Cerita Farmasi: Ketika Saya Didadar

pablo (3)

Malam ini kusendiri
Tak ada yang menemani
Seperti malam-malam
Yang sudah-sudah

Ini kok malah nyanyi minta kekasih? Ya pada intinya saya sedang nggak bisa tidur. Bukan karena banyak pikiran, tapi karena tadi pulang kerja malah tidur pulas sampai jam 9 malam. Jadilah sekarang saya melek tidak karuan. Yah, yang penting bukan tengah malam merem-melek, bisa bahaya itu.

Kalau urusannya sudah nggak bisa tidur begini, saya jadi ingat sebuah rangkaian peristiwa yang melibatkan kata kunci “nggak bisa tidur”. Sebuah peristiwa nggak bisa tidur paling bodoh yang pernah saya alami, menurut saya.

Peristiwa apa itu?

Ini adalah kejadian bertahun-tahun silam, dengan fokus peristiwa utamanya adalah ujian skripsi tertutup saya. Atau mungkin lebih jamaknya disebut pendadaran. Saya sendiri kurang paham soal terminologi ini karena di dalam rangkaian skripsi saya berikut surat-surat yang menyertainya, sama sekali nggak ada istilah pendadaran.

Mungkin pendadaran sendiri mengacu pada prinsip pembuatan telur dadar. Seorang mahasiswa yang rapuh seperti saya ini diibaratkan sebagai telur, yang sekali banting pecah. Lalu telur dadar itu dipecahkan dan dimasukkan ke penggorengan. Di penggorengan mau diapain sama dosen penguji yang terserah dosennya kan? Lalu kemudian sesudah waktu yang ditentukan, si mahasiswa sudah berubah menjadi telur dadar.

Mungkin pendadaran itu kira-kira seperti itu.

Baiklah. Ini cerita saya.

Rangkaian panjang perjalanan skripsi saya akhirnya mencapai puncaknya di bulan Desember. Tidak lama sesudah pulang dari lomba Golden Voice di Jakarta, saya mendapat kepastian akan maju ujian skripsi. Nggak tanggung-tanggung, maju ujian skripsinya itu tanggal 2 Januari. Saya nggak usah nyebut tahun ya. Ketahuan nanti kalau pas saya ujian skripsi, wakil presidennya masih Pak Try Sutrisno.

Ujian tanggal 2, padahal tanggal 1 itu merah. Ya, itu adalah hari pertama bener di tahun itu. Mengawali tahun dengan ujian, sungguh terdengar heroik kan?

Jadwalpun dibagi karena ini menyangkut penguji saya yang ada 4, dan satu berasal dari Jakarta. Juga menyangkut delapan orang yang terlibat dalam topik swamedikasi ini. Hasil pembagiannya adalah…

*drum roll*

Henny didapuk ujian duluan, dilanjutkan oleh Rissa. Saya dapat giliran nomor 3 di hari pertama dan hari berat itu diakhiri oleh Fandy. Keesokan harinya adalah jatahnya Limdra, Tika, Pipin, dan Ana.

Jadwal sudah diperoleh, dan seperti halnya mahasiswa pada umumnya, saya pasti melakoni ritual utama setiap mengerjakan tugas. Ritual itu bernama menunda. Kebetulan saya harus sibuk sana-sini untuk mengurus ujian susulan saya akibat ditinggalkan ikut lomba Golden Voice, jadi meskipun saya sadar bahwa ujian saya tanggal 2, bahkan sampai tanggal 31 Desember malam, saya belum bikin apa-apa.

Maka, dibawah kibaran sarung eh… dibawah ledakan kembang api tahun baru, beserta siaran-siaran tahun baru di malam 31 Desember itu, saya menghabiskan waktu di depan komputer untuk membuat slide presentasi ujian tertutup saya. Jadi kalau pemuda harapan bangsa yang lainnya sedang sibuk menikmati malam pergantian tahun di Malioboro, maka pemuda harap-harap cemas yang satu ini sedang sibuk menikmati pergantian slide di Microsoft Power Point.

Dan ya memang begitu, ketika jam beranjak 00.00, yang artinya tahun sudah berganti, saya masih asyik dengan memindahkan grafik-grafik di skripsi saya ke slide presentasi yang diharap bakal menghipnotis para dosen penguji besok.

