Tertangkap Pastor Paroki

Pacaran, pada prinsipnya, adalah sesuatu yang menyenangkan, walaupun kawan-kawan saya bilang bahwa menikah lebih menyenangkan. Apapun, yang jelas keduanya jauh lebih menyenangkan daripada jomlo menahun, berkerak penuh luka dalam kesendirian nan hina, berteman dengan sepi dan kenangan-kenangan yang melintas dalam fragmen-fragmen panjang tiada henti. Ah!

Sesudah mencari pacar di berbagai arena, akhirnya saya menemukan gadis yang bersedia ditipu dengan sebongkah ongol-ongol dan berkenan menjadi pacar saya. Siapa duga dan siapa sangka, ternyata gadis itu adalah umat dari Mas-nya Bapak saya. Ya, kebetulan beliau memilih jalan menjadi pemuka umat Katolik. Ada beberapa sisi positif dan negatif dari posisi ini. Sisi positifnya, ketika PDKT, rekomendasi dari Pakde sendiri yang adalah pemuka umat tentu adalah nilai plus. Sisi negatifnya? Mengingat proses pengesahan pernikahan dalam agama Katolik adalah via Pastor Paroki, maka bisa jadi saya akan terjebak dalam penyelidikan kanonik nan menyeramkan mengingat Pastor yang menyelidiki itu telah mengenal saya sejak belum dibuat.

Selain itu, mengingat Pakde saya adalah pemuka umat setempat, jadi tempat saya pacaran otomatis juga adalah teritorial beliau. Dan pemuka umat tentunya juga bertugas melindungi umatnya, termasuk dari ancaman keponakannya sendiri. Itulah konteks ketika cerita ini terjadi.

Suatu kali dalam kunjungan ke Cimahi, saya dan pacar misa ke Pratista, sebuah tempat retret milik Ordo Salib Suci (kayaknya), yang terletak di Jalan Kolonel Masturi. Kalau ke Bandung dan sekitarnya, jangan heran sama Jalan Kolonel Masturi karena panjangnya melebihi jalan kenangan. Mungkin hanya kasih ibu yang bisa menyaingi panjangnya, seperti kata pepatah, kasih ibu sepanjang jalan Masturi, kasih ayah sepanjang jalan Riau.

rekoleksi-wil-theresia-2

Begitu sampai di tempat misa, ternyata sudah penuh. Kiranya ada perayaan khusus untuk Romo Rutten, seorang pemuka umat asal Belanda yang lama mengabdi di Bandung dan sekitarnya. Namanya juga perayaan, misa itu dipimpin oleh Romo yang sudah dipilih menjadi Uskup Bandung, tapi saat itu belum ditahbiskan. Wajar saja kalau penuh. Selain karena gerejanya memang kecil, tamu yang datang lumayan banyak, misanya konselebrasi pula.

Mengingat momen penting ini, saya tengak-tengok-intap-intip ke dalam, memperkirakan bahwa Pakde saya yang adalah penguasa daerah Cimahi ada di dalam.

“Ada nggak?” tanya pacar saya.

“Nggak kelihatan.”

Seorang umat berkulit gelap, duduk di kursi plastik, lalu tengak tengok ke dalam gereja. Sudah jelas tampak aneh. Macam mau berbuat terorisme. Muka memang bisa menipu, menutupi hati saya yang lemah lembut macam pelembut pakaian ini. Hasil tengak-tengok dan tidak tampak, akhirnya saya menyimpulkan bahwa Pakde saya tidak ada di TKP. Mungkin sedang bertugas di gerejanya

Namanya juga orang pacaran baru beberapa bulan, pasti duduknya agak mepet-mepet. Apalagi ini kan kursi plastik yang bisa custom letaknya. Kalau sudah pacaran beberapa tahun, katanya sih, kalau mepet-mepet malah dibilangin, “siapah kamuh? dekat-dekat akuh?”. Katanya, sih, saya nggak tahu, wong belum ngalamin.

Dalam urut-urutan misa, tentunya ada masanya untuk saling bersalaman sesama umat, mengajak damai. Sayapun bersalaman dengan pacar saya meski nggak habis marahan. Sesudah itu tangan saya beredar untuk bersalaman ke kiri, ke kanan, dan ke…

…belakang. Begitu badan saya berbalik untuk bersalaman dengan umat lain yang ada di sekitar, tanpa diduga dan tanpa diberi mantra, tetiba saya melihat sosok yang saya kenal ada persis di belakang saya.

“Eh…,” komentar saya singkat.

Sesudah adegan salam damai itu, saya dan pacar kemudian menggeser kursi beberapa milimeter lebih jauh. Lha, mau bagaimana, di belakang kami sekarang ada Pastor Parokinya pacar saya, yang kebetulan sama persis dengan Mas-nya Bapak saya. Inilah yang disebut sebagai tertangkap oleh Pastor Paroki.

*berubah menjadi holy*

Ada yang pernah mengalami kejadian absurd semacam itu dengan pemuka agama? Share, yuk!

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s