Curcolinggerus

Judul apa ini? Nggak tahu, tadinya mau bikin curcolicious tapi kok sudah ada yang bikin. Ya, sebenarnya judul ini juga menguji apakah pembaca ariesadhar.com ini ngeres atau nggak. Intinya sih pengen curcol. Curhat sambil colek-colek.

Beberapa pekan terakhir saya beneran menghabiskan waktu dengan ngeblog sebanyak mungkin. Tidak disini pastinya, karena saya sangat menjaga kemurnian blog ini. Seperti diketahui bersama bahwa sebagian isi blog ini yang saya anggap kotor (aha!) sudah saya pindahkan ke alfarevo.blogspot.com, jadi intinya kalau yang ada disini adalah yang sudah terpilih dan sesuai dengan visi misi ariesadhar.com yang sedang dirumuskan dalam rapat Renstra yang digelar di Timbuktu, biar uang dinasnya banyak.

Beberapa pekan terakhir, saya masuk ke banyak blog dalam rangka mencari referensi. Saya kemudian lihat beberapa blog yang lumayan kece dari sisi konten, dan juga sudah dilirik oleh beberapa vendor untuk melakukan review. Tetiba saya bingung, kok blog ini belum ada yang ngorder buat review? Kalau dibilang dari sisi performa, ada yang pageview-nya belum lagi 100.000 tapi sudah ngereview. Ada yang Alexa-nya dibawah 4 juta, sudah ada yang order. Ada yang pageview per bulannya masih lebih rendah dari blog ini, juga dikasih job. Ada yang baru pacaran, tapi sudah nikah aja. Saya kapan? #loh #kokjadikawin

Kadang–karena sirik–saya jadi merasa bahwa perjalanan saya di tulis menulis ini semacam mentok. Blog ini pageview-nya mentok di 500-600 per hari, masih jauh dari standar dilirik iklan. Tulisan yang saya kirim ke media massa juga masih ditolak-tolak aja. Novel? Saya masih susah payah menyelesaikannya, sementara para penulis lain yang segenerasi dengan saya di penerbit, sudah proses buku kedua bahkan ketiga. Ikut lomba? Nggak pernah menang. Yang ada malah tulisan saya dicopas di blog orang, atau di meme yang beredar tanpa sedikitpun mencantumkan sumbernya, lalu cuma dibilang “hehehe… aku kan cuma repath”.

Iya, saya merasa mentok dan lantas bertanya, apakah hobi ini cukup berguna untuk dilanjutkan? Apakah cukup mampu untuk dipakai nyicil rumah? Apakah bisa dipakai untuk nabung buat tiket ke London? Apakah Rhoma Irama masih mencintai Ani?

Nah, sambil nggerus itu saya kemudian mencoba melakukan hal yang berbeda. Saya pergi ke sebuah kafe, sendirian kayak jomlo, dengan membawa notebook milik pacar yang untuk setahun ke depan jadi hak milik saya. Di kafe itu sambil ambil tempat di pojokan sambil keramas dan kemudian membuka laptop untuk menulis. Saya menulis dari 10.45 sampai sekitar 15.15, cukup lama dan diselingi nasi goreng kampung yang belinya di kota plus dua gelas minuman. Hasilnya cukup memuaskan diri sendiri, hampir sepertiga dari naskah yang sedang saya tulis bisa berubah bentuk dari sekadar ide yang lari-lari di kepala menjadi sebuah file yang bisa dibuka. Sekarang naskah itu boleh dibilang sudah jadi, sedang saya tes pembaca. Nanti 1-2 minggu lagi siap dikirim ke penerbit.

Sambil mengenang di KRL–yang kebetulan jalurnya adalah jalur saya pulang pacaran dulu–saya kemudian menyadari bahwa saya menulis karena saya suka, bukan karena saya ingin blog ini menghasilkan uang. Saya menulis karena saya ingin, dan toh pencapaian saya nggak jelek-jelek banget. Saya punya blog yang punya pembaca tetap, saya punya buku–yang masih diusahakan terus biar laku, dan yang terpenting saya punya kemampuan ini, yang baru saya sadari kalau eksis sesudah saya diberi tawaran menjadi DSP Section Head, dan lantas saya tolak.