Uhuk.

BESOK??!!!

Kalau sudah pergantian tahun, berarti sudah tanggal 1, berarti yang namanya tanggal 2 itu ya besok. Begitulah anak muda, kadang masih suka mempertanyakan realita. Maklum, labil.

Slide itu sendiri akhirnya kelar jam 3 pagi, dan saya segera bobo manis di pagi yang indah itu. Bobo manis itu penting sekali karena itu adalah nama majalah kesukaan waktu saya anak-anak dulu, yang hanya dibeli kalau Bapak lagi kelebihan duit. Jadi saya bisa khatam baca itu majalah karena dalam 2-3 bulan saya akan bolak balik baca majalah yang sama. Kalau sudah agak remaja, biasanya majalah kesukaan berganti menjadi Gadis. Nah, kalau sudah dewasa, majalah favoritnya ganti jadi apa dong?

Sudah pasti…

…Bobo sama gadis.

Dan tanggal 1 Januari saya lalui dengan bangun siang layaknya mahasiswa yang berhari libur pada umumnya. Tentu saja sambil membereskan kelengkapan-kelengkapan penting. Sebanyak 4 naskah untuk penguji sudah disiapkan, 3 sudah didistribusikan, sedangkan 1 lagi akan diberikan nanti kepada Pak Dosen yang datang dari Jakarta. Saya sendiri sudah menyiapkan naskah skripsi yang akan saya bawa maju.

Ya, kalau teman-teman yang lain akan mencetaknya di 1 halaman HVS A4S. Kalau saya sudah siap dengan jurus pengiritan. Naskah saya yang total jenderal 200-an halaman itu, saya cetak di KERTAS BEKAS REVISIAN, tentunya di halaman kosong di belakangnya. Lalu saya jilid rapi. Dan untuk semakin mempertegas bahwa saya adalah mahasiswa susah, maka di dalam 1 halaman kertas HVS A4S itu saya cetak dua halaman skripsi. Jadinya sih semacam buku kecil gitu. Cukuplah untuk memberikan kesan ironis. Saya sendiri hanya mempersiapkan itu kalau-kalau ada dosen bertanya begini.

“Coba buka halaman 45.”

Kan nggak mungkin saya bilang:

“Kalau gitu saya pinjam naskahnya, Pak.”

Walaupun muka saya susah, saya nggak yakin itu akan cukup berhasil kalau dilakukan di ujian skripsi.

Sore menjelang, dan saya sudah bersiap hendak tidur sejak jam 6 sore. Saya sudah makan malam, tentu saja dengan nasi putih, tempe, serta kuah yang banyak. Pantas saja berat badan saya dulu nggak sampai 50 Kg. Mana ada ceritanya makan pakai kuah bisa menaikkan berat badan? Lagipula hanya ada 1 jenis kuah yang bisa meningkatkan berat badan tanpa dimakan, itu adalah kuah…kui engkau sebagai pacarku.

Oke. Skip.

Jam 7 saya sudah memasukkan segala kelengakapan perang ke dalam tas. Saya sudah berencana tidur agar besok bisa fresh ketika ujian skripsi. MEN, GUWEH MAU UJIAN SEKRIPSI MEN! Siapapun tahu, ujian skripsi adalah salah satu puncak dalam karier kemahasiswaan, selain jadian dengan kembang kampus tentu saja. Oya, kamar saya juga sudah gelap karena saya biasanya akan tidur lebih mudah kalau kamar gelap. Cuma kok ya kebetulan bulan lagi oke. Saya bisa melihat itu karena di kamar kos saya, Bapak kos membuat bagian atap yang menggunakan loteng plastik seukuran 30 x 30 cm. Jadi kalau siang, saya nggak perlu menyalakan lampu. Ini sungguh pengiritan. Cuma kalau lagi petir nyambar-nyambar, ya silakan dinikmati juga.

Setengah jam berlalu…

…dan saya belum tidur.

Tangan saya langsung menyambar remote TV tuner dan menyalakannya. Sejak adanya si TV tuner ini, memang hampir pasti saya tidur sambil ditonton sama dia. Bukan kebiasaan yang baik sih, karena kadang-kadang saya bermimpi yang aneh-aneh. Mimpi saya kadang-kadang siaran berita, kadang-kadang sinetron, kadang-kadang lagu Indonesia Raya. Secara teori itu sangat mungkin terjadi karena telinga dan otak saya masih memberikan respon pada tayangan televisi yang sedang menonton saya tidur.

