17 Tips Menjadi Komandan Upacara yang Baik

“Kepada Inspektur Upacara, hormaaaaaaaaaaaaaaaatttt graaakkkkk!!!”

sumber: presidenri.go.id

sumber: presidenri.go.id

Tampak keren, kan, kalau bisa ngomong gitu? Kalau dulu waktu saya SD, jabatan komandan alias pemimpin upacara itu hampir selalu dikasih ke ketua kelas, atau anak cowok yang dikasihi sesama cowok, ehm maksudnya anak cowok yang happening, tidak bandel dan kadang-kadang pintar. Sudah jelas bahwa saya nggak masuk kategori itu. Kalau di Istana Negara untuk upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, posisis komandan upacara itu jelas sangat memiliki prestise. Pokoknya, kalau sudah jadi komandan di istana, jabatan bakal mentereng ke depannya. Nah, hal yang mungkin berkebalikan akan terjadi di institusi lainnya selain SD, istana negara, dan yang terkait pemerintahan. Posisi komandan upacara itu akan diberikan kepada:
1. anak yang nggak tega menolak
2. anak yang sudah menolak namun dipaksa
3. anak yang harus mau dan nggak boleh menolak
4. Oom Alfa
5. dan sejenisnya
Seperti waktu upacara di kantor saya yang lama. Kawan-kawan tidak ada yang berkenan menjadi komandan upacara. Jadilah yang muncul sebagai komandan upacara adalah satpam senior. Yah, begitulah.

Nah, buat orang-orang yang masuk kategori ketiban duren seperti saya sebutkan di atas, berikut ini saya sampaikan beberapa tips untuk menjadi komandan upacara yang sukses dan ksatria. Tips-tips ini mengacu kepada pengalaman pribadi dan tentu saja pengamatan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dulu di kantor lama pernah juga jadi petugas upacara, soalnya.

1. Pastikan kamu jadi komandan upacara bendera, bukan upacara adat atau upacara keagamaan. Bukan apa-apa sih, kalau upacara adat sama upacara keagaman, nggak perlu komandan upacara.

sumber: jogjanews.com

sumber: jogjanews.com

2. Pastikan juga kamu jadi komandan upacara di Republik Indonesia. Soalnya kalau di negara lain tata caranya bakal beda. Dan peserta upacara juga nggak paham kalau kita bilang, “siaaappppp grakkkkk!”

3. Ingatlah aturan PBB sederhana sebaik-baiknya. Ada aba-aba “grak” dan “jalan”. “Grak” untuk gerakan di tempat, sedangkan “jalan” untuk yang memerlukan perpindahan. Jadi jangan sekali-kali bilang, “hormaaaaaattttt… jalannnn…”.

4. Soal aba-aba juga harap diperhatikan. Jangan mentang-mentang di istana perintahnya adalah ‘hormat senjataaaaaa, grakkkk…’ lalu kita menerapkan aba-aba yang sama di upacara SD. Kalau upacara biasa cukup ‘hormat, grak’ aja keles!

5. Cek kembali apakah ada peserta upacara, karena kalau nggak ada berarti nggak usah sok-sokan jadi komandan.

6. Walaupun ada orang sebagai peserta, cek juga apakah ada inspektur atau pembina upacara? Kalau nggak ada, nggak bakal ada upacara juga. Siapa tahu orang-orang itu mau main futsal.

7. Pada saat MC atau protokol bilang, “laporan komandan upacara”, maju dan bilang begini: “lapor, upacara siap dilaksanakan”. Jangan malah cucurhatan, semisal: “Lapor, Pak. Saya lapar.” atau kalau di kantor: “Lapor, Pak, gaji saya kurang. Naikin dong!”

8.. Konsep Lapor itu satu rangkaian. Jadi, di laporan pertama komandan akan bilang “lapor, upacara siap dilaksanakan”, tanpa bilang “laporan selesai”. Pada bagian akhir, komandan akan bilang “upacara telah dilaksanakan, laporan selesai!”. Jadi bilang “lapor” dan “laporan selesai” itu cuma sekali.

IMG-20140818-WA0001

9. Untuk menjawab hasil laporan pada inspektur, komandan hanya perlu mengulang ucapan inspektur upacaranya. Jadi kalau Inspektur bilang “laksanakan”, ya komandan harus mengulanginya. Bukan malah bilang, “Laksanakan. Tapi, Pak, saya kebelet boker. Izin sebentar ya?”

