Bukan Dia

“Udah beres semua?”

“Udah kayaknya.”

“Sip, deh.”

“Pacaran dulu, yuk!”

“Eh, kamu ini, mau ujian kok malah pacaran dulu?”

“Nggak apa-apa, sayang. Udah khatam.”

Tanpa berlama-lama Echa melompat ke jok motorku, dan kami melesat ke kosnya yang sebenarnya tidak jauh-jauh benar dari kosku. Kami pacaran baru empat bulan. Tindakan terjauhku baru memeluknya. Bibirnya masih perawan, apalagi alat kelengkapan lainnya. Kami memang pacaran di dalam kamar, tapi dengan pintu terbuka. Itulah konsensus pacaran di kamar kosnya.

Pic

Sejak selesai membeli snack untuk dosen penguji, aku sudah melihat gelagat yang aneh pada Echa. Entahlah, aneh saja rasanya. Hanya aku tahu, tidaklah baik untuk bertanya ‘kamu kenapa’ kepada gadis yang sudah berusaha tampak tidak apa-apa. Itu hanya akan menjadi pekerjaan seperti menegakkan benang basah. Kini, kami hanya diam saja sambil setengah bermesraan di dalam kamarnya.

“Kok diam aja, yang?”

“Nggak papa. Lagi capek aja.”

Karena sama-sama tidak melakukan pekerjaan apapun, aku memilih untuk mengelus-elus rambutnya saja, kemudian meletakkannya di atas pahaku. Iya, gadis itu tertidur dalam keadaan sadar di atas pahaku. Tanganku lantas beralih ke ponsel merahnya, sekadar mencari permainan yang menarik. Kumainkan saja game sederhana yang ada di dalam ponsel itu, tanpa peduli bahwa aku besok akan melakoni ujian skripsi yang akan menentukan kelulusanku. Toh, ini hanya tinggal sidang terbuka. Sidang tertutup telah kulalui dua puluh hari silam tanpa masalah berarti. Makanya aku tidak terlalu peduli. Lagipula skripsi ini aku bikin sendiri, nggak ndandakke. Jadi aku tahu persis alasan setiap kata yang tertera pada skripsiku itu.

Tiba-tiba ponsel Echa bergetar. Sebuah nama tertera disana. Jambul.

Tiba-tiba darahku menggelegak, hendak marah, tapi kutahan karena tidak ingin membuat masalah kepada gadis yang sedang tiduran di atas pahaku.

Ya udah kalau lagi males, tak telpon deh.

Balasan yang membuatku ingin menelisik lebih lanjut kalimat yang ditulis Echa sehingga Jambul membalasnya demikian. Aku mencoba menahan diri untuk tidak melakukan scroll ke atas. Sedetik. Dua detik.

Dan aku kalah. Jempolku dengan gesit mengarahkan layar ponsel pada pembicaraan sebelumnya.

Iya, nih, Mbul. Aku lagi males sama dia. 

FAK!

“Ini apa?” tanyaku sambil menyodorkan layar ponsel persis ke muka Echa.

“Kamu buka-buka HP aku?”

“Ini apa? Jawab!”

“Kamu nggak sopan!”

Tidak ada lagi bermesraan. Perang dimulai.

“Jelaskan dulu. Ini apa?”

“Kamu kan udah baca. Terus mau nanya apa lagi?” tanya Echa, pura-pura polos, sepertinya.

“Maksudnya apa?” balasku dengan nada meninggi.

“Iya, aku lagi males sama kamu. Dan pas Jambul kontak aku. Apa salahnya dong aku jawab.”

“Kamu curhat sama mantan?”

“Memangnya kenapa?”

Aku tidak dapat menahan diri lagi. Bergegas pergi adalah solusi terbaik dalam kondisi ini. Gadis yang kukira adalah sumber bahagia itu rupanya memantik problema, persis sebelum aku melakoni ujian penting dalam kuliahku. Gila.

* * *

Echa. Calling.

