[Interv123] Blessed Survivor

Interv123 baru nongol bersama Bu Bidan, tanggal 20 kemaren. Seharusnya akan nongol lagi tanggal 10. Tapi hari ini saya terpaksa melanggar ketentuan saya sendiri karena tamu Interv123 hari ini buat saya sungguh luar biasa. Dan adalah kerugian besar bagi saya kalau harus egois menahan isi wawancara ini sampai tanggal 10. Lagipula, wawancara dilakukan tanggal 1. Mengetiknya antara tanggal 1 sampai tanggal 2, bulan 12, di tahun 2013. Baca lagi, 1-12-13 ke 2-12-13. Semuanya masih beraroma 123. Jadi pelanggaran masih diperkenankan. Seperti yang saya tulis di salah satu halaman skripsi: setiap hal ada pengecualiannya.

Semuanya bermula dari sesorean tadi–sepulang jadi apoteker beneran, sekali dalam sebulan–saya iseng mengecek TL Twitter. Sebagai penulis yang followernya nambah 3 tapi kurang 5, saya harus eksis bercicitcuit. Saya lalu mendarat di posting Derita Mahasiswa berjudul Tuhan Punya Rencana Lain. Awalnya sih biasa saja, sampai kemudian saya membaca hingga akhir posting itu. Begitu selesai? Saya terhenyak, karena ternyata saya pernah membaca nama di dalam posting itu sebelumnya.

Penulis favorit saya, beberapa bulan yang lalu menulis cerpen berjudul Anak Lelaki di Samping Jendela. Di akhir cerita, ada tulisan begini:

Caramel Macchiato

Ya, tokoh di dalam posting Derma dan tokoh di dalam salah satu cerpen dari penulis favorit saya itu merujuk pada 1 orang yang sama: @shiromdhona.

:)

🙂

Mbohae!

Cikarang-Jogja 18 Jam

Ini kisahnya sebagian besar sudah ditulis dalam Ada Yang Tertinggal di Jogja dan Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata. Tapi rasanya ada yang kurang kalau saya nggak menceritakan detail khusus dari perjalanan ini.

Saya mengambil merk bis yang terkenal, Lorena. Satu-satunya alasan saya menggunakan armada itu adalah karena itu adalah jadwal termalam untuk eksekutif yang saya tahu. Bagaimanapun besoknya saya harus Gladi Bersih, dan itu pasti sangat melelahkan, maka saya perlu istirahat yang cukup di jalan.

Lagipula, dua trip terakhir saya ke Jogja yakni  Desember dan April juga menggunakan Lorena paling malam, dan hasilnya baik-baik saja. Okelah, yang Desember sebenarnya kurang baik, tapi itu karena macetnya Semarang-Magelang-Jogja gegara plat B pada mau liburan *sigh*

Perjalanan nyatanya dimulai jam 9 lewat, telat 1 jam dari jadwal. Saya masuk bis dan segera duduk di bangku nomor 1A, persis dekat pintu. Yah, saya belum pernah ambil seat 1A lagi semenjak kaki ketekuk sepanjang Bukittinggi-Palembang dengan armada Yoanda Prima.

Keluar Tol Cikarang Barat masih seperti biasanya, lanjut sampai ke Cikampek juga biasa saja. Ya, biasanya kan juga macet. Masih masuk akal. Tentunya selepas Cikampek saya nggak melepaskan pandangan dari sisi kiri (sisi utara). Terutama ketika melewati Indramayu.

Intinya sih, banyak yang mulus-mulus di sepanjang jalan itu.

Sekitar jam 11-an, bis akhirnya sampai di Pamanukan. Waktunya makan. Walaupun sebelumnya saya sudah makan mie, tapi bolehlah kalau diisi lagi. Sedikit keluhan sempat muncul di jalan karena bis itu kok rasanya panas sekali. Tapi namanya orang Indonesia, apa iya mau komplain?

Hampir jam 12 ketika kemudian Pak Supir dapat kabar bahwa HARUS menunggu 2 penumpang lagi, yang sedang dibawa sama Bis Purwokerto-an. Ini nih yang paling saya nggak suka dari Lorena, sistem oper-opernya. Di satu sisi itu keunggulan mereka, karena armada yang banyak. Dulu pernah dari Jogja ke Cikarang isi bisnya cuma 3, iya TIGA! Satu Cikarang, satu Cikampek, satunya Lampung. Si Lampung ini ya oper-operan dong. Hehehe.

Selama menunggu, servis AC dilakukan, dan saya malah berkenalan dengan Andreas, si bule dari Salzburg yang sampai sekarang masih nggak masuk akal buat saya kalau dia naik bis.

Sesudah AC beres, Pak Supir dapat kabar bahwa daerah Patrol macet 5-6 Km. Mak! Kilometer macetnya, panjang amat. Awalnya Pak Supir ngikut ke jalur macet itu, tapi kemudian belum 1 Km, udah mandek.

“Ngene tok iki?”

“Mbalek wae.”

