Tag Archives: ariesadhar

Surat Terbuka Untuk Metro TV

Surat Terbuka

Permisi, Bapak-Ibu Redaksi Metro TV di tempat masing-masing, apa kabar? Iklan lancar? Saya doakan semoga baik-baik saja. Bukan apa-apa, sih. Bapak saya dan calon Bapak mertua saya–yang keduanya adalah pensiunan PNS–sama-sama menggemari siaran Metro TV. Belum lagi Ibu Kos saya entah bagaimana kisahnya membuat pengaturan antena hingga menghasilkan channel hanya Metro TV dan TV One yang jernih. Kan saya jadi nggak bisa nonton Mulyadi si OK-Jek dengan bahagia, apalagi nonton Uttaran. Pedih, Pak. Perih, Bu. Sama pedih dan perihnya ketika Bapak saya yang setiap pagi nonton Metro TV, menelepon setiap saat untuk urun komentar, namun selalu berujung kegagalan.

Jadi begini, Bapak-Ibu Redaksi Metro TV nan budiman. Belakangan ini kok tetiba marak muncul gambar hasil screenshot dari tayangan Metro TV yang dengan pedih bin perih menyebut  bahwa ‘Produsen Kebanyakan Lulusan Apoteker’ untuk judul ‘Fakta Vaksin Palsu’. Hmmm. Hmmm. Hmmm. Apalagi begitu saya lihat videonya, ketika infografis itu ditayangkan, sama sekali tidak sedang membahas produksi alamat vaksin palsu sama sekali, wong lagi bahas efek yang diduga vaksin palsu.

Mungkin begini, jika judulnya adalah ‘Fakta Vaksin‘, maka keterangannya cocok dengan ‘Produsen Kebanyakan Lulusan Apoteker’. Sepakat banget saya, karena namanya perusahaan farmasi yang baik dan benar sudah pasti isinya kebanyakan adalah lulusan apoteker. Kalaulah ada lulusan Akuntansi itu untuk berantem dengan lulusan apoteker perihal CoGS.

Untitled design

Masalahnya, judulnya adalah ‘Fakta Vaksin Palsu’ dan keterangannya adalah ‘Produsen Kebanyakan Lulusan Apoteker’. Nah, itu kan masalah, ya Bapak-Ibu. Masalah banget soalnya tersangka yang mengemuka di media adalah sepasang suami istri nan kaya raya. Sementara, Bapak-Ibu Redaksi mungkin perlu cek lagi di dunia nan fana ini, berapa banyak sih apoteker yang kaya? Lha, yang digaji kecil, kontrak sekian tahun–kalau resign bayar pinalti, ada juga lho. Kadang juga bonus ijazah ditahan. Lagi-lagi saya perlu bilang, ini pedih dan perih loh Bapak-Ibu.

FAKTA VAKSIN

Saya perlu sungguh bertanya kepada Bapak-Ibu Redaksi, sekalian saya mau tanya sama sumber datanya sekalian (tertulis di gambar: MRC), yang dimaksud ‘kebanyakan’ itu apa ya? Soalnya seingat saya yang walaupun apoteker tapi pernah belajar Bahasa Indonesia ini, ‘kebanyakan’ itu punya definisi setidak-tidaknya lima:

  1. perihal banyak; banyaknya; jumlahnya
  2. bagian yang terbanyak; sebagian besar
  3. biasa
  4. biasanya; pada umumnya
  5. terlampau banyak

Jadi, apakah yang dimaksud ‘kebanyakan’ itu adalah ‘sebagian besar apoteker’ atau ‘pada umumnya apoteker’ atau malah ‘terlampau banyak apoteker’? Ini penting, lho, Bapak-Ibu, soalnya seperti saya bilang tadi, tersangka produsen yang selama ini diungkap itu bukan apoteker. Kalau dibilang ‘kebanyakan’ itu berapa? Apakah dari–katakanlah–10 tersangka, maka 7 adalah apoteker, sesuai definisi ‘bagian yang terbanyak’? Atau berapa? Tolong dong saya diberi penjelasan nan berfaedah. Soalnya setahu saya belum ada tersangka produsen yang apoteker. Saya jadi tambah bingung bagaimana yang belum ada itu bisa disebut kebanyakan. Soalnya ini menyangkut gelar yang tersangkut di belakang nama saya. Kalau disebut ‘kebanyakan’ kan saya jadi deg-degan, jangan-jangan saya juga produsen, padahal saya memproduksi buku saja nggak laku.