Sudah empat kali Echa meneleponku, dan empat kali pula aku memilih untuk tidak mengangkat panggilan telepon itu. Meskipun ini kejadian langka selama kami pacaran–mengingat selama ini aku doank yang modal–namun konteks masalah membuatku malas dengannya. Iya, merusak kondisi dalam waktu ketika seharusnya aku berada dalam mood terbaik.

Aku baru selesai mengantarkan perlengkapan ujianku ke kampus, dan kembali lagi ke kos untuk berganti pakaian. Pakaian perang menghadapi dosen dan puluhan pemirsa yang hadir di ujian terbuka.

“Ngapain kamu disini?”

Aku melihat Echa ada di kosku, sesudah dengan sukses merusak mood persiapan ujianku. Kurasa dia punya hati yang tega.

“Kan kemaren aku janji mau nyetrikain baju kamu.”

“Oh, masih ingat,” ujarku sinis.

“Udah. Kamu ujian dulu, nanti kita selesaikan.”

Kubiarkan dia memasuki kamarku, mengambil segala perlengkapan menyetrika dan menyaksikannya menggosok pakaian perangku hingga mulus. Lebih tampak seperti asisten rumah tangga, dibandingkan kekasih. Apalagi semua terjadi dalam diam. Benar-benar diam.

“Sini. Aku pasangin dasinya.”

Aku masih tetap diam, sementara tangannya membuat sebuah simpul di leherku. Ah, semoga dia tidak mencekikku. Sedikit lagi aku sarjana, masak malah mati konyol di tangan pacar yang ingin kembali kepada mantannya?

Kulihat jam tanganku nan mahal. Dua puluh menit lagi perang dimulai. Aku berangkat, dengan Echa di jok belakang, serta diam yang menggantung diantara aku dan dia.

* * *

“Dengan demikian, proses pengadaan di PT. XYZ telah memenuhi kaidah-kaidah dalam Peraturan Presiden nomor 70 tahun 2012,” ujarku sembari menutup presentasi ujian terbukaku. Kulirik Echa yang duduk di belakang, tidak ada rona bahagia sedikitpun. Sedatar-datarnya datar.

Kuladeni beberapa pertanyaan yang masuk. Soal kontrak lump sum, soal penetapan daftar hitam, soal harga perkiraan sendiri. Semuanya kujawab dengan mudah karena–sekali lagi–skripsi ini aku kerjakan sendiri. Setiap teori aku catat, baca kembali, dan akhirnya ingat. Hanya sesimpel itu. Bahwa aku sedikit tidak fokus karena mood yang hancur semalam, itu soal lain. Yang penting bagiku adalah ujian ini segera selesai.

“Baiklah. Kami umumkan bahwa peserta dengan nama Yosef Widodo Kurniawan dinyatakan…”

Hening sesaat. Tetiba aku merasa bahwa Pak Dosen adalah VJ Daniel, tanpa Jambul. Ah! Jambul! Lelaki perusak hubungan orang lain! Kampret!

“…lulus.”

Ingatan akan jambul membuat eksitasiku hilang terhadap kabar yang seharusnya sangat gembira. Kusalami para dosen dan beberapa teman yang datang menghampiri. Catat, Echa tidak menghampiriku sama sekali. Kulihat dia–dengan jumper birunya–berjalan keluar, tanpa kata-kata sedikitpun.

Kutarik napasku dalam-dalam. Kini aku tahu, she is not the one.

3 thoughts on “Bukan Dia

  1. Pingback: 8 Kelebihan Pekerja Jakarta | ariesadhar.com

  2. Pingback: Kisah Klasik Bersama Lion Air | ariesadhar.com

  3. Wakakakakaka.

    Keren Bro!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.

    Dan aku kalah. Jempolku dengan gesit mengarahkan layar ponsel pada pembicaraan sebelumnya.

    Iya, nih, Mbul. Aku lagi males sama dia.

    FAK!

    Harusnya di tulis “Pak” ( Hanya tidak bagus juga, karena presepsi pembaca nanti Pak = Orang tua).

    Biasanya logatnya yang disampaikan orang “Pak lah”

    Sip Bro

    Like

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s