Pernah juga saya mimpi Inter kalah sama Semen Padang. Padahal itu ceritanya siarang ulang Inter lawan MU. Ya kali Setan Merah jadi Kabau Sirah. Setan sama Kebo kan beda.

Jam 9 malam.

Dan saya masih juga belum terlelap. Tubuh saya guling-guling menandakan saya mengkhawatirkan hari esok. Setiap kali merem, yang kebayang saya nggak bisa jawab pertanyaan. Dan bayangannya kadang jadi aneh-aneh. Khawatir terjadi dialog macam ini:

“Jadi apa itu sakit kepala?”

“Itu yang saya alami kalau akhir bulan, Pak.”

“Apa hubungan tingkat pendapatan dengan perilaku swamedikasi?”

“Hubungan mereka incest, Bu.”

“Bagaimana mekanisme sakit kepala tipe tegang?”

“Mereka berantem duluan karena ada yang selingkuh, Pak. Jadinya ada ketegangan satu sama lain.”

Sejujurnya, fantasi saya memang terlalu berlebihan. Saya lantas mutar otak gimana caranya bisa tidur kalau begini dan mendadak ingat hasil observasi ketika berangkat Golden Voice kemaren. Ada teman saya–calon apoteker–yang minum dua tablet Dimenhidrinat sepanjang jalan supaya tidak mabuk. Ehm, logikanya gampang banget sih, kalau minum dua kan adanya malah ngantuk, jadi nggak bakal sempat ngerasain mabuk juga.

Dan, dengan logika yang masih dipertanyakan itu, saya mengambil stok merk obat antimabuk terkemuka itu, dan meminumnya setengah. Takutnya kalau dua malah kebablasan nggak bangun. Iya kali kebablasan, padahal seluruh alarm yang saya punya sudah dalam posisi stand by. Alarm HP L6, alarm HP 2100, sampai alarm andalan saya sejak SMA juga sudah dikerahkan. Bunyinya alarm itu sungguh menggoda. Se-RT juga bisa dengar.

Seorang mahasiswa yang akan skripsi masih menggunakan obat secara salah dengan kesadaran penuh?

IYA. DAN ITU SAYA! POKOKNYA SAYA MAU TIDUR!

Apa yang terjadi kemudian?

Saya tetap tidak bisa tertidur, bahkan sampai jam 2 pagi. Dan tinggal 9 jam lagi saya akan ujian skripsi. Fiuhhh…

Karena benar-benar tidak bisa tidur, saya malah melakoni aksi gila. Kebetulan saya tahu kalau dosen penguji saya yang dari Jakarta sedang dalam perjalanan ke Jogja naik Kereta Api. Dan menurut pengalaman menjemput orang tua di stasiun, kira-kira jam 3-4 kereta itu akan sampai. Jadi sekitar jam setengah 3 pagi, dalam keadaan belum tidur dari sore, saya berangkat ke stasiun. Siapa tahu, dengan jamuan ini, nilai saya jadi bagus. #ngarepdotcom

Pada akhirnya saya benar-benar sampai di Stasiun Tugu jam 3 pagi. Pada masa-masa mahasiswa, berkeliaran tengah malam sampai pagi sama sekali nggak asing buat saya. Kalau kelar nongkrong di angkringan tugu saja kadang-kadang jam 2 pagi kok. Saya bahkan suka melihat suasana pagi buta, ketika melihat aktivitas orang-orang yang bekerja, di saat orang-orang lain justru terlelap. Sebuah input yang bagus bagi manusia.

Cek punya cek, kereta yang ditumpangi oleh Pak Dosen ternyata belum sampai. Jadi saya masih bisa menunggu, dan ternyata juga tidak lama. Pak Dosen kaget aja melihat ada saya di stasiun jam segitu.

“Kamu nggak tidur?”

“Udah kok, Pak.”

Dan dosa saya atas nama berbohong sudah nambah satu di catatan malaikat.

Pak Dosen saya antarkan mencari hotel. Pas di hotel itu, dia berinisiatif menelepon teman saya yang juga akan ujian nanti siang. Dan…

…diangkat.

