Beberapa Cara Menjawab Pertanyaan “Kapan Kawin?”

“BANG, KAPAN KAWIN?”

Siapakah manusia berumur 25 tahun ke atas di dunia ini yang belum pernah mendapatkan pertanyaan di atas? Kalau saja Napoleon belum menikah di umur segitu sudah pasti dia akan dapat pertanyaan serupa, tapi bunyinya begini:

Quand allez-vous vous marier?

Ah, jangankan Napoleon, Masha aja kalau sudah gede, dan nggak nikah-nikah pasti akan mendapat pertanyaan yang sama, cuma tulisannya begini:

Когда вы собираетесь пожениться

gambar-masha-and-the-bear

Yup, pertanyaan “kapan kawin” adalah sebuah terminologi yang menyakitkan bagi banyak kalangan yang sudah berusia cukup untuk menikah, tapi nggak nikah-nikah. Mungkin hanya beberapa orang yang akan tersipu malu dengan pertanyaan ini, itupun hanya seorang pelaku poligami yang mungkin pipinya memerah ketika ditanya, “kapan kawin…

…lagi?”

Saya sudah 27 tahun lebih banyak, sebentar lagi 28, terus 29, terus kepalanya jadi tiga. Belum kawin. Belum nikah juga, jika kalian menganggap terminologi kawin dan nikah adalah dua kata yang berbeda. #uhuk. Menjawab pertanyaan tersebut sudah menjadi keseharian dan aktivitas yang wajar. Mana ditambah dengan fakta bahwa saya adalah anak pertama yang tentunya kudu menunaikan kewajiban kawin duluan semacam ini.

Nah, berikut saya berikan beberapa alternatif jawaban bagi para manusia-belum-kawin-padahal-usia-cukup untuk menghadapi pertanyaan paling kejam dan saking kejamnya nggak pernah ditanyakan oleh Tantowi Yahya dalam kuis WWTBAM, “kapan kawin?”

T: Kapan Kawin?
J: Mei!

Ini jelas klasik. Gengis Khan ketika ditanyai kapan kawin oleh serdadu Mongolia juga sudah menggunakan jawaban ini. Mei, atau May, Maybe, kemudian diikuti aneka keterangan tambahan. Boleh jadi maybe next year, atau maybe ganti manten, hingga maybe kagak kawin. Saking klasiknya, bayi-bayi muda ketika ditanya “kapan bisa jalan?” akan segera menjawab “mei”.

T: Kapan Kawin?
J: Nunggu Pulang!

Ini berlaku untuk orang-orang yang ditinggal pacarnya kerja atau kuliah di luar kota, luar pulau, luar benua, luar angkasa, hingga Bekasi. Sama kayak saya yang sedang ditinggal menuntut ilmu ke London, menjawab pertanyaan “kapan kawin?” menjadi cukup mudah karena tinggal dijawab “nunggu pulang”. Ya, iyalah, bagaimana mau kawin kalau calonnya masih di luar negeri sono.

Nah, untuk konteks yang diperluas, para jomlo-jomlo menahun juga bisa menggunakan dua kata itu sebagai jawaban. Anggap saja calon suami atau istri yang akan kamu nikahi itu sedang traveling ke pangkuan pacarnya sekarang. Nanti kalau sudah kelar traveling, pasti juga akan pulang ke pangkuan kalian.

Semoga saja ketika pulang, tidak sambil bawa anak dua.

T: Kapan Kawin?
J: Mau Ngasih Berapa, Tante?

Ini umumnya adalah tante-tante teman arisan emak yang kadang hidupnya terlalu woles untuk mengurusi kehidupan anak orang. Alkisah emak saya sedang pergi meminjam ulos ke sesama halak hita, rencananya untuk pernikahan saudara jauh banget. Tapi korbannya kemudian adalah, “Jadi kapan si Alex kawin?”

Kalau yang semacam ini saya agak bingung. Kenapa sih dia ngurusin kapan saya kawin? Memangnya mau nyumbang berapa? Kalau mau nyumbang duluan, ada baiknya kita menyiapkan kartu nama yang sudah dilengkapi dengan nomor rekening. Pasti okesip.