Bukan kapasitas saya untuk mempetisi apalagi menggugat Bapak-Ibu Redaksi untuk pemberitaan ini. Maklum, secara registrasi periode STRA saya sudah berakhir, pun secara kompetensi, sertifikat saya sudah kedaluwarsa. Saya bukanlah apoteker yang layak dan pantas untuk menggugat Bapak-Ibu Redaksi karena saya hanyalah manusia yang pernah mengucapkan Sumpah/Janji Apoteker 7 tahun silam sehingga kemudian gelar itu melekat mesra dengan nama saya. Kalaulah dalam dunia kefarmasian dikenal istilah APA, maka saya bisa disebut sebagai APA, namun itu terbatas pada kepanjangan Apoteker Pendamping (Hidup) Apoteker. Begitulah, saya hanya mampu menulis surat terbuka ini, di blog saya sendiri–yang sepi dan minim job review ini, toh yang baca juga cuma sedikit. Semua ini demi Bapak dan calon Bapak mertua saya yang punya anak seorang apoteker, dan dengan luar biasanya disebut sebagai ‘produsen’ untuk keterangan ‘vaksin palsu’. Salah-salah Bapak saya menyesal berhutang banyak di Credit Union hanya untuk menempelkan gelar apoteker dalam nama saya. Kan ngeri, Bapak-Ibu, tolong dibayangkan, seperti Spongebob meminta kita untuk berimajinasi.

hqdefault

Bahwa adalah kekebasan, eh, kebebasan Bapak-Ibu Redaksi untuk memberitakan apapun tapi mbok ya diberi keterangan yang jelas. Memberitakan AnwaR dan pelariannya saya jelas dan runtut, masak memberitakan ApotekeR ditulis ‘kebanyakan’ yang jelas-jelas menurut kamus maknanya sampai sejumlah jari tangan kiri. Itu hanya untuk konten yang sama-sama diawali huruf A dan diakhiri huruf R, lho. Walaupun jelas sekali beda lelaki pemerkosa dan pembunuh dengan profesi bersahaja.

Intinya, sih, sederhana sekali, saya hanya minta tolong diberikan penjelasan nan segamblang-gamblangnya tentang klaim nan mengkhawatirkan itu. Semata-mata supaya rakyat nggak hilang arah dan gagal paham pada profesi apoteker. Hidup ini sudah sulit, Bapak-Ibu, bahkan lebih sulit daripada mencari parkiran pada Sabtu siang di IKEA maupun merebut remote dari Emak sewaktu nonton D’Terong, tolonglah jangan dipersulit dengan tayangan yang bikin orang gagal paham pada gawe kami-kami ini. Berikanlah penjelasan singkat saja perihal maksud tayangan itu tadi. Daripada di masyarakat jadi terdapat kebanyakan ngalor-ngidul dan kebanyakan mispersepsi karena kebanyakan nonton kebanyakan berita di Metro TV.

Demikian saja, Bapak-Ibu Redaksi. Salam dari Bapak saya, dan tolonglah sekali-kali kalau Bapak saya nelpon itu mbok diangkat.

Tabik,
Penggemar Kick Andy dan Metro Sports

Tertangkap Pastor Paroki

Pacaran, pada prinsipnya, adalah sesuatu yang menyenangkan, walaupun kawan-kawan saya bilang bahwa menikah lebih menyenangkan. Apapun, yang jelas keduanya jauh lebih menyenangkan daripada jomlo menahun, berkerak penuh luka dalam kesendirian nan hina, berteman dengan sepi dan kenangan-kenangan yang melintas dalam fragmen-fragmen panjang tiada henti. Ah!

