Jobless Escape: Cisantana

Sesudah mengambil keputusan penting untuk resign dari pekerjaan yang saya tekuni selama 4 tahun 10 bulan, saya tentu saja menjadi jobless. Dalam terminologi yang lebih kejam, bisa disebut sebagai pengangguran. Nggak apa-apa deh, minggir sejenak demi kebaikan bersama. Lagipula, setidaknya untuk 1 bulan ke depan, tabungan masih cukup untuk sekadar makan indomie goreng.

IMG_4373

Dan persis sehari sebelum hari terakhir di kantor, saya dapat ajakan untuk makan cwi mie secara gratisan oleh Mas Didit, lulusan IT yang jadi juragan bahan kimia. Yah, namanya mau jobless saya sangat peka pada sesuatu yang bernama gratisan. Maka, berangkatlah saya ke tempat Oma untuk makan cwi mie.

Ngobrol-ngobrol lama, cwi mie-pun menjelang tutup. Eh, begitu saya, Bayu, Agung, Mas Didit, dan Mbak Metta keluar, tetiba ada Pak Paulus di luar. Obrolan santai kemudian berlanjut. Yup, manusia-manusia ini adalah orang-orang yang saya kenal karena sama-sama tergabung di bagian Pelayanan PITC. Sepelenya, orang-orang yang dipilih untuk melayani.

IMG_4435

Nah, sambil makan bakso, Pak Paulus lalu bilang, “Gue mau ke atas besok. Mau ikut nggak?”

Saya masih bingung. Tapi lantas Mas Didit menimpali, “Ke Cisantana? Ayo aja! Melu ora?

IMG_4433

Sebagai orang yang keesokan harinya akan jobless dan pasti bingung hendak melakukan apa, saya segera mengiyakan ajakan ini. Lagipula, saya sudah cukup lama nggak menginap di tempat peziarahan yang sesuai agama yang saya anut. Terakhir kali itu sekitar tahun 2008, bersama pacar, yang sekarang sudah menjelma menjadi mantan. Memang kemudian saya masih menyempatkan diri mampir ke Sri Ningsih, Ganjuran, Jati Ningsih, hingga Sendang Sono, tapi semuanya tidak menginap. Bayangan seru dinginnya Cisantana langsung memenuhi akal pikiran saya, hingga kemudian memutuskan ikut. Sudah kebayang juga membawa Eos karena sebelumnya dia baru sempat mengambil gambar di Sendang Sono.

IMG_1805

Dan Sri Ningsih.

IMG_3255

Serta Lembah Karmel.

IMG_4311

Perjalanan dimulai jam 11 malam karena saya belibet masukin si BG ke kamar, berhubung mau ditinggal beberapa hari. Eh, ternyata ada peserta tambahan selain EO Pak Paulus, Mas Didit, dan Mbak Metta. Pak Tri ternyata berhasil dirayu untuk ikutan juga. Kadang-kadang saya iri sama mereka-mereka yang kerjanya swasta begini, sehingga bebas soal waktu. Inipun kalau saya tidak jobless nggak bakal ikutan juga.

Profil perjalanannya kira-kira seperti ini:

Untitled

Melihat Mbah Google kan emang cuma sekitar 4 jam ya. Eh, ternyata Mbah Google lupa kalau ini Endonesa. Itu loh, sebuah negara yang jalan negaranya bolong-bolong segera gerobak. Mana yang lewat isinya truk semua. Sebut saja jalan itu sebagai Pantura. Dan, ya sudahlah, berhubung saya juga nggak nyetir, jadi saya tidur saja. Lagipula kalau saya nyetir, nggak akan sampai Cisantana. Paling mentok mampir ke Rumah Sakit terdekat.

IMG_4437

Macet parah membuat kami baru sampai ke lokasi pada jam 7 pagi. Jadi, mobil ditaruh di susteran dan kami akan mendaki! Eh, sebenarnya ada bagusnya juga tiba di lokasi jam 7 pagi. Jadi, di perjalanan saya masih bisa melihat pemandangan kece ini.

IMG_4328

Sesudah bermandi-mandi, maka rombongan wirausahawan/wati plus pengangguran ini mendaki ke tempat peziarahan ini.

IMG_4460

Menurut pengalaman saya, perjalanan bakal seru dan berat. Karena hampir semua tempat sejenis memang berada di sebuah lokasi yang nggak mudah dijangkau, meskipun ketika berubah menjadi tempat ziarah, tempatnya menjadi cukup memadai. Satu hal yang pasti, bakal mendaki dan bakal pegel. Di sisi kiri dan kanan jalan menuju puncak gemilang cahaya menggapai cita mendaki asa banyak lahan bercocok tanam diselingi lahan kuburan. Orang-orang di sepanjang jalan juga ramah-ramah. Mirip ketika saya jalan-jalan di ‘Tembok Besar Koto Gadang’, dan tentu saja beda dengan jalan-jalan di mall. Mana teh langitnya biru cerah pisan, yang berarti…

…panas, bos!

IMG_4330

Ditunjang dengan tas gede yang harus saya bawa, plus snack-snack hasil beli di Lawson Rest Area Tol Cikampek, maka perjalanan jadi semakin berat. Tapi, sekali lagi, perjalanan semacam ini lebih banyak menyenangkannya kok. Apalagi memang sudah lama saya nggak jalan-jalan ke tempat macam ini.