Dan pada akhirnya bis besar itu berputar arah, kemudian menuju Subang dan seterusnya sampai saya bangun, sudah di Tol Kanci-Pejagan.

Bis akhirnya sampai di sekitar Brebes, dan ini berarti akan menuju Selatan. Niat awal saya, kalau dia turun di utara, saya kan turun di Jombor, jadi saya bisa langsung beli tiket pulang baru deh capcus ke Taman Budaya.

Tapi kalau lihat jalanan begini, kudu nyari alternatif solusi.

Dan percayalah, saya malah bersyukur bisa naik di bis yang supirnya enak begini. Punya inisiatif, nggak tampak ngantuk, dan ngajak ngomong penumpang. Keren.

Begitu mau ke arah Purwokerto, tahu-tahu ada aroma tidak menyenangkan. Dan nggak lama diikuti asap mengepul dari kotak yang berada PERSIS DI DEPAN SAYA. HUAAAAA!!!

“Mas.. Mas.. Iki kok ketoke kemebul yo..,” kata saya rada gemetar.

Bis lalu berhenti, copot aki, dan ternyata kotak itu isinya panel pengendali sistem elektrik. Syukurlah nggak kenapa-kenapa.

Saya belum pernah ngebis di masa jelang puasa. Kalau jelang lebaran, pernah. Dan jelang lebaran itu jalanannya mulus habis.

Ternyata… yang mulus itu dikerjakan jelang puasa.. -___-

Kena deh saya.

Banyak jalanan yang sedang digarap, dan itulah sumber kemacetannya. Jelas sekali, dan di beberapa tempat panjang sekali. Karena memang sudah kadung jalan, ya mau gimana lagi?

Sampailah kemudian di Karanganyar, dan saya melihat ATM BRI. Segera saya colok HP yang nyaris mati ke Powerbank, lalu telepon 021-121. Yah, jam 11 siang menelepon ke nomor itu jelas banget butuh perjuangan. Dan pada akhirnya ya memang butuh, ada kali 14 kesempatan panggilan sebelum kemudian sampai ke Mbak Sukma.

Transaksi terjadi. Jalanan ini terlalu kejam untuk saya pulang besok Minggu sesuai rencana awal, jadi keberangkatan dari Jogja digeser ke pagi saja.

Dan perjalanan dilanjutkan, disertai obrolan hangat Pak Supir dengan Andreas, yang saya terjemahkan.

Seperti waktu lihat poster “Piye Kabare Le? Penak Jamanku To?”

“Mister, do you know that?”

“Oh yeah. Soeharto.”

Atau ketika Andreas memuji Pak Supir.

“He is a good driver.”

“Mas, jarene kowe supir sik apik.”

“Tenane?”

“Tenan!”

“Weh. Thank you mister.”

Saya ngakak aja di jalanan ini, menemui Pak Supir yang lucu, dan bule Austria yang membumi.

“Ketoke umur e podo aku, Mas,” kata Pak Supir pada saya.

Saya lalu nanya umurnya Andreas.

“Almost fifty.”

“Arep seket, Mas.”

“Actually, fourty eight.”

“Papat wolu, Mas.”

Saya jadi kayak penerjemah presiden di kancah per-PBB-an.

Syukurlah, akhirnya sampai juga di Jogja, tepatnya di Giwangan, nyaris jam 3, dan itu berarti ada sekitar 18 jam saya ada di atas bis Lorena ini.

Saya turun, lalu mengucap terima kasih kepada Pak Supir, dan kerennya, kepada setiap penumpang dia selalu pesan untuk hati-hati. Asli, ini supir keren abis.

Sayangnya saya lupa namanya 😦

Andreas saya ajak ngojek, setelah sebelumnya saya nawar ojek. Mentang-mentang saya bawa bule, mau dimahalin.

“Jalane macet lho Mas.”

“Mas.. Mas.. Aku ki wong kene.. Aku ki yo ngerti dalan e..”

Mungkin dia belum tahu definisi macet versi anak Cikarang.

Akhirnya dengan 20 ribu, saya bisa berangkat ke TBY. Ehm, di Cikarang, ojek 20 ribu itu nggak ada apa-apanya, dan di Jogja saya bisa dapat Terminal Giwangan ke Taman Budaya Yogyakarta. Sebagai konsumen, saya iri. Titik.

Begitulah sekilas perjalanan saya. Meski bukan durasi terlama saya naik bis, karena ke Sumatera saya satuannya bukan jam tapi hari, tapi ini adalah paling lama yang saya tempuh untuk rute Cikarang-Jogja, atau sebaliknya. Cukup layak untuk jadi kisah tambahan di blog ini.

Setidaknya saya jadi tahu, bahwa perjalanan darat menjelang bulan puasa, ada perjalanan yang sebaiknya dihindari. Hehehe..