Sesudah mencari pacar di berbagai arena, akhirnya saya menemukan gadis yang bersedia ditipu dengan sebongkah ongol-ongol dan berkenan menjadi pacar saya. Siapa duga dan siapa sangka, ternyata gadis itu adalah umat dari Mas-nya Bapak saya. Ya, kebetulan beliau memilih jalan menjadi pemuka umat Katolik. Ada beberapa sisi positif dan negatif dari posisi ini. Sisi positifnya, ketika PDKT, rekomendasi dari Pakde sendiri yang adalah pemuka umat tentu adalah nilai plus. Sisi negatifnya? Mengingat proses pengesahan pernikahan dalam agama Katolik adalah via Pastor Paroki, maka bisa jadi saya akan terjebak dalam penyelidikan kanonik nan menyeramkan mengingat Pastor yang menyelidiki itu telah mengenal saya sejak belum dibuat.

Selain itu, mengingat Pakde saya adalah pemuka umat setempat, jadi tempat saya pacaran otomatis juga adalah teritorial beliau. Dan pemuka umat tentunya juga bertugas melindungi umatnya, termasuk dari ancaman keponakannya sendiri. Itulah konteks ketika cerita ini terjadi.

Suatu kali dalam kunjungan ke Cimahi, saya dan pacar misa ke Pratista, sebuah tempat retret milik Ordo Salib Suci (kayaknya), yang terletak di Jalan Kolonel Masturi. Kalau ke Bandung dan sekitarnya, jangan heran sama Jalan Kolonel Masturi karena panjangnya melebihi jalan kenangan. Mungkin hanya kasih ibu yang bisa menyaingi panjangnya, seperti kata pepatah, kasih ibu sepanjang jalan Masturi, kasih ayah sepanjang jalan Riau.

rekoleksi-wil-theresia-2

Continue Reading!

Perusahaan Farmasi Nggak Peduli Websitenya

Saya bekerja di perusahaan farmasi selama 4 tahun 10 bulan. Kurang 2 bulan untuk bisa masuk TK. Saya kemudian resign alias mengulang (re) tanda tangan (sign) di angka itu. Ya pada intinya saya ini dulu karyawan di perusahaan farmasi. Nah, selama bekerja itu saya tentu saja juga mengamati rumput tetangga karena rumput tetangga katanya lebih hijau. Saya bahkan pernah diterima di sebuah perusahaan farmasi berlatar belakang hijau, dengan gaji yang lumayan bikin ngiler netes. Cuma memang saya tipe pria setia, setia pada yang warna merah.

Nah, sembari jadi karyawan, saya juga mulai jadi blogger, hingga akhirnya blog ariesadhar.com ini ada, serta kemudian buku Oom Alfa juga lantas nongol. Sejak itulah saya mulai tahu soal pagerank hingga perihal Alexa sebagai patokan pemeringkatan website yang ada di seluruh dunia maya. Oh, dunia lain tentu saja tidak termasuk, itu hanya milik Harry Panca. Silakan lambaikan tangan anda ke kemera yang ada disana.

Okesip.

Saya lalu coba iseng-iseng tidak berhadiah, seberapa peduli para pemilik perusahaan farmasi itu dengan websitenya. Saya lalu mengambil sampel alias nyampling, dan bukan nyemplung, dari beberapa perusahaan farmasi yang cukup terkemuka. Yah, jelek-jelek begini kalau bos ngomong saya kan juga memperhatikan data-data yang ditampilkan.

Nah, sebagai standar, saya mencoba membandingkannya dengan blog saya sendiri, iya blog ini, ariesadhar.com.

