Kompilasi Berujung Pergi

Entah apakah tulisan ini layak ditayangkan, entah pula apa dampak yang akan terjadi kelak. Tapi sudah hampir 1 bulan sejak saya memutuskan pergi, jemari ini selalu gatal untuk menuliskan semuanya disini. Di rumah saya sendiri. Semua hal yang berpadu dan menjadi kompilasi sakti dengan ujung pergi.

Tiga hari sesudah saya memutuskan pergi, saya bertemu dengan salah seorang atasan di masa lalu saya. Percakapan berjalan biasa saja sampai kemudian muncul kata-kata yang cukup menohok.

“Gimana, sih, kamu ini? Sudah digadang-gadang kok malah pergi?”

Sontak kalimat itu membuat saya throwback ke masa silam. Sebuah masa ketika saya berada di sebuah lingkungan pekerjaan yang benar-benar membutuhkan saya. Sebuah lingkungan yang bahkan melarang saya untuk pergi. Tapi suara hati ketika itu bilang bahwa tempat saya bukan disitu. Bahkan dengan tega saya menolak sebuah tawaran karier yang menggiurkan–yang kalau saya turuti, kata orang, saya sudah bawa mobil sekarang. Suara hati itu saya turuti, maka saya meminta dengan sangat untuk pergi, hingga akhirnya diperbolehkan. Tidak ada yang salah sebenarnya, selain satu hal. Saya pergi ke tempat yang tidak benar-benar membutuhkan saya.

Saya akhirnya memang pergi. Meninggalkan semua hal yang sejujurnya sudah melekat pada diri saya. Iya, semuanya yang saya miliki di seberang sana saya tinggalkan. Dan percayalah, kepergian waktu itu amat sangat jauh lebih sedih dibandingkan pergi yang baru saja saya lakukan.

Saya tahu bahwa saya yang meminta untuk pergi, dan ketika hinggap di peraduan baru, saya sadar akan banyak hal. Ini tempat yang berbeda. Tidak ada lagi orang yang benar-benar mengharapkan karya saya. Tidak ada lagi kepentingan yang memerlukan buah pemikiran saya. Dan kemudian saya sadar bedanya berada di posisi diinginkan dan tidak.

Komitmen ketika saya memutuskan untuk mencari peraduan baru yang membuat saya tetap hinggap. Lagipula, saya merasa ada sesuatu yang saya bisa lakukan. Sarang baru itu ibarat pucuk pohon yang belum ada apa-apa, sebenarnya. Dengan susah payah, kerja keras dilakukan oleh tim hingga akhirnya sarang itu terbentuk, beberapa bulan kemudian. Saya mulai merasa senang karena pada akhirnya saya merasa dibutuhkan.

Tahun pertama dan kedua bolehlah di-skip. Terlalu panjang untuk diceritakan disini. Mari kita masuki tahun terakhir, dua nol satu tiga.

Dibuka dengan keadaan bahwa muncul persona baru–yang kelak akan mengubah segalanya. Lalu muncul sebuah tanggal mendadak yang bikin ketar-ketir sana-sini. Semua kunjungan dari otoritas yang penting harus dilakoni dengan penuh darah. Sebuah peristiwa yang membuat saya terhenyak dalam untuk pertama kalinya.

Alkisah sebelum kunjungan itu, saya sudah coba mencari tahu beberapa hal, dan sudah saya sampaikan kepada yang berkepentingan. Semuanya hanya dilandasi niat baik, tanpa sedikitpun hendak menyinggung persona ke persona, berikut latar belakangnya. Maksud saya, ketika di kitab tertulis A, maka lakukanlah A, jangan malah D.

Tapi apa? Otoritas ini mendapati sendiri bahwa A itu tidak dilakukan sesuai kitab. Jadilah, temuan. Agak kesal karena niat baik tidak didengarkan, tapi saya kembali berkaca. Siapa saya? Untuk apa saya didengar?

Itu tadi hari pertama.

Di hari kedua saya menjadi bintang lapangan karena berhasil meng-handle seseorang dengan bersih. Ibarat kata Kompany membuat Van Persie tidak berkutik. Beberapa pujian saya terima terkait hal itu, semacam memberi pengakuan akan kemampuan saya. Tapi sekali lagi, apa guna pujian itu jika sebuah niat baik pada akhirnya tidak didengar?

Dan sang persona baru tadi, sungguh saya puji kemampuannya dalam menempatkan diri di tempat dan cara yang tepat, sehingga berhasil menarik minat dengan seketika. Orang-orang yang sempat memuji saya? Hilang. Sudah lupa sepertinya. Saya lalu mencoba sabar kembali.

Kesabaran saya semakin diuji ketika saya mengajukan diri hendak berguru ke sebuah tempat, hanya beberapa hari. Lagi-lagi, landasannya hanya niat baik ingin mengembangkan kemampuan yang intinya akan digunakan demi kebaikan juga. Apa jawaban bagian sumber daya manusia?

“Memangnya nggak ada yang lain?”

Yak. Cukup untuk menjadi pengetahuan bersama. Keilmuan saya memang tidak perlu diperbaharui. Ya bukan apa-apa, ada sih yang lain, tapi saya sudah pernah menerimanya di tempat yang lama. Masak saya mau berguru satu ilmu dua kali?

Jawaban ketus itu lalu bikin saya berpikir, dan mulai kehilangan rasa sabar. Tapi syukurlah sabar itu masih ada. Sampai kemudian muncul sebuah peristiwa yang benar-benar bikin saya sampai pada kesimpulan: cukup.