🙂

Magelang

Magelang. Dulu kenalnya karena pernah pergi ke Magelang dan bermain ke taman yang entah apa namanya saya lupa. Itu tahun 1999, kalau nggak salah. Lalu masuk dunia persekolahan, ada sih teman dari Magelang, tapi dikit. Semakin kesini, di dunia perkuliahan, mulai banyak teman ber-plat AA. Dan terakhir, my little bro mulai menjalani hidupnya disana, sudah setahun, dan masih hidup, malah tambah kribo ^semakin nggak jelas.

Oke, iseng saja mau melihat-lihat soal sejarah Magelang. Saya sebut Magelang, karena setahu saya, ada Kota Magelang dan ada Kabupaten Magelang. Am I wrong? Ya mungkin sih, pengetahuan saya kan nggak terlalu banyak, apalagi soal ini hehehe…

Usut punya usut, ada yang bilang bahwa nama Magelang berasal dari kisah orang Kalingga yang mengenakan hiasan gelang di hidung ^hidungnya sebesar apa itu. Imbuhan “Me-” kala itu mungkin masih disebut MA, sehingga kegiatan memakai gelang dimaknai dengan sebutan MAGELANG yang artinya memakai gelang, lebih luas lagi, Magelang berarti daerah yang didatangi oleh orang-orang yang memakai gelang.

Ada juga yang bilang kalau nama ini berasal dari kisah pengepungan Kyai Sepanjang oleh Prajurit Mataram, saat Temu Gelap alias rapat melingkar ^sejarah KMB mungkin.. Tapi kok kisah ini tidak memberikan etimologinya? ^tuing-tuing..

Kisah lain bilang kalau nama itu terkait dengan kondisi geografis daerah Kedu “Cumlorot” yang katanya sih artinya sama dengan gelang.

Itu soal nama, dan berakhir pada kebingungan.. Wkwkwkwk…

Asal muasal tempat ini diperkirakan berawal dari sebuah desa Mantyasih yang sekilas bermakna beriman dalam cinta kasih ^dahsyat sekali artinya. Penetapan desa ini ditulis di Prasasti Mantyasih per 11 April 907M. Kemungkinan ini yang dipakai sebagai penetapan Hari Jadi Magelang (Perda No 6/1989). Desa itu berada di barat Kota Magelang dengan nama Mateseh. Sekarang masuk Magelang Utara. Katanya lagi, daerah itu dulu disebut Kebondalem atau Kebun Raja Sri Sunan Pakubuwono (Surakarta). Riwayat kebun mungkin bisa dilihat di nama tempat di sebuah kampung di Potrobangsan. Ada Kemirikerep/Kemirirejo (bekas kebun kemiri), Jambon (pastinya bekas kebun jambu), Bayeman (ini mungkin Popeye pernah kesini), Jambesari (ini bekas pinang).

Oya, prasasti tadi sebenarnya ada temannya dan sama- sama dari tembaga. Nama yang lain adalah POH dan GILIKAN.

Prasasti itu ditulis zaman pemerintahan Hindu di bawah Raja Rake Watukura Dyah Balitung. Versi ini, ada Mantyasih dan Glanggang. Mantyasih menjadi Meteseh, Glanggang menjadi Magelang. Nah, lain lagi ceritanya ^tambah bingung? Desa ini termasuk Perdikan karena Bebas Pajak. Asyik ya? Hahaha..

Di abad 18, Magelang pernah dikuasai Inggris. Kota ini jadi pusat pemerintahan dengan Bupati Mas Ngabehi Daneokromo (Raden Tumenggung Danoeningrat). Babat alas terjadi dan dibuatlah alun-alun, tempat tinggal bupati, masjid, dan gereja. Berikutnya malah Magelang menjadi Ibukota Karesidenan (1818) karena letaknya yang strategis ^mau ke Jogja soalnya.

Kita semua tahu kalau Bang Rafles sebentar saja di sini, maka pas Belanda datang, Mas Ngabehi Danoekromo diangkat lagi dengan jabatan dan gelar yang sama. Pada masa-masa itu Magelang menjadi pusat militer. Belanda juga membangun menara air minum (1918), PLN (1927), dan jalan-jalan beraspal. Wooo… Kok enak?

Jauh kemudian, Kota Magelang diangkat sebagai ibukota Kabupaten Magelang (UU No 22/1948). Tapi versi UU No 13/1950, Kota Magelang berdiri sendiri, lalu di Kota Magelang terdapat 4 Badan Pemerintahan yang berbeda: Pemkot Magelang, Pemkab Magelang, Kantor Karesidenan Kedu, dan Akmil.

Nah, dengar-dengar, mirip cerita dengan Bukittinggi sebagai Ibukota Kabupaten Agam. Tata ruang menyebabkan adanya kebutuhan pemindahan Ibukota Kabupaten Magelang. Desa Sawitan Mungkid menjadi ibukota Kabupaten Magelang (PP 21/1982) dan diresmikan 22 Maret 1984.

Sebenarnya, belum ketemu benar sih sejarah pastinya Magelang. Tapi ya lumayan membuka wawasan ^setidaknya buat yang nulis..hehehehe….