Orang yang Lebih Bersyukur

Pernah punya mimpi? Saya yakin sih pernah, setidaknya yang cowok pasti pernah mimpi basah. Maksudnya, mimpi kehujanan.

Pernah merasakan sebuah mimpi menjadi kenyataan? Dalam hal kecil, pasti pernah. Misalnya mimpi ingin makan cimol, tahu-tahu di depan rumah ada tukang cimol lewat, dan kita beli. Atau hal level alay tapi krusial untuk seorang fans, seperti waktu saya berhasil nonton Inter Milan langsung di depan mata. Atau sampai hal besar kayak saya dulu bermimpi untuk bisa menulis di surat kabar, dan akhirnya terwujud juga pada 6 Januari 2006. Selengkapnya baca di buku saya yang judulnya Oom Alfa. *tetep promosi*

Selanjutnya

Indonesia, A Tropical Paradise

Perkara branding ini seharusnya bukan pekerjaan seorang apoteker merangkap penulis galau kayak saya. Tapi #10daysforASEAN hari ketiga ini memberi tantangan unik kepada blogger-blogger ASEAN yang kece-kece ini.

Yup, tantangan soal branding nation.

Selengkapnya

“Handphone Untuk Adikku”

Judulnya cakep ya? Udah mirip judul film (apa sinetron? malah lupa) semacam “Hari Untuk Amanda”. Iya, judul cakep diperlukan untuk membuat penulis yang tidak cakep menjadi cakep.

*apa-apaan ini?*

Beberapa hari yang lalu iseng kembali buka website Tokopedia. Kok ya kebetulan ketemu ada kontes berbagai cerita. Berhubung saya punya sedikit cerita dengan Tokopedia, jadi mari dituliskan disini.

Disini loh..

Sedikit Kisah Tentang Alfa

Saya yakin, buat teman-teman yang tahu benar kisah dan riwayat si Alfa dalam cerita ini, pasti tertawa ngekek. Ini memang bukan kisah sembarangan, dan saya percaya bahwa Tuhan menganugerahkan Alfa kepada saya adalah dalam rangka saya bisa memperoleh hikmat atas cobaan-cobaan yang muncul menyertainya.. hahahaha..

Alkisah, saya diberi karunia sebuah motor murah meriah muntah bernama Alfa, lahir tahun 1989, berwarna merah, dan yang pasti PENYAKITAN. Tapi it’s OK, seperti saya bilang tadi, banyak hikmat yang saya peroleh atasnya. Berikut saya sampaikan beberapa kegilaan si Alfa:

1. Waktu mau penyuluhan AIDS di Prambanan. Saya disuruh berangkat duluan sama teman-teman. Dan di setengah jalan, saya disalip sama teman-teman yang berangkat 30 menit belakangan. Apa pasal? Ketika diagakgeber, pistonnya berbunyi dan berteriak, “Ampun Bang, nggak kuat…krik..krik..krik…” Dan ketika saya jalan pelan, dia mau berdamai. Hmmm..

2. Salah satu fenomena motor rusak adalah nggak mau hidup. Itu biasa. Tapi kalau si Alfa ini, problemnya, mulai dari nggak mau hidup sampai…NGGAK MAU MATI! Suatu kali di parkiran motor kampus, saya bahkan perlu sok-sokan duduk diam di motor yang masih menyala meski kunci kontaknya sudah lepas 5 menit yang lalu, dalam rangka menunggu dia mati. Sementara si Alfa masih terus batuk-batuk ringan. Solusinya ada beberapa, kecilkan putaran gasnya, atau yang paling ekstrim, ambil kain lap, copot businya. Dan hmmm.. solusi ekstrim yang tidak mempertimbangkan OHSAS itu bahkan masih membuatnya tetap menyala. Astaga.

3. Perjalanan awal bulan selalu menyedihkan, saya biasanya pinjam motor teman untuk ini. Ya bukan apa-apa, saya harus mengantarkan uang bulanan ke adik-adik yang kosnya jauh-jauh (jauh dalam definisi si Alfa). Pernah suatu kali, karena kerusakan CDI, perjalanan Paingan-Gowok-Purawisata-Paingan menghabiskan 3 busi @10.000. Ini motor boros amat yak?

4. Si Alfa ini kalau pas mati, nggak mikir-mikir. Pernah pula, pas pulang latihan PSM, jam setengah 10 malam, MACET. Dan itu posisinya di perempatan Condong Catur yang kalau jalan kaki sampai Paingan (apalagi nonton motor), lumayan. Dan terjadilah. Heh.. Tapi uniknya, hari itu saya benar-benar tidak emosi, kalau biasanya, itu motor saya tendang dan pengen tak buang. Tapi kok waktu itu nggak. Ada-ada saja.

5. Selain boros bensin karena dua tak, si Alfa juga boros karena sering pipis sembarangan. Bahkan saya sampai pernah menggunakan tusuk gigi ditutup sama pantat bolpoin pilot untuk menutup saluran itu, supaya dia tidak pipis sembarangan. Tapi tetep aja. Hmm.. Bukan apa-apa, bensin kan bisa meledak, kan mesakke ada ledakan karena pipisnya si Alfa ini.

6. Oh iya, si Alfa punya sedikit kelebihan. Tidak perlu muter gas biar dia jalan. Soalnya kawat gasnya udah gitu deh. Jadi cukup masukkan gigi, dan ia akan berjalan seperti mobil yang dilepas koplingnya. Itu kelebihan atau kekurangan? Hahaha..

7. Yang hobi banget kejadian adalah sekrup footstepnya yang copot. Entah kenapa ya, dari 3 sekrup itu selalu aja ada yang copot, diganti ini, copot yang itu, diganti itu, copot yang anu. Apa saya yang naik motornya kebandelan? Nggak juga deh.

8. Hmmm.. kecepatan maksimal dari si Alfa, adalah…… 40 km/jam. Yah, harus diterima dengan lapang dada kalau ini. Tapi mengenaskan untuk ukuran motor 2 Tak.

9. Lampu? Jangan diharap. Saya mengandalkan intuisi ketika berjalan di kegelapan. Yang penting itu lampu kelihatan sama orang di depan dan belakang aja deh. Biar nggak ditabrak. Hehehe..

Itu baru sembilan, sebenarnya ada lagi, pelek yang mau pecah, dashboard yang lepas sampai bolong, rantai nyangkut, oli mblobor, dll. Saya menulis ini bukan dalam rangka mengeluh juga . Seperti saya sebut tadi, ini sepenuhnya hikmat.

Sampai ketika saya mendapat Bang Revo di 2007, dan harus menjual si Alfa, ada perasaan berat juga. Dia sudah menemani saya tidur segala loh. Soalnya dulu saya tidur bersama bensin pipisnya dia. Astaga. Tapi ya dia memang harus dijual dengan harga yang bahkan bayar SKS 1 semester aja kurang, saking murahnya. Hahahaha.. Dan dari hikmat-hikmat yang diberikan atas nama Alfa, saya bisa menjalani hidup bersama Bang Revo dan sekarang si BG, dengan lebih menyenangkan.

Oya, ini pose saya bersama Alfa, sesaat sebelum dia dijual:

Saat Terakhir

Semua yang datang dan pergi dalam hidup kita, pasti ada hikmatnya. Jangan selalu menganggap itu buruk, bahkan derita pun pasti ada sisi baiknya. Itu refleksi saya bersama si Alfa. Dimana ya dia sekarang? Hmmm…