1

Blog ini ada di peringkat 1,6 juta sedunia. Lumayan juga, lumayan terpuruk maksudnya. Eh, memangnya terpuruk? Sesudah saya melihat peringkat sebuah perusahaan farmasi terkemuka, benar juga. Peringkatnya lumayan kece.

3

Lumayan lho, ketika ariesadhar.com ada di nomor 54 ribu-an, perusahaan farmasi yang ini ada di nomor 15 ribu-an. Jadi wajar ketika blog sebuah perusahaan yang tentunya ditunjang oleh aneka tim IT dan orang-orang yang ahli menang dari sebuah blog pribadi yang jarang-jarang ditengok oleh pemiliknya, seperti halnya blog saya ini.

Eh, begitu saya melihat ke website perusahaan lainnya, saya langsung pengen ke Bandung untuk mengelus Dada. Dada Rosada. Kenapa? Karena tidak ada satupun yang ada di atas ariesadhar.com! Padahal secara dagangan, saya tahu jelas bahwa perusahaan-perusahaan itu pemimpin di bidangnya masing-masing.

Lihat nih, salah satu pemimpin pasar.

2

Global Rank-nya nggak jauh-jauh benar dari ariesadhar.com. Padahal mestinya orang IT atau orang komunikasi korporatnya ada dan harusnya juga jago. Tapi masak cuma 11-12 sama sebuah blog sederhana ini?

Itu baru satu. Yang lain?

4

Noh! Jauh bener sama ariesadhar.com! Padahal secara dagangan, dijamin situ-situ yang pernah opname pasti pernah mencicipi obat-obat dari pabrik yang di atas ini, entah lewat mulut atau lewat jarum yang nancep di infus.

Oya, masih ada lagi sih.

5

Dan kemudian ada juga ini.

6

Bahkan ada website yang bagus, yang kapan itu promo gender para pimpinannya, eh ternyata peringkatnya juga nggak bagus untuk ukuran sebuah perusahaan–menurut saya lho.

7

Lha jangankan itu, wong kumpulannya sendiri di GP Farmasi, peringkatnya juga begini:

8

Yah, begini-begini saya juga bekas orang perusahaan. Jadi, peringkat Alexa web-web tersebut sungguh bikin trenyuh. Kenapa ya kira-kira perusahaan farmasi nggak peduli pada websitenya masing-masing sehingga profil yang di atas ini terjadi? Apakah karena memang jualannya obat resep sehingga tidak perlu populer-populer banget? Ya nggak apa-apa sih, ini kan pilihan sikap dari internal perusahaan. Saya berada dalam posisi bahwa jika saya adalah orang IT atau komunikasi korporat di perusahaan itu, saya nggak terima jika website saya kalah Alexa hanya dari seorang mantan karyawan pabrik dengan harga domain setahun hanya setara ongkos taksi sekali berangkat Cikarang ke Bandara.

Gitu aja sih. Monggo, terserah. Saya tak liburan sik.

Adios!

97 Fakta Unik Anak Farmasi

97FaktaUnikFarmasi

Sesudah pencapaian pageview yang mengharukan pada posting 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma, maka baiklah saya kembali dengan request dari beberapa pemirsa untuk membuat rekap fakta unik khusus anak farmasi. Yuk!

1. Pada saat SMA, anak farmasi adalah anak IPA *ya iyalah!*

2. 99,9% anak farmasi non SMF stres pada saat praktikum farmasetika

3. 99,9% anak farmasi non SMF mejanya berantakan pada praktikum farmasetika perdana