Tetiba saya mendapati sebuah rancangan yang sudah hampir final, dan dimintai pendapatnya. Sampai disini mungkin tampak biasa. Tapi bagi saya menjadi aneh ketika seorang perencana satu-satunya di tempat ini tidak tahu sama sekali tentang rancangan itu sebelumnya. Ya, persetan dengan apa itu namanya Capacity Planning, Rough Cut Capacity Planning, dan sejenisnya. Setahu saya, setiap rancangan itu didasarkan pada sebuah rencana, dan rencana itu ada di saya. Lalu rancangan ini didasarkan pada apa? Pada rencana milik siapa? Tidak ada satu pertanyaanpun pada saya soal rencana itu. Pertanyaan itu terus menggelegak di dalam batin saya. Dan permenungan saya berakhir pada fakta yang jelas-jelas tampak di depan mata: tempat ini tidak butuh seorang perencana.

Ini sangat kontradiktif. Di tempat yang lama, tenaga saya sangat dibutuhkan. Disini, saya ada, tapi nyata tidak dibutuhkan. Kalau memang saya tidak dibutuhkan, buat apa saya ada, kan?

Sang persona yang tadi berhasil menempatkan diri dengan baik, sampai kemudian saya melihat bahwa keberadaan saya sudah mengganggu jalurnya. Ya, saya memang harus pergi. Sudahlah tidak dibutuhkan, mengganggu jalur orang lain pula. Saya sih begitu orangnya, kalau saya mengganggu, lebih baik saya yang pergi. Lebih baik begitu. Oh, darimana saya menyimpulkan itu semua? Sederhana, dari beberapa tanggung jawab saya yang tetiba diambil alih oleh beliau. Plus beberapa pesan tertulis kepada orang lain yang menyiratkan bahwa saya tidak melakukan apa-apa. Ya, sudah. Kalau memang mau, silakan diambil.
Yang tampak di permukaan, saya pergi ke tempat yang masuk akal. Tapi kalaupun tempat tujuan saya sekarang tidak menerima saya, toh saya tetap akan pergi. Pasti akan begitu.

Menjelang saya pergi, ada sebuah momen kala persona yang masih menjadi tanggung jawab saya tetiba mendapatkan tugas, dan tugas itu bukan dari saya. Lalu dari siapa? Ya, dari persona yang itu tadi. Saya tidak terlalu tahu soal peer ethics, tapi seumur hidup saya tidak pernah meminta seseorang bekerja atas kehendak saya, tanpa terlebih dahulu memberi tahu orang yang bertanggung jawab atas seseorang itu. Ketika saya tahu, dan saya konfirmasi, kenapa saya tidak diberi tahu, alasannya sungguh kece badai!

“Nanti kamu bingung.”

Oh, iya? Saya sebodoh itu rupanya hingga kalau dikasih tahu pasti bingung. Setiap orang berhak untuk berpendapat, sih. Mungkin memang persona tadi berpendapat begitu kepada saya. Silakan. Monggo.

Jadi sudah tahu kan kenapa saya memilih untuk pergi? Bahkan pergi ke tempat yang mengharuskan saya meninggalkan aneka kemewahan yang pernah saya miliki? Dan anehnya, saya tidak terlalu sedih dengan kepergian ini. Saya justru bahagia sudah memberikan jalan kepada persona yang terganggu dengan kehadiran saya. Saya justru bahagia karena tempat yang tidak benar-benar menginginkan saya, pada akhirnya terpenuhi kemauannya.

Benar. Semuanya adalah kompilasi. Saya bukan orang lemah yang pergi atas dasar 1-2 hal belaka. Semuanya kompilasi, sejurus menohok hati, dan pada akhirnya memunculkan konklusi berupa pergi. Bagaimanapun, saya mendoakan agar semuanya mendapat yang terbaik. Dan semoga dengan ketidakadaan saya, segala niat-niat baik bisa dilaksanakan.

Jadi, selamat jalan! Sampai jumpa lain waktu!

21 thoughts on “Kompilasi Berujung Pergi

  1. saya sudah 2 tahun lebih memendam keinginan utk nulis beginian di blog. sayangnya, sampe hari ini saya masih di company yg sama, meskipun beda site.. *curcol* wahahahahaha
    good luck yaaa arie.. ^^

    Like

  2. “Lay a firm foundation with the bricks others throw at you” (David Brinkley).
    I think the bright side is that you could be a stronger-you through this ‘compilation’πŸ™‚
    Semangat menjalani hidup baru yang makin menantang Pak Arie!πŸ˜€πŸ˜€

    Like

  3. Tulisan yg bagus rie, smg mas arie merasa “plong” setelah menulis topik ini. Do’a ku dan teman2 di sini untuk kebaikan dan kesuksesanmu. Di manapun.

    Like

  4. Apapun itu pasti ada pelajaran yang bisa diambil untuk menjadi lebih baik dan lebih dewasa..tetap semangat dan berpikir positip ‘Rie!!!

    Like

  5. Pingback: Email Resign Anti-Mainstream | ariesadhar.com

  6. Pingback: 5 Hal yang Bikin Nggak Jadi Resign | ariesadhar.com

  7. Pingback: Tujuh Hari di Kendari | ariesadhar.com

  8. Pingback: Enam Petang di Palembang | ariesadhar.com

  9. Pingback: God, What Do You Want Me To Do? | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s