Tag Archives: sanata dharma

Insadha: Cerita Ospek Tanpa Kekerasan

Hey! Kamu yang disana menatap lurus bagai peluru
Hey! Singsingkan lengan baju membangun negeri dengan karyamu
Tunjukkan pada dunia bahwa dirimu bisa

Hey! Janganlah engkau raihlah ilmu teruslah maju
Hey! Jadikan hari ini ukiran sejarah bagi hidupmu
Tunjukkan pada dunia bahwa dirimu bisa

Salam Insadha kuucapkan hanya padamu
Salam Insadha kutunjukkan hanya untukmu
Lewati masa ini membangun dunia ini
Bersatu kita dalam Salam Insadha

Lagu yang liriknya tertera di pembuka posting ini pertama kali saya dengarkan bulan Agustus, sebelas tahun silam, via suara emas Mas Kongko yang mirip Duta Sheila on 7. Dan ajaibnya, saya masih hafal, bahkan di beberapa bagian saya masih ingat gerakannya. Bagian ‘Hey!’ dipraktekkan dengan meletakkan kedua telapak tangan di depan bibir layaknya memanggil orang dari jarak jauh. Part ‘membangun negeri’ dilantunkan sambil membentuk segitiga di atas kepala dengan dua tangan, dilanjutkan dengan ‘dengan karyamu’ sambil macak binaragawan dengan pose paling klasik. ‘Salam Insadha’ dinyanyikan sambil melompat kiri kanan sambil dadah-dadah. Bahkan ada bagian kita selalu mahasiswa baru nan jomblo bisa bergandengan tangan dengan siapapun yang ada di sebelah kita. Uhuk!

sumber: debbynataya.wordpress.com
sumber: debbynataya.wordpress.com

Yes, sesudah selamat dari kemungkinan mengalami MOS yang gaib dan tidak berkonsep di SMA karena saya mengalami Inisiasi yang keren, saya terselamatkan lagi dari Ospek dengan sok-sokan pakai topi bertali rafia serta tas dari karung. Orientasi alias pengenalan lingkungan yang saya alami ketika menjadi anak baru di universitas menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan yang digambarkan mengenai Ospek. Kala itu, sebelas tahun silam, saya masuk ke Universitas Sanata Dharma, dan menjadi peserta Inisiasi Sanata Dharma atau yang terkenal dengan nama Insadha.

Selengkapnya tentang Insadha!

4 Sisi Melankolis Lorong Cinta

Bagi anak Universitas Sanata Dharma alias Sadhar, tepatnya penguasa teritori Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman tentu sangat paham tempat yang bernama Lorong Cinta. Saya sendiri tidak tahu sejak kapan Lorong Cinta dibangun, pun Bapak Penunggu Pentingsari yang mengaku dulu ikut menggarap Kampus III Sadhar tidak cerita kapan Lorong Cinta dibangun, dia malah cerita tentang ular-ular yang dulu menghuni lahan calon kampus. Heu.

Lorong Cinta sejatinya adalah sebuah bangunan biasa. Namun sama halnya dengan kampus-kampus lain dimanapun berada, pun mungkin di negerinya PK, salah dua atau salah tiga tempat akan menjadi sebuah monumen yang tercipta dengan sendirinya. Di Paingan, monumen itu adalah Lorong Cinta, bukan OOM ALFA.

Bagi anak Sadhar Paingan, Lorong Cinta bukanlah semata-mata bangunan yang dibuat untuk menghubungkan gedung yang kebanyakan isinya laboratorium dengan gedung yang isinya kantor dan ruang kuliah. Lorong Cinta menjelma menjadi sebuah tempat yang penuh nyawa karena dihidupkan oleh sisi-sisi melankolis manusia yang tumpah pada dirinya. Dalam skema kesentimentilan yang penuh bumbu melankolisme, saya mencoba menelaah Lorong Cinta dalam perspektif khusus, maka muncullah 4 sisi itu.

Menunggu

Lorong Cinta terletak persis di depan sekretariat Fakultas Farmasi di ujung satu, dan sekretariat lainnya di ujung sananya lagi. Di masing-masing ujung Lorong Cinta ada tangga, dan ada lift. Ketika mahasiswa Farmasi kelar kuliah, mereka akan turun ke lantai dasar dan pasti akan memandang Lorong Cinta. Pun dengan yang akan kuliah, atau akan praktikum, pasti akan sangat intim bersama Lorong Cinta.

IMG_0037

Letaknya yang demikian ini lantas bersisian dengan sisi melankolis bernama ‘menunggu’.