4. Anak farmasi mendadak jago gambar daun-daunan pada saat praktikum Botani

5. Atau mendadak jago gambar mikroba pas praktikum Mikrobiologi

6. Atau mendadak jago baca sandi rumput pas elusidasi struktur hasil spektrofotometri

7. Anak farmasi pernah membaca buku ‘Ilmu Meracik Obat’

8. Anak farmasi selalu berlindung di balik kata-kata ‘lege artis’ untuk setiap penyimpangan prosedur

9. Anak farmasi lebih tahu buku ‘Formularium Medicamentorium Nederlandicum’ daripada kitab Mpu Gandring

10. Pakaian kebesaran anak farmasi adalah jas lab

JasLab

11. Anak farmasi pernah lari-lari pakai jas lab

12. Anak farmasi yang gaul pernah naik motor pakai jas lab yang berkibar-kibar

13. Anak farmasi rajin bawa kain lap

14. Anak farmasi tampak study oriented karena mukanya sekucel lap

15. Anak farmasi pernah menyampirkan lap di bahu

16. Sebagian kecil anak farmasi pernah dimarahi dosen karena menyampirkan lap di bahu

17. Katanya, “kamu mau jadi pembantu atau mau praktikum?”

18. Oh, itu tadi pengalaman yang punya blog, sih

19. Jas lab anak farmasi pasti penuh noda, kalau nggak bernoda pasti nggak pernah praktikum

20. Anak farmasi pernah bikin laporan praktikum di depan lab

21. Atau di dalam lab


BACA JUGA:
Cerita Farmasi: Jenis Bolos Anak Farmasi
Cerita Farmasi: Ketika Saya Didadar
Cerita Farmasi: Balada Mengerjakan Tugas


22. Anak farmasi mayoritas cewek, dengan keberadaan cowok antara 1:3 hingga 1:20

23. Makanya, anak farmasi cewek doyan jajan di kantin dekat Teknik, dengan tujuan penyegaran mata

24. Anak farmasi nggak pernah merokok di lemari asam

25. Anak farmasi pernah menggendong buku farmakope biar tampak kece

26. Atau kamus Dorland

27. Anak farmasi rajin begadang

28. Anak farmasi tahan bau mencit, berikut kotorannya

29. Anak farmasi tetap bisa makan dengan lahap meski ada bau kotoran mencit

30. Atau bau amoniak

31. Anak farmasi pernah bolos kuliah (2-3 SKS) untuk mengerjakan laporan praktikum (1 SKS). Aneh ya?

32. Sebagian anak farmasi takut pegang kuvet

33. Atau piknometer

34. Atau polarimeter

35. Soalnya mahal!

36. Asisten praktikum sering bilang “ini mahal” supaya praktikan hati-hati

Labu

37. Anak farmasi yang kece pernah bikin granul dengan remasan tangan

38. Anak farmasi meyakini bahwa memberi makan balita lebih mudah daripada mencit, dengan injeksi per oral

39. Anak farmasi pernah menimbang eeknya mencit

40. Anak farmasi ogah pakai sarung tangan kalau pegang mencit

41. Anak farmasi ogah pegang tikus kalau nggak pakai sarung tangan

42. Membunuh mencit adalah perbuatan yang terpaksa dilakukan anak farmasi demi kepentingan ilmu pengetahuan

43. Sebagian besar anak farmasi pernah membunuh mencit secara tidak sengaja

Mencit

44. Anak farmasi senang praktikum, tapi ogah bikin laporan

45. Anak farmasi nggak suka pre-test

46. Juga post-test

47. Demikian pula UTS dan UAS

48. Anak farmasi cowok adalah probandus utama untuk sampel darah dan sampel urine

49. Anak farmasi tetap mengeluh ketika disuruh bawa sampel urine, padahal kalau anak KU malah disuruh bawa feces dan sperma