“Kamu nggak tidur?”

“Nggak bisa, Pak.”

Jiah, ternyata nggak cuma saya yang nggak bisa tidur. Baiklah, ternyata saya manusia normal.

Sekitar jam 4 pagi saya cabut karena saya nggak mau dikira cek in sama Pak Dosen. Lagipula hotelnya berlokasi di tempat berkecenderungan esek-esek di Jogja. Yah, kalian tahu lah dimana itu. Wong seberangan sama Tugu kok.

Mungkin karena hembusan angin malam, akhirnya saya bisa terlelap begitu sampai di kos. Mungkin juga karena efek obat. Dan mungkin bila nanti kita kan bertemu lagi… Ah, malah nyanyi Peterpan.

Alarm saya yang segambreg itu berbunyi jam setengah 6. Jadi kira-kira saya tidur itu 90 menit. Cukup buat 1 kali main bola full. Tapi itu main bola, bukan tidur. Jadi cukup nggak kira-kira tidur saya yang harusnya 9 jam tapi cuma dapat 90 menit itu? Nggak tahu deh. Saya nggak mungkin mutar weker mundur supaya saya bisa tidur lagi. Bisa sih, tapi saya harus arrange jadwal ujian yang baru. Dan saya belum cukup gila untuk melakukan itu.

Jam 7, saya sudah datang ke kampus dan segera melihat persiapan Henny di urutan pertama. Dan dari ujian Henny saya baru sadar, kalau saya belum pinjam laptop untuk ujian nanti jam 11. Yah, mikirnya kejauhan sampai pertanyaan yang akan diajukan dosen, tapi nggak mikir kalau nggak punya laptop.

Untungnya ada bala bantuan. Saya segera mengontak Manda, teman yang rumahnya deket dengan kampus, dan punya laptop. Sebelum-sebelum ini, tercatat saya pernah pinjam juicer juga di rumah itu, dalam rangka membuat krim mentimun dalam praktium Semisolid-Liquid. Mungkin kalau kali ketiga saya datang, sudah dikasih tulisan di pagar:

“TUKANG PINJAM DILARANG MASUK”

Karena jarak kos dengan kampus yang dekat, ketika pertama kali ke kampus saya hanya pakai kaos, dan belum mengenakan pakaian seragam perang. Demikian pula ketika saya kembali untuk kali kedua, ketika sudah ada Rissa yang siap masuk giliran berikutnya. Sesudah Rissa masuk, baru deh saya pulang ke kos dan mengenakan pakaian perang saya. Dan sekilas saya melihat HP, eh ada SMS penyemangat, yang tentu saja bukan berasal dari pacar saya. Lalu dari siapa? Ada deh. Situ kepo?

Mau tahu apa pakaian perang saya?

Sejujurnya, ini koleksi paling rapi yang saya punya.

Baju: sebuah kemeja hijau dari tahun 1980-an, yang tentu saja milik Bapak saya. Dengan jujur saya mengembat baju ini ketika mudik setahun sebelumnya. Bahan tipis, warna hijau pudar. Entah pudar karena modelnya, atau pudar oleh jaman, semoga sih tidak pudar seperti cinta mantan.

Celana: ini celana bahan kain punya saya SATU-SATUNYA. Ini adalah celana yang sama dengan yang saya kenalan saat Ospek alias Insadha ketika saya pertama kali masuk. Ini juga celana yang saya ketika saya ada di Panggung Melody of Memory. Celana ini juga yang saya kenakan waktu konser pamit KPS Unpar IV, waktu lomba KPS Unpar IV itu sendiri, plus yang terbaru Golden Voice ke Jakarta. Tentu saja itu terjadi karena celana itu adalah celana kain satu-satunya itu tadi. Celana ini dijahit di seorang penjahit paling PHP se-Bukittinggi, dengan bahan sebenarnya jatahnya Bapak saya dari dinas, tapi karena Bapak sudah kebanyakan celana, jadi bahan itu disimpan saja di lemari sebelum anaknya yang penuh kekurangan ini datang minta dijahitkan celana.

