Beberapa Cara Menjawab Pertanyaan “Kapan Kawin?”

“BANG, KAPAN KAWIN?”

Siapakah manusia berumur 25 tahun ke atas di dunia ini yang belum pernah mendapatkan pertanyaan di atas? Kalau saja Napoleon belum menikah di umur segitu sudah pasti dia akan dapat pertanyaan serupa, tapi bunyinya begini:

Quand allez-vous vous marier?

Ah, jangankan Napoleon, Masha aja kalau sudah gede, dan nggak nikah-nikah pasti akan mendapat pertanyaan yang sama, cuma tulisannya begini:

Когда вы собираетесь пожениться

gambar-masha-and-the-bear

Yup, pertanyaan “kapan kawin” adalah sebuah terminologi yang menyakitkan bagi banyak kalangan yang sudah berusia cukup untuk menikah, tapi nggak nikah-nikah. Mungkin hanya beberapa orang yang akan tersipu malu dengan pertanyaan ini, itupun hanya seorang pelaku poligami yang mungkin pipinya memerah ketika ditanya, “kapan kawin…

…lagi?”

Selanjutnya, Mbohae!

53 Pertanyaan Yang Diajukan Kepada Seseorang Yang Sudah Cukup Umur Yang Baru Pacaran Lagi Sesudah Lama Menjomblo

Judulnya kepanjangan? Biarin. Judulnya terlalu rumit? Biarin juga! Hidup sebagai jomblo berkepanjangan itu sudah jauh lebih rumit daripada judul yang panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas ini.

Yap! Bahwasanya manusia diciptakan untuk hobi mencampuri urusan sesamanya. Misalnya kamu tinggal di gang senggol, lalu ada tetangga tiba-tiba punya Vellfire. Sudah bisa dipastikan kamu akan mencoba mencari tahu asal muasal mobil itu. Padahal, siapa tahu kan tetangga itu adalah temannya Ahmad Fathanah?

Nah, sebagian dari ikut campur itu sejatinya adalah bentuk perhatian kepada sesama. Nggak apa-apa juga, sih. Namanya juga makhluk sosial. Sialnya so-so. Bentuk perhatian itu umumnya berupa pertanyaan. Ya, tentu saja menjadi sebuah fakta unik ketika seseorang yang terlihat lama menjomblo tahu-tahu punya pacar, cakep pula. Nah, mau tahu nih beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepada orang-orang yang sudah cukup umur dan baru pacaran lagi sesudah lama menjomblo? Ini dia!

1. Kapan kawin?

2. Ketemu dimana?

3. Gimana ketemunya?

4. Kok bisa?

5. Nggak salah, tuh?

6. Lo boongin gimana tuh cewek?

7. Anak mana, sih?

8. Gadis/janda/perjaka/duda?

9. Kapan kawin?

10. Berapa lama PDKT-nya?

11. Kok cepat banget?

12. Ngebet ya?

13. Kapan kawin?

14. Kok kamu mau sama dia?

15. Kok dia mau sama kamu?

16. Kok kalian sama-sama mau?

17. Kapan kawin?

18. Kapan kawin?

19. Kok nanyanya kapan kawin melulu?

20. Ya, udah. Mau ganti apa?

21. Kapan nikah?

22. Yaelah, Bro! Nggak ada yang laen?

23. Udah ngapain aja sama doi?

24. Comblangnya siapa?

25. Doi umur berapa?

26. Mantannya berapa?

27. Mantannya yang udah nikah berapa?

28. Dulu kenapa putus sama mantannya?

29. Kapan nikah?

30. Lo pakai pelet apaan?

31. Gue minta alamat dukunnya, dong! Dimana?

32. Udah insyaf ya?

33. Udah kapok ngejomblo?

34. Ini yang lo cari?

35. Kapan nikah?

36. Lah, kapan kawin sama kapan nikah kan sama?

37. Ya emang pertanyaan utamanya itu! Protes melulu sih?

38. Nggak ada yang laen apa?

39. Ya udah! Nih! Kapan diresmikan?

40. Gimana jadiannya?

41. Dimana jadiannya?

42. Romantis nggak jadiannya?

43. Nanti nikahnya mau di tempat doi apa nggak?

44. Lo udah baca OOM ALFA belom? *oke ini tidak relevan*

45. Ada acara ngunduh mantu nggak di tempat lo?

46. Nunggu apalagi, sih?

47. Orang tua udah tau?

48. Orang tua udah kenal sama doi?

49. Kapan disahkan?

50. Kapan naik pelaminan?

51. Tuh kan! Sama-sama lagi pertanyaannya! Gimana, sih?

52. Lo tahu nggak?

53. Apaan?

54. Emang kalau udah cukup umur itu 50% pertanyaannya ya ‘kapan kawin’ dan derivatnya!

List pertanyaan ini sudah didiskusikan dengan beberapa pihak, utamanya Bapak ini. HEUHEUHEU! Enjoy ya! Just for fun!