10. Menjadi komandan upacara itu harus bebas dari gerakan tambahan. Kecuali ada ular yang melilit atau macan yang siap menerkam, jangan sekali-kali membuat gerakan tambahan. Waktu saya belajar PBB dulu, satu gerakan tambahan bermakna satu tamparan.

11. Ingatlah bahwa peserta upacara kita adalah manusia. Jadi kalau ada pelatih yang bilang bahwa anggap saja peserta upacara itu sebagai batu atau rumput yang bergoyang, toyor aja kepalanya. Kenapa? Kalau batu, atau rumput yang bergoyang, atau benda mati lainnya, nggak akan berkomentar pada perintah yang kita berikan. Kalau manusia, apalagi ibu-ibu, ketika kita bilang “siaaaaapppp grakkkk”, yang terjadi adalah ibu-ibu rebek itu malah komen “bajunya kok belum disetrika, Mas?”

12. Oh iya, kalau ada peserta yang rese kebanyakan komentar. Senyum aja dalam hati. Mereka yang kebanyakan komen,soal suara kurang gede, baju kebesaran, baju nggak disetrika, komandan kok jomblo, dan lain sebagainya itu NGGAK AKAN MAMPU KALAU DISURUH JADI KOMANDAN. Begitu kalau kata Mamak saya. Jadi tenang aja, bro! Orang-orang yang punya manner pasti akan menahan komentarnya untuk menyampaikan secara pribadi sesudah upacara 🙂

facebook_1408332683127

13. Sebagai komandan upacara, kita harus meneriakkan aba-aba secara lantang. Tapi selantang-lantangnya, tolong jangan meneriakkan hal lain selain aba-aba. Jangan bilang ke salah satu peserta, “Aisyah, akuuu cintaaa kamuuuu”. Jangan juga malah bilang ke inspektur, “Bapakkkk tampaannnn dehhhh”. Dan satu hal yang pasti, jangan meneriakkan dagangan seperti di pasar, “yo behanya sepuluh tiga, sepuluh tiga, sepuluh tigaaaaa!!!”

14. Coba bayangkan, kapan lagi bisa bentak-bentak orang dan yang dibentak nggak berhak marah. Ya, cuma pas jadi komandan upacara. Cuma, jangan mentang-mentang jadi komandan terus bentak-bentak orang dengan kata-kata selain aba-aba, cuma gegara diputusin pacar sehari sebelumnya. Selalu ingat aba-abanya adalah “hormaaaattt grakkkk”, bukan “lo semua nggak tahu kan rasanya diputusin?!!!”

15. Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, segera beri aba-aba balik kanan. Dengan demikian para peserta akan segera berbalik dan petugas bisa memperbaiki keadaan. Komandan jangan ikut balik kanan karena harus memperhatikan perbaikan sebelum kemudian minta peserta balik kanan lagi. Hal-hal tersebut misalnya, bendera yang ditarik jadinya bendera Polandia.

Upacara bendera di Tembaga Pura

Upacara bendera di Tembaga Pura

16. Ada petugas MC atau protokol yang membawakan susunan acara. Tolong ikuti MC! Kalau MC bilang “laporan komandan upacara”, jangan malah membubarkan barisan. Kalau protokol bilang “barisan dibubarkan”, jangan disuruh hormat. Selalu awasi juga kesalahan MC. Misal, “upacara dimulai, barisan dibubarkan”. Ini kesalahan yang bisa saja terjadi dalam keadaan tertekan oleh tagihan kartu kredit yang membelit.

17. Menjadi komandan upacara itu adalah bentuk amanah dalam konteks yang sederhana. Jadi kalau kebetulan belum pernah jadi komandan, terus diminta jadi komandan, ya monggo dilakoni. Kalau sudah pernah dan kemudian ogah ya silakan juga. Yang penting, lakukan yang terbaik pada setiap tugas yang kita miliki.

facebook_1408333095355

Dirgahayu Republik Indonesia ke-69! Majulah Indonesia!

Advertisements

5 thoughts on “17 Tips Menjadi Komandan Upacara yang Baik

  1. Pingback: Letter #1 | ariesadhar.com

  2. Pingback: Salah Kaprah Tentang PNS | ariesadhar.com

  3. Pingback: Twenty Something | ariesadhar.com

  4. Pingback: 4 Alasan Liverpudlian Adalah Pasangan yang Baik | ariesadhar.com

  5. Pingback: Menjadi liverpedulian | liverpedulian

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s