IMG_4455

Sesudah melalui rute nan kece, pada akhirnya rombongan Cikarang tadi, plus Mas Dede yang diciduk di Eretan, melakoni ibadat jalan salib. Pas banget yah, menjelang Paskah, kita jalan salib. Dan, well, selain Sri Ningsih, jalur jalan salib di Kuningan ini luar biasa bikin pegel. Yah, saya akhirnya merasakan lagi sensasi jalan salib sambil ngos-ngosan, sesudah terakhir kali tahun 2006. Gile, lama bener. Lucunya, sepanjang jalan, kami ditemani sesosok coklat yang hafal jalur! Namanya Boni.

IMG_4333

Sesudah perhentian ke-14, akhirnya sampai juga di Gua Maria Sawer Rahmat, Cisantana, Kuningan yang menjadi tempat tujuan dari peziarahan ini. Entahlah, saya nggak menghitung ini tempat peziarahan keberapa yang saya datangi. Konsepsi hidup saya bilang bahwa hidup adalah peziarahan, jadi kalaulah ada tempat semacam ini bagi saya adalah bagian dari itu. Well, ini pendapat bisa berbeda bagi masing-masing persona.

IMG_4396

Terus ngapain dong habis itu?

Sesudah makan, saya tidur siang. Enak bener ya hidup? Nggak apa-apa, sekali-kali boleh. Pasca tidur siang, saya lalu bangun, dan ternyata masih siang, lalu saya tidur lagi. Demikian seterusnya. Di pendopo saya bertemu dengan banyak orang yang rupa-rupanya adalah para peziarah rutin di tempat ini. Mereka berasal dari tempat-tempat yang jauh dan dengan rela hati rutin pergi ke tempat ini. Sebuah pilihan hidup yang keren.

IMG_4353

Sore hari saya laporan sama Bunda Maria. Bagian ini selalu paling menarik karena doa saya itu lebih mirip curhat dan posting blog. Ya mungkin nggak sopan, tapi spiritualitas saya baru sampai disitu soalnya. Tentu saja saya bersyukur atas segala yang saya peroleh selama ini, termasuk harus mensyukuri keputusan saya menjadi jobless.

IMG_4391

Ternyata hari itu adalah malam Jumat Kliwon dan bertepatan pula dengan perayaan novena dalam rangka 25 tahun tempat peziarahan ini. Maka, saya dan teman seperjalanan bersiap untuk misa. Misa dihelat di kapel yang ada di tempat ini, dan tak saya sangka ramainya minta ampun. Mana yang datang itu nggak sekadar dari Kuningan, lho. Dari Ciamis, Cirebon, dan tempat-tempat lainnya. Saya aja dari Cikarang jauh-jauh cuma dalam konteks nebeng. Salut deh! Satu hal agak lucu adalah ketika misa berlangsung, sesosok kalajengking lewat di sela-sela kaki saya dan terus berjalan dengan enaknya, sementara saya dan teman-teman seperjalanan sudah bergidik ngeri. Lha, KALAJENGKING TENANAN, NDES!

IMG_4385

Yup, hari sudah malam, dan sesudah masa saya segera tidur. Dan tentu saja tidur di tempat dengan blower alam yang nggak bisa dimatikan adalah tantangan yang seru. Boleh cek cerita serunya Dolaners ketika berempat menggalau di Sri Ningsih. Saya yakin kedinginan serupa akan terjadi juga.

IMG_4452

Oh iya, bicara soal doa, agak berasa awesome ketika gadis yang saya masukkan dalam doa sore hari tadi, kemudian mengirim kabar gembira pada malam harinya. Meski permintaan saya dalam doa nggak spesifik, tapi kalau dirunut ya ini sih masih terbilang doa yang terkabul. Dunia memang keren!

IMG_4360

Pagi menjelang dan saya gagal memotret sunrise karena memang sedang berembun tebal. Nggak apa-apa, keberadaan Eos di tempat ini kan memang sekadar penunjang belaka. Objek-objek menarik juga nggak harus ditangkap semua. Itu dia sebabnya sepanjang jalan salib saya sama sekali nggak mengeluarkan si Eos. Doa ya doa, motret ya motret. Nggak ada ceritanya doa sambil motret.

IMG_4447

Perjalanan pulang tentu saja dilakukan dengan jalan kaki karena nggak ada flying fox dari atas ke bawah. Padahal sebenarnya ya lurus doang. Sepanjang jalan pulang tampak beberapa susunan batu yang kalau dicerna agak aneh juga kenapa bisa tersusun serapi itu. Daripada bertanya, lebih baik menjawab itu sebagai keajaiban alam saja deh.

IMG_4458

Perjalanan pulang dimulai jam 9.30 dan akhirnya sampai lagi di Cikarang jam 2 siang. Sesudah sebelumnya didahului makan di Ampera Cikampek. Enak juga makan disini. Cuma panasnya yang nggak kira-kira, sambil meler sana sini mukus dari dalam hidup. Oya, lewatnya sih Karawang Barat, lumayan buat informasi tambahan sebelum meninggalkan dunia Cikarang Raya nan terlengkap di timur Jakarta ini.

IMG_4445

Overall perjalanan ini cukup menarik dari banyak hal, dan cukup mengisi waktu saya sebagai seorang jobless. Dan semoga doa-doa yang disampaikan di depan Bunda bisa terkabul. Amin.

IMG_4351

Advertisements

4 thoughts on “Jobless Escape: Cisantana

  1. Pingback: 7 Alasan Saya Harus ke Inggris | ariesadhar.com

  2. Pingback: Beberapa Cara Menjawab Pertanyaan “Kapan Kawin?” | ariesadhar.com

  3. Pingback: Twenty Something | ariesadhar.com

  4. Pingback: Melintas Masa di Matraman | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s