Kisah Cinta Segitiga Tauke Karet di RS Charitas

Kurang lebih lima tahun yang lalu saya menjalani opname. Opname kesekian, sebenarnya, namun terhitung yang pertama bagi saya–dan semoga itu satu-satunya–ketika dewasa. Kalau waktu kecil, nggak usah dihitung, lha wong saya sudah sampai pada tataran matanya-putih-semua. Sebab musabab saya opname itu sungguh tidak elit. Vertigo. Tapi memang sangat memusingkan, bahkan untuk berjalan sudah tidak sanggup. Di otak saya isinya hanya Cefradoxil ratusan kilogram yang bikin saya ditelepon Pak Eko dengan pertanyaan klasik, “Itu kok datang lagi? Ini masih banyak lho.”

Ya, baiklah, ini bukan tentang vertigonya saya, tapi tentang kisah pada hari keempat saya dirawat. Kebetulan dengan asuransi InHealth, saya mendapatkan perawatan di kelas II–kalau tidak salah, dengan fasilitas satu ruangan berisi dua orang dengan satu televisi di tengah-tengahnya. Kebetulan juga saya kan tidak kabar-kabar ke rumah kalau sedang diopname, jadi benar-benar tidak ada yang menunggui. Hanya Mas Sigit, Boni, atau Jack yang datang, itu juga by request karena kehabisan sempak.

Nah, makhluk yang sama-sama terkapar di kamar yang sama dengan saya itu adalah seorang lelaki buncit, gondrong dengan tato di tangannya. Super sekali. Dia ditunggui oleh seseorang yang sama sekali berbeda dengan dia, dan selalu memanggil dengan, “bos”. Sudah jelas bahwa dia adalah orang upahan. Saya juga orang upahan sih, yang diupah untuk vertigo karena gudang penuh.

Pada hari keempat itu, kondisi sepi-sepi saja. Seperti Rumah Sakit pada umumnya. Kalau ajep-ajep itu namanya Alexis, bukan RS. Pada jam kunjungan tiba, muncullah seorang perempuan datang berkunjung. Semuanya lantas berjalan biasa-biasa saja. Saya pikir, ah, dia paling juga istrinya, atau cem-cemannya, atau mungkin mantan terindahnya. Saya? Ah, ditelepon sama pacar saja tidak kala itu, apalagi dibesuk. Untung sekarang sudah jadi mantan. HAHAHAHAHA

Saya tidak melihat ngapain aja si cewek itu di balik tirai. Yang saya tahu, penunggu si gendut ini pergi ke teras. Jadi berdua saja mereka di tempat itu. Bertiga sama saya, sih, di balik tirai. Siang-siang, panas pula.

Nah, tiba-tiba masuklah sesosok wanita ke dalam ruangan, dan bergegas menuju balik tirai sebelah saya. Syukurlah bukan ke tirai saya. HEUHEU. Saya pikir ini juga temannya, atau apanyalah. Ternyata itu cuma pikiran saya belaka, karena sejurus kemudian muncul dialog yang bikin saya trenyuh.

“Oh, jadi ini ya Koh, perempuan itu.” ujar perempuan yang baru datang tadi.

“Napo kau kesini?”

Terlontar dengan suara berat, sudah jelas si lelaki buncit itu.

“Aku nak jingok suami lah, Koh. Dio ni, nak jingok sapo disini?”

“Alah kau ni.”

“Koh, kalu dak karna anak kito, aku dak nak jingok kokoh. Eh, ado dio disini. Jadi gitu, Koh?”

Si lelaki diam.

“Sudahlah, Koh. Kalo memang nak samo dio ni, cerai kito dulu. Uruslah dulu. Jangan digantung cak ini.”

“Iyo. Iyo,” suara mengiyakan secara males terdengar.

“Capek badanku Koh ngurus anak kito. Kemaren dio sakit, ado Kokoh jingok? Idak. Idak, Koh.”

“Iyo. Aku lah tau.”

“Anak kito kemaren juara di sekolah, Koh. Kokoh idak tau jugo kan?”

Hening.

“Jadi sudahlah, Koh. Kalau lah memang nak samo dio ni. Atur, urus dulu cerai kito. Biar samo-samo lemak kito ni.”

“Iyolah. Iyo.”

“Kamu jugo. Tahu kan kalau Kokoh ini lah bebini?”

Hening (lagi).

“Ah, sudah. Pegi galo. Pegi,” usir lelaki yang sedang tidak bisa apa-apa itu.

Kedua wanita itu pergi. Benar-benar berlalu di depan mata saya. Meninggalkan sisa kehebohan yang bikin saya nggak jadi tidur siang itu. Sorenya, saya ngobrol dengan penunggunya, dan baru tahu kalau si Kokoh ini adalah Tauke karet, sebuah profesi yang jamak di Palembang dan sekitarnya. Pantas saja dia kaya, dan pantas saya dia kemudian ngelaba. Entahlah, itu urusan dia juga. Masalahnya, kenapa dia ribut-ribut rumah tangga ketika dia satu ruangan dengan saya?

