Tag Archives: glodok

Menyambangi Cagar Budaya Santa Maria de Fatima

Sesudah beberapa pekan sepi karena banyak hal, maka perjalanan #KelilingKAJ kembali dimulai persis pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus alias harinya komuni pertama. Tenang saja, saya tidak dalam posisi ngeh melakukan #KelilingKAJ pada saat komuni pertama. Cuma kok pas sampai Gereja, banyak anak dengan baju putih-putih, baru sadar. Sadar kalau misanya bakal lama, maksudnya.

TKP #KelilingKAJ kali ini sebenarnya sudah saya incar dari dulu karena keunikannya, baru sempat setelah saya melihat Google Street terlebih dahulu dan jalannya diketahui dengan pasti. Kenapa begitu? Nanti pasti tahu, deh, soalnya #KelilingKAJ kali ini melangkah ke Gereja Santa Maria de Fatima di Toasebio.

Dimana itu?

Untuk mencapai Gereja Toasebio ini, halte TransJakarta terdekat adalah Halte Glodok. Dari halte, keluar ke arah gedung yang baru dibangun, lantas berjalan sampai kelihatan JNE dan sebuah jalan berpagar hitam. Dari situ jalan saja dan ikuti petunjuk yang sangat membantu, yakni adanya papan petunjuk sekolah Ricci. Nanti akan sampai di Vihara, dari situ belok kiri lalu ikuti saja jalan yang ada dan nanti di sebelah kanan akan tampak sekolah Ricci nan megah. Gereja Toasebio ini berada persis di sebelah sekolah Ricci. Sekilas pandang, tidak jauh berbeda dengan Vihara karena sebenarnya letak keduanya boleh dibilang belakang-belakangan.

Selengkapnya!

Panggung Trauma

Oktober 2009, ketika gedung itu baru saja diresmikan, aku yang jelas dan lugas masih unyu itu tampil bernyanyi bersama (kalo nggak salah) 9 orang lainnya. Bangga? Waktu itu mungkin iya, bayangkan saja seorang bocah yang baru 5 bulan kerja sudah disuruh pergi ke kantor pusat, bukan untuk dinas meeting atau training, tapi untuk nyanyi.

Tapi siapa sangka nyanyi itu berujung trauma?

Lagunya itu pakai minus one, dan ada interlude lumayan dengan isi instrumental ciduk-ciduk yang lumayan. Dan entah siapa yang salah, persis pada saat interlude itu, lagu DIMATIKAN!

Bayangkan saja kalau lagi nge-seks tapi belum klimaks. Mungkin kayak gitu, nggak tahu sih saya. Tapi itu lagu belum kelar, dan klimaks lagunya di belakang, dan itu tidak ada.

Cengak cengok di panggung bingung kenapa bisa begitu?

Lagu kedua kemudian berakhir bubar jalan. Cuk Mailang yang aslinya simpel itu menjadi lagu dengan nada yang lari kemana-mana. Tidak saya, tidak orang di sebelah saya, sama saja. Faktor psikis membuat mental bubar jalan. Parah. Saya sakit hati sama yang matiin itu musik. Dan lebih jauh, saya trauma tampil di panggung lagi.

Ehm, di PSM Cantus Firmus saya diajari benar bagaimana tampil di panggung. Mulai dari panggung Melody of Memory hingga ICC Mega Glodok Kemayoran lantai 10. Dan kemudian saya harus berakhir trauma di sebuah gedung di Bintaro itu?

Huffffttttttt…

Dan kemarin, dengan terpaksa, saya kembali ke panggung itu. Dengan nuansa yang lebih parah, cuma berempat, dan bernyanyi. Cukup? Tidak! Ada bagian khusus ketika saya harus bernyanyi sendiri. Saya itu orang paduan suara yang ada di bass dan tidak pernah dapat jatah solis. Dan saya harus menyanyi sendiri?

Meski itu hanya 2 kalimat, sudah cukup bikin merinding! Sumpah!

Dua lagu, Tanah Air dan Mengejar Matahari menjadi warna beda dalam upaya menghapus luka dan trauma. Kalau nggak begini, mau sampai kapan saya trauma sama panggung itu? Ya kan?

Syukurlah, tidak ada kejadian krusial macam 3 tahun silam. Banyak yang bilang bagus, meski saya tahu saya fals, dan itu diamini oleh teman saya sesama CF. Ehm, dalam hal ini anak CF memang selalu bisa objektif. It’s okay for me. Tapi apresiasi juga tentu saya terima dengan penuh rasa terima kasih.

Setidaknya saya tidak perlu trauma dengan panggung itu. Beberapa waktu terakhir saya banyak melawan ketakutan. Mulai dari naik Banana Boat, nonton di GBK, hingga tampil kembali di panggung itu.

Percayalah, tidak ada luka yang sejati, selama kita berniat menghilangkannya 🙂