Percakapan Tentang Hati

“Dan saya membeli buku yang sudah saya baca sebelumnya, tapi minjem.”

Aku membaca sepotong pesan singkat itu sambil tersenyum. Entah apa maknanya gadis cantik di seberang sana mengirimkan pesan singkat itu padaku. Siapa aku sampai perlu tahu hal sekecil itu? Jangan-jangan sepotong pesan kecil itu hanya membuatku berharap berlebihan.

Sepotong pesan singkat yang dikirim sudah lama sekali.

Ya, aku membuka kembali handphone lamaku sekadar untuk membaca kembali percakapanku dengannya. Sebuah percakapan yang teramat sangat aku rindukan kini. Sebuah percakapan yang kini berubah menjadi dingin. Sangat dingin.

Buku itu, ah..

Mungkin bukan buku, lebih tepat disebut novel. Ya, novel itu yang membuatku sampai perlu membuka kembali percakapan bertahun-tahun silam.

Novel itu, entah sudah berapa kali gadis cantik itu menceritakannya padaku dalam bentuk rekomendasi. Entah sudah berapa kali pula aku melewatkannya di toko buku. Hal sederhana saja, bukannya aku tidak mampu membeli buku itu. Harganya hanya separo pendapatanku sehari.

Hingga pada akhirnya aku membeli juga novel ini, setelah dua edisi film-nya selesai tayang di bioskop. Lama sekali.

Lantas mengapa aku terlambat?

Aku, teramat sangat tidak ingin terikat dengannya.

Cupu? Mungkin. Tapi sungguh dua kata yang menjadi judul buku itu sangat melekat di benakku, dan sangat identik dengan dia.

Dan kini hanya ada aku, novel itu, dan sebuah kamar hotel yang luas. Sebuah caraku untuk berefleksi melepaskan diri dari keramaian duniawi. Aku pergi ke tempat yang jauh untuk menyepi, meski aku harus mengeluarkan sedikit uang lebih. Tak apalah. Sekali-sekali juga.

Dan sebuah pergulatan tidak penting juga terjadi sampai akhirnya aku memilih novel itu sebagai bahan untuk menyendiri. Ya, pergulatan untuk kembali mengingat dia. Dia yang pada dasarnya sudah coba kulupakan dua kali. Dan yang terakhir, dengan sebuah perjalanan keputusan. Fiuhhh..

Kalimat demi kalimat kulewati, dan aku perlahan tahu tentang tokoh-tokoh yang sering dikisahkan gadis cantik itu padaku. Tentang dua orang sosok yang saling mencintai, meski akhirnya ada perkara dengan hati.

Ah! Hati!

Sesungguhnya, percakapan tentang hati adalah bagian yang paling aku rindukan dari gadis yang seharusnya sudah kulupakan itu. Texting soal hati dengannya adalah hal terbaik dalam bertukar pola pikir. Sesungguhnya aku menemukan sesuatu yang hilang, padanya.

Dan sesekali aku membaca sepotong kalimat yang aku tahu benar pernah dikirimkannya kepadaku, dalam percakapan tentang hati itu. Semakin aku membaca, semakin aku merindukannya. Dan semakin pula aku sadar bahwa hati ini sebenarnya sudah memilihnya, dari suatu waktu yang sudah lama sekali.

Kualihkan pandanganku sejenak dari baris-baris kalimat di novel warna hijau yang kupegang. Mataku beralih ke sebelah kanan, jendela. Bintang bersinar di sana dalam kesunyian yang mengelilinginya. Bahkan bintang pun berani bersinar dalam kegelapan, kenapa aku justru memilih berdiam dalam keheningan? Berdiam dalam rentang waktu yang teramat lama sehingga kemudian aku hanya berhasil mendapati kenyataan bahwa aku harus melupakan gadis itu.

Mataku kembali ke kertas abu-abu di genggamanku. Kembali kubaca kata-kata tentang hati, dan.. ah.. kenapa aku harus membaca seluruh kata-kata ini? Kenapa rangkaian huruf di novel ini membentuk sebuah kata yang adalah nama gadis itu di benakku? Kenapa aku merasakan kembali bahwa sebenarnya hati ini memilih dia? Kenapa aku merasa bahwa aku merasa bahwa dia lah yang tidak perlu melakukan apa-apa, tapi aku sanggup memberikan semuanya?

Halaman terakhir menjelang, dan sebuah akhir manis dari novel ini kubaca. Dua manusia itu menang dalam petualangan hatinya. Mereka bersatu dalam sebuah jalinan kisah cinta yang resmi. Ah, manis sekali.

Lembar hijau terakhir itu kututup, dan kupejamkan mataku.

Benarlah, bahwa hati ini tidak perlu diarahkan, dia akan memilih.
Benarlah, bahwa hati ini tidak akan kalah oleh konsekuensi sebuah pilihan.

Dan kebenaran pahit menjadi kesimpulan terakhirku: bahwa memang dia adalah pilihan hatiku.

Mungkin aku perlu jalan yang lebih berliku daripada Keenan dalam rangka mencapai Kugy. Tapi tak apa, seperti yang tertulis di novel Perahu Kertas ini, hatiku sudah memilih. Dan pilihan itu tidak pernah berubah, meski aku tahu, hal yang sama tidak terjadi padanya.