Sepatu: sebuah sepatu yang aslinya kekecilan, tapi saya terima-terima saja. Tentu saja kekecilan karena ukuran kaki saya 1 ukuran lebih besar dari Bapak. Iye, ini sepatu Bapak yang juga saya embat pas mudik dengan alasan untuk skripsi. Dan tentu saja, sepatu ini juga adalah sepatu yang sama dengan yang saya kenakan di Golden Voice.

Dasi: nah, untung juga ada yang beli sendiri. Sebuah dasi nuansa hijau dengan warna lainnya, dibeli dengan harga tidak sampai Rp. 30 ribu di Stock Well Jogja.

YAK! Baju dan sepatu ngembat punya Bapak, celana kain satu-satunya. Jadi hanya zwempak, dasi, dan kaos kaki yang punya sendiri. Dengan kombinasi mengenaskan ini saya siap MAJU UJIAN! Jangan lupa, saya hanya tidur 90 menit lho.

Setengah jam sebelum jam 11 adalah jam setengah 11.

YA IYALAH!

Di jam itu saya sudah datang ke kampus, membawa perlengkapan perang saya yang sebagian besar pinjaman ini. Iya dong, selain baju-bajuan, laptop kan juga minjem. Sebenarnya saya ingin pinjam muka, tapi sayang nggak ada yang mau minjemin.

Jam 11-pun tiba. Dag dig dug jantung saya nggak karuan. Ini skripsi yang saya kerjakan sendiri, yang metodenya saya cari sendiri, yang datanya saya olah sendiri, yang wawancaranya saya lakukan sendiri, yang ngeprint-nya juga saya lakukan sendiri. Sebenarnya apa yang saya takutkan sih?

Bahkan saya sendiri nggak tahu sebenarnya ketakutan saya itu apa saja sampai bisa deg-degan gaje begini.

Dosen penguji lengkap, dan sayapun…

…mulai.

Dengan menggunakan slide presentasi yang dibuat di 2 tahun berbeda itu, saya membawakan materi skripsi saya. Di bagian latar belakang dibuat agak animasi sedikit biar keren. Sementara di bagian lainnya penuh dengan grafik model pie dan batangan. Sekitar 20 menit saya membawakan presentasi itu, dan kemudian selesai.

Iya. Selesai.

Selesai ndasmu! Sesi pertanyaannya belum oi!

Bermodal skripsi mini yang saya print di kertas bekas saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dosen penguji. Perkara metodologi, perkara sakit kepala, juga perkara-perkara kecil dan perkara-perkara besar.

Ini ujian teologi atau farmasi sih?

Dan sungguh tidak terasa, ujian itu kelar dalam waktu 90 menit. Jadi sekitar 70 menit saya berhadapan dengan tanya jawab dosen. Benar-benar nggak terasa karena pertanyaan dan jawabannya bisa mengalir. Saya baru sadar, kalau ketakutan saya semalaman sampai nggak bisa tidur itu adalah ketakutan paling bodoh yang pernah saya alami.

Apa coba yang saya takutkan? Saya melalui ujian ini dengan baik, dengan semua pertanyaan yang bisa dijawab meski tidak semuanya memuaskan. Sumpah, saya menyesal pakai acara nggak tidur semalaman. Rugi. Rugi bener.

Bahkan saya masih nggak percaya begitu keluar dari ruang K.101 itu. Nggak percaya kalau saya sudah melalui ujian skripsi tertutup, dan dinyatakan lulus untuk mengikuti ujian terbuka.

Hanya bisa bilang, “Wow!”

Hari itu saya belajar bahwa kekhawatiran berlebihan itu sama sekali nggak ada gunanya, apalagi untuk sebuah hal yang saya bangun sendiri. Makanya saya kemudian percaya bahwa skripsi yang benar-benar dibuat sendiri, nggak nyontek apalagi beli, pasti nggak akan bikin pembuatnya gelagapan. Pasti semua pertanyaan bisa dijawab, meski tidak semuanya baik. Dan saya kadang jadi heran, kalau yang beli-beli skripsi gitu, ujiannya gimana ya? Menganga doang dong?

Saya kemudian pulang, dan ti…

Zzzzzzzzz…….

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Farmasi: Ketika Saya Didadar

  1. Pingback: 4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi | ariesadhar.com

  2. Pingback: My Awesome Boss | ariesadhar.com

  3. Pingback: 97 Fakta Unik Anak Farmasi | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s