Saya kemudian sadar bahwa menulis seharusnya bukan semata-mata soal uang. Well, monetisasi blog itu tentu masih menjadi PR saya, tapi saya sekarang tidak menjadi stress soal itu. Setidaknya saya punya karya yang bisa saya banggakan walaupun modelnya masih rintisan begini. Daripada orang yang lantas terkenal hanya karena nge-path soal kota tertentu, atau karena mempermalukan guru adiknya di FB, padahal guru adiknya ya nggak salah. Yup, saya mengutip pernyataan seorang penulis, mari menulis saja terus, dan kemudian perhatikan apa yang terjadi.

Salam nggerus!

Advertisements

9 Hal Yang Nggak Mungkin Dialami Para Jomlo

Kalau seorang single labil tiba-tiba menampilkan status ‘in relationship with’ di FB, mungkin akan tercatat adalah lebih dari 100 jempol dan lebih dari 100 komentar untuk perubahan status itu. Sungguh itu akan menjadi penghargaan yang luar biasa bagi single galau yang akhirnya punya pacar. Ya, menjadi single alias jomblo memang adalah sebuah pilihan bin balada. Oya, sebagai penulis yang taat editor mulai sekarang saya harus mulai menggunakan kosa kata yang benar. Dan yang benar adalah jomlo. Dan dalam rangka sosialisasi itulah, tulisan ini dibuat.

Saya cukup pahamlah galau perjomloan. Saya tahu juga bahwa banyak jomlo yang sok bikin tugas di malam minggu, sok bikin PR segala, padahal dia sudah lulus kuliah. Nah, ternyata jadi jomlo itu bukan berarti ngenes banget. Bahkan jomlo bisa terbebas dari beberapa peristiwa nggak enak, seperti yang dipaparkan di bawah ini 🙂

1-9

[Interv123] Calon Pegawai Nihil Setoran

Namanya juga bayar utang, jadi dikebut! Kalau kemaren kita bertemu dengan pegawai pajak yang statusnya sudah PNS sejak lahir, sekarang kita berjumpa dengan seorang calon pegawai nyari nihil setoran bernama Rido Arbain. Ya, dalam masa-masa tertentu dapat disapa sebagai Rido G. Bastian. Memang Rido suka menggantikan Vino khusus adegan ranjang semisal ketiban ranjang, ranjang kebakar, atau–yang paling umum–membersihkan ranjang.

Kenapa Rido? Kenapa bukan Paimin atau Tukirin? Tentu saja, tamu interv123 tidak pernah biasa-biasa saja. Rido pernah satu buku dengan saya di Radio Galau FM Fans Stories, dan sebagai seorang CPNS yang bukan Raditya Dika, jumlah follower-nya terhitung lumayan, plus aktivitas ngetwitnya mengagumkan. Coba saja follow @ridoarbain, atau tengok blognya ridoarbain.com

RGFM Fans Stories: Rido Galau FM Fans Stories

RGFM Fans Stories: Rido Galau FM Fans Stories

Yuk, kita mulai dengan pertanyaan LIMAWESATUHA!

YUK!!!!

10 Lagu Paling Nggerus Versi ArieSadhar

Terakhir posting tanggal 1, pas tanggal merah. Baru posting lagi sekarang pas tanggal merahnya karyawan 5WD8TO5. Ini mah namanya penurunan di tahun baru. Ya, mohon dimaklumi, faktor U. Urbaning… eh… umur.

Kali ini saya hendak memaparkan soal dunia seni, tepatnya seni suara. Ya, walaupun di buku saya, OOM ALFA, sudah diceritakan dengan jelas bahwa saya gagal pada seleksi pertama Indonesian Idol 1 dengan nomor 7377, tapi jelek-jelek begini, saya lumayan bisa nyanyi. Karena cuma lumayan, makanya saya joinnya ke paduan suara, yang kalau saya mangap-mangap belaka di samping seseorang bersuara bagus–misalnya Bang Rondang–saya sudah bisa mendapatkan tepuk tangan meriah dari hadirin. Mana dia tahu saya nyanyi apa kagak. Nah, bergumul dari per-choir-an ini yang agak membantu pengetahuan saya soal seni suara.

Lalu mau bahas apa soal musik?

Apa? Apaaaa?