Berefleksi ke Museum Sumpah Pemuda

Salah satu hal yang sering menggoda mata saya ketika dalam perjalanan TransJakarta pasca halte Pal Putih adalah sebuah bangunan kecil di jalan Kramat Raya yang tidak jauh dari halte itu dan tidak jauh pula dari Mie Babat Senen nan haram itu. Bangunan itu adalah Museum Sumpah Pemuda. Nah, di panas terik nan sunyi sepi sendiri, saya kemudian memutuskan untuk mampir. Tentu saja turun di Halte Pal Putih, bukan Pal Merah. Kalau itu jauh dan nggak ada TransJakarta, gitu.

wpid-photogrid_1435412846212.jpgMuseum Sumpah Pemuda ini, menurut sumber dari Dikbud, sebenarnya adalah bekas rumah Sie Kong Liong yang dulu disewa dan dijadikan asrama oleh pelajar sekolah dokter pribumi STOVIA (School Tot Opleiding van Indische Artsen). Namanya asrama, tentu dipakai untuk ngobrol penuh idealisme sehingga lantas disebut sebagai Indonesische Clubgebouw alias rumah perkumpulan Indonesia, plus juga menjadi tempat latihan kesenian yang dikenal dengan nama Langen Siswo. Sesuai namanya, tempat ini dikenal dengan Gedung Kramat Raya 106 yang lantas menjadi Gedung Sumpah Pemuda karena merupakan tempat terikrarkannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Sudah lama sekali. Di tempat inilah banyak diskusi dilakukan, pun karya-karya sastra diciptakan.

wpid-photogrid_1435412561731.jpgSebagai rumah pribadi, Sie Kong Liong membuka persewaan tahun 1925 dan bablasmenjadi tempat organisasi pemuda berbuat dua tahun kemudian hingga akhirnya nama rumah perkumpulan tadi ditetapkan tahun 1928. Tidak sembarangan, bahkan dipajang di depan gedung! Dan kalau kita semua mengenal peristiwa Sumpah Pemuda plus pertama kalinya biola Wage Rudolf Supratman memainkan lagu berjudul INDONESIA, ya di tempat inilah dia.

Tidak lama tempat ini menjadi rumah pergerakan, namanya juga sewaan. Sie Kong Liong sempat menyewakan ke Pang Tjem Jam dan Long Jing Tjoe. Tempat ini pernah jadi toko bunga dan bahkan hotel, serta pernah juga jadi Kantor Bea dan Cukai di masa Indonesia masih berusia unyu.

Sebagai museum, tempat ini diresmikan oleh Presiden Suharto pada 20 Mei 1974 sesudah dipugar oleh Dinas Tata Bangunan dan Pemugaran Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebagai cagar budaya, perubahan yang dilakukan tentu tidak mengubah bentuk asli. Sembilan tahun kemudian, dilakukan penambahan bangunan. Jadi kalau masuk dan melihat ada bangunan tambahan, jangan heran. Pada era Sumpah Pemuda, memang bangunan itu belum ada.

wpid-photogrid_1435412391930.jpgMuseum ini sebenarnya kecil. Jujur saja. Ya, kan dulunya juga rumah tinggal. Begitu masuk dari pintu tengah–tentunya setelah membayar 2000 perak–kita akan menemukan tiga orang yang sedang membaca buku berbahasa Belanda. Alurnya kemudian adalah belok kiri, disitu ada patung lainnya kali ini dengan radio lawas. Tenang, untuk informasi ada keterangan dan foto-foto di dinding yang bisa menjelaskan apa yang dimaksud. Inti dari museum ini ada di bagian berikutnya ketika sederet tokoh sedang mendengarkan WR Supratman yang sedang memainkan biola. Di dinding kita bisa melihat sebesar-besarnya dan seasli-aslinya Sumpah Pemuda dan lagu Indonesia Raya, plus suasana Sumpah Pemuda ketika semua pemuda bersorak. Di bagian lain ada satu ruang khusus yang membahas WR Supratman karena foto di dinding menampilkan bahwa pria yang dikabarkan jomblo sampai akhir hayatnya itu adalah anak band! Dan tenang saja, biola yang bersejarah itu dipajang di tengah-tengah ruangan.

wpid-photogrid_1435412697065.jpgIntegrasi teknologi lumayan digunakan di tempat ini, termasuk dengan beberapa layar sentuh. Ada tentang Sumpah Pemuda, tentang pemuda, hingga ada pula komik tentang pemuda yang bisa dibaca dan dicermati sendiri. Memang, ada juga sih layar yang mati, mungkin dia lelah.

Di bagian belakang kita akan menemukan sebuah area terbuka dengan relief di dinding. Kalau mau foto-foto, ya disini. Luas kok, tenang saja. Mau selfie, mau wefie, bisa semua. Oh, masih ada dua ruangan tentang kepanduan di dekat area terbuka ini. Sepintas memang tidak terlalu berhubungan dengan Sumpah Pemuda itu sendiri, tapi coba bacalah setiap keterangan yang ada di dinding, maka akan ketemu itu garis merahnya.

Saya ingat sepuluh tahun silam ketika sedang asyik-asyiknya berdiskusi “ngomongin negara” di kelas-kelas, di angkringan, di tempat nasi goreng, hingga di pinggir kolam kampus Paingan. Saya ingat betapa menggebu-gebu pemikiran anak muda yang kala itu jelas belum dapat diimplementasikan. Hal semacam itu boleh dibilang sudah surut karena hanya sedikit orang yang ikut, terutama kalau dibandingkan dengan jumlah mahasiswa. Yang saya tahu begitu. Bahkan ketika yang lain berkumpul ngomongin negara, ada juga kalangan mahasiswa yang kumpul di kos-kosan dengan suara musik dikencangkan, seperti tertera di 123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja. Saya ingat semuanya itu dan sekaligus jadi permenungan pribadi.

Jujur, semakin sering saya nonton Metro TV dan TV One, oh, dan I-News (karena mau nonton UFC-nya), semakin ragu saya pada negeri ini. Bisa beres nggak ya? Semakin dalam pula saya tahu tentang dunia birokrasi, tambah ragu saya. Apalagi melihat orang jaman sekarang malah berantem agama, posting ba-bi-bu di Pesbuk seakan-akan ahli agama, tambah ragu lagi, deh. Tapi saya lihat, bahwa tahun 1928 itu musuh yang dihadapi jelas. Maka perbedaan agama atau bahkan suku dan lainnya sama sekali nggak digagas walaupun itu ada dan pasti sempat dibahas. Lah kok puluhan tahun kemudian, jadinya malah begini?

wpid-photogrid_1435412974660.jpgYah, Museum Sumpah Pemuda ini mungil, namun setidaknya bolehlah untuk menjadi bahan refleksi sekaligus mencari semangat baru untuk menambal pesimisme saya tentang bangsa ini. Sekali-kali serius boleh ya?

Salam!

One thought on “Berefleksi ke Museum Sumpah Pemuda

  1. Pingback: The diversity we took for granted or a little rant : Time to do another youth congress? |

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s