Jenis-Jenis Pengirim Bahan Baku

Sekitar dua tahun bergulat dengan dunia per-herbal-an setidaknya sudah membuka mata saya bahwa dunia herbal itu berbeda cukup banyak dengan dunia farmasi pada umumnya. Tentunya karena kita nggak mungkin menerima daun yang bebas debu, padahal kita senewen minta ampun kalau ada tepung sejenis laktosa yang kemasannya berdebu. Padahal kan, aku tanpamu, butiran debu.

Nah, dalam kapasitas saya sebagai orang gudang–sesuatu yang amat sangat tidak relevan dengan passion saya dilihat dari sisi apapun–saya justru bertemu dengan pengirim-pengirim yang unik dan kadang bikin senyum tapi sesekali juga bikin sakit kepala. Satu hal yang saya sayangkan adalah mereka berulang kali mengirim bahan baku, tapi tidak sekalipun mengirim jodoh. Beberapa kali terlambat kirim dengan alasan macet, seakan menyindir orang gudang yang jodohnya macet. Yang menjadi sedikit kesesuaian adalah saya suka menyimpan perasaan dan barang-barang sentimentil. Kira-kira bahan baku itu sentimentil nggak ya?

Oke. Sekarang kita coba telaah beberapa jenis pengirim bahan baku yang pernah saya temui.

Turunan Hercules

Ada salah satu supplier yang rajin mengirim bahan baku karena saya rajin bikin order, tentunya karena pelanggan juga rajin minta barang ke saya. Alokasi kerajinan itulah yang berbuah gaji saya setiap bulan. Nah, suatu kali, karena ada event jadi mobil supplier ini nggak bisa akses langsung ke lobi. Mobilnya parkir beberapa ratus meter dari lobi karena kebeneran besoknya menteri mau datang ke pabrik.

Saya kemudian meminta si pengirim untuk mendekatkan saja mobilnya agar bisa mengangkut kiriman yang 60 Kg itu ke lobi. Lalu apa yang terjadi?

Si pengirim yang dari sisi bodi tidak tampak ada turunan Ade Rai itu kemudian datang sambil berjalan kaki sambil menggotong tiga karung dengan total berat barang 60 Kg. Saya terpana, resepsionis terpana, bahkan karung yang dibawanya juga terpana. Tentunya tidak terpana oleh pana asmara…

…itu PANAH, kampret!

Jowo Tulen

Bergelut di dunia perherbalan itu tentu memungkinkan untuk memperoleh bahan baku langsung dari petani di pedalaman Jawa sana. Suatu kali saya order daun kering, yang tidak sekering hati yang hampa karena terlalu lama menjomlo. Orang yang mengirim ini asli dari Jawa Tengah, kalau saya lihat dari aslinya. Berhubung saya juga agak paham Bahasa Jawa, jadi saya coba tanya dengan Javanese, upaya untuk akrab dengan supplier.

Yang terjadi adalah…

…saya nggak mudeng jawabannya karena dia menggunakan Bahasa Jawa Halus alias Kromo.

Maka, saya berulang kali berkata, “Nyuwun Sewu, Pripun Pak?

Maksudnya supaya dia mengulang dengan bahasa Ngoko yang saya ngerti. Eh, pada akhirnya tetap Matur Suwun dengan halusnya sampai keluar. Dan saya mudeng-mudeng nggak dia ngomong apa aja. Padahal kan siapa tahu dia bilang kalau saya tampan.

Pemalu

Habis bongkar muat bahan baku ratusan kilo, mestinya capek dong. Saya yang baik hati mencoba menyuruh pengirim yang datang sendirian ke pabrik semacam jomlo itu untuk ngadem di lobi. Lumayan kan? Daripada berpanas-panas di depan gudang saya.

“Bapak, tunggu di lobi aja, sambil saya cap dokumennya.”

“Disini aja, Pak. Malu.”

Badan kuat ngangkat ratusan kilo, cuma disuruh duduk di lobi, malu. Dan dia benar-benar menyebutkan kata itu, MALU. Jadi bukan saya yang menyimpulkan. Lah, apa kata dunia?

Penuh Sopan Santun

Jadi ceritanya ada dua undak-undakan di depan lobi kantor saya, tempat saya menyelesaikan administrasi cap mengecap dokumen. Si pengirim itu kemudian masuk ke lobi, sesudah bongkar muat, dan kemudian saya terkaget karena dia meletakkan harga dirinya…

…eh, salah, meletakkan sandalnya di depan lobi, persis di undak-undakan. Jadi dia masuk lobi dengan nyeker!

images (12)

Mengingat saya bersepatu, saya jadi kagok melihat ada orang nyeker di depan saya.

“Pak, dipakai aja sandalnya.”

“Nggak apa-apa, Pak. Nanti kotor.”

Sopan sekali dia. Saking sopannya, saya sampai nggak kuat untuk ngakak meskipun hati sudah ingin untuk menertawakan kepolosannya. Tapi Bapak keren, deh. Meringankan kerja OB. Okesip.

Don’t Judge The Book By It’s Cover

Muka boleh ndeso, tapi isi kepala bisa jadi tidak. Itu yang saya lihat dalam pengiriman salah satu bahan baku herbal ke kantor saya. Sandal jepit, celana jeans belel, baju kaos, keringat bau, ketek basah, muka biasa saja, hidup pula, benar-benar tiada pesona.

Jadi, saya anggap ini orang sebagai supplier yang biasa-biasa saja.

Memang sih, biasa-biasa saja sampai kemudian saya menyerahkan dokumen pengiriman plus tanda terima dari saya kepada si pengirim, dan kemudian dia berkata, “Thank You”.

Saya dan resepsionis tercenung melihat balasan dalam Bahasa Inggris itu.

Saingannya Jelangkung

Ada kalanya orang datang tanpa dijemput dan pulang tanpa diantar. Nah, supplier jenis ini kategorinya. Terkadang ketika saya sudah membagi jatah kerja orang lapangan, eh mendadak dia nongol di depan gudang sambil bilang kalau dia datang untuk alasan tertentu, yang adalah mengirim barang.

Ada yang datang ketika saya training, dan bahkan nongol ketika saya cuti. Benar-benar tidak dijemput, tidak bilang-bilang, dan tidak sesuai dengan keinginan saya training dan cuti dengan tenang.

Ya, sekian saja beberapa pengalaman saya berhadapan dengan pengirim. Saya sih pengennya yang normal-normal saya, lebih enak buat saya. Melakukan sesuatu yang tidak sesuai passion itu deritanya double kalau lagi ada masalah. Gitu.

Advertisements

4 thoughts on “Jenis-Jenis Pengirim Bahan Baku

  1. Pingback: Kembali Bersama Pelangi | ariesadhar.com

  2. Pingback: Tujuh Hari di Kendari | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s