Am I Ready If?

Persetan itu judul bener apa nggak. Seperti biasa, saya kalau dipuji adanya malah mandeg. Iya, dulu begitu dapat gelar di lomba menulis apa, pasti dampaknya buruk. Bukannya tambah oke, malah tambah remuk. Apa malah nggak nulis sama sekali.

Oya, dan satu lagi. Saya itu orangnya masih takut terhadap kritik.

Mungkin bawaan melankolis saya, bahwa kritik itu menyakitkan hati. Cukup banyak kasus ketika kritik justru membuat emosi saya naik. Kritik yang menciptakan masalah juga ada, tanya saja sama mantan2 saya. Hahahaha..

Nah, sejalan dengan buku antologi mayor ketiga yang terbit dan ada tulisan saya di dalamnya, saya malah jadi bertanya-tanya. Sebenarnya, siap nggak sih saya menggapai passion saya yang bernama MENULIS itu?

Kenapa saya bertanya begitu, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kasus Andrea Hirata. Dan sejujurnya itu masih mending (banget), karena yang disasar adalah klaim, bukan karya. Ketika saya menulis di Kompasiana dan dikomen kurang menarik, saya malah patah semangat. Semacam itulah.

Ketika saya kemudian sudah berhasil menyetorkan 3 naskah untuk terbit di antologi mayor, saya juga kemudian harus berkaca. Sebenarnya mimpi saya untuk jadi penulis beneran itu sudah tercapai. Untuk berharap punya 1 buku milik sendiri–at least, ya bisa dibilang sudah jalannya.

Tapi, namanya karya, nggak akan lepas dari kritik. Nah, sanggupkah saya? Siapkah saya?

Kadang hal ini jadi pertanyaan besar yang menjadi alibi saya untuk bersyukur bahwa saya belum-belum juga bisa menerbitkan buku. Hey, baru berhasil menyelesaikan 1 naskah saja sudah ngeluh kok belum bisa menerbitkan buku. Ngawur bener.

Apakah kalau nanti saya punya buku, saya akan siap dengan obrolan orang-orang tentang karya saya? Apakah saya siap menerima masukan dari pembaca? Apakah saya akan sanggup mengelola itu dengan tingkat emosional yang dewasa?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kemudian berkecamuk di dalam pikiran saya. Satu hal, saya adalah orang yang terbiasa di belakang layar. Namanya juga orang planning. Kalau dulu orang hanya ngomong di belakang. Sekarang, orang bisa membicarakan orang lain di linimasa. Nah, sanggupkah saya jika nanti suatu ketika buka tab mentions di Twitter dan membaca kritik yang berat bagi tulisan saya?

Itulah dia. Saya masih terus bertanya. Apakah saya siap untuk itu.

Ah!

Bertanya

Mungkin ini perspektif saya saja sih.
Tapi begini, dalam bekerja, ada banyak hal yang kita nggak tahu.

Persoalannya, apakah setiap ketidaktahuan itu harus kita tanyakan?

Kalau saya bilang sih nggak.

Kenapa? Dalam bekerja, kita HARUS punya waktu untuk menangkap fenomena. Rutinitas kerja itu fenomena hari-hari, kalau kita menangkap semuanya, nanti pasti ketemu hal-hal yang perlu DIKONFIRMASI. Nah itu baru ditanyakan.

Karena kadang-kadang kita bertanya itu tidak ke orang yang tepat. Dan ingat, ini kerja, tekanan beda, bisa jadi kita bertanya tidak pada WAKTU yang tepat. Dampaknya? Emosi terpendam dalam jawaban.

Pertanyaan diperlukan ketika kita berhasil menemukan hal-hal yang perlu DIKONFIRMASI. Jangan setiap tidak ketemu pertanyaan, langsung ditanyakan. Pertanyaan beruntun bukan hal yang disukai di area kerja dengan tekanan dan rutinitas.

Usahakan cari sendiri, terlebih dahulu. Dan asal tahu, kalau mencari sendiri itu beneran lebih nempel di hati. Nggak mudah lupa. Sama persis waktu saya belajar VLOOKUP ketika awal-awal jadi PPIC.

Tapi satu hal yang harus DITANYAKAN adalah ketika terkait dengan EKSEKUSI. Pencet tombol mana, setting mesin bagaimana, itu jelas harus ditanyakan.

Saya memang baru 2 tahun sekian bulan kerja, tapi setidaknya itulah pengalaman yang saya punya. Saya kadang nggak tahu, saya kadang dapat jawaban emosi, dan saya juga pernah menjawab dengan emosi.

Bahwa ketidaktahuan tidak selalu relevan dengan bertanya. Kadang ketidaktahuan bisa relevan dengan kecermatan kita menangkap fenomena.