Buat jomlo menahun, jangan gunakan kalimat ini. Bukan apa-apa, kalau ternyata tante-tante yang bertanya itu tajir mampus dan siap memberikan duit banyak, kamu akan kelimpungan mencari orang yang mau nikah sama kamu dalam waktu yang ditentukan.

T: Kapan Kawin?
J: Lah Om Kapan?

Ini jarang terjadi, tapi pernah. Jadi anak orang yang belum kawin, kemungkinan karena belum laku. Kalau yang tidak kawin karena prinsip, pasti nggak pernah nanyain orang karena dia juga bakal sedikit risih kalau ditanyain. Kebetulan saya menemukan PNS mapan, di daerah, mobil punya, tanah punya, istri nggak ada.

Kemungkinan, kalau dia bertanya demikian, maka itu terjadi karena dia ingin perbandingan. Maka kalau ada yang bertanya demikian, silakan tanya balik, “Om kapan?”

T: Kapan Kawin?
J: Sudah, kok!

Ini terikat definisi. Bagi beberapa orang yanag memegang prinsip bahwa kawin dan nikah itu ada dua terminologi yang berbeda, maka jawabannya bakal lain juga. Semisal ada pasangan berkasih-kasihan yang sudah hobi ngamar dengan musik kencang dan sandal cewek tampak di luar (lupa dimasukkan)–well, ini fakta biasa di sebuah kota pelajar–mungkin ketika kita tanyai “kapan kawin?”, akan dengan segera menjawab dengan fasih, “sudah kok!”

Namun jika yang dimaksud adalah orang baik-baik yang menganut bahwa nikah ya kawin, kawin ya nikah, maka ketika kita tanyai “kapan kawin?”, boleh jadi akan menjawab “sudah, kok!”, karena dia sejatinya memang sudah menikah, tapi sengaja nggak pakai cincin karena cincinnya dijual untuk beli tanah di Menteng, sebanyak enam ratus…

…karung.

T: Kapan Kawin?
J: Nanti Kalau Anak Kamu Sudah Siap!

Ini boleh digunakan ketika kita naksir dan yakin bahwa seorang bayi yang adalah anak teman kita merupakan jodoh kita. Apalagi kalau anak itu sudah tampak sebagai CALON CANTIK. Mungkin kita akan menunggu dia ranum. Meskipun pada saat bersamaan, ketika dia ranum, kamunya jadi ra nom alias tidak muda lagi.

Saya sih yakin, segera sesudah kamu menyampaikan hal ini, kamu akan dihampiri oleh Kak Seto yang datang menumpang OOM ALFA.

T: Kapan Kawin?
J: Kapan Mati?

Saya selalu percaya bahwa jodoh, umur, dan anak itu ada di tangan Tuhan. Maka, ketika kita belum kawin, itu sepenuhnya adalah kehendak Tuhan. Ketika pacar saya kuliah dan itu berarti saya nggak bisa buru-buru menikahi dia, itu pasti karena kehendak Tuhan. Wong saya doain itu di Cisantana pas jobless escape. Kalau ada teman belum diberikan keturunan, mereka juga percaya itu kehendak Tuhan. Maka, kalau masih ada yang dengan enegnya bertanya kapan kawin, maka ada jurus pamungkas yang bisa kita lontarkan. Cukup tanyakan, “kapan mati?”

Begitulah, pada usia tertentu, diberi pertanyaan KAPAN KAWIN itu menjadi amat sangat tidak sederhana. Karena sesungguhnya sederhana adalah rumah makan Padang yang akan dengan segera membuat hidup kita sederhana begitu kita selesai membayar makanan disana.

Jadi, kapan kawin?

*terjun dari tiang bendera*
*tiang bendera di bungkus susu bendera*

One thought on “Beberapa Cara Menjawab Pertanyaan “Kapan Kawin?”

  1. Pingback: Istilah CASN: Sesuai Dengan Peraturan Atau Tidak? | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s