Lorong Cinta adalah saksi sebuah aktivitas biasa. Kuliah jam 9, datang jam 8.30, kemudian duduk-duduk manis di Lorong Cinta sambil menunggu kuliah. Itu aktivitas dasarnya. Kalau mau dibongkat, aktivitas sederhana itu kemudian bisa dijelmakan dalam aneka rupa fantasi.

Lorong Cinta bisa menjadi saksi ketika malam sebelumnya sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah, namun setelah merenung semalam sang lelaki lantas menanti sang mantan kekasih yang baru udahan kuliah untuk kemudian membicarakan hal tertentu. Bisa jadi, kan?

Lorong Cinta juga adalah tempat bagi mahasiswa tingkat lanjut dan secara semester juga berusia lanjut untuk sekadar menanti. Kuliah sudah nggak, ngasdos juga jarang-jarang. Ke kampus mencari dosen, mencari literatur, dan sejenisnya. Karena pas di dekat sekretariat, ya menanti dosen paling pas adalah di Lorong Cinta.

Pertemuan

Ada suatu kala ketika sepasang calon kekasih menghabiskan pertemuan pertama mereka yang berdua saja di Lorong Cinta, hari Sabtu, ketika kampus sepi. Angin yang bertiup agak kencang tidak dipedulikan, pun si cicak yang nggak kelar-kelar membaca.

Lorong Cinta juga menjadi tempat yang tepat untuk janjian, untuk rapat, untuk bertemu asisten dosen, hingga untuk janjian COD. Apalagi Lorong Cinta memberikan nuansa yang tepat untuk sebuah pertemuan. Bayangkan ketika sedang duduk menanti, lantas dari kejauhan muncul seseorang yang kita nanti-nanti, ketika dia menjelang tiba dan lantas merapat. Entah itu teman, entah itu mantan, entah itu kekasih, semua punya sisi yang menarik untuk dicerna.

Bagi para alumni yang sudah tidak kenal siapapun, nongkrong di Lorong Cinta adalah kegiatan yang tepat untuk sekadar bertemu dosen yang sedang berkeliaran. Tampak simpel, namun melihat dosen kemudian salaman dan lantas dosennya masih ingat nama si alumni, itu pasti keren. Masalahnya, diingat itu kontekstual, bisa diingat karena nakal, bisa pula diingat karena ketemu di perkuliahan 4 kali untuk materi dan nama kuliah yang sama. Pertemuan yang pedih.

Berharap

Lorong Cinta memang tidak menyimpan suatu monumen yang tampak untuk mencerminkan harapan. Namun, berada di Lorong Cinta, sejatinya adalah bentuk harapan yang akan terwujud. Ya, sesederhana berharap jadi sarjana kemudian dalam proses yang melelahkan itu, duduk merenung, beria-ria, dan kemudian berpikir bahwa masih ada harapan untuk menuntaskan perjalanan yang panjang itu.

Lorong Cinta juga menjadi tempat ketika nilai-nilai ujian dikeluarkan dan dipampang serta dibagikan. Semuanya akan mengumpulkan, menghitung, kemudian berharap bahwa nilai baik yang dimimpi-mimpikan itu kemudian muncul. Lorong Cinta juga menjadi saksi harapan baru ketika orang yang ulang tahun mengeringkan badan pasca menjadi korban hijaunya kolam Paingan.

Harapan nyatanya kebanyakan ada di dalam hati. Ada saja mahasiswa yang duduk di Lorong Cinta tanpa arah dan tujuan, hanya berharap bisa melihat Sang Pujaan Hati dari kejauhan, berlari imut menuju laboratorium dengan tas hitam dan sepatu ketsnya, kemudian sudah. Ah, ini pasti cinta. Derita yang tiada akhir. Apalagi itu cinta diam-diam, sebuah akhir yang tidak memiliki awal.

Bahagia

Ketika saya selesai ujian skripsi terbuka tanggal 22 Januari, persatuan tim Swamedikasi dan tim Teh lantas menghelat peringatan kebahagiaan dengan tumpengan persis di tengah-tengah Lorong Cinta. Lulus ujian skripsi adalah bentuk kebahagiaan dan itu sungguh kami rayakan di tempat kami menunggu, di tempat kami berharap, dan di tempat kami saling bertemu untuk saling menguatkan.