Waktu beranjak sore, ketika saya hendak tidur sore, dan kemudian sang istri datang lagi.

*buru-buru pingsan*

NB: mohon maaf kalau Bahasa Palembangnya sudah kacau, maklum kejadiannya sudah lama. Ehehehe. Sudah lama juga nggak ke Palembang. Heuheuheu.

First Anniversary

Selama bertahun-tahun, isi blog ini adalah bentuk penggalauan. Baik itu penggalauan individual, semisal tentang LDR sama pacar yang punya teman dekat satu kota, hingga penggalauan umum semacam cinta diam-diam. Sebenarnya, konten tersebut berasal dari penggalauan pribadi yang digeneralisasikan. Begitulah kira-kira. Kenapa galau? Sebenarnya karena saya itu jomlo menahun, sebuah terminologi yang didefinisikan sebagai berada dalam keadaan sendiri selama bertahun-tahun.

Sayap Citilink

Saya kemudian sempat berada dalam fase-pengen-jadi-romo-gara-gara-jomlo-menahun. Keinginan itu saya batalkan karena tidak baik untuk kemaslahatan umat. Jadi jomlo itu kadang menyenangkan, memang, tapi menjadi tidak menyenangkan ketika mudik, lalu ditanya, “calonnya orang mana?”, sebuah pertanyaan yang bikin tangan ingin membekap mulut si penanya untuk kemudian disumpeli jeruk mandarin. Belum lagi ditunjang kalau kumpul sama teman-teman Dolaners, yang lain sudah bawa anak, saya masih gini-gini aja. Robert sampai bilang, “Ojo nganti anakku wis kuliah, kowe jik PDKT wae…

Continue Reading!

Belajar Bahasa Minang (Versi ArieSadhar)

Empat belas tahun tinggal di Bumi Minang, walaupun nggak asli, bolehlah sedikit berbagi pengetahuan. Kan lumayan, kalau anda-anda belanja dimana-mana, percaya deh, hampir dimanapun ada orang Minang. Saya beli baju di Pasar Baru Bandung, saya lewat di Malioboro, bahkan saya makan di sebuah warung di Nias Selatan, ada aja orang Minang. Mungkin kalau saya ikut program ke Mars, disana sudah ada orang Minang datang duluan.

download (5)

Bahasa Minang, pada dasarnya, meng-o-kan kata-kata. Itulah ketololan sepanjang hayat. Termasuk presenter banci yang ngakunya orang Padang, semuanya di-o-kan. Saya yang bukan orang Minang saja malu dengernya. Hedeh.

Ketemu pertama, mari menyapa:
saya = ambo, denai (yg dikasarkan menjadi aden)
kamu = awak, ang (bukan avatar loh ini..)
Dia = inyo
Kakak = uni
Abang = uda
Adik = adiak
Jadi, kalau beli sate Padang, pas pulang, coba bilang, “Berapa, Da?” kalau yang jualan laki-laki.

Menyoal beli sate, kalau kita tanya demikian, bisa jadi dia akan jawab dengan bahasa Minang. Jangan bigung, karena bahasa Minang sangat nikmat kalau dipelajari. Ingat aja lagu DoMiKaDo, ciek duo tigo. Ini kali ya yang bikin bahasa Minang itu seolah-olah semua o. Mulai dari 1 ya, ciek, duo, tigo, ampek, limo, anam, tujuah, (sa)lapan, sambilan, sapuluah, sabaleh, duo baleh, tigo baleh. Hmm.. sejak 12, muncul baleh sebagai belas versi Minang. Hati-hati, jangan salah nyebut sebelas jadi ciek baleh, soalnya nanti bikin malu. Begitu sampai 20, jadi puluah, duo puluah, tigo puluah, ampek puluah. Dan, as well as ASEM or BAJIGUR  word in Java, be careful to use AMPEK in Minang. Konotasinya jadi agak negatif.

Oya, satu lagi yang saya ingat banget, soalnya pernah malu sama Alm. Uda Haris. Kelapa di Minang adalah Karambia, jangan bilang KALAPO.

images (13)

Kata-kata standar, ada bara (berapa), a (apa), ko (ini), jo (dengan), indak (tidak), ka (ke). Biar agak asik kedengarannya, banyak digunakan penikmat berupa a dan do. Semisal: iko a (ini), atau indak do (tidak). Kata-kata lain pai (pergi), lalok (tidur), imbau (panggil), jago (bangun), baraja (belajar), tokok (pukul), siko (sini), ketek (kecil), bulek (bulat), berang (marah), kaja (kejar), kajai (karet), gundar (sikat), gadang (gede), saketek (sedikit).

Penggunaan bahasa ini berguna waktu saya nawar jaket di Pasar Baru Bandung, berguna waktu meninggalkan counter di emperan Malioboro karena jadi tahu kalau si penjual mau mark up sekayangnya, dan sangat bermanfaat waktu saya membayar makanan di Nias Selatan. Coba deh, sekali-kali teman-teman terapkan di rumah makan padang, untuk memastikan keaslian rumah makan tersebut. Dan sekali lagi, ini versi saya lho ya, banyak ketidaksempurnaannya.