🙂

*sebuah apresiasi bebas untuk novel perahu kertas

Pilihan Hati

“Lu putus bro?”

Panji hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata menerawang ke langit ke tujuh.

“Ngapain lu pake acara putus segala?”

Berondongan pertanyaan masih nggak berhenti keluar dari mulut Bara yang semakin tajam melotot ke muka Panji. Padahal Panji-nya matanya ke langit. Ini semacam pandangan tak berguna.

“Udah nggak cocok bro!”

“Jiah, gue sebagai yang merekomendasikan lu sama Cindy, merasa terhina nih. Dari nama aja udah cocok tuh. Pan dan Ji, Cin dan Dy. Mukanya dia juga bukannya pasaran, cakep abis.”

“Gue yang putus kenapa lu yang rempong, Bar?”

“Lha, abisnya, gue kan ikut andil, tanggung jawab nih.”

“Udahlah, bro. Udah putus, selesai, titik.”

“Nggak ngerti gue,” ujar Bara sambil berdiri dan meninggalkan Panji sendirian dengan tatapan mata yang masih ke langit, entah mencari apa ia disana.

Panji terdiam, tangan kanannya memegang tepat di depan heparnya.

Sementara Bara, masih bergumam sepanjang jalan, “Kurang capek apa coba, kurang baik apa pula, bodoh banget tu bocah.”

* * *

“Dapat salam tuh, dari Chika,” ujar Bara sambil melihat telepon genggamnya, “Salam balik nggak?”

“Nggak usah,” jawab Panji, singkat-dalam-tenang.

“Songong banget jadi laki boz!”

“Biarinlah.”

Dan Bara hanya garuk-garuk kepala, tak habis pikir.

* * *

“Ini pada ngomong apa sih? Gue yang jomblo aja biasa wae,” kata Panji sambil menyeruak dari balik kerumunan lelaki-lelaki yang bersuat-suit pada rombongan gadis-gadis manis yang baru lewat.

“Ya iyalah, lu jomblo songong,” timpal Bara.

“Apa coba?”

“Nah, yang mau banyak, nggak mau. Punya pacar oke, diputusin. Labil ah.”

“Ah, itu perasaan Om Bara saja.”

“Huuuu….”

Panji, Bara, dan yang lainnya menikmati saat-saat pemandangan bagus ciptaan Tuhan itu lewat. Semuanya tampak biasa saja sampai kemudian lewatlah Atha.

Panji tetap berupaya mengimbangi teman-teman lainnya, tapiiii… tatapan matanya tidak bisa menipu kalau ia lebih dari sekadar mengamati seorang gadis yang sedang lewat. Tatapan ini punya kandungan nilai yang jauh lebih dalam.

“Cieeee, yang mantannya lewat,” teriak Bara sambil menyenggol Panji.

Yang disenggol hanya terdiam.

* * *

“Daripada perkara hati kita berkelanjutan, lebih baik kita sudahi saja ya Mas.”

Kalimat miris itu terucap dari bibir manis Atha, diselingi suara hujan, dan hawa panas kopi yang baru saja mampir di meja.

“Bener juga sih, Tha.”

“Ya, gimana Mas. Aku sayang sama kamu, banget. Tapi faktanya kan kita nggak bisa bersatu. Daripada kita memupuk cinta ini sampai besar, nanti akhirnya dipotong juga. Berbahaya jika diteruskan.”

Panji terdiam selagi aroma kopi menembus hidungnya, menuju alveoli di paru-parunya dan memberikan makna lain terhadap pehamaman sebuah perkataan.

“Semoga demikian, Tha. Semoga perkara hati ini bisa kita atasi. Kadang dia nggak bisa dibohongi soalnya,” ujar Panji sambil tersenyum.

“Yah, semoga ya Mas.”

Keduanya tersenyum, perbedaan ini memang tidak bisa disatukan. Kadang jadi lucu ketika perbedaan yang adalah ciptaan Tuhan justru menjadi hal yang tidak bisa mempersatukan sesama ciptaan Tuhan. Apa yang telah direncanakan Tuhan untuk dipersatukan, nyatanya bisa dipisahkan oleh perbedaan yang mendasar.

* * *

“Kalau mau jujur, aku nggak bisa melupakanmu, Tha.”

Panji menarikan jemarinya di atas keyboard, menuliskan sebuah pesan pribadi di Direct Message Twitter

Jari-jarinya menari lagi di kolom Tweet, baris-baris kata kembali terbentuk, “Ada banyak hal yang mudah, tapi hati memilih yang sulit.”

Tweet!

Dan kalimat ini muncul di timeline.

Sebuah notifikasi masuk ke Twitter Panji, dan sebuah balasan DM.

“Aku juga, Mas. Mungkin hati kita memang sudah memilih yang sulit.”

Panji tersenyum membaca balasan itu. Sederhana, punya makna dalam di hati, tapi nyatanya tak akan memiliki makna di realita. Kadang hati memang seperti itu. Dan kebetulan, kini Panji yang mengalami perkara bernama “pilihan hati”.

* * *