Lorong Cinta adalah saksi bahagia ketika praktikum selesai dan data diperoleh dengan baik. Lorong Cinta juga merupakan tempat yang didatangi oleh sepasang kekasih dengan manisnya, lantas duduk bersama di kursi kayu sepanjang lorong, dan keduanya memamerkan senyum bahagia.

Image(128)

Namun, sebenarnya bahagia paling utama terjadi ketika seseorang yang memiliki harapan untuk sekadar bisa melihat sang pujaan hati yang tidak bisa dimiliki menunggu dengan sabar di Lorong Cinta kemudian justru bertemu dan bertukar sapa sebelum sang pujaan hati kembali berlalu dari depan mata. Sebenarnya, bahagia memang hanya sesepele itu.

59 Fakta Tentang Wisuda Universitas Sanata Dharma

Hari ketika tulisan ini dibuat adalah harinya wisuda di Universitas Sanata Dharma. Sebagai alumni dari Universitas yang namanya diabadikan oleh Bapak saya sebagai nama anak pertamanya ini, tentu saya punya segudang memori tentang almamater tercinta. Sebagian memori itu sudah saya tuangkan di postingan berjudul 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma, dan kali ini yang saya bawakan adalah 59 Fakta Tentang Wisuda Universitas Sanata Dharma. Yuk, disimak!

wisuda-usd_1204

1. Mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang mengikuti wisuda adalah yang sudah yudisium (lah cetho!).

2. Tidak semua mahasiswa yang yudisium pada periode tertentu akan mengikuti wisuda. Sebagian tidak wisuda karena alasan biaya.

3. Wisuda di Universitas Sanata Dharma umumnya diselenggarakan di Kampus Mrican. Pernah juga di Paingan, sih.

4. Cuma kayaknya kalau di Kota Baru belum pernah. Kayaknya lho ya.

5. Jika dihelat di Mrican, maka wisuda diselenggarakan di area Realino dengan titik fokus wisuda ada di panggung Realino.

6. Wisudawan/wati duduk di kursi lipat yang diletakkan di atas jalan konblok.

7. Orangtua dan pengantar duduk di kursi lipat yang diletakkan di lapangan bola.

8. Iya, sudah dandan pakai sanggul sasak dan kebaya duduknya tetap di lapangan bola.

9. Diperlukan tenda yang cukup banyak untuk menutup area wisuda yang sebagian merupakan lapangan bola.

10. Berdebu dong? Wong julukan’e wae Santiago Berdebu!

11. Oya, penulis buku OOM ALFA, diwisuda di Realino, lho! #infopenting2014

12. Tenang, sebentar lagi semuanya akan tinggal kenangan karena bakal ada auditorium!

13. Toga yang dipakai untuk wisuda adalah toga minjem punya kampus.

14. Proses ngepas dilakukan sekitar sepekan sebelum wisuda.

15. Sehabis wisuda, toga harus dikembalikan. Kalau samir-nya boleh dimiliki.

16. Sebagian besar program studi menggelar acara pelepasan wisudawan/wati dalam rentang 1-3 hari sebelum wisuda.

1381569_10200283850573616_905168050_n

17. Kecuali: Farmasi. Pernah menggelar pelepasan wisuda beberapa minggu sesudah acara wisuda.

18. Sebagian mahasiswa sudah pernah mengikuti acara pelepasan sebelumnya, mendampingi mantan pacar.

19. Maklum, dapatnya kakak kelas.

20. Selalu ada alumni yang sudah pernah pakai toga yang datang pada saat acara wisuda.

21. Ya itu tadi, pacarnya kan adek kelas.

22. Selalu terjadi, sudah dibela-belain datang pas wisuda, ujungnya nggak jadi kawin juga.

23. Pada saat masuk area Realino, calon wisudawan/wati sudah disambut fotografer yang walau nggak kenal udah main foto aja.

24. Wisudawati umumnya sudah bangun sejak jam 3 pagi untuk antre salon.

25. Wisudawan ada yang baru bangun jam 7 pagi.

26. Prosesi wisuda dimulai dengan arak-arakan senat dan wisudawan yang durasinya bisa lebih dari 30 menit, diiringi musik nan keren dari UKM Karawitan.

27. Panggung Realino akan dihuni oleh rektor dan seluruh senat, UKM Karawitan, dan UKM PSM Cantus Firmus

28. Lulusan terbaik masing-masing fakultas punya tempatnya sendiri di bagian depan. Mereka dipindahkan talinya oleh Rektor. Bersama orangtua masing-masing pula! Namanya juga ‘dengan pujian’!