50. Sebagian besar anak farmasi cowok tahu soal kurva baku karena diajarin teman yang cewek, bukan dari dosen

51. Probabilitas cinta lokasi sesama anak farmasi terbilang tinggi

52. Anak farmasi gemar menggunakan waktu tunggu ekstraksi untuk ngerumpi bin curcol

53. Atau waktu tunggu evaporasi

54. Atau waktu tunggu sintesis senyawa

55. Anak farmasi kalau cuci piring pasti bersih karena biasa cuci-cuci alat-alat gelas

56. Anak farmasi pernah ditanya “obat merk X ini gunanya buat apa?” sama keluarga atau tetangga atau mertua

57. Padahal di Indonesia saja ada ribuan merk obat, makanya anak farmasi sering merasa sebagai MIMS berjalan

58. Anak farmasi cewek biasanya rajin mencatat

59. Anak farmasi cowok jarang mencatat

60. Ada anak farmasi cewek yang nggak pernah berani pegang mencit, tapi nilai praktikum farmakologinya A

61. Ada anak farmasi cowok yang doyan pegang mencit tapi nilai praktikum farmakologinya C

62. Anak farmasi nggak berani nyuntik orang

63. Soalnya diajarinnya nyuntik mencit

Mencit2

64. Atau kelinci

65. Atau nyuntik sampel HPLC

66. Anak farmasi kayaknya kebal dibius kloroform, saking terbiasanya di lab Farmakognosi dengan segala solvent aneh-anehnya

67. Selalu ada anak farmasi IP Cum Laude yang pura-pura nggak bisa ngerjain ujian

68. Atau pura-pura memuji si bodoh yang masih saja belajar 5 menit sebelum ujian dimulai, “Ih, kamu rajin ya!”

69. Selalu ada anak farmasi yang kinerjanya mengecewakan dalam bikin tugas kelompok

70. Karena kepepet waktu, terkadang anak farmasi melakukan replikasi data secara fiktif

71. Atau menghitung ukuran partikel dalam praktikum mikromeritik sesuai wangsit yang diterima

72. Anak farmasi kagum pada hasil sediaan obat pertama yang dibuatnya, seburuk apapun bentuknya

73. Kekurangan cowok menyebabkan anak farmasi cewek dapat melakukan kegiatan berat seperti membuat kandang kelinci

74. Atau angkut jerigen aquades

75. Atau mencukur bulu kelinci

76. Anak farmasi yang cowok, sudah terbiasa dengan gerombolan rumpi anak farmasi cewek dengan modus ‘pembahasan hasil praktikum’

77. Anak farmasi yang skripsinya di lab, pernah nginap di lab

78. Atau setidaknya pulang malam

79. Atau pulang pagi

80. Dan masuk pada hari libur

Laboratorium

81. Anak farmasi termasuk yang paling tinggi passing grade-nya di kampus

82. Waktu tunggu kerja anak farmasi kalau sudah lulus hanya 0-3 bulan saja, kalau waktu tunggu jodoh… *kemudian hening*

83. Anak farmasi minat industri suka bingung kalau ditanya soal klinis

84. Anak farmasi minat klinis juga bingung kalau ditanya soal industri

85. Anak farmasi cowok umumnya bingung kalau ditanya apapun

AnakFarmasiCowok

86. Selalu ada anak farmasi yang keluar sesudah melewati tahun pertama

87. Karena kebanyakan cewek, anak farmasi umumnya menikah 0-3 tahun sesudah lulus kuliah

88. 99,9% anak farmasi yang bergelar S. Farm, pernah memelesetkan (calon) gelarnya sendiri menjadi Sarjana Pertanian atau Perkebunan

89. Anak farmasi pernah membedah mencit atau tikus bunting, untuk percobaan toksikologi teratogenik

90. Penulis buku OOM ALFA adalah anak farmasi #faktapenting2014 #faktapenting2015 #faktapenting2016

91. Anak farmasi pintar ngeles kalau disuruh minum obat

92. Tapi paling jago kalau nyuruh orang minum obat

93. Anak farmasi minat industri yang cewek sebagian ogah kerja di pabrik karena nggak bisa dandan

94. Referensi paling umum bagi setiap laporan praktikum adalah buku OOM ALFA laporan kakak kelas

95. Selalu ada anak farmasi yang kerja di bank

96. Selalu ada anak farmasi yang masuk farmasi karena Bokap-Nyokapnya juga lulusan farmasi

97. Anak farmasi juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati!

Banyak aja ya sampai 97. Ada yang kurang? Silakan ditambahkan di komentar ya! Just for fun! 😀