena calon bini saya kuliahnya bergengsi. Kedua? Yaelah, LDR lagi.

April 

Yeah! Ini adalah bulan ketika saya memasuki dunia baru saya nan sungguh abu-abu. Sebuah pilihan hidup yang harus dipilih, meski memang saya bisa saja tidak memilih jalan ini. Nggak apa-apa, setidaknya pekerjaan ini adalah idaman calon mertua yang belum lihat slip gaji. Di bulan ini pula saya mendapat royalti semester 1 dari buku saya–dan memang salesnya kurang oke. Hiks. Tapi royaltinya sangat membantu dalam menyambung hidup anak Tuhan yang belum gajian.

Mei

Mei? Ada apa ya? Oh, paling ya bulan ini saya masuk ke unit tempat saya akan berada sampai puluhan tahun ke depan. Udah, gitu aja.

Juni

Di bulan ini, saya harus berpisah dengan kawan-kawan HP yang harus diutus ke tempat kerjanya masing-masing. Futsal hore nyaris tiap minggu menjadi agenda fix meski gajian saja belum. Begitulah.

Juli

Ini bulan puasa pertama saya di Jakarta. Oh, iya ding, saya nggak puasa. Di bulan ini yang saya ingat adalah saya mudik dengan harga tiket paling kampret seumur hidup. Tiga koma dua juta pulang pergi. Perlu kerja dua bulan dan bobo di emperan Indomaret untuk bisa membayar harga segitu. Tapi nggak apa-apa, nilai mudik dan sambal lado yang selalu menanti di rumah tentu setimpal.

Agustus

Di bulan ini saya melakoni pekerjaan absurd dan nyaris tidak pernah terlintas untuk saya lakoni. Iya, saya menjadi komandan upacara. Guru-guru SD saya pasti malu melihat bahwa anak yang dulu paling mentok jadi ajudan–bawain Pancasila–itu malah dijadikan komandan di kantor. Entahlah, kok bisa, saya juga bingung. Di bulan ini juga saya mendapat kabar kurang mengenakkan tentang seorang kawan, yang ternyata dicintai oleh banyak orang. Saya kan kebetulan mengelola penggalangan dana untuk dia, dan jumlah yang terkumpul sungguh wah.

September

Ada apa di September? Oh, ini adalah bulan ketika saya menjadi pejuang LDR lagi. Total jenderal dalam hidup, ini adalah ketiga kalinya mengingat dari tiga mantan, dua mengandung sisi LDR. Sayangnya saya tidak bisa melakukan kegiatan layaknya Rangga dan Cinta di bandara. *krusial*

Oktober

Sesudah menanti dan terus menanti, akhirnya di bulan ini saya melakoni pekerjaan luar kota pertama saya. Kok ya langsung jauh! Sesudah hidup puluhan tahun di dunia, akhirnya saya bisa menginjak tanah baru selain Sumatera, Jawa, dan Nias. Yup, saya ke Sulawesi. Sebagai traveler lokal Jawa Sumatera, ini sebenar-benarnya pencapaian, meskipun saya yakin kalau tidak lama lagi saya akan meronta-ronta minta tidak disuruh pergi.

November

Di bulan ini saya pergi lagi, sambil melakukan perjalanan nostalgia ke Palembang. Sembari berhasil memperalat Pak DJ untuk bayar pajak sepeda motor. Dia bahkan membayar pajak motor yang tidak menggunakan jalanan Palembang karena motor itu ngendon di dalam kamar dengan damai dan tentram.

Desember

Bulan ini ada beberapa keberhasilan, yang meliputi berhasil nambah satu pulau lagi–Bangka–sebagai tempat untuk diinjak. Berhasil juga mudik lagi (hore!). Serta berhasil berkumpul bersama banyak sepupu yang berserakan di seantero Jabodetabek. Di bulan Desember juga saya mulai menulis di mojok dot co, syukurlah ada website yang menghargai penulisnya dengan honor yang sangat memadai.

Iya, belum ada KAWIN dalam pencapaian setahun usia nan sudah lewat ini. Yang ada saya malah ditinggal kawin oleh beberapa kawan. Saya kondangan ke Ambarawa, juga ke Bandung. Nomor urut semakin bertambah, ya sudahlah, mungkin memang nasib junior Dolaners ini harus begitu.

Beberapa pencapaian yang mungkin juga penting adalah satu-satunya buku di usia nan baru lewat atas nama GALAU: Unrequited Love bersama Jamban Blogger. Beberapa pencapaian yang kurang penting juga ada, semisal menginjak lantai 30-an di MRCCC, masuk mal Ciputra yang di Kuningan, sampai bobo cantik di lantai 10 Santika Harapan Indah, Bekasi.

Begitulah. Cuma memang di usia yang baru lewat ini saya agak ‘kehilangan’ orang-orang yang cukup dekat. Tidak ada guyub macam di Kedasih dulu. Makanya ketika pulang ke kos sekarang–dan juga di akhir-akhir masa saya di Kedasih–rasanya biasa aja. Kalau dulu, pas pulang, sudah terbayang bakal PES-an, bakal karaokean, dll. Nggak apa-apa, namanya juga hidup. Toh dari berbagai pengalaman yang sama alami, saya sangat bersyukur atas segala nikmat yang boleh saya peroleh hingga bisa hidup baik selama ini.

Well, selamat mencapai usia baru, diri saya sendiri! Semoga cepat kawin!

4 thoughts on “Twenty Something

  1. Pingback: Dua Malam di Manado | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s