29. Sementara lulusan ‘dengan kasihan’ sedang sibuk kipas-kipas pakai buku wisuda.

30. Prosesi wisuda dilakukan oleh Dekan Fakultas dan Kepala Program Studi.

31. Dekan memindahkan tali, salaman. Kaprodi memberikan map, salaman. Kelar.

32. Dekan yang paling pegel banyak memindahkan tali dalam acara wisuda Universitas Sanata Dharma adalah dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

33. Ada dua jalur yang digunakan untuk pemanggilan wisudawan/wati, kiri dan kanan panggung. Dua jalur ini dipanggil bergantian.

34. Kalau kamu pas cum laude, saat dipanggil ada tambahan, “predikat kelulusan Dengan Pujian”.

35. Selalu ada anggota senat yang terkantuk-kantuk ketika sesi memindahkan tali ini.

36. Kadang ada wisudawan/wati yang diberi tepuk tangan ketika namanya dipanggil.

37. Biasanya langsung diikuti ucapan, “huuuu…..” dari pemirsa lain. #pengalamannyata

38. Begitu selesai, wisudawan/wisudawati kipas-kipas lagi sambil mainan HP dan update status.

39. Kantong kemeja para wisudawan umumnya jadi penitipan HP milik wisudawati.

40. Sesudah prosesi wisuda ada lagu ‘Bagimu Negeri’ yang diikuti dengan sambutan dari rektor, wakil alumni, wakil orangtua, hingga wakil wisudawan.

41. Pernah terjadi: orangtua maju sambutan sebagai wakil orangtua, anaknya maju sebagai wakil wisudawan.

42. Pernah terjadi: 1 orang maju sambutan sebagai wakil wisudawan, bertahun-tahun kemudian maju sambutan sebagai wakil alumni.

43. Sambutan-sambutan akan diselingi oleh lagu dari PSM Cantus Firmus

44. Biasanya, setiap lagu didahului oleh narasi ciamik yang sejak tahun 2008-an sampai 2013 dibuat oleh seseorang bernama Cicilia.

45. Pernah ada yang pakai toga, terus habis wisuda naik ke panggung, main keyboard, mengiringi lagu dari PSM Cantus Firmus. Namanya Danang, lagunya ‘Your Love’.

46. Atau jadi solis, nyanyi Lagu Rindu dari Kerispatih. Namanya Danang juga.

47. Atau jadi dirigennya sekalian. Kalau ini namanya Lani.

48. Menjelang acara berakhir ada sesi menyanyikan lagu Hymne Sanata Dharma.

49. Sesudah wisuda biasanya langsung riweuh mencari teman-teman untuk foto-foto dan perpisahan.

50. Momen perpisahan ketika wisuda tidak terlalu dirasakan oleh anak farmasi, karena sebagian besar (sekali) dari mereka akan bertemu lagi Senin depan di kelas dalam kuliah profesi apoteker.

51. Salah satu wisuda paling terkenal sepanjang hikayat Universitas Sanata Dharma adalah November 2010.

52. Jumat pagi terjadi erupsi besar Merapi, Jumat siang sempat digosipkan batal, Sabtu pagi wisuda tetap berjalan di bawah naungan abu vulkanik. Dan syukurlah berjalan lancar.

53. Selalu ada stand foto di belakang area orangtua sebagai opsi untuk foto-foto.

54. Selalu ada mahasiswa dari seksi DDU atau Danus yang dagang bunga ketika wisuda.

55. Bagi sebagian besar wisudawan (kecuali mayoritas Farmasi), wisuda adalah kali terakhir mereka datang ke kampus.

56. Selalu ada pengumuman macam di Ragunan sesudah acara wisuda selesai: “kepada Tukirin dari Magelang, ditunggu keluarganya di panggung!”. Padahal yang dipanggil lagi asyik foto-foto.

57. Selalu ada wisudawan/wati dan keluarga yang bertemu kembali di studio foto elit yang tersebar di seantero Jogja.

58. Selalu ada wisudawan/wati dari keluarga yang bertemu lagi di rumah makan mahal yang berada di berbagai tempat di Jogja.

59. Walau berdebu, seluruh alumni yang pernah wisuda dalam panji-panji Universitas Sanata Dharma pasti mengenangnya dengan bahagia karena sejatinya wisuda hanyalah sebuah langkah dalam kehidupan.

Selamat kepada para wisudawan/wati yang dipindah talinya hari ini! Percayalah, rasanya biasa saja kok. Heu.

Sebenarnya, Itu Tulisan Saya!

Adalah kebiasaan bagi saya untuk mencari perkembangan share tulisan saya via Twitter. Maka, saya cukup rajin mengetik 97 fakta unik atau 77 fakta unik. Dua keyword itu merujuk ke dua tulisan saya yang termasuk dalam kategori best pageview di ariesadhar.com ini. Tapi sore ini saya justru terkejut ketika yang muncul justru link milik sebenarnya.com ini.

http://www.sebenarnya.com/2014/04/77-fakta-unik-mahasiswa-usd-yogyakarta.html

Sengaja saya printscreen juga, karena basic saya auditor. Saya butuh bukti yang bisa disimpan.

SEB1

Kelihatan banget di bagian awal website sebenarnya.com itu, dan ketika diklik tentu saja yang muncul adalah:

SEB2

Pakai tertulis ‘hak cipta dilindungi oleh’. Wew, ini si pembuat website tahu definisi hak cipta nggak ya? Soalnya, sudah jelas dan saya bisa pastikan bahwa 77 Fakta Unik ini adalah murni tulisan saya, benar-benar hasil tarian jemari saya.

SEB5

Saya menulisnya tanggal 12 Maret, siang hari, di kos-kosan Kedasih, karena waktu itu saya pengangguran. Dan memang tulisan itu segera menjadi tulisan paling populer di blog ini, sehingga bisa mencapai 5000 pageview lebih dalam hari kemunculannya. Banyak yang komen, banyak yang nge-share dan banyak yang memberikan feedback bagus dan sudah saya kumpulkan untuk di-launch lagi pada saat yang tepat.

Lalu maksud si pemilik sebenarnya.com ini apa ya? Mencari apa dengan memosting tulisan saya hanya dengan mengganti judul ‘Sanata Dharma’ menjadi ‘USD’? Ah, mungkin buat indeks Google, dan notabene dia berhasil.

SEB4

Sejujurnya, ini pertama kalinya saya mengetahui tulisan saya dicopas mentah-mentah begini. Tentu saja, blogger lain banyak yang sudah dan mungkin sering mengalami ini. Rasanya sungguh semacam putus cinta, kecewa, sedih, gundah, dan sejenisnya. Kenapa? Karena saya benar-benar menggarap seluruh tulisan di blog ini tanpa copas. Mungkin memang ada tulisan yang mengambil referensi lain, tapi pasti saya kasih link, atau memang ada satu yang saya lupa link-nya karena itu saya ketik dari kertas. Tapi itupun saya tuliskan dengan jelas bahwa itu bukan tulisan saya.

Menjadi sangat gila ketika di bagian akhir, makhluk abstrak pemilik website ini kemudian mencantumkan begini:

SEB3

Dia menggunakan COPYSCAPE untuk sebuah tulisan yang copy paste. Plus, dia menulis artikel original hanya di link itu. HAHAHAHA. Entahlah si author yang tertulis bernama Donny ini benar-benar paham soal hak cipta atau setidak-tidaknya penghargaan intelektual pada karya orang lain atau tidak. Apalagi dia hanya menulis ‘facebook’ sebagai sumbernya. Even kita tahu bersama kalau di Facebook itu sudah pasti ada link aslinya.

Saya dulu pernah ingin copas, tapi apa daya tangan saya nggak bisa mengikuti kehendak otak untuk copas. Dia semacam pengen berhenti dan nyatanya kalau memang saya copas, ya saya copas idenya. Bahwa posting 77 Fakta Unik ini memang idenya menginduk pada 100 Fakta Unik tentang ITB, plus gaya Roy Saputra dalam ‘hal yang tidak boleh dilakukan’. Content? Saya bisa pastikan itu asli.

Iya, mungkin saya terlalu membesar-besarkan masalah copas ini, karena ini adalah kasus pertama saya. Tapi bukankah orang yang setia pada perkara kecil, baru layak dipercaya untuk perkara besar? Bagaimana jadinya negeri ini jika blogger copas dibiarkan? Ini memang perkara kecil, sebuah tulisan dengan total pageview belum sampai 10 ribu, tapi ini adalah tendensi negatif bagi berkembangnya karya di negeri ini.

Hmmm, Mas Donny atau siapapun yang ada di balik sebenarnya.com, kalau pengen tulisan itu tetap tayang, ya monggo, tapi kasih link ke sumber asli, tanpa mengklaim itu menjadi milik situ. Atau kalau justru ribet, ya silakan dihapus. Semoga hidupnya nyaman dengan copy paste ya.

STOP PLAGIARISME!